"Mengapa kau menolak saat Fadli mengajakmu kembali kerumahnya?" tanya Helen saat Marrinette baru saja membuka pintu rumah, hendak masuk namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Helen.
Marrinette tak menyahut.
"Marrinette, mustika itu berada di rumahnya. Dan satu-satunya jalan kau harus kembali pada rumah itu."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kembali kerumah itu. Telpon dia sekarang."
Marrinette pergi ke pesawat telepon yang terletak diatas lemari setinggi dada.
Mengetikkan nomor telpon rumah Fadli hingga kemudian terdengar nada sambung.
Dirumah Fadli telepon berdering.
"Tuan, ada yang menelpon," kata Pak Adi.
Fadli memalingkan muka malas. "Angkat saja."
Pak Adi mengangkat telpon itu, berbicara sebentar dan memanggil Fadli.
"Tuan, dari Marrinette. Katanya ingin bicara dengan Tuan. Penting."
Demi mendengar nama Marrinette wajahnya yang tadi lesu berubah jadi sumringah. Dengan cepat ia bangkit dan merebut telepon dari Pak Adi.
"Halo Marrinette."
"Hai Fadli. Sepertinya aku berubah pikiran. Aku ingin kembali kerumahmu."
"Benarkah?" tanya Fadli dengan semangat.
"Iya."
"Syukurlah."
"Tapi, bagaimana dengan Papamu? Dia kan tidak menyukaiku. Sepertinya akan sulit untukku kembali lagi kesana"
"Soal Papa biar aku yang urus. Yang penting kamu bersedia kembali kerumah ini lagi."
"Tentu aku bersedia. Lagipula, aku membutuhkan pekerjaan."
"Baiklah, sampai jumpa nanti ya manis. Daah."
Telepon ditutup. Fadli bersorak kegirangan.
"Yes! Pak Adi, bantu saya untuk membujuk Papa."
"Baik Tuan muda."
"Bagaimana?" tanya Helen setelah Marrinette meletakkan gagang telepon.
"Fadli akan membujuk Papanya terlebih dahulu."
"Baiklah, untuk misi ini, saya harap kamu lebih berhati-hati. Jangan pernah membantah apapun perintahnya. Berperilakulah selayaknya seorang pembantu yang patuh pada Tuannya. Dan jangan pernah ikut campur dalam urusan keluarga mereka. Misi kita cuma satu, merebut mustika duyung. Tolong fokus pada misi itu."
"Baik, Buk."
Fadli menyapa Papanya yang lagi duduk santai di kursi belakang menghadap kolam renang.
"Pa."
Darlius menoleh.
Fadli duduk dikursi disampingnya. Pak Adi yang mengikuti hanya berdiri.
"Marrinette akan kembali lagi kerumah ini."
Darlius memalingkan wajah. "Dia lagi."
"Jangan salahkan dia Pa. Dia tak ada hubungannya dengan masalah kita."
"Jelas-jelas ada hubungannya. Dia yang membuatmu menolak perjodohan dengan Caitlin."
"Itu tidak benar. Justru aku sudah menolak Caitlin sebelum kedatangannya dirumah ini."
"Hhh!" Darlius mendesah kasar bangkit dan meninggalkan Fadli.
"Pa. Pa!"
Darlius tak menghiraukan panggilan itu. Berjalan menuju ruang kerjanya.
Fadli meremas rambut kasar. Menatap Pak Adi pasrah.
"Biar saya yang mencoba membujuknya Tuan."
☆☆☆
Pintu diketuk.
"Masuk," perintah Darlius.
Pintu dibuka dan masuklah Pak Adi.
"Ada apa?"
"Maaf kalau saya lancang Tuan." Pak Adi bicara hati-hati, mengingat bos besarnya ini mudah tersinggung dan emosian. "Menurut pengamatan saya, Marrinette sama sekali tak menyukai Fadli."
"Darimana kau tau."
"Saya sering memperhatikan, dia selalu menghindari Fadli saat Fadli hendak mendekatinya."
"Jika memang ucapanmu benar. Lantas, mengapa dia hendak kembali kesini lagi?"
"Itu semua hanya karena dia membutuhkan pekerjaan. Tak lebih."
"Tapi tetap saja itu akan menghalangi perjodohan Fadli. Mengingat tadi kau bilang Fadli yang mendekatinya. Itu artinya, Fadli menyukainya."
"Tuan, wanita zaman sekarang tidak akan mau menerima pria yang jelas-jelas tidak dicintainya. Jadi bagaimana pun Fadli mengejar, itu takkan ada gunanya. Jadi Marrinette takkan menghalangi perjodohan Fadli dengan Caitlin. Lagipula, Marrinette sudah punya kekasih."
"Darimana kau tau?"
"Waktu itu kekasihnya pernah datang kerumah ini menemui Marrinette, dan memberikan setangkai bunga."
Dan kekasih yang Pak Adi maksud adalah Halim.
Darlius mulai percaya dengan perkataan Pak Adi.
"Baiklah. Dia boleh kembali lagi kesini."
"Iya Tuan." Pak Adi hendak pergi namun kembali berhenti karena mendengar panggilan Darlius.
"Tunggu."
Pak Adi menoleh.
"Kamu harus awasi perempuan itu. Jangan sampai ia melakukan hal-hal yang tidak saya inginkan."
"Baik Tuan."
Pak Adi keluar dari ruang kerja Darlius. Menemui Fadli.
"Bagaimana?” Tanya Fadli penasaran.
"Boleh."
"Serius?"
Pak Adi mengangguk.
Fadli bersorak gembira.
"Jangan lupa perintahkan para bodyguard untuk menyiapkan karpet merah. Kita akan sambut kedatangannya malam nanti."
"Fadli," panggil Darlius yang baru keluar dari ruang kerjanya.
"Iya, Pa."
"Saya sudah mengabulkan permintaanmu. Dan kamu harus menuruti permintaan saya. Terima perjodohanmu dengan Caitlin atau Marrinette tidak saya izinkan datang kerumah ini."
"Iya Pa." Fadli mengangguk lemah.
Hh! Persetan dengan itu semua. Yang penting Marrinette bisa kembali kerumah ini. Soal perjodohan, itu urusan nanti. Akan dia pikirkan bagaimana caranya agar perjodohan itu batal.
"Kamu sudah siap Marrinette?" tanya Evelyn.
Marrinette mengangguk. Kemudian mereka keluar bersama Alya. Menemui Helen di ruang tamu.
Helen berdiri dari tempat duduknya. Menyambut Marrinette.
"Semoga berhasil. Dan ingat selalu pesan saya."
"Baik Buk."
Helen tersenyum kemudian mengantarkan mereka keluar, menuju mobil. Sesaat Marrinette tersenyum kearahnya. Kemudian masuk kedalam mobil. Yang mengantarkan dirinya menuju rumah Fadli. Rumah yang dulunya dia anggap tempat terkutuk. Kini, justru ia tak sabar untuk bisa sampai kerumah itu lagi.
Beberapa menit berselang, mereka sudah tiba ditempat tujuan. Evelyn menghentikan mobil di tepi jalan.
"Marrinette," panggil Alya saat Marrinette hendak turun.
Marrinette menoleh.
"Jangan sampai terbawa perasaan apalagi dikendalikan cinta. Ingat, aturan duyung melarang keras pernikahan dengan manusia. Atau kau akan menerima hukumannya."
Marrinette terdiam. Alya sudah terlambat memberi peringatan, ia sudah terlanjur jatuh cinta pada Fadli. Hanya saja, ia berusaha untuk tidak kelihatan rapuh. Apalagi sampai membuat rencana itu gagal.
Marrinette hanya tersenyum. Kemudian turun dari mobil.
Ia tersenyum, melambaikan tangan pada mereka berdua. Sampai mobil itu berlalu dari hadapannya.
Marrinette memasuki pagar rumah Fadli, berjalan menuju pintu, memetik bel. Kemudian pintu terbuka dan....
"Surprise...!"
Seketika Marrinette terkejut. Terlebih melihat karpet merah. Ada Fadli, Pak Adi dan beberapa bodyguard yang ikut serta menyambut kedatangannya.
"Selamat datang kembali dirumah ini Tuan putri," ucap Fadli menghampirinya. Menggenggam tangannya.
"Ah, kalian tidak perlu repot-repot menyiapkan ini segala. Aku jadi tidak enak, apalagi aku hanya pembantu dirumah ini."
"Tidak apa-apa. Ini semua kulakukan dengan senang hati," sahut Fadli. "Mari jalan."
Marrinette berjalan diatas karpet merah, bergandengan dengan Fadli.
"Mari saya antarkan ke kamarmu."
Marrinette berjalan malu-malu. Ia melihat Darlius memperhatikannya dari kejauhan. Dari raut wajahnya, Marrinette tau kalau Darlius tidak menyukainya.
☆☆☆
"Pagi Marrinette," ujar Fadli menyambutnya.
Namun Marrinette menghindar saat Fadli mencoba mendekatinya.
"Loh, kamu kenapa? Ada yang salah denganku? Apa aku masih bau? Kalau iya aku akan mandi sekali lagi."
"Fadli." Marrinette berbisik. "Sebaiknya kita jangan sering berdekatan. Semalam aku lihat Pak Darlius menatapku sinis. Ia pasti tak suka jika aku kembali lagi kerumah ini."
"Marrinette, kenapa kamu malah memikirkan Papaku. Anggap saja angin lalu."
"Fadli aku mohon. Jangan sampai Papamu mengetahui hal ini lalu marah besar. Aku tak mau diusir untuk kedua kalinya."
Fadli terdiam. Mau tak mau ia harus mengikuti perkataan Marrinette.
Ah, Pak Adi. Seorang ajudan yang penurut namun ia seperti kertas yang terbang kemana kuatnya arah angin. Jika perintah Darlius lebih keras, maka ia mengikuti perintah Darlius. Jika perintah Fadli lebih keras dia akan mengikuti perintah Fadli. Dia bekerja hanya untuk uang, siapa yang memberinya gaji lebih banyak maka ia akan setia pada orang itu. Tentu ia akan lebih berpihak pada Darlius, sedangkan menjaga Fadli hanya amanat dari Darlius. Meskipun seringkali ia memberikan semangat pada Fadli, tapi ia tak bisa dipercaya sepenuhnya. Sayangnya Fadli tak nenyadarinya. Hanya insting Marrinette yang bisa membaca karakter ajudan tersebut. Marrinette melihatnya mengintip dari kejauhan. Dia pasti memata-matai mereka berdua lalu melaporkannya ke Darlius. Bergegas Marrinette pergi ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaanya.
Shiit! Seatap tapi tak bisa bersama. Sebegitu besarnya pengaruh Darlius hingga Marrinette pun lebih memilih tunduk pada Darlius dibandingkan dirinya.
Fadli meremas rambutnya frustasi. Dia sudah tidak tahan dan ingin melawan. Tapi bagaimana caranya? Takkan ada orang yang berpihak kepadanya jika ia melawan ayahnya.