Loading...
Logo TinLit
Read Story - Dear N
MENU
About Us  

  Bell istirahat berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas. Namun kebanyakan siswa bergegas menuju kantin, berniat mengisi perut mereka yang sudah meronta-ronta minta di isi. Begitu juga dengan Naufal dan teman-temannya, saat ini mereka sedang berada di kantin. Duduk di meja paling ujung sambil menikmati bakso mbak Siti langganan mereka. Dari kejauhan Naufal dapat melihat Adira yang tengah berjalan masuk ke dalam kantin bersama teman-temannya.

  "Kapan sih gue bisa bebas dari dia?." Gumam Naufal.

  Tiba-tiba Ryan berseru, "Adira, dicariin mas Naufal."

  Naufal tersentak, "Stres." Cibirnya.

  Mendengar namanya dipanggil Adira hanya tersenyum sembari melambaikan tangan pada mereka. Setelah itu ia kembali berjalan menuju tempat mbak Siti untuk memesan makanan.

  "Eh tumben dia ngga heboh lihat Naufal?." Celetuk Arka heran.

  "Mungkin Adira udah sadar." Sahut Ryan.

  "Sadar?." Tanya Arion.

  "Iya, sadar kalo ternyata Naufal jelek dan ngga sebaik yang dia kira." Ceplos Ryan.

  "Anj- dahlah terserah." Ujar Naufal pasrah.

  "Ututu bercanda mas Naufal, jangan marah dong." Bujuk Ryan "Mas Naufal ganteng, mas Naufal baik, mas Naufalku."

  Keempat laki-laki itu berpura-pura ingin muntah. "Jijik, yan." Celetuk Naufal.

  "Gue pengen ngehibur lo biar ngga berkecil hati." Jawab Ryan.

  "Tapi gak usah kek gitu, geli." Sahut Arion.

  "Aa Rion mau juga?." Tanya Ryan.

  "Engga makasih." Tolak Arion.

  "Padahal–" Ucapan Ryan terhenti, "Nasya duduk sini." teriaknya ketika melihat Adira dan teman-temannya berjalan sambil membawa sebuah mangkok bakso.

  "Si Ryan si*lan." Cibir Daniel.

  "Ini namanya satset, kalian geser dong."  Pinta Ryan. Sudut bibir laki-laki itu terangkat ketika melihat ketiga gadis itu berjalan mendekati mereka.

  "Sini gabung aja." Ryan menjadi yang paling heboh diantara para laki-laki itu. "Tolong geser dong fal." Naufal terlihat menghela napas malas, namun ia tetap menggeser tempat duduknya.

  "Dedek Nasya duduk sini." Suruhnya. Akhirnya mau tidak mau ketiga gadis itu menerima tawaran Ryan untuk bergabung dalam meja mereka.

  "Terimakasih kak."

  "Engga masalah." Setelah itu tidak ada lagi yang bersuara. Suasana meja itu menjadi sangat canggung, tidak ada yang berniat untuk membuka suara. Sejujurnya Adira benci suasana semacam ini, tapi dia tidak mau jika harus memulai pembicaraan. Apa lagi saat ini entah kebetulan atau apa Adira duduk dihadapan Naufal, membuatnya terus menunduk karena enggan bertatapan dengan laki-laki itu.

  "Adira udah sembuh?." Arion membuka suara.

  Gadis itu tersenyum, "Udah."

  "Yah, padahal kita ada rencana mau jenguk." Sahut Arion.

  "Eh? Ngga usah kak. Lagian cuma sakit biasa kok."

  "Ngga apa-apa lah ra, emang gak boleh perhatian sama calon pacar?." Celetuk Ryan sembari menyenggol bahu Arion.

  Tiba-tiba Naufal tersedak, membuat semua mata menoleh pada laki-laki itu. Dengan asal ia mengambil minuman yang ada di hadapannya dan tanpa banyak bicara langsung meminumnya hingga habis.

  "Itu punyaku." Ujar Adira.

  "Hah?" Naufal menatap lama gelas yang berada ditangannya. "Sorry, biar gue gan–"

  "Ngga usah." Potong Adira.

  "Biar gue ganti, atau lo ambil aja punya gue." Naufal hendak memberikan minumannya pada Adira. Namun tangannya tanpa sengaja menyenggol tangan Arka sehingga minuman itu tumpah di atas meja.

  Adira berdecak, "Kan aku udah bilang ngga usah, Kak Naufal ngerti ngga sih!."

  "Ra, lo kenapa sih?." Tanya Caca heran.

  Adira menatap Naufal tajam, "Lebih baik kak Naufal ngga usah sok perhatian kalo pada akhirnya cuma bikin salah paham."

  "Kak Naufal kan ngga sengaja, ra. Lo ngga perlu sampe semarah itu" Ujar Nasya.

  Adira berdiri. "Aku udah selesai makan, maaf karena bikin makan siang kalian jadi ngga nyaman." Setelah mengatakan itu ia pamit pergi dari sana.

  "Maaf ya kak." Kemudian Caca dan Nasya menyusul Adira.

  "Lo ngomong apa sama dia?." Tanya Arion.

  "Ngga ada." Jawab Naufal

  Arion mengernyit "Ngga mungkin sikap Adira kayak gitu kalo lo ngga ngomong apa-apa."

  Naufal menghela napas kesal, "Gue ngga tau, kalo lo emang peduli sama dia ya kenapa ngga lo kejar."

  "Lo bisa ngga sih hargai orang dikit aja." Ujar Arion.

  "Hargai orang kayak gimana maksudnya?" Naufal tersenyum miring, "Kayak lo yang suka cari muka sana sini?."

  "Gue cari muka? Lo iri ya karena gue lebih famous dari pada lo?." Tanya Arion.

  "Gue iri?." Naufal terkekeh, "Gue ngga peduli."

  "Udahlah, mending kalian balik kelas." Saran Daniel.

  "Tanpa lo suruh gue juga mau pergi." Setelah mengatakan itu Naufal beranjak dari tempat duduknya dan kemudian pergi dari sana dengan di ikuti Arka dibelakangnya.

  ***

  "Lo kenapa sih fal?." Tanya Arka. Saat ini mereka sudah berada di kelas.

  "Ngga apa-apa." Jawab Naufal acuh tak acuh.

  "Fal." Panggil Arka.

  "Hm." Laki-laki itu terlihat menyibukkan diri dengan membaca buku.

  "Jadi lo marah karena sikap Adira atau lo marah karena Arion peduli sama Adira." Ucap Arka menerka-nerka.

  Naufal berdecak, "Gue ngga kenapa-kenapa Arka. So, ngga usah nebak-nebak hal yang ngga jelas. "

  "Tapi sikap lo kelihatan jelas, fal." Kata Arka

  "Apa?."

  "Lo kesel karena Adira kan?." Tanya Arka.

  "Bisa ngga sih sehari aja ngga usah sangkut pautin hidup gue sama cewe itu?." Nada suara Naufal terdengar kesal.

  "Kenapa?."

  "Gue risih." Sahut Naufal singkat.

  "Masa sih. tapi jujur gue kaget lihat dia marahin lo, Kalian berantem ya?." Arka semakin penasaran.

  "Ngga tau, jangan ajak gue ngomong." Pinta Naufal

  "Idih, sombong."

  "Ya."

  "Tapi fal, lo–"

  "Diem." Tekan Naufal dengan tatapan mata tajam. Arka memajukan bibir bawahnya. Mau tidak mau akhirnya laki-laki itu diam.

  "Bagus." Gumam Naufal

  ***

  Sudah seminggu lebih Adira tidak pernah lagi mengekori Naufal. Terkadang ketika mereka bersimpangan gadis itu akan pura-pura tidak melihat Naufal atau bahkan ia rela putar balik supaya tidak bertemu dengan Naufal. Melihat itu entah kenapa bukannya merasa senang karena akhirnya Adira menjauh darinya, laki-laki itu justru malah merasa bingung. Padahal biasanya ia selalu merasa kesal saat Adira mengekorinya dibelakang sambil mengoceh tidak jelas. Namun kali ini Naufal malah bertanya-tanya mengenai perubahan sikap gadis itu yang terkesan tiba-tiba.

  Saat ini laki-laki itu sedang berjalan menuju atap sekolah untuk menenangkan pikirannya setelah sebelumnya berdebat dengan Arion. Entah kenapa akhir-akhir ini mereka sering sekali berseteru. Padahal Naufal sama sekali bukan tipe orang yang akan peduli dengan pendapat-pendapat orang. Ia suka ikut rapat organisasi hanya karena agar bisa keluar kelas dan melewati jam pelajaran. Tapi kali ini entah kenapa ia menjadi orang yang lumayan ambisius. Sehingga membuat suasana ruang rapat mereka menjadi serius.

  Ketika laki-laki itu tengah sibuk dengan pikirannya sebuah suara benda jatuh berhasil mencuri perhatiannya.

  Bruk...

  Netra Naufal bergerak untuk mencari sumber suara itu. Dan ketika netranya melihat seorang gadis yang sedang sibuk memunguti buku-bukunya yang jatuh. Naufal tergerak untuk menolongnya. Akhirnya ia berjalan mendekati gadis itu. Dan ketika Naufal hendak membantu, tangannya di tepis oleh sang empu.

  "Ngga perlu, aku bisa sendiri." Katanya dengan nada angkuh. Namun Naufal tetap membantunya memunguti buku-buku itu.

  "Aku bilang ngga usah kak Naufal." Ujarnya lagi, Tapi Naufal seakan menulikan telinganya.

  "Kak Naufal." Panggilnya kesal.

  Naufal menatap gadis itu, "Apa?."

  "Kak Naufal mending pergi aja, aku bisa sendiri." Katanya.

  "Kalo gue tetep maksa bantu lo?." Tanya Naufal.

  "Kenapa?."

  "Karena ada yang pernah bilang sama gue, pekerjaan bakal lebih mudah kalo dilakuin bareng-bareng. Apa lagi kalo ngelakuinnya bareng gue. Iya kan, Adira?." Ujar Naufal.

  Adira terdiam. Laki-laki itu kemudian berjalan mendahului Adira sembari membantunya membawakan sebagian buku itu.

  "Perpustakaan kan?." Tanya Naufal.

  Gadis itu berdeham, "Iya."

  Kemudian kedua orang itu berjalan melewati koridor untuk menuju perpustakaan. Selama diperjalanan tidak ada yang berniat membuka suara. Dan hanya ada keheningan di antara mereka. Jika biasanya Adira yang banyak bicara kali ini ia hanya diam saja. Bahkan hingga mereka sampai di perpustakaan.

  "Bu Yuni ini buku yang di pinjam bu Gina totalnya ada 30." Ujar Adira sembari meletakkan buku-buku yang ia pegang.

  "Sendirian?." Sedetik kemudian penjaga perpustakaan itu tersadar. "Naufal ngapain di sini?."

  "Bantuin dia." Jawab Naufal.

  "Ngga ada pelajaran?."

  "Baru selesai rapat osis."

  "Oh, ya udah langsung masuk kelas." Titah penjaga perpustakaan itu.

  Kedua orang itu kemudian pamit undur diri kepada bu Yuni. Setelah itu mereka berdua keluar dari dalam perpustakaan. Naufal terlihat hendak menuju ke arah kantin tapi suara Adira menghentikan langkahnya.

  "Kamu ngga denger kata bu Yuni?." Naufal menaikkan alis. "Kita di suruh langsung masuk kelas." Ujar Adira.

  "Suka-suka gue." Sahut Naufal.

  "Oke." Tanpa banyak bicara Adira berbalik untuk kembali ke kelasnya. Melihat punggung Adira yang mulai menjauh Naufal berdecak. Dan entah bagaimana akhirnya ia memilih untuk mengikuti gadis itu kembali ke kelas.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Depaysement (Sudah Terbit / Open PO)
6210      3236     2     
Mystery
Aniara Indramayu adalah pemuda biasa; baru lulus kuliah dan sibuk dengan pekerjaan sebagai ilustrator 'freelance' yang pendapatannya tidak stabil. Jalan hidupnya terjungkir balik ketika sahabatnya mengajaknya pergi ke sebuah pameran lukisan. Entah kenapa, setelah melihat salah satu lukisan yang dipamerkan, pikiran Aniara dirundung adegan-adegan misterius yang tidak berasal dari memorinya. Tid...
ASA
7154      3063     0     
Romance
Ketika Rachel membuka mata, betapa terkejutnya ia mendapati kenyataan di hadapannya berubah drastis. Kerinduannya hanya satu, yaitu bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi. Namun, Rachel hanya diberi kesempatan selama 40 hari untuk memilih. Rachel harus bisa memilih antara Cinta atau Kebencian. Ini keputusan sulit yang harus dipilihnya. Mampukah Rachel memilih salah satunya sebelum waktunya ha...
Romance is the Hook
6540      2655     1     
Romance
Tidak ada hal lain yang ia butuhkan dalam hidupnya selain kebebasan dan balas dendam. Almira Garcia Pradnyani memulai pekerjaannya sebagai editor di Gautama Books dengan satu tujuan besar untuk membuktikan kemampuannya sendiri pada keluarga ibunya. Namun jalan menuju keberhasilan tidaklah mudah. Berawal dari satu kotak cinnamon rolls dan keisengan Reynaldo Pramana membuat Almira menambah satu ...
Kanvas Putih
190      168     1     
Humor
Namaku adalah Hasywa Engkak, yang berarti pengisi kehampaan dan burung hitam kecil. Nama yang memang sangat cocok untuk kehidupanku, hampa dan kecil. Kehidupanku sangat hampa, kosong seperti tidak ada isinya. Meskipun masa depanku terlihat sangat tertata, aku tidak merasakannya. Aku tidak bahagia. Wajahku tersenyum, tetapi hatiku tidak. Aku hidup dalam kebohongan. Berbohong untuk bertahan...
One-Week Lover
2786      1682     0     
Romance
Walter Hoffman, mahasiswa yang kebosanan saat liburan kuliahnya, mendapati dirinya mengasuh seorang gadis yang entah dari mana saja muncul dan menduduki dirinya. Yang ia tak tahu, adalah fakta bahwa gadis itu bukan manusia, melainkan iblis yang terlempar dari dunia lain setelah bertarung sengit melawan pahlawan dunia lain. Morrigan, gadis bertinggi badan anak SD dengan gigi taring yang lucu, meng...
Bimbang (Segera Terbit / Open PO)
7905      2901     1     
Romance
Namanya Elisa saat ini ia sedang menempuh pendidikan S1 Ekonomi di salah satu perguruan tinggi di Bandung Dia merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara dalam keluarganya Tetapi walaupun dia anak terakhir dia bukan tipe anak yang manja trust me Dia cukup mandiri dalam mengurus dirinya dan kehidupannya sendiri mungkin karena sudah terbiasa jauh dari orang tua dan keluarganya sejak kecil juga ja...
The Skylarked Fate
10223      3863     0     
Fantasy
Gilbert tidak pernah menerima takdir yang diberikan Eros padanya. Bagaimanapun usaha Patricia, Gilbert tidak pernah bisa membalas perasaannya. Seperti itu terus pada reinkarnasi ketujuh. Namun, sebuah fakta meluluhlantakkan perasaan Gilbert. Pada akhirnya, ia diberi kesempatan baru untuk berusaha memperbaiki hubungannya dengan Patricia.
Through This Letter (Sudah Terbit / Open PO)
7984      3140     1     
Romance
Dia—pacarku—memang seperti itu. Terkadang menyebalkan, jail, sampai-sampai buatku marah. Dan, coba tebak apa yang selalu dia lakukan untuk mengembalikan suasana hatiku? Dia, akan mengirimkanku sebuah surat. Benar-benar berbentuk surat. Di tengah-tengah zaman yang sudah secanggih ini, dia justru lebih memilih menulis sendiri di atas secarik kertas putih, kemudian dimasukkan ke dalam sebuah a...
ALMOND
2072      1433     1     
Fan Fiction
"Kamu tahu kenapa aku suka almond?" Anara Azalea menikmati potongan kacang almond ditangannya. "Almond itu bagian penting dalam tubuh kita. Bukan kacang almondnya, tapi bagian di otak kita yang berbentuk mirip almond." lanjut Nara. "itu amygdala, Ra." Ucap Cio. "Aku lebih suka panggilnya Almond." Nara tersenyum. "Biar aku bisa inget kalau Almond adalah rasa yang paling aku suka di dunia." Nara ...
KELANA [Kenzie - Elea - Naresh]
7184      2692     0     
Fan Fiction
Kenzie, Elea, Naresh, tiga sahabat yang ditakdirkan menjadi seorang bintang. Elea begitu mengagumi Naresh secara diam-diam, hingga dia amat sangat peduli terhadap Naresh. Naresh yang belakangan ini sering masuk lambe turah karena dicap sebagai playboy. Bukan tanpa sebab Naresh begitu, laki-laki itu memiliki alasan dibalik kelakuannya. Dibantu dengan Kenzie, Elea berusaha sekuat tenaga menyadarka...