Loading...
Logo TinLit
Read Story - The Alpha
MENU
About Us  

      "Hari ini pulang sendiri lagi nggak apa-apa?" tanya Reza begitu bel pulang sekolah berbunyi. "Atau mau nunggu aku beres latihan?"

      Aku yang sedang merapikan barang-barang ke dalam tas menggeleng. "Pulang sendiri aja. Lagian aku harus belanja juga jadi nggak bisa pulang terlalu sore."

      "Reza!" suara seorang cewek dari daun pintu.

      Aku dan Reza menoleh berbarengan dan melihat Sasha berdiri di pintu. Saat kami sudah menyadari keberadaannya, Sasha berjalan mendekat. "Hari ini latihan kayak biasa, 'kan?" tanyanya dengan nada riang.

      Reza mengangguk satu kali. "Iya."

      "Ya udah aku istirahat dulu ya. Mau nitip sesuatu, nggak?"

      "Enggak. Makasih." jawab Reza datar.

     Begitu Sasha pergi, aku menepuk pelan lengannya. "Ketus banget sih jadi orang. Nanti Sasha ngambek gimana?"

      "Kenapa harus ngambek?" tanya Reza bingung.

      Aku menggerutu. "Ya, nggak tahu. Siapa tahu aja dia ngambek karena kamu ketus sama dia. Terus karena liat kamu bareng aku."

      "Lah! Hak aku dong?! Memangnya dia siapa aku?" protes Reza mengomel.

      Calon pacar mungkin? batinku bergumam. Tapi aku memilih diam dan tidak menjawab. Setelah barang-barangku rapi di dalam tas, aku berjalan keluar kelas diikuti oleh Reza.

      "Ya udah kamu sok istirahat sana. Nggak ganti baju?"

      "Mau anterin kamu dulu ke gerbang."

      Aku mencibir. "Nggak akan nyasar kali! Udah ah sana! Nanti aku dimarahin temen-temen kamu. Dikiranya aku yang nahan-nahan kamu di sini." ujarku mendorong pelan Reza agar menjauh dariku.

       Reza menggerutu sambil menahan lenganku. "Ih, kok nggak mau banget deket sama aku? Takut ada yang marah ya?"

       Jantungku seakan berhenti berdetak.

       Tidak ada yang marah tentu saja. Aku tidak ada hubungan dengan siapapun. Reza juga teman dan tetanggaku. Wajar kalau kami lebih dekat daripada hubunganku dengan teman-teman yang lain. Tapi kepalaku langsung memunculkan wajah Ale dan kalimatnya kemarin.

       Kalau Reza pacar kamu, berarti aku juga bakal rebutan cewek sama anak Taruna.

       Apa maksudnya dia memberitahu perasaannya padaku? Ah, nggak mungkin sih! Mungkin memang Ale cuma iseng aja menjahiliku. Tapi kalau iya...?

       "Za! Hayu atuh ulah bobogohan wae!" seru Beni dari lapang.

       "Tuh, sana! Udah dipanggil Beni tuh!" perintahku pada Reza.

       Akhirnya Reza menurut dan meninggalkanku untuk menghampiri teman-temannya. Teman satu timnya sudah berkumpul dan melakukan pemanasan di lapang.

       "Kabarin aku kalau ada apa-apa ya!" seru Reza sebelum berjalan menjauh.

       Aku mengangguk sambil mengacungkan jempol. Setelah Reza berkumpul dengan teman-temannya, aku berjalan menuju gerbang utama. Begitu aku mengambil ponsel untuk memesan ojol, ternyata sudah ada notifikasi pesan dari Ale.

       Ale: pulang sama siapa? aku di deket sekolah kamu nih

       Lah? Kok berani-beraninya anak Bina Bakti ada di sekitaran SMA Taruna?

       Saat aku hendak menjawab pesannya, tiba-tiba Ale menghubungiku.

       "Halo?" sapaku.

       "Ayo naik!"

       "Kamu di mana?" tanyaku kebingungan. Aku celingak-celinguk mencari keberadaan Ale.

       "Liatnya lurus ke depan. Aku di jalan dekat pertigaan."

        Begitu aku mengikuti arahan Ale, aku bisa melihat sosok pria dengan motor besar di ujung jalan. Samar-samar aku bisa melihat motif seragamnya yang tidak tertutup jaket. Ale lalu melambaikan tangannya padaku.

       Aku berjalan ke arahnya sambil waspada. Entah mengapa aku takut ada orang yang menyadari kalau ada anak Bina Bakti bersamaku. Meski aku tidak tahu bagaimana interaksi para cowok dua sekolah itu jika di luar, tapi aku tidak mau ambil risiko. Aku tidak mau membuat runyam hubungan antar sekolah yang memang sudah buruk.

       "Kok ada di sini?" tanyaku begitu sampai di hadapan Ale.

       "Sengaja. Mau pulang bareng kamu." jawab Ale dengan senyum simpul. Hal itu membuat jantungku sukses berdetak dua kali lebih cepat.

       "Aku mau ke pasar dulu beli pesanan Ibu. Jadi mau naik ojol aja." ujarku.

       Ale langsung saja mencegahku. "Terus ngapain aku ke sini kalau kamu naik ojol? Aku anterin 'kan bisa."

       Ragu, aku menjawab. "Yakin mau anter aku ke pasar?"

       "Anterin kamu ke Jogja juga aku mah hayu."

       "Gombal banget!" cibirku sambil menahan diri untuk tidak tersipu.

       Ale terkekeh. Ia kemudian memberikan helm padaku. "Nih, ayo naik. Takut keburu macet."

      Tidak sampai dua puluh menit, kami sampai di pasar terdekat dari sekolahku. Aku menyuruh Ale menunggu di supermarket atau kedai kopi terdekat sementara aku belanja. Tapi cowok itu bersikeras untuk ikut ke dalam pasar denganku.

       "Panas, Ale. Sempit lagi lorong-lorongnya. Badan kamu 'kan tinggi." sergahku.

       "Udah, ah ayo! Lagian ke pasar doang mah aku juga sering." kilah Ale malah menarik tanganku untuk masuk ke dalam pasar.

       Akhirnya aku pasrah saja mengikuti keinginannya. Meski cukup deg-degan dan kikuk karena harus berbelanja dengan Ale, tapi cowok itu malah seakan menikmati berdesakan di pasar. Memang sih keadaan pasar tidak begitu ramai. Tapi tubuhnya yang tinggi besar terlihat tidak leluasa bergerak di lorong-lorong pasar yang sempit. Belum lagi beberapa kali aku melihat kepalanya menabrak barang-barangnya yang digantung.

      "Hati-hati!" kekehku melihat Ale lagi-lagi terbentur.

      "Siapa yang ngegantung pisang di sini sih?!" gerutunya sambil mengusap kepala.

      "Sakit, nggak?" tanyaku. Otomatis tanganku memegang keningnya. Bagian kening Ale berubah kemerahan.

      Ale malah tersenyum lebar. "Langsung sembuh soalnya udah dipegang sama kamu."

      "Hih!" omelku langsung melepaskan tanganku dari keningnya. "Udah ah. Yuk pulang."

      Langsung saja Ale membawakan kantung belanjaan yang sebenarnya bisa aku bawa sendiri dan mempersilakanku untuk berjalan duluan. "Mau makan dulu, nggak? Atau beli sesuatu buat di rumah?" tanyanya saat kami berjalan menuju parkiran.

      Aku menggeleng. "Ibu pasti masak di rumah. Kamu mau beli sesuatu?"

      "Aku pengen beli martabak, sih. Tapi jam segini kayaknya belum pada buka deh." gumam Ale.

      Melirik jam tangan, aku mengangguk. Kalau tukang martabak sih baru buka sekitar satu atau dua jam lagi. "Ganti apa, dong?"

      Berpikir sejenak, Ale kemudian menjawab. "Temenin aku beli Mekdi aja gimana? Yang deket-deket sini aja sambil jalan ke arah rumahmu."

     "Ya udah. Tapi take away aja ya? Aku takut Ibu nunggu." sahutku.

     "Siap, komandan." seru Ale sambil memberikan helm padaku.

     Perjalanan menuju rumahku mulai padat karena sudah masuk jam pulang kerja. Setelah membeli McDonald lewat drive-thru, kami bergegas kembali menyusuri jalan karena Ibu sudah meneleponku. Tak kusangka, Ale mengendarai motornya lebih cepat dari sebelumnya.

     "Ale! Jangan nyalip-nyalip ih!" jeritku memegang erat-erat jaketnya. Aku tidak berani memegang pinggangnya, apalagi sampai memeluknya.

      "Makanya pegangan yang bener!" seru Ale di balik helm full face-nya.

      Pegangan ke mana lagi? Batinku bertanya dengan panik.

     Saat sedang bingung di jok belakang, tiba-tiba Ale menyalip sebuah truk besar dengan kecepatan tinggi. Sontak aku segera memeluk pinggangnya dan memejamkan mata. Hawa panas dan suara mesin truk seketika mengenai wajahku.

      "Ya ampun! Ale! Aku masih mau lulus SMA!" omelku masih memejamkan mata.

      Kudengar tawa Ale yang terbawa angin. "Tenang aja! Aman kok sama aku. Asal kamu pegangannya kayak gini."

      Kupukul bahunya pelan. "Dasar cowok! Ada aja akalnya!"

      "Aku ngebut lagi nih?" ancam Ale yang aku tahu hanya menggertak.

      "Kamu pembalap ya? Jangan-jangan anak geng motor?" tanyaku.

      Belum sempat kudengar jawabannya, Ale sudah siap untuk menyalip lagi kendaraan di depan. Otomatis aku kembali memeluk pinggangnya lebih erat. Kuharap Ale tidak mendegar detak jantungku yang kini berdetak dua kali lebih cepat. Pertama, karena adrenalin dari kebut-kebutan di jalan. Kedua, karena aroma parfum Ale yang memenuhi hidungku saat aku memegang erat padanya entah mengapa membuatku tiba-tiba menjadi gugup dan deg-degan.***

       

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Kuncup Hati
789      564     4     
Short Story
Darian Tristan telah menyakiti Dalicia Rasty sewaktu di sekolah menengah atas. Perasaan bersalah terus menghantui Darian hingga saat ini. Dibutuhkan keberanian tinggi untuk menemui Dalicia. Darian harus menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Ia harus mengungkapkan perasaan sesungguhnya kepada Dalicia.
GLACIER 1: The Fire of Massacre
1296      977     2     
Fantasy
[Fantasy - Tragedy - Action] Suku Glacier adalah suku yang seluruhnya adalah perempuan. Suku damai pengikut Dewi Arghi. Suku dengan kekuatan penyegel. Nila, anak perempuan dari Suku Glacier bertemu dengan Kaie, anak laki-laki dari Suku Daun di tengah serangan siluman. Kaie mengantarkannya pulang. Namun sayangnya, Nila menjatuhkan diri sambil menangis. Suku Glacier, terbakar ....
The Skylarked Fate
9771      3611     0     
Fantasy
Gilbert tidak pernah menerima takdir yang diberikan Eros padanya. Bagaimanapun usaha Patricia, Gilbert tidak pernah bisa membalas perasaannya. Seperti itu terus pada reinkarnasi ketujuh. Namun, sebuah fakta meluluhlantakkan perasaan Gilbert. Pada akhirnya, ia diberi kesempatan baru untuk berusaha memperbaiki hubungannya dengan Patricia.
TWINS STORY
1677      921     1     
Romance
Di sebuah mansion yang sangat mewah tinggallah 2 orang perempuan.Mereka kembar tapi kayak nggak kembar Kakaknya fenimim,girly,cewek kue banget sedangkan adiknya tomboynya pake banget.Sangat berbeda bukan? Mereka adalah si kembar dari keluarga terkaya nomor 2 di kota Jakarta yaitu Raina dan Raina. Ini adalah kisah mereka berdua.Kisah tentang perjalanan hidup yang penuh tantangan kisah tentang ci...
REMEMBER
5274      1863     3     
Inspirational
Perjuangan seorang gadis SMA bernama Gita, demi mempertahankan sebuah organisasi kepemudaan bentukan kakaknya yang menghilang. Tempat tersebut dulunya sangat berjasa dalam membangun potensi-potensi para pemuda dan pernah membanggakan nama desa. Singkat cerita, seorang remaja lelaki bernama Ferdy, yang dulunya pernah menjadi anak didik tempat tersebut tengah pulang ke kampung halaman untuk cuti...
Ada Apa Esok Hari
416      313     0     
Romance
Tarissa tak pernah benar-benar tahu ke mana hidup akan membawanya. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali tak ramah, ia hanya punya satu pegangan: harapan yang tak pernah ia lepaskan, meski pelan-pelan mulai retak. Di balik wajah yang tampak kuat, bersembunyi luka yang belum sembuh, rindu yang tak sempat disampaikan, dan cinta yang tumbuh diam-diamtenang, tapi menggema dalam diam. Ada Apa E...
HADIAH PALING BERHARGA
654      456     4     
Short Story
Seorang wanita yang tidak bisa menerima kenyataan, keharmonisannya berubah menjadi kebencian, sebuah hadiah yang mengubah semua hal tentangnya .
Mendung (Eccedentesiast)
11862      3659     0     
Romance
Kecewa, terluka adalah hal yang tidak bisa terhindarkan dari kehidupan manusia. Jatuh, terpuruk sampai rasanya tak sanggup lagi untuk bangkit. Perihal kehilangan, kita telah belajar banyak hal. Tentang duka dan tentang takdir yang kuasa. Seiring berjalannya waktu, kita berjalan maju mengikuti arah sang waktu, belajar mencari celah kebahagiaan yang fana. Namun semesta tak pernah memihak k...
Mari Collab tanpa Jatuh Hati
5656      2364     2     
Romance
Saat seluruh kegiatan terbatas karena adanya virus yang menyebar bernama Covid-19, dari situlah ide-ide kreatif muncul ke permukaan. Ini sebenarnya kisah dua kubu pertemanan yang menjalin hubungan bisnis, namun terjebak dalam sebuah rasa yang dimunculkan oleh hati. Lalu, mampukah mereka tetap mempertahankan ikatan kolaborasi mereka? Ataukah justru lebih mementingkan percintaan?
Why Joe
1467      790     0     
Romance
Joe menghela nafas dalam-dalam Dia orang yang selama ini mencintaiku dalam diam, dia yang selama ini memberi hadiah-hadiah kecil di dalam tasku tanpa ku ketahui, dia bahkan mendoakanku ketika Aku hendak bertanding dalam kejuaraan basket antar kampus, dia tahu segala sesuatu yang Aku butuhkan, padahal dia tahu Aku memang sudah punya kekasih, dia tak mengungkapkan apapun, bahkan Aku pun tak bisa me...