Langit mengguyur Kota Yogyakarta dengan rintik kecilnya yang semakin lama semakin deras. Tampaknya, langit tengah berkabung karena rembulan tak mau mengintip barang sedetik. Senja yang siap sedia membawa mantel transparan menatapi gedung bertingkat di depannya yang dilewati tak sabaran oleh padatnya kendaraan besi. Gadis itu menjilat permen lolipop yang dia pegang sejak 15 menit yang lalu setelah selesai mengenakan mantel, kemudian memasukkannya penuh ke dalam mulut sambil bersenandung kecil. Saat itulah ekor matanya melihat kucing jalanan melangkah ragu dari trotoar di seberangnya dan terdiam kaku di tengah jalan kebingungan. Panik. Tanpa ba-bi-bu, Senja berlari menyetop kendaraan yang melaju di tengah guyuran hujan untuk menangkap kucing tersebut, tetapi ketika berhasil sampai di depan kucing tadi, tubuhnya terdorong ke depan dan matanya menatap jelas mobil sedan dengan klakson nyaring yang nyaris menyerempetnya.
“Lain kali hati-hati! Jangan asal nyeberang!”
Suara bas bernada tinggi menyaingi gemuruh langit itu membuat Senja mengalihkan pandang pada sosok laki-laki yang berdiri di sampingnya dengan tubuh basah kuyup. Biru, menenggelamkan Senja pada matanya yang membuat debar jantung Senja semakin menggila. Ada ikan paus berenang di mata lelaki yang telah menolongnya, berputar, mengitari pupil hitamnya yang terus menyedot Senja ke dalam sana.
“Hi, are you okay?”
Senja mengerjapkan matanya kaku, tersadar memandang terlalu lama. “Aku-" Pupil mata Senja beralih ke arah lain, membesar, melotot saat kucing di tangan lelaki yang telah menolongnya tadi berlari, menyelinap masuk ke bagian bawah mobil hingga saat sebuah mobil kap lewat, nyawanya tak tertolong lagi.
"Kucingnyaaa!!!" Sia-sia sudah pertolongan Senja.