Loading...
Logo TinLit
Read Story - Seharap
MENU
About Us  

Bel berbunyi.

Tatkala teman-teman sekelasnya bersorak gembira karena akan menikmati waktu istirahat, Tisha malah diam dengan posisi duduk tegak. Baru setelah guru yang ada di depannya menutup pembelajaran, gadis dengan kerudung segiempat yang sebelahnya tersampir ke bahu itu melemaskan punggung, barusan pelajaran matematika wajib yang begitu menegangkan.

Untuk memulihkan energi, Tisha mengeluarkan sekotak susu cokelat dari tasnya. Sembari minum, dia memutar kepala, melihat keadaan di sekitarnya. Isi ruangan itu hampir lengang karena barusan bersamaan dengan keluarnya guru, para siswa yang sudah sangat kelaparan berbondong-bondong ikut meninggalkan kelas demi menyerbu kantin.

Kini, di sana hanya tersisa Tisha dan lima orang yang sedang duduk bersama di bangku jajaran pertama untuk menikmati jajanan yang mereka beli saat Tisha dan yang lainnya masih berkutat dengan soal-soal.

Bukan, mereka bukan siswa nakal. Mereka malah merupakan para pemegang peringkat tertinggi di kelas, yang biasa keluar lebih dulu karena dapat mengerjakan pertanyaan dengan sangat cekatan. Tipe-tipe siswa pandai dan berorientasi nilai.

Adapun Tisha bukan bagian dari mereka. Sebab, dia tidak merasa expert dalam pelajaran apa pun. Dia hanya murid teramat biasa yang sekadar bisa mencapai nilai standar, tanpa perlu melakukan remedial juga tak mendapat penghargaan.

Dengan segala keminimalisan itu, anehnya saat pembagian kelas dulu Tisha malah masuk ke salah satu kelas yang terkenal unggulan. Jelas hal itu tidak mungkin disebabkan campur tangan Riana, karena Tisha kenal sekali watak sang kakak yang teramat berprinsip untuk menegakkan kejujuran, mustahil Riana akan mau melakukan aksi orang dalam.

Namun, Tisha tidak mau ambil pusing tentang itu. Di mana pun kelasnya dan siapa pun yang berada satu ruangan dengannya, tidak menjadi masalah untuknya. Yang penting dia bisa tenang sendirian.

Omong-omong tentang ketenangan, Tisha jadi ingat sosok yang pengusik ketenangannya, Sawala. Seketika Tisha bangkit. Dengan mata yang tertuju pada arloji di tangan kiri, Tisha beranjak meninggalkan bangku. Ya ampun, lagi-lagi terlambat, Tisha sudah membuang tiga menitnya hanya untuk memikirkan hal yang sangat-sangat tidak penting.

Begitu tiba di luar kelas, Tisha melihat Sawala berjalan melewatinya. Gadis berpipi gembul itu membawa setumpuk buku paket, mengikuti seorang guru wanita berperut besar–hamil tua–yang melangkah dengan teramat lambat.

Tisha segera mengikutinya, berusaha menyamakan langkah hingga posisi mereka sejajar.

Sawala yang menyadari kehadiran Tisha, lantas tersenyum dan menyapa dengan ceria, “Hai, Dek!”

Oleh karena jarak mereka tidak terlalu jauh, sang guru yang dapat mendengar suara Sawala langsung memutar kepala ke belakang. Seketika matanya berbinar tatkala menyadari keberadaan Tisha. “Nah, ada temannya. Coba Tisha, Ibu minta tolong kamu bantu Sawala membawa sebagian bukunya, ya. Kasihan dia pasti keberatan dari tadi membawa buku sebanyak itu sendirian.”

“Tidak usah, Bu,” sanggah Sawala sambil menggeleng-geleng.

“Tapi dahi kamu sudah banjir keringat tuh.” Dagu guru itu tergerak menunjuk. “Sudah, dibantu saja. Kamu mau kan, Tisha?”

Tisha gelagapan. Selama ini dia sangat terbiasa menghindar dari menolong orang. Namun, kali ini entah kenapa dia terpaku, rasanya teramat segan untuk memberikan penolakan. Tatapan sang guru dan keadaan muka Sawala yang memang sudah basah membuatnya tanpa sadar memberikan anggukan.

“Nah, coba dibagi dua.”

Tidak dapat lagi menolak, Sawala pun berjongkok. Dia turunkan belasan buku tebal itu di lantai, kemudian membaginya dalam jumlah yang tidak sama. Yang lebih sedikit dia geser ke arah Tisha yang juga ikut berjongkok di depannya, dan yang lebih banyak langsung dia bawa ke dekapan.

Belum sempat Tisha mempertanyakan ketidakseimbangan itu, Sawala malah sudah bangkit sembari mengedip-kedipkan mata beloknya. “Udah, ambil aja!” katanya tanpa suara.

Tidak mau ambil pusing, Tisha menurut saja. Toh dia senang, tidak perlu terbebani. Akhirnya mereka berjalan mengikuti sang guru hingga ke ruang guru.

“Terima kasih, ya,” ucap sang guru setelah buku yang dibawa Tisha dan Sawala diletakkan di mejanya.

“Sama-sama, Bu,” sahut Sawala, lalu pamit dengan santun.

Sedangkan Tisha hanya mengikutinya dengan kebisuan. Bola matanya berputar menahan kekesalan. Dia tak sepenuhnya ikhlas memberikan bantuan, terlebih saat merasakan kedua sikutnya yang pegal. Dia sangat menyesal karena tadi tidak kabur.

Begitu melewati ambang pintu, Tisha dikejutkan dengan aksi Sawala yang tanpa aba-aba menaikkan tangan ke bahu Tisha. Posturnya yang hampir lima sentimeter lebih tinggi begitu memudahkan untuk merangkul erat tubuh mungil Tisha.

“Sekarang, mari kita ke perpus!” ajak Sawala semangat dengan mengambil langkah panjang-panjang. “Ini masih belum lima belas menit dari bel, jadi pasti bakal seru.”

Tisha hanya bisa mengatupkan bibir dan mengikuti Sawala diiringi jantung yang berdegup kencang. Sambil terseret, dia menahan bingung. Jika ternyata Sawala bisa bergerak sekencang sekarang, lalu kenapa tadi saat membawa banyak buku dia malah melangkah dengan sangat lamban mengikuti guru?

***

Begitu tiba di tujuan, mereka melepas sepatu dan masuk. Sementara Tisha mengisi buku pengunjung di meja dekat pintu, Sawala malah akan melenggang ke arah rak. Seketika Tisha refleks mencekal tangannya.

“Kenapa, Dek?” Sawala menaikkan sebelah alis.

“Kakak ... enggak isi ini dulu?” Tisha menggerakkan pulpen di atas buku pengunjung, lantas menggigit bibir bawah. Malu sekaligus kesal pada diri sendiri. Kenapa dia repot mengurusi orang lain?

“Sawala sudah mengisinya.” Bukan Sawala yang menjawab, melainkan Bu Santi. “Tadi sejak sebelum bel Sawala sudah ke sini dan isi buku pengunjung,” tambahnya sembari menarik kedua sudut bibir dengan begitu manis, menampilkan senyuman yang mirip dengan milik Sawala.

Tisha tak membalas lagi. Segera melepas cekalan, membiarkan Sawala berlalu, sementara dia lanjut menyelesaikan pengisian. Setelahnya, dia beranjak ke meja yang kemarin mereka duduki. Berpikir Sawala ada di sana.

Namun, kosong. Ke mana Sawala? Dengan langkah gontai, akhirnya Tisha terpaksa berkeliling. Sepanjang melangkah pikiran Tisha mulai bercabang. Mempertanyakan alasan Sawala bisa ada di perpustakaan sebelum bel. Apakah dia kabur dari kelas? Tisha menggeleng-geleng. Rasanya tidak mungkin. Kemarin saja Sawala rela pulang telat hanya untuk membereskan mukena, Tisha sangsi Sawala akan berlaku nakal meninggalkan pelajaran hanya untuk duduk di perpus.

Atau ... mungkin Sawala adalah bagian dari siswa cerdas? Tisha meremas jemari, sepertinya itu lebih masuk akal. Mengingat Sawala juga berada di kelas unggulan, bisa saja dia juga seperti lima teman sekelasnya yang terbiasa keluar kelas lebih dulu.

Kesukaan Sawala pada buku juga menyadarkan Tisha bahwa kakak kelasnya itu bukan hanya siswa biasa. Sawala begitu ramah, sopan, perhatian, dan pintar. Semua kebaikan melekat pada gadis itu, hingga membuatnya tampak bersinar bagaikan langit indah luar biasa.

Tisha menghela napas. Sawala sangat berbeda dengannya yang jutek, cuek, dan berotak pas-pasan. Dia bagai tanah tanpa daya tarik yang hanya bergelar biasa saja.

Tisha menggeleng. Tidak, dia sama sekali tidak sedang merasa insecure. Dia hanya sedang tidak habis pikir. Mengapa Sawala mau didekatkan dengan orang sepertinya?

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Langit Indah Sore Hari
183      156     0     
Inspirational
Masa lalu dan masa depan saling terhubung. Alka seorang remaja berusia 16 tahun, hubungannya dengan orang sekitar semakin merenggang. Suatu hari ia menemukan sebuah buku yang berisikan catatan harian dari seseorang yang pernah dekat dengannya. Karena penasaran Alka membacanya. Ia terkejut, tanpa sadar air mata perlahan mengalir melewati pipi. Seusai membaca buku itu sampai selesai, Alka ber...
ALTHEA
190      163     0     
Romance
Ini adalah kisah seorang perempuan riang yang memiliki perasaan lebih ke manusia es batu, manusia cuek yang telah menyukai seorang perempuan lain di sekolahnya. Walaupun ia tahu bahwa laki laki itu bukan menyukai dirinya, tetap saja ia tak akan kunjung lelah untuk mendapatkan perhatian dan hati laki laki itu. Akankah ia berhasil mendapatkan yang dia mau? "Dasar jamet, bales chat nya si...
Premium
Take My Heart, Mr. Doctor!
10424      3109     2     
Romance
Devana Putri Aryan, seorang gadis remaja pelajar kelas 3 SMA. Ia suka sekali membaca novel. Terkadang ia berharap kisah cintanya bisa seindah kisah di novel-novel yang ia baca. Takdir hidupnya mempertemukan Deva dengan seorang lelaki yang senantiasa menjaganya dan selalu jadi obat untuk kesakitannya. Seorang dokter muda tampan bernama Aditya Iqbal Maulana. Dokter Iqbal berusaha keras agar s...
The Maze Of Madness
8253      3144     2     
Fantasy
Nora tak banyak tahu tentang sihir. Ia hidup dalam ketenangan dan perjalanan normal sebagai seorang gadis dari keluarga bangsawan di kota kecilnya, hingga pada suatu malam ibunya terbunuh oleh kekuatan sihir, begitupun ayahnya bertahun-tahun kemudian. Dan tetap saja, ia masih tidak tahu banyak tentang sihir. Terlalu banyak yang terjadi dalam hidupnya hingga pada saat semua kejadian itu merubah...
Dear N
17143      2488     19     
Romance
Dia bukan bad boy, tapi juga bukan good boy. Dia hanya Naufal, laki-laki biasa saja yang mampu mengacak-acak isi hati dan pikiran Adira. Dari cara bicaranya yang khas, hingga senyumannya yang manis mampu membuat dunia Adira hanya terpaku padanya. Dia mungkin tidak setampan most wanted di buku-buku, ataupun setampan dewa yunani. Dia jauh dari kata itu. Dia Naufal Aditya Saputra yang berhasil m...
Tulus Paling Serius
10997      1889     0     
Romance
Kisah ini tentang seorang pria bernama Arsya yang dengan tulus menunggu cintanya terbalaskan. Kisah tentang Arsya yang ingin menghabiskan waktu dengan hanya satu orang wanita, walau wanita itu terus berpaling dan membencinya. Lantas akankah lamanya penantian Arsya berbuah manis atau kah penantiannya hanya akan menjadi waktu yang banyak terbuang dan sia-sia?
Nyanyian Burung di Ufuk Senja
5744      2412     0     
Romance
Perceraian orangtua Salma membuatnya memiliki kebimbangan dalam menentukan suami masa depannya. Ada tiga pria yang menghiasi kehidupannya. Bram, teman Salma dari semenjak SMA. Dia sudah mengejar-ngejar Salma bahkan sampai menyatakan perasaannya. Namun Salma merasa dirinya dan Bram berada di dunia yang berbeda. Pria kedua adalah Bagas. Salma bertemu Bagas di komunitas Pencinta Literasi di kampu...
ASA
7017      2941     0     
Romance
Ketika Rachel membuka mata, betapa terkejutnya ia mendapati kenyataan di hadapannya berubah drastis. Kerinduannya hanya satu, yaitu bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi. Namun, Rachel hanya diberi kesempatan selama 40 hari untuk memilih. Rachel harus bisa memilih antara Cinta atau Kebencian. Ini keputusan sulit yang harus dipilihnya. Mampukah Rachel memilih salah satunya sebelum waktunya ha...
Cinta Tiga Meter
1094      715     0     
Romance
Fika sudah jengah! Dia lelah dengan berbagai sikap tidak adil CEO kantor yang terus membela adik kandungnya dibanding bekerja dengan benar. Di tengah kemelut pekerjaan, leadernya malah memutuskan resign. Kini dirinya menjadi leader baru yang bertugas membimbing cowok baru dengan kegantengan bak artis ibu kota. Ketika tuntutan menikah mulai dilayangkan, dan si anak baru menyambut setiap langkah...
A Freedom
189      168     1     
Inspirational
Kebebasan adalah hal yang diinginkan setiap orang. Bebas dalam menentukan pilihan pun dalam menjalani kehidupan. Namun sayang kebebasan itu begitu sulit bagi Bestari. Seolah mendapat karma dari dosa sang Ayah dia harus memikul beban yang tak semestinya dia pikul. Mampukah Bestari mendapatkan kebebasan hidup seperti yang diinginkannya?