Keyra melirik jam weker yang terletak di nakas, ia merenggangkan ototnya kemudian bergegas turun dan berjalan masuk rumah. Biasanya jam lima subuh Bi Minah sudah membuka pintu belakang, kalau semalam Keyra tidur di rumah pohonnya. Keyra bergegas masuk ke dalam rumah, kemudian menuju kamarnya di lantai atas. Sebelum ia menuju kamarnya, ia terlebih dahulu melewati kamar Atlas, karena posisi kamar mereka bersebelahan. Langkah Keyra terhenti saat suara Atlas terdengar.
Kamu sabar ya, nanti jam enam sebelum ke sekolah aku ke rumah kamu! kamu tenang aja, aku akan selalu ada buat kamu. Jangan sedih lagi ya. Aku tutup teleponnya, aku siap-siap mandi dulu.
Kata kamu-aku membuat Keyra tiba-tiba membeku. Selama ini Atlas tak pernah berbicara pada siapapun dengan menyebut dirinya aku selain dengan keluarganya, ia menatap pintu kamar yang ditempati Atlas dengan mata nanar. Matanya berembun ada rasa sesak yang mencekik pernapasannya, Keyra langsung masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskan pintu.
Atlas yang baru saja menutup ponselnya langsung keluar kamar, kemudian menatap pintu kamar Keyra.
“Woi masih pagi nih, bikin keributan aja!” Tukasnya memukul pintu kamar Keyra, kemudian kembali masuk ke kamar.
Keyra menutup telinganya, kemudian menyalakan musik keras-keras dari ponselnya.
Dibatas keraguan
Tersimpan keyakinan
Ketulusan cintaku
Kuingin kepastian
Sungguh adanya aku
Untuk dirimu kasih
Oh mengapa…. mengapa kau tak mengerti
Halusnya perasaanku
Kau goreskan keraguan..oh…
Namun ku menyayangimu
Walau hilang percayaku
Biar cinta, menuntunku untukmu
Lagu Rosa-Kepastian menggema dari kamar Keyra. Gadis itu menyenderkan tubuhnya di sisi kasur dengan air mata yang terus mengalir. Sebelumnya Keyra tak pernah galau masalah laki-laki, entah mengapa sejak ia resmi menyandang status istri Atlas. Ia berubah menjadi sensitif tidak seperti biasanya. Apa karena pernikahan itu akhirnya membuat rasa di hati Keyra terus tumbuh dan bertunas? “Seharusnya gue nggak membiarkan cinta itu tumbuh begitu aja,” Tukasnya diantara isak tangisnya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.10 Atlas keluar dari kamarnya. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Keyra yang sudah rapi dan akan keluar kamar, tiba-tiba mengurungkan niatnya membuka pintu, saat suara berat Atlas terdengar dari luar kamarnya.
Iya, Ay aku mau jalan. Tunggu di rumah ya
Atlas menutup ponselnya, tiba-tiba Keyra keluar dari kamar kemudian membanting pintu. Ia turun ke lantai bawah melewati Atlas. Pria itu hanya mematung melihat kelakuan Keyra yang pagi-pagi bikin mood nya tiba-tiba menurun.
“Lo bisa nggak kalau buka dan tutup pintu itu, nggak usah kayak mau ngajak perang!”
“Nggak bisa.” Jawabnya menuruni anak tangga.
“Nggak pernah belajar sopan santu lo!”
“Nggak pernah, karna Bokap sama nyokap gue udah meninggal, jadi gue nggak pernah diajarin sopan santun!” Kalimatnya terdengar getir.
Atlas terdiam, menatap punggung Keyra hingga menuju meja makan. Ada rasa sesal di dadanya hingga kalimat itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulut Keyra.
“Sorry gue nggak tau kalau Nyokap sama bokap lo…” kalimat Atlas menggantung, saat menuruni tangga menghampiri Keyra.
“Bahkan tentang mertua lo aja, lo nggak pernah tau. Karena lo nggak ngecoba untuk mencari tau!” Keyra meminum segelas susunya, kemudian berjalan keluar rumah.
Atlas terdiam seperti merasakan kesedihan gadis itu, namun ia tak bisa apa-apa. Dan bodohnya, selama ini ia tak pernah bertanya pada orang-orang terdekat Keyra seperti Neneknya, Bi Minah, Pak Anto ke mana pergi mertuanya? Apa yang terjadi dengan mertuanya? Dan mengapa Keyra harus terapi setiap minggu? Karena selama ini ia sibuk dengan dunianya, mengabaikan tentang Keyra bahkan sehelai rambutpun Atlas tidak mau tau tentang Keyra.
“Key lo nggak makan?” Pertanyaan itu terdengar lembut di telinga Keyra namun ia sudah lebih dulu kecewa dan marah.
“Nggak udah kenyang liat muka lo. Oh ya, gue nggak ke sokalah. Jadi lo bisa pergi sendiri dengan sangat bebas!” Ketus Keyra keluar dari pintu.
Atlas menyusul Keyra, sebelum ia keluar gerbang.
“Lo mau ke mana?”
“Bukan urusan lo.”
“Mau ke rumah sakit ketemu Reno?”
“Iya.”
“Emang nggak bisa pulang sekolah aja apa?” Ketusnya balik.
“Nggak bisa, males gue di sekolah ngeliat muka lo!” Keyra berlari keluar gerbang, kemudian menghentikan taksi yang lewat di depan rumahnya. Di dalam taksi ia berupaya menahan air mata yang terus mendesak untuk ditumpahkan, bibirnya gemetar dengan kuku yang terus ia gigit agar air matanya tak mengalir. “Maafkan aku ya Allah, aku nggak maksud durhaka sama Atlas. Aku hanya sakit saat mendengar kata-kata lembut dari mulutnya untuk wanita lain. Apa aku sedang cemburu? Ya bukankah wajar seorang istri cemburu melihat suaminya berpelukkan dengan wanita lain. Seharusnya aku nggak jatuh cinta secepat itu!” Batinnya, tiba-tiba bibirnya bergumam “Maaf Tlas, gue jatuh cinta sama lo!”
***
Atlas mematung mendengar kalimat itu dari bibir Keyra, ia kembali berjalan ke dalam dan mengambil tasnya di kursi meja makan. Sebelum ia berangkat, Atlas berbalik lagi dan berjalan ke dapur menemui bi Minah.
“Bi saya boleh tanya?”
“Eh den Atlas, silahkan den!” bi Minah, mengelap tangannya yang sedang mencuci piring kemudian menghadap Atlas yang sedang berdiri menyender pada tembok.
“Papa dan Mamanya Keyra ke mana ya bi?”
Bi Minah tiba-tiba terdiam saat pertanyaan itu mengalir dari mulut Atlas. Ia menarik napas panjang, kemudian kembali mengangkat kepalanya setelah sekian detik tertunduk.
“Memangnya Non Keyra dan Ibu nggak cerita sama Aden?”
“Bukannya mereka tak ingin cerita, tapi saya yang tidak pernah mengizinkannya untuk memberi tau.”
Bi Minah kemudian mengangguk, mengajak Atlas ke kamar yang terletak di lantai bawah lorong tangga. Atlas mengikuti langkah bi Minah, kemudian memperhatikan semua benda-benda yang ada di ruang kamar itu.
“Ini dia wajah mertuanya aden.” Tunjuk bi Minah pada foto besar yang terpampang di atas ranjang tempat tidur dengan nuansa serba putih.
“Serasi, cantik dan tampan. Pantas Keyra cantik ternyata ia mewarasi perpaduan kedua orangtuanya.” Tiba-tiba bibir Atlas memuji dan kalimat itu meluncur begitu saja.
“Dulu waktu kecil non Keyra hobi sekali foto sama tuan dan nyonya. Sampai-sampai kamarnya Non Keyra dan kamar ini penuh sama foto-foto mereka. Tapi…” Kalimatnya tiba-tiba terhenti.
“Tapi kenapa bi?”
“Tapi semua foto itu tiba-tiba menghilang. Kata pak Anto, bu Sari pernah membakar sesuatu di belakang rumah. Menurutnya foto-fota kenangan Non Keyra dan orang tuanya. Bu Sari nggak mau Non Keyra mengingat kejadian tragis lima tahun yang lalu. Yang membuat jiwanya kembali terguncang. Maka bu sari menghapus kenangan itu sebelum Non Keyra kembali pulang!”
“Kembali pulang? Memangnya Keyra ke mana?”
“Non Keyra sempat di bawa ke rumah sakit jiwa dan pernah melakukan percobaan bunuh diri, hampir dua kali ia kehilangan nyawanya. Umurnya saat itu masih sangat muda 13 tahun. Namun Bu Sari tidak tega melihat cucunya seperti itu, maka ia berinisiatif membawa non Keyra ke Pesantren. Alhamdulillah tiga tahun di Pesantren Non Keyra semakin dekat sama Allah, ia lebih sering bersyukur dan perubahan itu membuat kami sangat senang. Meski terkadang non Keyra harus rutinitas untuk terapi.”
Atlas terdiam, wajah itu tertunduk ada rasa sesak kini menjalar di dadanya. Ia berlari ke dalam mobil yang terparkir di garasi, kemudian merutuki dirinya. Mengapa ia tidak tau hal sedemikian beratnya yang harus di tanggung oleh istrinya. Mengapa selama ini ia mencoba menutup diri untuk tidak ingin tau apa yang sedang dirasakan oleh gadis itu. Atlas membenamkan wajahnya dilipatan kedua tangannya yang berada disetir mobil.
Itulah mengapa Tuhan memberikan kepekaan pada manusia, agar kita dapat merasakan apa yang orang lain rasakan. Namun terkadang kita memilih untuk tak peduli dengan orang-orang disekitar kita, hingga peka itu mati rasa. Kita terus menuntut untuk dimengerti, namun kita lupa bahwa ada orang yang ingin dimengerti oleh kita. Cinta seharusnya tak menuntut, tak egois, dan pura-pura tak peduli. Karena jika itu terjadi, kamu akan kehilangannya sebelum sempat bermekaran.
Mobil yang dikemudi oleh Atlas melaju menuju rumah sakit. Hari ini ia lupa akan bertemu dengan seseorang, seseorang yang tengah menunggu dan berharap-harap yang ditunggunya segera datang. Saat ini yang ada di pikiran Atlas adalah bertemu dengan Keyra kemudian memeluknya dan mengatakan maaf.
Sesampainya di rumah sakit, Atlas tampak gusar bahwa ia tak dapat menemui Keyra. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan, itu berarti ia sudah terlambat pergi ke sekolah. Atlas kembali mengecek ke kamar tempat Reno dirawat melalui jendela, namun Keyra tetap tak ada di sana. Atlas memilih untuk menunggu di ruang tunggu, mungkin saja ia berpikir kalau Keyra masih di jalanan.
Setelah dua puluh menit menunggu, Atlas tersenyum saat Keyra masuk ke dalam ruangan Reno dirawat. Atlas mendekat, kemudian mengintip dari jendela, ia tak mau menggangu ketenangan di rumah sakit. Sebab jika mereka sudah bertemu maka akan terjadi cekcok. Ditambah emosi Keyra saat ini sedang tidak stabil.
“Asalamuallaikum Ren!”
Reno yang sedang membaca buku dengan tubuh menyender dengan kedua bantal ditopang dipunggung, langsung menuruni bukunya. Bibirnya tersenyum saat orang yang dinanti-nantinya sejak kemarin baru saja tiba.
“Walaikum salam Key, akhirnya lo datang juga!”
“Maaf baru sempat jengukin. Lo ini ya, masih sakit sempat-sempatnya baca buku!”
“Seminggu lagi mau persiapan ujiankan? Jadi gue harus belajar ekstra biar bisa lulus, terus kuliah, dapat kerjaan dan ngelamar lo deh,” Tukasnya antusias.
Mata Keyra terbelalak mendengar kalimat itu. Begitupun dengan Atlas yang berada di luar. Keyra langsung menundukkan wajahnya, ia bingung harus berkata apa dihadapan Reno. Memang sejak kelas satu Keyra diam-diam juga menyukai Reno, namun hanya sebatas suka dan kagum. Apa lagi saat Reno selalu melindunginya dari perbuatan nakal Atlas. Reno ibarat ksatrianya namun tak pernah dapat ia miliki. Makanya sejak dulu Keyra hanya menaruh kekaguman pada Reno, namun menjauhkan kata cinta dalam hidupnya. Berharap ia tidak patah karena ditinggalkan sebelum dituai.
Sama hal nya yang saat ini ia rasakan. Ia mulai mencintai Atlas, namun cinta itu terus berkembang tanpa bisa ia rem. Cinta yang saat ini ia rasakan begitu sakit, ketika Atlas justru memikirkan orang lain. Seharusnya ia menjauhkan kata cinta itu sejak awal, agar tidak patah.
“Key!” Panggil Reno saat Keyra melamun.
“Key!” Panggilnya sekali lagi.
“Iya Ren, maaf aku tadi lagi nggak konsen.”
“Key, lo mau kan nungguin gue? lulus sekolah, gue janji akan kuliah sambil kerja yang rajin biar bisa nikahin lo!”
Bibir Keyra kelu, ia harus jujur pada Reno. Agar pria yang ada dihadapannya tidak patah hati. Lebih baik rasa itu segera dipadamkan sebelum berkobar seperti yang ia rasakan pada Atlas. karena ia tau rasanya bagaimana sakit tak dihiraukan. Namun sayang bibirnya tak bisa bergerak. Keyra hanya bisa merutuki dirinya sambil menahan tangis.
Sementara Atlas yang berada di sana tampak sedih dan tak menerima kalimat barusan yang dia dengar. Ia kemudian pergi dan menjauh dari kamar Reno. Entah mengapa pertanyaan Reno tadi kepada Keyra membuat hatinya sakit. Ia marah kepada dirinya sendiri kenapa ia tidak bisa seberani Reno? Lagi pula kenapa ia justru sakit hati, toh ia memang berniat tak ingin jatuh hati pada Keyra.
“Ren, maaf gue nggak bisa nunggu lo. Dan lo jangan nunggu gue!” Tukasnya lemah.
“Kenapa Key? Apa udah ada laki-laki lain yang mengisi hati lo?”
Keyra mengangguk, sambil menahan tangis.
“Siapa orangnya?”
“Dia pria brengsek yang selalu membuat hari-hari gue menjadi buruk!”
Reno terdiam, tiba-tiba air mata pria itu menetes begitu saja. Ia tertunduk mendengar kenyataan yang baru saja di lafadz kan oleh Keyra.
“Apa pria itu Atlas?”
“Kamu tau dari mana Ren?”
“Nggak peduli aku tau dari mana. Jawab aku apa orang itu Atlas?”
Keyra mengangguk.
“Kenapa Key? gue yang selama ini berjuang melindungi lo. Tapi kenapa pria itu yang mendapati hati lo? ini nggak adil Key, seharusnya gue bukan dia!”
“Ini juga bukan maunya gue Ren, tapi ini takdir cinta.”
“Tapi lo yang berhak memilih untuk melabuhkan cinta kepada siapa? seharusnya cinta itu bisa lo labuhkan ke gue bukan pria itu?”
“Gue yakin lo akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari gue. Gue ini hanya sesaat singgah di hati lo, anggap gue angin yang memberikan kesejukan, setelah itu pergi tanpa bekas. Karena gue nggak bisa jadi apa yang lo mau,” Tukasnya berlari keluar, Keyra berjalan ke taman rumah sakit, menjatuhkan tubuhnya di kursi taman kemudian menangis.
Entah mengapa rasanya sesak, namun lega. Setidaknya ia sudah menjadi istri yang baik, dengan menjaga hatinya untuk suaminya, meski ia tau kalau hati Atlas hanya untuk orang lain. Keyra menghela napas panjang, kemudian menghapus air matanya yang tak henti-hentinya mengalir.
“Lo itu udah punya suami, nggak seharusnya lo nangisin cowok lain!” Suara berat itu menyentakkan nya, ia menoleh ke belakang.
“Atlas?” Tukasnya terkejut.
“Kenapa, kaget?”
Keyra menggeleng, ia memejamkan matanya. Mengingat kejadian kemarin.
“Lo juga udah punya istri, nggak seharusnya lo peluk cewek lain!” Keyra memberanikan diri, sementara mata Atlas terbelalak, tak percaya dari mana Keyra tau kalau kemarin ia berpelukkan dengan Aya.
“Terus mau lo apa?”
“Gue nggak mau apa-apa Las. Gue cuma pengen lo ngehargain gue sebagai cewek, bukan sebagai istri lo. Cowok itu rata-rata brengsek ya dia pengennya dimengerti, tanpa mau mengerti. Dia suruh kita untuk menghargai, tapi dia sendiri nggak ngehargai. Sakit tau nggak!” Teriaknya kemudian berdiri.
“Sebentar!” Atlas menahan tangan Keyra.
“Mau lo apa lagi?”
“Maafin gue ya, udah ngebuat lo selalu nangis. Ngebully lo di kelas, ngejahatin lo sama Mita. Dan cewek itu, Aya dia bukan siapa-siapa gue. Suatu hari gue pasti akan cerita sama lo.”
“Iya lo jahat Las, karena lo hanya mikirin diri lo sendiri. Lo nggak tau gimana sakitnya gue!” Tangis Keyra pecah.
“Gue emang lelaki brengsek dan nggak seharusnya lo maafin gue,” Atlas menundukkan kepalanya, perkataan itu terdengar tulus.
Keyra terkejut dan berani menatap wajah Atlas. Ia tak pernah seumur hidup mendengar pria itu berkata maaf, apa lagi setulus yang saat ini ia dengar. Keyra masih tak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar. Apa mungkin ia sedang bermimpi? Namun nyatanya pria itu benar-benar sedang berdiri dihadapannya.
“Woi bengong aja si lo!” Teriakan Atlas kembali seperti semula. Membuat Keyra terpaku dan menggeleng-geleng kepala.
“Lo emang nggak pernah berubah Las.” Air matanya keluar kembali dan berlalu pergi.
Atlas mengejar Keyra kemudian menarik lengan gadis itu dan membawanya ke dalam pelukkannya.
“Baperan banget sih istri gue ini, Key lo kan tau kalau gue itu emang keras kayak gini. Walaupun begitu hati gue sebenarnya lembut. Udah ah jangan nangis terus.” Bisiknyanya tepat di telinga Keyra. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya, untuk pertama kalinya hati Keyra kembali utuh setelah dipecahkan berkeping-keping.
Atlas menjauhkan tubuh Keyra kemudian menatap matanya. Seperti mencari sesuatu, tiba-tiba ia tersenyum. Membuat Keyra menjadi salah tingkah. Tampan? ya Atlas memang sangat tampan jika tersenyum, itulah yang membuat Keyra tiba-tiba melabuhkan hatinya setelah menikah dengan Atlas. Padahal selama tiga tahun itu ia tak ada rasa sama sekali dengan Atlas, namun entah mengapa setelah menikah level ketampanan Atlas bertambah di mata Keyra.
“Masih ada beleknya tuh?” Atlas menghapus sisa-sisa air mata Keyra, kemudian merangkulnya.
“Mau makan bakso beranak? siapa tau setelah makan bakso beranak kita jadi punya anak.” Ledeknya terkekeh.
Keyra melepaskan rangkulan Atlas, kemudian menatap Atlas sebal. Pria itu terseyum geli kemudian merangkul istrinya kembali.
“Becanda Key, serius banget sih. Lah emangnya lo nggak mau punya anak? Lagian kita udah nikah juga.”
“Ya nggak secepat itu juga kali Las? lagian minggu besok kita udah mau ujian, fokus dulu sama ujian. Habis itu terserah deh lo mau punya anak apa nggak?”
“Idih udah nggak sabaran ya? emangnya lo nggak mau kuliah?”
“Ya mau lah.”
“Ya terus ngapain mancing-mancing gue biar cepet punya anak?”
“Iihhh lo nyebelin ya. Kan lo tadi yang mancing duluan. Au ah sebel gue!” Keyra melepaskan tangan Atlas, kemudian berjalan cepat. Atlas hanya tertawa melihat tingkah gemas Keyra yang membuatnya tiba-tiba merasa bahagia saat Keyra kembali ceria.
***
“Gimana bakso rekomendasi gue enak?” Tanya Atlas mengelus puncak kepala Keyra.
Keyra mengangguk. Sikap Atlas hari ini membuat jantung Keyra berdetak kencang. Apakah ini cinta? Jika iya, itu wajar bukankah sepasang suami istri ditakdirkan untuk mencintai seharusnya? Bukanya menjauh apa lagi saling menyakiti. Keyra menatap wajah Atlas, sementara yang ditatap memasang ekspresi bingung.
“Kenapa?”
Keyra menggeleng.
“Lah kalau nggak kenapa-kenapa ngapain ngeliatnya kayak gitu banget? Emangnya gue ganteng ya?”
Keyra mengangguk.
“Ahh udah biasa banyak yang bilang.” Atlas percaya diri, Keyra memasang wajah sebal.
Hari itu menjadi hari yang membahagiakan untuk Keyra dan Atlas untuk kedua kalinya setelah di Pariaman sebulan yang lalu. Mereka tampak asik memakan bakso beranak semangkuk berdua, hingga pembeli yang baru datang terus melirik iri ke arah mereka.
Setelah berusaha menghabiskan semangkuk bakso super mereka. Keyra dan Atlas keliling Mall sambil bergandengan tangan dan mencari ice cream. Kemudian mereka mencari tempat duduk dan menikmati ice cream sambil bercerita dan tertawa. Hari-hari Keyra terasa bermakna, hidupnya yang kelam berangsur-angsur terang. Seperti kelam yang pasti akan ada cerahnya.
Setelah seharian jalan-jalan, mereka memutuskan pulang. Keduanya tersenyum dan masuk ke dalam kamar masing-masing. Hari itu membuat hati keduanya serasa berwarna. Usai mandi Keyra langsung turun ke bawah membantu bi Minah memasak. Entah mengapa tiba-tiba Keyra ingin bisa masak, agar ia bisa membuat makanan untuk Atlas setiap harinya.
Setelah memasak sup dan beberapa menu lainnya, Keyra menghidangkannya di atas meja. Atlas yang baru turun dari kamarnya tersenyum geli, melihat Keyra benar-benar seperti seorang istri yang menyiapkan segala keperluan suaminya.
“Kamu udah mandi?”
Kalimat itu membuat Atlas terhenti di tangga terakhir, Keyra yang sadar cepat-cepat meralat pertanyaannya.
“Hmm maksud gue, lo udah mandi?”
“Kok diganti. Gue lebih suka lo pakai kata aku-kamu dari pada gue-lo.” Ledeknya, mencubit pipi Keyra.
“Lo aja pakai gue-lo.” Cemberutnya.
“Oke mulai hari ini kita pakai aku-kamu ya, lagian nggak enak dengarnya udah nikah gue-lo. Tapi kalau di sekolah tetap kayak biasanya ya? Aku nggak mau anak-anak tau status kita!” Tukas Atlas berjalan dan duduk di kursi.
Keyra mematung entah mengapa dadanya terasa sesak. Apa Atlas malu kalau anak-anak yang lain tau jika mereka suami istri? mengapa Atlas ingin sekali merahasiakannya. Apakah saat ini hanya dia yang berharap, sementara Atlas tidak? Apakah ia akan selalu menjadi istri simpanan? atau ia bisa dengan mudahnya dekat dengan wanita lain?
Keyra membeku, hingga panggilan Atlas yang ketiga kalinya tidak di dengar oleh Keyra.
“Key nggak disendokin nih ceritanya?”
Keyra tetap diam.
“Key!”
Ia memilih pergi ke dapur, kemudian ke taman melalui pintu belakang. Malam itu langit begitu cerah dengan hamparan bintang berkelap-kelip menghiasi angkasa. Keyra merebahkan tubuhnya di rerumputan sambil memandangi langit, ia mengingat kalimat Atlas kemarin, bahwa ia pernah memiliki Supernova. “Apa lo nggak mau kalau supernova lo tau, lo udah nikah? iya juga sih, kalau udah nikah jadi nggak bebas karena hati udah terikat. Pastinya berat buat lo, apa lagi kalau pacar lo tau. Sampai kapanpun gue cuma istri simpanan lo aja Las,” Tukasnya yang didengar angin, kemudian membawa isi hatinya pergi bersama dinginnya malam yang menghunus tulangnya.
Tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya kemudian merebahkan tubuhnya di samping Keyra tatapan matanya tertuju menatap bintang di langit yang kelam. Ia tersenyum sambil menoleh ke Keyra yang kini memejamkan matanya.
“Gue tau lo belum tidur, masa iya tidur di luar!”
Kalimat gue-lo itu kembali berkumandang, membuat dadanya sakit kembali. Entah Keyra yang begitu baperan, atau Atlas yang belum terbiasa melafadzkan aku-kamu kepada dirinya? yang pasti Atlas bisa dengan mudah mengatakan aku-kamu dengan wanita bernama Aya.
“Lo nggak jadi makan?” tanyanya membuka mata.
“Nggak, habisnya nggak disendokin?”
“Lah lo kan punya tangan bisa sendok sendiri.”
“Iya sih, lebih romantis kalau istri yang nyendokin!”
“Bodo’ gue mau tidur ngantuk!” Tukasnya duduk, namun Atlas menahan tangan Keyra untuk tetap di sana menemaninya.
“Jangan pergi dulu, kita lihat bintang sama-sama yuk?”
Entah kenapa Keyra hanya mengangguk, kemudian kembali duduk. Sebegitu besarkah daya tarik Atlas hingga dengan mudahnya ia bisa luluh. Atlas membenarkan posisi duduknya kemudian merebahkan kepalanya di pundak Keyra, gadis itu entah mengapa menjadi salah tingkah. Ia terdiam tak bergerak takut membuat Atlas tak nyaman di pundaknya.
Setelah beberapa menit, Atlas terdiam menatap wajah Keyra yang sibuk memandangi langit, kemudian ia memegang pipi kanan Keyra, membuat gadis itu bingung. “Lo wanita hebat Key, seharusnya gue beruntung memiliki lo, gue janji akan jadi suami yang baik buat lo. Maaf kalau gue kayak anak-anak namanya juga baru SMA jadi masih kaget aja.” Batinnya.
“Key gue boleh nanya sesuatu?” Atlas membuka suara setelah hening beberapa saat. Kemudian ia membenarkan duduknya menghadap Keyra.
“Nanya apa?”
“Kemarin lo nangis saat dengar Reno kecelakaan. Lo sedih ya, apa lo jatuh cinta sama dia?” Atlas memberanikan diri bertanya, karena ia akan merasa sakit jika terus disimpan.
“Sebenarnya gue rindu sama papa dan mama. Jadi setiap kali gue dengar ada yang kecelakaan, mengingatkan gue sama satu peristiwa yang terjadi lima tahun yang lalu,” Air mata Keyra tiba-tiba menetes di tangan Atlas yang kini sedang menggenggam tangan Keyra untuk memberikan kekuatan.
“Kalau lo belum siap cerita nggak apa-apa nggak usah cerita.” Atlas membenarkan duduknya menghadapa Keyra.
Keyra menggeleng, ia memilih untuk melanjutkan ceritanya.
“Las gue PTSD Post Traumatic Stress Disorder atau banyak orang bilang gangguan stress pascatrauma.”
Atlas bereaksi.
“Jadi apa yang dulu pernah lo bilang beneran, bukan cuma ancaman agar gue nggak jadi nikahi lo?”
Keyra mengangguk.
“Iya, kondisi kejiwaan gue nggak stabil, mungkin lo akan ngeliat gue kayak orang bingung dan stress, mungkin lo juga akan ngeliat gue cemasan, histersis dan nangis setiap kali dengar kecelakaan. Makanya gue labil kadang baik, kadang marah-marah sendiri, emosi gue nggak terkendali. Dan kalau malam hari gue jarang tidur, karena setiap kali tidur gue selalu takut bermimpi hal yang sama. Makanya anak-anak sering ngeliat gue ke sekolah dengan mata panda. Penyebabnya Lima tahun yang lalu pesawat yang kami tompangi mengalami kecelakaan. Gue yang ada di pesawat itu selamat meski harus terombang-ambing di lautan beberapa hari, sementara Mama dan Papa dinyatakan meninggal namun sampai sekarang mayatnya belum ditemukan. Gue Las yang udah nyebabin papa sama mama meninggal, seharusnya gue nggak nuntut papa sama mama untuk ke Hungaria ngeliat kakek gue di sana…” Kalimat Keyra terputus, ia menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba ingatan lima tahun yang lalu berputar di memorinya.
Keyra memejamkan matanya, terbayang jelas saat pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Ia terombang ambing di lautan dengan pelampung di tubuhnya. Jika saat itu ia masih hidup, itu adalah keajaiban luar biasa yang masih Tuhan berikan untuknya. atas ketidak mungkinan ia bisa bertahan selama seminggu di lautan luas yang entah di mana ujungnya. Setelah kejadian itu, ia mengalami gangguan mental dan sempat ingin mengakhiri hidupnya. Jiwanya terguncang hebat saat mengetahui kedua orang tuanya tidak bisa diselamatkan. Hingga membuat Neneknya terpaksa memasukkan Keyra ke pesantren agar mendapatkan siraman rohani.
Atlas menggenggam tangan Keyra dan memeluknya. Ia memberikan pelukkan ternyaman untuk wanitanya. Hari itu Atlas benar-benar hancur mendengarkan semuanya dari mulut Keyra. Seharusnya ia tidak meledek dan membuat hari-hari Keyra semakin hancur. Suami seperti apa dirinya membuat jiwa Keyra semakin menderita, setelah apa yang diusahakan neneknya untuk bisa membuat gadis itu kembali hidup menikmati hari-harinya. Sementara ia hadir untuk menghancurkannya. Atlas menahan air matanya, kemudian melonggarkan pelukkannya.
“Key lo percayakan setiap musibah yang terjadi sama lo pasti ada hikmahnya, Tuhan nggak semata-mata kasih musibah begitu aja, kalau nggak ada pelajaran yang bisa kita dapatkan,” Tukasnya menatap manik coklat milik Keyra.
Keyra mengangguk dan kembali memeluk suaminya. Tiba-tiba air mata pria itu mengalir dan cepat-cepat Atlas menghapusnya.
“Key bentar ya, gue mau ke dalam dulu?” Atlas melonggarkan pelukkannya dari Keyra.
“Iya.” Angguknya.
Atlas berlari ke dalam rumah, kemudian masuk ke dalam kamar dan meninju-ninju bantalnya. Sambil menahan teriakan yang sudah tak tertahankan.
“Bodoh lo Las, setelah apa yang lo lakuin lo mau bikin dia bahagia? Ke mana aja lo selama ini. Neneknya berusaha ngebuat dia kembali hidup dalam situasi paling rapuh, lo hadir untuk ngebuat hidupnya semakin hancur. Lo itu laki-laki brengsek. Dia udah mengalami titik terendah dalam hidupnya dan lo, seenak jidatnya ngebuat dia menyerah. Lo bukan suami yang baik buatnya!” Atlas terus menyalahi dirinya sendiri.
Pria itu berjalan ke jendela kemudian menatap ke bawah, matanya tak lepas memperhatikan Keyra yang masih duduk di taman. Hati Atlas bergetar tak henti-hentinya mengutuk dirinya sendiri. Sejak awal kalau tau penyebabnya, Atlas tak mungkin membully Keyra. Tapi bukankah memang seharusnya ia berbuat baik kepada semua orang?
“Las lo bodoh, emang bodoh. Cowok paling brengsek lo,” Ucapnya seraya memandang tubuh mungil istrinya dari atas kamarnya.
Saat Keyra menunggu di taman, kemudian yang ditunggu tidak juga hadir. Keyra menoleh ke jendela kamar Atlas, cepat-cepat Atlas menutup jendelanya agar Keyra tak mendapatinya sedang memperhatikan dirinya dari atas.
Keyra berjalan ke dalam rumah, sesampainya di depan pintu Atlas ia hanya menoleh sebentar kemudian masuk ke dalam kamarnya.
***
Waktu sudah bergerak ke angka sepuluh, mata gadis itu enggan terpejam. Seperti malam-malam lainnya, Keyra memilih untuk tidak tertidur, setelah pukul empat ia baru memejamkan matanya, pukul lima kembali bangun dalam satu hari hanya sejam ia bisa tertidur. Entah apa yang terjadi malam itu tiba-tiba matanya terlelap, pada pukul dua belas ia terbangun dan menangis. Atlas yang berada di samping kamarnya tersentak saat samar-samar suara tangisan perempuan membangunkan tidurnya.
Atlas melirik keseluruh sudut kamarnya. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri, diambilnya selimut ditutup lemas seluruh badannya. “Tuhan suara siapa sih nih malam-malam? Jangan ganggu gue, serius deh gue bukan orang jahat. Gue itu aslinya baik, sumpah!” Batinnya.
Namun suara itu belum juga berhenti, Atlas akhirnya memberanikan diri keluar kamar. Ternyata suara tangisan yang ia dengar berasal dari kamar Keyra. Atlas mengetuk pintu kamar istrinya.
“Key lo udah tidur?”
Keyra tak menyahuti, ia kemudian menutup mulutnya dan menahan tangis agar Atlas tak mendengarnya.
“Key, gue masuk ya? Gue tau lo lagi nangis, nggak perlu ditahan Key, kalau mau nangis, nangis aja!”
Atlas membuka gagang pintu kamar Keyra, rupanya pintu itu tak dikunci. Keyra menyembunyikan wajahnya di dalam selimut. Sementara Atlas berjalan menuju ranjang Keyra, dan membuka selimutnya.
Tubuhnya membeku, sambil menutup mulut dengan bantal. Atlas menatap manik coklat yang basah milik Keyra, kemudian menarik tubuh Keyra ke dalam pelukannya.
“Nangis aja Key, Nangis sepuas lo. Gue ada di sini, jadi lo jangan takut lagi?”
Ia hanya mengangguk, kemudian menumpahkan tangisnya di dalam dekapan Atlas.
Setelah setengah jam menangis dalam pelukkan Atlas, tiba-tiba matanya terpejam. Entah karena kelelahan menangis, atau mungkin waktu tidur yang kurang membuat Keyra akhirnya bisa memejamkan matanya. Atlas membaringkan Keyra di ranjangnya, sementara pria itu memilih tidur di sofa kamar Keyra. Memang mereka berstatus suami istri, Namun Atlas tidak mau gegabah. Ia harus bisa menahan nafsunya sampai nanti kelulusan sekolah.
Setelah menatap wajah wanitanya, Atlas mengucapkan kalimat “Aku mulai jatuh cinta sama kamu, hari ini dan seterusnya. Tetap tersenyum Key, selamat malam.” Dan Atlas perlahan mulai memejamkan matanya.
Masih mau lanjutannya, please kasih like dan komentarnya. Ceritanya akan dilanjutkan jika jumlah like lebih dari 20 puluh. Tolong hargai penulis, kritik dan saran akan diterima demi kebaikan penulis.