Sesuatu yang indah akan muncul dari kehancuran. Anggap saja semua ini seperti kehancuran yang terjadi pada gunung Patuha. Dari letusan yang dasyat, sebuah danau yang indah dan tak biasa muncul dari sana. Ingatlah kata-kata ini dengan baik.
Semua rencanaku berjalan dengan baik karenamu. Setelah semua masalah ini selesai, aku tak dapat menahan diriku untuk terlalu lama di tempat ini. Ayah memang keberatan tetapi dia tidak mengikatku seperti sebelumnya. Mungkin baginya aku seperti porselen-nya yang retak yang dia tidak akan bisa mengembalikannya seperti semula.
Maafkan aku pula atas perasaanmu. Kata-kataku mungkin terlalu kejam saat aku menyerang titik paling lemah darimu. Aku tidak ingin melukaimu tetapi pada akhirnya aku tetap melakukannya padamu. Balas dendamku dan perasaan yang aku inginkan darimu, semua itu hanya alibiku. Karena semakin aku bersamamu, semakin perasaanku terjebak oleh rasa cintaku. Karena kau tidak pernah layak untuk dibenci oleh siapapun di dunia ini.
Aku terluka saat kau lebih memilih menganggapku sebagai luka. Aku tidak menuntut rasa bersalahmu yang tidak berguna. Kita sepasang saudara tanpa ikatan darah yang memang tidak seharusanya bersama. Akan tetapi aku masih menyimpan harapan bahwa di bumi yang lain, yang tidak seorang pun mengenal kita satu sama lain, mungkin kita dapat bersama. Aku tidak ingin peduli lagi siapa dirimu kelak. Dan jika kau menyambut uluran tanganku disana, maka kita akan memulai semua dari awal. Kembali seperti baru pertama kali bertemu.
~Arza
Aku menghindarinya tetapi tidak benar-benar ingin menjauh darinya namun dia justru menghilang meninggalkanku terlebih dahulu. Tepat setelah ujian akhir sekolah, Arza pergi ke tempat yang pernah ia tunjukan kepadaku; Norwegia- negeri di sebelah kutup utara- tempat salju memang seharusnya berada. Dia meninggalkanku ke tempat yang terlalu jauh tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mungkin aku memang telah meninggalkannya saat pembicaraan terakhir kami. Tetapi aku tidak pernah menginginkan caranya yang pergi dengan sekejam ini.
Hatiku seperti hancur dan runtuh secara bersamaan. Retak bagai bongkahan es yang saling bertabrakan satu sama lain lalu hancur berkeping-keping. Aku masih es yang memiliki sisi pecahan yang tajam, tetapi sudut yang tajam itu juga menyakiti diriku sendiri. Arza benar-benar menghilang dari kehidupanku, meninggalkanku seperti ketakutanku semala ini.
“Itu yang terbaik untukmu Freya!” ujar ibu ketika aku berusaha menanyakan perihal kepergian Arza yang tiba-tiba. Aku sudah terlalu lelah untuk marah pada ibu. Dia terlalu banyak membuatku kecewa.
“Apa ibu yang membuatnya pergi?”
“Bukannya kau yang lebih tahu tentang rencananya? Ibu hanya membantunya membujuk ayahnya agar dia mempercepat kepergiannya.”
Aku mengusap wajahku kasar, berusaha menahan emosi. Setidaknya aku tidak ingin bertengkar lagi dengan ibu untuk kesekiankalinya. Aku telah mempelajari bagaimana perasaan semua orang tua. Aku pun menyadari rasa kepedulian ibu yang masih mengalir untuk kehidupanku, namun kata-kata kejamnya yang begitu terus terang tanpa rasa bersalah justru menghujaniku banyak kesakitan.
“Aku yakin, suatu hari nantu ibu akan membayar untuk semua ini,” gumamku yang membuat air mukanya berubah.
“Apa kau sedang mengutuk ibu, Freya?” tanyanya memohon penjelasan.
Kepalaku menadak pusing membayangkan bagaimana kepergiaan Arza yang tiba-tiba dipercepatnya. Ibu bahkan menedang dua orang sekaligus yang lebih berhak memiliki apa yang dimiliki ibu di rumah ini.
“Tidak! selama ibu bisa membayarnya dengan melepaskanku!”
“Freya!”
“Aku juga ingin pergi menjauh dari ibu! Dari penderitaanku, kumohon jangan menghalangiku kali ini.”
“Kemana kau akan pergi? Kau tidak akan bisa hidup tanpa campur tangan ibu. Kau pikir mudah hidup sendiri di dunia ini?”
“Aku memang tidak bisa. Tetapi aku memiliki tujuan dimana kebahagiaanku ada. Aku tidak akan merepotkan nenek selama ibu mengembalikan uang asuransi dari ayah yang pernah ibu gunakan dahulu.”
“Freya!” panggilnya sekali lagi.
“Aku berterima kasih jika ibu mau melakukannya untukku. Terima kasih karena masih mempedulikanku.” cibirku sembari mengambil langkah gontai meninggalkannya. Kepergian Arza menambah daftar panjang persetereruanku dengan ibu. Namun dari kepergian itu, aku mengumpulkan keberanian untuk mengambil keputusan itu. Aku meninggalkan ibu di istana itu seperti Arza meninggalkanku.
Arza yang menghilang seperti angin, meninggalkanku berjalan tanpa tahu arah mata angin. Aku selalu diliputi rasa sesal karena dia tidak membiarkanku mengucapkan sesuatu atau menjelasakan perasaanku. Kata-kata terakhirku bukanlah yang sebenarnya dari perasaanku. Aku hanya melampiaskan emosiku pada diriku sendiri. Aku tidak ingin menjauhinya, aku tidak bisa berpisah dengannya. Tetapi semua itu telah terlambat sudah.
Langkahku terhenti ketika aku sampai di luar pintu gerbang. Tubuhku ambruk karena sendi-sendi tulangku yang seolah terlepas begitu saja. Aku tidak bisa menangis meskipun aku ingin menangis. Arza benar-benar sudah tidak ada di negara ini lagi. Dia benar-benar pergi, bahkan ketika aku menelpon ke rumahnya di Bandung. Rumah itu bahkan telah berganti kepemilikannya. Secepat itukah semua yang aku tinggalkan berlalu. Aku bahkan masih tak mempercayai bahwa kepergiannya memang nyata.
******
Hari-hari yang berlalu semakin membuatku menyesali keputusanku pergi ke Bogor selama liburan semester akhir itu. Pikirku Arza akan pergi setidaknya setelah wisuda SMA tetapi dia bahkan tidak peduli apakah dia lulus atau tidak. Dia benar-benar tidak peduli apakah aku akan baik-baik saja tanpanya atau tidak. Yang sebenarnya adalah aku benar-benar hancur karena dirinya.
“Dia punya kepercayaan diri tinggi sehingga sangat yakin bahwa dia pasti lulus. Makanya dia pergi! Dan ini… dia menitipkan ini padaku sebelum pergi!” ujar David sembari menyerahkan sebuah surat pos bergambar negara Norwegia itu padaku.
Aku menutup mulutku tak percaya. Kata-kata yang tertulis di baliknya adalah bahwa dia menungguku menyusulnya ke negara itu. Aku tidak tahu bagaimana caranya merasa bahagia disaat kepergiaannya adalah derita. Namun setidaknya kehadiran kartu pos di detik-detik terakhir kehancuran seluruh jiwaku dapat memunculkan letupan harapan di hatiku. Aku pun dapat bangkit. Menggapai bayang-bayang uluran tangan yang semu.
“Kau kelihatan sangat buruk karena Arza meninggalkanmu, lihat saja lingkaran hitam di matamu itu! Kau benar-benar tidak cantik lagi,”ujarnya berusaha menghiburku. Dia menghidupkan cerutu-nya dengan santainya meski kami berada di area sekolah. Dia juga terlalu yakin bahwa dia bukan lagi siswa SMA sejak saat ini.
“Kau mau?” tawarannya yang langsung ku hujani dengan tatapan tajam.
“Aku mengerti! Kau kapok bukan? Aku jadi merasa kehilangan patner in crime-ku. Yah… sudah sampai jumpa! Kita akan bertemu lagi saat kau sudah lebih dewasa, dan jangan menangisi kepergian kakak laki-laki tersayangmu itu lagi!” pesannya sebelum meninggalkanku pula.
Dia juga pergi untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Begitu pula dengan teman-teman Arza lainnya. Mereka setidaknya lebih baik dari Arza karena meninggalkanku dengan ucapan selamat tinggal yang indah. Tidak ada lagi private party setelah ini, tidak ada lagi Arza yang memainkan music yang bahagia di malam hari, mereka semua pergi. Dan lengkap sudah segala kesedihanku di pertengahan masa SMA.