Loading...
Logo TinLit
Read Story - Koma
MENU
About Us  

Melalui jendela yang membiaskan cahaya lampu kamarnya, Sello melihat lampu rumah tetangga di seberang rumahnya menyala. Berarti rumah yang kosong selama sebulan itu sudah ditempati penghuni baru. Berbeda dengan hatinya yang kosong sejak lama, hingga kini dia belum menemukan penghuni yang tepat untuk menempatinya. Vanda yang menjadi kandidat kuat beberapa kali menolak dirinya. Ini sangat menyebalkan dan menyakitkan. Belum pernah dia mendapat penolakan yang terang-terangan dan setegas itu. Seandainya pilihan hatinya jatuh pada Sesil, mungkin gadis itu akan menyambut cintanya dengan teriakan histeris dan ekspresi alay-nya. Lagipula cewek bodoh mana yang bakal menolak cintanya?

Sello mengambil gitar yang tergantung di dinding, merengkuhnya di tepi ranjang. Lalu dia melantunkan lagu yang mewakili suasana hatinya.

"Dear God... the only think I ask of you is to hold her when I'm not around, when I'm much too far away. We all need the person who can be true to you, but I left her when I found her and now I wish I'd stay. Cause I'm lonely and I'm tired, I'm missing you again... "

Dering ponsel memaksa Sello menghentikan nyanyiannya. Malas-malasan dia mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.

"Ya, halo," sapanya.

"Hai," jawab suara di seberang. Vanda.

"Oh, hai."

"Are you ok?"

"Tidak pernah sebaik ini sebelumnya."

"Good."

"Good? Apa kamu tidak mengerti sekarang ini aku sedang terluka? You've hurt me."

"Maaf, tapi aku... "

"Jika kamu menghubungiku untuk melukaiku, lagi, sebaiknya kamu tutup saja telpon ini."

"Tidak, tidak. Justru sekarang ini aku ingin memperbaiki apa yang telah kulakukan padamu."

Sello memutar bola matanya. "Oh, manis sekali."

"Aku serius, Sel."

"Baiklah. Aku mendengarkannya."

"Aku tahu perasaanmu padaku. Aku tahu usahamu untuk meraih simpati dan perhatianku. Tapi sebaliknya, aku justru terlalu keras padamu. I'm sorry about that." Diam sejenak. "Aku tak tahu apakah ini akan berhasil mengubah pandanganku terhadap kamu, tapi aku ingin mencoba menjalaninya. Masih adakah ruang buatku... di hatimu?"

Mata Sello membesar dengan senyum merekah. "Kamu serius?"

"Asalkan kau tidak menodongku dengan pertanyaan mimpi konyol lagi."

"Aku janji. Aku takkan menanyakannya lagi, tapi kamu perlu tahu bahwa aku tak bisa berhenti memimpikanmu."

Vanda cekikikan di seberang sana. "Kalau begitu kutunggu kamu di mimpiku."

Sello tersenyum lebar. "So, apa yang membuatmu berubah?"

"Lara."

"Lara?"

"Dia meyakinkanku untuk coba menerimamu."

"Oh. Aku patut berterima kasih padanya."

"Pasti."

"Tapi tidak sekarang. Aku masih menikmati kebahagiaan ini untuk beberapa saat lamanya bersamamu. Boleh aku menjemputmu sekarang? Janggal rasanya bila merayakan hal ini di telepon."

"Masih ada hari esok. Jangan lebay."

"Aku benci menunggu." Sello melirik jam meja. "Ini masih pukul sebelas."

"Aku bilang tidak ya tidak. Jangan memulai jadian kita dengan perdebatan."

"Oke, oke. Aku akan duduk manis di sini, tapi jangan tutup teleponmu."

"Lalu sampai kapan aku harus menggantung ponsel di telingaku? Headsetku sedang bermasalah."

"Tunggulah sebentar lagi, sayang."

"Oh, manis sekali. Jangan panggil aku sayang."

"Nah, loh. Kenapa?"

"Dengar, kau mungkin tidak tahu apa yang telah aku alami sebelum ini, tapi kita mesti buat peraturan selama masa percobaan hubungan ini sampai aku benar-benar bisa menerima dirimu seutuhnya. Mengerti?"

Sello garuk-garuk kepala. "Tidak bisakah kita menjalaninya seperti air mengalir. Aku bisa menjaga diriku dari perbuatan yang tidak..." Menghela nafas. "Yang penting aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Percayalah."

"Aku percaya padamu. Tapi aku benci dengan panggilan-panggilan konyol orang pacaran seperti kaupanggil aku Mami, kupanggil kau Dedi. Oh, please!"

Sello ngakak sejadi-jadinya. "Aku pikir apa. Adalagi yang mengganggumu, Non?"

"Setiap kali aku melarang, kamu jangan membantah dan jangan mendebat."

"Tidak bisa kuterima. Bagaimana jika laranganmu itu ternyata baik bagiku?"

"Aku bukan cewek bodoh yang tidak punya pertimbangan."

"Oke, oke."

"Aku ngantuk."

"Tahan sebentar lagi."

"Apalagi, sih?"

"Tidak ada. I just wanna say... I love you."

"Hm."

"Kok 'Hm'?"

"Iya, iya. I love you too."

"Asiiik!"

"Sudah, ya?"

"Oke, sayang. Met bobok. Prioritaskan aku di mimpimu."

"Oke. Thank's. Bye!"

Klik!

Sello menghela nafas. "Dingin amat," gumamnya, tapi tak lama setelah itu dia tersenyum puas dan spontan melakukan gerakan selebrasi layaknya pemain bola pencetak gol. "Yes! Yes! Yes! I got her! Yeaahh!" Puas melakukan selebrasi, dia teringat pada Lara. "Ah, yang satu ini tidak boleh ditunda," gumamnya seraya menghubungi nomor telepon Lara.

Tiga kali deringan, telepon baru dijawab dengan suara serak.

"Kamu sudah tidur?" tanya Sello.

Terdengar Lara berdehem. "Tidak," jawabnya.

"Aku tidak mengganggumu'kan?"

"Tidak."

"Syukurlah." Sello diam sejenak. "Um, barusan Vanda menghubungiku."

"Oh, ya?" Suara Lara terdengar surprise.

"Thanks, ya?"

"Untuk apa?"

"Sudah menyatukan aku dan Vanda."

"Oh, kalian memang pantas kok."

"Besok aku traktir kamu, deh."

"Duh, tidak perlu. Kalian jadian saja aku sudah senang."

"Kamu tidak boleh menolaknya. Lagipula pamali nolak rejeki." Sello tidak mendengar tanggapan Lara. "Baiklah," katanya. "aku cuma kasih kabar itu saja, takut kelupaan soalnya. Sekali lagi, terima kasih dan... selamat malam." Menutup sambungan, lalu kembali tersenyum puas.

Sello menghempaskan dirinya ke tengah ranjang, merogohkan tangan ke balik bantal, mengeluarkan foto Vanda. "Akhirnya kutemukan pemilik hati ini." Memandangi foto dengan sangat ekspresif. "Hampir aku lupa," desahnya seraya meraih ponsel dan menghubungi Lara kembali.

"Ya, halo," balas Lara ketika telepon tersambung.

"Sorry mengganggu kamu lagi."

"It's ok."

"Aku mau minta bantuan padamu. Boleh?"

"Sebut saja."

"Um, pastikan Vanda menaruh fotoku di bawah bantal, ya?"

"Oh, masalah itu. Aku sudah menyampaikannya."

"Tapi tolong sampaikan sekali lagi, bisa?"

"Baiklah."

"Terima kasih. Selamat malam."

"Malam."

Klik!

Sello menjauhkan ponselnya.

Larut malam sebelum tidur, Sello berdoa dalam hati agar diberikan mimpi indah, bertemu dengan Vanda. Baginya itu adalah harapan tertinggi seorang yang sedang kasmaran menjelang tidur, bertemu dengan pujaan di setiap kesempatan.

Ketika tepat pada saat memiringkan badan dalam upaya masuk ke tidur lelap, Sello dikejutkan dengan titik air yang membasahi pipinya. Dia memutar badan dan mengerutkan dahinya ketika melihat Vanda mengibaskan tangan, mencipratinya dengan air yang berasal dari lelehan es batu di dalam gelas kristal. Alih-alih bangkit dari ranjang, dia terjatuh tertelungkup di hamparan pasir putih. Dan ketika menoleh, ranjang yang dia tempati telah berganti menjadi kursi pantai. Tak jauh dari sana terbentang hamparan air laut berwarna gradasi biru dan hijau yang memukau, dengan gulungan ombak kecil yang pecah di tepi pantai.

"Menakjubkan," desis Sello, melongo.

Vanda mengekeh. "Lihat wajahmu," katanya. "Persis seperti orang bodoh." Mengangkat gelas kristal berisi air berwarna kuning, mungkin jus jeruk atau sejenisnya, lalu mendekatkan ke bibir dan menyesapnya.

Vanda sangat cantik dengan pakaian pantai yang melilit tubuhnya dengan motif floral yang didominasi warna biru. Tapi ada satu hal yang tak dapat dilihat Sello dengan jelas. Wajahnya blur seperti kena sensor. Kok bisa sih?

"Di mana kita?"

"Masak kamu tidak tahu di mana kita?"

"Aku tahu ini pantai, tapi sangat asing bagiku. Apa ini di Bali?"

Vanda tertawa manja. "Ayahku membawaku kemari empat tahun yang lalu sebagai hadiah atas prestasiku meraih ranking pertama berturut-turut selama enam tahun di SD. Kupikir akan ada liburan kedua ketika aku mengulang prestasi di bangku SMP," Ekspresi berubah sedih. "tapi setelah Ayahku meninggal dalam kecelakaan lalu lintas, tidak akan ada lagi liburan kedua, ketiga atau seterusnya."

Sello menunjukkan wajah prihatin. "I'm sorry."

"It's, ok." Vanda menghela nafas, menepis kesedihannya. "Kita berada di Pulau Derawan sekarang."

"Pulau Derawan?"

"Mm-hm. Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur." Vanda menilik ekspresi bingung Sello. "Oh, please! Jangan bilang kamu belum pernah mendengarnya?"

"Bukan begitu. Aku cuma..." Sello menatap jauh ke arah lautan, lalu beralih ke langit, menyaksikan matahari mulai merangkak di kaki langit. Sebentar lagi senja. "... tak percaya dengan semua ini."

"Kau mau membahas kebingunganmu yang tidak penting itu atau hubungan kita yang baru saja kita jalin?"

"Oh, maaf."

Vanda menyesap kembali minuman dalam gelas, lalu membuang sekenanya melalui bahunya. "Ikut aku." Menggamit lengan Sello.

"Hei, boleh aku tanya sesuatu padamu?" tanya Sello ketika mereka berjalan menuju jembatan kayu yang mengarah ke laut.

"Silakan."

"Kenapa sikapmu begitu dingin padaku? Maaf, aku tidak bermaksud..."

"Pikirkan saja sendiri."

Sello melenguh. "Aku cuma tidak memahamimu saja." Mereka sudah tiba di ujung jembatan kayu yang mengarah ke laut. Pandangan Sello jatuh ke permukaan air bening, menyaksikan penyu-penyu hijau berseliweran. "Bahkan laut saja memperlihatkan isinya kepada kita."

"Laut hanya memperlihatkan keindahannya sebatas apa yang bisa terlihat mata kita dari permukaan. Kau harus menyelaminya untuk mengetahui keindahan apa saja yang tak pernah kaulihat dari permukaan." Vanda meletakkan tangannya ke bahu Sello, lalu mendorongnya hingga jatuh ke laut.

Sello gelagapan, menendang-nendang kakinya agar dirinya tetap terapung.

"Just relax," bisik Vanda yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya, mengenakan perlengkapan diving. "Follow me!"

Sello memeriksa dirinya yang ternyata sudah mengenakan perlengkapan diving. Lalu dia menyelam, mengikuti Vanda yang sudah berada satu meter di bawah sana dikelilingi penyu-penyu hijau. Gerakan Vanda terlihat seperti menari ketimbang gerakan menyelam. Sangat anggun.  

Seekor penyu hijau mendekati Sello dengan gerakan berenang yang malu-malu. Namun tepat ketika Sello hendak menyentuhnya, penyu hijau itu berkelit dan bergerak menjauh. 

Dive komputer menunjukkan kedalaman laut berada pada lima meter. Beragam biota laut berenang hilir mudik tanpa peduli keberadaan dua penyelam di dekat mereka. Dari sekian banyak biota laut, Sello cuma mengenal tiga di antaranya saja; cumi-cumi, kuda laut dan belut pita. Mereka semua sangat menakjubkan, terlebih jenis yang mirip siput. Inikah siput laut itu, pikirnya seraya mengamati warna cerah yang dimiliki hewan itu.

Mereka tiba di sebuah tebing karang pada kedalaman sepuluh meter. Blue Tigger Wall. Tempat hidup ikan tigger dan ribuan biota laut lainnya. Seekor belut pita melongok dari balik lubang karang, lalu dengan sigap berenang melintasi Sello. Buset, binatang itu nyaris saja mengenai senjataku!

Masih menikmati pemandangan laut, Vanda berenang mendekati Sello dan memberi isyarat untuk naik ke permukaan. Langit memerah tembaga. Malam akan turun. Sello mempercepat kayuhan kakinya agar lekas tiba di permukaan untuk menyaksikan sunset sambil duduk di tepi ujung jembatan bersama Vanda. So sweet!

Kuharap ini bukan mimpi. Mimpi. Mimpi...

"Hei!" Vanda menyikut lengan Sello. "Apa yang kaupikirkan?"

"Eh, apa?"

"Kau sangat menikmati sunset rupanya."

Sello tersenyum tipis. Sekarang mereka sudah berada di ujung jembatan, duduk menjuntaikan kaki. "Aku mengerti sekarang."

"Mengerti apa?"

"Tentang dirimu."

"Oh, ya?" Mata Vanda membulat. "Tapi kok aku ragu gitu, ya?"

"Di balik sikapmu yang dingin, kau menyimpan sejuta pesona keindahan dan keromantisan untukku." Sello merapatkan duduknya. Melingkarkan tangan, memeluk bahu Vanda. "I love you."

Vanda mengangkat tangan, membatasi pipinya yang hendak dicium Sello. "Not now."

"Kenapa?" Sello kecewa.

"Ibumu memanggilmu."

"Ha?" Sello menoleh dari bahunya dan melihat ibunya berdiri sambil berkacak pinggang, mempelototinya.

"Bangun!"

Sello kaget. Bentakan ibunya membangunkan Sello dari tidur. Dia menghela nafas panjang dan menggerutu. "Kok Mama ikut-ikutan masuk ke mimpi gue sih?"

Ketukan pintu dan suara panggilan terus memaksanya bangkit dari rebahan.

"Pantesan!"

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (2)
  • dede_pratiwi

    nice story, kusuka bahasa yg dipakai ringan. keep writing...udah kulike dan komen storymu. mampir dan like storyku juga ya. thankyouu

    Comment on chapter Casanova
  • yurriansan

    Mainstream si, tp jokes nya bikin ngakak...????

    Comment on chapter Casanova
Similar Tags
That Snow Angel
16472      4427     4     
Romance
Ashelyn Kay Reshton gadis yang memiliki kehidupan yang hebat. Dia memiliki segalanya, sampai semua itu diambil darinya, tepat di depan matanya. Itulah yang dia pikirkan. Banyak yang mencoba membantunya, tetapi apa gunanya jika dia sendiri tidak ingin dibantu. Sampai akhirnya dia bertemu dengannya lagi... Tapi bagaimana jika alasan dia kehilangan semuanya itu karena dia?
Tanpa Kamu, Aku Bisa Apa?
160      131     0     
Romance
Tidak ada yang pernah tahu bahwa pertemuan Anne dan Izyan hari itu adalah hal yang terbaik bagi kehidupan mereka berdua. Anne tak pernah menyangka bahwa ia akan bersama dengan seorang manager band indie dan merubah kehidupannya yang selalu menyendiri menjadi penuh warna. Sebuah rumah sederhana milik Anne menjadi saksi tangis dan canda mereka untuk merintis 'Karya Tuhan' hingga sukses mendunia. ...
Delilah
10112      2456     4     
Romance
Delilah Sharma Zabine, gadis cantik berkerudung yang begitu menyukai bermain alat musik gitar dan memiliki suara yang indah nan merdu. Delilah memiliki teman sehidup tak semati Fabian Putra Geovan, laki-laki berkulit hitam manis yang humoris dan begitu menyayangi Delilah layaknya Kakak dan Adik kecilnya. Delilah mempunyai masa lalu yang menyakitkan dan pada akhirnya membuat Ia trauma akan ses...
Neighbours.
3804      1461     3     
Romance
Leslie dan Noah merupakan dua orang yang sangat berbeda. Dua orang yang saling membenci satu sama lain, tetapi mereka harus tinggal berdekatan. Namun nyatanya, takdir memutuskan hal yang lain dan lebih indah.
Utha: Five Fairy Secret
1806      953     1     
Fantasy
Karya Pertama! Seorang pria berumur 25 tahun pulang dari tempat kerjanya dan membeli sebuah novel otome yang sedang hits saat ini. Novel ini berjudul Five Fairy and Secret (FFS) memiliki tema game otome. Buku ini adalah volume terakhir dimana penulis sudah menegaskan novel ini tamat di buku ini. Hidup di bawah tekanan mencari uang, akhirnya ia meninggal di tahun 2017 karena tertabrak s...
My Twins,My Hero
18176      3944     28     
Romance
Menceritakan kisah unik dari Alessa Samantha dan Andreas Sanjaya yang merupakan saudara kembar.
AUNTUMN GARDENIA
185      162     1     
Romance
Tahun ini, dia tidak datang lagi. Apa yang sedang dia lakukan? Apa yang sedang dia pikirkan? Apakah dia sedang kesulitan? Sweater hangat berwarna coklat muda bermotif rusa putih yang Eliza Vjeshte kenakan tidak mampu menahan dinginnya sore hari ini. Dengan tampang putus asa ia mengeluarkan kamera polaroid yang ada di dalam tasnya, kemudian menaiki jembatan Triste di atas kolam ikan berukura...
Melihat Mimpi Awan Biru
4494      1668     3     
Romance
Saisa, akan selalu berusaha menggapai semua impiannya. Tuhan pasti akan membantu setiap perjalanan hidup Saisa. Itulah keyakinan yang selalu Saisa tanamkan dalam dirinya. Dengan usaha yang Saisa lakukan dan dengan doa dari orang yang dicintainya. Saisa akan tumbuh menjadi gadis cantik yang penuh semangat.
Frekuensi Cinta
378      325     0     
Romance
Sejak awal mengenalnya, cinta adalah perjuangan yang pelik untuk mencapai keselarasan. Bukan hanya satu hati, tapi dua hati. Yang harus memiliki frekuensi getaran sama besar dan tentu membutuhkan waktu yang lama. Frekuensi cinta itu hadir, bergelombang naik-turun begitu lama, se-lama kisahku yang tak pernah ku andai-andai sebelumnya, sejak pertama jumpa dengannya.
Namaste Cinta
12702      3381     5     
Romance
Cinta... Satu kata yang tak pernah habisnya menghadirkan sebuah kisah...