Marrinette tersentak dari tidurnya, mengelap keringatnya. Kejadian memilukan itu malah kembali datang menjadi mimpi buruk. Air matanya meluruh seketika. Ia rindu ke dua orangtuanya, dayang-dayang, dan juga kerajaan Laut Antlantis yang damai. Namun sekarang semua hanyalah kenangan.
Marrinette menyeka air matanya ketika mendengar ketukan pintu disusul suara Fadli.
"Marrinette kamu sudah bangun belum? Aku tunggu dibawah ya."
"Sebentar aku akan siap-siap." Marrinette menyahut. Ia bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
***
"Kamu kenapa sih melamun mulu?" tanya Fadli yang sudah bosan memperhatikan Marrinette yang tak juga bersuara dari tadi. "Makanannya juga tak disentuh. Nggak enak ya? Kalau nggak enak bisa diganti."
"Nggak usah," sahut Marrinette.
"Kamu kenapa? Kalau ada apa-apa cerita. Jangan di pendam sendiri."
"Sebaiknya liburannya di persingkat saja. Aku ingin segera kembali."
"Tapi-"
"Aku mohon." Netra Marrinette menatap Fadli dengan berkaca-kaca. "Nyawa Evelyn dalam bahaya. Aku nggak mau penyelamatannya di tunda-tunda."
Fadli menatapnya tak tega. Ia mengangguk kecil. Saat ini dalam pikirannya bagaimana biar Marrinette tak sedih.
***
"Alya, bukankah itu Marrinette?" tanya Dilon saat melihat sepasang manusia keluar dari speedboat.
"Kau benar," sahut Alya.
"Marrinette!" panggil Dilon seraya berlari kearah Marrinette. "Akhirnya kau berhasil membawa lelaki ini. Sini kau!" Dilon langsung menjambak kerah Fadli.
"Dilon hentikan! Bukankah dalam peraturan laut kita tidak boleh menyakiti manusia?" Cegah Marrinette.
"Tapi dia musuh kita. Dan boleh dihabisi!
"Dia bukan musuh kita. Dia hanya termakan rayuan Papanya. Saya lebih mengenal dia daripada kau. Fadli sebenarnya orang baik."
"Trus aku harus bagaimana! Evelyn dalam bahaya. Jika kita tak segera menyelamatkannya ia akan dijual keluar negri dan kita takkan bisa bertemu dia lagi! Sebaiknya kita habisi orang ini sebagai balasan atas diculiknya Evelyn."
"Dilon stop!" Alya datang melerai, menyingkirkan tangan Dilon dari kerah Fadli. "Menghabisinya tidak akan menyelesaikan masalah!"
Dilon melepas cengkramannya dari kerah Fadli. Tatapannya tajam.
"Marrinette darimana saja kau? Kita sudah menunggumu dari kemaren," tanya Alya.
"Kita dikejar-kejar preman."
"Bagaimana bisa?"
"Panjang ceritanya. Yang jelas kita tak bisa berlama-lama di sini. Tempat ini terlalu berbahaya untuk kita. Satu hal lagi, Fadli akan ikut membantu kita."
"Kau yakin?" tanya Alya menatap Marrinette. Kemudian tatapannya beralih pada Fadli, ragu.
"Aku berhutang nyawa pada Marrinette. Sebagai balasannya, aku akan membantu kalian menyelamatkan Evelyn."
"Benarkah?" kata Alya sumringah.
Fadli mengangguk. "Nanti kita susun rencana."
"Kalau begitu kita pulang dulu. Sampai jumpa besok." Marrinette pamit.
Sedangkan Dilon, dari tadi hanya jongkok seraya mencoret-coret tanah dengan malas. Tampangnya seperti orang mengantuk.
"Hei siluman lumba-lumba!" seru Alya membuyarkan lamunan Dilon. "Apa yang kau lakukan?"
Dilon berdiri seraya menghela nafas panjang.
"Aku punya ide," ujar Dilon.
"O ya? Apa?"
"Besok kita bicarakan."
***
"Kemana saja kalian tak pulang-pulang?"
Baru saja mereka masuk. Fadli sudah ditodong pertanyaan dan tatapan tajam Papanya.
"Kita sembunyi Pa. Preman satu kota mengejar kita."
Wajah Agnes langsung pucat pasi. Darlius tak lagi bertanya, membiarkan Fadli dan Marrinette masuk ke kamar mereka masing-masing.
"Bagaimana ini Mas? Mereka pasti orang-orang suruhan suamiku yang mengincar kita," ujar Agnes cemas.
"Sudahlah jangan cemas. Selama masih disini kau aman. Jangan keluar dulu. Biar orang-orangku yang memastikan situasi di luar sana."
***
Malam hari meja makan hanya diisi oleh Darlius, Fadli dan Agnes. Jangan tanya Marrinette dimana. Sudah pasti ia makan di meja yang terdapat di dapur karena Darlius takkan pernah suka jika ia ikut makan bersama mereka.
"Kita berdua hampir saja kehilangan nyawa jika tak ada jalan lain untuk melarikan diri." Fadli memulai pembicaraan di sela-sela makannya.
"Lalu?" tanya Darlius.
"Mereka ingin memenggal kepalaku dan akan diserahkan pada Papa."
"Serius?"
"Bagaimana mungkin aku bercanda. Sebenarnya Papa ada masalah apa dengan mereka? Hingga mereka begitu berambisi untuk membunuh kita?"
"Namanya juga menjalankan bisnis pasti ada persaingan." Darlius menjawab enteng.
"Yakin hanya karena bisnis? Jika hanya karena bisnis bagaimana mungkin mereka bisa seserius itu sampai ingin menghilangkan nyawa orang lain?"
Darlius terdiam.
"Apa jangan-jangan karena perempuan ini?" Fadli menunjuk Agnes dengan garpu.
Seketika jantung Agnes berdegup, membuatnya berhenti mengunyah. Mendadak ia kehilangan selera.
"Apa maksudmu mengatakan 'perempuan ini?' Berkata sopanlah padanya. Dia assisten Papa!" Bela Darlius emosi.
Fadli tergelak. "Aku hanya bercanda Pa. Aku hanya takut ada orang lain yang jadi benalu bagi keluarga kita. Aku harap kematian Mama bisa menjadi pelajaran agar Papa tidak melakukan kesalahan yang sama."
Setelah itu tak ada lagi percakapan diantara mereka. Fadli menyantap makanannya namun matanya menatap tajam pada Agnes. Bagaimanapun Agnes berpura-pura polos dihadapannya, bukan berarti dirinya tak tau kebusukan apa yang sedang dia sembunyikan. Fadli pernah mendengar cerita Pak Adi yang beberapa kali kepergok Agnes yang suka mengoda Darlius bahkan sampai memadu kasih. Kemudian buru-buru pergi dari tempat kejadian sebelum ketauan.
***
Ternyata besoknya Dilon hanya asyik makan soto ayam. Disampingnya Alya menunggu dengan bosan. Dilon tak juga menceritakan ide yang terlintas dibenaknya kemaren. Ia hanya berkutat menyantap sotonya. Ini sudah mangkuk yang ketiga. Bosan menunggu, Alya menepuk pundaknya.
"Hei siluman lumba-lumba! Kapan kau membicarakan idemu?"
"Ide apa?"
"Kemaren katanya kau punya ide. Dan kau akan membicarakannya sekarang."
"Kapan aku bicara seperti itu?"
"Aaakh dasar!"
Ingin sekali dia menjambak-jambak rambut Dilon andai tidak ada orang lain disana. Alya pergi dengan kesal. Ternyata waktunya hanya dihabiskan untuk menemani Dilon makan.
Langkahnya dihentakkan-hentakkan disertai gerutu panjang pendek. Tanpa sengaja dia menabrak perempuan yang mengenakan hodie hitam hingga keduanya terjatuh bersamaan.
"Maaf, saya tidak sengaja," kata Alya seraya membersihkan debu di tangannya.
Perempuan itu mengangkat kepalanya sedikit hingga Alya mengenalinya yang tak lain adalah adiknya sendiri.
"Mar-"
Tangan Marrinette langsung membungkam mulut Alya hingga tak jadi melanjutkan kata-katanya.
"Sst. Kau lihat preman-preman itu?"
Alya menoleh mengikuti arah mata Marrinette. Pada preman-preman bertato yang duduk tak jauh dari Dilon memakan soto.
"Mereka semua adalah orang suruhan musuh Fadli yang sudah mengenali wajahku. Kalau mereka tau aku ada di sini, aku bisa ditangkap. Dimana Dilon?"
"Makhluk yang rambutnya acak-acakan kayak orang gila yang duduk membelakangi kita dan sedang menikmati soto itu, adalah Dilon," sahut Alya dengan nada kesal.
"Aku mau kesana."
"Untuk?" tanya Alya belum mengerti.
"Ada hal yang perlu aku bicarakan dengan kalian berdua."
Alya bangkit dan menarik tangan Marrinette membantunya berdiri. Marrinette berjalan menunduk beriringan dengan Alya menuju warung soto.
"Ya ampuun. Sudah mangkok kelima?" Alya membelalakkan mata menyaksikan Dilon yang tengah asyik menyeruput mie. Ia duduk di samping Dilon seraya menyikut bahunya. "Perutmu terbuat dari balon ya? Kok melar? Makanan sebanyak itu bisa muat di perutmu."
"Enak," sahut Dilon singkat.
"Apa kau belum pernah ke dunia manusia sebelumnya?" tanya Alya.
Dilon menggeleng. "Aku takkan disuruh ke dunia manusia andai Evelyn tidak dalam masalah."
"Ck ck ck, kasihan," ledek Alya.
Marrinette duduk dihadapan mereka. Dilon reflek mengangkat kepalanya dan nyaris menyebut nama Marrinette andai Alya tidak menutup mulutnya.
"Sst, preman bertato itu bisa membahayakan Marrinette."
Dilon menoleh pada mereka sebentar, menatap agak ngeri karena melihat otot-otot mereka yang kekar.
"Hai Dilon. Kenalin ini namanya Lily. Dia teman lamaku. Kita satu SMA dulunya." Alya berucap demikian dengan suara yang sengaja dikeraskan.
Preman-preman yang sedang asyik bicara itu menoleh sebentar pada mereka. Kemudian bersikap tak peduli dan kembali pada obrolannya.
"Hai, aku Dilon. Pacarnya Alya." Dilon mengikuti sandiwara Alya seraya mengulurkan tangan yang mau tak mau dijabat Marrinette.
"Hehehe." Alya pura-pura tertawa namun tangannya mencubit pinggang Dilon seraya bergumam. "Jangan mencari kesempatan dalam drama ya kunyuk bin kecoak."
Dilon meringgis seraya menghindari cubitan Alya. "Apa itu kunyuk bin kecoak?"
"Tumbuhan," sahut Alya asal. "Lily kamu mau pesan soto nggak? Aku yang traktir, kebetulan lagi banyak uang, hehe."
"Aku tak punya banyak waktu untuk mengkuti drama kalian," bisik Marrinette dengan serius.
Baik Alya dan Dilon melongo.
Marrinette meletakkan dua tangannya di meja, mencondongkan wajahnya. "Aku ke sini untuk menyampaikan rencana yang sudah disusun Fadli."
Kemudian Marrinette mulai menyebutkan rencana itu satu persatu. Alya dan Dilon mendengarkannya dengan saksama.
"Kalian paham kan?" tanya Marrinette.
Alya dan Dilon mengangguk.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Kapan tanggal mainnya tunggu saja info dariku." Setelah berkata demikian, Marrinette bangkit dan keluar dari warung itu. Penutup kepala yang sempat mundur sedikit dia tarik ke depan. Kemudian berjalan menunduk dan bergegas.
Mendadak langkahnya terhenti karna melihat sosok yang dikenalinya--Rian, berdiri di belakang ruko sedang berbicara kepada beberapa preman. Marrinette mundur beberapa langkah, mengintip sedikit untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Apa kalian sudah mendapat kabar tentang Fadli dan wanita yang bersamanya?"
"Belum," sahut salah satu preman. "Bahkan dari laporan mata-mata, sudah tiga hari Fadli tidak terlihat di rumahnya."
Rian menyeringai. "Bagus. Berarti mereka sudah mati. Tapi bukan berarti kita lengah. Sebarkan foto Fadli dan wanita itu pada orang-orang suruhan bos di seluruh kota ini. Bisa saja mereka selamat atau sembunyi di suatu tempat. Jangan beri celah sedikit pun. Mereka berdua harus mati."
Seketika jantung Marrinette berdegup kencang.
Rian memberikan dua buah foto lagi pada mereka. "Ini adalah foto Darlius dan wanita ini adalah istri bos Patrick. Beritahu teman kalian yang belum mengenalinya. Wanita ini namanya Agnes. Culik perempuan ini dan bunuh Darlius apapun caranya."
Marrinette berbalik arah hendak mencari jalan lain. Namun sialnya ia malah bertabrakan dengan seseorang. Marrinette terjatuh.
"Heh punya mata nggak?"
Marrinette tak menyahut. Ia tau yang ditabraknya adalah preman suruhan Alex. Marrinette tetap menunduk. Batinnya meratapi kesialan yang ia alami hari ini.
"Hei kenapa hanya menunduk? Angkat kepalamu!" Hardik si preman.
Marrinette tetap menunduk. Lututnya terasa sakit karena beradu dengan aspal. Ingin ia bangkit dan segera kabur dari hadapan preman ini. Namun ia sadar preman itu takkan mungkin melepaskannya. Otaknya berpikir keras memikirkan cara biar lolos tanpa harus di curigai. Tapi disisi lain ia pasrah jika harus tertangkap.
"Ronal! Apa yang kau lakukan disitu? Bos Rian lagi ada urusan dengan kita. Buruan!"
Teriakan seseorang mengalihkan perhatian preman yang dihadapan Marrinette kini.
"Iya iya," sahutnya lalu mendengkus menatap Marrinette dan pergi meninggalkannya.
Marrinette menghembuskan nafas lega. Kemudian bangkit dan berjalan bergegas. Sakit dilutut dia abaikan, menaiki bus demi bisa cepat sampai menuju rumah Fadli.
Perjalanan pulangnya ditempuh dengan perasaan campur aduk. Bahkan ketika turun dari bus Marrinette buru-buru memasuki pagar membuat satpam keheranan. Marrinette berlari kedalam rumah, naik ke tangga menuju kamar Fadli, dan mengetuk pintunya berkali-kali.
Tak lama pintu dibuka dan keluarlah empunya.
"Ada apa?" tanyanya karna melihat raut cemas Marrinette.
"Ada hal yang perlu aku bicarakan padamu. Pentiing banget."
"Ayo kita ke lantai tiga." Fadli mengajak Marrinette menaiki tangga menuju tempat yang dimaksud.
Di tempat itu Marrinette menyampaikan bahwa rencana Fadli yang sudah tersampaikan. Tak ketinggalan bercerita tentang preman seluruh kota yang masih mengincar nyawa mereka juga Darlius. Bos mereka adalah atasan Alex yang tak lain adalah suami Agnes. Dan yang membuat Fadli emosi ternyata motif mereka hendak membunuh Darlius karena suami Agnes tak terima Darlius mengambil istrinya. Situasi itu dimanfaatkan Alex dan Rian untuk mencelakai Fadli yang dia anggap saingannya. Dari sana Fadli menarik kesimpulan jika Alex selama ini menjadi duri dalam daging dan berhasil menghasut teman-teman Fadli hingga ia dijauhi. Mendengar penjelasan Marrinette, Fadli menggebrak meja.
"Agnes yang sengaja menyerahkan diri dan menjadi gundik Papaku bertahun-tahun! Karena dia menginginkan jabatan, uang dan uang. Papaku yang berbuat, tapi diriku yang ditumbalkan, brengsek!"
Vas yang ada di depan Fadli melayang oleh tangannya dan pecah. Marrinette diam, membiarkan pria itu meluapkan emosinya.
"Alex, Rian. Aku tak menyangka kalau mereka berdua pengkhianat. Dahulu mereka memuji-mujiku hingga berhasil membuatku rela merogoh uang yang banyak hanya untuk membayarkan makanan mereka. Setelah diriku tak lagi bisa dimanfaatkan, mereka memusuhiku. Sekarang aku juga mengerti alasan lainnya, mereka pasti ingin mengambil alih jabatanku sebagai ketua geng motor yang menguasai jalanan. Apa mereka pikir jabatan itu penting bagiku? Hh! Hanya bekerja mengambil 50% uang parkiran yang bahkan tak sebanyak uang bulananku. Menjijikkan."
Marrinette mendehem. "Kita harus mempercepat rencana kita. Aku tak mau kedatangan mereka memperparah keadaan. Nyawa Evelyn dalam bahaya."
"Besok." Fadli berujar yang nyaris seperti gumaman.
"Kau serius?"
"Ya," sahut Fadli dengan wajah datar kemudian pergi dari tempat itu.