Loading...
Logo TinLit
Read Story - Mermaid My Love
MENU
About Us  

Tujuh hari tujuh malam sudah mereka lewati. Kini mereka merasa lebih baik dari sebelumnya.

Alya mencoba mengeluarkan kekuatan esnya, membekukan benda didekatnya. Sedangkan Marrinette mengeluarkan kekuatan panas yang membuat es yang menutupi benda itu menjadi cair. Tak hanya itu, mereka mendapatkan kekuatan baru. Marrinette pengendali petir. Sedangkan Alya mendapatkan kekuatan mengeluarkan sulur dan pengendali angin.

Tiba-tiba terdengar suara Apriana bergema.

"Selamat atas kalian. Gunakanlah kekuatan itu dengan baik."

"Baik ratu," sahut mereka kompak.

Setelah balik dari bertapa mereka mendapati Rossa kembali datang memaksa Siti untuk menunjukkan dimana kedua gadis itu dan dimana mereka menyembunyikan koin emas.

"Katakan dimana kedua gadis itu!"

"Mereka sedang bekerja keluar kota."

"Jangan bohong! Kau pasti menyembunyikan mereka kan?!"

"Tidak, saya tidak bohong."

Siti ketakutan kerena dagunya dicengkram oleh Rossa dengan kuat.

Kesal melihat tingkah mereka, Marrinnette melepaskan sihirnya yang membuat anak buah Rossa joged-joged tak jelas seperti orang dalam gangguan jiwa dan yang satunya lagi melompat-lompat  dan mengeluarkan suara seperti kodok.

"Mengapa kau keluarkan sihirmu? Kamu baru saja mendapatkannya" tegur Alya.

"Aku emosi kak."

"Kata Ratu, kita harus menggunakan kekuatan kita untuk hal yang baik." Alya memperingati.

"Aku kan sudah melakukan yang terbaik," sahut Marrinette enteng.

Huh! Adiknya benar-benar keras kepala.

"Hei! Apa yang kalian lakukan! Cepat kembali telikung tangannya. Aku mau memberinya pelajaran."

"Dua anak buahnya tidak menyahut. Mereka tetap saja bertingkah aneh."

"Woi! Jangan bercanda!"

Panjul yang tadinya joged-joged mendekati Rossa.

"Halo Rossa. Kamu cantik sekali, uututututuu." Panjul mencubit kedua pipi Rossa.

Rossa menamparnya. "Jangan kurang ajar ya!"

Panjul mengambil tanah yang berlumpur. "Biar tambah cantik sini aku dandanin," katanya seraya melumuri wajah Rossa dengan tanah itu.

"Bangsat!"

Rossa mendorongnya kemudian berlari meninggalkan rumah itu sambil berteriak ketakutan karena kedua anak buahnya mengejarnya.

"Hahaha." Marrinette tertawa dan kemudian tawanya terhenti karena melihat Alya tidak tertawa dan hanya meliriknya.

"Kenapa? Lucu kan?"

Alya hanya diam kemudian mendatangi Siti.

"Nenek tak apa-apa."

"Tidak, nenek baik-baik saja. Kalian sudah selesai tugas keluar kota?"

"Sudah nek," sahut Alya. "Besok kami akan kembali ke restorant." 
***

"Marrinette." Lili memberikan piring bekas makan pembeli padanya.

"Hah? Apa ini?"

"Cu...ci."

Marrinette kebingungan seraya menatap keran air. Tidak mungkin ia melakukannya, ia bisa berubah menjadi duyung saat terkena air.

"Maaf, nggak bisa." Marrinette meletakkan piring-piring itu di wastafel.

"Heh! Aku sudah capek mencuci piring tiap hari. Sekarang gantian!"

Hh! Orang di depannya ini benar-benar menyebalkan! Tampar dikit tak apa-apa lah ya.

"Marrinette...."

Marrinette mendengar suara Alya melalui telepati. Ia menoleh, menatap Alya yang sedang memegang lap kain habis melap piring-piring.

"Tahan emosimu. Tolong...."

"Tapi dia menyebalkan, kak."

"Ini bukan saat yang tepat Marrinette. Tolong jaga image."

"Baiklah, kalau begitu, aku menggunakan kekuatanku saja untuk membuat wajahnya kepanasan."

"Jangan Marrinette. Jangan menunjukkan kekuatanmu pada siapapun. Nanti jati dirimu diketahui orang lain."

"Hh!"

"Heh! Ngapain masih bengong? Cuci sana!"

"Nggak!"

Alya cepat melerai mereka berdua.

"Maaf, Marrinette tidak bisa terkena air."

"Kalau begitu, kamu saja."

"Maaf, aku pun juga sama."

"Memangnya kenapa? Jangan mencari alasan! Semua karyawan disini harus bisa melakukan semua pekerjaan. Tak terkecuali kalian!"

Alya mengerti, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.

"Maaf, tolong mengerti." Alya memohon.

"Tidak bisa!"

"Ada apa ini." Tiba-tiba Helen muncul di dapur.

"Ini Buk. Masak disuruh cuci piring saja mereka tidak mau? Semua karyawan restorant kan harus bisa mengerjakan semua pekerjaan. Begitu kan yang Ibu bilang?"

"Alya, Marrinette. Keruangan saya sekarang."

Lili tersenyum sinis. Pasti dimarahin tuh.

Sepeninggal mereka, ia teringat sesuatu. Lili pernah membaca buku yang mengisahkan seorang duyung yang bisa menyamar sebagai manusia. Namun akan berubah menjadi duyung kalau terkena air. Alya dan Marrinette takut air. Mungkinkah mereka...?

Ah, sepertinya harus diselidiki lebih jauh.

Diruang kerja Helen.

Helen memberikan kalung pada Alya dan cincin pada Marrinette.

"Untuk apa ini ratu?" tanya Marrinette kebingungan

"Pakailah. Itu akan mencegah kalian berubah menjadi duyung saat terkena air."

"Terimakasih Ratu."

"Jangan panggil saya Ratu di dunia manusia. Panggil saya Bu Helen, seperti biasanya."

"Baik Bu Helen."

"Kembalilah ke tempat kerja kalian," perintah Helen.

"Baik, Bu." 
***

"Sini, biar aku saja yang nyuci," kata Marrinette setibanya di dapur.

Lili menghentikan pekerjaannya. Meninggalkannya seraya menatap Marrinette dengan sinis.

Lili membalikkan badannya. Memperhatikan Marrinette yang mencuci piring. Heran, mengapa ia tak berubah menjadi duyung? Atau jangan-jangan, airnya kurang?

Lili melihat air dalam panci. Ia tersenyum sinis, mengambil air di panci itu dan menyiramkannya pada Marrinette.

Alya yang sedang bikin minuman juga kaget melihatnya.

"Lili!" teriak Marrinette. "Apa-apaan ini!"

"Hahaha kenapa? Takut berubah jadi duyung ya."

Darimana dia tau. Pikir Marrinette.

Untuk beberapa saat, Lili heran karena Marrinette hanya tetap berdiri seperti manusia.

"Kok nggak berubah?" katanya heran sendiri.

Marrinette tersenyum dalam hati. Cincin yang diberikan Bu Helen benar-benar bisa melindunginya.

"Lili!"

Lili terkejut. Ia tau siapa yang menyebut namanya. Takut-takut ia menoleh.

"Iya Bu."

"Apa yang kamu lakukan?" tatap Helen tajam.

"Maaf Buk, saya tidak sengaja."

"Jelas-jelas dia sengaja. Ada Alya yang menyaksikan. Betul kan kak?"

"Ya, Marrinette tidak berbohong," sahut Alya.

"Karena kamu melakukan kesalahan dengan sengaja, saya akan menghukummu libur bekerja disini selama sebulan."

"Tapi Buk...."

"Mau saya tambah?"

"Tidak," sahut Lili lemas.

"Sekarang kamu boleh pulang."

Lili melepas celemek yang dipakainya, menggantungkannya ke paku. Ia menatap Marrinette kesal, sedangkan Marrinette menjulurkan lidahnya, mengejek.

Lili keluar dari dapur. Berpapasan dengan Halim.

"Kebanyakan nonton film duyung ya sampe halu." 
Lili hanya mendengus kesal.

Suatu ketika, Fadli dan gengnya datang ke restorant Helen.

"Heh pelayan!"

Marrinette menoleh, hh! Dia lagi. Batinnya kesal. Mengingat cuma dia yang terdekat dengan dia. Terpaksa dia melayani orang-orang itu meskipun ia sudah muak dengan wajahnya.

"Kerjanya disini ya sekarang?" kata Fadli basa-basi dengan muka yang menyebalkan.

"Cepat katakan mau pesan apa." kata Marrinette jengah.

"Iced Tiramissu Latte."

Hh! Sepertinya ditiap tempat dia selalu meminta Iced Tiramissu Latte.

Marrinette meninggalkan mereka hendak pergi ke dapur. Dan lagi-lagi ia mendengar kalimat sakti itu.

"Lima menit. Telat satu detik saja saya tak akan bayar!"

Hh!

"Tunggu." Marrinette berbalik.

"Kopi ekspresso dan cake pudding." Alex memesan.

Marrinette melangkah lagi.

"Tunggu!"

Marrinette berhenti lagi dan berbalik.

"Americano dan Lava cake." kata Rian.

"Hh! Kenapa kalian tidak memesan sekaligus tadi!" bentak Marrinette emosi.

"Waktumu tinggal tiga menit. Telat satu detik saja kita tak akan bayar."

Teman-teman Fadli hanya tertawa sinis.

Hh! Orang-orang ini benar-benar menguji kesabarannya. Pergi menghentakkan kaki ke dapur untuk membuatkan pesanan mereka dibantu Alya.

Marrinette kembali membawa pesanan mereka, dan sengaja menumpahkan Iced Tiramissu Latte ke baju Fadli.

"Apa-apaan ini!" Fadli bangkit dengan kesal.

"Kamu yang apa-apaan! Memperlakukan orang dengan seenak jidat. Memangnya kau ini siapa!"

"Kau tak tau aku siapa! Bapakku yang menguasai wilayah ini tau nggak!"

"Oh! Nggak kenal!"

"Ada apa ini."

Keempatnya menoleh pada Helen yang menghampiri mereka.

"Lihat ini! Pelayanmu berani kurang ajar sama saya!" seru Fadli seraya memperlihatkan bajunya yang kotor pada Helen.

Tentu saja Marrinette protes.

"Dia yang kurang ajar Buk. Menyuruhku membuatkan semua ini dalam waktu lima menit. Telat satu detik saja dia tidak akan bayar. Apakah mungkin bisa secepat itu?"

"Itu tugasmu sebagai pelayan!"

"Sesekali mikir dong!"

"Diam!" bentak Helen

"Ini restorant punya saya, jadi kamu tak bisa semena-mena disini!" Helen menatap Fadli tajam.

Fadli tergelak. "Apa kau bilang? Heh! Bapakku penguasa di wilayah ini-"

"Kekuasaan bapakmu cuma sampai di depan jalan sana dan ini tidak masuk wilayahmu. Jadi jangan berani macam-macam!"

Fadli menatap Helen tajam, rahangnya mengeras. "Kau sepertinya ingin bermain-main denganku ya. Baiklah, lihat saja nanti. Sebentar lagi restorant ini akan rata dengan tanah."

"Buktikan saja kalau bisa!"

Fadli mengajak temannya pergi setelah menggebrak meja dengan kesal. "Awas kau."

"Hei! Kalian belum bayar!"

"Biarkan Marrinette." cegah Helen. "Biar kutagih nanti pada bapaknya."

"Ibu berani?"

"Untuk apa takut? Kita tunggu saja, sebentar lagi si brengsek itu akan datang membawa orangtuanya."

Benar saja, tak lama kemudian Fadli datang membawa orangtuanya beserta bodyguard-bodyguardnya. Marrinette sedikit takut, namun Helen memberi isyarat agar tetap tenang.

"Dimana pemilik restorant ini!" suara Darlius menggelegar.

"Disini!" sahut Helen tegas dengan wajah kalemnya.

"Baby?" Darlius terkejut dan menghampiri. "Ternyata kamu yang punya restorant ini? Oh sungguh suatu keberuntungan bisa bertemu kembali denganmu. Bagaimana kabarmu sayang?"

"Anakmu ini berani kurang ajar sama saya!"

"Dia yang kurang ajar sama saya, Pa. Berani-beraninya menantang anak seorang penguasa wilayah ini-"

"Diam!" bentak Darlius, berpaling pada Helen. "Begini Bu Helen, kita bisa selesaikan masalah ini baik-baik."

Helen memotong. "Karena anakmu sudah berlaku tidak sopan, maka kau harus membayar makanan ini dua kali lipat."

"Baik-baik." Darlius buru-buru mengeluarkan uang, memberikannya pada Helen lalu menjewer anaknya meninggalkan tempat itu.

"Pulang! Beraninya kau mencoreng muka Papa."

"A-ampun, Pa."

"Kalau kulihat kau mengusik tempat ini lagi, akan kutempeleng kepalamu!"

Marrinette hanya tertawa melihatnya. Rasain!

"Sudahlah, kembali bekerja."

"Baik Buk."

"Seperti Bapak tadi menyukai Bu Helen," kata Alya saat berpapasan dengan Marrinette.

"Sepertinya," sahut Marrinette. 
***

Marrinette dan Alya kembali di panggil ke ruangan Bu Helen.

"Ada apa Buk?" tanya Alya.

"Seperti yang pernah kukatakan beberapa hari sebelumnya. Aku membutuhkan bantuan kalian untuk merebut mustika duyung."

"Bagaimana kami melakukannya? Kami tidak begitu mengenal dunia manusia."

"Tenang, jangan kuatir. Ada yang akan membantu kalian."

Helen memberi isyarat dengan tepukan tangannya. Seorang perempuan masuk.

"Namanya Evelyn. Dia tau banyak soal dunia manusia." Helen berpaling pada Evelyn. "Evelyn, saya harap kamu bisa bekerja sama dengan mereka."

"Baik Ratu."

"Tugas pertama, kamu, Marrinette, harus mendatangi alamat ini." Helen memberi secarik kertas. "Dan kalian, Evelyn dan Alya mengawasi dan menjaga kalau terjadi sesuatu dengan Marrinette."

"Bagaimana kita menemukan tempat ini?" Marrinette kebingungan.

"Saya tau." Evelyn menyahut.

Helen memberikan mereka handphone masing-masing.

"Ini berguna agar kalian bisa saling terhubung." Helen memberikan kerang. "Dan ini. Berguna untuk berkomunikasi kalau salah satu diantara kita berada di dalam laut."

"Ingat, apapun yang terjadi kalian harus tetap bersama."

"Baik, Buk."

"Kalian bisa memulainya sekarang."

"Sekarang?" protes Marrinette. "Kenapa mesti sekarang Buk?"

"Lebih cepat lebih baik," sahut Helen. "Saya mempercayakan misi ini pada kalian. Semoga kalian berhasil."

***

"Hhh! Jauh sekali perjalanannya. Kapan akan sampai?" Marrinette jengah, ia berpaling pada Evelyn. "Hey Evelyn, kenapa kau dari tadi diam terus seperti orang bisu. Katanya kau tau tempatnya, mana?"

"Sst, Marrinette, diam. Nanti juga akan diberitahu," kata Alya seraya menyikut Marrinette.

"Pantatku sudah pegal kak. Kelamaan duduk."

"Kalau sudah sampai baru aku bersuara," sahut Evelyn.

"Nah itu sudah bersuara. Berarti sudah sampai, ayo turun." Marrinette hendak meminta sopir untuk menghentikan busnya. Tapi dicegah Alya.

"Marrinette, sudah diam saja. Nanti juga akan sampai."

"Hh! Membosankan."

Evelyn menghentikan bus tepat di depan sebuah rumah yang sangat besar. Mereka berjalan ke pagar menemui satpam.

"Maaf, Pak. Kami mengantarkan seseorang yang ingin bekerja disini."

"Ooh, mari saya antar."

Alya dan Evelyn hanya menunggu diluar pagar.

"Pak, ini orang yang mau masuk kerja disini," ujar satpam pada seseorang yang berpakaian rapi.

"Sebentar."

Pria itu terlihat mengambil telepon. Berbicara sesaat, lalu menutup teleponnya.

"Bos bilang, kamu harus di tes dulu."

"Terimakasih, Pak."

Marrinette minta izin sebentar untuk menemui Alya dan Evelyn.

"Ingat, kita harus tetap terhubung. Kalau ada apa-apa katakan saja. Kita akan cari kontrakan dekat sini. Nanti kalau sudah ketemu, kita beritahu kamu," kata Alya kemudian mereka berdua pergi.

"Baik kak." 
***

"Nama saya Pak Adi. Saya ajudan disini. Silakan kenalkan dirimu."

"Marrinette."

"Baik Marrinette. Tugas kamu adalah menyapu rumah, mencuci pakaian dan memasak. Tapi sebelumnya saya harus mencicipi masakanmu terlebih dahulu. Kalau kamu gagal, maka kamu tidak akan diterima disini."

"Baik Pak. Tapi Bapak bisa tunggu di luar."

"Tidak, saya harus melihat kinerja kamu terlebih dahulu."

Huh, berarti dia harus mengikuti s&k dari Ratu. Tidak boleh menunjukkan kekuatan di depan orang lain, jangan bertingkah aneh, dan kerjakan semuanya secara manual. Marrinette akan memasak berbekal ilmu yang dia dapat saat bekerja di restorant Helen. Tapi mungkin akan membutuhkan waktu lama, karena manual. 
***

Yah, akhirnya selesai juga. Marrinette menghidangkan makanan di depan Pak Adi.

"Hmm, lumayan enak," ucap Pak Adi saat mencicipinya. "Tapi saya harap kamu bisa lebih cepat dari ini. Karena bos saya itu waktunya terbatas. Kalau kamu masaknya lama, bisa-bisa dia memarahimu."

"Baik, Pak."

Sore hari usai beres-beres, Marrinette buru-buru membuka pintu yang diketuk bertubi-tubi. Dan ia terkejut melihat Fadli.

"Heh! Apa yang kau lakukan disini?"

"Heh! Ini rumah saya! Pak Adi. Kenapa wanita aneh ini ada disini? Usir dia keluar!"

"Maaf Tuan muda, wanita ini adalah pengganti pembantu yang lama. Marrinette, ini namanya Fadli, anak dari Pak Darlius."

"Apa? Kamu pembantu disini? Hahaha dipecat lagi ya." Fadli menghempaskan dirinya di sofa tamu.

Apa! Oh Tuhan, si brengsek paling menyebalkan itu adalah anak bosnya? Ini mimpi buruk!

"Heh pembantu! Lepaskan sepatu saya sekarang!"

Hh! Manja. Marrinette melepaskan sepatunya.

"Mulai dari sekarang, kamu harus panggil saya bos!"

"Iya BOOS." Marrinette meletakkan sepatunya.

"Bekas Orang Sinting," gumamnya.

"Ngomong apa?"

"Nggaak."

"Heh! Sepatunya jangan ditaruh disitu."

"Taruh dimana?"

"Carilah."

"Saya baru bekerja disini. Mana mungkin saya tau tempatnya."

"Pak Adi! Kasih tau orang ini!"

"Baik Tuan muda." Pak Adi menunjukkan Marrinette rak sepatu yang ternyata ada di lantai dua depan kamar Fadli.

"Pembantuu!" teriak Fadli dari bawah. "Buatkan saya air buruan!"

Hh! Anak ini bikin susah saja. Marrinette buru-buru turun ke bawah lalu pergi ke dapur dan kemudian kembali membawa segelas air putih.

"Kok cuma air putih?"

"Apa? Iced Tiramissu Latte tidak ada. Anda tidak menyiapkan bahan-bahannya BOS Fadli."

"Siapa yang meminta Iced Tiramissu Latte."

"Lalu?"

"Hot lemon tea. Buruan! Sepuluh detik. Kurang satu detik saja kau harus skotjump duapuluh kali. Sembilan, delapan, tujuh, enam...."

Kurang dari lima detik Marrinette sudah kembali dari dapur."

"Kok cepat sekali?"

Marrinette tersenyum. Kan aku pakai kekuatan, bodoh!

"Kak, ternyata aku bekerja di tempat orang yang pernah membuat kekacauan di restorant Bu Helen itu kak."

"Hah? Benarkah?"

"Iya, dia benar-benar menyebalkan. Aku ingin berhenti saja kak."

"Jangan Marrinette, kau baru sehari bekerja disana."

"Tapi aku sudah tak kuat, kak."

"Marrinette, ingat, misi kita adalah untuk mendapatkan mustika duyung. Jangan sampai gagal, dan jangan sampai kita mengecewakan Bu Helen. Kamu pasti bisa Marrinette. Kalau dia sudah kelewatan sama kamu, baru kita beri pelajaran."

"Pembantuu!"

"Hhh! Si brengsek itu memanggilku. Nanti kita sambung lagi." Marrinette menutup teleponnya.

"Pembantuuu!" Suara itu terdengar lagi.

Marrinette menyamperinya.

"Namaku Marrinette, bukan pembantu."

"Iya Marrinette pembantu, pijitin aku sekarang. Pegal nih."

Hh! Menyebalkan! Andai saja bukan karena misi untuk merebut mustika duyung, dia pasti sudah tak sudi lagi bekerja disini.

"Hh! Kamu bisa mijit nggak sih?"

"Aku bukan tukang pijit. Tugasku hanya sebagai pembantu dari rumah ini."

"Jadi pembantu harus professional. Bisa nyapu, nyuci, masak dan juga harus bisa mijit."

"Hhh! Baiklah."

Hari-hari Marrinette berjalan begitu buruk. Ia harus menghadapi Fadli yang bawelnya minta ampun, bahkan air minum yang ada di depannya saja harus Marrinette yang mengambilkan.

Sepekan sudah Marrinette bekerja disana. Ia ingin sekali melepas penatnya, menjadi pembantu benar-benar membuat energinya terkuras. Marrinette meminta izin pada Pak Darlius--yang mengizinkannya, namun tidak disetujui Fadli.

"Pekerjaannya masih banyak, Pa."

"Sudah selesai kok, Pak."

"Udahlah, biarkan dia keluar. Tapi ingat Marrinette, sebelum jam enam kamu harus kembali."

"Siap, Pak." Marrinette keluar dengan gembira. Sebelum keluar dari pintu, ia menjulurkan lidahnya, mengejek Fadli. Lalu buru-buru lari keluar yang membuat Fadli jadi geram.

"Bagaimana pekerjaanmu Marrinette?" tanya Alya.

"Hhh! Sangat melelahkan, badanku pegal semua."

"Apa kau sudah menemukan dimana mereka menyembunyikan mustika itu?"

"Bagaimana mungkin aku menemukannya. Aku selalu dihadapkan oleh orang yang manja dan cerewetnya minta ampun, melakukan pekerjaan yang sangat menguras tenaga. Selesai bekerja aku menghempaskan badan ketempat tidur dan terlelap dalam kelelahan."

"Tidak usah terburu-buru." Evelyn bersuara. "Semua itu butuh proses. Lebih baik lambat asal semuanya berjalan dengan lancar. Kalau Marrinette gegabah, bisa-bisa rencana kita gagal."

"Itu artinya aku akan tinggal lebih lama lagi disitu?",  tanya Marrinette.

Evelyn mengangguk.

"Haaa, aku sudah tidak kuaat." Marrinette berujar lesu. "Ingin berhenti saja."

Alya mengusap bahu Marrinette. "Marrinette jangan menyerah, kita tidak akan pernah meninggalkan kamu. Lagipula  ini juga permintaan dari ratu kita sendiri."

Marrinette hanya menunduk lesu.

"Karna kita sudah didekat air, rasanya tanggung kalau tidak berenang."

Marrinette langsung gembira mendengar usul Alya.

"Yok! Aku sudah lama tidak merasakan air lautan."

Mereka melirik kiri kanan, lalu meluncur ke dalam air, dan berubah menjadi duyung

Tiga duyung itu meliuk-liuk di dalam air, berenang ria, dan berhenti di sebuah pulau kecil tak berpenghuni.

"Mari kita melatih kekuatan kita disini," ujar Alya.

"Baik, kau yang duluan, kak."

Alya mengangkat air dari dalam lautan dengan kekuatannya, air itu mengambang di udara, lalu membekukannya dan berubah menjadi es.

Sedangkan Marrinette, es itu menjadi cair dengan kekuatan panasnya.

Alya mengeluarkan kekuatan anginnya, membuat dedaunan beterbangan. Lalu ia mengeluarkan sulur dari tangannya, sulur itu menjalar dan mengikat ranting pohon. Alya menariknya, membawanya ke hadapan Marrinette. Sedangkan Marrinette mengeluarkan kekuatan api, hingga kayu itu terbakar.

"Sekarang giliran kau Evelyn," ucap Marrinette.

"Untuk apa?"

"Kok untuk apa? Bagaimana mungkin seekor duyung dapat menjalankan misinya tanpa memiliki kekuatan."

"Tak perlu kutunjukkan."

Marrinette mendecih. "Hh! Dasar payah!"

Evelyn meletakkan dua jemarinya di kedua pelipisnya, lalu fokus menatap Marrinette.

Marrinette tiba-tiba gemetar, berguling-guling, hingga ketika dia dekat dengan batuan karang, ia membenturkan kepalanya dan berdarah.

"Evelyn, hentikan!" teriak Alya. Marrinette hanya meringgis kesakitan.

Evelyn mengarahkan telunjuknya kearah dahi Marrinette yang terluka, hingga luka itu mengatup dan sembuh, dan hilanglah rasa sakit pada dahi Marrinette.

"Kekuatanku dapat mengendalikan pikiran orang lain dan menyembuhkan luka."

"Evelyn, kita seharusnya bisa bekerjasama agar misi kita berhasil."

"Tapi sebelumnya ajari dulu adikmu beretika agar bisa menghargai dan tidak merendahkan oranglain," sahut Evelyn.

"O ya? Apakah membuat dahiku terluka itu dinamakan beretika? Hh! Andai kugunakan kekuatan petirku sudah pasti kau akan kubuat terkapar tak berdaya."

"Marrinette, diam!"

Marrinette terdiam.

Alya berkata lagi. "Kekuatan itu gunanya untuk melindungi diri kita, bukan malah untuk menyakiti satu sama lain."

Saat mereka sudah kembali ke daratan, mereka bertemu dengan Helen.

"Anak-anak bagaimana misi kalian?"

"Ada sedikit gesekan, Buk," sahut Alya.

"Tapi tak apa, bisa diatasi dengan baik."

"Baik, semoga ada perubahan kedepannya. Saya membawa ikan mentah untuk kita masak dan makan bersama-sama. Sudah saya beri bumbu cuma tak ada api."

"Serahkan pada Marrinette, Buk."

Helen meletakkan ikan itu di depan Marrinette. Marrinette mengeluarkan kekuatan panasnya hingga membuat ikannya jadi matang, lalu mereka memakannya bersama-sama." 
***

Marrinette kembali pulang kerumah tempat dimana ia menyamar sebagai pembantu.

"Heh Marrinette."

Marrinette berhenti, menatap Fadli dengan malas. Entah kenapa setiap kali melihat Fadli, semangatnya jadi hilang. Dan ingin sekali mencakar wajah menyebalkan itu.

"Bersihkan toilet belakang."

Tanpa berkata-kata, Marrinette langsung menurutinya.

Fadli sengaja tidak menyiram toilet bagian belakang rumahnya yang hanya dipakai sesekali oleh asisten rumahnya, semenjak dari pagi, untuk mengerjai Marrinette.

Ketika Marrinette masuk untuk membersihkannya, bau busuk langsung menusuk hidungnya.

Hh! Bau sekali, apa ia sengaja untuk mengerjaiku?

Pintu toilet ditutup dan dikunci dari luar.

"Hei buka! Aku bisa pingsan lama-lama disini!"

Tak ada sahutan dari luar.

Handphone Marrinette berdering, dari ratu Apriana. Marrinette mengangkatnya.

"Marrinette, arahkan permata cincinmu ke lubang kunci untuk membuka pintu."

"Baik, Buk."

Marrinette melakukan apa yang dikatakan Ratunya. Pintu terbuka dan akhirnya ia bisa keluar dan bernafas lega.

Ketika Fadli kembali, ia terheran melihat pintunya terbuka dan Marrinette sudah tidak ada di dalamnya.

"Loh, pintunya kenapa bisa terbuka sendiri? Sedangkan kuncinya ada padaku."

Fadli masuk ke dalam toilet memastikan ada atau tidaknya Marrinette. Namun ternyata tidak ada. Tiba-tiba ada yang menutup pintu dan menguncinya.

"Woi buka! Jangan main-main ya!" Fadli terus berteriak seraya menggedor-gedor pintu.

Dari luar, Marrinette tersenyum miring. Siapa dulu yang bermain-main? Hahaha, rasakan!

"WOI! BUKA PINTUNYA SEKARANG!"

Tapi teriakan Fadli seperti tak ada gunanya, sedangkan bau busuk terus menusuk hidungnya.

"Hh! Bau sekali!"

Fadli mengambil air di ember dan menyirami toilet itu sampai bersih.

Ceklek! Pintu toilet dibuka oleh Pak Adi.

"Hh! Kenapa lama sekali bukanya! Aku sudah mau mati disini!" seru Fadli melampiaskan amarahnya.

"Maaf Tuan. Saya baru tau kalau Tuan terkunci di dalam."

"Bukan terkunci tapi dikunci."

"Siapa yang mengunci Tuan?"

"Siapa lagi kalau bukan Marrinette."

"Tapi saya tidak melihat Marrinette."

"Hhh! Sudahlah. Itu bukan urusanmu."

Fadli pergi dengan kesal. Dari kejauhan, ia melihat Marrinette sedang membersihkan tepi kolam renang. Fadli tersenyum miring, menyelinap di balik pilar. Lalu diam-diam bergerak untuk mendorong Marrinette. Namun Marrinette reflek mengelak, hingga Fadli lah yang tercebur ke dalam kolam renang.

Marrinette tersenyum miring, ia mengeluarkan kekuatan panasnya dan mengarahkannya pada air kolam.

"Aakh, panas! Panas!"

Ia buru-buru keluar dari air kolam sambil terus berteriak kepanasan. Pak Adi buru-buru mendatangi kolam renang.

"Ada apa Tuan muda berteriak-teriak?"

"Airnya panas."

"Bagaimana mungkin? Kalaupun terkena sinar matahari langsung, airnya tidak sampai panas, hanya sedikit menghangat."

"Apa kau pikir aku berbohong?!"

Pak Adi menunduk.

"Hh! Minggir!" serunya pergi dengan gusar.

Pak Adi hanya menatapnya dengan pandangan aneh.

Diam-diam, Marrinette tertawa. Salah siapa kurang ajar sama Marrinette. 
*** 
 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Bloody Autumn: Genocide in Thames
8912      2037     54     
Mystery
London, sebuah kota yang indah dan dikagumi banyak orang. Tempat persembunyian para pembunuh yang suci. Pertemuan seorang pemuda asal Korea dengan Pelindung Big Ben seakan takdir yang menyeret keduanya pada pertempuran. Nyawa jutaan pendosa terancam dan tragedi yang mengerikan akan terjadi.
Premium
From Thirty To Seventeen
9409      3129     11     
Romance
Aina Malika bernasib sial ketika mengetahui suaminya Rayyan Thoriq berselingkuh di belakangnya Parahnya lagi Rayyan langsung menceraikan Aina dan menikah dengan selingkuhannya Nasib buruk semakin menimpa Aina saat dia divonis mengidap kanker servik stadium tiga Di hari ulang tahunnya yang ke30 Aina membuat permohonan Dia ingin mengulang kehidupannya dan tidak mau jatuh cinta apalagi mengenal R...
The Difference
8496      1848     2     
Romance
Diana, seseorang yang mempunyai nazar untuk berhijab setelah ada seseorang yang mengimami. Lantas siapakah yang akan mengimami Diana? Dion, pacar Diana yang sedang tinggal di Amerika. Davin, sahabat Diana yang selalu berasama Diana, namun berbeda agama.
Premium
Ilalang 98
5914      1984     4     
Romance
Kisah ini berlatar belakang tahun 1998 tahun di mana banyak konflik terjadi dan berimbas cukup serius untuk kehidupan sosial dan juga romansa seorang mahasiswa jurusan Sastra Indonesia bernama Ilalang Alambara Pilihan yang tidak di sengaja membuatnya terjebak dalam situasi sulit untuk bertahan hidup sekaligus melindungi gadis yang ia cintai Pada akhirnya ia menyadari bahwa dirinya hanya sebuah il...
SUN DARK
387      241     1     
Short Story
Baca aja, tarik kesimpulan kalian sendiri, biar lebih asik hehe
DEUCE
653      363     0     
Short Story
\"Cinta dan rasa sakit itu saling mengikuti,\" itu adalah kutipan kalimat yang selalu kuingat dari sebuah novel best seller yang pernah kubaca. Dan benar adanya jika kebahagiaan dan kesakitan itu berjalan selaras sesuai dengan porsinya..
The Red Eyes
22432      3436     4     
Fantasy
Nicholas Lincoln adalah anak yang lari dari kenyataan. Dia merasa dirinya cacat, dia gagal melindungi orang tuanya, dan dia takut mati. Suatu hari, ia ditugaskan oleh organisasinya, Konfederasi Mata Merah, untuk menyelidiki kasus sebuah perkumpulan misterius yang berkaitan dengan keterlibatan Jessica Raymond sebagai gadis yang harus disadarkan pola pikirnya oleh Nick. Nick dan Ferus Jones, sau...
My X Idol
15032      2355     4     
Romance
Bagaimana ya rasanya punya mantan yang ternyata seorang artis terkenal? Merasa bangga, atau harus menutupi masa lalu itu mati-matian. Seterkenal apapun Rangga, di mata Nila ia hanya mantan yang menghilang ketika lagi sayang-sayangnya. Meski bagi Rangga, Nila membuat hidupnya berwarna. Namun bagi Nila, Rangga hanya menghitam putihkan hatinya. Lalu, apa yang akan mereka ceritakan di kemudian hari d...
Golden Cage
471      268     6     
Romance
Kim Yoora, seorang gadis cantik yang merupakan anak bungsu dari pemilik restaurant terkenal di negeri ginseng Korea, baru saja lolos dari kematian yang mengancamnya. Entah keberuntungan atau justru kesialan yang menimpa Yoora setelah di selamatkan oleh seseorang yang menurutnya adalah Psycopath bermulut manis dengan nama Kafa Almi Xavier. Pria itu memang cocok untuk di panggil sebagai Psychopath...
DELUSION
5163      1615     0     
Fan Fiction
Tarian jari begitu merdu terdengar ketika suara ketikan menghatarkan sebuah mimpi dan hayalan menjadi satu. Garis mimpi dan kehidupan terhubung dengan baik sehingga seulas senyum terbit di pahatan indah tersebut. Mata yang terpejam kini terbuka dan melihat kearah jendela yang menggambarkan kota yang indah. Badan di tegakannya dan tersenyum pada pramugari yang menyapanya dan menga...