Loading...
Logo TinLit
Read Story - Faith Sisters
MENU
About Us  

Aku bukan orang yang sebentar-sebentar healing, sebentar-sebentar self-reward. Namun, tak ada salahnya sekali-sekali staycation, ‘kan? Di Bandung. Itulah yang akan kulakukan akhir pekan nanti, insyaallah. Itupun sekalian kerja. Ada job jadi MC di sebuah talkshow hari Sabtu pagi. Jumat sore aku berangkat, nanti pulangnya hari Senin pagi. Sekalian aja lama-lama, gak apa-apa, ‘kan? Biar kayak orang-orang, isi Instagramnya sarapan di hotel, duduk di samping kolam renang, atau nongkrong di kafe dengan pemandangan pegunungan. Gile, keren abis. Padahal kalau dipikir-pikir, jika semua orang postingannya seragam seperti itu, apa yang menjadikannya istimewa, ‘kan? Hahaha.

Yang menjadikannya istimewa, bukan apakah tempat itu bisa dijadikan konten. Yang istimewa adalah kebebasan untuk bisa menikmatinya. Kalau aku staycation, lalu mengkhawatirkan berapa likes atau komentar yang kudapat, justru itu akan merusak ketenangan. 

Kamis malam aku mempersiapkan barang-barang yang akan kubawa. Aku akan membawa satu duffle bag dan satu tas tangan saja. Sekarang, yang perlu kupikirkan adalah pakaian apa saja yang perlu kubawa? Pakaian apa yang akan kupakai untuk hari Sabtu pagi? Berapa yang perlu kubawa? Pakaian dalam? Peralatan sanitasi? Mukena? Ini pertama kalinya aku akan pergi sendirian ke luar kota untuk menginap. Eh, bahkan rasanya sudah lama aku dan keluargaku tidak pergi ke luar kota, ya? Aduh, jadi repot begini. Aku takut membawa terlalu banyak barang, tapi juga khawatir kalau tidak cukup.

Berapa kerudung yang perlu kubawa? Apakah aku akan memakai style berhijab akhir pekan ini, atau tidak? Jelas aku akan berhijab saat membawakan acara Sabtu pagi, tapi setelahnya? Membawa beberapa kerudung jelas akan membuat bawaanku tambah berat. Aku memandangi kerudung-kerudung yang sudah kusiapkan di atas tempat tidur, menimbang-nimbang apakah akan kubawa ataukah tidak.

Di tengah kebimbanganku, aku teringat percakapanku dengan teman-temanku sekitar dua minggu yang lalu. 

Waktu itu, aku dan teman-teman satu gengku ketika SMA memutuskan untuk bertemu dan saling bertukar cerita. Girls time. Aku, Yasmin, Heni, dan Julia bertemu di sebuah kafe di daerah Tebet. Kebetulan aku yang pertama datang, karena aku suka saja datang lebih awal. Sebagai seorang MC, penting untuk datang tepat waktu, dan itu artinya lebih awal dari yang lain.

“Eh, Erica? Gue lihat tadi dari jauh. Gue kira sama Elysa. Ternyata elo pakai hijab sekarang,” ujar Yasmin begitu datang ke mejaku sebagai sapaan. Yasmin memesan minuman dan kami mengobrol. Kemudian Heni dan Julia datang bersamaan. Mereka juga menanyakan hal yang sama seperti yang dilakukan Yasmin.

Jawabanku juga sama, “Hehe, masih lepas-pasang, kok. Doain aja.”

Aku tidak mau dianggap berbeda hanya karena mengenakan kerudung. Namun, ternyata bukan hanya aku yang memakai kerudung hari itu. Si Julia itu juga berkerudung. Dia pun menceritakan awal mula dia hijrah dan memakai kerudung sejak kuliah. Kami bercerita banyak hal. Memang kami ini kompak sekali, bukan tipe orang yang suka bercerita lewat chat, sukanya ngomong langsung. Kayak sekarang ini!

“Eh, gue ke belakang bentar, ya,” pamit Julia.

Cukup lama Julia pergi. Apakah WC sedang antre? Aku berinisiatif mengecek Julia tapi WC kafe itu dalam keadaan lowong. Saat aku kembali, ternyata Julia sudah ada di meja kami.

“Ke mana lo tadi?” Tembakku.

Dengan entengnya Julia menjawab, “Salat.”

Aku terperangah. Memang, dia sudah memakai kerudung. Seharusnya aku tidak perlu heran kalau dia salat tepat waktu. Hanya saja aku merasa tersinggung karena tidak diajak salat. Apa sih susahnya bilang pada kami bahwa dia mau salat? Siapa tahu kami mau ikut, ‘kan? Tapi yang keluar dari mulutku bukan itu. Kadang-kadang mulutku tidak bisa dikontrol.

“Widih. Tepat waktu banget, Bu. ‘Kan, waktunya masih panjang. Kita nungguin dari tadi.”

Julia menyesap milkshake cokelatnya dengan perlahan. Dia lalu tersenyum. “Ya, maaf. Kalian lagi seru banget tadi ngobrolnya. Sedangkan gue udah biasa salat di awal waktu.”

Heni dan Yasmin menyorakinya. Untungnya Julia tidak ambil hati. Eh, atau sebenarnya dia merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu, ya? Hanya saja dia menyimpannya sendiri. Hati orang mana ada yang tahu. Duh, harus lebih hati-hati bicara, nih. Dasar aku!

“Sekali-kali telat dikit gak papa kali, Jul. Supaya kita-kita ini gak terlalu merasa berdosa, hahaha.” Heni berkata. Kalo ngomong gak mikir dulu tuh anak.

“Ya, gimana, ya. Sudah kebiasaan. Gak enak rasanya kalo menunda-nunda,” jawab Julia kalem. Dia melanjutkan, “Gini, guys, gue menganggap hidayah dari Allah itu istimewa. Hidayah, hadiah. Mirip-mirip, ‘kan? Jadi kalau gue udah dikasih hidayah buat salat tepat waktu, ya gue ngerasa rugi aja kalo ngelepas hidayah itu. Kayak dikasih hadiah spesial, trus gue buang lagi. Padahal yang ngasih hidayah ini Tuhan yang membuat gue bernyawa dan yang memberi gue rezeki sampai hari ini. Malu dong gue. Gak bersyukur!”

“Iya, iya, Bu Ustadzah,” ledek Heni. 

Julia lalu menatapku penuh arti. “Begitu pun kerudung, hijab yang gue pake. Ini tuh hidayah alias hadiah dari Allah. Jadi gue gak mau lepas-lepas lagi.” 

Aku hanya tersenyum kecil. 

Obrolan kami berlanjut membahas banyak hal. Namun, ucapan Julia mengenai hidayah tertancap kuat di pikiranku. 

Aku kembali menatap gulungan kerudung di atas tempat tidurku. Yap. Hatiku mantap. Aku akan membawa dan mengenakan kerudung-kerudung itu. Lagi pula, kita tidak tahu kapan usia kita berakhir. Bagaimana jika malaikat maut mencabut nyawaku saat aku sedang dengan sengaja tidak memakai kerudung padahal aku sudah tahu itu kewajibanku? Bukankah itu artinya aku meninggal dalam keadaan sedang menentang Allah? Apa kata Allah nanti? Hiii. 

Semua barangku sudah masuk tas, termasuk kerudung-kerudungku. 

Baiklah. Bandung, aku datang!

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Rumah Arwah
1142      660     5     
Short Story
Sejak pulang dari rumah sakit akibat kecelakaan, aku merasa rumah ini penuh teror. Kecelakaan mobil yang aku alami sepertinya tidak beres dan menyisakan misteri. Apalagi, luka-luka di tubuhku bertambah setiap bangun tidur. Lalu, siapa sosok perempuan mengerikan di kamarku?
Infatuated
1145      789     0     
Romance
Bagi Ritsuka, cinta pertamanya adalah Hajime Shirokami. Bagi Hajime, jatuh cinta adalah fase yang mati-matian dia hindari. Karena cinta adalah pintu pertama menuju kedewasaan. "Salah ya, kalau aku mau semuanya tetap sama?"
Cemong, Kucing Kecil Kesayangan
803      568     0     
True Story
Riska adalah seorang gadis kecil yang berusia 8 tahun. Ia tinggal di sebuah rumah kecil di pinggir kota bersama keluarganya. Suatu hari, Riska menemukan seekor anak kucing yang lucu dan menggemaskan di depan rumahnya. Ia langsung jatuh cinta dengan anak kucing tersebut dan memutuskan untuk merawatnya. Luna memberi nama anak kucing tersebut "Cemong". Novel ini saya buat untuk mengenang anak kucing...
Crystal Dimension
518      389     1     
Short Story
Aku pertama bertemu dengannya saat salju datang. Aku berpisah dengannya sebelum salju pergi. Wajahnya samar saat aku mencoba mengingatnya. Namun tatapannya berbeda dengan manusia biasa pada umumnya. Mungkinkah ia malaikat surga? Atau mungkin sebaliknya? Alam semesta, pertemukan lagi aku dengannya. Maka akan aku berikan hal yang paling berharga untuk menahannya disini.
Perfect Love INTROVERT
11673      2521     2     
Fan Fiction
Chahaya dan Surya [BOOK 2 OF MUTIARA TRILOGY]
16060      4797     1     
Science Fiction
Mutiara, or more commonly known as Ara, found herself on a ship leading to a place called the Neo Renegades' headquarter. She and the prince of the New Kingdom of Indonesia, Prince Surya, have been kidnapped by the group called Neo Renegades. When she woke up, she found that Guntur, her childhood bestfriend, was in fact, one of the Neo Renegades.
Lost in Drama
2224      976     4     
Romance
"Drama itu hanya untuk perempuan, ceritanya terlalu manis dan terkesan dibuat-buat." Ujar seorang pemuda yang menatap cuek seorang gadis yang tengah bertolak pinggang di dekatnya itu. Si gadis mendengus. "Kau berkata begitu karena iri pada pemeran utama laki-laki yang lebih daripadamu." "Jangan berkata sembarangan." "Memang benar, kau tidak bisa berb...
Musyaffa
177      156     0     
Romance
Ya, nama pemuda itu bernama Argya Musyaffa. Semenjak kecil, ia memiliki cita-cita ingin menjadi seorang manga artist profesional dan ingin mewujudkannya walau profesi yang ditekuninya itu terbilang sangat susah, terbilang dari kata cukup. Ia bekerja paruh waktu menjadi penjaga warnet di sebuah warnet di kotanya. Acap kali diejek oleh keluarganya sendiri namun diam-diam mencoba melamar pekerjaan s...
Batas Sunyi
4928      2797     108     
Romance
"Hargai setiap momen bersama orang yang kita sayangi karena mati itu pasti dan kita gak tahu kapan tepatnya. Soalnya menyesal karena terlambat menyadari sesuatu berharga saat sudah enggak ada itu sangat menyakitkan." - Sabda Raka Handoko. "Tidak apa-apa kalau tidak sehebat orang lain dan menjadi manusia biasa-biasa saja. Masih hidup saja sudah sebuah achievement yang perlu dirayakan setiap har...
Harmonia
4894      1697     4     
Humor
Kumpulan cerpen yang akan membuat hidup Anda berubah 360 derajat (muter ke tempat semula). Berisi tentang kisah-kisah inspiratif yang memotivasi dengan kemasan humor versi bangsa Yunani. Jika diterbitkan dalam bentuk cetak, buku ini akan sangat serba guna (bisa untuk bungkus gorengan). Anda akan mengalami sedikit mual dan pusing ketika membacanya. Selamat membaca, selamat terinspirasi, dan jangan...