Malam minggu, Fadli melamun di dalam kamarnya. Tak lama ia mendengar pintu diketuk.
"Masuk."
Pintu dibuka dan yang masuk ialah Pak Adi.
"Ada apa?"
"Tuan muda harus bersiap-siap. Jangan lupa berpakaian yang rapi."
"Memangnya ada apa?"
"Acara pertunangan akan segara dimulai."
"Pertunangan? Pertunangan apa?"
"Pertunangan Anda dengan nona Caitlin. Akan diadakan disini."
"Apa!!"
Fadli benar-benar sangat terkejut mendengarnya. Sial. Papanya pasti sengaja menyusun rencana dadakan ini agar dia tak punya kesempatan untuk kabur.
"Tuan muda. Mari saya bantu berganti pakaian. Acara akan segera dimulai."
Fadli menerima jas yang diberikan Pak Adi dan memakainya dengan malas.
"Apakah Marrinette sudah tau akan ada acara ini?"
"Tidak, Marrinette hanya diminta untuk menyiapkan minuman yang banyak. Soal makanan, Tuan besar sudah memesan cattering."
Bagaimana jika Marrinette tau kalau hari ini adalah acara pertunangannya. Pasti dia sedih, pasti hatinya hancur. Kali ini aku boleh kalah. Tapi lihat saja nanti. Aku akan membuat permainan yang sangat luar biasa.
Fadli turun bersama Pak Adi. Menemui Darlius yang sedang berkumpul dengan keluarga Caitlin. Juga beberapa teman-teman yang tak lebih dari lima puluh orang. Caitlin menyambutnya dengan senyuman, wajahnya sumringah. Jelas, karena keinginannya terkabul. Dia menggunakan gaun merah dengan rambut disanggul. Cantik bagi sebagian orang, namun tidak menurut Fadli. Baginya, Caitlin tetaplah menyebalkan dan tidak enak dipandang.
"Hadirin semuanya." Darlius memulai pembicaraan. "Hari ini adalah hari yang sangat berbahagia bagi keluarga saya. Terutama calon kedua mempelai, mereka sudah lama menjalin kasih dan saling mencintai."
Cih! Mencintai? Bahkan untuk melihatnya saja Fadli ingin muntah. Darlius benar-benar ahli dalam berbohong.
"Untuk itu dengan senang hati, kita akan mempertunangkan mereka berdua."
Prang! Gelas jatuh oleh Marrinette. Semua tatapan tertuju padanya termasuk Fadli. Marrinette buru-buru membersihkan pecahan kaca itu. Fadli hendak membantunya, namun ditahan oleh Darlius.
Darlius memberikan kotak berisi sepasang cincin pada Fadli. "Pasangkan cincin itu ke jari manisnya. Cepat!" katanya pelan namun penuh penekanan dan tatapan tajam.
Demi menjaga nama baik Darlius, Fadli terpaksa memasangkan cincin itu pada jari manis Caitlin. Lalu gantian Caitlin yang memasangkan cincin ke jari manis Fadli. Saat jarinya dipasangkan cincin, ia menoleh pada Marrinette yang menyaksikannya dengan berlinang air mata. Fadli menatapnya iba. Tapi ia bisa apa?
Aku bersumpah demi setiap tetes air mata Marrinette, akan membalas lebih sadis dari ini, Caitlin.
Usai cincin berhasil dipasangkan, tamu undangan bertepuk tangan. Caitlin terlihat sangat bahagia hari itu. Jauh berbeda dengan Marrinette. Yang bergegas pergi ke dapur, membuang pecahan kaca ke dalam tong sampah kemudian bersandar pada dinding, menangis. Hatinya perih, hancur. Ternyata acara yang direncanakan Darlius adalah acara pertunangan Fadli. Mengapa ia tak tau? Dan mengapa Fadli tak juga memberitahu? Apa mereka sengaja? Marrinette mengusap matanya berkali-kali. Ia berusaha menguatkan hatinya.
Marrinette, kuat. Kamu harus kuat. Jangan berharap lebih pada kedekatan ini. Ingat, disini kamu hanya pembantu. Biarkan Fadli menerima pilihan orangtuanya. Dia layak bahagia. Itulah kata-kata yang keluar dari batinnya.
Fadli tidak habis pikir, bagaimana bisa semua ini terjadi diluar perkiraannya? Cincin itu sudah melingkar di jari manisnya. Sebagai ikatan yang tak boleh diganggu gugat. Ah, kata siapa? Pernikahan itu tak boleh terjadi. Dia harus memikirkan cara untuk membatalkannya. Tapi, bagaimana caranya? Hh! Pikirannya benar-benar buntu. Terkuras habis seiring jatuhnya air mata Marrinette malam tadi. Ingin rasanya dia lempar cincin ini jauh-jauh. Ikatan macam apa yang terjadi karena paksaan. Sangat menjijikkan!
Tapi tunggu. Bisa jadi ini ada gunanya. Dia butuh waktu untuk berpikir jernih.
Fadli keluar dari kamarnya, menuruni tangga. Ketika hendak ke dapur ia berpapaasan dengan Marrinette yang baru keluar dari dapur. Fadli tersenyum padanya.
Namun Marrinette hanya menatapnya kaku kemudian pandangannya turun kebawah, melihat cincin yang terpasang di jari manis Fadli. Hatinya memanas. Kemudian melewati Fadli begitu saja.
"Marrinette, mau kemana?"
"Bukan urusanmu!"
Marrinette melangkah keluar. Fadli hendak mengejarnya. Namun panggilan Darlius menghentikan langkahnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Darlius seraya menuruni tangga. "Kamu sudah bertunangan dengan Caitlin. Jadi jangan kejar lagi perempuan itu."
"Aku sudah mengikuti kemauan Papa, dan sekarang gantian Papa yang harus mengikuti kemauanku."
"Apa?"
"Berikan aku salah satu perusahaan Papa."
"Baik. Tapi dengan syarat kau harus belajar mencintai Caitlin."
"Itu urusan gampang."
Darlius menepuk-nepuk bahu Fadli. "Bagus, itu baru putraku."
Fadli tersenyum sinis. Dengan itu ia bisa mengkambinghitamkan kesibukannya untuk menghindari Caitlin.
Sebenarnya tujuan Marrinette hari ini ialah membeli kebutuhan rumah tangga di pasar. Tapi ia memutuskan ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Kepantai, bersama Alya dan Evelyn.
Disana Marrinette menumpahkan air matanya dan segala kesedihannya.
"Jadi kau telah lama mencintainya?" tanya Alya prihatin.
Marrinette mengangguk dalam tangis. Sesekali ia sesegukan.
Alya menghembuskan nafasnya perlahan. Menatap riak gelombang air laut yang saling kejar-kejaran.
"Bukankah kau sudah tau konsekuensinya? Meskipun Fadli mencintaimu, kalian tidak akan bisa bersatu. Seharusnya kau harus paham dari awal."
"Maafkan aku kak. Tapi aku juga tak menyadari kenapa aku bisa mencintainya."
Alya mengusap punggung Marrinette. "Sudahlah, ini semua sudah terlanjur. Bagaimana pun Fadli sudah menjadi milik orang. Kamu harus merelakannya. Ingat pada tujuan awal. Mengambil mustika."
Caitlin datang lagi kerumah Fadli. Darlius menyambutnya. Sebenarnya Fadli malas bertemu lagi dengan wanita itu, namun karena ingin mencari muka didepan Darlius, ia ikutan menyambut kedatangannya dan berpura-pura romantis.
"Halo sayang. Apa kabar?"
"Baik," sahut Caitlin yang bahagia dirangkul Fadli.
"Selamat bersenang-senang. Papa pergi dulu, lagi ada urusan."
"Iya Pa."
Entah Papanya benar-benar mengurus kerjaan atau ingin menemui wanita lain, Fadli tak peduli. Yang jelas, Papanya telah pergi dan ia bebas bertindak apa saja.
"Sekarang kamu boleh pulang," kata Fadli seraya melepas rangkulannya.
"Loh kok cepat amat. Kan aku baru datang."
"Aku lagi capek dan butuh ìstirahat. Acara semalam benar-benar melelahkan."
"Tapi kan...."
Fadli langsung menarik lengan Caitlin dan membawanya keluar, membuka pintu mobil Caitlin dan menutupnya kembali.
"Pulang, oke. Aku mau istirahat. Daah." Fadli langsung masuk ke dalam rumahnya. Tak menghiraukan panggilan Caitlin.
***
Marrinette pulang dari pasar dengan membawa banyak belanjaan.
"Hai Marrinette. Sini saya bantu," ucap Fadli yang menyambutnya dan ingin mengambil salah satu belanjaan yang dipegang Marrinette, namun Marrinette mengelak.
"Saya bisa sendiri," sahut Marrinette dingin.
"Marrinette tolong dengarkan penjelasan saya dulu."
"Tolong jangan dekati saya lagi. Anda sudah bertunangan dengan wanita itu!"
"Apa salahnya? Selama saya belum menikahinya, saya bebas mendekati siapapun."
"Tapi saya tak sudi didekati oleh orang yang sudah menjalin ikatan dengan wanita lain."
Tatapan Marrinette tajam, membuat darah Fadli berdesir seketika. Marrinette pergi dari hadapannya sabelum air matanya berjatuhan.
Fadli tak tau lagi harus berbuat apa. Ia benar-benar kehilangan harapan. Tapi juga tak mau kehilangan Marrinette. Sementara Caitlin terus menerus menelponnya, meminta untuk ketemuan, dating dan segala macam, membuatnya bertambah gusar. Tapi ia tidak memperlihatkannya, hanya menyiapkan beribu alasan untuk menolak ajakan itu. Menjadikan kesibukan sebagai alasan.
Sedangkan di depan Darlius, Fadli bersikap seakan-akan ia mencintai Caitlin. Setiap Minggu Caitlin selalu datang kerumahnya dan bergelayut manja dilengannya. Dia tidak tau bahwa Fadli hanya mempermainkannya dan mencari muka di depan Darlius. Sedangkan Marrinette, menyangka bahwa Fadli benar-benar sudah mencintai Caitlin dan berusaha untuk move on. Hal itu mempercepat keinginannya untuk menyelesaikan misi itu.
Malam minggu, Caitlin dan keluarganya datang lagi kerumah Fadli. Apalagi kalau bukan merencanakan pernikahan. Fadli hanya senyum-senyum seolah-olah dia bahagia. Padahal ia sudah memikirkan rencana untuk menghancurkan pernikahan itu. Ia selalu berpura-pura minta izin pada Papanya untuk pergi kencan dengan Caitlin. Padahal hanyalah alasan belaka agar bisa menghambur-hamburkan uang Papanya.
Rencananya pula-lah yang membuat orangtua Caitlin datang kerumahnya untuk membicarakan pernikahan.
Tiba-tiba Fadli bangkit, melangkah menuju dapur. Ia tau diam-diam Caitlin mengikutinya. Fadli semakin mempercepat langkahnya. Pergi kedapur dimana Marrinette sedang melap piring.
Fadli memutar kedua bahu Marrinette agar menghadap kearahnya. Marrinette meletakkan piring tersebut. Belum sempat ia bertanya 'ada apa?' Fadli sudah keburu menciumnya. Melumat bibirnya agak lama. Caitlin yang menyaksikannya terkejut dan terbakar emosi. Ia pergi dari sana. Mengajak orangtuanya pulang seraya menahan tangis. Fadli mengakhiri ciumannya, menatap kepergian Caitlin seraya tersenyum sinis.
"Maksudnya apa Fadli?" tanya Marrinette dengan penuh tanda tanya.
Fadli tidak menjawab, ia mengambil segelas air. Pergi ke meja tamu berpura-pura hendak memberikan minuman pada Caitlin.
"Silahkan minum Caitlin, lho? Caitlin kemana Pa?"
"Apa yang kamu lakukan pada Caitlin? Kenapa ia sampai menangis? Apa kalian bertengkar?"
"Aku juga bingung, Pa. Aku ke dapur karena ingin mengambilkannya minuman. Tapi tiba-tiba dia sudah tidak ada."
"Awas saja kalau kamu macam-macam." Tatap Darlius tajam kemudian menaiki tangga, pergi ke kamarnya.
Lagi-lagi Fadli tersenyum sinis. Palingan besok perjanjian nikah sudah dibatalkan. Ia meminum air yang dibawanya dengan lega. Rasakan pembalasanku!
Marrinette datang dari dapur dan mengomel. "Fadli! Apa maksudmu tiba-tiba menc-...."
Fadli buru-buru membungkam mulutnya. Membawanya kedapur, dan menutup pintu.
"Sst. Jangan berisik. Nanti ada yang dengar."
"Jelaskan apa maksudnya. Apa kau sengaja?"
"Ya, aku sengaja."
Marrinette mengerjitkan dahi.
"Aku sengaja biar Caitlin lihat dan membatalkan pernikahanku dengannya."
"Mengapa?"
"Karena aku hanya mencintaimu Marrinette."
"Kau sudah menerima pertunangannya."
"Aku dijebak Marrinette. Aku dijebak. Mereka mengadakan acara itu yang bahkan aku saja tidak tau. Semua dilakukan secara dadakan. Sehingga tidak ada pilihan lain selain menerima pertunangan itu. Maaf, jika aku sudah membuatmu bersedih. Jujur aku tak tega melihatmu saat itu. Tapi aku tak bisa apa-apa. Itulah mengapa aku menciptakan permainan ini, berpura-pura mencintainya. Sebagai balasan atas apa yang mereka lakukan terhadap kita."
Marrinette menitikkan air mata.
Fadli memeluknya, mengusap punggungnya.
"Aku mohon, jangan menghindariku lagi," lirih Fadli.
☆☆☆