"Hentikan menghina dia dengan mulut kotor Papa!"
Darlius bertambah geram. "Oh, jadi kau sudah berani padaku rupanya."
Ia mendekati Fadli dengan tatapan tajamnya. Tapi Fadli tidak takut. Ia sudah cukup muak melihat lelaki itu.
"Semua sudah kacau semenjak dia belum kerumah ini. Papalah sumber kekacauan dari ini semua! Papa yang membuat Mama meninggal! Papa yang hanya mementingkan ego! Papa yang hanya memikirkan kebahagiaan Papa sendiri tanpa pernah memikirkan kebahagiaanku! Papa yang pengacau!"
Plak!
Tamparan keras melayang di pipi Fadli. Marrinette kaget.
"Tampar aku lagi Pa, tampar! Bunuh saja kalau Papa menganggap aku ini anak yang tidak berguna!"
Darlius berpaling pada Marrinette.
"Kau lihat? Lihat bagaimana anakku sekarang? Dia sudah berani melawanku semenjak kedatanganmu!"
Air mata Marrinette menitik dengan sendirinya.
"Puas kau melihatnya sekarang? Puas kau merusak hubungan anak dengan ayahnya? Puas!!"
Marrinette terkejut. Mengapa dia? Mengapa? Kenapa kesalahan itu malah dilemparkan kepadanya?
"Pergi kau dari rumah ini sekarang."
Kalimat itu pelan, namun menekan.
Marrinette meletakkan nampannya diatas meja makan.
Pergi melangkah keluar.
"Kenapa Papa malah mengusir Marrinette! Dia tidak salah!"
Fadli hendak mengejarnya namun Darlius memerintahkan bodyguardnya untuk menahan Fadli.
"Marrinette!" teriak Fadli dalam tangis.
Dihadapan pintu itu Marrinette berhenti.
"Jangan pergi.... Jangan tinggalkan aku...." suara itu terdengar serak.
Marrinette hanya menunduk, namun tidak menoleh. Ia sadar sudah tak ada hak lagi untuk tinggal dirumah ini. Air matanya tumpah ruah, hatinya sakit.
"Marrinette....! Jangan pergi!"
Teriakan itu terdengar lagi. Namun tidak dia hiraukan. Bergegas pergi dari rumah itu, berlari menembus dinginnya malam. Hatinya sangat perih, apakah ada yang melebihi dari sakitnya meninggalkan orang yang kita sayang? Dulu ia keberatan tinggal dirumah itu. Namun sekarang ia malah keberatan meninggalkannya.
Langit tiba-tiba saja menurunkan hujan yang sangat lebat. Marrinette terus berlari berharap cepat sampai ke kontrakan Alya dan Evelyn.
Tiba-tiba ia tersungkur, tak mampu untuk berdiri. Dan... kakinya berubah menjadi ekor.
Marrinette berteriak sekencang-kencangnya menatap langit.
"Mengapa! Mengapa aku harus mendapatkan kesialan ini! Mengapa aku harus mengalami hal buruk ini. Mengapa!"
Marrinette menunduk, menangis sekencang-kencangnya. Malam itu, jalan itu, dan hujan, akan menjadi saksi bagaimana perihnya hatinya. Ia pasrah, meski jika harus tertidur dijalanan, meski nanti akan mati ditabrak kendaraan. Ia tak peduli. Untuk apa gunanya hidup jika raga serasa akan mati.
Hujan semakin deras mengguyur tubuhnya.
"Huaaa!" teriaknya mengalahkan suara hujan.
Sebuah lampu kendaraan beroda empat menyilaukan matanya. Semakin lama semakin mendekat. Kemudian berhenti tepat di hadapannya. Marrinette menatap pasrah, bahkan jika penumpang itu adalah manusia yang akan menangkapnya dan menjualnya.
"Marrinette!" Teriak seorang perempuan yang keluar dari mobil dengan payungnya.
Dia mengenali suara itu. Kak Alya?
"Bagaimana kau bisa disini? Apa kau diusir?"
Marrinette hanya menangis.
Evelyn keluar dengan memakai jas hujan.
"Ayo kita angkat dia sebelum ada yang lewat dan melihatnya."
Alya mengangguk dan membopong Marrinette ke dalam mobil. Kemudian mereka pergi, Evelyn yang mengendarai mobil.
"Bagaimana kalian bisa menemukanku?"
"Ratu Apriana yang memberitahu."
Marrinette diam.
"Bagaimana kamu bisa berada di jalanan malam-malam seperti ini?"
Marrinette tak menyahut. Lagi-lagi ia menangis. Alya tak mau bertanya lebih jauh, ia hanya memeluk adiknya dan menenangkannya.
"Kenapa kamu malah berubah menjadi duyung? Bukankah cincin itu dapat mencegahmu untuk berubah saat terkena air?" kata Evelyn di kursi kemudi.
Tunggu. Cincin?
Marrinette melepaskan pelukan Alya, memeriksa jari-jemarinya. Tapi tak ada.
"Sepertinya aku menghilangkannya."
Evelyn mendesah kasar.
"Kenapa malah kau hilangkan? Cincinmu itu banyak gunanya, Marrinette."
Marrinette merasa bersalah.
"Jangan khawatir, nanti akan kita cari sama-sama." Alya mengusap punggung adiknya, dengan tatapan menenangkan.
***
Pagi yang cerah--namun tidak dengan hati Marrinette. Hatinya seakan masih tertinggal dirumah itu. Mengumpulkan kenangan demi kenangan yang akhirnya hanya membuatnya menitikkan air mata. Seperih itu.
"Marrinette...." Suara pelan Alya yang tiba-tiba datang.
Marrinette tak menyahut. Hatinya masih dipenuhi kegalauan, kepedihan yang terus berkecamuk, menekan perasaan hingga menyakiti ulu hati.
"Sarapan dulu. Aku membawakan bubur ayam untukmu." Alya meletakkan bubur ayam itu diatas meja.
Lagi-lagi tak ada sahutan dari Marrinette. Ia mengerti Marrinette sedang bersedih, dan tak ingin mengganggunya.
"Aku ke kamar dulu. Jangan lupa dimakan."
Marrinette berpikir, apakah dalam keadaan sakit begini makan masih diperlukan? Bahkan lidah pun tak berfungsi dengan benar untuk mencicipi rasa makanan. Tapi ia perlu makan, minimal untuk menyambung hidupnya walau ia merasa sudah tak ada gunanya. Cinta benar-benar membuatnya patah dan layu.
Marrinette menoleh, memperhatikan bubur yang tergeletak diatas meja, masih hangat. Ia berdiri dan duduk disana, menyantap bubur itu. Seperti yang diduga, ia benar-benar tak berselera makan.
Huh, Fadli lagi. Membuat pandangannya menerawang menembus ruang hampa. Terus terjebak dalam ruangan itu hingga sulit untuk keluar. Bahkan ia bingung, bagaimana caranya membangun semangat itu kembali?
Disaat yang sama, Fadli juga melamun. Paginya tak lagi bercahaya. Tak ada lagi yang memunculkan semangatnya. Semakin ia mengingat itu semua, semakin hatinya perih, dan semakin ia membenci lelaki itu. Lelaki yang telah merampas kebahagiaannya. Beragam sumpah serapah hendak ia keluarkan. Apakah pantas lelaki itu dia sebut sebagai ayah?
Helen memanggil Alya, Evelyn dan Marrinette untuk menemuinya.
Diatas rooftop rumahnya, dengan pemandangan yang menyejukkan mata.
"Silahkan duduk," perintah Helen kepada tiga perempuan itu.
Helen menatap mereka satu persatu. Saat tatapan Helen berhenti pada Marrinette, Marrinette menunduk.
"Marrinette.... Kenapa?"
Marrinette menegakkan kepalanya. "Maaf Buk," ucapnya lirih. "Saya telah gagal mendapatkan mustika itu."
"Saya sudah tau," sahut Helen singkat. Kemudian tersenyum. "Masih ada cara lain."
"Apa itu?" tanya Marrinette tak sabar.
"Nanti dipikirkan," sahut Helen. "Silahkan nikmatin dulu teh yang ada dihadapan kalian."
Mereka kemudian meminumnya, menikmati hangatnya teh itu.
"Terkadang kita juga perlu istirahat dari masalah." Helen berkata kemudian.
"Tapi bukankah mustika itu penting bagi kerajaan duyung?" tanya Alya.
"Ya. Memang penting. Tapi untuk apa tergesa-gesa jika akhirnya gagal."
Mereka semua menunduk.
"Dan kamu Marrinette."
Marrinette kembali menegakkan kepala.
"Lupakan segala masalah yang membuatmu gundah. Kau sudah tampak lelah. Berhentilah berpikir keras untuk sementara waktu."
"Apa kita akan kembali bekerja di restoran Bu Helen?"
"Tidak. Untuk sementara waktu kalian beristirahat dirumah saya dulu."
***
Fadli melangkah lunglai ke kamar Marrinette. Kamar ini masih meninggalkan aroma parfum yang sering digunakan Marrinette. Sejenak membangkitkan rindu yang teramat sangat pada perempuan itu. Ia membuka lemari, bahkan baju-bajunya masih tertinggal disini. Ia ingat betul, malam itu, Marrinette hanya membawa baju satu kering di badan. Kemanakah dia akan pergi? Dan dimana dia sekarang? Apakah ia baik-baik saja?
Huh.
Fadli mengambil beberapa helai baju Marrinette, hendak dibawa kekamarnya. Kelak ia akan mencium baju itu kala ia merindukan perempuan itu. Perempuan yang telah mengubah pandangannya terhadap dunia, yang selama ini semu.
Saat melangkah tiba-tiba kakinya menginjak benda asing. Ia menunduk. Melihat cincin berlian dan mengambilnya.
Cincin ini kan, punya Marrinette?
Seketika gairahnya kembali bangkit. Pemiliknya pasti mencari cincin itu. Itu artinya, dia akan bertemu kembali dengan Marrinette. Dengan semangat Fadli pergi kekamarnya. Meletakkan cincin itu ke kotak perhiasan mendiang Mamanya.
Fadli memperhatikan cincin itu dengan saksama. Menatap cahaya yang dibiaskan oleh berlian itu. Berwarna-warni, cantik seperti pemiliknya.
"Menurut Pak Adi, apakah saya bisa menemukan Marrinette?" tanya Fadli yang tatapannya tak lepas dari cincin itu.
"Jika Tuan muda mau berusaha maka pasti akan bertemu."
"Tapi kemana? Saya bahkan tidak diberi kesempatan hanya sekedar melihat kemana arah jalannya Marrinette. Jalan ini ada dua jalur, ke kiri dan ke kanan."
"Cinta sejati pasti akan bertemu kembali. Saya harap, Tuan muda jangan menyerah," sahut Pak Adi.
"Bagaimana jika saya menunggunya datang untuk mengambil cincin ini? Dia pasti akan mencari keberadaan cincinnya."
"Bisa jadi. Tapi jika tidak? Apakah Tuan akan terus menunggu?"
Fadli mengeluh dalam.
***