Loading...
Logo TinLit
Read Story - The Alpha
MENU
About Us  

      "Mau jajan, nggak?" Reza mengajakku ke kantin begitu bel istirahat berbunyi dan guru meninggalkan kelas.

      Menutup buku, aku menggeleng. "Aku bawa bekal."

      "Aku nggak dibawain?" tanya Reza murung.

      "Emang kamu belum makan?" sahutku.

      Biasanya aku membuat dua bekal setiap hari, jaga-jaga kalau Reza belum sarapan. Tapi kemarin Ibu memberikan makanan lebihan dari pesanan katering pada Reza, Masnyur, dan Beni. Seharian kemarin juga mereka main di rumah Reza dan membeli banyak camilan. Jadi kukira ia punya banyak stok makanan di rumah.

      "Udah, sih. Tumbenan aja kamu nggak bawa bekal lebih." gumam Reza. "Ya udah, mau nitip sesuatu dari kantin?"

     "Za, hayu keburu penuh!" Beni berseru dari daun pintu.

     "Nggak, Za. Sok kamu aja jajan sana."

     "Oke," ujar Reza lalu meninggalkanku.

      Begitu Reza pergi, aku mengecek ponsel. Selama pelajaran berlangsung, diam-diam aku mengecek ponselku untuk melihat balasan dari Ale. Untung saja Bu Suryati tidak memperhatikanku dan fokus pada laptop setelah memberikan kami tugas.

      Sejak kemarin, kami tidak berhenti saling mengirim pesan. Kecuali saat tidur dan saat Ale menyetir. Katanya ia mau mengantar ibunya pergi belanja. Hari ini, ia bilang terlambat masuk sekolah karena bangun kesiangan dan menyalahkanku karena tidak membangunkannya. Hal itu membuatku tersipu dan salah tingkah sendiri.

       Ale: lagi istirahat ya? jajan apa?

      Winda: *foto bekal* aku bawa bekal

      Ale: *foto bakso* baso di sini paling enak satu sekolah. kapan2 kamu harus coba.

      Winda: kan aku ga sekolah di sana?

      Ale: ya gapapa. nanti aku yang ajak ke sini

     Winda: emang boleh?

     Ale: buat kamu, apa sih yang ga boleh

     Salah tingkah. Lagi.

      Aku lupa kapan terakhir kali sering intens chattingan dengan cowok selain Reza. Rasa-rasanya waktu SMP. Itu juga hanya berlangsung beberapa minggu dan malu-malu.

      "Hayo kalau senyum-senyum gini pasti lagi chattingan sama cowok nih!" Dika tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku, membuatku terperanjat.

      "Ih, bikin kaget aja!" aku menggerutu. Dengan cepat aku menyimpan ponsel ke dalam saku. "Kamu nggak ikut ke kantin?"

      Dika menggeleng. "Dibawain bekel lah," ujarnya sumringah sambil memamerkan kotak bekal transparan yang isinya nasi goreng.

      Aku mencibir. "Cewek yang mana nih yang bawain bekal hari ini?"

      "Cewek yang bekalnya ditolak Reza." jawab Dika datar.

      Hah?

      Melihat kebingunganku, Dika berkata lagi. "Kamu memangnya nggak tahu kalau cewek-cewek banyak yang rela bikinin Reza bekal supaya dapet perhatian dia?"

       "Iya gitu? Kukira memang mereka bawa bekal sengaja buat geng kalian."

       "Ya engga lah. Cuma bekal kamu aja yang mau Reza makan. Jadi sisanya dikasih ke kita-kita, deh." jelas Dika.

      Aku kehabisan kata-kata. Sejujurnya aku tidak pernah punya niatan mencari perhatian Reza atau membuat cewek-cewek lain kecewa karena usaha mereka ditolak. Kukira para cewek itu memang sengaja memberikan makanan pada geng Reza agar bisa menjadi populer atau setidaknya dikenali oleh para cowok populer itu. Tapi aku tidak tahu kalau sebenarnya mereka hanya memberikan perhatian kepada Reza.

      "Hari ini dia uring-uringan tuh nggak dibawain makanan sama kamu."

      "Ah masa sih?" tanyaku menyembunyikan rasa tidak nyaman.

      Dika menghela nafas. Ia menggerutu. "Kamu ini pura-pura polos atau emang beneran nggak tahu, sih? Si Reza tuh sukanya sama kamu!"

      "Nggak mungkin, ah! Itu mah karena kita temenan udah lama aja." aku berkilah.

      Masih banyak cewek-cewek lebih cantik dan modis daripada aku di sekolah. Reza bisa dengan mudah memilih mereka. Kalau aku sih tidak mungkin masuk ke dalam radar Reza. Lagipula kita berteman sejak kecil. Wajar kalau Reza merasa dekat denganku dan memberiku perhatian lebih. Apalagi kita sekarang tetangga.

      "Ya sudah kalau belum mau percaya." Dika mengalah.

      Tidak lama, Reza, Mansyur, dan Beni kembali ke kelas. Begitu mataku dan Reza bertemu, ia menghampiri mejaku dan memberikan seporsi dimsum. Bisa kurasakan Dika berjalan mundur satu langkah dan menepuk bahuku.

      "Teh Yeni jualan dimsum lagi, nih. Kamu 'kan kemarin-kemarin nanyain. Katanya anaknya sakit jadi beberapa hari kemarin nggak jualan."

       Bisa kurasakan Dika berdeham di belakangku.

      Aku mulai cemas kalau yang Dika katakan benar. Tapi sebagian diriku masih denial karena aku tahu Reza bahkan sejak kami kecil.

                                                                                                    ****

     Keningku berkerut saat melihat mobil mewah asing terparkir di depan rumah. Aku tidak tahu merek mobilnya, tapi kupikir itu pasti pelanggan Ibu yang memesan katering. Setelah memberikan helm kepada pengemudi ojol, aku berterima kasih lalu masuk ke dalam rumah. Hari ini Reza latihan futsal dan aku tidak ada jadwal teater. Maka dari itu aku pulang duluan karena tidak mau menunggu Reza sampai sore.

      Masuk ke dalam rumah, aku melihat seorang wanita cantik duduk di ruang tamu. Mungkin seumuran dengan Ibuku. Hanya saja tampilannya begitu modis dan sangat memperlihatkan kalau beliau ini orang berada. Di sampingnya ada seorang laki-laki yang sepertinya masih muda....eh tunggu dulu.

      "Winda?"

      "Ale?" tanyaku dan cowok itu bersamaan.

      "Jangan bilang aku pesen katering di Ibu kamu?"

      Wanita di samping Ale menyahut. "Kalian saling kenal?"

      Aku hanya tersenyum sambil mengangguk sementara Ale menjawab. "Dia yang bantuin aku cariin handphone-ku kemarin, Ma."

      Jadi wanita ini Mama Ale.

      "Saya Winda, Tante." aku menghampiri Mama Ale lalu mencium tangannya.

      Tidak lama, Ibu datang dari dalam rumah membawa katalog yang pernah aku buatkan untuk melihat menu-menu masakan. Begitu melihatku sudah pulang, Ibu bertanya. "Nggak pulang sama Reza?"

      Mencium tangan Ibu, aku menjawab. "Dia latihan futsal."

      "Reza anak Taruna? Kamu sekolah di Taruna juga?"

      "Kamu kenal Reza?" tanyaku pada Ale.

      Ale menggeleng. "Engga, cuma pernah ketemu waktu tanding futsal aja."

      "Oh," responku singkat.

      Begitu Ibu dan Mama Ale berdiskusi tentang menu makanan, aku izin pergi ke kamar untuk mengganti baju. Saat sedang di kamar, ponselku berbunyi singkat.

      Ale: boleh minta tolong ga?

      Winda: apa?

      Ale: temenin di luar dong. aku bingung sendirian di teras. tau rumahmu di sini, aku jemput tadi biar pulang bareng.

      Lagi-lagi pipiku memanas. Segera saja aku mengganti baju dengan baju yang lebih rapi. Biasanya aku hanya memakai kaus dan celana belel. Tapi entah kenapa kali ini aku memilih pakaian yang biasa aku pakai untuk pergi. Kulihat cermin untuk memastikan wajahku tidak belepotan oleh minyak dan debu kendaraan.

       Saat keluar kamar, kulihat Ibu dan Mama Ale masih mengobrol. Aku membungkukan badan lalu berjalan ke teras. Ale sedang duduk di kursi rotan yang ada di luar sambil bermain ponsel.

      "Kamu sekolah di Bina Bakti?" tanyaku sambil memperhatikan seragam merah-abu khas sekolah tersebut.

      Ale mengangguk. "Ya, kelas dua belas."

      "Berarti kita seangkatan juga ya."

      Aku duduk di kursi kosong di samping Ale. "Kok bisa sampai pesan nasi di Ibuku? Kukira mau pesan lewat aku."

      "Niat awalnya sih begitu. Tadinya juga aku masih mau pesan di kamu kok untuk hari Jumat. Daerah rumahku suka ngadain Jumat Berkah. Aku suka ikutan. Tapi ibuku bilang temennya kasih rekomendasi katering daerah sini. Katanya enak, terus murah lagi. Yaudah aku mau ngecek dulu. Eh ternyata memang kita jodoh." jelas Ale.

      Tahan! Jangan salah tingkah dan bikin ilfeel! batinku memperingatkan.

      "Jadi kamu pesan buat hari Jumat, nih?"

      Ale mengangguk. "Kalau buat aku hari Jumat. Tapi Mama mau pesan untuk acara arisan hari Sabtu."

      "Wah, lembur nih aku." gumamku bercanda.

      Tiba-tiba Ale melihatku dengan tatapan kecewa. "Kalau gitu nggak bisa ajak kamu main dong ya malem Minggu?"

      Deg.

      Aku hanya tersenyum kecil. Dalam hati, aku sangat ingin pergi dengan Ale. Tapi aku tahu pasti harus membantu Ibu. Biasanya kalau Reza sih memilih menghabiskan waktu di rumah sambil sesekali membantu aku bekerja kalau akhir pekanku sibuk dengan pesanan. Tapi masa iya aku meminta Ale melakukan hal sama? Gimana kalau Reza tahu?

       "Kamu tahu nggak alasan sekolah kita musuhan?" tanyaku tiba-tiba. Tapi Reza tidak pernah memberi jawaban memuaskan selain sudah tradisi turun-temurun.

       Kulihat Ale terdiam, seperti keberatan untuk menjawab. Mungkin ia juga akan mengatakan hal yang sama seperti Reza?

       "Setahuku, memang banyak masalah antara murid di sekolah kita. Semuanya bertumpuk-tumpuk sampai akhirnya sering terjadi percekcokan bahkan adu fisik." jawab Ale.

       "Masalah apa aja?"

       Ale terkekeh. "Kamu penasaran banget. Biasanya anak kelas dua belas udah tahu beberapa masalahnya."

      "Aku baru pindah ke sini." jawabku datar.

      "Oh, pantesan." Ale menyahut. Kemudian ia bicara lagi. "Ya biasa masalah tongkrongan. Kadang juga masalah cewek."

      Aku tertawa singkat. "Dasar cowok."

      "Eh, cewek juga sama aja! Rebutan cowok!" Ale berkilah.

      "Jangan-jangan kamu juga pernah lagi?" tanyaku bercanda.

      "Tergantung," jawab Ale tidak tentu.

      Aku memperhatikan wajah Ale dengan keheranan. "Kok tergantung?"

      Diam sejenak, seperti sengaja membuatku pensaran. Kemudian Ale berkata, "Tergantung dari Reza itu pacarmu atau bukan. Kalau Reza pacar kamu, berarti aku juga bakal rebutan cewek sama anak Taruna."

      Aku yakin Ale pasti menyadari wajahku yang sudah memerah sekarang. Duh, kenapa sih aku ini?! ***

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Goddess of War: Inilah kekuatan cinta yang sesungguhnya!
7744      2185     5     
Fantasy
Kazuki Hikaru tak pernah menyangka hidupnya akan berubah secepat ini, tepatnya 1 bulan setelah sekembalinya dari liburan menyendiri, karena beberapa alasan tertentu. Sepucuk surat berwarna pink ditinggalkan di depan apartemennya, tidak terlihat adanya perangko atau nama pengirim surat tersebut. Benar sekali. Ini bukanlah surat biasa, melainkan sebuah surat yang tidak biasa. Awalnya memang H...
Cinta Sebatas Doa
694      504     0     
Short Story
Fero sakit. Dia meminta Jeannita untuk tidak menemuinya lagi sejak itu. Sementara Jeannita justru menjadi pengecut untuk menemui laki-laki itu dan membiarkan seluruh sekolah mengisukan hubungan mereka tidak lagi sedekat dulu. Padahal tidak. Cukup tunggu saja apa yang mungkin dilakukan Jeannita untuk membuktikannya.
Oh, My Psychopaths CEO!
1584      1128     2     
Romance
Maukah kau bersama seorang pembunuh gila sepertiku?
A Day With Sergio
2223      1062     2     
Romance
Pensil HB dan Sepatu Sekolah
177      162     1     
Short Story
Prosa pendek tentang cinta pertama
After School
4724      2040     0     
Romance
Janelendra (Janel) bukanlah cowok populer di zaman SMA, dulu, di era 90an. Dia hanya cowok medioker yang bergabung dengan geng populer di sekolah. Soal urusan cinta pun dia bukan ahlinya. Dia sulit sekali mengungkapkan cinta pada cewek yang dia suka. Lalu momen jatuh cinta yang mengubah hidup itu tiba. Di hari pertama sekolah, di tahun ajaran baru 1996/1997, Janel berkenalan dengan Lovi, sang...
LUCID DREAM
683      496     0     
Short Story
aku bertemu dengan orang yang misterius selalu hadir di mimpi walapun aku tidak kenal dengannya. aku berharap aku bisa kenal dia dan dia akan menjadi prioritas utama bagi hidupku.
Benang Merah, Cangkir Kopi, dan Setangan Leher
343      285     0     
Romance
Pernahkah kamu membaca sebuah kisah di mana seorang dosen merangkap menjadi dokter? Atau kisah dua orang sahabat yang saling cinta namun ternyata mereka berdua ialah adik kakak? Bosankah kalian dengan kisah seperti itu? Mungkin di awal, kalian akan merasa bahwa kisah ini sama seprti yang telah disebutkan di atas. Tapi maaf, banyak perbedaan yang terdapat di dalamnya. Hanin dan Salwa, dua ma...
Love Rain
23146      4370     4     
Romance
Selama menjadi karyawati di toko CD sekitar Myeong-dong, hanya ada satu hal yang tak Han Yuna suka: bila sedang hujan. Berkat hujan, pekerjaannya yang bisa dilakukan hanya sekejap saja, dapat menjadi berkali-kali lipat. Seperti menyusun kembali CD yang telah diletak ke sembarang tempat oleh para pengunjung dadakan, atau mengepel lantai setiap kali jejak basah itu muncul dalam waktu berdekatan. ...
Kisah di Langit Bandung
4049      1969     0     
Romance
Tentang perjalanan seorang lelaki bernama Bayu, yang lagi-lagi dipertemukan dengan masa lalunya, disaat ia sudah bertaut dengan kisah yang akan menjadi masa depannya. Tanpa disangka, pertemuan mereka yang tak disengaja kala itu, membuka lagi cerita baru. Entah kesalahan atau bukan, langit Bandung menjadi saksinya.