Loading...
Logo TinLit
Read Story - SECRET IN SILENCE
MENU
About Us  

Terkadang, jalan yang ditempuh untuk meraih keberhasilan tidak searah dengan ekspektasi. Molly mengulang kalimat itu dalam hatinya berkali-kali selayaknya membaca mantra. Sayangnya, semakin diulang malah semakin tak menyenangkan.

Kini Molly menggerutu di kamarnya, berguling frustrasi di atas ranjang. Seolah semesta berkonspirasi, padahal ia telah bertekad bepergian sendiri, jalan yang ditempuhnya berujung kembali pada Rolan.

Meminta maaf sebetulnya perkara mudah, dia hanya perlu berkata maaf tanpa harus bersungguh-sungguh. Akan tetapi, harga dirinya yang setinggi harapan orang tua, seolah melarang Molly untuk mengaku salah. Ditambah, mereka sedang dalam perang dingin sejak sore, membuatnya semakin enggan untuk mengalah.

"Mungkin aku akan berbicara padanya besok pagi," kata Molly seraya mengangkat kedua tangannya ke udara. Kalimat itu terdengar cukup meyakinkan baginya, entah karena memang benar-benar enggan atau mungkin terlalu malas untuk bertemu sekarang.

***

Hari menjelang siang saat Molly berjalan melintasi tangga. Suara gesekan roknya bersatu padu dengan langkah kakinya yang semakin cepat. Dia memberikan salam kepada dua penjaga di sana. Begitu pintu ditutup, Molly meregangkan jari-jarinya, lalu mengepalkannya beberapa kali, seakan hanya dengan cara itu dia dapat mengontrol dirinya. Ia mengangkat dagu dan mengatur napas, tak sudi rasanya harus terlihat lemah dan putus asa di hadapan Rolan.

Anehnya, ketika tiba di depan sel, ucapan Rolan kemarin kembali terngiang dalam benak Molly. Cepat-cepat ia menepis pikiran itu.

Aku di sini untuk kondisi genting, bukannya bersikap emosional.

Rolan tengah merapikan baju, lalu menyugar rambutnya ketika Molly berdeham, membuat lelaki itu harus berhenti sejenak tanpa membalikkan badan. Hening. Lelaki itu kembali merapikan bajunya, tak peduli pada Molly. Sepertinya, Rolan memang tengah bersiap-siap untuk pulang ke Nevervale hari ini.

Molly berdeham untuk yang kedua kalinya.

Dan akhirnya, lelaki berambut merah itu memutar tubuhnya penuh gaya. "Kau sedang batuk, Mawar Merah?"

Menyindir, seperti biasa. Molly memutar matanya.

Ujung mata hijau itu menyipit sekilas. Detik berikutnya, sudut bibirnya ditarik hingga membentuk seringaian khas. Sejenak Molly berpikir, mengapa lelaki tampan kerap kali menyeringai daripada tersenyum tulus? Rasanya sangat tak adil, seolah para leluhur bermurah hati ketika menganugerahkan bentuk fisik dan wajah kepada lelaki satu ini. Begitu menyebalkan. Tak hanya itu, pembawaannya yang lancang seolah tengah mencemooh Molly yang kembali padanya.

"Kau berubah pikiran?" Suara Rolan yang menggoda berhasil memecah keheningan. Dia berjalan mendekat mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu. Gerakannya luwes dan halus. Rolan memiringkan kepalanya, menunggu jawaban Molly.

Perempuan berambut emas itu mengerjapkan beberapa kali, mengutuk dirinya yang sempat terdiam, membiarkan tatapannya tertahan pada Rolan. Seperti seorang gadis remaja yang tengah memuja seseorang, padahal Molly tahu banyak hal yang baik daripada itu.

"Aku memiliki dua berita penting." Suara Molly sempat bergetar saat menyampaikan maksudnya. Ia menegakkan tubuhnya, tidak ingin terlihat tenggelam dalam kharisma Rolan.

"Oh, baru tiga hari di desa Druid, dan kau sudah naik pangkat menjadi pembawa pesan, ya?" sindir Rolan lancang, mata hijaunya menilai penampilan Molly, yang kini terbalut gaun hijau dan korset biru. "Kulihat-lihat, kau benar-benar mulai bertransformasi menjadi salah satu dari mereka. Bukankah itu sangat menggemas—manis sekali?"

Molly memutar matanya. "Aku hanya berusaha bersikap praktis, sepertimu."

Mendengar ucapan Molly, Rolan menaikkan kedua alisnya, penasaran, namun anggukan kepalanya mengungkapkan kepuasan secara terang-terangan. Entah karena baju atau perubahan tekad Molly.

"Jadi, berita apa yang ingin kau sampaikan padaku, Mawar Merah?" tanya Rolan menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku. Dia membuang muka dan menghela napas panjang, masih terlihat bosan dan kesal.

"Yang pertama adalah berita baik, rencanaku kemarin berhasil dan aku mendapatkan banyak informasi tentang posisi Agatha." Molly memberitahu, menuai seringaian kaku dari Rolan. "Dia ada di Lembah Besar Esterdon sekarang, satu langkah mendekati Keajaiban Bilena."

"Berita buruk." Rolan memiringkan kepalanya. "Berita baiknya?" gumamnya seraya memberikan penilaian kontra.

"Berita selanjutnya, aku tetap akan ke sana dengan berteleportasi—"

Rolan berkacak pinggang seraya mengecek kuku-kukunya, dia menyela dalam gumaman, "Berita buruk lagi. Aku pikir kau memberikanku satu berita baik, dan satu berita buruk. Tapi, rupanya yang aku dengar hanyalah dua berita buruk"

Molly merapatkan rahangnya kuat-kuat, ingin sekali memanggil akar atau sulur dari bawah kaki Rolan untuk menampar wajah tampan nan mulus itu.

Sejengkel apa pun, Molly tetap membutuhkan Rolan untuk pergi ke sana, dan dia menambahkan, "Aku telah bertanya pada roh leluhur. Katanya, aku bisa ke sana asal membawamu—"

Rolan lagi-lagi mengatakan, "Aku tidak mau."

"Aku belum selesai menyampaikan semua beritanya, Rolan." Molly menegur, suaranya dalam dan penuh dengan ketegasan. "Dia juga menyampaikan, kalau ada seseorang bernama Cardos telah menunggumu di sana."

Pernik mata hijau Rolan yang tadinya dipenuhi oleh kenakalan dan kelancangan, seketika meredup dan padam. Seringaiannya yang menggoda surut secara bertahap. Bahunya yang tegap tapi santai mendadak menegang. Tangannya yang sempat diayunkan lembut, terjatuh di samping tubuhnya. Rolan mengusap wajah dengan tangan kanannya, tengah mencerna informasi dari Molly. Menilai perubahan raut wajah dan sikap Rolan, Molly menyimpulkan, sepertinya semua yang disampaikannya barusan memang benar-benar berita buruk.

"Siapa itu Cardos, Rolan?" tanya Molly penasaran. Kini giliran Molly yang mengamati gerak-gerik dan raut wajah Rolan.

Rolan membuang muka, rahangnya dikatupkan kuat-kuat hingga membangunkan otot-otot di sekitar leher. Molly berjinjit ingin meminta kejelasan, namun sebelum dia berbicara pandangan matanya melesat ke arah Moko, yang juga menunjukkan kekhawatiran. Lelaki itu lantas membalikkan badan.

"Rolan, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba diam?" Molly bertanya, melirik Moko dan Rolan bergantian.

Lelaki itu meraih doublet miliknya, tanpa mengatakan sepatah kata apa pun.

"Rolan, setidaknya beri aku penjelasan dulu."

Bahu Rolan masih menegang saat memakai doublet juga jubahnya. Dia lantas membungkuk seolah mengambil sesuatu, yang kemudian Molly kenali sebagai belati.

Masih dilanda rasa penasaran, Molly kembali memanggilnya, agak menuntut dan tidak sabaran. "Rolan—"

"Kau tidak perlu terus-terusan mengingatkan namaku!" bentak Rolan. Tubuh Molly menegang seketika, mengingatkannya tentang kejadian Rantai Ikat. "Pergi dan ambil barang-barangmu, tunggu aku di depan gapura Sarang Dalam. Pastikan mereka tidak mencurigaimu saat pergi dari sini."

"I-iya." Molly memutar tungkainya seketika, mengambil langkah lebar-lebar, dan mempercepat langkahnya sampai hampir berlari kecil. Dia terkesiap saat Moko menaiki tubuhnya dari belakang. Kemudian, Molly melanjutkan langkahnya menuju ke kamar.

Meskipun Molly memilih patuh, rasa cemas, kaget, dan tegang akibat urgensi perintah Rolan, membuat mulutnya tidak berhenti menggerutu. Dia menyambar tas yang tersampir di atas bangku batu, lalu mengambil barang-barangnya yang tergeletak di sekitar ranjang.

"Kenapa dia seperti itu?" tanya Molly tiba-tiba kepada Moko, yang sedang asyik menyantap buah jeruk di dekat meja.

Moko tak menjawab, dia mengunyah cepat, menandakan tengah kelaparan. Keikutsertaannya di sini bukan untuk menemani Molly, melainkan untuk makan.

Tentu saja, apa yang diharapkan oleh seekor monyet peliharaan Rolan? Dia salah kalau sampai berpikiran lebih. Anehnya, mata Moko masih memandang Molly yang sibuk sendiri, seolah memperhatikan sambil makan.

"Maksudku, dia tak tidak perlu bertingkah seperti orang penting yang gemar memerintah begitu," Molly melanjutkan, seraya memasukkan dua botol air minum baru ke dalam tas. "Apa maksudnya dia meninggikan suaranya? Aku tidak tuli."

Molly menjejalkan paksa barang-barangnya. Dia terdiam sejenak, kemudian mengangkat tangannya, memukul udara kosong.

"Aku benci padanya," Molly mendesah. Ia menggendong tas sambil berjalan mendekati Moko. "Bagaimana bisa kau bersama orang seperti Rolan, kawan? Bagaimana bisa kau betah dengan orang yang berego tinggi seperti dia? Maksudku, dia lebih banyak diam dan menghindar, daripada harus bercerita dan menjelaskan."

Molly kemudian mengumpat.

Moko tidak merespon, tangannya yang mungil memegang buah, dan giginya yang besar menggigit daging buah cepat menimbulkan suara renyah. Mulutnya mengecap dengan bunyi basah dan nikmat, seolah menyampaikan pada Molly bahwa makanan di depannya terasa jauh lebih lezat dibandingkan mendengarkan omelan Molly.

Molly mendesah, tangannya lantas meraih sebuah apel merah, lalu menyimpan apel itu ke saku gaunnya dan mendengkus, "Sudahlah, ayo kita pergi dari sini."

Tangan Moko meraih satu buah jeruk. Cepat-cepat ia menaiki lengan Molly, duduk manis pada bahu perempuan itu sambil menggigit buah jeruk, sementara tangan satunya yang bebas berpegangan kuncir rambut perempuan itu.

Tepat ketika tiba di depan gapura Sarang Dalam, Molly baru teringat akan sesuatu, membuatnya seketika itu menghentikan langkahnya. Kepalanya dipenuhi oleh pertanyaan: Bagaimana caranya Rolan keluar dari penjara? Apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu selanjutnya? Dengan apa mereka akan pergi ke Lembah Besar Esterdon?

"Dasar Molly si otak lemah," gumamnya menghakimi diri sendiri. Molly mengetuk-ngetuk jarinya ke dahi. "Rolan tidak memberitahu rencananya."

Molly memutuskan untuk kembali ke Sarang Dalam, berniat menyusul Rolan. Namun, belum dia sempat melangkahkan kaki, Moko memekik senang melihat sosok tuannya.

Rolan, kini telah mengganti pakaian sekaligus jubahnya. Ya, bukannya baju yang lama yang dilihat Molly di penjara sepuluh menit yang lalu. Namun baju baru. Doublet yang dipakainya berwarna putih dan hitam bergaris. Celananya berganti menjadi berwarna cokelat tua dengan aksen sulur daun. Rambut merahnya telah ditata rapi. Semuanya terlihat baru, bersih, tanpa cela.

Langkah Rolan yang lebar membuatnya terlihat setengah berlari. Saat mata mereka bertumbuk, dada Molly berdegup lebih kencang. Seakan waktu di sekitarnya melambat, setiap hembusan angin menyapu lembut rambut merah itu, membuat sosok Rolan tampak bergerak dalam irama yang lebih tenang dan tegas. Meskipun tubuhnya ramping dan tinggi, dia terlihat lebih gagah dibandingkan Iefyr, si Druid Agung. Sejenak, Molly menyesal karena sempat mengaku benci dengan lelaki ini.

Jika malaikat memang nyata, mungkin penampilannya tak jauh-jauh dari penampilan Rolan sekarang—Apa ... Molly! Ya ampun! Molly mengusap wajahnya gusar.

Walau begitu, Rolan adalah seorang penyair, sang essentor rasa dan ilusi, dan seorang Manipulator ulung. Dan demi para leluhur ... sudah jelas pesonanya harus lebih menggoda dibanding kue manis berlapis krim lemon yang dijual di toko.

Iya, kan? Memang sudah semestinya harus menarik, kan? Itu adalah hal wajar sekaligus terkutuk. Astaga. Sial. Ini mungkin efek dari Rantai Ikat.

Molly berani bersumpah, jika dia sangat tergoda untuk mengalihkan pandangannya saat ini juga, membalikkan badan seutuhnya bila perlu. Namun, sosok Rolan benar-benar berhasil melumpuhkan saraf otaknya, membekukan otot-otot pada seluruh badannya, seolah terbelenggu dalam mantra ilusi.

Lelaki bermata hijau itu telah berada di hadapannya. Terlalu dekat seolah tak ada ruang lagi. Sejenak, Molly terheran-heran, sejak kapan pasokan udara di sekitarnya menipis?

Tahan, Mol.

"Rolan—" Ketika Molly berhasil menemukan kendali akan dirinya, ia terkesiap, hampir menjengit saat Rolan meraih pinggangnya, memutar tubuhnya kembali menghadap jalan, dan memakaikan tudungnya cepat-cepat.

"Dengarkan ini," bisik Rolan di telinganya. Napasnya yang panas menembus serat kain jubah Molly, membelai daun telinganya dengan penuh godaan. Bahkan helaan napasnya saja terasa seperti surga. "Kau akan berjalan cepat, berlari bila perlu."

Apa tadi katanya? Molly membeku dalam hitungan detik.

Setelah selesai berbisik, tanpa memberikan penjelasan, Rolan menarik Molly menjauh dari Sarang Dalam.

Dan benar saja, ritme langkah Molly menjadi lebih cepat dan berhasil mengimbangi Rolan. Mereka berjalan melintasi jembatan penghubung, menghindari para prajurit yang berpatroli, juga memilih untuk berbaur bersama kerumunan. Bagai menari di tengah-tengah aula bersama bangsawan asing, lengan Rolan melingkar posesif pada pinggang Molly.

Tak ada sepuluh menit berlari, Molly mulai kewalahan, napasnya semakin memburu. Tak hanya hampir setengah berlari, namun karena terhanyut oleh bau segar Rolan—perpaduan bau jeruk bergamot, rempah-rempah, dan kayu—bau itu berhasil melemahkan indranya. Susah payah Molly menelan ludah, merasakan tenggorokannya ditumbuhi duri tajam.

Apakah aku baru saja mendesah menikmati baunya? Ya ampun, yang benar saja! Molly menggigit bibir bawahnya.

Entah karena Rolan yang memaksanya untuk berjalan lebih cepat, ataukah berasal dari dorongan dalam hati, kepala bagian belakang Molly menyentuh dada lelaki itu. Dari sanalah, dia bisa merasakan dada Rolan yang berdebar seirama dengannya.

Setiap langkah dihiasi oleh debaran jantung yang semakin menggila, tak sebanding dengan setiap helaan napas yang berbentuk apresiasi.

"Mengapa kita terburu-buru begini, Rolan?" Molly bertanya, berusaha mengembalikan fokusnya. Di sisi lain juga mulai kelelahan.

"Aku jelaskan padamu nanti." Rolan berbicara diselingi oleh napasnya yang juga ikut memburu.

"Jelaskan dulu," Molly menuntut.

"Kita akan berbicara berdua, begitu kita keluar dari tempat ini."[]

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Navia and Magical Planet
684      491     2     
Fantasy
Navia terbangun di tempat asing tak berpenghuni. Pikirnya sebelum dia dikejar oleh sekelompok orang bersenjata dan kemudian diselamatkan oleh pemuda kapal terbang tak terlihat bernama Wilton. Ah, jangan lupa juga burung kecil penuh warna yang mengikutinya dan amat berisik. Navia kaget ketika katanya dia adalah orang terpilih. Pasalnya Navia harus berurusan dengan raja kejam dan licik negeri ters...
Hidden Path
6458      1970     7     
Mystery
Seorang reporter berdarah campuran Korea Indonesia, bernama Lee Hana menemukan sebuah keanehan di tempat tinggal barunya. Ia yang terjebak, mau tidak mau harus melakukan sebuah misi 'gila' mengubah takdirnya melalui perjalanan waktu demi menyelamatkan dirinya dan orang yang disayanginya. Dengan dibantu Arjuna, seorang detektif muda yang kompeten, ia ternyata menemukan fakta lainnya yang berkaita...
The watchers other world
2273      1016     2     
Fantasy
6 orang pelajar SMA terseret sebuah lingkarang sihir pemanggil ke dunia lain, 5 dari 6 orang pelajar itu memiliki tittle Hero dalam status mereka, namun 1 orang pelajar yang tersisa mendapatkan gelar lain yaitu observer (pengamat). 1 pelajar yang tersisih itu bernama rendi orang yang suka menyendiri dan senang belajar banyak hal. dia memutuskan untuk meninggalkan 5 orang teman sekelasnya yang ber...
Dark Fantasia
5808      1977     2     
Fantasy
Suatu hari Robert, seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai pengusaha besar di bidang jasa dan dagang tiba-tiba jatuh sakit, dan dalam waktu yang singkat segala apa yang telah ia kumpulkan lenyap seketika untuk biaya pengobatannya. Robert yang jatuh miskin ditinggalkan istrinya, anaknya, kolega, dan semua orang terdekatnya karena dianggap sudah tidak berguna lagi. Harta dan koneksi yang...
Intuisi Revolusi Bumi
1251      671     2     
Science Fiction
Kisah petualangan tiga peneliti muda
Evolvera Life: Without A Choice
51      16     1     
Fantasy
Setelah kejadian gladiator, Rika dan kelompoknya (Cedric, Freya, Luna) mengunjungi makam Elsa, yang telah menyelamatkan nyawa mereka. Mereka kemudian terlibat dalam misi berbahaya sebagai pengawal pribadi Yeriko, pemimpin Fraksi Hukum, untuk melakukan diplomasi dengan Fraksi Teror Malam yang dipimpin oleh Artemis. Diplomasi gagal dan perang tak terelakkan. Kelompok Rika (Regu Alaya) bergabung ...
Invisible Girl
1550      900     2     
Fan Fiction
Cerita ini terbagi menjadi 3 part yang saling berkaitan. Selamat Membaca :)
The Dark Woods
1152      645     2     
Fantasy
Ini adalah kisah tentang pertempuran antara kaum PENYIHIR dan kaum KESATRIA yang selalu menjadi musuh bebuyutan. Sesibuk itukah kaum Penyihir dan kaum Kesatria untuk saling memerangi sehingga tidak menyadari kembalinya kekuatan jahat yang sudah lama hilang ?
Aria's Faraway Neverland
4618      1834     4     
Fantasy
"Manusia adalah Tuhan bagi dunia mereka sendiri." Aria adalah gadis penyendiri berumur 7 tahun. Dia selalu percaya bahwa dia telah dikutuk dengan kutukan ketidakbahagiaan, karena dia merasa tidak bahagia sama sekali selama 7 tahun ini. Dia tinggal bersama kedua orangtua tirinya dan kakak kandungnya. Namun, dia hanya menyayangi kakak kandungnya saja. Aria selalu menjaga kakaknya karen...
Aku Mencintai Umat Manusia
310      155     6     
Romance
"Dunia tidak berakhir dengan jeritan, tapi dengan tepuk tangan." Ketika tanah mulai mencair dan menelan peradaban, William memimpin 17 kru teater dalam satu misi gila: menolak selamat di bunker yang dingin. Alih-alih lari, mereka memilih menggelar Tur Terakhir Umat Manusia. Dari kota yang runtuh hingga kamp pengungsian yang gelap, mereka mementaskan drama terakhir untuk menghibur jiwa-jiwa ...