Laras menatap pantulan dirinya di cermin. Perlahan ia mengelus perutnya yang sedikit membesar sebelum bergidik. Memasuki bulan kedua, frekuensi mualnya berkurang tapi ia harus membiasakan diri dengan perubahan tubuhnya dan hal lainnya. Wanita itu menghembuskan napas sebelum berjalan ke meja di dekat meja rias. Setelah mendapatkan izin resign, Laras harus meninggalkan dunia pekerjaan yang ia cintai. Pekerjaan yang melambungkan namanya dan membentuknya jadi pribadi yang lebih baik. Laras memijat pelipis sebelum merapikan rambut panjangnya dan mengikatnya. Ia perlahan menyalakan komputer dan mulai berselancar. Remote job sepertinya cocok untuknya. Ia punya kemampuan lain yang bisa dijadikan nilai tambah.
Ketukan di pintu membuatnya menoleh sejenak. “Masuk. Nggak dikunci.”
Nuri mendorong pintu sambil membawa nampan yang berisi salad sayur dan buah potong.”Kamu belum makan siang, Ra. Kamu juga harus jaga kesehatan. Setidaknya buat dirimu,” ujar Nuri meletakkan nampan tadi di nakas.
“Sebentar lagi, Bu. aku lagi nanggung.”
Nuri memperhatikan aktivitas Laras dan mengernyitkan kening. “Ra, kamu cari kerjaan? tIbu kan, punya butik. Kamu bisa mengurusnya.”
Laras menoleh pada Nuri dan menggeleng. “Nggak, Bu. Itu kan usaha yang Ibu rintis. Aku bisa sendiri. Sebelum anak ini lahir, aku harus punya kerjaan lain supaya tetap waras.”
Nuri mengelus pelan pundak anaknya sebelum menarik kursi mendekat. “Laras, ini pasti berat buatmu tapi kamu pasti bisa melewatinya."
Wanita itu mendesah pelan, kembali tersadar takdir yang harus ia jalani. “Kadang aku mikir, kenapa harus aku, Bu? Ada Dhisti yang menurutku lebih siap.”
Nuri mengulas senyum walau hatinya sakit. “Itu karena kamu wanita kuat. Bertahan sebentar lagi, ya. Lagian, kita akan menyerahkan anak ini padanya dan Damian. Kamu setuju, kan? Ibu tahu ini kedengarannya jahat tapi Ibu nggak bisa lihat kamu terus menanggung beban.”
Laras menatap Nuri dalam. Walau masa depannya berantakan, setidaknya dengan menghilangkan jejak anak ini, hidupnya bisa sedikit membaik. Kalau suatu hari nanti ia merindukan buah hatinya, ia bisa mengunjungi Dhisti.
“Tentu. Aku nggak bisa melihat anak yang nggak pernah aku harapkan, Bu," jawab Laras sebelum memeluk Nuri. Wanita paruh baya itu membalas pelukan anaknya sambil mengelus punggung Laras, menyalurkan kehangatan.
Maafin Ibu, Ra. Tapi semua untuk kebaikanmu juga, batin Nuri.
**
A Latte dan cappucino memang tak terpisahkan. Seperti sore itu ketika Dhisti dan beberapa karyawan lain menghidangkan bercangkir-cangkir kopi untuk para pelanggan baru. Dhisti dan rekannya juga mendekorasi ruangan rapat dengan bunga daisy dan lily yang diletakkan di vas kecil, mengelilingi meja.
Tak lama Damian meminta karyawannya untuk menyambut para tamu. Mereka akan mengadakan pertemuan bulanan dan reuni.
“Selamat datang, Pak Rendra. Senang bisa bertemu Bapak lagi,” ujar Damian ramah sambil menjabat tangan pria di hadapannya.
Rendra menatap manik cokelat Damian yang bersinar. “Thanks, Damian. Saya juga ikut senang karena anak Prayoga berhasil mendirikan kafe.”
“Semua juga karena dukungan Bapak,” ujar Damian pelan.
Rendra tertawa. “Bisa aja kamu. Ya udah, nanti kita ngobrol lagi, ok?”
Damian mengulas senyum ramah dan mengarahkan Rendra menuju ruangan yang telah disiapkan. Sudut bibir Rendra terangkat membentuk bulan sabit ketika memandang semua yang tersedia. “Wah, saya dan team bisa betah di sini, Dam. Semua sesuai sama apa yang saya baca di blogmu.”
Lelaki itu mengulas senyum hangat sebagai balasan.
“Saya menghargai itu, Pak. Oke selamat rapat dan menikmati hidangan. Panggil saya kalau ada perlu ya, Pak.”
Rendra mengacungkan ibu jarinya dan segera melebur dengan aktivitasnya.
Satu setengah jam berlalu dan Rendra pamit dengan komentar positif. Rendra berjanji untuk kembali lagi di lain waktu. Damian mengulas senyum lebar memandang Dhisti yang melonjak bahagia.
“Dhis, ikut saya ke balkon. Yang lain bisa rapaiin meeting room. Oh ya, selesai beres-beres kita makan bareng. Saya yang traktir. Fino, kamu atur dulu, ok?”
Fino mengiakan sebelum memberi kedipan mata pada Dhisti. Wanita itu menggeleng pelan sebelum mengikuti Damian ke lantai dua.
“Thanks buat usahamu, Dhis. Karena tulisanmu, A Latte jadi makin ramai. Bahkan saya bisa ketemu lagi sama teman Papa. Saya kehilangan kontak dia 5 tahun lalu,” ucap Damian, membuka pembicaran.
Wanita bermata almond itu mengulas senyum dan menatap sepasang manik cokelat Damian yang menatapnya lembut.
“Sama-sama, Pak. Semua berawal dari ide Bapak. Saya cuma jalanin perintah aja. Bapak yang edit tulisan saya juga, makannya bisa seperti sekarang,” jawab Dhisti mengulum senyum.
Lelaki itu mengarahkan pandangan pada jalan Pandan Wangi yang cukup sibuk dengan lalu lalang kendaraan. “Kadang, saya berpikir buat menutup kafe ini. Tapi kalau ingat kalian, saya jadi bangkit lagi,” lanjut Damian.
Dhisti menoleh dan menatap wajah lelaki itu dari samping. Rambut hitamnya hampir mengenai kerah tapi justru hal itu yang membuatnya makin keren.
“Syukurlah, Pak. Kami udah sayang sama A Latte sampai rasanya nggak bisa hidup tanpanya.”
Damian menoleh pada wanita di sebelahnya. Lelaki itu tidak mengerti dengan perasaannya yang bagai membawanya dalam relung hati lain. Sementara Laras begitu menarik perhatiannya, Dhisti hadir dengan caranya sendiri. Dhisti menunduk, menyembunyikan senyumnya yang merekah tatkala pandangan Damian begitu dalam. Ditambah suasana yang mendukung, wanita itu jadi lebih tenang dan aman.
“Dhis, lebih baik kamu cuti kuliah. Saya yang tanggung biayanya nanti,” ujar Damian dengan spontan.
Wanita bermata almond itu membulatkan mata mendengarnya. Lenyap sudah segala yang indah. “Tapi beasiswa saya gimana, Pak?”
Damian menghembuskan napas, menatap Dhisti tepat di manik hitam itu. “Kamu lebih sayang sama Laras atau kuliahmu? Atau kamu mau saya berhentiin kerja aja?”
Dhisti termenung. Jalannya tidak mungkin mudah untuknya tapi ia harus merelakan salah satunya demi Laras. Biar bagaimanapun, Dhisti masih memerlukan pekerjaan.
“Saya bilang ke pihak kampus dulu, Pak,” ujar Dhisti pelan.
Wanita itu tidak mengerti Damian bisa mengalihkan pembicaraan pada saudaranya di tengah kebahagiaannya. Ah, cinta sungguh membuatnya dalam labirin penuh kejutan.
“Saya cuma mau bilang itu aja. Udah sana, bantuin yang lain. Malah ngajak saya ngobrol.”
Dhisti membuka mulut, hendak protes. Tapi Damian menarik tangan Dhisti dan mendorongnya pergi. “Saya lagi mau sendiri. Kasih tahu kalau makanannya udah datang’” ujar Damian sebelum menutup pintu.
Dhisti menghentakkan kaki dan berdecak kesal. Awalnya menyenangkan tapi selalu ada hal yang membuat Dhisti menimbun kekesalan pada Damian.
Ih, dasar. Yang manggil kan tadi kamu. Tapi aku senang kamu ingat kerja kerasku, Pak Bos.
Dhisti berbalik bersiap menuruni tangga ketika Rania memanggilnya. Rania mengulas senyum lebar pada sahabatnya itu. “Abis ditembak lo ya, Dhis?”
Dhisti membulatkan matanya. “Apa, sih? Pak Bos bilang makasih aja karena tulisan gue membuahkan hasil,” jawab Dhisti lugas. Belum saatnya Rania tahu soal cuti kuliah itu.
Rania mengibaskan tangannya sambil menoleh pada Fino. “Halah. Padahal kan bisa ngomongnya di depan semua karyawan. Biar kita juga termotivasi. Ya kan, Fin?”
Fino mengiakan dengan mantap. “Bener itu. Pak Bos lagi mastiin perasaannya ke lo, Dhis. Percaya deh, sama gue. Gue bisa lihat pandangan mata Bos beda kalau lagi natap lo.”
Kedua pipi Dhisti memerah mendengar perkataan Fino. Apa mungkin Damian menyukainya juga? Tapi Mbak Laras gimana? Dia sedang mengandung buah hati Damian.
“Kalian, ih. Nggak usah berspekulasi gini,” balas Dhisti, menghalau rasa yang kemungkinan ada itu.
“Dhis, wajar kalau lo punya rasa sama siapa pun. Kita memang diciptakan buat mengasihi, kan? Lo tinggal nikmati prosesnya sampai nanti lo temukan bahagia," balas Fino.
Dhisti menatap sepasang manik Fino yang berbinar. Seperti ada kekuatan yang Fino bagikan lewat tatapanya itu. “Makasih, Fin. Gue juga berharap yang sama buat lo.”
“Hm, terus gue dilupain?” ujar Rania, sedikit kesal sambil memajukan bibirnya.
Dhisti mengulum senyum menyadari perubahan wajah sahabatnya itu. “Ran, bukan berarti gue nggak peduli sama lo. Tapi kata-kata Fino memang ditujukan spesial buat gue.”
Rania berdecak. “Ih, nggak adil. Udah lah, bantuin gue cuci piring aja.”
Dhisti dan Fino tertawa terbahak. Kadang kita hanya perlu teman yang mengerti untuk bisa kembali tersenyum.
**