Loading...
Logo TinLit
Read Story - LATHI
MENU
About Us  

 

Monik buru-buru menutup pakaian Rina. Dia merasa hampir mati sekarang. Rasa sesak di dalam dadanya kini benar-benar sempurna. Jika saja saat ini dirinya sedang berada di pantai, dia pasti sudah akan berteriak-teriak dengan lantang. Monik melihat sekitar, dia tidak mau gegabah. Berulangkali dia menarik napas, lalu mengembuskan napasnya. Dia tidak peduli meski panas menjalar di sekujur tubuhnya.

 

Setelah agak tenang, Monik menekan bel untuk memanggil dokter dan perawat. Lagi-lagi dia meremas-remas tangannya karena merasa cemas. Terlebih ketika dokter dan perawat datang. Di satu sisi, dia ingin ibunya diautopsi. Akan tetapi, di sisi yang lain, dia masih tidak rela jika tubuh sang ibu dibelah, lalu diambil organ-organ tubuh bagian dalamnya.

 

Monik memejam. Dia menguatkan hati untuk mendapatkan kebenaran.

 

“Maaf, Nona Monik, mengapa Anda memanggil kami?” tanya dokter berusia pertengahan empat puluhan yang sejak tadi mengurus sang ibu.

 

“D-dokter, bolehkah saya meminta permohonan untuk melakukan autopsi pada mayat ibu saya?”

 

Dokter berperawakan tinggi besar itu terdiam. “Sebelumnya, tidak ada yang pernah meminta hal seperti ini sama saya. Apa alasan Anda meminta saya untuk mengautopsi Ibu Anda?”

 

“Dokter, bisakah Anda melihat luka-luka di tubuh Ibu saya?”

 

“Luka?”

 

“Ya.”

 

Dokter bernama Adrian itu segera memeriksa keseluruhan tubuh Rina. Pria itu memakai sarung tangan, lalu segera meraba bagian kepala. Secara tidak sengaja, dirinya menyentuh luka yang ada di bagian kepala bagian kanan. Darah Adrian tersirap ketika mendapati beberapa bagian rambut yang menggumpal akibat darah yang mulai mengering.

 

“Nona, apakah Anda telah melihat semua luka yang ada di dalam tubuh Ibu Anda?”

 

“Tidak semuanya. Hanya saja, saya ingin mendapatkan kebenaran.”

 

“Apa Anda yakin? Tubuh Ibu Anda nanti akan diiris-iris, dipotong, dan diambil organ-organ bagian dalamnya. Apakah Anda siap dengan semuanya itu?”

 

Monik emosional. Dia menangis tersedu-sedu, tangannya gemetar, seolah-olah tidak siap dengan kenyataan yang harus diterimanya. Dia terduduk lemas, tetapi masih berusaha untuk menguasai diri meski dokter memberi saran bahwa dirinya tidak perlu malakukan itu jika memang tidak ingin.

 

“Tidak, Dok. Saya ingin Ibu saya diautopsi.”

 

“Baiklah. Saya akan mengirimkan surat permohonan kepada pihak forensik untuk memeriksa Ibu Anda. Anda berdoa saja supaya semuanya dapat berjalan dengan lancar, Nona.”

 

“Ya, Dok. Terima kasih. Lalu, sekarang saya harus bagaimana?”

 

“Anda harus menandatangani surat persetujuan untuk autopsi. Selanjutnya, Anda bisa menunggu.”

 

“B-baik. Akan saya laksanakan.”

 

Monik kini merasa sendiri. Dia ingin memberitahukan tentang kematian sang ibu kepada beberapa saudara. Akan tetapi, dia ragu sekaligus takut. Jika biasanya dia meminta pertimbangan dalam segala hal kepada ibunya, kali ini tidak lagi. Tak seorang pun yang akan dimintainya pertimbangan.

 

Gadis itu mengambil ponsel yang disimpannya di dalam tas. Dia bermaksud menghubungi salah satu saudara ibunya yang berada tak jauh dari rumahnya untuk meminta bantuan. Namun, sejak tadi dia hanya memutar-mutar ponselnya. Sesekali matanya terpejam, mencoba memikirkan apa pun yang sekiranya mungkin dilakukan. Tubuhnya lelah, hati dan otaknya lebih lelah. Sesungguhnya dia sudah tidak dapat berpikir apa-apa lagi sekarang.

 

Malam itu waktu telah menunjukkan pukul 22.00. Sudah hampir larut. Perut Monik mulai terasa lapar. Dia ingin sedikit saja mengecap makanan, tetapi kegalauan yang dirasakannya membuatnya malas bergerak sehingga dia lebih memilih diam di depan mayat sang ibu. Sampai lamunannya berakhir tatkala seseorang menyapanya.

 

“Hei, kamu … Nona Monik, kan?” tanya seorang lelaki berwajah tampan dengan cambang yang membuat wajah itu makin terlihat tampan.

 

“I-iya. Anda ….”

 

“Saya Danish. Klien Anda setahun yang lalu. Lebih tepatnya, klien pertama Anda.”

 

“Ah, ya, Danish, saya ingat.”

 

“Kenapa di IGD sendiri?”

 

Monik gugup. Dia bahkan tak bisa menjawab pertanyaan Danish dengan baik karena masih sangat sakit menyebut tentang kematian.

 

“Itu ibumu?”

 

Monik mengangguk.

 

“Apa ibumu ….”

 

Monik kembali mengangguk. Seakan-akan tahu tentang kesusahan yang tengah dialami oleh perempuan yang pernah menjadi konsultannya itu, Danish tersenyum, lalu memegang bahu Monik.

 

“Kamu sendirian aja?”

 

“I-iya.”

 

“Belum menghubungi saudara?”

 

“Aku … bingung.”

 

“Apa boleh aku bantu?”

 

Monik mengangguk.

 

“Boleh pinjam hapemu? Siapa yang pertama kali harus aku hubungi?”

 

“Tante.”

 

“Tantemu? Oke. Ini, kamu cari nama Tante kamu, nanti biar aku yang kabarin.”

 

Monik ragu-ragu. Sejak tadi dia ingin menghubungi siapa pun yang ingin dihubunginya. Nyatanya, itu tak semudah membalikkan telapak tangan karena selama ini dia dan ibunya selalu tertutup dalam hal apa pun. Satu-satunya orang yang cukup dekat dengan mereka adalah Rusiti, tante Monik sekaligus adik dari ibu Monik.

 

“Emm … Danish, sebenarnya … ada yang bikin aku ragu.”

 

“Apa itu?”

 

“Tadi aku lihat ada yang nggak beres sama mayat Ibu.”

 

“Lalu?”

 

“Aku minta Ibu diautopsi.”

 

“Boleh aku lihat?”

“Silakan.”

 

Monik dan Danish berjalan ke arah Rina. Danish segera memakai sarung tangan, lalu memeriksa bagian-bagian tubuh ibu Monik. Dia menemukan ada darah yang menggumpal di rambut. Darah itu sudah kering. Kemudian, dia menemukan luka-luka lain seperti luka bekas cakaran, serta luka bekas perlawanan di telapak tangan sebelah kiri.

 

“Tadi dokter bilang apa tentang kematian ibumu?”

 

“Gagal jantung.”

 

“Ini bukan gagal jantung. Ini kematian yang disengaja alias pembunuhan. Penyebab kematian akan diperoleh ketika kamu melakukan autopsi. Kamu sudah benar, Monik. Emm … apa kamu sekarang baik-baik saja?”

 

“Tidak. Tidak begitu baik.”

 

“Ya … ya … aku paham. Sudah makan?”

 

“Belum.”

 

“Akan kupesankan makanan. Makanlah dahulu, akan aku urus jenazah ibumu. Jangan memikirkan apa pun. Oke?”

 

“B-baiklah, Danish. Terima kasih.”

 

Danish segera mengambil ponselnya. Dia menggulir ponselnya. Sejurus kemudian, dia menelapon seseorang, lalu berjalan cepat meninggalkan Monik seorang diri. Dalam kesendiriannya, Monik kembali menatap wajah sang ibu. Tanpa ragu, dia mengelus wajah sang ibu, lalu mencium dahi wanita berusia setengah abad itu.

 

“Ibu, siapa yang melakukan ini pada Ibu? Apakah Ramon keparat itu ataukah orang lain? Ibu, tolong aku. Aku ingin menemukan orang itu.”

 

Monik kembali menangis. Kali ini tangisnya tumpah. Dia tidak peduli meski di sekitarnya ada beberapa perawat dan pasien yang masih diperiksa. Bagaimanapun, dia berjanji akan menemukan keadilan dan kebenaran untuk mengungkap semuanya.

 

“Ibu … bantu Monik menemukan orang itu. Bantu Monik, ya, Bu. Monik tahu Ibu tidak akan selamanya meninggalkan Monik.”

 

Monik kembali menangis. Dia berusaha untuk tetap tegar, tetapi tidak bisa. Dia terus menerus menangis sambil memegang tangan Rina, seakan-akan tidak mau berpisah. Monik baru mengusap air matanya ketika Danish kembali datang.

 

“Monik, sudah aku urus semuanya, juga untuk proses autopsi ibumu. Jika boleh, aku ingin memeriksa rumahmu. Boleh minta alamatnya?”

 

***

 

 

Tags: twm23

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (3)
  • tika_santika

    Pembukaan yang menarik, semangat Bundo 😍

    Comment on chapter KAFE
  • ibnurini

    Kewreeeeeenn Bundo, semangaaaatt teruuuzzz

    Comment on chapter KAFE
  • AjengFani28

    Menarik nih kak

    Comment on chapter KAFE
Similar Tags
Bumi yang Dihujani Rindu
8088      2414     3     
Romance
Sinopsis . Kiara, gadis bermata biru pemilik darah Rusia Aceh tengah dilanda bahagia. Sofyan, teman sekampusnya di University of Saskatchewan, kini menjawab rasa rindu yang selama ini diimpikannya untuk menjalin sebuah ikatan cinta. Tak ada lagi yang menghalangi keduanya. Om Thimoty, ayah Kiara, yang semula tak bisa menerima kenyataan pahit bahwa putri semata wayangnya menjelma menjadi seorang ...
Jelita's Brownies
4237      1615     11     
Romance
Dulu, Ayahku bilang brownies ketan hitam adalah resep pertama Almarhum Nenek. Aku sangat hapal resep ini diluar kepala. Tetapi Ibuku sangat tidak suka jika aku membuat brownies. Aku pernah punya daun yang aku keringkan. Daun itu berisi tulisan resep kue-kue Nenek. Aku sadar menulis resep di atas daun kering terlihat aneh, tetapi itu menjadi sebuah pengingat antara Aku dan Nenek. Hanya saja Ib...
Are We Friends?
4076      1227     0     
Inspirational
Dinda hidup dengan tenang tanpa gangguan. Dia berjalan mengikuti ke mana pun arus menyeretnya. Tidak! Lebih tepatnya, dia mengikuti ke mana pun Ryo, sahabat karibnya, membawanya. Namun, ketenangan itu terusik ketika Levi, seseorang yang tidak dia kenal sama sekali hadir dan berkata akan membuat Dinda mengingat Levi sampai ke titik paling kecil. Bukan hanya Levi membuat Dinda bingung, cowok it...
Denganmu Berbeda
10972      2789     1     
Romance
Harapan Varen saat ini dan selamanya adalah mendapatkan Lana—gadis dingin berperingai unik nan amat spesial baginya. Hanya saja, mendapatkan Lana tak semudah mengatakan cinta; terlebih gadis itu memiliki ‘pendamping setia’ yang tak lain tak bukan merupakan Candra. Namun meski harus menciptakan tiga ratus ribu candi, ataupun membuat perahu dan sepuluh telaga dengan jaminan akan mendapat hati...
KEPINGAN KATA
506      323     0     
Inspirational
Ternyata jenjang SMA tuh nggak seseram apa yang dibayangkan Hanum. Dia pasti bisa melalui masa-masa SMA. Apalagi, katanya, masa-masa SMA adalah masa yang indah. Jadi, Hanum pasti bisa melaluinya. Iya, kan? Siapapun, tolong yakinkan Hanum!
The Legend of the Primrose Maiden
1003      537     1     
Fantasy
Cinta dan kasih sayang, dua hal yang diinginkan makhluk hidup. Takdir memiliki jalannya masing-masing sehingga semua orang belum tentu bisa merasakannya. Ailenn Graciousxard, salah satu gadis yang tidak beruntung. Ia memiliki ambisi untuk bisa mendapatkan perhatian keluarganya, tetapi selalu gagal dan berakhir menyedihkan. Semua orang mengatakan ia tidak pantas menjadi Putri dari Duke Gra...
My Doctor My Soulmate
117      104     1     
Romance
Fazillah Humaira seorang perawat yang bekerja disalah satu rumah sakit di kawasan Jakarta Selatan. Fazillah atau akrab disapa Zilla merupakan seorang anak dari Kyai di Pondok Pesantren yang ada di Purwakarta. Zilla bertugas diruang operasi dan mengharuskan dirinya bertemu oleh salah satu dokter tampan yang ia kagumi. Sayangnya dokter tersebut sudah memiliki calon. Berhasilkan Fazillah menaklukkan...
The Last tears
919      522     0     
Romance
Berita kematian Rama di group whatsap alumni SMP 3 membuka semua masa lalu dari Tania. Laki- laki yang pernah di cintainya, namun laki- laki yang juga membawa derai air mata di sepanjang hidupnya.. Tania dan Rama adalah sepasang kekasih yang tidak pernah terpisahkan sejak mereka di bangku SMP. Namun kehidupan mengubahkan mereka, ketika Tania di nyatakan hamil dan Rama pindah sekolah bahkan...
ARMY or ENEMY?
14732      4171     142     
Fan Fiction
Menyukai idol sudah biasa bagi kita sebagai fans. Lantas bagaimana jika idol yang menyukai kita sebagai fansnya? Itulah yang saat ini terjadi di posisi Azel, anak tunggal kaya raya berdarah Melayu dan Aceh, memiliki kecantikan dan keberuntungan yang membawa dunia iri kepadanya. Khususnya para ARMY di seluruh dunia yang merupakan fandom terbesar dari grup boyband Korea yaitu BTS. Azel merupakan s...
Lullaby Untuk Lisa
5583      1627     0     
Romance
Pepatah mengatakan kalau ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Tetapi, tidak untuk Lisa. Dulu sekali ia mengidolakan ayahnya. Baginya, mimpi ayahnya adalah mimpinya juga. Namun, tiba-tiba saja ayahnya pergi meninggalkan rumah. Sejak saat itu, ia menganggap mimpinya itu hanyalah khayalan di siang bolong. Omong kosong. Baginya, kepergiannya bukan hanya menciptakan luka tapi sekalig...