"Terbuka! Alya kita berhasil!" teriak Evelyn bahagia. "Alya cari kantong hitam untuk membungkus mustika ini."
Alya mencari setiap sudut hingga tong sampah. Menemukan kantong kain berwarna hitam dan memberikannya pada Evelyn. Setelah mustika itu dibungkus, mereka keluar dengan mengendap-endap. Setiap langkah mereka penuh ke hati-hatian dengan pandangan was-was. Salah-salah mereka bisa ketahuan.
"Sst." Kode Evelyn seraya menahan langkah Alya. Mengarahkan wajahnya pada dua orang bodyguard yang sedang berdiri menjaga depan lorong tempat satu-satunya mereka keluar. Bodyguard-bodyguard itu sedang membelakangi mereka.
Alya dan Evelyn sembunyi dibalik patung besar. Evelyn berbisik.
"Penjagaannya benar-benar ketat. Bagaimana ini?"
"Huuh, merusak dua buah lampu dirumah ini agar padam sepertinya tidak ada salahnya," gumam Alya.
"Jangan. Justru akan membuat kita ketauan karena orang-orang akan penasaran saat mendengar pecahan kaca."
"Kalau begitu, kenapa tak kau gunakan kekuatan pengendali pikiran pada dua bodyguard itu agar mereka bisa saling pukul-memukul dan menjauhi tempat ini."
Evelyn menyanggah. "Tidak. Justru akan menarik perhatian banyak orang untuk datang kesini."
"Lalu kita harus bagaimana? Apakah tetap berdiam diri disini sampai pagi? Itu ide buruk."
"Sebentar," ujar Evelyn seraya memberikan mustika itu pada Alya. "Peganglah ini, aku akan menghubungi Marrinette melalui telepati. Semoga saja dia dalam keadaan fokus memikirkan kita sehingga bisa dihubungi."
Evelyn memejamkan mata. Meletakkan tangan di kedua pelipisnya. Kemudian memanggil nama Marrinette.
"Marrinette.... Marrinette.... Ini aku Evelyn. Marrinette... dengarlah suaraku."
"Ada apa?" terdengar sahutan dari seberang.
"Tolong matikan semua lampu dirumah ini agar kita bisa melarikan diri. Penjagaan mereka sangat ketat sehingga kita susah untuk keluar dari sini"
"Baiklah."
Huh? Mematikan semua lampu? Dimana saklarnya ya?
Marrinette berpikir. Melihat ke setiap sudut ruangan. Mustahil saklar dipasang di dapur, toilet ataupun di kamar Darlius. Ah, pasti disekitar ruang tamu.
Marrinette pergi keruang tamu, ke arah pintu depan. Ia mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan bagian atas. Dan tersenyum setelah menemukan yang dicari.
Tapi untuk ke sana? Marrinette harus berpura-pura hendak mengambil gelas kosong yang ditinggalkan oleh tamu-tamu Darlius. Pura-pura membersihkan meja dengan mata memperhatikan ke sekeliling. Setelah dipastikan tak ada satupun yang mengawasinya, ia bergerak pelan-pelan dan mematikan saklar.
"Ada apa ini?" kata orang-orang yang keheranan karena matinya lampu secara tiba-tiba.
Marrinette segera pergi dari sana biar tak ketahuan.
"Ayo cepat Alya," ajak Evelyn.
Mereka berjalan mengendap-ngendap agar langkah mereka tak terdengar oleh dua bodyguard tadi. Lumayan mudah untuk menghindar dan menuju pintu belakang terlebih suara orang-orang riuh rendah protes akibat mati lampu.
Tetapi.
PRANG!
Pandangan yang terbatas di dalam gelap membuat Alya tanpa sengaja menyenggol vas besar di sisi lantai, jatuh dan pecah.
"Hei siapa itu?"
"Gawat," kata Alya panik.
"Ayo kita kabur," kata Evelyn menarik tangan Alya. Bergegas menuju pintu belakang.
Ketika mereka sedang membuka pintu belakang, lampu dihidupkan sehingga tampaklah mereka oleh salah satu bodyguard dan barang yang dibawanya.
"Pencuri!" teriaknya.
"Alya, kau bawa mustika ini biar aku yang mengecoh mereka."
Alya mengangguk, berlari lebih dulu ke arah pagar belakang dan mencoba memanjatnya. Sedangkan Evelyn menghadang para bodyguard yang sudah berdatangan hendak menangkap mereka berdua. Terjadilah duel yang tak seimbang. Sedangkan Alya terus berusaha memanjat pagar. Tiba-tiba ia melihat ada tangga dari kayu yang direbahkan di sisi pagar agak jauh dari hadapannya. Ia menyeretnya. Tangga itu lumayan berat yang membuatnya kesulitan untuk menegakkannya. Tapi dengan sekuat tenaga ia menegakkan tangga itu dan disandarkan pada pagar beton itu dan menaikinya. Sementara Evelyn terus menghalagi beberapa bodyguard yang hendak menangkap Alya.
Teriakan pencuri terdengar sampai ke telinga Marrinette dan Fadli.
"Hah? Pencuri?" ujar Fadli.
Sementara jantung Marrinette sudah berdegup tak karuan. Ia ingin menolong tapi setiap tempat selalu diisi oleh orang. Jika ia beraksi pasti akan ketauan. Dalam hati ia hanya bisa berdo'a banyak-banyak agar mereka berdua berhasil meloloskan diri.
Dibelakang itu, Evelyn terus melangkah mundur menghadapi serangan bodyguard. Hingga tanpa sadar, ia terjatuh ke kolam renang. Semua bodyguard yang ada di sana terkejut. Menyaksikan wanita itu berubah menjadi duyung.
Handphone Marrinette berdering.
"Marrinette, Evelyn tertangkap!"
"Apa?!"
"Dia tertangkap saat hendak menghalangi bodyguard. Hanya aku yang lolos."
"Lalu bagaimana dengan...."
"Tenang. Mustika sudah ditanganku. Segera kuberikan pada Ratu Apriana malam ini juga."
Telepon dimatikan. Akh! Sial! Saat dia berpikir malam ini adalah malam terakhirnya berada dirumah ini karena esok pagi dia akan pulang ke kerajaan Apriana, tapi tertangkapnya Evelyn akan menambah masanya untuk berada dirumah ini. Oh Tuhan, ini benar-benar diluar rencana.
Ditengah kepanikan yang semakin meraja itu, Fadli datang dengan nafas memburu.
"Marrinette kau pasti takkan percaya dengan apa yang kulihat."
"Apa?"
"Ada seekor duyung yang tertangkap di kolam renang."
"Hah? Benarkah?"
Fadli mengangguk.
"Sekarang kolam renang itu ditutupi dengan jaring agar ia tidak bisa meloloskan diri. Aku tak habis pikir, dulunya mengira kalau putri duyung itu hanya ada didalam film. Namun ternyata aku menyaksikannya sendiri dan nyaris tak percaya dengan apa yang kulihat."
"Kalau begitu aku akan ke sana sekarang."
"Jangan Marrinette. Besok saja. Besok duyung itu akan dipindahkan ke salah satu ruangan untuk diteliti. Sekarang kolam renang sedang dijaga ketat oleh beberapa bodyguard."
Apa? Dijaga ketat? Ah sial! Batinnya kesal. Tentu ia takkan bisa membebaskan Evelyn tengah malam nanti.
♤♤♤
"Adiiiii!" teriakan panjang Darlius menggema hingga keluar ruangan.
Pak Adi terburu-buru mendatangi Darlius.
"A-ada apa, Tuan?" tanya Pak Adi gugup. Ia tahu betul, Darlius tidak akan marah sebesar itu jika bukan karena sesuatu hal berharga yang hilang darinya.
"Kau lihat ini?" katanya seraya menunjuk brankas yang dalam keadaan terbuka.
Sejenak Pak Adi melihat brankas yang berisi tumpukan uang ratusan, tanpa sadar ia meneguk ludahnya.
"Ya, kenapa memangnya, Tuan? Apa ada uang Tuan yang hilang?"
"Siapa yang mengawasi ruangan ini semalam?"
"Arman dan Aji Tuan."
"Panggil mereka ke sini. Cepat!"
"Baik Tuan."
Pak Adi bergegas keluar ruangan itu dan tak lama kembali lagi membawa Arman dan Aji.
"A-ada apa Tuan me-memanggil kami berdua?" tanya Arman takut-takut. Terlebih melihat Darlius menunduk dengan tangan mengepal. Matanya jelas menampakkan kemarahan yang luar biasa.
"Kemana saja kalian semalam?" tanyanya dingin dan kaku.
"Ka-kami berdiri di depan lorong me-mengawasi ru-ruangan ini."
"Mengawasi?" Darlius menegakkan kepalanya. Tatapan tajamnya membuat nyali mereka ciut.
Tiba-tiba gebrakan meja menambah ketakutan mereka. "Jika kalian benar-benar mengawasi takkan mungkin mustika saya hilang! Mustika itu sangat berharga dan mahal. Tapi kecerobohan kalian membuatnya lenyap. Inikah yang disebut mengawasi? Hah! Kalian tidak becus!!"
"Ma-maafkan kelalaian kami Tuan. Kami sangat bersalah. Tuan tolong jangan pecat kami," kata Arman.
Mereka menundukkan badannya memohon-mohon.
"Kalau Tuan mengizinkan, kami akan mencari mustika itu sampai ditemukan," kata Aji yang masih menundukkan kepala.
"Hh!"
"Tuan." Pak Adi menyela. "Saya curiga kalau duyung itu yang mencurinya."
Belum sempat Darlius menyahut salah satu bodyguard yang lain datang memasuki ruangan itu. Yanto namanya.
"Maaf Tuan Darlius. Bu Agnes memanggil Tuan untuk segera keruang penelitian."
Tanpa sahutan dan dengan wajah dinginnya segera keluar dari ruangan itu, pergi ke ruangan yang dimaksud.
"Hai, Tuan Darlius," sapa Agnes menyambutnya saat Darlius baru memasuki ruangan. Didalamnya juga ada dua orang ilmuan yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Agnes adalah sekretaris Darlius yang sudah bekerja bertahun-tahun dengannya. Bahkan juga beberapa kali bermain cinta dengannya. Rambutnya pendek. Ia memakai rok mini, dan baju ketat dengan kancing terbuka bagian atas yang memperlihatkan belahan dadanya.
"Ada suatu hal yang harus kutunjukkan padamu."
Agnes mengambil segelas air, menyiramkan pada kaki Evelyn yang sudah tak sadarkan diri karena telah disuntikkan bius. Seketika kaki Evelyn berubah menjadi ekor. Darlius terkejut sekaligus takjub. Tak lama kemudian ekor itu kembali berubah menjadi kaki seperti semula.
"Satu hal yang unik dari duyung ini adalah kakinya yang bisa berevolusi menjadi kaki manusia dalam waktu tiga menit."
"Aku pikir duyung itu mitos. Ternyata benar adanya," sahut Darlius.
Agnes tersenyum. Melangkah mendekati Darlius, melingkarkan tangan kanannya dilengan Darlius. Kemudian berbisik manja, "jika duyung itu dijual pasti akan laku miliaran. Setelah itu, kita akan berlibur ke sebuah resort mewah pada akhir tahun nanti."
Sementara tangan kirinya membelai leher pria itu lembut, turun ke bawah perlahan-lahan dan berhenti di dadanya. Kemudian bersandar manja. Darlius menikmati perlakuan itu.
Tapi suara pintu yang dibuka oleh Fadli membuat Agnes menghentikan adegan mesranya. Berdiri dan bersikap normal seperti biasa. Ia tak mau Fadli mengetahui hubungan gelapnya dengan Darlius yang sudah terjadi bertahun-tahun itu.
"Pa."
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Darlius dingin.
"Pinjam kunci mobil," sahut Fadli.
"Mobilmu kemana?"
"Rusak. Masih di bengkel."
Darlius merogoh sakunya dan memberikan kunci mobil pada Fadli. Kemudian mengampiri duyung yang sedang tertidur di peti kaca, melihatnya lebih dekat.
Sementara Fadli yang sudah menerima kunci itu, tak serta merta membuatnya langsung pergi. Malah memperhatikan Agnes dari ujung rambut sampai ujung kaki. Fadli tidak menyukai perempuan itu. Tubuhnya begitu bohai dan seksi, pasti papanya sudah tergoda dengan perempuan itu. Ia tahu betul, papanya sangat nafsu kepada perempuan. Pikirnya bisa jadi papanya sudah melakukan hubungan gelap dengan perempuan itu. Sebab melihat dari lagaknya, ia seperti wanita gampangan. Meski setiap bertemu Agnes selalu memperlihatkan tampang berwibawa, tapi Fadli tetap merasa benci dengan perempuan itu.
Sedangkan Agnes, hanya tersenyum agar terlihat ramah. Padahal terasa menyebalkan bagi Fadli. Dengan wajah cuek ia keluar dari ruangan itu.