Loading...
Logo TinLit
Read Story - Triangle of feeling
MENU
About Us  

Triangle of Feeling

 

            Enough, cukup ketika Tuhan memberikan nikmat dan kita yang mensyukurinya. Tidak banyak banyak complain terhadap skenarionya seolah kitalah pemenangnya. Sebenarnya kita tak pernah jadi pemenang. Bukan karena kita dilahirkan kalah tapi kodratnya memang kita selalu saja menjadi mahluk, sebagai hamba. Akhir ini banyak serba pernik dalam stage of view. Semuanya juga mempercayainya. Rheachle, berkali saja diam dengan tatapan yang nanar, mengutuki dirinya bahwa ialah tak seberuntung sahabat sahabatnya, atau mereka yang menerjang diluar sana.

            Lain kali saja Rheachle bisa bangkit sebentar, kemudian turun banyak tangga di bawahnya. Unik bukan? Karena itulah nyatanya. Serasa semangatnya selalu masuk bengkel saja, masuk rumah sakit dan ketiga dinas kesehatan.

“ seandainya kala itu dia tak dating bersama scenario itu, Dia tak ikut campur dalam big planku pasti tidak seperti ini, semuanya akan baik baik saja dan mungkin lebih baik saja”Gumam Rheachle diseberang kebun kesayangannya.

“ Hust. Tak baik kau berkata panjang kali kilo di pagi ini. Kau pasti paham betul bukan bahwa kau itu Nampak tak pernah ada apanya. Harusnya kau tak perlu berdikar untuk mengutuki yang sudah sudah.” Timpal Stez yang sedari tadi juga ikut mematung diatas rumah pohon yang mereka buat bersama. Baginya, bagi Rheachle bahwa rumah itu adalah rumah yang special dan mengantarkan ia pada agen neptunus.”

“ kau tak pernah paham apa yang Aku maksud Stez !”

            Bagaimana Steza paham jikalau Rheachle selalu berkata pusing ambigu bin kias semua. Ini dapatan dari feedback sanggahan Rheachle, panggil saja Rheac. Nyatanya salah, Stez tahu jika Dia dalam gumamnya itu merujuk pada Tuhan. Tuhan Mereka, Tuhan kita, Tuhan Allah.

$$$$$

            Tadinya ia ingin sekali beselempang layak teman temannya, memakai jaz kebanggan dan terpampang di deret universitas sebagai daftar mahasiswa di antaranya, namun nyatanya semua berbeda ketika ia dapat restu dari ayah bundanya tapi bukanlah ia hadir pada tes masuk yang selalu ia idampan tapi justru berdikar sebagai pengannguran di ibukota Jakarta. Dia selalu saja mengambil keputusan tidak pada tempatnya, selalu tergesa gesa dan memang selalu begitu. Benar, dia menggunakan nalurinya untuk melakukan problem solving terhadap dirinya tapi sayangnya nalurinya itu tidak sepeka dan sebaik mereka yang seiring dengan blegernya yang kian hari menumbuh diri. Pertumbuhan dan perkembangan itu beda indikatornya. Ketika seorang ciptaan diam tanpa berlogika jernih maka merugilah dia, jatuhlah dalam penyesalan dan shock berat.

            Dia selalu sulit saja menetap, bahkan Syam berboikot ialah kolaris yang aneh. Beruntung saja dia masih mempunyai sahabat yang tinggal dan menerima dia apa adanya, yang mengarahkannya tapi sepertinya usahanya Syam selalu dibuat gagal, berujung gagal. Itulah Rheac yang belum  terima apa adanya tentang dirinya, baginya jika ia tak sekolah lagi maka kontraknya ia harus menjadi pengecut dalam kaca dunia luar. Menyembunyikan perasaanya sampai puncak minus banyak derajat di bawah saraf sadarnya. Tentang Dia yang selalu dianggap tak adil, Tentang mereka sahabat baiknya yang meninggalkannya, tentang Dia yang selalu menjadi harapan dan semangat hidupnya, Tentang dia rasa yang diatas wajar yang selalu meengusik hati dan mengacaukan pikirannya.

“ Dia selalu mengatakan aku mudah pahamnya, tapi kenapa Tuhan tidak berbaik hati mempermudah jalanku masuk mimpiku dan merealkan mimpiku yang lain. Seandainya memang jalanku bukan disitu harusnya tak perlu Tuhan kirimkan ia sebagai bayangan dalam mimpi tidurku untuk tetap membuat checklist dimimpiku itu lewat bunga mimpiku. Aagh.. akupun tak tahu apakah dia juga punya rasa yang sama. Pikirnya Syam bahwa tepuk sebelahlah yang terjadi padaku. Aku tak peduli, yang jelas aku masih menyimpannya secara nyaman walau mulutku selalu berbeo ‘Aku ingin move on’ sedang hatiku bilang ‘aku tak mau move on sebelum novelku jadi biar aku dapat luck dari perasanku itu’.” Desiran perahu sempat membenangkan pikiran dia hingga dia mengatung dan hilang kesadaran celananya sudah basah sejak tadi.

“ Kau paham soal perasaan.”

            Selalu saja begitu, Syam selalu bilang aku tak tahu soal perasaan tapi dia tak pernah mengajarkan teorinya. Eh maksudku bahwa aku yang kadang kurang peka dengan apa yang dia lakukan. Bagaimana tidak aku Tanya ini dan itu dia selalu menyuruh dating di layar tv untuk menonton sebuah film yang Rheac cuplik ga masuk akal dari yang ia tanyakan. Reach Tanya soal ketenangan hidup, nyatanya Syam menyuruhnya menonton film dengan basic horror. Tak masuk tema bukan? Tapi ketahuilah bahwa di tema itu benarnya banyak pengajaran jika benar dia tak buta dengan hatinya.

            Rheac selalu gundah dengan hidupnya, sekarang ini besok lagi itu. Bisa saja Syam Nampak bosan dengannya. Itu bukan masalah baginya. Rheac adalah supel dan mudah mendapatkan kesan tapi sering tertipu oleh kesan pendatang baru padahal dia menyukai pendatang baru.

“ Aku juga Akhwat kok Syam, sama seperti mereka. Tidakkah kau ingin menemuiku?” deret kata di pesan chat WA. Dia susah sekali bertemu dengan orang yang berbeda genre kecuali memang benar benar harus bertemu. Calon psikologilah yang membuatnya bisa memahami Rheac. Tiap hari Rheac selalu mengganggunya dengan banyak chat terhadapnya. Tidak karena Reach menaruh rasa padanya karena perjanjian nya tidak boleh menaruh rasa padanya. Hanya saja Rheac merasa tak punya tempat untuk berekspresi, karenanya wanita mulai malas percaya pada wanita. Ember biasanya dan tak mau tertipu kesan lagi”.

“ Kau kode keras mulu,” jawabnya.

            Akhirnya tibalah Syam improve permintaanya, minggu depan dia pulang dari Jogja dan mengajaknya betemu di pantai pagi hari harus dengan pakaian sangat tertutup, tanpa telat kalau Rheac mau bertemu. Sebenarnya, Rheac mengiyakan tapi tak berniat datang, seperti permainan dalam cover. Entah apa yang ada didalam pikirannya, ingin dipahami tapi enggan dipahami.

“ Aku Cuma ingin bertemu Stez. Tapi aku tak PD dengan aku yang begini” ocehnya pagi hari.

“Dengan Kun fanani kah?” jawabnya.

“ Percuma saja, Dia mahasiswa ITB prodi STEI dengan IPK 4, Asisten dosen, tutor, Tafidz, aktivis. Sedang aku ini apa? Aku ga punya apa apa Stez. Akupun tak tahu dia ada rasa padaku. Hmm.. sebenarnya bukan karena perasanku, tapi aku ingin kuliah Stez. Aku tak peduli aku kuliah dimana, di prodi apa yang penting aku kuliah. Aku ga berani bertatap mata dengan mereka yang mahasiswa, dan semua itu teman dekatku Stez. Bagaimana aku nantinya.” Rintihan Rheac dengan kaca dibulir matanya ada embun disana.

“ I feel your feel Rheac. Aku juga sama sepertimu. Keadaanku dengan Rizal begitu. Kita sudah jalan 4 tahun tapi nampaknya keluargaku takut jika nanti keluarganya tidak menerimaku lagi. Aku belum siap Rheach”. Jawabnya yang justru ikut curhat. Rheac tak suka jika dia curhat malah dicurhati balik. Kesannya bukan malah selesai tapi mlah nambah banyak bebannya. Astaga…

            Selepas itu Rheac keluar dari factory dan berniat lepas tangan dari semuanya. Rheac memang banyak tawaran dan mungkin ia termasuk kedalam orang yang beruntung. Tapi karena beruntungnya itu tidak dibangku keinginannya, yaitu kuliah baginya adalah omong kosong. Rheac punya banyak pengalaman dari dunia luar, mulai dari menjadi advokat, complaining buyer atau hal aktivis yang lain seperti EDC, KIR, Scout atau kegiatan yang layak dilakukan oleh mahasiswa hanya saja nampaknya dia tak peduli dengan semua itu. Kalau tidak ini ya percuma.

Rheac berani pergi walau nyatanya dia sudah terdaftar sebagai mahasiswa Gunadarma, sebagai mahasiswa teknik hukum. Persoalannya karena dia tidak punya biasa untuk kedepannya dan keluarganya memang tak buat dia ijin kuliah. Bagi mereka materi diatas segala galanya. Rheac muak dengan semua itu. Tapia pa daya dia tak pernah memakai isi dalam pertemannya, dia memakai cover jadinya dia takut jika nanti dia tetap lanjut bekerja semua kan terbongkar seperti apa dan bagaimana dia. Pencitraan lagi dan lagi pencitraan. Ibaratnya memang benar bahwa seorang lebih menghargai orang lain jikalau dia lebih diatas orang lain. Simple bukan. Itulah yang dilakukannya.

            Rheac tak suka dengan identitas diri, tak suka di Tanya soal privasi. Karena kodratnya kalua ndak makin penasaran ya kecewa. Sering sekali dia menghindar bahkan sebut saja pengecut. Nampaknya dia frustasi dengan segalanya. Frustasi. Selepas dari keluarnya dia ganti WA agar tak seorangpun menghubunginya. Benar adanya semua akun miliknya Nampak ramai dengan rindu karena WA nya tak aktif. Wajar saja Rheac adalah seorang problem solving dan terkenal baik dihadapan mereka. Bahkan terkenal paling diantaranya. Seorang problem solving orang lain yang justru pengecut terhadap dirinya sendiri. Memang Nampak tertawa kini dan kianya, tapi ingatlah bahwa semua proses pasti ngegrafik.

“ Kau kuliah dimana kak Rheac, semester berapa? Qoutes kakak bagus banget. Aku terkesima dan merasa bermanfaat dengan Qoutes kak Rhec posting. Semoga kita bertemu ya kak, pingin ketemu. Penasaran banget kak. Sangat” beberapa dari kesan instragamer, atau foolowed di akun medsosnya.

            Gubrak !!!! semua pertanyaan itu semakin mengusik hatinya. Semakin menjadi pengecut saja, mensetiga rasa, triangle of feeling. Dia mau kemana, tapi dia dituntut kesana sedang kesana selalu dibelokkan. Rheac pusing dengan hidup Rheac. Murung, diam dan terdiam dikenyatan hidupnya. Walaupun otaknya dan karyanya Nampak ngepeak di medsos manapun tapi tahukah bahwa dia sebenarnya adalah lebih down daripada yang memberikan tepuk tangan.

“ Rheac, terima hidupmu. Ikhlaskanlah. Jika kau ingin tenang, ikhlaskan semuanya. Sukses itu ga harus dari jalur pendidikan. Toh banyak diluar sana yang lebih sukses karena mereka tak sekolah” Chat WA syam berselancar.

“ Kau ngomong enak. Karena kau juga seorang mahasiswa. Kau beruntung mendapat gelar mahasiswa nantinya, sedang aku tidak. Aku ga berani datang di acara reuni besok Syam” jawab Rheac kemudian.

“ Kau perlu tahu Rheac, se phlegmatisnya aku mungkin saja nanti kau juga akan membenciku. Kau kan kolaris aneh. Dan aku paling tak suka dengan acara reuni karena yang biasa mereka lakukan dalah menceritakan kesenangan mereka tanpa memikirkan orang lain yang mungkin tak seberuntung dia, akhirnya aku tak datang saja besok. Mereka lebih berat terhadap egonya sendiri sendiri” jawabnya.

“ kau protes karena aku tak seputih kau kulitnya? Aku masih bau swaah. Aku anak desa. Pakaianpun batik. Kau protes karena aku ga sehitz dan ngestyle layak teman temanmu Rheac?” . Syam memang begitu. Kalau sudah ekspresi langsung kek gitu.

“ Taak… kapan aku bilang begitu. Aku terima kau apa adanya”. Jawab Rheac lagi.

“ Bagus. Karena sejak kapan aku ada apanya. Tidak Rheac. Kau itu tetap Rheac walau bagaimanapun nantinya. Sekarang lupakan Kun, kau hidup untuk berkarier. Kau tak sekolah tapi otakmu itu sekolah kok Rheac. Aku akan bersamamu. In Syaa Allah aku akan menjagamu jika kau nurut dang a bandel lagi.” Balas pesan WAnya lagi.

$$$$$

            Sekarang, Tinggal bagaimana Rheac bias menempatkan dirinya. Tentang segitiga rasanya, Tentang segalanya. Utunglah dia lebih mau melunakan kolarisnya.

Hingga tibalah dia terpanggil oleh dosen bahasa inggris yang kebetulan adalah suami dari ibuguru terdekatnya sewaktu disekolah. Tuhan memberikan jalan baginya, tanpa sengaja mereka seperti menjadi malaikat dalam hidupnya. Mereka member jalan untuk dia masuk kedalam universitas yang dikerjakannya. Sebagai mahasiswa yang bergelar sastra inggris nantinya, walaupun Rheac pernah bermimpi kesana tapi tidak merasa punya basic disana. Tibalah ia memutuskan datang pada kesempatan itu.

“sekarang kau Tanya detail tentang kuliahmu nantinya, jika kau sudah masuk. Aku baru bahagia. Setelahnya terserah kau mau bagaimana. Mau jungkir balik atau bagaimana. Yang penting prioriraskan yang perlu diprioritaskan”. Pesan WA dari Syam yang berbalas setelah Rheac mengabarkan tentang ending dari segitiga rasanya.

 

The end…

 

Biografi Narasi

Ririn Novi Astuti, sering disapa Rhyn dan akrab dipanggil Yosephiana, atau yos. Suka sekali dengan tulisan. Mulai menulis sejak kelas 3 SMP dengan tiga karyanya yang Alhamdulillah pernha mendapat kesempatan untuk terbit. Punya akun riliv sebagai ajang curhatan dengan nama Irnophia Rhyn azfira. Bagi yang mau bertegur sapa bias kontak medsosnya di ig/tumblr/flick/twitter @ririnnovi13 . atau di facebook dengan nama Ririn Novi. Bias juga lewat email ririnnovia13@gmail.com atau ririnnovia1355@yahoo.com.

Kontak wa 081215798848

 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Forget Me After The Rain
562      434     1     
Short Story
\"Kalau begitu, setelah hujan ini, lupakan aku, seperti yang aku lakukan\" Gadis itu tersenyum manis
Aku dan Dunia
479      381     2     
Short Story
Apakah kamu tau benda semacam roller coaster? jika kamu bisa mendefinisikan perasaan macam apa yang aku alami. Mungkin roller coaster perumpamaan yang tepat. Aku bisa menebak bahwa didepan sana ketinggian menungguku untuk ku lintasi, aku bahkan sangat mudah menebak bahwa didepan sana juga aku akan melawan arus angin. Tetapi daripada semua itu, aku tidak bisa menebak bagaimana seharusnya sikapku m...
Putaran Waktu
1267      807     6     
Horror
Saga adalah ketua panitia "MAKRAB", sedangkan Uniq merupakan mahasiswa baru di Universitas Ganesha. Saat jam menunjuk angka 23.59 malam, secara tiba-tiba keduanya melintasi ruang dan waktu ke tahun 2023. Peristiwa ini terjadi saat mereka mengadakan acara makrab di sebuah penginapan. Tempat itu bernama "Rumah Putih" yang ternyata sebuah rumah untuk anak-anak "spesial". Keanehan terjadi saat Saga b...
Flying Without Wings
1116      621     1     
Inspirational
Pengalaman hidup yang membuatku tersadar bahwa hidup bukanlah hanya sekedar kata berjuang. Hidup bukan hanya sekedar perjuangan seperti kata orang-orang pada umumnya. Itu jelas bukan hanya sekedar perjuangan.
MANTRA KACA SENIN PAGI
4080      1566     1     
Romance
Waktu adalah waktu Lebih berharga dari permata Tak terlihat oleh mata Akan pergi dan tak pernah kembali Waktu adalah waktu Penyembuh luka bagi yang sakit Pengingat usia untuk berbuat baik Juga untuk mengisi kekosongan hati Waktu adalah waktu
When You Reach Me
8837      2730     3     
Romance
"is it possible to be in love with someone you've never met?" alternatively; in which a boy and a girl connect through a series of letters. [] Dengan sifatnya yang kelewat pemarah dan emosional, Giana tidak pernah memiliki banyak teman seumur hidupnya--dengan segelintir anak laki-laki di sekolahnya sebagai pengecualian, Giana selalu dikucilkan dan ditakuti oleh teman-teman seba...
Galang dan Refana
753      515     0     
Short Story
“Untuk apa kita diciptakan di dunia? “ seorang gadis yang sudah cukup lama ku kenal mengajukan sebuah pertanyaan. Ia melemparkan pandangan kosongnya ke sebuah dimensi ruang. Tangannya yang dipenuhi perban memeluk lutut seolah tangah melindungi tubuh dan jiwa rapuhnya
Alumni Hati
4020      1838     0     
Romance
SINOPSIS Alumni Hati: Suatu Saat Bisa Reuni Kembali Alumni Hati adalah kisah tentang cinta yang pernah tumbuh, tapi tak sempat mekar. Tentang hubungan yang berani dimulai, namun terlalu takut untuk diberi nama. Waktu berjalan, jarak meluas, dan rahasia-rahasia yang dahulu dikubur kini mulai terangkat satu per satu. Di balik pekerjaan, tanggung jawab, dan dunia profesional yang kaku, ada g...
Carnation
488      356     2     
Mystery
Menceritakan tentang seorang remaja bernama Rian yang terlibat dengan teman masa kecilnya Lisa yang merupakan salah satu detektif kota. Sambil memendam rasa rasa benci pada Lisa, Rian berusaha memecahkan berbagai kasus sebagai seorang asisten detektif yang menuntun pada kebenaran yang tak terduga.
Train to Heaven
2358      1211     2     
Fantasy
Bagaimana jika kereta yang kamu naiki mengalami kecelakaan dan kamu terlempar di kereta misterius yang berbeda dari sebelumnya? Kasih pulang ke daerah asalnya setelah lulus menjadi Sarjana di Bandung. Di perjalanan, ternyata kereta yang dia naiki mengalami kecelakaan dan dia di gerbong 1 mengalami dampak yang parah. Saat bangun, ia mendapati dirinya berpindah tempat di kereta yang tidak ia ken...