“Lain kali kamu harus melindungi wajahmu kalau berantem. Itu salah satu asetmu. Sayang banget kalau wajah setampan ini harus babak belur. Itu modalmu untuk memanfaatkan gadis, bukan?” ujar Aina dengan sinis.
Rayyan hanya diam. Matanya yang pekat hanya menatap Aina dengan tajam. Selalu saja mata pekat itu seakan sedang menarik Aina ke dalam pusaran tak berujung. Aina buru-buru memalingkan muka dan berjalan kembali ke tempatnya tadi. Ia kembali memangku tangan di atas pagar balkon sambil mendongakkan kepala menatap langit.
“Pergilah!! Kamu mengganggu keasyikanku saja,” imbuh Aina.
Rayyan masih bergeming di tempatnya, lalu tanpa suara sudah berlalu pergi meninggalkan Aina. Aina hanya diam sambil melihat Rayyan dengan sudut matanya. Helaan napas panjang keluar dari bibir Aina.
“Aku penasaran, besok dia masuk sekolah atau gak.”
**
Pagi itu Rayyan bangun sangat pagi. Dia mematut wajahnya di depan cermin. Wajahnya sudah lebih baik dari pada kemarin. Meski masih ada beberapa memar di bawah mata dan dekat bibir, tapi sudah lebih baik dari pada kemarin.
Rayyan menarik napas panjang sambil menyambar kacamata hitam di meja rias. Sepertinya dia harus menutupi memar di matanya dengan kacamata kali ini.
Selang beberapa saat, terlihat Rayyan dan Aina duduk berhadapan di meja makan. Seperti biasa, mereka selalu sarapan pagi sebelum berangkat sekolah.
“Rayyan, apa lukamu sudah lebih baik? Kalau belum, kamu libur dulu saja.” Nyonya Amanda sudah bersuara.
Rayyan tersenyum mengangkat kepala dan menggeleng dengan cepat ke arah Nyonya Amanda.
“Saya sudah lebih baik, Nek. Saya sekolah saja hari ini.”
Nyonya Amanda tersenyum dan duduk di penghujung meja sambil melihat dua cucunya itu dengan penuh cinta.
“Akhir bulan ini, papamu akan mengajak kamu ke puncak. Di sana ada acara penting yang harus kamu hadiri. Kalau bisa, luangkan waktumu, Aina.” Nyonya Amanda kembali bersuara.
Aina hanya terdiam. Ia masih ingat dengan kejadian di puncak. Di sana nanti, Aina akan bertemu banyak teman dan rekan kerja ayahnya. Sejak dulu, Tuan Farid memang sudah merencanakan sebuah perjodohan untuk Aina. Di saat itu juga nantinya Aina akan dipertemukan dengan putra dari teman-teman ayahnya. Tuan Farid meminta Aina memilih sendiri siapa yang pantas untuk menjadi pasangannya.
Di kemudian hari nantinya, mereka akan melangsungkan perjodohan dan akan dinikahkan setelah umur mereka cukup. Aina masih ingat betul apa yang dia lakukan saat itu. Dia menolak permintaan ayahnya dan pergi dari acara. Dia bahkan minta tolong ke Rayyan untuk membawanya pergi. Dia sudah jatuh cinta pada Rayyan saat itu dan tidak mau berpaling ke yang lain. Namun, ini kehidupan kedua, kehidupannya yang berbeda dan Aina akan mengubah semuanya.
“Iya, Nek. Aku akan kosongkan jadwalku.”
Nyonya Amanda tersenyum melihatnya. Kemudian wanita tua itu melihat ke arah Rayyan yang terlihat asyik menikmati sarapannya.
“Kamu juga harus ikut, Rayyan. Pamanmu meminta kamu juga hadir.”
Seketika Aina terkejut begitu juga Rayyan. Hal ini tidak terjadi di kehidupan Aina sebelumnya. Hanya dia yang diminta Tuan Farid datang saat itu, tanpa Rayyan. Kenapa Rayyan juga harus ikut? Apa Rayyan juga hendak dijodohkan?
“Iya, Nek. Saya usahakan.” Akhirnya Rayyan malah berkata seperti itu.
Aina tidak berkomentar hanya diam sambil menatap ke arah Rayyan. Rayyan tidak menggubris tatapan Aina dan terus asyik menikmati sarapannya.
Pukul tujuh kurang sepuluh menit, saat Aina dan Rayyan tiba di sekolah. Rayyan belum diperbolehkan mengendarai motornya sendiri. Sehingga dia harus bareng Aina lagi. Begitu mobil berhenti, Rayyan segera memakai kacamata hitamnya dan turun mendahului Aina. Tak ayal, banyak siswi-siswi yang terpukau melihat penampilan Rayyan kali ini.
Saudara sepupu Aina itu memang terlihat makin mempesona saat mengenakan kacamata hitam. Padahal Rayyan memakai kacamata untuk menutupi memar di matanya bukan untuk bergaya, tapi semua siswi tampak terperangah melihat penampilan Rayyan pagi ini.
Aina yang turun di belakangnya hanya mengulum senyum sambil menggelengkan kepala melihat ulah teman-temannya.
“Astaga!! Ternyata banyak juga yang naksir nih anak. Belum tahu aja mereka siapa Rayyan sebenarnya,” gumam Aina.
Aina terus berjalan menyusur koridor sekolah menuju kelasnya. Namun, tiba-tiba ada sepasang kaki jenjang berdiri menghadang di depannya. Aina terkejut menghentikan langkah dan mendongakkan kepala. Ia makin kaget saat melihat siapa yang sedang berdiri di depannya.
“Kenapa kamu tidak meneleponku? Apa nomornya hilang?” tanya sosok itu yang tak lain Davin.
Aina hampir lupa tentang hal ini. Sebenarnya nomor teleponnya tidak bisa hilang dari tangan Aina. Hanya saja Aina lupa dan juga terlalu lelah. Dia langsung tidur usai melihat bintang di balkon kamar semalam dan melupakan pesan Davin.
“Maaf ... aku lupa. Aku ketiduran semalam.” Aina akhirnya menjawab.
Davin hanya diam menatapnya dengan sendu. Tubuh Davin yang tingginya hampir 180 cm terlihat menjulang di depan tubuh Aina yang hanya memiliki tinggi 168 cm. Gadis cantik itu terlihat sangat kecil di hadapan pria berambut pirang itu.
“Oke. Aku maafkan. Sebagai gantinya, nanti temani aku makan di kantin!!”
Aina tampak terkejut dan hendak mengajukan penolakan, tapi sepertinya Davin melihat apa yang hendak dilakukan Aina. Pria berwajah indo itu tersenyum, membungkukkan badan ke arah Aina.
“Aku tidak mau mendengar penolakan.”
Aina membisu. Hanya matanya yang terus mengerjap melihat dengan kesal ke arah pria di depannya ini. Di kehidupan sebelumnya, kejadian ini tidak pernah terjadi. Bahkan Aina tidak kenal akrab dengan Davin. Saat itu Aina ke mana-mana selalu bersama Rayyan, itu sebabnya Davin tidak berani mendekat. Apa karena Aina membuat satu perubahan, maka semua kehidupannya yang pernah dia jalani berubah semua?
Davin menjentikkan jarinya ke depan wajah Aina membuat Aina tergagap kaget.
“Hei!! Kenapa melamun? Apa begitu sulit permintaanku tadi?”
Aina mengangkat kepala dan tak ayal mata mereka bertemu. Mata biru Davin terasa hangat dan sangat beda dengan mata Rayyan. Aina bahkan suka berlama-lama melihatnya. Sebuah senyuman tak sadar terukir di wajah cantik Aina.
“Tidak. Permintaanmu tidak sulit. Hanya saja, aku akan ke perpustakaan nanti.”
Aina ingat di kehidupan sebelumnya di hari ini ada ulangan dadakan dan dia lupa tidak belajar. Akibatnya nilai ulangannya jelek dan dia harus kena remidi. Aina tidak mau itu terjadi, itu sebabnya dia ingin belajar saat istirahat nanti.
“Oke. Aku temani kamu di perpustakaan.”
Davin berkata seperti itu sambil mengelus puncak kepala Aina sama seperti sebelumnya. Aina tampak kesal dan menatap Davin dengan sudut matanya. Apa Davin tidak tahu berapa lama ia menghabiskan waktu mengatur rambutnya tadi pagi? Kini seenaknya saja Davin mengacak rambutnya.
Seperti kemarin, Davin langsung membalikkan badan dan berlalu pergi meninggalkan Aina seorang diri. Aina hanya diam, bergeming di tempatnya sambil menatap punggung Davin yang menjauh. Ia baru saja hendak melanjutkan langkah menuju kelas saat tiba-tiba seseorang bersuara di belakangnya.
“Jadi kamu pacaran dengan Davin, Aina?”