Untuk beberapa saat, Helen melongo.
"Menjebak? Menjebak bagaimana?"
"Jelas-jelas kau menjebak kami!" tuding Marrinette ketus.
"Cepat katakan, apa yang kau inginkan dari kami?" tanya Alya.
Berbeda dengan Marrinette yang emosian, gegabah dan terlalu cepat menilai sesuatu, Alya justru tetap tenang meski dalam situasi sulit sekalipun.
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu pada kalian. Bahwa sebenarnya, aku... adalah ratu duyung, dari laut Hindia."
Keduanya menunjukkan ekspresi terkejut.
"Bagaimana kami mempercayaimu?" tanya Alya meragukan.
Helen tersenyum, menatap lautan. Kemudian meluncur ke dalam air. Kakinya seketika berubah menjadi ekor, berwarna keemasan. Dikepalanya ada mahkota berwarna seputih berlian dan berkilau, menunjukkan kalau ia benar seorang ratu.
Alya dan Marrinette membelalakkan mata. Tentu saja mereka terkejut. Karena mereka sudah salah sangka.
"Bagaimana? Kalian masih tidak mempercayaiku?" teriak Helen ketika muncul ke permukaan air.
Alya dan Marrinette tersenyum malu.
"Sekarang, mari kita bersenang-senang."
Alya dan Marrinette meluncur ria ke dalam air dan berubah menjadi duyung.
"Ikuti aku. Aku ingin mengajak kalian ke suatu tempat."
Alya dan Marrinette berenang mengikuti Helen. Mereka tiba di istana laut, Helen mengajak mereka untuk memasukinya. Duyung-duyung yang lain menunduk menyambut kedatangannya. Diatas singgasananya, Helen berkata:
"Selamat datang di istanaku."
"Terimakasih ratu Helen," sahut Alya dan Marrinette takzim.
"Nama asliku adalah Ratu Apriana. Helen hanyalah nama samaranku di dunia manusia."
Marrinette memandang Alya yang sedang memikirkan sesuatu.
"Aku pernah mendengar nama Ratu Apriana di kerajaan laut Antlantis," kata Alya.
"Tentu saja, kerajaanku memiliki hubungan dengan kerajaan laut Antlantis. Kakekku dengan kakek Raja Wilson, itu bersaudara. Kakekku berenang ke laut Hindia dan juga mendirikan kerajaan. Namun hubungan kami tetap terjaga karena kami saling mengirim utusan sampai kakekku mati hingga aku menjadi ratu. Namun akhir-akhir ini, utusan dari kerajaan laut Antlantis sudah tidak lagi memberi kabar. Bagaimana kabar Raja Wilson dan ratu Amarita?"
Alya dan Marrinette menunduk. Ratu Apriana menangkap hal yang tak biasa dari raut mereka.
"Hei, kalian adalah utusan dari Antlantis bukan? Mengapa kalian diam?"
"Kerajaan Antlantis hancur lebur oleh siluman piranha."
"Lalu, bagaimana keadaan Raja Wilson dan Ratu Amarita?"
"Ayahanda dan Ibunda kami..., telah tewas," sahut Alya lirih, matanya memerah karena sedih.
"Adakah yang lain selamat?" tanya Ratu Apriana prihatin.
"Tidak ada, yang tersisa hanyalah kami berdua, itulah mengapa kami mengungsi kemari, kami melarikan diri tanpa makan dan minum berhari-hari," sahut Alya.
Apriana terdiam, ia bisa merasakan bagaimana sedihnya mereka berdua.
"Kalian jangan khawatir, aku akan menjaga kalian. Apapun yang kalian alami katakan padaku. Sudah, jangan bersedih. Aku tidak akan membiarkan kalian mengalami kesulitan."
Alya dan Marrinette tersenyum.
"Terimakasih Ratu."
"Kalau boleh tau, mengapa Ratu mengganti nama menjadi Helen? Dan apa tujuan Ratu datang ke dunia manusia?" tanya Marrinette. "Bukankah kerajaan Ratu aman, damai, dan tentram."
"Aku datang ke dunia manusia karena misi tertentu. Aku harus mencari mustika milik kerajaan duyung yang dicuri oleh manusia. Itulah mengapa aku menyamar, menjalani kehidupan sebagai manusia, hingga membuka restorant."
Alya dan Marrinette mengangguk-angguk paham.
"Tapi misiku selalu gagal. Jadi aku membutuhkan bantuan kalian. Itulah mengapa aku membawa kalian kesini."
"Apa yang bisa kami bantu?" tanya Alya.
"Nanti akan aku beri tau."
"Maaf sebelumnya Ratu kalau saya lancang. Kami juga membutuhkan bantuan saat ini," sela Marrinette.
"Apa itu, katakanlah. Jangan sungkan."
"Hmm, kami tinggal bersama seorang nenek yang sudah tua renta. Dia terlilit utang."
Ratu Apriana tersenyum. Ia mengepalkan tangan. Dari dalam genggamannya terlihatlah sinar yang kemudian berubah menjadi segenggam koin emas.
Ratu Apriana memberikannya pada Alya.
"Apakah ini cukup?"
"Ini sudah sangat banyak Ratu. Terimakasih." Alya menerimanya dengan sumringah. "Ayo Marrinette kita pergi sekarang."
"Sebentar," kata Marrinette mencegah Alya. Marrinette menatap ratu. "Aku ingat kalau kekuatan kita berdua terkuras habis. Mengapa itu bisa terjadi?
"Karena kalian berenang sangat jauh, tanpa makan dan minum. Energi kalian terkuras habis," sahut Apriana.
"Lalu bagaimana memulihkannya kembali?" tanya Alya.
"Kalian harus bermeditasi di dalam lautan selama tujuh hari tujuh malam," sahut Apriana.
"Bagaimana dengan kerjaan kami?" tanya Marrinette.
"Tenang saja, aku bos kalian. Aku bisa mengatakan kepada pelayan lain kalau kalian sedang kuberi tugas di suatu tempat," sahut Apriana.
Alya dan Marrinette tersenyum.
"Pulanglah, selesaikan masalah nenek itu. Lalu kembalilah kesini," kata Apriana.
"Baik Ratu," sahut Alya dan Marrinette.
Kemudian mereka berpamitan dan berenang meninggalkan istana ratu Apriana untuk pulang ke rumah nenek Siti.
***
"Heh! Mana utangmu! Bayar!"
"Maaf Bu, bukankah Ibu bilang minggu depan."
"Saya sudah capek menunggu-nunggu. Saya ingin kau bayar sekarang!"
"Tapi, saya tidak punya uang," kata Siti ketakutan.
"Halah! Alasan! Sita semua barang-barangnya!" perintah Rossa kepada dua anak buahnya.
Mereka kemudian masuk kedalam rumah.
Siti bersujud, memegang kaki Rossa sambil menangis memohon "Jangan Bu saya mohon. Hanya peralatan rumah yang saya punya tolong jangan diambil."
"Halah! Minggir!" Rossa mendorongnya dengan keras.
"Hentikan!" teriak Marrinette.
Mereka serempak menoleh.
Alya dan Marrinette berlari mengejar si nenek untuk membantunya berdiri.
"Anda manusia yang tidak berhati nurani. Nenek yang sudah renta malah di dorong," kata Alya kesal.
"Berani sekali kau menasihatiku. Panjul! Didi! Beri pelajaran pada anak yang tak tau diri ini!"
"Berhenti!" seru Marrinette. "Kalian kesini untuk menagih hutang kan? Nih!" Marrinette melemparkan sekantong koin emas pada Rossa yang cepat menangkapnya.
Rossa membuka kantong itu dan terkejut sendiri melihat koin emas.
"Kalian mendapatkan ini dimana? Kalian mencuri ya?" kata Rossa.
Marrinette mendengus. "Anda ini tidak tau diuntung. Sudah dilunasi masih saja nanya-nanya. Apa urusan Anda?"
"Lancang sekali mulutmu!" seru Rossa hendak mendorong Marrinette.
Alya berdiri di depan Marrinette untuk melindunginya.
"Sudah-sudah, hutang sudah dilunasi, urusan sudah selesai. Jangan ganggu kami lagi."
Rossa pergi dari tempat itu seraya menunjuk tajam Marrinette. "Awas kau ya."
Marrinette hanya tersenyum sinis.
"Terimakasih kalian sudah membantu nenek," kata Siti. "Kalau boleh tau, dimana kalian mendapatkan koin emas itu?"
"Itu simpanan kami, Nek," sahut Alya berbohong.
"Maaf, Nenek sudah merepotkan kalian." Siti menjadi tidak enakan.
"Tidak usah minta maaf. Anggap saja itu sebagai balas budi kami karna Nenek sudah menyelamatkan dan sudah mengizinkan kami tinggal disini. Lagipula, Nenek sudah kami anggap sebagai Nenek kami sendiri," ucap Alya.
Siti tersenyum. "Nenek sangat bersyukur bertemu kalian."
"Kami juga beruntung bertemu Nenek."
Alya dan Marrinette memeluk Siti.
"Oh ya, Nek. Kami minta izin karena tidak akan pulang selama tujuh hari," kata Alya.
"Memangnya kalian mau kemana?"
"Kami ditugaskan di luar kota. Nenek jaga diri dirumah ya."
"Hati-hati ya."
"Iya Nek."
Mereka mencium tangan Siti, berpamitan lalu pergi.