Loading...
Logo TinLit
Read Story - Detik Kesunyian
MENU
About Us  

Disini aku terbaring. Di sebuah tempat antah berantah entah dimana. Semuanya buram, namun dapat kulihat jelas warna putih pekat mengelilingiku, memunculkan sinar silau yang membuatku mau tak mau harus memejamkan mata.
Aku dimana?

Aku merasa tak lagi memiliki bobot, tubuhku gemetar. Bukan karena rasa sakit. Tapi hatiku yang berdebar kacau entah karena apa. Seolah beribu masalah mengejarku.

Ingin aku berteriak dan berlari walau aku tak tau untuk apa. Yang jelas aku hanya ingin keluar dari situasi menyeramkan ini, meski pada kenyataannya aku tak dapat mengontrol tubuhku sedikitpun.

Sebuah sinar muncul tepat didepanku membuat perasaan campur aduk-ku sedikit membaik. Setidaknya ada harapan sinar itu akan mengeluarkanku dari sini. Walau entah kenapa perasaan buruk terus membisikkan kata-kata pahit untukku. Seperti, bagaimana jika sinar itu adalah transportasiku pada tempat yang lebih buruk? Parahnya, bagaimana jika aku dipaksa kesana walau aku enggan?

Air mataku hampir saja menetes terharu ketika aku merasakan tubuhku keluar dari situasi sebelumnya, menampakkan sebuah hamparan hijau segar di sekitarku. Bukan sesuatu yang menakjubkan, tapi entah kenapa aku ingin sekali bersyukur sebanyak-banyaknya. Terasa senyumku tercetak, kakiku bermaksud untuk beranjak berdiri menikmati kebebasanku. Meski aku masih belum paham tentang apa yang terjadi padaku.

Namun nihil, aku tak merasakan tubuhku berdiri. Hendak aku menyentuh kakiku, namun justru mataku mlotot membesar ketika melihat bentuk tanganku yang penuh bulu cokelat. Manik mataku kemudian melirik bagian kakiku yang berupa sama. Sepersekian detik kemudian tangisku pecah melihat bagian belakangku yang tumbuh ekor.

Ketika itu pula aku sadar, aku bukanlah lagi seorang manusia. Melainkan sesosok makhluk yang lahir kembali sebagai kucing.

Ya, kucing. Semuanya terasa jelas sekarang, memoriku kembali membuatku mengerti tentang apa yang terjadi padaku. Dari tempat serba putih tadi hingga bentukku yang berubah menjadi seekor kucing.

Semua kepingan memoriku seolah menjadi bayangan-bayangan yang hadir tepat di depan mataku secara bergantian.

Dimulai dari hari itu yang menjadi hari terburuk sepanjang hidupku. Semua kehidupanku yang seolah sempurna berjungkir balik menjadi seseorang yang tak memiliki apa-apa. Perusahaanku bangkrut, hutang menumpuk hingga akhirnya aku dan istriku ditendang dari istana megah kami.

Memoriku berganti, berpindah pada masa-masa terakhir hidupku. Ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam muncul entah dari mana dan menabrakku hingga tubuhku terpental sampai jarak lebih dari lima belas meter. Dapat kuingat bagaimana cairan merah itu mengalir tepat di depan mataku. Namun terlebih dari itu, hal yang paling kuingat adalah senyumku yang merekah entah mengapa mengiringi mataku yang kemudian terpejam.

 

***

 

Entah harus bersyukur atau tidak atas apa yang kualami. Berdiri disini di kota kelahiranku sebelum aku pergi merantau, membuatku sedikit banyak menghela napas lega. Setidaknya dengan bentukku yang berupa kucing aku bisa menelusuri seluk-beluk kota ini.

Aku terus melangkah di pinggiran jalan raya dimana banyak mobil-mobil bersaut-paut seolah memamerkan kepadaku bahwa mereka bisa berjalan dengan hormatnya disana, menertawakan aku si kucing jalanan yang hanya bisa mengeong dan terus mengeong. Sembari melangkahkan ke-empat kakiku aku terus berpikir,

Sebodoh itukah aku menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan kemarin?

Sehina itukah caraku hidup di dunia fana?

Hingga dengan tega aku dihilangkan dari dunia dengan tragis, terlebih dilahirkan kembali sebagai seekor kucing jalanan tak berdaya. Ingin aku memberontak namun apa daya hanya sebuah kata meong yang dapat kuucapkan ataupun cipratan lumpur di pinggir jalan yang kudapat. Apa daya jika aku hanya seekor kucing yang tak tau harus menyalahkan siapa atas semua ini.

Langkah kakiku terhenti di depan sebuah rumah tua nan kecil dihadapanku. Sungguh aku mengenal rumah ini dengan baik. Rumah di ujung jalan setelah melewati jembatan dengan hiasan lonceng di depannya. Semuanya masih sama, rumah yang kutinggalkan masih menyisakan kenyamanan untukku.

Kulangkahkan kakiku menaiki beberapa anak tangga di depanku, mataku masih menyelusuri setiap sudut dari rumah ini. Tak ada yang spesial, rumahku di ibukota jauh lebih megah tapi kenyamanan disini jauh lebih besar. Aku masih bisa merasakan kasih sayang yang menjadi saksi bisu terkubur bersama rumah ini, melihatku tumbuh menjadi orang berguna,

Yang sayangnya tak tau diri melupakan rumah dan suasana berharga ini hanya demi uang dan kehormatan.

Pintu depan yang dulu selalu kugunakan untuk mengukur tinggi badanku kini sudah rapuh, seolah sudah lelah melindungi rumah reot ini. Kursi yang dulu selalu kugunakan untuk duduk melihat langit dan bermimpi kini pun tak lagi kokoh seperti dulu. Padahal keduanya bagian dari saksi bisu yang melihatku tumbuh dewasa dan sukses membuktikan bahwa semua mimpiku tak hanya sekedar mimpi.

Aku mendengus, hatiku seolah teriris. Dan bersamaan dengan itu knop pintu reot itu bergerak kemudian menampakkan seorang wanita lanjut usia di belakangnya.

Mataku membelalak kaget, hampir lebih dari sepuluh tahun aku tak melihat wajah damai ini. Wajah putih mulus yang dulu selalu tersenyum kini tertutupi dengan beberapa keriput meski itu tak menghilangkan wajah cantiknya.

Wanita ini cantik. Mengapa aku baru menyadarinya ketika aku melihatnya dengan mata seekor kucing?

Kedua bola matanya menatapku lama, tatapan itu sendu namun bibirnya masih membentuk lengkungan tipis yang mendamaikan hatiku. Kemudian beliau berjongkok dan mengulurkan tangannya meraihku. Menggendongnya di dekapannya.

Hangat.

Demi tuhan, ini adalah perasaan terdamai yang pernah kurasakan. Hatiku sejuk seolah semua masalah dalam benakku hilang. Perasaan ini jauh lebih berharga dibanding dengan ketika saham perusahaan melonjak tinggi, ataupun berlibur keliling dunia yang selalu kulakukan saat aku hidup sebagai manusia.

Aku seorang anak durhaka tak tau diri  kini hanya bisa menangis dan menyesal meratapi nasib. Menyesal aku tak pernah menjengukmu setelah aku berada di atas, menyesal aku menutup mata dan berpikir bahwa kau akan baik-baik saja. Kenyataannya, kau disini masih setia menungguku untuk memeluk dan menciummu lagi.

Dan saat itu pula aku sadar, kasih sayang seorang Ibu tak akan pernah pudar bahkan ketika sudah terkhianati. 

 

 

***

 

Lagi.

Lagi-lagi aku berada di dekapan ini, dekapan hangat nan damai penuh cinta ini. Ingin aku berteriak padanya dan meminta maaf atas apa yang sudah kuperbuat selama ini. Ingin aku membalas dekapannya dan mencurahkan semua yang ada di dalam benak maupun hatiku seperti dulu.

Namun kusadar, semua terlambat. Nasi sudah menjadi bubur dan waktuku telah berlalu. Aku bahkan tak lagi diizinkan untuk sekedar berkata ‘Maaf, Ibu.’

Ya, waktu yang Tuhan berikan padaku telah selesai. Kini aku paham mengapa aku dilahirkan kembali menjadi kucing dan mengapa Tuhan mengirimku ke tempat ini. Kurasa Tuhan ingin menunjukkan padaku apa yang harus kusesali.

Dan aku bersumpah, aku menyesal.

Menyia-nyiakan hidupku diatas kebahagiaan duniawi yang selalu ku kejar. Meninggalkan apapun yang menyertaiku disaat aku dalam perjalanan menuju sukses. Dan sungguh hina diriku tak mengingat mereka ketika aku berada di puncak.

Nyatanya rumah reot yang tak ada apa-apanya dengan rumah megahku memberiku kenyamanan tiada duanya, namun sayangnya kebutaanku membuatku memilih untuk mengelilingi dunia dan menghamburkan uangku. Padahal kebahagiaan sesungguhnya tak membutuhkan itu, semua berada disini bersama kenanganku.

Nyatanya pelukan Ibu yang memberiku kedamaian, bukan segelintir harga yang dulu selalu kusembah. Senyumnya yang selalu mendinginkan hati, bukan saham yang dengan mati-matian ingin kunaikkan.

Namun sekali lagi nasi sudah menjadi bubur. Aku bisa merasakan semua kebahagiaan yang sesungguhnya dalam bentuk seekor kucing, dan yang bisa kulakukan kini hanya menggendong penyesalan berlimpah bukan hal yang selalu kucari semasa hidup.

Yang bisa kulakukan kini hanya berandai-andai. Bukan lagi berandai-andai untuk menjadi lebih pintar, bukan lagi berandai-andai untuk menjadi sukses, dan tak lagi berandai-andai untuk melipat gandakan uang.

Aku hanya ingin mengucap jika,

Jika aku bisa berbicara, aku tak akan lagi mengucap dusta. Hanya satu kata maaf yang ingin terucap walau kutahu itu tak akan sepadan dengan kedurhakaanku kepadamu, Bu.

Jika tanganku bisa bergerak layaknya manusia, aku tak akan menggunakannya untuk dosa. Aku hanya ingin mengulurkan tangan dan mengusap wajahmu, Bu.

Dan jika aku bisa memutar waktu, tak akan kugunakan waktuku untuk hal sia-sia dan menyembah fana. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersamamu, merangkulmu untuk bersama melihat kesuksesan dari puncak.

Karena kau yang merawatku saat aku lemah tak berdaya, kau yang menggandengku saat aku buta dan tak tau arah, kau yang merangkulku dan berusaha mati-matian menaikkanku kepuncak.

Maafkan aku Bu, dengan tak tau diri melupakanmu yang menemaniku menempuh perjalananku menuju puncak.

 

***

 

 

Tags: family sad life

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 4
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Heart To Heart
1549      964     11     
Inspirational
Story About A Girl And Her Father
SURREAL
815      513     5     
Short Story
Death, is the biggest broken heart on this world.
Cemong, Kucing Kecil Kesayangan
654      448     0     
True Story
Riska adalah seorang gadis kecil yang berusia 8 tahun. Ia tinggal di sebuah rumah kecil di pinggir kota bersama keluarganya. Suatu hari, Riska menemukan seekor anak kucing yang lucu dan menggemaskan di depan rumahnya. Ia langsung jatuh cinta dengan anak kucing tersebut dan memutuskan untuk merawatnya. Luna memberi nama anak kucing tersebut "Cemong". Novel ini saya buat untuk mengenang anak kucing...
Embun dan Bulan Dalam Hidupku
1434      908     4     
Short Story
Pa, aku kangen papa
Acropolis Athens
6299      2437     5     
Romance
Adelar Devano Harchie Kepribadian berubah setelah Ia mengetahui alasan mendiang Ibunya meninggal. Menjadi Prefeksionis untuk mengendalikan traumanya. Disisi lain, Aram Mahasiswi pindahan dari Melbourne yang lamban laun terkoneksi dengan Adelar. Banyak alasan untuk tidak bersama Aram, namun Adelar terus mencoba hingga keduanya dihadapkan dengan kenyataan yang ada.
Beach love story telling
3116      1537     5     
Romance
"Kau harus tau hatiku sama seperti batu karang. Tak peduli seberapa keras ombak menerjang batu karang, ia tetap berdiri kokoh. Aku tidak akan pernah mencintaimu. Aku akan tetap pada prinsipku." -............ "Jika kau batu karang maka aku akan menjadi ombak. Tak peduli seberapa keras batu karang, ombak akan terus menerjang sampai batu karang terkikis. Aku yakin bisa melulu...
Sweet Equivalent [18+]
5825      1674     0     
Romance
When a 19 years old girl adopts a 10 years old boy Its was hard in beginning but no matter how Veronica insist that boy must be in her side cause she thought he deserve a chance for a better live Time flies and the boy turn into a man Fact about his truly indentitiy bring another confilct New path of their life change before they realize it Reading Guide This novel does not follow the rule o...
The Future Husband Next Door
414      320     4     
Romance
Ketika berjuang merebut hatinya bertahun-tahun.. Namun, ternyata perjuangan mu sia-sia.. Karena, nyatanya kamu bahkan tidak perlu berjuang untuk merebut hatinya...
Lovebolisme
610      540     2     
Romance
Ketika cinta terdegradasi, kemudian disintesis, lalu bertransformasi. Seperti proses metabolik kompleks yang lahir dari luka, penyembuhan, dan perubahan. Alanin Juwita, salah seorang yang merasakan proses degradasi cintanya menjadi luka dan trauma. Persepsinya mengenai cinta berubah. Layaknya reaksi eksoterm yang bernilai negatif, membuang energi. Namun ketika ia bertemu dengan Argon, membuat Al...
Sang Musisi
465      319     2     
Short Story
Ini Sekilas Tentang kisah Sang Musisi yang nyaris membuat kehidupan ku berubah :')