Benar kata Pak Adi, bahkan Marrinette tak juga menampakkan wujudnya. Apakah ia melupakan cincinnya?
Fadli merasa hidupnya hampa tanpa Marrinette. Ia benar-benar kesepian. Ia tak mau terus-menerus terjebak dalam kegalauan yang terus meraja. Ia harus menemukan perempuan itu apapun caranya.
Bergegaslah Fadli mengambil jaket di kamarnya kemudian melangkah dan saat membuka pintu, senyum centil Caitlin menyambutnya.
"Halo sayaang. Aa kamu so sweet banget sampai nungguin aku dipintu, kangen ya?" Caitlin langsung bergelayut manja dilengannya.
Hh! Perempuan ini lagi. Fadli berdecak kesal.
"Lepasin nggak!"
"Ih kok lepasin? Nggak mau, aku inginnya dimanja sama kamu."
Caitlin langsung memeluk Fadli yang membuat Fadli jadi risih dan mendorongnya.
"Bisa nggak sih kamu jangan ganggu hidupku lagi! Aku sudah sangat muak melihatmu tau nggak!"
"Percuma kamu bilang beberapa kali pun kalau kenyataannya kita sudah dijodohkan."
"Aku sudah menolak perjodohan itu."
"Itu takkan berpengaruh. Papamu sudah menyetujui dan pernikahan kita sudah ditentukan. Jadi tidak ada alasanmu untuk menghindar."
Caitlin tersenyum penuh kemenangan.
"Shiit!"
Kemudian Fadli bergegas pergi dari hadapannya.
"Eh mau kemana Fadli! Aku ikut."
Namun tak Fadli hiraukan. Ia langsung masuk kemobil dan mengunci semua pintu sehingga Caitlin tidak bisa membukanya. Kemudian pergi meninggalkan Caitlin yang terus berteriak.
"Fadli! Fadli!"
Huh Marrinette..., dimanakah engkau?
Ia sudah mengedarkan pandangannya disepanjang jalan. Namun tak menemukan sosok perempuan itu.
Tiba-tiba ia teringat bahwa Marrinette pernah bekerja di restorant Helen. Mungkinkah dia kembali ke sana untuk bekerja kembali di restorant itu? Ah, bisa jadi. Mengingat Marrinette tidak punya orangtua.
Tapi, ia membenci perempuan itu. Apakah dia harus menemuinya?
Huh, dia tak punya pilihan lain. Demi Marrinette dia harus menemuinya.
Kemudian mengendarai mobil menuju restorant Helen.
Setelah memarkirkan mobilnya ia masuk ke restoran itu. Celingukan sana-sini. Ia menghampiri salah satu pelayan.
"Hei, dimana bosmu? Bilang saya mau ketemu. Penting."
"Silahkan duduk dulu. Sebentar saya panggilkan."
Fadli mengangguk, lalu duduk disalah satu kursi. Memperhatikan tiap sudut restorant.
"Ada apa mencari saya?"
Helen mengambil tempat duduk didepan Fadli.
"Hmm, maaf kalau kedatangan saya mengganggu."
"Anda terlihat lebih sopan sekarang. Tidak arrogant seperti bulan-bulan belakangan." Helen tersenyum. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Begini. Marrinette kan sebelumnya pernah bekerja disini? Apa Bu Helen mengetahui dimana keberadaan Marrinette."
"Bukankah Marrinette bekerja dirumahmu?"
"Sebelumnya iya. Tapi, dia diusir sama Papa."
"Diusir?" tanya Helen pura-pura kaget.
"Ya."
"Lalu?"
"Saya pikir setelah Marrinette pergi dari rumah saya, dia kembali bekerja disini."
"Tidak," sahut Helen.
"Oh begitu ya." Raut wajah Fadli kecewa.
"Kalau begitu saya pamit dulu. Terimakasih atas waktunya."
Fadli berdiri, badannya lemas. Kemana lagi dirinya harus menemukan Marrinette?
Saat ia hendak membuka pintu untuk keluar, panggilan Helen menghentikan langkahnya.
Fadli menoleh, melihat Helen yang bergegas menghampirinya.
"Coba berjalan ke arah utara sejauh satu kilometer lalu ke timur. Biasanya Marrinette suka duduk ditaman atau mampir ketoko bunga."
Bagai sebuah harapan, Fadli langsung tersenyum.
"Terimakasih."
"Sama-sama, semoga kau menemukannya."
Disebuah taman, kupu-kupu menghisap nektar dari bunga. Sepasang burung hinggap di dahan pohon. Berkicauan, seakan menikmati kisah cinta mereka.
Dikursi taman itu, Marrinette duduk seorang diri, bermonolog dengan alam. Ditangannya ada bunga yang baru ia petik. Memutar-mutarnya dengan malas.
"Apa artinya bunga bagi perempuan yang hidup tanpa pasangan? Bahkan tulip Belanda pun takkan mampu membuatnya bahagia, jika bukan diberikan oleh tangan istimewa."
Burung-burung seakan tidak peduli apa yang ia ucapkan. Mereka sibuk bercengkrama dengan pasangannya. Kemudian mereka terbang meninggalkan pohon yang entah kapan akan kembali lagi.
Marrinette mengeluh dalam.
Duduk berlama-lama di taman tak sedikitpun mengobati perasaanya. Semakin ia kesepian, semakin ia merindukan Fadli. Marrinette membuang bunga itu kesembarang arah. Bangkit dari duduknya.
Saat ia membalikkan badan, ia nyaris menabrak dada seseorang. Dan orang itu??
"Marrinette?"
"Fadli," ucap Marrinette nyaris tak percaya. Ia bahkan mengerjapkan matanya dua kali untuk memastikan bahwa yang dilihatnya beneran Fadli, bukan halusinasinya.
Fadli memegangi kedua pipi Marrinette, tatapannya berbinar.
"Akhirnya aku menemukanmu," ucapnya seraya memeluk Marrinette.
Marrinette membalas pelukan itu dengan hangat. Rasa rindu yang nyaris membunuh itu akhirnya terobati.
Usai melepas pelukan, mereka duduk dikursi taman. Memandangi bunga-bunga yang bermekaran.
"Aku baru sadar kalau taman ini indah," ujar Marrinette.
"Ya," sahut Fadli. "Seindah wajahmu, seindah senyummu yang selalu bisa mengubah duniaku."
Marrinette tersenyum.
Fadli mengeluarkan cincin dari dalam sakunya.
"Marrinette, aku menemukan cincinmu."
Mata Marrinette langsung berbinar.
"Dimana kau menemukannya?"
"Dikamarmu."
Fadli meraih tangan kiri Marrinette, memasukkan cincin itu perlahan ke jari manisnya.
Darah Marrinette berdesir, sejenak membayangkan Fadli memasangkan cincin di jari manisnya pada hari pertunangan. Namun buru-buru ia tepis bayangan itu, semua takkan mungkin terjadi.
Fadli tersenyum setelah memasangkan cincin Marrinette.
"Aku ingin kamu kembali kerumahku."
Wajah Marrinette langsung berubah sendu.
"Kenapa?" Fadli bertanya lembut.
Marrinette tak menjawab, membiarkan rambutnya diterbangkan angin beserta perasaannya yang terombang-ambing.
Fadli menyelipkan rambut Marrinette ketelinganya.
"Apa karena perjodohanku dengan Caitlin? Jika alasannya adalah 'ya' maka aku akan membatalkan perjodohan itu."
"Kau pikir aku mencintainya? Sama sekali tidak. Bahkan untuk melihat mukanya saja aku tak sudi."
Marrinette menatap Fadli.
"Kalau boleh memilih, aku ingin kabur dari rumah itu. Tapi aku terbiasa hidup dalam kemewahan jadi sulit rasanya bila menjalani hidup seorang diri diluar sana."
Fadli menghembuskan nafas perlahan.
"Saat ini yang kupikirkan, bagaimana mengendalikan perusahaan Papaku."
"Aku lihat-lihat, kamu sepertinya menginginkan kekuasaan,” ujar Marrinette.
"Tidak ada orang yang ingin hidup susah Marrinette."
"Aku tau," sahut Marrinette. "Tapi bukankah satu-satunya cara untuk mendapatkan perusahaan itu adalah dengan menikahi Caitlin? Jika tidak, maka keinginanmu tidak akan dikabulkan."
Fadli termenung. Dipikir-pikir benar juga. Ia bisa mengajukan syarat akan menikahi Caitlin maka ia harus diberi anak perusahaan milik Papanya atau milik orangtua Caitlin. Lalu ia berusaha mempengaruhi Papanya agar ia bisa memegang kendali perusahaan. Ide yang cemerlang.
"Kalau begitu, kamu harus bantu aku. Aku akan menerima perjodohan itu, kemudian setelah aku berhasil merebut perusahaan itu, aku akan menceraikan Caitlin dan menikahimu. Lalu kita hidup bahagia selama-lamanya." Ucap Fadli bersemangat.
Marrinette menggeleng.
"Maaf, jangan ajak aku untuk melakukan kejahatan."
"Kenapa Marrinette? Aku melakukan itu demi kebahagiaan kita."
"Semua takkan terjadi sesuai yang kamu harapkan. Ingat, hukum tabur tuai itu benar adanya. Apa yang kita lakukan saat ini, kita akan membayarnya nanti."
Wajah Fadli berubah lesu.
"Lalu, kita harus bagaimana?"
"Jalani saja apa yang terjadi. Mungkin ini sudah takdir. Pertemuan hari ini adalah pertemuan terakhir kita. Tolong jangan cari aku lagi." Marrinette bangkit, berjalan menjauhi Fadli.
"Marrinette," panggilnya menghentikan langkah Marrinette. Namun Marrinette tak menoleh ia kembali melangkahkan kakinya.
"Marrinette!"
Fadli mengerang frustasi ditaman itu. Dia pikir semuanya bisa diperbaiki, ternyata nihil.