Loading...
Logo TinLit
Read Story - Liontin Semanggi
MENU
About Us  

"Nggak! Ini badan gue. Gue yang paling paham kondisi gue!" Binar tetap menolak pemeriksaan.

Baik Ersa atau pun dokter Rayn tidak berhasil membujuk Binar.

"Susah banget dikasih tahu! Lo paham nggak diajak ngomong? Katanya pinter ... tapi bego!" Ersa tersulut emosinya.

Padahal Ersa sudah merendahkan harga dirinya. Malah dapat respons seperti ini.

"Sudah ... jangan berdebat. Binar, saya paham. Oke, ini memang tubuh kamu. Hak kamu sepenuhnya menentukan apa yang mau atau nggak mau kamu lakukan. Tapi saya tetap nggak izinin kamu pulang. Setidaknya sampai kamu nggak lemes lagi. Saya nanti juga akan meresepkan obat. Kamu harus minum obatnya dengan rutin. Kalau sampai obatnya habis tapi kamu masih kambuhan, itu tandanya memang ada yang salah."

Dokter Rayn menengahi perdebatan 2 remaja ini. Sebagai seseorang yang jauh lebih tua, dokter Rayn bisa memahami mereka. Ia sudah pernah berada di usia mereka. Usia darah muda masih panas-panasnya. Kepala juga sedang keras-kerasnya.

"Dok, kok Anda malah dukung dia? Harusnya Dokter paksa dia biar mau!" Ersa makin tinggi emosinya.

"Iya, saya paham kamu peduli sama teman kamu. Tapi nggak gini caranya. Kita nggak bisa maksa kalau dia memang nggak mau. Mungkin dia belum siap."

Sementara Binar diam. Sibuk dengan isi kepalanya sendiri, yang membuatnya merasa takut.

***

Bukannya pulang, Ersa malah menuju ke rumah itu.

Pintu depan tidak tertutup. Meski begitu, Ersa tidak langsung masuk.

"Jar ... Pijar!" serunya bak bocil yang mengajak teman main.

Langkah kaki terdengar mendekat. "Mas Ersa!" seru Pijar dengan tampang kelewat bahagia. "Masuk, Mas! Tapi Mas Binar belum pulang. Kan pulang sekolah langsung ke Nenek Sihir."

"Nenek Sihir siapa?" kaget Ersa.

Pijar tertawa kecil. "Nenek Sihir yang jualan soto. Gara-gara beliau suka ngomel, aku sama Mas Binar jadi punya panggilan sayang buat beliau ... Nenek Sihir."

Ersa ikut tertawa. Paham kenapa sampai 2 bersaudara itu memberi julukan manis pada Mbah Siti. "Biarin aja Binar kerja. Kan gue ke sini buat ketemu lo. Kan lo yang teman gue. Bukan Binar!"

Pijar terkekeh. "Aku bingung harus bahagia apa ngenes. Tapi Mas Ersa aneh juga orangnya. Masa temenan sama aku. Malah nggak mau temenan sama Mas Binar. Padahal yang temen sekolah kan kalian!"

"Menuntut ilmu di sekolah yang sama, nggak selalu harus berteman!"

"Ya udah deh. Terserah temanku ini aja." Pijar memutuskan untuk meladeni Ersa saja. "Buruan masuk, Mas Ersa. Aku tadi lagi masak makan malam. Nggak bisa ditinggal lama-lama. Nanti gosong!"

Pijar masuk duluan menuju dapur. Sementara Ersa langsung duduk lesehan di karpet. Ersa gatal mau bilang pada Pijar bahwa Binar sekarang ada di rumah sakit. Tapi ia tahan-tahan.

Aroma masakan menyambut hidung Ersa. Membuat perut pemuda itu berbunyi. Kenapa ia selalu lapar tiap datang ke rumah ini?

Mau minta makan lagi? Tapi kasihan. Pijar dan Binar orang miskin.

Tapi Pijat kembali dengan 2 piring nasi. Satu ia letakkan. Satu ia berikan pada Ersa.

"Lah ... gue nggak minta makan!" Ersa kebingungan.

"Emang enggak. Tapi masa aku makan sendirian, sementara Mas Ersa cuma bengong? Udah, makan aja. Bentar aku mau ambil sayur sama lauknya."

Ersa menatap Pijar yang gesit sekali pergerakannya. Bocah itu selalu penuh semangat. Membuat Ersa termotivasi. 

Pijar kembali membawa satu mangkuk sayur bening. Dan satu piring berisi tempe bakar.

"Aku udah kebanyakan konsumsi minyak. Waktunya diet dulu." Pijar coba menjelaskan. "Tenang, walau dibakar ini tetap aku bumbui kok. Pakai bawang, garem, sama lada. Rasanya bakal tetap enak. Nggak hambar."

"Ya nggak perlu lo presentasi segala, Jar."

"Kan cuma ngasih tahu. Eh, tapi Mas Ersa doyan, kan, makanan kayak gini?"

Jujur sebenarnya Ersa tidak pernah makan sesederhana ini. Setidaknya selalu ada telur atau ayam dalam setiap jam makannya. "Doyan, lah!"

Pijar lega. "Ya udah. Lega aku jadinya. Buruan makan, Mas!"

Pijar menuangkan sayur bening ke piring Ersa duluan. Kemudian 2 potong tempe bakar untuk Ersa. Dan 2 lagi untuknya sendiri.

Meski ragu, Ersa tetap ikut makan bersama Pijar. Sedikit mengejutkan karena makanan sederhana ini ternyata enak juga.

Ersa jadi heran. Kenapa setiap makan di sini -- walau pun hidangannya sederhana -- tapi selalu terasa nikmat?

Apa Pijar yang punya bakat memasak? Atau Ersa saja yang terlalu lapar? Atau makanan yang didapat dengan kerja keras, memang terasa jauh lebih enak?

"Kamu di rumah gini biasanya ngapain? Gabut nggak di rumah sendirian?" Ersa iseng bertanya.

"Ya jelas gabut. Makanya aku ngisi waktu dengan melakukan hobi."

"Kamu punya hobi?"

"Punya, lah! Memangnya ada manusia nggak punya hobi?"

'Ada. Gue!'

Ersa memang tidak tahu apa hobinya. Saking hidupnya terlalu diatur Damara.

"Memangnya hobi lo apa, Jar?"

"Aku sukanya nulis novel, Mas."

"Wuih ... bagus nggak tulisan lo? Coba lihat!" Ersa penasaran.

"Kata orang-orang cukup bagus. Bentar, aku ambilin draft novel yang sekarang ikut lomba."

Pijar buru-buru masuk kamar. Tak lama kemudian ia kembali membawa 1 eksemplar draft novel yang sudah dicetak dan dijilid manual.

"Hadeh, judulnya Binar Gemintang ... pasti isinya kebucinan lo ke Binar! Nggak jadi baca!" Ersa mengatakan tidak jadi, tapi tangannya bergerak membuka halaman pertama.

Pijar bingung sendiri. Sebenarnya Ersa maunya apa?

***

"Mas Binar akhir-akhir ini kelihatan lebih cape. Tiap pulang dia nggak semangat. Nggak ceria. Dia berusaha senyum sama aku. Tapi kelihatan senyumnya maksa."

Pijar menyuarakan khawatirnya pada sang kakak. Ini sudah malam. Pijar harusnya sudah tidur pasca minum obatnya. Tapi malah asyik ngobrol dengan Ersa -- yang katanya mau menginap malam ini.

"Jar, jangan ngomongin Binar terus bisa kali! Cari topik lain!" protes Ersa.

Kini keduanya berbaring di atas kasur kapuk di dalam kamar itu. Ersa sudah ganti kaos polos milik Binar dan Pijar. Mereka berdua tidak punya pakaian yang pesifik masing-masing. Semuanya satu untuk berdua.

"Katanya Mas Ersa temanku. Masa aku nggak boleh curhat?"

"Ya boleh. Tapi jangan soal Binar!"

"Kenapa benci banget sama masku? Awas nanti kecintaan!"

"Nggak bakalan!"

Pijar menggeleng tak mengerti. Orang sebaik kakaknya, ternyata ada yang benci.

"Aku beneran khawatir. Mas Binar kayak nyembunyiin sesuatu. Aku takut Mas Binar kesusahan sendiri tanpa sepengetahuanku."

Pijar tetap nekat membicarakan kakaknya. Tanpa Pijar ketahui, Ersa sebenarnya menyimak.

Ternyata Pijar menyadari perubahan kakaknya. Merasa bersalah tak bisa membantu saat Binar kesusahan.

Sebegitu eratnya hubungan batin mereka. Tanpa bicara pun, sudah bisa merasakan yang terjadi. Membuat Ersa semakin iri, ingin punya saudara juga.

"Mas Ersa nanti nggak dicariin mamanya?"

"Nggak, lah! Kan udah izin."

"Yang bener?"

"Bener. Udah chat Mama, dan diizinin."

"Ya udah kalau gitu. Aku jadi ada temennya." Pijar menghela napas. "Mas Ersa harus sayang sama mama papanya, ya. Mumpung masih ada. Nggak punya orang tua itu nggak enak."

Ersa bisa merasakan kesedihan Pijar.

Pijar baru saja megambil ponselnya. Ada pesan dari sang kakak.

'Dek, maaf aku pagi kayaknya nggak pulang. Besok aku bolos sekolah. Bolos pecel tumpang juga. Ada lemburan shift minimarket. Lumayan insentifnya. Bisa buat beli stok makanan bergizi. Aku lagi pengin banget makan ikan gurame. Dari pada jual kalung, mending lembur. Baik-baik di rumah. Kabarin Mas kalau ada apa-apa.'

Pijar sengaja membaca pesan Binar dengan keras. Biar Ersa bisa dengar.

"Ada-ada aja Mas Binar. Tumben pengin makanan mahal begitu. Segala mau jual kalung. Nggak mungkin dijual, lah! Kan kalung kesayangannya."

Ersa meringis mendengar ocehan Pijar. Bocah itu tidak tahu kakaknya bohong.

"Ngomongin apa, sih? Kalung apaan?" Ersa aji mumpung, sekalian bertanya soal kalung Binar. Selama ini misteri kesamaan kalungnya dengan Binar, masih Ersa simpan sendiri.

"Kalung kesayangan Mas Binar, yang selalu dipakai ke mana-mana. Pemberian orang tua kami."

***

Ersa nyatanya masih betah membaca novel tulisan Pijar. Makin dibaca kisahnya makin membuat candu. 

"Katanya kemarin ogah baca. Kenapa sekarang malah keasyikan?" ledek Pijar.

Mereka berdua sedang sarapan sekarang. Sama-sama sudah pakai seragam sekolah masing-masing. Untung ini hari Selasa, Ersa memakai seragam yang sama dengan kemarin.

"Udah mau telat, nih. Novelnya gue bawa, Jar. Gue balikin kalau inget."

Pijar tertawa keras. "Dasar! Nggak dibalikin juga nggak apa-apa. Itu udah nggak dipakai kok. Aku juga punya salinan rangkap lain. Soft file juga ada."

"Lo kenapa sih suka banget presentasi? Ngomong panjang banget. Gue nggak tanya lo punya rangkap lain apa nggak! Juga nggak tanya soal soft file-nya!"

"Nah itu, Mas Ersa juga barusan presentasi! Lebih panjang dari aku presentasinya!"

"Jangan jiplak kata-kata gue, ya!"

"Ini bukan jiplak, tapi ATM!"

"ATM apaan?"

"Amati, Tiru, Modifikasi!"

"Pret, lah!"

Karena keasyikan baca, Ersa malah benar-benar membawa pergi draft novel Binar Gemintang. Pijar biarkan saja. Toh salinan yang terbaik sudah ia kirim ke Universitas Kilisuci. 

***

"Binar sebenarnya kenapa? Lo tahu detailnya nggak?" Roy langsung menodong Ersa pertanyaan begitu sang ketua kelas datang. "Gue hubungi dia nggak bisa. Gue dengar dia tumbang waktu dihukum sama Pak Sastro. Dan lo ikut bawa dia ke rumah sakit?"

"Iya. Dia dirawat di Medika Jayandra. Langsung samperin aja. Soalnya dia sendiri. Langit nggak dikasih tahu. Dia bohong lembur." 

"Dia sebenarnya kenapa, ya? Kok makin sering kayak gini."

Ersa jadi memikirkan solusi dokter Rayn untuk melakukan pemeriksaan lengkap kemarin. "Ya mana gue tahu! Nanti coba tanya ke orangnya langsung!"

Roy mengangguk mengerti. "Sekali lagi lo nolongin dia, Sa. Gue benar-benar berterima kasih."

"Gue kebetulan ada di sana saat kejadian."

"Gimana pun kronologinya, gue tetap berterima kasih."

"Ya terserah."

***

Sepulang sekolah Ersa harus menjalani bimbingan pembekalan olimpiade dulu. Bu Aisya jelas langsung menanyakan kondisi Binar. Mengingat peristiwa tumbangnya kemarin, sudah jadi buah bibir seantero sekolah.

"Dia masih rawat inap, Bu."

"Kecapean pasti dia. Kerjaannya banyak."

"Iya mungkin."

Bimbingan berlalu cepat. Ersa langsung menuju ke rumah sakit setelah urusannya selesai.

Ia sebenarnya bukan penasaran ingin tahu lebih lanjut soal kondisi Binar. Tapi ia lebih ingin melihat liontin kalung Binar secara lebih detail.

Sampai di sana ternyata ada Roy.

Ersa pikir saat kembali, kondisi Binar sudah lebih baik dari kemarin. Ternyata belum. Binar masih kelihatan lemas. Bicara dengan Roy saja ngos-ngosan seperti baru maraton.

"Lo ke sini, Sa!" Roy takjub dengan kedatangan Ersa.

Ersa jadi kelabakan. Ia takut dikira perhatian pada Binar. Padahal kan punya urusan lain!

"Iya, kan gue yang kemarin tanda tangan administrasinya. Gue wajib pantau keadaannya. Dokter pasti nyariin gue kalau ada apa-apa." Ersa cepat-cepat cari alibi.

Roy tersenyum. "Wah, ternyata lo berperan jadi walinya Binar. Udah macam saudara aja kalian. Lucu sebenarnya. Padahal di sekolah kayak musuh. Tahu-tahu jadi wali!"

"Kan udah gue kasih tahu kronologinya. Terpaksa karena keadaan!"

"Iya-iya, nggak usah ngegas!" 

"Gimana tadi kata dokter?" Ersa beralih bicara pada Binar.

Sesekali mencuri pandang pada area lehernya. Memikirkan kira-kira kapan ada kesempatan melihat liontinnya lebih detail?

"Gue udah baik katanya. Besok boleh pulang," jawab Binar dengan suara hampir tak terdengar.

"Ngawur! Masih lemes begitu! Salah gue nanya sama lo. Gue mau ngobrol sama dokter Rayn aja."

Ersa melenggang pergi dari sana. Roy dan Binar melanjutkan obrolan mereka.

"Lo nggak disuruh periksa lengkap sama dokter, Bin? Akhir-akhir ini lo lebih sering sakit."

"Nggak. Gue nggak apa-apa. Cuma kecapean." Binar berbohong. Tidak mau ada satu orang lagi yang memaksanya melakukan pemeriksaan lengkap.

***

"Gimana ya cara bujuk teman kamu, Sa?"

"Saya juga bingung, Dok!"

"Duh, gimana ya? Ada anggota keluarga yang kira-kira bisa bujuk dia, nggak?" 

Ersa langsung kepikiran Pijar. "Ada adiknya, Dok. Tapi adiknya ada penyakit. Ini aja kakaknya dirawat nggak dikasih tahu. Soalnya sakitnya di jantung."

Dokter Rayn menghela napas. "Astaghfirullah, berat ya hidupnya Binar."

"Kasih tahu saja, seberapa penting pemeriksaan itu?"

"Gejala yang dialami Binar merujuk pada indikasi yang serius."

"Seserius apa?"

"Sebenarnya saya nggak boleh membicarakan kemungkinan yang belum pasti. Makanya kita harus melakukan pemeriksaan dulu untuk memastikan."

"Nggak apa-apa, bilang aja soal indikasi itu ke saya. Biar saya ada alasan buat maksa dia!"

Dokter Rayn menghela napas sekali lagi. Dan akhirnya terpaksa mengatakan segala kemungkinan terburuk soal kondisi Binar.

Ersa baru saja keluar dari ruangan dokter Rayn. Ucapan dokter itu terngiang-ngiang dalam ingatan Ersa. Berputar terus dalam otaknya seperti kaset rusak.

Ersa masuk kembali ke ruangan Binar. Pemuda itu ternyata sedang tertidur. Ia sendiri, Roy sudah tidak ada.

Ersa menatap Binar lekat. Bertanya-tanya, apa benar perkiraan dokter Rayn tadi?

Kalau memang benar ... Ersa tidak bisa membayangkan bagaimana Pijar nanti.

Ersa tiba-tiba teringat soal kalung Binar. Mumpung Binar tertidur, ini adalah kesempatan membalik liontinnya.

Ersa perlahan menarik kalung itu supaya liontinnya keluar dari dalam area kerah. Melihat bagaimana bentuk semangginya, membuat Ersa membeku. Seluruh tubuhnya terasa merinding.

Terlebih setelah Ersa membalik liontinnya. Di bagian belakang liontin itu, terdapat inisial DW. Sama persis seperti inisial dalam liontin semangginya.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • muymuy

    Gak di next kak?

    Comment on chapter Hari Pembagian Rapor
Similar Tags
Unknown
297      243     0     
Romance
Demi apapun, Zigga menyesal menceritakan itu. Sekarang jadinya harus ada manusia menyebalkan yang mengetahui rahasianya itu selain dia dan Tuhan. Bahkan Zigga malas sekali menyebutkan namanya. Dia, Maga!
Because Love Un Expected
34      31     0     
Romance
Terkadang perpisahan datang bukan sebagai bentuk ujian dari Tuhan. Tetapi, perpisahan bisa jadi datang sebagai bentuk hadiah agar kamu lebih menghargai dirimu sendiri.
Asa
5303      1762     6     
Romance
"Tentang harapan, rasa nyaman, dan perpisahan." Saffa Keenan Aleyski, gadis yang tengah mencari kebahagiaannya sendiri, cinta pertama telah di hancurkan ayahnya sendiri. Di cerita inilah Saffa mencari cinta barunya, bertemu dengan seorang Adrian Yazid Alindra, lelaki paling sempurna dimatanya. Saffa dengan mudahnya menjatuhkan hatinya ke lubang tanpa dasar yang diciptakan oleh Adrian...
Flyover
533      392     0     
Short Story
Aku berlimpah kasih sayang, tapi mengapa aku tetap merasa kesepian?
Potongan kertas
1196      678     3     
Fan Fiction
"Apa sih perasaan ha?!" "Banyak lah. Perasaan terhadap diri sendiri, terhadap orang tua, terhadap orang, termasuk terhadap lo Nayya." Sejak saat itu, Dhala tidak pernah dan tidak ingin membuka hati untuk siapapun. Katanya sih, susah muve on, hha, memang, gegayaan sekali dia seperti anak muda. Memang anak muda, lebih tepatnya remaja yang terus dikejar untuk dewasa, tanpa adanya perhatian or...
Lingkaran Ilusi
11638      3177     7     
Romance
Clarissa tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan Firza Juniandar akan membawanya pada jalinan kisah yang cukup rumit. Pemuda bermata gelap tersebut berhasil membuatnya tertarik hanya dalam hitungan detik. Tetapi saat ia mulai jatuh cinta, pemuda bernama Brama Juniandar hadir dan menghancurkan semuanya. Brama hadir dengan sikapnya yang kasar dan menyebalkan. Awalnya Clarissa begitu memben...
Behind The Spotlight
6277      3488     622     
Inspirational
Meskipun memiliki suara indah warisan dari almarhum sang ayah, Alan tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang penyanyi, apalagi center dalam sebuah pertunjukan. Drum adalah dunianya karena sejak kecil Alan dan drum tak terpisahkan. Dalam setiap hentak pun dentumannya, dia menumpahkan semua perasaan yang tak dapat disuarakan. Dilibatkan dalam sebuah penciptaan mahakarya tanpa terlihat jelas pun ...
Aku Ibu Bipolar
100      92     1     
True Story
Indah Larasati, 30 tahun. Seorang penulis, ibu, istri, dan penyintas gangguan bipolar. Di balik namanya yang indah, tersimpan pergulatan batin yang penuh luka dan air mata. Hari-harinya dipenuhi amarah yang meledak tiba-tiba, lalu berubah menjadi tangis dan penyesalan yang mengguncang. Depresi menjadi teman akrab, sementara fase mania menjerumuskannya dalam euforia semu yang melelahkan. Namun...
Kaca yang Berdebu
371      290     1     
Inspirational
Reiji terlalu sibuk menyenangkan semua orang, sampai lupa caranya menjadi diri sendiri. Dirinya perlahan memudar, seperti bayangan samar di kaca berdebu; tak pernah benar-benar terlihat, tertutup lapisan harapan orang lain dan ketakutannya sendiri. Hingga suatu hari, seseorang datang, tak seperti siapa pun yang pernah ia temui. Meera, dengan segala ketidaksempurnaannya, berjalan tegak. Ia ta...
A Day With Sergio
2204      1046     2     
Romance