"Kebetulan sekali kamu cerdas hahaha!" seru Alex tertawa keras.
Fadli bisa bernafas lega sekarang.
"Huh, tadi benar-benar menegangkan ya Marrinette."
Disampingnya Marrinette hanya tersenyum.
"Untuk sementara waktu, kita akan pergi kepulau kecil di tengah lautan sana. Ada tempat wisata dan kita akan berlibur untuk sementara waktu sekaligus memulihkan diri. Kebetulan, aku membawa kartu kredit dan ATM."
Marrinette tak menyahut, ia asyik memandangi lautan.
Hingga tiba-tiba speedboat itu berhenti. Marrinette yang kebingungan menatap Fadli yang ternyata keliatan panik.
"Eh kenapa ini? Kok berhenti?" tanya Fadli bingung sendiri.
"Kupikir kamu sengaja." Marrinette menyahut.
"Tidak Marrinette. Speedboat ini memang tak bisa jalan. Kita harus bagaimana?"
"Apakah rusak?" tanya Marrinette.
"Sepertinya," sahut Fadli. "Sial! Aku juga tak bisa memperbaikinya. Kita harus gimana ini?"
Marrinette menggeleng lemah.
Belum hilang kepanikan Fadli, sekarang malah ada air merembes dibawah kaki mereka. Marrinette sontak menaikkan kakinya. Ia tak mau kakinya basah dan berubah menjadi duyung dihadapan Fadli.
"Eh ada apa ini? Kok ada air?" kata Fadli yang semakin tambah bingung.
Air itu terus merembes bertambah banyak. Fadli memeriksa speedboat itu dan menemukan ada kebocoran yang lumayan besar.
"Gawat! Speedboat kita rusak!" seru Fadli panik. Terlebih mengingat mereka terjebak ditengah lautan.
"Marrinette bagaimana ini? Kita bisa tenggelam!" Fadli meremas rambutnya frustasi. Tapi Marrinette tetap tenang.
Kepanikan Fadli semakin bertambah melihat air yang semakin lama bertambah banyak memenuhi speedboat itu.
"Tidak ada cara lain," lirihnya. Menatap tajam lautan dan mengumpulkan semua keberaniannya. "Kita harus berenang untuk sampai kepulau itu Marrinette."
"Tapi itu terlalu jauh," keluh Marrinette.
"Kita tak punya pilihan lain. Berenang kesana atau kita akan mati tenggelam disini."
Fadli mengulurkan tangannya.
"Ayo Marrinette, melompat. Jangan takut, ada aku."
Marrinette berdiri, memegang tangan Fadli. Lalu mereka melompat ke dalam lautan. Fadli terus berusaha berenang sekuat tenaga untuk bisa sampai kesana. Namun perlahan tenaganya mulai habis. Hingga akhirnya tenggelam.
Ditengah kesadarannya yang mulai berkurang, Fadli melihat perempuan berekor, meliuk-liuk menghampirinya. Matanya melotot ketakutan, terlebih mengingat cerita ayahnya bahwa duyung berbahaya. Dengan sisa tenaga ia berusaha berenang menjauhi. Namun duyung itu menahan tangannya, mendekatkan mulutnya ke mulut Fadli yang seolah memberikan nafas buatan. Kemudian menyeretnya yang tanpa ia sadar akan dibawa kemana. Ia hanya pasrah.
"Fadli, Fadli bangun!"
Suara itu berasal entah darimana. Mungkinkah di tengah lautan masih ada manusia? Tapi dua telapak tangan yang hangat terus menekan-nekan dadanya. Berhenti sejenak, kemudian diulang lagi. Ia merasakan ada air laut mendesak naik ke kerongkongannya kemudian tersedak. Fadli membuka matanya perlahan-lahan. Pandangannya yang semula kabur, kini mulai jelas.
Ya, Marrinette yang berusaha menyadarkannya.
"Marrinette?" ujarnya lemah.
Baru ia tersadar kalau saat ini sudah tak lagi di dalam lautan. Melainkan di tepi pantai.
"Kaukah yang menyelamatkanku?"
Marrinette mengangguk pelan.
Benarkah? Ia hampir tak percaya. Ah, gengsi seorang pria membuatnya merasa malu pada diri sendiri. Ia yang harusnya menyelamatkan Marrinette. Tapi malah Marrinette yang menyelamatkannya
"Kita ada dimana?" Tanyanya berusaha duduk yang dibantu oleh Marrinette. Ia meringgis memegangi kepalanya yang sakit karena hidungnya kemasukan air.
"Private Island. Pulau yang akan kau tuju tadi."
"Hah?" Kata Fadli hampir tidak percaya. Bahkan saking tak percayanya matanya sampai terbelalak.
Detik itu pula ia melihat wujud asli Marrinette.
"Ka-kamu berekor?"
Marrinette menunduk, diam. Sudah tak ada lagi yang bisa ditutupinya.
"Mm-Marrinette. Kamu? Kamu? Du-duyung?"
Marrinette mengangguk, menatap Fadli. Sebuah rahasia besar yang sebelumnya berusaha ia tutupi sedemikian rupa, kini harus terbongkar.
"Ya, aku seekor duyung. Dan duyung yang dikurung oleh ayahmu... adalah temanku."
Fadli terperangah. Tentu saja, bagaimana ia mempercayai hal ini? Sulit dicerna sebagai kenyataan karena nyaris seperti mimpi.
Tapi fakta dihadapannya sudah jelas.
"Kenapa? Apa kau terkejut?"
Fadli tak menyahut. Tentu saja ia terkejut akan hal itu.
"Mengapa kau tak membunuhku?"
"Kau sudah termakan ucapan ayahmu. Kita sebagai duyung memiliki sumpah tidak boleh menyakiti jika bukan manusia itu sendiri yang mengusik kita. Tapi manusia itu sendiri yang gegabah dan ingin menguasai segalanya. Tanpa berpikir bahwa tindakannya akan merugikan makhluk lain. Jika duyung itu jahat. Sudah pasti aku membunuhmu tadi ditengah lautan."
"Jadi apa tujuanmu datang ke dunia manusia?"
"Aku diperintahkan untuk mengambil mustika duyung di dalam rumahmu. Itu bagian terpenting dalam kerajaan duyung tapi manusia malah mencurinya. Aku hanya ingin mengambil itu, tak lebih. Aku memang sudah berhasil menemukan mustika duyung itu. Tapi dampaknya, temanku Evelyn malah tertangkap. Kau tau, ia mau dijual ke luar negri dengan harga yang sangat mahal!"
Fadli terkejut.
"Sekarang coba pikirkan, manakah yang lebih kejam. Aku, atau ayahmu?!"
Fadli menunduk. Ia merasa bersalah sekarang. Terlebih ia telah berburuk sangka dan berniat ingin menyakiti Marrinette.
"Maaf, maafkan aku. Aku sudah salah menilaimu Marrinette," lirihnya. "Sama sekali tak kusadari kalau ternyata ayahku-lah yang berulah."
"Aku sudah tau, kau tak punya hati sejahat itu. Hanya saja kau termakan hasutan ayahmu hingga ingin mencoba mencelakaiku. Kau tau, jika ayahmu sampai mengetahui wujud asliku, dia pasti juga akan menjual diriku dan Evelyn. Semua itu dia lakukan untuk memperkaya dirinya."
"Maafkan aku Marrinette."
"Tak apa." Marrinette tersenyum. "Sekarang aku butuh bantuanmu."
"Apa yang bisa kubantu?"
"Bantu aku untuk menyelamatkan temanku. Ia sudah sangat lemah sekarang. Pasti mereka memberikan suatu obat yang membuat Evelyn tak berdaya. Aku takut terjadi apa-apa dengannya. Evelyn bagiku sudah seperti saudara sendiri."
"Baiklah," sahut Fadli yang mencoba bangkit namun karena kepalanya pusing membuatnya kembali terjatuh. "Akh!"
"Hei kau masih lemah. Jangan paksakan dirimu."
"Lalu aku harus bagaimana? Aku sudah kedinginan. Aku ingin istirahat."
"Sebentar."
Marrinette menyeret ekornya ketempat yang kering. Marrinette memusatkan pikirannya, ia mengeluarkan kekuatan panas hingga terlihat asap tipis bagaikan air yang menguap. Perlahan-lahan asap itu menghilang, meninggalkan kakinya yang sudah kembali seperti semula.
Melihat itu Fadli terpana.
"Kau?... Kau punya kekuatan?"
Marrinette tersenyum. Bangkit mendekati Fadli, mengulurkan tangannya yang disambut oleh Fadli kemudian menggandengnya menuju resort yang diinginkan Fadli. Mereka memesan dua kamar yang bersebelahan, Fadli sengaja meminta kamar yang viewnya menghadap kelaut.
Dikamarnya kini Marrinette merebahkan diri. Hari masih sore. Tapi karena kelelahan membuatnya lebih cepat mengantuk hingga melayang ke dunia mimpi.
Pagi yang cerah. Yang seharusnya disambut dengan gerombolan ikan berwarna-warni. Namun hari itu tampak sepi. Hening. Marrinette keluar dari kamarnya mencari kuda laut kesayangannya. Namun tak ditemukan.
Tiba-tiba ia didatangi beberapa dayang yang tampak bergegas dengan wajah ketakutan.
"Tuan Putri. Ayo sembunyi."
"Sembunyi? Ada apa?"
Belum sempat dayang-dayang menjawab kebingungannya, suara ledakan disusul teriakan tepat menghantam depan kastilnya.
Mata Marrinette membulat. "Apa yang terjadi?!"
"Tuan Putri, ayo sembunyi. Siluman piranha akan menghancurkan kerajaan ini. Mereka sangat kuat, tidak ada jalan lain selain bersembunyi." Dayang-dayang memberi peringatan seraya menarik tangan Marrinette mengajaknya mencari tempat aman. Namun Marrinette menahan diri.
"Dimana Ibunda dan Alya?"
"Yang Mulia Ratu dan putri mahkota sedang bertempur melawan musuh."
"Apa!"
Marrinette bergegas kembali ke kamarnya, membuka peti dan mengambil trisula, pedang, beserta busur dan beberapa anak panah. Ia keluar dengan terburu-buru, hendak melawan musuh. Dayang-dayangnya berusaha mencegah.
"Tuan Putri mau kemana? Yang Mulia Ratu meminta kami untuk membawa Tuan Putri ke tempat yang aman."
Marrinette tak menghiraukan perkataan mereka. Ia semakin cepat berenang menemui musuh yang sudah menghancurkan hampir separuh kerajaan. Dengan anak panahnya ia membunuh siapapun yang hendak menyerangnya. Dari kejauhan ia melihat Ratu Amarita kewalahan karena menghadapi musuh yang tak seimbang.
"Bunda!" serunya bergegas menghampiri Ratu Amarita.
"Hey, apa yang kau lakukan disini! Kembali ke kastilmu!" seru Ratu Amarita memerintah.
"Tidak Ibunda. Aku harus disini untuk membantu Ibunda. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan Bunda menghadapi mereka yang jumlahnya sangat banyak ini."
"Putriku. Dengarkan aku. Biarkan Ibunda dan Ayahandamu yang melawan mereka. Selamatkan dirimu dan Alya, kalian yang akan meneruskan kerajaan ini. Jangan pedulikan kami."
"Ibunda jangan berkata seperti itu. Aku tak akan menjauh dari Ibunda- akh!"
Ledakan api dihadapan mereka memotong ucapan Marrinette. Membuat duyung itu terpekik kaget. Dilihatnya Ratu Amarita sudah terbatuk-batuk dan memegangi dadanya yang sakit. Beberapa gurita yang ada disekitar mereka mengeluarkan tinta karena terkejut dan sebagai upaya melindungi diri.
"Ibunda! Marrinette!" seru Alya yang bergegas menghampiri mereka. "Kalian tidak apa-apa?"
"Alya, tolong bawa adikmu menjauh dari tempat ini."
"Tidak Bunda. Aku takkan pernah meninggalkan Bunda apapun alasannya."
"Pergilah Marrinette. Ini perintah!" bentak Ratu Amarita dengan sorot mata menyala.
Air mata Marrinette meleleh seketika. Menatap wajah Ibundanya yang sudah lusuh. Marrinette memeluknya yang diikuti oleh Alya.
"Berjanjilah padaku, bahwa Bunda akan baik-baik saja."
Ratu Amarita tersenyum, mengusap rambut kedua anaknya. Tak berlangsung lama kemudian melepas pelukannya. Keadaan sudah terdesak, mereka tak punya banyak waktu.
"Alya, jaga adikmu."
Alya mengangguk dalam tangis. Lalu menarik tangan Marrinette agar menjauh dari kehancuran itu. "Ayo lari!"
Marrinette masih sempat menoleh, memperhatikan Ratu Amarita yang gesit memainkan pedang untuk melawan musuh. Seperti tak ada rasa gentar dalam hatinya meskipun sudah terluka. Hingga sebilah pedang berhasil menembus perutnya. Marrinette yang menyaksikan terbelalak.
"Ibunda...!" teriaknya sambil menangis.
Ia hendak melepaskan tangannya untuk kembali menemui Ibundanya. Namun genggaman Alya terlalu erat.
"Lepaskan! Ibundaaa!"
"Marrinette jangan!"
"Aku ingin menemui Ibunda. Tolong jangan halangi aku. Ibundaa!"
"Marrinette jangan! Itu terlalu berbahaya!"
Marrinette meronta-ronta namun Alya dengan keras menariknya kesuatu tempat untuk bersembunyi.
"Apa salah kita? Mengapa semua ini terjadi?" katanya dengan suara yang mulai parau oleh tangis.
"Kehancuran tak harus terjadi karena kesalahan kita. Namun juga bisa terjadi karena ketamakan seseorang yang tidak pernah merasa cukup dengan kekuasaannya."
Alya menenangkan Marrinette yang tersedu-sedu.
Tiba-tiba mereka mendengar suara geraman dari balik semak-semak laut. Mereka menoleh, betapa terkejutnya mereka melihat seekor piranha raksasa yang menganga seakan-akan siap menelan mereka.
"Aaaa!" pekik mereka keras.
Tubuh mereka gemetar karena takut. Bergerak mundur perlahan-lahan.
"Marinette, kita akan mati," gumam Alya ketakutan.
Piranha itu hendak menyerang mereka, namun tiba-tiba sebuah trisula menancap disalah satu bagian tubuh ikan itu.
Marrinette dan Alya menoleh.
"Adrian?"
"Alya, Marrinette, kemari!"
Mereka bergegas menghampiri Pangeran Adrian.
"Situasi di sini sudah tidak kondusif. Cepat selamatkan diri!"
"Lalu, bagaimana denganmu?" tanya Alya khawatir.
"Jangan pikirkan aku. Pikirkan kesalamatan kalian," sahut Pangeran Adrian.
Suara geraman piranha menggeram dengan kerasnya mengagetkan mereka. Piranha itu mengamuk, melibas apapun yang ada disekitarnya dan menganga dengan lebarnya, memperlihatkan gigi-giginya yang panjang dan runcing.
"Alya, Marrinette. Mundurlah. Biarkan aku yang menghadapinya."
Mereka mundur untuk mencari tempat yang aman. Sedangkan Pangeran Adrian melawan siluman itu dengan pedangnya. Keadaan semakin mencekam karena Adrian terus terdesak. Ia harus mundur beberapa langkah. Beberapa kali ia mengerang kesakitan akibat serangan siluman piranha itu.
Dari arah lain juga muncul monster berukuran besar.
"Adrian, dibelakangmu!" teriak Alya membuat Adrian sontak berbalik arah, waspada.
Dua kekuatan yang teramat besar yang dilawan seorang diri, sangat tidak seimbang.
"Alya, Marrinette. Carilah tempat yang aman. Tempat ini benar-benar sudah tak bisa dijadikan perlindungan. Selamatkan diri kalian!" teriak Adrian disela-sela melawan musuh. Suaranya sudah terdengar kelelahan karena kehabisan tenaga.
Tempat itu sudah terkepung. Alya dan Marrinette mencari celah agar bisa lolos dari maut. Tapi tiba-tiba sebuah bola api raksasa bergerak akan menghantam mereka. Adrian yang melihat itu bergerak cepat, menjadikan dirinya tameng untuk melindungi mereka berdua. Hingga dialah yang menjadi korban.
"Adriaaaan!" Teriak Alya dan Marrinette bersamaan.