Loading...
Logo TinLit
Read Story - Cinta Guru Honorer
MENU
About Us  

Bagian 8

 

“Pak Baihaqqi ini bagaimana?” Bu Nurma memekik di siang hari. Guru-guru lain melihat saya dengan iba, mungkin ada juga yang kesal. “Tugas Bapak itu mengajar di dalam kelas. Itu pun tak becus!”

Saya mau menunduk, tak berani. Mau menoleh enggan.

“Bapak itu sebagai guru harus sadar diri tempat dan kedudukan. Kalau sudah begini, Pak Baihaqqi tandanya sudah diinjak-injak identitas Bapak oleh anak diri sendiri. Bagaimana Bapak mengajar mereka sedangkan Bapak sendiri perlu diajarkan tata krama, sopan santun, atau kode etik guru!”

“Bu Nurma, memahami kode etik guru pun nggak mungkin,” sahut Bu Rosmala.

“Nah itu! Bapak paham tak kode etik guru? Bapak baca nggak poin-poinnya? Bapak pahami nggak dengan baik?” Bu Nurma melempar-lempar kertas ke atas mejanya yang tentu itu bukan berisi kode etik guru. “Pantas, Pak Baihaqqi berulangkali ikut tes CPNS nggak lulus-lulus, eh ikut UKG juga nggak lulus, bagaimana mau jadi guru sertifikasi?”

“Guru profesional memiliki sertifikat sertifikasi tepatnya, Bu,” Pak Adam malah menimpali.

“Itu yang saya maksud, Pak Adam!” Bu Nurma masih duduk masih di kursinya dengan sesekali memperbaiki posisi duduk, mungkin merasa kurang nyaman dengan bentuk tubuhnya yang makin hari makin mengembang. “Semua hal yang dilakukan dalam hidup kita ini ada puncanya. Pak Baihaqqi sudah belajar dari kegagalan selama ini? Saya rasa, akar permasalahan itu sama Bapak sendiri. Bagaimana Bapak bisa lulus sertifikasi kalau mengajar saja tidak ikhlas. Mana mungkin Bapak lulus tes kalau kemampuan saja pas-pasan. Siapa pula yang mau melirik Bapak begitu lihat seperti anak SMP!”

“Saya akan memperbaikinya ke depan, Bu…,”

“Keadaan tak berubah, Pak Baihaqqi,” Bu Nurma memainkan ballpoint di tangannya, “Saya menegur karena itu tugas saya sebagai Waka. Kurikulum. Saya nggak mau menegur Bapak sebagai sesama guru karena bisa kembali ke saya sendiri. Di sini saya atasan, Bapak, saya tak mau janji-janji manis saja tetapi pada kenyataannya anak-anak masih nggak suka sama perilaku Bapak sebagai guru mereka,”

“Kesalahan kita dulu langsung menerima yang lamar di sini, Bu,” Bu Rosmala berdalih alasan.

“Benar. Kita nggak tes mengajar layaknya micro teaching pas kuliah dulu,” sinis Bu Nurma. “Kalau kita tes, guru semacam Pak Baihaqqi ini belum tentu lulus mengajar,”

“Anak-anak saja nggak bisa dihadapi,”

“Padahal itu adalah tugas utama kita sebagai seorang guru,”

“Apalagi materi ajar yang kita nggak pernah dengar dan lihat,”

“Benar seperti kata Bu Rosmala?” selidik Bu Nurma, “Jangan-jangan Pak Baihaqqi cuma mendikte pelajaran Fisika, nggak pernah menjelaskan dengan baik. Mana mau anak-anak di kelas!”

“Saya menerangkan pelajaran, Bu,”

“Saya nggak pernah lihat Bapak bawa masuk buku ke kelas,”

“Saya sudah meringkas materi ajar di malam hari,”

“Mana? Coba saya lihat!”

“Ini, Bu,”

Beberapa lembar kertas saya serahkan kepada Bu Nurma. Di sana terdapat ringkasan materi yang akan saya ajarkan, lengkap dengan gambar dan contoh soal berikut soal latihan.

“Dengan ini Bapak mengajar?” ragu Bu Nurma bertanya.

“Benar, Bu,”

“Bapak buat ringkasan setiap materi yang akan diajarkan?”

“Benar, Bu,”

“Kalau begini tampak mudah dipahami. Kenapa pula sampai ada kejadian seperti hari ini?”

“Saya tak tahu itu, Bu,” lebih tepatnya saya tidak mungkin membuka aib Rahmat di depan Bu Nurma karena kejalilan anak itu akan menjadi musibah baginya.

“Bapak tidak tahu alasan kenapa anak-anak keluar kelas?”

“Saya cuma minta mereka menjemput kawan lain yang belum masuk, Bu,”

“Kenapa dengan nada marah-marah,”

“Itu salah saya, Bu,”

“Justru Bapak harus instropeksi diri agar orang lain menerima. Bapak sudah kerja malam-malam buat ringkasan materi bagus begini, sayang sekali anak-anak malah keluar kelas,”

“Saya akan berusaha menenangkan mereka kembali, Bu,”

“Itulah tugas guru. Bapak nggak cukup mengajar dengan baik saja di dalam kelas tapi buat anak-anak patuh adalah tugas utama. Bagaimana Bapak mengajar dengan ribut seiisi kelas?”

“Saya akan belajar sama Bapak dan Ibu di sini,”

“Saya masih banyak tugas lain, nggak ada waktu memberikan pelajaran untuk Bapak,” Bu Nurma mencari-cari kertas di balik buku di atas mejanya. “Ini salah satu tugas penting saya, Bapak selesaikan hari ini juga!”

Pasti sudah ada maunya. Batin saya.

“Tapi, Bu…,”

“Bapak harus sigap. Ini berkenaan dengan tugas sekolah, tugas negara di pundak Bapak…,”

Bukan di pundak Bu Nurma sebagai wakil Kepala Sekolah?

“Saya masih ada kelas sebentar lagi, Bu,”

“Saya tunggu sampai jam pulang!”

Lembur lagi.

Ikhlas.

Itu kata Bu Nurma tadi.

Saya mengambil secarik kertas yang langsung saya masukkan ke dalam ransel lusuh berwarna hitam itu. Enggan pun saya melihatnya waktu itu karena hati masih belum tenang.

Semua orang membutuhkan saya kalau ada maunya. Pun dengan Bu Nurma.

Saya melangkah lunglai ke kantin. Perut yang tidak lapar menjadi perih sejak pagi. Di kantin masih ramai anak-anak.

“Bapak kerdil, Bapak kerdil…, ye ye ye,” Rahmat masih bernyanyi dengan nama yang sama sambil mengunyah bakwan.

“Sabar, Pak,” kata Deni sambil berdiri di samping saya.

“Coba lihat! Pak Baihaqqi cuma seketiak Deni, hahaha,” pekik Rahmat dengan keras sampai anak-anak yang lain ikut menoleh. Semua orang di sana, anak-anak, penjaga sekolah, pemilik kantin, semua tertawa terbahak.

“Guru kita rasa anak SMP!” suara dari kerumuman.

“Pak Baihaqqi the best,”

“Pak Baihaqqi penuh pesona,”

“Pak Baihaqqi tampan,”

“Tapi kurus,”

“Nggak ada isi,”

“Pendek,”

“Nggak bisa perbaiki keturunan,”

“Jodoh saja belum ketemu kawan-kawan!” Rahmat tampak girang sekali merundung saya.

“Bagaimana mau ketemu masih guru honorer,”

“Betul,”

“Derajat hidup belum naik-naik,”

“Isi dompet kosong,”

“Perbaikan gizi kurang,”

“Nggak kuat!”

Tahu apa kalian?

“Lemah,”

“Lembut,”

“Gemulai!”

Kantin sangat tidak kondusif. Saya mengambil risol dan tempe isi, dan air mineral dalam gelas.

“Lihat jajanan Bapak kita?” Rahmat sampai menaikkan plastik berisi tiga menu yang mungkin saya nggak selera lagi itu tinggi-tinggi.

“Kapan besarnya, Pak?”

“Kapan tingginya, Pak?”

“Kapan bersemangatnya, Pak?”

“Kapan kuatnya, Pak?”

“Kapan-kapan…,” teriak Rahmat dengan keras sekali. Lakon hari itu adalah Rahmat sebagai bintangnya. Anak-anak lain yang saling menyahut satu sama lain tidak tahu yang mana wajahnya. Mata saya terlanjur berkunang-kunang.

Saya menyerahkan uang tiga ribu kepada pemilik kantin yang dikembalikan lima ratus.

“Lima ratus pun ambil kembalian, hahaha!” Rahmat senang sekali menikmati permainannya.

“Lima ratus buat masuk celeng ya, Pak Baihaqqi?” sahut pemilik kantin.

“Benar,”

“Jangan boleh tiru kalau mau menabung, kami di kantin berapapun kalian belanja kami tampung semua!”

Saya tidak lagi mendengar kisah apapun setelah itu. Hari saya terlalu penat. Mau pulang dan lanjut tidur, takut mimpi buruk siang hari datang dan mengingau bukanlan hal yang menarik. Mau pulang dan bolos masuk kelas juga bukan alasan yang tepat, saya bisa dianggap lari dari keadaan setelah kejadian pagi tadi. Mau pulang dengan tugas negara dari Bu Nurma, adalah murka yang akan saya dapatkan setelah itu.

Saya benar-benar berani masuk kelas setelah jam istirahat. Langkah seolah terhenti. Ucapan seperti dibelenggu. Mata melirik sana-sini.

Sabar.

Ikhlas.

Jadilah kali ini kelas percobaan untuk naik tingkat.

Saya mengucap salam. Anak-anak sudah ramai di dalam kelas. Saya absen sebentar. Cuma dua orang yang tidak hadir, bukan belum masuk kelas.

“Kita lanjutkan pelajaran hari ini…,” ucap saya dengan penuh kelemahan.

“Semangat, Pak!”

“Kami siap menerima pelajaran,”

“Tenang-tenang, Bapak lagi di kelas,”

“Baik,”

Jantung saya berdegup kencang. Hati yang tersakiti beberapa saat lalu kini telah usai. Anak-anak memang bukan bayi yang mudah melupakan tetapi mereka memiliki pengertian. Saya menaikkan semangat ke level lebih tinggi.

“Mari kita lanjutkan!”

Kelas jadi bersemangat menjelang siang itu!

***

Saya tidak keberatan jika dikucilkan tetapi, semangat saya benar-benar patah kalau begini.

“Pak Baihaqqi keberatan saya suruh-suruh?” Bu Nurma menghadang saya di depan kelas.

“Saya tidak mengerti maksud Bu Nurma,”

“Saya mendengar Bapak mengeluh saya suruh buat ini, buat itu. Bapak nggak ikhlas saya paham tapi jangan bilang ke orang lain!”

“Saya tidak mengerti, Bu,”

“Bapak jangan pura-pura tidak mengerti. Saya mendengar dari Bu Rosmala, Pak Adam, guru-guru lain. Bapak mengeluh saya suruh pekerjaan yang banyak. Saya sadar kalau Amna nggak sepintar dan secepat Bapak dalam membantu tugas saya. Jangan lupa Bapak begitu ke saya, saya merasa tidak enak hati sama Pak Kepala. Saya dipandang tidak becus bekerja karena mengandalkan Bapak terus-menerus!”

Itu Bu Nurma sadar diri.

“Saya tidak bermaksud begitu, Bu,”

“Jadi, Bapak benar menjelek-jelekkan saya?”

“Saya tidak, Bu,”

“Bapak ini bagaimana? Saya bertanya jawablah yang jujur,”

“Saya sudah jujur, Bu,”

“Saya jadi tidak enak meminta pertolongan Bapak,”

“Saya tidak apa-apa, Bu,”

“Makanya jangan bilang-bilang sama orang lain,”

“Saya tidak melakukan itu, Bu,”

“Bu Rosmala bilang ada,”

“Saya tadi masuk kelas,”

“Bukan hari ini,”

“Saya selama ini membantu Bu Nurma saja, tidak banyak cakap sama guru lain,”

“Pak Adam pernah mendengar,”

“Saya tidak tahu kalau itu,”

“Makanya Bapak cari tahu,”

“Tugas yang Bu Nurma berikan kepada saya sudah banyak untuk apa cari tahu yang saya tidak butuh?”

Saya menyesal mengeluarkan kalimat itu.

“Bapak tidak ikhlas membantu?”

“Bukan itu maksud saya,”

“Maksud Bapak tugas yang saya berikan banyak?”

“Iya, eh, bukan begitu. Saya membantu tugas Bu Nurma sehingga nggak sempat bercerita dengan guru lain…,”

“Saya mendengar…,”

“Bu Nurma tolong mengerti saya. Saya sudah bantu kenapa malah Bu Nurma mendengar omongan orang tapi tidak melihat bantuan saya?”

Kenapa lagi kalimat ini yang keluar.

Saya gagap setelah itu.

“Saya cuma mendengar…,”

“Pendengaran Bu Nurma menyakiti saya. Benar kata Bu Nurma saya jadi tidak ikhlas membantu!”

“Bapak egois sekali!”

Saya terhenyak.

Berdebat dengan dengan Bu Nurma nggak akan pernah usai. Tidak ada manfaat pula saya memberikannya ruang dan pembelaan diri saya. Bu Nurma tetap benar.

“Ini yang Bu Nurma minta bantu buat,” saya serahkan lembaran yang sudah tercetak rapi.

Jangan pernah kau berharap saya menerima ucapa terima kasih.

“Saya masih bisa mengandalkan orang lain…,”

Kita lihat besok.

Dan besok?

***

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Tas nyangkut
422      287     3     
Short Story
Love in the Past
655      497     4     
Short Story
Ketika perasaan itu muncul kembali, ketika aku bertemu dengannya lagi, ketika aku harus kembali menyesali kisah itu kesekian kali.
Lagi tersesat! : Gajelas
459      303     1     
Short Story
Aduh! Adekku sama temen deketku yang entahlan udah balik ke rumah. Dan yang paling ngagetin, mereka udah bikin aliran BAMBANGISME, official banget di gazebo kebun. Pantesan pagi segarku hawa hawanya jadi sesak. NB: Nama masing masing karakter samaran ya wkwk
Satu Nama untuk Ayahku
10671      2922     17     
Inspirational
Ayah...... Suatu saat nanti, jikapun kau tidak lagi dapat kulihat, semua akan baik-baik saja. Semua yang pernah baik-baik saja, akan kembali baik-baik saja. Dan aku akan baik-baik saja meski tanpamu.
Backstreet
1664      811     1     
Fan Fiction
A fanfiction story © All chara belongs their parents, management, and fans. Blurb: "Aku ingin kita seperti yang lain. Ke bioskop, jalan bebas di mal, atau mancing di pinggiran sungai Han." "Maaf. But, i really can't." Sepenggal kisah singkat tentang bagaimana keduanya menyembunyikan hubungan mereka. "Because my boyfie is an idol." ©October, 2020
Refulgence of The White Wings Act I
0      0     0     
Fantasy
Ren, seorang siswa tahun kedua di Akademi Militer Legion, hidup di ibu kota bangsa manusia, Oswald. Lima tahun lalu, insiden pencurian artefak kekaisaran mengguncang dunia yang dikenalnya, mengubah segalanya dan menjadi titik balik yang menentukan dalam hidupnya. Tragedi itu merenggut orang-orang terkasih dari sisinya, menyalakan api kebencian yang membara terhadap kekaisaran yang seharusnya m...
Musyaffa
175      154     0     
Romance
Ya, nama pemuda itu bernama Argya Musyaffa. Semenjak kecil, ia memiliki cita-cita ingin menjadi seorang manga artist profesional dan ingin mewujudkannya walau profesi yang ditekuninya itu terbilang sangat susah, terbilang dari kata cukup. Ia bekerja paruh waktu menjadi penjaga warnet di sebuah warnet di kotanya. Acap kali diejek oleh keluarganya sendiri namun diam-diam mencoba melamar pekerjaan s...
100 Juta
309      243     1     
Short Story
Dark Fantasia
5861      2018     2     
Fantasy
Suatu hari Robert, seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai pengusaha besar di bidang jasa dan dagang tiba-tiba jatuh sakit, dan dalam waktu yang singkat segala apa yang telah ia kumpulkan lenyap seketika untuk biaya pengobatannya. Robert yang jatuh miskin ditinggalkan istrinya, anaknya, kolega, dan semua orang terdekatnya karena dianggap sudah tidak berguna lagi. Harta dan koneksi yang...
Meet You After Wound
307      260     0     
Romance
"Hesa, lihatlah aku juga."