Read More >>"> Teman Hidup (Chapter 15: Kehadirannya ) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Teman Hidup
MENU
About Us  

Damian melebarkan langkah ketika ruangan khusus bayi memenuhi matanya. Lelaki itu mengeratkan genggamannya pada buket bunga mawar putih di tangannya. Sepasang manik cokelatnya berbinar penuh bahagia walau jantungnya berdegup kencang. Ini hari yang ia nantikan dan menjadi awal baik untuk segalanya.

Melewati ruangan bersalin yang tertutup rapat, Damian menghembuskan napas. Seakan tahu kondisi wanita terkasihnya Damian mengirimkan doa singkat untuknya. "Please be strong, Laras. Aku di sini buatmu. Dan aku yakin kamu akan mencintai anak itu suatu hari nanti."

Memang, setelah proses caesar itu, Laras bisa bernapas lega. Namun, Laras bergidik ngeri kala suster meletakkan anaknya di dekatnya. Laras menatap setiap lekuk wajah anak yang selama ini terpaksa dikandungnya. Wajah imut anak lelaki itu yang mirip Damian tidak menggerakkan hati Laras untuk menyentuhnya. Wanita itu menggeleng kuat dan membuka mulut membentuk huruf o. Laras mengeluarkan segala beban yang menghimpitnya sambil menyalahkan Damian yang merampas kebahagiaannya. Tiara menghampiri Laras dan mengelus kening wanita itu. 

"Tenang, Bu. Ini bukan akhir segalanya."

Laras tidak peduli. Bayangan Damian dan kesulitan yang menimpanya kembali bermain dalam memorinya. Wanita itu menggeleng kuat seiring matanya yang berkaca-kaca. Bahunya berguncang hebat menjadi pelengkap kehancuran hatinya.

Tiara mengelus pelan lengan Laras dan membisikkan kalimat positif, sementara Nuri meminta anaknya tenang. Namun, semua itu malah membuat Laras makin kencang berteriak. 

Nuri menutup matanya tak tahan dengan semua ini. Wanita paruh baya itu hanya bisa berharap ada keajaiban. Tak lama, Tiara meraih tangan Laras dan memijatnya perlahan. Ia meminta suster memindahkan anak itu ke ruangan lain. 

Sejenak Laras menurunkan volume teriakan dan hatinya sedikit lebih tenang. 

"Tarik napas dan buang."

Walau hatinya tak karuan Laras melakukan juga instruksi Tiara.

"Kita jalani ini pelan-pelan ya, Bu. Sekarang adalah masa pemulihan setelah melahirkan. Begitu semua baik, Ibu boleh pulang dan menghirup kebebasan. Tapi terimalah ini dengan lapang dada."

Laras menatap wajah psikolognya dengan sendu. Sudut matanya basah seiring hatinya yang remuk. 

"Tapi anak itu udah mengambil semua hal baik di hidup saya, Dok," jawab Laras terbata-bata. Tangisnya belum sepenuhnya mereda.

Tiara mengulas senyum lembut. "Siapa bilang? Justru karena dia, Ibu Laras jadi lebih kuat. Ibu punya modal untuk menjalani hari dengan lebih baik setelah ini. Ibu luar biasa, bukan?"

Laras menelan ludah seiring pandangannya yang terarah pada perutnya yang mengempis. Bukannya semua sudah selesai? 

"Iya, Dok. Tapi jangan pernah minta saya merawatnya. Saya nggak mau."

Tiara mengangguk mantap. "Saya ngerti. Oke, sekarang Ibu akan dipindahkan ke ruangan observasi, ya. Suster, silahkan."

Nuri mengulum senyum pada Tiara yang berhasil menenangkan anaknya walau belum sempurna. Setidaknya Laras menemukan lagi cahaya hidupnya.

Sementara itu di luar, Damian tak hentinya berdecak kagum kala menatap buah hatinya. Bayi itu terbaring, tertidur pulas. Dengan kain biru dan senyuman anak itu, Damian merasakan kehangatan yang mendalam.

"Satria Prasetya, anak Papa, ucap Damian lirih.

"Akhirnya kamu datang juga."

Damian menoleh dan menemukan Nuri yang berdiri di belakangnya. Lelaki itu bergegas menjabat tangan Nuri dan menatapnya. "Tan, gimana Laras?" 

Nuri mendesah pelan menatap manik cokelat Damian. "Masih pemulihan. Tapi, tolong jangan temui dia. Hargai privasinya demi kesehatannya."

Damian terdiam mencerna perkataan wanita itu. "Saya ngerti, Tan. Terus gimana dengan prosedur untuk membawa pulang anak ini dan Laras?"

Nuri mengangguk. "Kamu temui admin saja. Yang jelas, saya serahkan anak itu padamu. Tolong urus semuanya dan hari ini adalah pertemuan terakhir kita. Jangan hubungi kami lagi untuk alasan apapun."

Damian mengalihkan pandangan pada Satria. Pikirannya berkecamuk tapi  ia yakin bisa menjaga anaknya sebagai bukti cintanya.

"Iya, saya mengerti, Tan. Ah, saya titip ini buat Laras, Tan."

Nuri melirik mawar putih segar yang menguarkan keharuman. "Sepertinya anak itu lebih pantas menerimanya,"jawab Nuri lugas.

Wanita itu segera berbalik meninggalkan Damian yang menatap punggung wanita itu dengan perasaan campur aduk.

**

Mentari bersinar lembut, menyapa setiap makhluk untuk memulai hari. Tak terkecuali dalam keluarga Prasetya. Di taman, Nadia menatap Satria yang tertidur dalam gendongannya. Wanita paruh baya itu mengelus pipi cucunya sambil mengulas senyum. “Satria, cucu Oma, selamat datang,” ujar Nadia penuh sukacita. Walau Nadia harus merelakan persahabatannya dengan Nuri renggang, ada hal lain yang ia bisa syukuri. Kehadiran Satria bagai penawar semua kepahitan akibat perbuatan Damian. Namun, Nadia tahu ada hal baik yang lelaki itu ambil untuk pelajaran.

“Ma, sini gantian. Mama udah dari tadi, kan? Lagian, Mama juga harus sarapan.”

Nadia menoleh pada Damian yang mengulurkan kedua tangan, bersiap menerima Satria.

“Sebentar lagi, Dami. Mama masih mau sama Satria. Lihat deh, dia mirip banget sama kamu.”

Lelaki itu mengulas senyum, menyadari versi kecil dirinya yang nantinya menjadi titik balik dalam hidupnya.

“Kamu bisa percayakan Satria sama Mama dulu, Dami. Fokuslah bekerja. Karyawanmu lebih membutuhkanmu,” lanjut Nadia, menimang cucunya.

Damian menoleh, menemukan keseriusan dalam pancaran mata ibunya. “Ma, aku nggak mau membebani Mama. Satria ada karena perbuatanku. Aku harus membayar kesalahanku. Mama juga harus mengurus Radit, kan?”

Nadia mengelus pelan pundak Damian yang kekar. “Semua ini Tuhan izinkan terjadi, Dami. Jangan menyalahkan dirimu terus. Tapi, belajarlah dari pengalaman itu untuk menempa dirimu.”

Damian mencerna perkataan Nadia dan tersenyum. Ia tahu Nadia perlahan memaafkan kesalahannya. 

“Dan soal Radit. Kamu nggak usah khawatir. Mama udah bilang sama kakakmu untuk cari babysitter dulu selama Mama merawat Satria. Cucu Oma yang ini kan, baru lahir. Dia pasti perlu perlakuan lebih spesial.”

Damian mengembuskan napas, menyadari ini tidak semudah yang ia pikirkan. Nadia malah harus mengurus Satria padahal wanita itu pasti memerlukan waktu untuk dirinya sendiri. “Ma, aku nggak mau Mama jadi ikut repot karena perbuatanku. Gini aja. Aku lihat cara Mama mengurus Satria selama dua minggu. Setelah itu, aku akan cari orang untuk membantuku nantinya.”

Nadia mengulas senyum pada Damian. Melihat keteguhan hati anaknya, wanita itu tahu Damian tidak akan lari dari tanggung jawab untuk membesarkan Satria.

“Kalau itu maumu, Mama setuju. Ya udah, sekarang kita masuk.”

Damian mengiakan dengan mantap. Harinya akan penuh kejutan manis dari Satria dan hal itu sangat menyenangkan baginya.

**

A Latte selalu memiliki cerita bagi setiap pengunjung dan mereka yang mendedikasikan diri. Dhisti tahu, Damian sudah sepenuhnya kembali mengurus kafenya tapi ia merasa ada hal yang berbeda, terlebih setelah kelahiran anaknya.

“Dhis, Pak Bos mau bicara sama lo. Hm, kayaknya dia mau ngajak lo nikah deh,” ujar Rania yang baru datang.

Dhisti membulatkan mata sebelum menepuk pelan lengan sahabatnya. “Rania, jangan asal! Dia itu baru aja punya anak,” jawab Dhisti, menurunkan volume suaranya di akhir kalimat. Ia tidak ingin berita ini tersebar luas di kalangan karyawan. Damian pasti memarahinya habis-habisan nanti.

Rania menahan tawanya dan mendorong sahabatnya untuk segera menemui Damian. Dhisti mengetuk pintu, menemukan Damian yang sedang memperhatikan sesuatu di layar komputer. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?”tanya Dhisti. 

Damian menoleh, menatap wanita itu dalam. Seperti biasa, ada sesuatu dalam diri Dhisti yang membuat Damian tidak bisa mendefinisikan perasaannya. Tapi itu bukan hal penting sekarang.

“Saya mau kamu ke rumah Mama saya nanti. Kamu masih cuti kuliah, kan?”

Debaran hangat yang tadi memenuhi hati Dhisti lenyap seketika. “Bu- buat apa ya, Pak?”

Damian menaikkan bahunya. “Belajar dari Mama saya cara merawat Satria. Anak saya. Karena kamu yang nantinya bantuin saya jagain Satria. Ngerti?”

Dhisti tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Belum juga luka hatinya sembuh. Kini ia harus berhubungan dengan anak Laras. 

“Pokoknya kamu perhatikan baik-baik. Saya nggak mau ada kesalahan nantinya. Biar gimanapun, kamu Tantenya, bukan?" lanjut Damian, penuh keyakinan.

Dhisti mengalihkan perhatian pada pot kaktus di meja. Bukan perkara hubungan keluarga tapi hatinya yang patah kini makin tidak menentu bentuknya. Yang jelas, harinya akan dipenuhi hal baru. .

**

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Dear Diary
592      388     1     
Short Story
Barangkali jika siang itu aku tidak membongkar isi lemariku yang penuh buku dan tumpukan berkas berdebu, aku tidak akan pernah menemukan buku itu. Dan perjalanan kembali ke masa lalu ini tidak akan pernah terjadi. Dear diary, Aku, Tara Aulia Maharani umur 25 tahun, bersedia melakukan perjalanan lintas waktu ini.
PENTAS
971      593     0     
Romance
Genang baru saja divonis kanker lalu bertemu Alia, anak dokter spesialis kanker. Genang ketua ekskul seni peran dan Alia sangat ingin mengenal dunia seni peran. Mereka bertemu persis seperti yang Aliando katakan, "Yang ada diantara pertemuan perempuan dan laki-laki adalah rencana Tuhan".
Dramatisasi Kata Kembali
648      324     0     
Short Story
Alvin menemukan dirinya masuk dalam sebuah permainan penuh pertanyaan. Seorang wanita yang tak pernah ia kenal menemuinya di sebuah pagi dingin yang menjemukan. \"Ada dalang di balik permainan ini,\" pikirnya.
In Your Own Sweet Way
387      270     2     
Short Story
Jazz. Love. Passion. Those used to be his main purpose in life, until an event turned his life upside down. Can he find his way back from the grief that haunts him daily?
SOLITUDE
1424      543     2     
Mystery
Lelaki tampan, atau gentleman? Cecilia tidak pernah menyangka keduanya menyimpan rahasia dibalik koma lima tahunnya. Siapa yang harus Cecilia percaya?
My Doctor My Soulmate
61      55     1     
Romance
Fazillah Humaira seorang perawat yang bekerja disalah satu rumah sakit di kawasan Jakarta Selatan. Fazillah atau akrab disapa Zilla merupakan seorang anak dari Kyai di Pondok Pesantren yang ada di Purwakarta. Zilla bertugas diruang operasi dan mengharuskan dirinya bertemu oleh salah satu dokter tampan yang ia kagumi. Sayangnya dokter tersebut sudah memiliki calon. Berhasilkan Fazillah menaklukkan...
Seberang Cakrawala
87      82     0     
Romance
sepasang kekasih menghabiskan sore berbadai itu dengan menyusuri cerukan rahasia di pulau tempat tinggal mereka untuk berkontemplasi
ZAHIRSYAH
5485      1659     5     
Romance
Pesawat yang membawa Zahirsyah dan Sandrina terbang ke Australia jatuh di tengah laut. Walau kemudia mereka berdua selamat dan berhasil naik kedaratan, namun rintangan demi rintangan yang mereka harus hadapi untuk bisa pulang ke Jakarta tidaklah mudah.
The Investigator : Jiwa yang Kembali
1801      730     5     
Horror
Mencari kebenaran atas semuanya. Juan Albert William sang penyidik senior di umurnya yang masih 23 tahun. Ia harus terbelenggu di sebuah gedung perpustakaan Universitas ternama di kota London. Gadis yang ceria, lugu mulai masuk kesebuah Universitas yang sangat di impikannya. Namun, Profesor Louis sang paman sempat melarangnya untuk masuk Universitas itu. Tapi Rose tetaplah Rose, akhirnya ia d...
Hujan Paling Jujur di Matamu
5403      1482     1     
Romance
Rumah tangga Yudis dan Ratri diguncang prahara. Ternyata Ratri sudah hamil tiga bulan lebih. Padahal usia pernikahan mereka baru satu bulan. Yudis tak mampu berbuat apa-apa, dia takut jika ibunya tahu, penyakit jantungnya kambuh dan akan menjadi masalah. Meski pernikahan itu sebuah perjodohan, Ratri berusaha menjalankan tugasnya sebagai istri dengan baik dan tulus mencintai Yudis. Namun, Yudis...