Hari ini adalah dimulainya festival pertandingan catur, laboratorium akademi dihiasi berbagai ornamen festival, meriah, dan penuh warna. Berbagai macam spanduk menggantung di langit-langit, balon bertebaran di berbagai sudut, juga, meja-meja catur telah tertata dengan rapi siap untuk dimainkan. Para siswa dari berbagai kelas berkumpul, mereka bersorak, semua ingin menyaksikan pertandingan catur yang berlangsung ini.
Laboratorium akademi pagi itu tampak berbeda, dari yang biasanya seperti usang tidak pernah tersentuh berubah menjadi suasana yang penuh antusiasme, suara sorakan para siswa menggema di seluruh ruangan, menciptakan atmosfer yang penuh antisipasi dari mereka di setiap pertandingannya.
Galuh, yang mewakili kelas A terlihat tidak begitu bergairah. Duduk termenung di salah satu meja catur. Seakan kehilangan sesuatu, dirinya hanya berdiri dan menyalami lawannya ketika hendak dimulainya pertandingan. Memenangkan permainan pertama dengan mudah, ia beristirahat di suatu tempat, mencari air minum di jeda waktu yang diberikan oleh wasit.
Manik melihat itu dari kejauhan, sambil duduk di bangku penonton yang bersorak-sorai, ia mencoba menuliskan bait, melanjutkan naskah Navaphare. Namun tetap saja, ia tidak bisa menuliskan apapun, ia memerlukan Nirluka untuk membantunya, Manik tidak pernah berhasil menulis satu kalimat pun ketika ia sendirian mencobanya.
Dalam keadaan frustasi itu, Manik membenturkan kepalanya dengan naskah kosong itu sembari bergumam, ayolah, ayolah! sekali saja! kau tidak pernah bisa menulis Navaphare sendirian!, pikirnya, sembari menusuk-nusukkan pulpen ke pahanya karena tidak ada satu kata pun tertulis kali ini.
Genap satu bulan ia tidak menjumpai Nirluka dimanapun, meski ia sendiri mencoba mencarinya, selalu gagal menemukan gadis tersebut. Teman-temannya pun tidak ada yang tahu keberadaan Nirluka, sehingga, Manik menyerah kali ini. Ia merasa asing di kerumunan orang yang saling memberikan dukungan kepada kelasnya dari tribun, suana sangatlah ramai, pertandingan itu juga disiarkan langsung melalui layar proyektor yang terpasang di beberapa sudut laboratorium.
Sial, maafkan aku teman-teman, tidak ada yang bisa aku tulis sama sekali hari ini! Manik terus menerus menyalahkan diri sendiri, rasanya ingin memilih untuk menyerah.
.
Pertandingan demi pertandingan dilalui Galuh Satria dengan cukup mudah, ia bermain dengan cepat seakan tidak menemui suatu kesulitan berarti hingga memasuki final.
Siang hari, laboratorium itu menyisakan perwakilan dari kelas A dan kelas B, mereka memasuki partai final. Sementara, penonton dari kelas lain masih di lokasi untuk menyaksikan pertarungan final antar wakil kelas itu.
Galuh melangkah dengan memasang wajah serius tanpa ekspresinya, setelah ia memenangkan pertandingan demi pertandingan dengan gemilang, ia merasa tidak puas. Pun saat ini, ia merasa bisa menang dengan mudah seperti sebelumnya. Ariadma, perwakilan dari kelas B, berdiri dan bersalaman dengannya, saat mereka bersama duduk, selang beberapa waktu, juri mempersilakan permainan partai final untuk dimulai hingga dua ronde.
Langkah-langkah catur yang mereka lakukan seperti tarian yang terencana, setiap gerakan dipikirkan oleh mereka secara matang, tidak ada gerakan yang tidak berarti. Namun, ketika Galuh kehilangan menteri, untuk pertama kalinya, bayangan kekalahan menghantui dirinya. Ariadma terlalu kuat, dia baru menyadari itu.
Pertarungan antara Galuh dan Ariadma berlangsung dengan intensitas yang luar biasa. Langkah demi langkah, keduanya menunjukkan kecerdasan dan strategi yang tak terduga. Meski Galuh bermain tanpa menteri di ronde pertama ini, setiap serangan yang dilakukan oleh Ariadma mampu dibalas dengan taktik yang lebih cerdik, pertunjukan itu membuat penonton terdiam, menahan napas. Pertarungan mereka bukan hanya tentang catur, tapi juga tentang gengsi antar kelas.
Galuh memberikan komentar untuk pertama kalinya sejak ronde pertama ke lawan bermainnya, "kau bermain dengan baik, Ariadma. Sejauh ini kau mendesakku dalam permainanmu."
Tidak menganggap serius pujian itu, Ariadma membalas dengan hambar, "kau bermain dengan bidak hitam, harusnya kau hanya perlu mengimbangi permainanku saja".
Langkah demi langkah, pertarungan mereka di ronde pertama semakin intens. Keduanya menunjukkan kecerdasan dalam permainan catur, membuat penonton semakin terpukau. Setiap langkah mereka bagaikan simfoni yang harmonis, tanpa sadar, beberapa langkah kemudian Galuh kalah.
"Tidak secepat itu. Menyerahlah", perintah Ariadma setelah melakukan gerakan skak mat mengakhiri permainan.
Galuh tidak bisa berkomentar banyak, ia terdiam beberapa saat sebelum bersiap menuju ronde berikutnya, memungut bidak putih untuk bersiap melakukan serangan pertama.
saintlyfly








