Read More >>"> Story Of Chayra (Sembilan belas) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Story Of Chayra
MENU
About Us  

Aku tidak bisa menyalahkan semua rasa sakit hati yang aku rasakan ini sepenuhnya pada kamu. Aku tahu rasa sakit hati ini juga karena diriku sendiri yang terlalu mengharapkanmu.

 

---

 

Chayra bersungut kesal pada Alditya. Ia merasa kesal dengan sikap pura-pura ramahnya terhadap Mamanya. Sambil menatap Alditya dari dapur, Chayra pun berniat menjahili Alditya. Mengambil sebuah garam yang ia masukkan ke dalam teh yang ingin disuguhkan untuk Alditya. Satu sendok teh Chayra masukkan ke dalam gelas kemudian, ia mengaduknya dengan tersenyum simpul. Membayangkan bagaimana reaksi Alditya setelah meminum teh tersebut.

Setelah dirasa tercampur dengan baik. Chayra mengambil sebuah piring kecil untuk diletakkan di bawah cangkir. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Meletakkan secangkir teh yang telah ia buat. Setelah itu, ia pun ingin pergi dari ruang tamu.

"Kamu mau ke mana sayang?" ucap Namira yang otomatis menghentikan langkah kakinya.

"Mau ke kamar Ma."

"Duduk sini temani Alditya." Namira menepuk sofa yang berada di sampingnya, berharap Chayra duduk. Dengan langkah malas Chayra menuruti perintah Namira. Alditya menatap sekilas padanya.

"Ternyata Nak Alditya kuliah di Universitas Merah Putih juga lho! Berarti satu kampus sama kamu ya sayang?" Chayra meneguk salivanya.

"Iya Ma."

"Oh, Nak Alditya ambil jurusan apa?" tanya Namira penasaran.

"Saya ambil jurusan Jurnalistik tante."

Namira berbinar mendengar ucapan Alditya. "Wih...  Itu jurusan yang Chayra ingin masuk. Tapi, sayang waktu SBMPTN dia gak diterima. Malah masuknya jurusan Sains!"

"Mama, jangan buka aib," bisik Chayra, sambil menyenggol lengan Namira. Sedangkan Namira tidak mengubris.

"Ya sudah diminum dulu Nak."

Alditya mengangguk. Ia meraih cangkir teh kemudian, menyeruput teh tersebut. Raut wajah Alditya seketika berubah setelah meneguk teh yang telah dibuatkan oleh Chayra. Senyum di bibir Chayra mengembang ketika melihat raut wajah Alditya. Ia tersenyum penuh kemenangan.

"Ada apa Nak Alditya?" tanya Namira yang menyadari perubahan pada raut wajah Alditya.

"E—engga apa-apa tante," kekeh Andrian.

"Beneran?"

"Iya Tante," sahut Alditya bohong.

"Eh—" Namira menepuk keningnya. "Mama lupa!"  Chayra dan Alditya seketika mendelik, menatap Namira bersamaan. "Mama lupa beli box kardus makanan. Nanti kalau ibu-ibu pada mau bawa pulang makanan pakai apa?" ucap Namira cemas.

"Alditya tolong bantuin tante mau ga?" tanya Namira tiba-tiba.

"Nak?"

"Nak Alditya?" Alditya bergeming tidak merespon. Ia sedang berusaha menghilangkan rasa asin di dalam mulutnya. Namira pun berdehem, membuat kesadaran Alditya kembali.

"Iya kenapa Tante?" Namira mengelengkan kepala.

"Tante minta tolong boleh?"

"Boleh Tante. Minta tolong apa ya?"

"Kamu sama Chayra tolong beliin Tante box kardus makanan. Tapi yang sudah jadi, bukan yang masih dalam lembaran kardus yang masih harus dilipat. Boleh?"

"Ma," ucap Chayra.

"Ya kenapa sayang?"

"Biar Chayra aja yang beli. Jangan merepotkan tamu Ma," tutur Chayra berusaha mengingatkan Mamanya.

"Engga kok. Engga ngerepotin sama sekali. Kalau saya bisa bantu gak apa-apa Tante," sahut Alditya. Chayra mendelik sebal. Lagi-lagi Andrian bersikap sok manis dihadapan Mamanya.

"Wah, benar Nak Alditya?"

"Iya Tante."

"Chayra kamu siap-siap gih. Temenin Alditya," ujar Namira.

Chayra mengenakan sendal jepit berwarna merah maroon miliknya. Setelah selesai dengan perasaan malas ia keluar dari pekarangan rumah. Berjalan menuju sebuah mobil kecil berwarna merah yang sudah terparkir di depan rumahnya. Dengan ragu Chayra mengetuk kaca mobil tersebut, meminta Alditya untuk tidak menguci pintu mobil.

Ketika sudah berada di dalam mobil. Lima belas menit berlalu di antara mereka hanya ada keheningan. Chayra sibuk mengamati jalanan yang tampak macet, padahal hari itu hari minggu. Sedangkan Alditya sibuk mengendarai. Alunan lagu Martin Garix dan Troye Sivan yang berjudul There For You mengalun melalui radio yang tersedia di dalam mobil, memecah keheningan.

Laju mobil Alditya berjalan terasa lambat. Sebab lampu merah di depan pertigaan. Alditya menghentikan laju mobilnya. Ia meregangkan pergelangan tangannya. Mengembuskan napas.

"Lo tadi sengaja ya, masukin garam ke dalam minuman gua?" selidik Alditya.

Jantung Chayra mendadak berdetak dengan cepat, seperti ingin lepas. Ia melirik diam-diam ke arah Alditya yang memandang lurus ke arah jalanan. Namun, dengan wajah tidak bersahabat.

'Mampus.' batin Chayra.

"Kalau di tanya jawab!" ucap Alditya penuh penekanan.

Chayra meneguk salivanya. Nyalinya ciut seketika jika Alditya sudah mengeluarkan nada seperti itu. "E—engga. Emangnya kenapa, kak?" sahut Chayra.

"Masa? Gak yakin gua!"

"Maksud lo apa? Cari masalah sama gua?" tanya Alditya yang semakin memburu dengan tatapan tajam.

"Abisnya lo duluan kak yang mulai. Ngapain juga pakai bilang kalau kakak juga kuliah di kampus merah putih. Terus pakai sok manis di depan mama!" jawab Chayra tiba-tiba. Dan ia pun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Alditya menolehkan kepalanya matanya menyipit menatap Chayra. Chayra yang ditatap Alditya pun merasa panik.

'Mampus salah ngomong!' batin Chayra.

"Lo?! Jangan nyolot sama kakak kelas!" peringat Alditya.

"Saya gak nyolot. Emang sesuai Fakta kok Kak," bela Chayra.

Tiba-tiba sebuah sentilan kecil mendarat di dahi Chayra. Alhasil membuat Chayra meringis lalu, mengusap dahinya. Merasa sakit akibat ulah Alditya.

"Sakit tahu Kak!" protes Chayra pada Alditya. Alditya memilih mengabaikan Chayra. Ia kembali fokus mengendarai.

Alditya memparkirkan mobilnya tepat di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam plastik serta box kardus makanan. Ia membuka pintu mobil kemudian, keluar dari mobil. Begitu pun juga dengan Chayra. Mereka pun melangkah ke dalam toko tersebut. Pemilik toko yang sudah melihat mereka langsung tersenyum ramah.

"Mau beli apa Mas?" tanya si pemilik toko.

"Saya mau beli box kardus, tapi yang sudah jadi ada?" tanya Alditya.

"Ada. Butuh berapa?"

Alditya menyikut Chayra yang berada di sampingnya.  Yang sedang asik mengamati beberapa barang yang di jual di toko.

"Apa?" ucap Chayra.

"Beli berapa box?" ulang Alditya.

"Lima puluh." Alditya mengangguk.

"Lima puluh Pak." Pemilik toko pun memberikan bon kepada Alditya. Alditya menatap bon tersebut dan segera mengeluarkan dompetnya untuk membayar.

"Terima kasih. Mau di antar atau bawa sendiri?"

"Bawa sendiri saja Pak."

"Yang bener ini banyak?"

"Iya Pak. Saya bawa mobil soalnya." Bapak pemilik toko mengangguk mengerti.

"Tunggu sebentar ya saya siapkan."

Alditya menepuk pundak Chayra. Manik mata Chayra menatap Alditya, menunggu Alditya membuka suara.

"Kita beli es cendol dulu yuk?" ajak Alditya. Ia pun langsung mengengam pergelangan tangan Chayra. Mengajaknya menuju penjual es cendol yang berada tepat di depan toko.

"Mang, es cendolnya dua ya," ucap Alditya. Penjual es tersebut mengangguk.

Alditya melepaskan genggaman tangannya. Mengajak Chayra duduk di pinggir toko, tepatnya pada tangga toko. Tatapan Chayra tertuju pada seorang anak kecil yang sedang menjajakan sebuah tissu. Anak kecil tersebut menyadari jika ia sedang ditatap oleh Chayra. Ia pun dengan percaya diri menghampiri Chayra.

"Kak, tissunya Kak?" tawar anak kecil laki-laki yang berumur sekitar tujuh tahun.

"Berapaan Dek?"

"Lima ribu Kak." Chayra membelalakan matanya. Pasalnya harga tissu tersebut dua kali lipat dari biasanya.

"Lima ribu?" ulang Chayra. Siapa tahu ia salah mendengar.

"Iya Kak."

"Mahal amat Dek. Biasanya dua ribu lima ratus," protes Alditya. Anak kecil tersebut hanya bisa mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Saya ambil dua ya Dek," ucap Chayra. Raut wajah semringah langsung terlihat pada anak tersebut. Ia pun segera memberikan dua buah tissu kepada Chayra. Chayra memberikan ulang sebesar dua puluh ribu.

"Yah Kak, ada uang kecil? Saya engga ada kembaliannya," pinta anak tersebut. Chayra hanya bisa mengelengkan kepala. Anak kecil tersebut pun melangkah menuju penjual es cendol. Ingin menukar uang pemberian Chayra. Namun, belum sempat anak tersebut melangkah Chayra sudah menahannya.

"Kamu mau ke mana?" tanya Chayra.

"Saya pamit sebentar ya Kak. Mau menukar uang," jawabnya.

"Eh--" Chayra menatap anak laki-laki itu dari atas sampai bawah. "Engga usah. Sisa uangnya kamu tabung aja atau buat beli makanan ya?"

"Beneran Kak?" Chayra mengangguk pasti.

"Yay! Makasih Kak."

"Nama kamu siapa?"

"Darevan."

Chayra tersenyum pada Darevan. "Darevan mau es cendol?" tawar Chayra.

"Engga Kak. Saya mau melanjutkan jual tissu aja."

"Oh ya sudah."

"Saya pamit ya Kak? Terima kasih Kak!" tutur Darevan sambil, tersenyum ramah pada Chayra. Chayra membalas senyuman Darevan.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
My Teaser Devil Prince
5753      1387     2     
Romance
Leonel Stevano._CEO tampan pemilik perusahaan Ternama. seorang yang nyaris sempurna. terlahir dan di besarkan dengan kemewahan sebagai pewaris di perusahaan Stevano corp, membuatnya menjadi pribadi yang dingin, angkuh dan arogan. Sorot matanya yang mengintimidasi membuatnya menjadi sosok yang di segani di kalangan masyarakat. Namun siapa sangka. Sosok nyaris sempurna sepertinya tidak pernah me...
Who are You?
1278      560     9     
Science Fiction
Menjadi mahasiswa di Fakultas Kesehatan? Terdengar keren, tapi bagaimana jadinya jika tiba-tiba tanpa proses, pengetahuan, dan pengalaman, orang awam menangani kasus-kasus medis?
LINN
12064      1828     2     
Romance
“Mungkin benar adanya kita disatukan oleh emosi, senjata dan darah. Tapi karena itulah aku sadar jika aku benar-benar mencintaimu? Aku tidak menyesakarena kita harus dipertemukan tapi aku menyesal kenapa kita pernah besama. Meski begitu, kenangan itu menjadi senjata ampuh untuk banggkit” Sara menyakinkan hatinya. Sara merasa terpuruk karena Adrin harus memilih Tahtanya. Padahal ia rela unt...
Dibawah Langit Senja
1419      853     6     
Romance
Senja memang seenaknya pergi meninggalkan langit. Tapi kadang senja lupa, bahwa masih ada malam dengan bintang dan bulannya yang bisa memberi ketenangan dan keindahan pada langit. Begitu pula kau, yang seenaknya pergi seolah bisa merubah segalanya, padahal masih ada orang lain yang bisa melakukannya lebih darimu. Hari ini, kisahku akan dimulai.
Cinta Wanita S2
4867      1387     0     
Romance
Cut Inong pulang kampung ke Kampung Pesisir setelah menempuh pendidikan megister di Amerika Serikat. Di usia 25 tahun Inong memilih menjadi dosen muda di salah satu kampus di Kota Pesisir Barat. Inong terlahir sebagai bungsu dari empat bersaudara, ketiga abangnya, Bang Mul, Bang Muis, dan Bang Mus sudah menjadi orang sukses. Lahir dan besar dalam keluarga kaya, Inong tidak merasa kekurangan suatu...
Me & Molla
515      297     2     
Short Story
Fan's Girl Fanatik. Itulah kesan yang melekat pada ku. Tak peduli dengan hal lainnya selain sang oppa. Tak peduli boss akan berkata apa, tak peduli orang marah padanya, dan satu lagi tak peduli meski kawan- kawannya melihatnya seperti orang tak waras. Yah biarkan saja orang bilang apa tentangku,
I'il Find You, LOVE
5717      1585     16     
Romance
Seharusnya tidak ada cinta dalam sebuah persahabatan. Dia hanya akan menjadi orang ketiga dan mengubah segalanya menjadi tidak sama.
Perverter FRIGID [Girls Knight #3]
1251      548     1     
Romance
Perverter FIRGID Seri ke tiga Girls Knight Series #3 Keira Sashenka || Logan Hywell "Everything can changed. Everything can be change. I, you, us, even the impossible destiny." Keira Sashenka; Cantik, pintar dan multitalenta. Besar dengan keluarga yang memegang kontrol akan dirinya, Keira sulit melakukan hal yang dia suka sampai di titik dia mulai jenuh. Hidupnya baik-baik saj...
Mendadak Halal
6441      1911     1     
Romance
Gue sebenarnya tahu. kalau menaruh perasaan pada orang yang bukan makhramnya itu sangat menyakitkan. tapi nasi sudah menjadi bubur. Gue anggap hal ini sebagai pelajaran hidup. agar gue tidak dengan mudahnya menaruh perasaan pada laki-laki kecuali suami gue nanti. --- killa. "Ini salah!,. Kenapa aku selalu memandangi perempuan itu. Yang jelas-jelas bukan makhrom ku. Astagfirullah... A...
Elevator to Astral World
2096      1190     2     
Horror
Penasaran akan misteri menghilangnya Mamanya pada kantornya lebih dari sedekade lalu, West Edgeward memutuskan mengikuti rasa keingintahuannya dan berakhir mencoba permainan elevator yang dikirimkan temannya Daniel. Dunia yang dicapai elevator itu aneh, tapi tak berbahaya, hingga West memutuskan menceritakannya kepada saudara sepupunya Riselia Edgeward, seorang detektif supernatural yang meny...