Loading...
Logo TinLit
Read Story - MY MERMAN.
MENU
About Us  

      Angin berhempus  kencang  menerpa tubuh seorang gadis, yang mengenakan sweater berwarna merah  maroon. Dia melangkahkan  kaki keluar dari  sebuah rumah yang bernuansa klasik modern.  Dindingnya berwarna coklat muda, dengan dua pilar besar yang elegan. Pekarangannya yang dipenuhi dengan bunga. Nampaknya, pemilik rumah menyukai bunga matahari, terlihat banyak bunga matahari disetiap sudutnya.  Sesekali matanya yang hitam legam dan teduh itu melihat kearah langit. Gadis yang bernama Anna itu, menyukai suasana cerah seperti ini. Begitu menyenangkan. Dia menghembuskan nafas lembut seakan dunianya  akan lebih baik. Seorang sopir membukakan pintu mobil, lalu Anna melangkah masuk dalam mobil. Tanpa disadari matanya mengeluarkan bulir-bulir air mata.

      Mobil jeep berhenti tepat disebuah rumah sederhana yang berada di dekat pantai. Anna turun seraya menghirup udara segar. Rasa penatnya hilang seketika. Suara desiran ombak dan warna langit yang cerah begitu menenangkan. Ketika Anna membuka pintu mobil, dia telah disambut oleh neneknya. Dia langsung memeluk neneknya. Dia menangis sesegukan. Nenek sukma membalas pelukan cucunya itu, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“Maafkan Anna.” Ucap Anna lirih.

“Bukan salah kamu. Mulai sekarang jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri ya nak.” Jawab nenek Sukma sembari mengelus rambut panjang Anna.

 

###

 

      Anna merasakan cahaya matahari masuk melalui celah jendela. Dia melangkahkan kakinya untuk membuka jendela. Pagi ini begitu cerah. Dia menyiapkan diri untuk sekolah. Anna berdiri disebuah kaca sambil tersenyum, berharap hari pertamanya sekolah itu menyenangkan. Dia hanya perlu menunggu satu tahun untuk lulus, sehingga tidak ada lagi alasan untuk bermalas-malasan.

      Anna memasuki lorong yang begitu panjang di sekolah barunya. Dia akhirnya dapat menemukan kelasnya. Dia masuk kelas, lalu  memperkenalkan diri. Bu Sintia, wali kelasnya, menyuruh Anna duduk didekat seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu sedari tadi menunduk tanpa mengiraukan kehadiran Anna.

“Namaku Anna. Kamu siapa?” Tanya Anna memecahkan suasana canggung.

“Aku bisma.”  Jawab Bisma singkat.

      Bel berbunyi tanda kalau kelas telah usai. Anna mengemas barang-barangnya, begitu pula dengan anak lainnya. Dia bangkit dari bangku. Namun, tiba-tiba Bisma menarik tangannya. Anna memutar bola matanya yang hitam. Anna bingung. Bisma membawanya ke pantai. Mereka duduk di bawah pohon yang rindang.

“HEI !!! Bisakah sedikit lebih sopan? Kalau mau mengajak pergi orang, tanyakan ke orangnya dulu mau apa tidak. Jangan main seret.” Teriak Anna.

“Oh iya. Maaf.” Jawab Bisma lembut.

      Suaranya begitu melelehkan hati. Anna diam membeku. Lalu, Bisma menatapnya. Anna semakin canggung. Wajah Bisma bersinar, kulitnya bersih walaupun berwarna coklat. Dia memiliki rahang yang tegas dan hidung yang mancung. Dengan mata berwarna hijau, tatapannya begitu tajam. Ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Anna memanas dan memerah dikedua pipinya, lalu mencengkram tasnya dengan erat.

“Ahh, ya. Kamu cucunya nenek sukma kan?” Tanya  Bisma memecahkan keheningan.

“I...iya.” Jawab Anna gugup.

“Aku turut berduka cita ya. Atas meninggalnya orang tua kamu.”

“Ya. Terima kasih. Ohh ya, kenapa kamu mengajak aku kesini?”

“Ahh itu. Kita kan tetanggaan terus pulangnya sejalur. Tidak ada salahnya kan kita mampir kesini dulu.”

     Anna mengangguk mengerti. Mereka menghabiskan waktu disana. Bisma menceritakan semua hal yang terkait dengan desanya. Mereka bahkan tertawa bersama untuk pertama kali.

###

 

     Suasana di pesisir berbeda dengan di kota dulu. Dia selalu merasa aman di sana walaupun tahu bahwa suatu saat ombak bisa berbahaya. Tetapi, dia percaya ombak tak akan pernah melukainya. Dia begitu menikmati sekolahnya. Bisma selalu membantunya dan berada disampingnya. Seperti biasanya sepulang sekolah mereka berada di pantai.

“Nih, minuman dinginnya.” Kata Bisma sambil memberikannya pada Anna.

“Makasih Bis.” Jawab Anna.

“Ya. Omong-omong setelah lulus kamu ingin kemana?”

“Aku ingin melanjutkan kuliah ke kota, terus bekerja disana, terus nikah. Kalau kamu?”

“Entahlah aku bingung. Aku tidak bisa jauh-jauh dari laut. Memang kamu mau nikah sama siapa? Memang ada yang mau sama kamu.” Ledek Bisma.

“Ledekin aja terus. Banyak lah, aku kan cantik. Pasti nanti calon suamiku keren, mapan , terus setia lagi.”

“Iya-in aja deh. Anna, kamu percaya kalau di dunia ini ada duyung?”

“Haishh, omong kosong apa lagi. Mereka itu tidak ada hanya dongeng saja.”

“Aku percaya kalau mereka ada.”

“Memang ada loh. Aku kan putri duyung. Lihat aku kan cantik?”

      Bisma hanya tertawa lepas mendengakan perkataannya. Sejak pertemuan pertama kali dengan  Anna. Bisma selalu memikirkannya sebelum pergi tidur hingga membuka mata dipagi hari. Seberapa dia menolak, wajah Anna selalu ada dibayangannya. Bisma mulai berharap. Ya, mulai berharap bisa hidup berdampingan. Dengan segenap hatinya, berkata seperti itu sepanjang waktu.

Tapi, mengapa ia diam-diam menatapku lagi dan lagi?

Dia tersenyum padaku. Aku dapat melihat binar di matanya.

Tidak seharusnya aku mempunyai perasaan begini.

Guman Bisma dalam hati. Ia yakin bahwa perasaannya akan  menghilang dengan sendirinya.

 

###

     Tampak matahari mulai menenggelamkan diri dengan anggun. Angin yang berjalan lembut dan deburan ombak,  menambah suasana menjadi romantis. Bisma mengambil segenggam pasir, lalu  melemparkannya ke laut. Dia menghela nafas. Entah apa yang akan terjadi jika Anna mengetahui dirinya yang sebenarnya. Ini salah, seharusnya dia mengatakan dari awal. Mungkin, Anna akan menganggapnya sebagai seorang monster, dan akan pergi dari hidupnya. Namun, itu akan melegakan hatinya. Tidak. Bukan sekarang. Dia akan menikmati kebersamaan bersama Anna hingga pengumuman kelulusan. Dia memejamkan mata untuk menguatkan hatinya.

“Heiii. Mata hijauuuuu.” Ucap Anna sambil mendorong Bisma sampai hampir tercebur ke air laut.

“Annaaaa.” Teriak Bisma kencang.

     Anna langsung lari.. Bisma langsung dapat menangkapnya dengan mudah. Karena, mempunyai kaki panjang. Namun, tiba-tiba Bisma kehilangan keseimbangnya. Anna terjatuh. Tentu saja terjatuh bersama dengan Anna. Mereka terjatuh pada posisi berpelukan. Anna menatapnya tanpa berkedip. Anna memeluknya dengan erat. Seakan-akan tak ingin melepaskannya.

“Ghmm. Haruskah kita seperti ini terus?” Tanya Bisma mengagetkan Anna.

     Tanpa menjawab Anna melepaskan pelukannya.

“Akui saja. Kamu suka kan sama aku?” Goda Bisma.

“Tadiii itu. Aku hanya takut terjatuh.” Jawab Anna gugup.

“Loh, bukannya kita memang terjatuh?”

“Maksudku itu. Ya, begitulah.”

“Bilang saja. Kamu memang mau peluk aku kan?”

     Anna bangkit tanpa menjawab pertanyaannya. Dia berlari meninggalkannya. Bisma yang saat itu masih disana, ia hanya tersenyum sendiri sambil memegang dadanya. Terasa sekali jika dadanya sedang tak baik karena berdetak begitu kencang.   

 

###

 

 

     Semenjak kejadian waktu itu, Anna menjadi dekat dengan Bisma.   Waktu berjalan begitu dengan cepat. Anna sekarang telah mendapatkan ijasahnya dan sedang menunggu pengumuman perguruan tinggi yang telah di daftarnya. Berbeda dengan Bisma yang masih santai. Mereka beberapa hari ini, begitu menikmati senja dan menghabiskan waktu dibibir pantai bersama.

“Hei!” ucap Bisma tersenyum sambil melambaikan tangan dari kejauhan.

     Anna menoleh. Senyuman Bisma membuat detak jantungnya tidak beraturan. Bisma datang bagai cahaya yang menerangi langkahnya, disaat hatinya suram. Mereka saling tahu. Jika mereka merasakan sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata.

“Hei. Kamu datang sedikit terlambat.” Jawab Anna.

“Yang biasanya terlambat siapa?” Cibir Bisma

     Anna menendang kaki bisma tanpa menjawab pertanyaan bisma.

“Anna, ada sesuatu yang ingin aku katakan?”

“Ya, silahkan katakan saja.”

“Sebenarnya aku  itu adalah duyung.”

“Haishhh, bercanda ya? Bercandaanmu itu gampang ketebak.”

     Byurr. Bisma segera terjun, menenggelamkan diri kedalam laut. Dia mengerakan tubuhnya mendekati Anna. Dia menunjukan ekornya. Anna terkejut dan tubuhnya bergetar hebat. Anna melangkahkan kakinya mundur sedikit demi sedikit walaupun langkahnya terasa berat.

“Jadi kamu itu duyung? Itu kan hanya dongeng? Bagaimana bisa?” Tanya Anna dengan penuh kebingungan dan ketidakpercayaan.

“Kamu tidak percaya bahwa kami itu ada? Bukankah kuasa Tuhan itu paling besar di semesta alam? Bahkan, Dia yang menghidupkan dan mematikan makhluk hidup di dunia.”

“Ba..ba.gaimana bisa kamu didarat?”

“Tuhan itu adil Anna. Kami diberi kesempatan hidup didarat sampai umur dua puluh tahun. Dengan syarat dimana sebulan sekali kami harus terjun ke laut.”

“Jadi, setelah umur segitu kamu harus tinggal di laut.”

     Tiba-tiba Bisma keluar dari dalam air dan menghampiri Anna. Mereka saling menatap. Mata Bisma berbicara bahwa dia ingin sebentar saja memeluknya sebelum malam ini berakhir. Dia juga ingin mengatakan bahwa menyukainya, namun dia sadar tak seharusnya menjadi egois. Dia memegang pipi Anna kemudian memeluknya dengan erat. Anna hanya diam membeku. Tak ada tanda seperti menerima maupun menolak.

“ Bagaimana jika kamu menemukan cinta sejati seperti di dongeng?” Tanya Anna.

“Hanya ada dua pilihan. Kembali kelaut atau menjadi buih seperti dongeng yang sering kita baca. Tidak ada manusia yang benar-benar peduli dengan makhluk lainnya. Cinta sejati manusia ke duyung itu hanya omong kosong. Bahkan,aku membaca di internet bahwa ada manusia yang ingin memakan daging duyung dan ia ingin hidup abadi. Bukankah mereka sangat serakah? Kenyataannya didunia ini tidak ada yang abadi.”

     Anna langsung memeluknya erat. Dia berharap jika Bisma tak akan meninggalkaannya. Rasanya baru kemarin bertemu dengannya, namun sekarang Anna harus melepaskannya. Tak ada yang dapat dilakukan untuknya. Dia akan melepaskannya pergi, dengan berharap dongeng itu tak akan terulang. Bisma tak akan pernah menjadi buih.

“Berjanjilah padaku. Kamu akan  terus hidup untukku  dan lupakanlah aku.” Ucap Bisma di dalam pelukan.

“Ya.” Jawab Anna lirih.

     Bisma melepaskan pelukannya. Dia melangkah semakin jauh, lalu menengelamkan dirinya ke dalam laut. Dia pergi bersama ombak malam itu dan kemudian menghilang. Anna seperti orang bodoh, masih berdiri sendiri di sana. Tatapanya begitu kosong. Seharusnya, Anna dapat mengucapkan selamat tinggal , namun entah mengapa mulutnya begitu sulit mengucapkan kata itu.

 

###

    

     Sudah empat tahun berlalu. Anna kembali ke kampung neneknya. Ada dua alasan Anna tidak mengunjungi tempat itu, yang pertama yaitu neneknya telah di bawa ke kota  dan yang kedua dia masih belum bisa melupakan masa lalunya. Anna masih ingat malam itu, terakhir kalinya melihat wajah tampannya yang sendu. Semenjak itu, dia tak pernah melihat maupun mendengar kabarnya lagi. Dia mengingatnya seperti sebuah janji. Janji bahwa akan hidup untuknya. Tetapi, dia tak dapat menepati janji yang kedua. Bagaimanapun dia menolak, akan terus memikirkannya. Berulang kali dia berusaha melupakannya, tetap saja mengingatnya.

     Hari ini, Anna datang ke tempat yang penuh dengan kenangan itu.  Anna masih memanggil namanya dalam hati. Dia merasakan air matanya jatuh menetes. Dia menatap kearah pohon rindang itu, tempat dimana mereka sering menghabiskan waktu bersamanya sewaktu masih sekolah dulu. Saat ini ada seorang lelaki duduk disana. Dia merasa jika orang tersbut adalah orang yang dirindukannya. Ia menajamkan pandangannya. Tentu saja bukan Ya, pasti hanya halusinasi saja.   

“Mbak, ini terumbu karangnya dipasang sekarang aja ya?” Tanya seorang salah satu aktifis.

“Oh iya. Nanti aja mas. Istirahat aja dulu. Pasti capek kan?” jawabku

“Iya mba. Siap.”

     Anna sekarang menjadi seorang aktivis. Menjaga alam adalah tugasnya. Ia ingin sekali melihat manusia berdamai dengan alam. Alam tidak akan jahat, jika manusia memperlakukan dengan semestinya. Bukan hanya melalui kata-kata ia telah membuktikannya melalui tindakan nyata.

     Tuhan mempertemukan dengan lelaki itu, mungkin mempunyai alasan tertentu. Perpisahan menjadikan Anna sadar bahwa di dunia ini tak ada yang abadi. Perpisahan itu pasti akan datang. Dia telah banyak mengalami perpisahan seperti orang tuannya dan seorang lelaki yang  dicintainya. Kata klise badai pasti berlalu, Anna mempercayainya. Jika, memang belum dapat melupakan, jangan mencoba memaksa. Waktu yang akan menjawabnya. Hanya perlu bersabar.

“Anna.”panggil seorang laki-laki.

     Anna menoleh kearah suara itu. Dia menatapnya dengan rasa tak percaya. Dia berlari menghampiri lelaki yang memiliki mata hijau itu.  Dia memeluknya sangat erat. Kali ini Anna tak akan melepaskan pelukannya. Tak akan pernah membiarkannya pergi lagi. I LOVE YOU, MY MERMAN.

How do you feel about this chapter?

0 1 1 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Here We Go Again
741      447     2     
Short Story
Even though it hurt, she would always be my favorite pain.
ATHALEA
1607      799     1     
Romance
Ini cerita tentang bagaimana Tuhan masih menyayangiku. Tentang pertahanan hidupku yang akan kubagikan denganmu. Tepatnya, tentang masa laluku.
WALK AMONG THE DARK
913      543     8     
Short Story
Lidya mungkin terlihat seperti gadis remaja biasa. Berangkat ke sekolah dan pulang ketika senja adalah kegiatannya sehari-hari. Namun ternyata, sebuah pekerjaan kelam menantinya ketika malam tiba. Ialah salah satu pelaku dari kasus menghilangnya para anak yatim di kota X. Sembari menahan rasa sakit dan perasaan berdosa, ia mulai tenggelam ke dalam kegelapan, menunggu sebuah cahaya datang untuk me...
Shut Up, I'm a Princess
1078      654     1     
Romance
Sesuai namanya, Putri hidup seperti seorang Putri. Sempurna adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Putri. Hidup bergelimang harta, pacar ganteng luar biasa, dan hangout bareng teman sosialita. Sayangnya Putri tidak punya perangai yang baik. Seseorang harus mengajarinya tata krama dan bagaimana cara untuk tidak menyakiti orang lain. Hanya ada satu orang yang bisa melakukannya...
My Noona
6683      1894     2     
Romance
Ini bukan cinta segitiga atau bahkan segi empat. Ini adalah garis linear. Kina memendam perasaan pada Gio, sahabat masa kecilnya. Sayangnya, Gio tergila-gila pada Freya, tetangga apartemennya yang 5 tahun lebih tua. Freya sendiri tak bisa melepaskan dirinya dari Brandon, pengacara mapan yang sudah 7 tahun dia pacariwalaupun Brandon sebenarnya tidak pernah menganggap Freya lebih dari kucing peliha...
Bye, World
9480      2376     26     
Science Fiction
Zo'r The Series: Book 1 - Zo'r : The Teenagers Book 2 - Zo'r : The Scientist Zo'r The Series Special Story - Bye, World "Bagaimana ... jika takdir mereka berubah?" Mereka adalah Zo'r, kelompok pembunuh terhebat yang diincar oleh kepolisian seluruh dunia. Identitas mereka tidak bisa dipastikan, banyak yang bilang, mereka adalah mutan, juga ada yang bilang, mereka adalah sekumpul...
Aria's Faraway Neverland
4719      1903     4     
Fantasy
"Manusia adalah Tuhan bagi dunia mereka sendiri." Aria adalah gadis penyendiri berumur 7 tahun. Dia selalu percaya bahwa dia telah dikutuk dengan kutukan ketidakbahagiaan, karena dia merasa tidak bahagia sama sekali selama 7 tahun ini. Dia tinggal bersama kedua orangtua tirinya dan kakak kandungnya. Namun, dia hanya menyayangi kakak kandungnya saja. Aria selalu menjaga kakaknya karen...
The Difference
10674      2719     2     
Romance
Diana, seseorang yang mempunyai nazar untuk berhijab setelah ada seseorang yang mengimami. Lantas siapakah yang akan mengimami Diana? Dion, pacar Diana yang sedang tinggal di Amerika. Davin, sahabat Diana yang selalu berasama Diana, namun berbeda agama.
Maroon Ribbon
693      531     1     
Short Story
Ribbon. Not as beautiful as it looks. The ribbon were tied so tight by scars and tears till it can\'t breathe. It walking towards the street to never ending circle.
Letter hopes
1368      791     1     
Romance
Karena satu-satunya hal yang bisa dilaukan Ana untuk tetap bertahan adalah dengan berharap, meskipun ia pun tak pernah tau hingga kapan harapan itu bisa menahannya untuk tetap dapat bertahan.