Loading...
Logo TinLit
Read Story - Gadis Kecil Air Tawar
MENU
About Us  

Dunia yang bimbang, merasa tak cukup lagi bagi segelintir orang untuk hanya hidup berdasar pada kebutuhan biasa belaka. Ketamakan, ego, dan angkuh. Sebuah tempat tinggal bagi wujud fisik manusia, di mana air menempati dua pertiga bagian. Menyumbang massa bagi bobot satu dunia. Menjadi ajaran dalam nilai-nilai luhur ketenangan hingga gejolak perilaku penggunanya.

Namun, bagaimana jika suatu ketika air sama sekali tak bisa lagi jadi prioritas. Bagaimana jika dalam suatu masa, air tak lagi berwujud sama. Berubah menjadi keruh, kotor, beracun, atau hilang sama sekali. Air menjadi sesuatu yang langka. Bagaimana jika pada waktu yang entah kapan itu, air tiba-tiba menolak patuh. Mencari cara menggulingkan kuasa manusia atas dirinya. Meruntuhkan peradaban semena-mena manusia. Menggulung milyaran kepala dalam ombak raksasa dari segala penjuru. Memusnahkan ego, keangkuhan, dan ambisi. Meredam gejolak, teriak, dan jerit ketakutan.

Tetapi air tahu tak selamanya sesamamu itu punya perilaku sama. Barangkali, termasuk kau sendiri bisa lebih baik dari saat ini. Agar air tak jenuh menunggu. Agar ia tak lelah berharap. Agar mereka tak pernah menyerah dan berhenti berada di dekatmu dan seluruh sesamamu. Supaya kau masih punya kesempatan, mengikuti jejak langkah dan tindakan seorang gadis kecil penyegar tanah kering yang tandus di tengah lahan rusak pertanian milik semamamu.

Gadis kecil itu sering dianggap tak memiliki nama. Tetapi ia sesekali dipanggil Airi, Celetukan sepele salah seorang petani.

Airi memunguti keong-keong emas dari balik pangkal-pangkal tetumbuhan padi tempo hari. Kau tak sengaja tertarik memerhatikannya, padahal kau sedang bergegas mengejar matahari terbenam. Dan kau tahu akan seperti apa nanti jika tetap mengamati gadis kecil itu. Meski begitu, benakmu membisikimu ketakmungkinan berpaling dari kegiatannya. Lagi-lagi gadis itu meresapkan hasrat penasaran kepadamu. Ia mau beranjak pergi. Tetapi sepertinya ia juga berjalan menghampirimu.

Kebetulan, cetusmu dalam hati. Daripada seluruh upayamu sia-sia, daripada hari-harimu di desa itu berlalu begitu saja, mengapa tak sebaiknya kau menegur-sapanya.

Kau melihat ketenangan air, kejernihan mata air di sana. Di seluruh gerak laku, di setiap nafas getar suaranya.

“Ada banyak cacat di kakiku, kak,” ucapnya kepadamu.

Kau bergeming. Memandanginya dari atas ke bawah, seakan sulit memercayai ia sedang berdiri beberapa jengkal dari tempat dudukmu, di depanmu.

“Aku harus rutin mencari keong emas sambil memasukkan kaki-kakiku ke dalam lumpur,” katanya lagi kepadamu.

Kenapa sepertinya ia begitu mengenalmu. Bahkan kau hanya berjumpa dengannya beberapa kali. Tak terlalu sering sampai kau sendiri mengenalnya. Itupun tanpa sengaja, dan atas dasar rasa penasaran.

“Lalu mau kamu apakan keong-keong itu?” tanyamu tanpa sadar menyambut percakapannya. Kau seperti merasa punya ikatan dengannya. Kau ingin menunjukkan perhatianmu pada keluh-kesahnya.

“Aku memeliharanya, kak,” jawabnya pada rasa penasaranmu di atas lubang-lubang tempat keong-keong emasnya berkumpul.

“Untuk apa memeliharanya? Tidak dimasak saja?” tanyamu kepada gadis kecil penangkap keong itu.

Ia tidak membalas tanyamu. Membuatmu kian penasaran. Tapi kau sudah tak peduli bilapun memang ia sedang memermainkanmu. Wajah gadis kecil itu dan cara bicaranya membuatmu tak bisa membalas kasar kepadanya. Kau malah semakin ingin mengenalnya, berada dekat dengannya.

“Kemarilah,” sambutmu kepadanya. “Keluarlah dari lumpur dan duduklah di sini. Aku ingin melihat kakimu.”

“Apakah kakak yakin?” tanyanya ketakutan. Seperti pernah ada permintaan serupa dan berakhir dengan sesuatu yang menyakitinya.

“Sudahlah, aku tidak peduli,” tukasmu.

“Baiklah,” sahutnya singkat.

Sekonyong-konyong kau nyaris pingsan di atas tempat dudukmu. Tak sanggup sebetulnya kau menyaksikan apa yang dialami sepasang kaki Airi. Walau kau tahu tidak mungkin membuatnya merasa kau geli pada kakinya, tetapi menolak untuk tidak berkata jijik pun tidak mungkin. Sangat sulit menahannya. Kaki si Gadis Kecil itu penuh luka di sepanjang bawah lututnya. Pantas saja ia selalu menggunakan bawahan sepanjang mata kaki padahal tak wajar memakainya di persawahan semacam ini.

“Kak, aku mau pulang dulu, boleh?”

“Maukah kamu kakak antar sampai di rumah?” Ia menggeleng-geleng lagi, dan tersenyum sangat manis. Lalu menutup kembali kedua kaki, merangkul bungkusan keong emas, dan berdiri di sampingmu, dan pergi. Meninggalkanmu sendiri.

Sekarang, kau sadar kau punya tujuan lain di desa itu. Sisi lain dirimu memunculkan rasa kemanusiaan yang bergolak dari dalam lubuk terdalam hatimu. Kau harus menuntaskannya malam ini juga. Setidaknya, sampai kau tahu di mana ia tinggal dan bagaimana keadaannya di sana.

Setitik cahaya kuning redup berkedip dari kejauhan. Jauh masuk ke dalam semak belukar, rumput ilalang dan tetumbuhan liar di sebelah kirimu. Pikirmu itu pasti rumah Airi. Logikamu langsung bermain di sini. Padahal tanpa kau sadari, gadis kecil yang kau cari sama sekali hidup melawan logika sederhana seorang manusia biasa. Degup jantungmu berdebar saat sumber cahaya kuning itu sebuah lampu minyak dengan api kecil yang meliuk-liuk. Tetapi kau tetap tak melihat sebentuk rumah. Hanya api kecil itu yang menarik langkah kakimu ke sana. Mendekat. Menerabas tetumbuhan liar sampai sepasang kakimu punya banyak luka gores baru. Hanya tampak bayang-bayang kehitaman di pelupuk sepasang matamu kemudian, yang menghampiri dari arah setitik cahaya kuning. Tetapi kau sudah setengah sadar. Dayamu telah selesai malam itu.

.....

“Kak?”

Suara seorang anak kecil ... perempuan ... barangkali seorang gadis.

“Kak??”

Terdengar lagi ... begitu merdu merasuk di telingamu. Begitu hangat dan menenangkan. Lalu kau membuka mata perlahan. Ingin rasanya terperanjat seketika tahu siapa yang sedang duduk sambil memegang lengan tangan kirimu.

“Apa kakak baik-baik saja? Mengapa tadi ada di tengah jalan malam-malam begini?”

“Aku mencari rumahmu, Airi,” jawabmu sekenanya.

“Untuk apa tahu tempat tinggalku? Dan mengapa sampai sebegitu gigihnya? Aku sungguh tak mengerti dengan maksud dan tujuan kakak sekarang. Bahkan kakak melawan rasa lelah.”

“Airi, biarkan kakak menganggapmu sebagai adik, dan mendengar kisahmu, setidaknya saat ini. Siapa kamu sebenarnya, dan dari mana kamu berasal?”

Ia mendesah pelan ... “Baiklah. Tapi akan kuambilkan selimut dan menambah beberapa kayu bakar lagi. Malam ini jadi semakin dingin.”

Rumah ini, lebih baik dan layak huni daripada perkiraanmu. Dindingnya dipenuhi rak buku. Barisan rak yang direkatkan begitu saja menutupi dinding di seluruh ruangan tempatmu berbaring. Satu kursi busa –terlihat nyaman, terdiam di seberang wajahmu. Berharap mereka tak menatapmu curiga.

“Pakailah!” katanya sambil menjulurkan sepotong kain cukup tebal dari genggaman telapak tangan kanannya. “Kakak mau kisahku dimulai dari mana?”

“Dari mana saja. Mungkin, dari asalmu.”

Ia menggumam ragu ... merebahkan diri di kursi busa, memejamkan mata. “Tapi kakak harus tahu, ini bukan sekedar karanganku!”

“Ya. Mulailah!”

“Baiklah. Namaku, seperti yang sudah kakak tahu, Airi. Daerah asalku di tepi hulu sungai di atas bukit. Ayah dan ibuku adalah penduduk pertama desa ini. Mereka membentuk desa ini sampai orang-orang baru berdatangan dan meminta izin supaya bisa tinggal dan menetap di sini.

“Semakin banyak yang membangun rumah dan lumbung-lumbung, membuat mereka ingin mencari ketenangan, tapi juga tidak ingin mengabaikan desa ini. Mereka naik ke atas bukit dan membangun rumah.

“Semenjak itu, mereka tidak pernah lagi turun, tetapi juga masih selalu mengawasi perkembangan desa. Orang-orang baru semakin melupakan siapa orang tuaku dan apa peran mereka dahulu. Bertahun-tahun. Sampai tetua desa, anak kecil terakhir di zaman pendatang pertama setelah orang tuaku membuka lahan, meninggal. Lalu sirna sudah seluruh ingatan tentang mereka berdua.

“Namun betapa keajaiban nampaknya tak dirasakan oleh orang tuaku. Tentu puluhan tahun berlalu setelah tetua itu sudah tiada. Tetapi ayah dan ibuku masih hidup dan awet muda. Ikan-ikan di sanalah penyebabnya.

“Ayah dan ibuku tahu, rahasia awet muda dan ikan-ikan di sana tak boleh sampai bocor ke mana-mana. Waktu itu ibuku sedang mengandungku. Hingga ayah memutuskan agar lebih baik sungai dikeringkan sama sekali. Ayah merancang sedemikian rupa agar desa ini masih bisa teraliri air sampai sepuluh tahun ke depan.”

Gadis kecil itu membuka mata dan menegakkan punggungnya. Dia menoleh dan menatap tajam menelisik kepadaku. Seperti akan mengatakan suatu rahasia besar.

“Sampai aku membuka mata untuk kali pertama di dunia dari dasar hulu sungai. Sampai aku berusia tujuh tahun dan turun dari atas bukit, ke desa ini.”

“Aku lahir dan membawa serta kutukan dari kedua orang tuaku. Aku lahir dan harus menuntaskan marabahaya paceklik parah yang akan menyapu bersih desa ini bersama seluruh penduduknya. Tetapi aku pun lahir dengan membawa penyakit di dalam diriku sendiri. Itulah mengapa ibu harus merendamku di dasar hulu sungai.”

Kau tahu pada akhirnya si Gadis Kecil itu ialah seorang yang memiliki kedekatan erat dengan air. Kau sadar kemudian bahwa sejak awal ia mengamatimu lewat aliran benda-benda cair di sekelilingmu. Pantas saja ia tahu jalan pikiranmu. Tetapi memikirkan itu semua tidak akan menyelesaikan persoalan besar yang akan datang. Badai kekeringan.

“Dasar sungai di sepanjang hulu sampai hilir telah naik puluhan meter sejak perjalanan pengeringannya tujuh belas tahun yang lalu. Lebarnya pun sudah berkurang dari tahun ke tahun. Kalau kita masih ingin mengalirkan air dari hulu tanpa mengubah ukuran sungai ini, perlu waktu lebih dari sebulan untuk mengangkat air tanah ke ujung mata air.”

Kau terdiam dan tak berani mengusulkan ide gila yang terbesit di pemikiranmu saat ini. Kau, yang selama ini selalu percaya pada hal-hal logis, kini harus menerapkan cara-cara gila dan tak masuk akal demi persoalan besar.

“Tidak akan menjadi gila kalau kakak mau mengupayakannya.”

“Dapatkah kita memercayai cara ini?”

“Dengan cara apa lagi, kak? Solusi supaya waktunya lebih singkat cuma ini!”

.....

Kau keluar rumah dan melesat menuju desa. Melintasi luasnya tanah tandus dan kering pagi-pagi buta. Kau harus mencapai pendopo saat fajar. Dalam benakmu, ratusan kata-kata dan makian pecah begitu saja. Daripada harus bengong membiarkan bencana terjadi, lebih baik melakukan hal gila sekalipun. Dibanding pasrah pada kondisi yang memang akan membahayakan nyawa banyak orang, lebih terhormat mengupayakan segala cara agar bisa terhindar darinya.

Saat pagi, awan tidak ada sama sekali. Sorot-sorot cahaya matahari menembus celah-celah hutan di atas bukit dari timur desa. Seluruh rumah di desa sudah terpapar cahaya matahari ketika kau bunyikan kentongan tanda bahaya. Walau pada akhirnya kau perlu berdebat panjang dengan para tetua desa saat ini. Kebenaran harus diungkap, keselamatan harus diutamakan. Tidak bisa tidak.

.....

Si Gadis Kecil menghampiri tanpa kau sadari dari lereng buki, lewat sungai.

“Kakak berhasil rupanya, hebat! Sekarang, semuanya harus menjauh dari sungai! Lindungi rumah dan lumbung! Selama empat hari, siapkan persediaan kebutuhan sehari-hari semampunya! Setelah itu, jangan ada yang keluar rumah sampai badai benar-benar berlalu! Aku tidak tahu paceklik parah ini nanti akan berlangsung selama berapa hari. Yang jelas, utamakan keselamatan kalian!”

Sejujurnya, kau sangat butuh penjelasan detil apa yang dilakukan gadis kecil ini selama seminggu yang lalu. Sampai-sampai dia tidak muncul sama sekali di desa. Padahal kau susah payah mengupayakan dan menjaga kepercayaan dari seluruh penduduk desa.

“Kau akan segera mendapatkan segala penjelasannya, kak. Aku janji!”

.....

Airi menggenggam erat-erat tanah di sekotak bekas tempat mata air di atas bukit. Menariknya kuat-kuat dan tak berapa lama tanah di sekelilingnya basah. Sementara kau berada enam langkah di samping kirinya, dan melihatnya mulai menghempaskan tanah basah di bawahnya.

Sorot matamu mengamatinya lekat-lekat, nyaris tak berkedip, ketika aliran air mulai mengalir keluar dari tanah di bawah kedua kakinya. Benar-benar keajaiban asli. Kau melihatnya terbukti. Gadis kecil itu membawa keluar mata air baru untuk sungainya.

“Kak!”

Ada yang harus segera kubantu? Tanyamu penuh semangat. Sebab secercah harapan baru kini tumbuh menghalau ancaman marabahaya.

“Sejujurnya ... ini bukan berarti semua persoalannya selesai.”

“Maksudmu?”

“Badai penyebab paceklik itu pun turut membawa sedimentasi dari berbagai wilayah. Tanah, pasir, bebatuan, kayu-kayu, biji-biji, tulang-belulang, endapan mineral, dan masih banyak lagi. Seminggu yang lalu aku mengungsikan seluruh hewan di perbukitan ini. Sekalipun sungai ini kembali berfungsi, tapi itu tidak akan menjamin desanya selamat.”

“Tapi kenapa tidak menyuruh mereka mengungsi saja??” tanyamu tak sabaran. Kini kau kalut, dilanda kebimbangan dan rasa bersalah.

“Sebab tetap akan sia-sia. Mereka hanya akan mampu berlari sejauh kurang dari sehari, dan perlu seminggu sampai tiba di muara sungai ini. Cepat atau lambat badai ini pasti akan menyapu mereka. Sebab badai ini tak hanya menerjang dari arah barat, tapi juga dari selatan dan utara. Yang artinya, mereka tetap terjebak.”

Lalu kau mendesah panjang ... mengambil ancang-ancang ... memantapkan tekat.

“Maka setelah ini seluruh wilayah dari mulai perbukitan sampai muara sungai ini harus menjadi legenda dan bermanfaat bagi manusia ke depannya. Orang-orang harus senantiasa mengenang dan mengingat bagaimana bukit, sungai, desa, dan penduduk pada masa ini.”

“Aku serahkan itu kepadamu, kak!”

“Sungai ini ialah Sungai Brantas, dan bukit tempat kita berpijak akan menjadi salah satu gunung tertinggi di pulau ini, yang akan selalu menurunkan aliran sungainya melintasi banyak permukiman di pulau bagian timur.”

.....

“Dan kamu adalah si Pelukis Gila, rekanku.” Ucap Airi kepadamu, tepat sesaat sebelum badai menggulung.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Salju di Kampung Bulan
2247      1064     2     
Inspirational
Itu namanya salju, Oja, ia putih dan suci. Sebagaimana kau ini Itu cerita lama, aku bahkan sudah lupa usiaku kala itu. Seperti Salju. Putih dan suci. Cih, aku mual. Mengingatnya membuatku tertawa. Usia beliaku yang berangan menjadi seperti salju. Tidak, walau seperti apapun aku berusaha. aku tidak akan bisa. ***
Ginger And Cinnamon
8547      2217     4     
Inspirational
Kisah Fiksi seorang wanita yang bernama Al-maratus sholihah. Menceritakan tentang kehidupan wanita yang kocak namun dibalik itu ia menyimpan kesedihan karena kisah keluarganya yang begitu berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya itu membuat semua harapannya tak sesuai kenyataan.
My Teaser Devil Prince
6928      1851     2     
Romance
Leonel Stevano._CEO tampan pemilik perusahaan Ternama. seorang yang nyaris sempurna. terlahir dan di besarkan dengan kemewahan sebagai pewaris di perusahaan Stevano corp, membuatnya menjadi pribadi yang dingin, angkuh dan arogan. Sorot matanya yang mengintimidasi membuatnya menjadi sosok yang di segani di kalangan masyarakat. Namun siapa sangka. Sosok nyaris sempurna sepertinya tidak pernah me...
TRAUMA
146      131     0     
Romance
"Menurut arti namaku, aku adalah seorang pemenang..akan ku dapatkan hatimu meskipun harus menunggu bertahun lamanya" -Bardy "Pergilah! Jangan buang waktumu pada tanaman Yang sudah layu" -Bellova
Abnormal Metamorfosa
2586      984     2     
Romance
Rosaline tidak pernah menyangka, setelah sembilan tahun lamanya berpisah, dia bertemu kembali dengan Grey sahabat masa kecilnya. Tapi Rosaline akhirnya menyadari kalau Grey yang sekarang ternyata bukan lagi Grey yang dulu, Grey sudah berubah...Selang sembilan tahun ternyata banyak cerita kelam yang dilalui Grey sehingga pemuda itu jatuh ke jurang Bipolar Disorder.... Rosaline jatuh simpati...
Potongan kertas
1150      643     3     
Fan Fiction
"Apa sih perasaan ha?!" "Banyak lah. Perasaan terhadap diri sendiri, terhadap orang tua, terhadap orang, termasuk terhadap lo Nayya." Sejak saat itu, Dhala tidak pernah dan tidak ingin membuka hati untuk siapapun. Katanya sih, susah muve on, hha, memang, gegayaan sekali dia seperti anak muda. Memang anak muda, lebih tepatnya remaja yang terus dikejar untuk dewasa, tanpa adanya perhatian or...
Chapter Dua – Puluh
4474      1872     3     
Romance
Ini bukan aku! Seorang "aku" tidak pernah tunduk pada emosi. Lagipula, apa - apaan sensasi berdebar dan perut bergejolak ini. Semuanya sangat mengganggu dan sangat tidak masuk akal. Sungguh, semua ini hanya karena mata yang selalu bertemu? Lagipula, ada apa dengan otakku? Hei, aku! Tidak ada satupun kata terlontar. Hanya saling bertukar tatap dan bagaimana bisa kalian berdua mengerti harus ap...
A D I E U
2429      1048     4     
Romance
Kehilangan. Aku selalu saja terjebak masa lalu yang memuakkan. Perpisahan. Aku selalu saja menjadi korban dari permainan cinta. Hingga akhirnya selamat tinggal menjadi kata tersisa. Aku memutuskan untuk mematikan rasa.
LABIL (Plin-plan)
8985      2249     14     
Romance
Apa arti kata pacaran?
Kamu
5812      2335     1     
Romance
Dita dan Angga sudah saling mengenal sejak kecil. Mereka bersekolah di tempat yang sama sejak Taman Kanak-kanak. Bukan tanpa maksud, tapi semua itu memang sudah direncanakan oleh Bu Hesti, ibunya Dita. Bu Hesti merasa sangat khawatir pada putri semata wayangnya itu. Dita kecil, tumbuh sebagai anak yang pendiam dan juga pemalu sejak ayahnya meninggal dunia ketika usianya baru empat tahun. Angg...