Read More >>"> I Can't Fall In Love Vol.1 (Bab 5: Hobi dan Kesukaan: Film) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - I Can't Fall In Love Vol.1
MENU
About Us  

 Beberapa minggu setelah waktu itu, di suatu grandmall di kota tersebut. Dengan kemeja terbuka lalu kaos di dalamnya, Ian pun di sana bersama kerumunan orang yang kesana yang menatap dan membicarakan dirinya, menampakkan wajahnya yang risau dan kesal karena berusaha menunggu seseorang.

“Dimana Tania sekarang...?! Bukannya dia minta untuk janjian jam sebelas!?”

  Kemudian sambil melihat jam yang berada di Handphonennya, terlihat waktu menunjukkan pukul 11.20. Mengetahuinya, rasa kesal dan risau dalam diri Ian makin besar. Kenapa tidak, Ian sudah menunggu Tania sejak 10.55, karena dirinya menduga Tania akan datang lebih cepat daripada dirinya.

 Namun ternyata, bahkan sudah hampir setengah jam, Tania pun tetap saja tidak terlihat dipandangan Ian saat itu. Lalu dengan Handphonennya tersebut, Ian yang kesal-kesalnya menunggu berusaha menelpon Tania waktu itu.

 “Biip....,biip....,biip!”

 Pada panggilan pertama yang dilakukannya, Ian pun tidak mendapatkan balasan apa-apa, sehingga membuat Ian makin risau dan kesal akan tidak kedatangan Tania tersebut. Ian pun dengan ekspresinya tersebut, kemudian berusaha melakukan panggilan keduanya ke Tania pada waktu itu. 

 “Biip....,biip....,biip!”

 “Halo Tania! Kamu ada dimana sekarang?! Tanya Ian yang terlihat kesal.

 “Tunggu saja Ian! Lagipula...,saat ini aku sudah dalam perjalanan ke sana kok! Kamu ini...” ujar Tania yang terlihat lebih garang dibanding Ian.

 Mendengar balasan Tania tersebut, Ian pun yang tadinya sudah kesal dan risau, tiba-tiba menjadi lembek layaknya sebuah es yang mencair.

 “Ba-baik Tania...” ujar Ian yang terlihat ketakutan.

 “Kalau begitu Ian, aku tutup telponku! Keliatannya sedikit lagi aku akan sampai. Salam Ian!”

“Salam.” Balas Ian.

 Ian kemudian menyimpan telponnya lagi ke kantung celananya. Lalu sambil menata ke arah langit, Ian lalu berkata ke dirinya sendiri.

 “Aku harap, hari ini sesuai dengan apa yang aku rencanakan.”

 Sebenarnya alasan Ian berusaha menunggu Tania seperti ini dan merelakan dirinya menunggu setengah jam di panas terik pagi yang sebentar lagi siang tersebut. Karena sebuah kejadian yang terjadi sekitar 10 hari setelah Tania sekolah di sana.

 Pada pagi hari waktu itu, Ian yang sudah datang ke sekolah, dan berkumpul bersama teman-temannya. Sambil berbincang dengan teman-temannya, dirinya kemudian berusaha memikirkan lagi sebuah hal yang bisa membuat hubungan dirinya dengan Tania lebih dekat lagi. Sama seperti sebelumnya, belum menemukan cara apa yang bisa ia gunakan.

 Namun, dirinya sangat tahu apabila orang lain diberitahukan tentang hal yang dipikrkannya ini, pasti mereka akan menghela napasnya atau menatapnya dengan keheranan, selanjutnya mereka  dengan mudah akan mengetahui jawabannya.

 Jadinya, Ian pun berusaha untuk memikirkannya sendiri tanpa bantuan dari teman-temannya seperti Sahar ataupun yang lain. Dengan menggunakan cara berpikirnya, Ian pun berusaha memikirkan hal apa yang bisa dilakukannya untuk mendapatkan cara yang menurutnya benar-benar bisa dilakukan.

 Dan hasil yang didapat dari berusaha memikirkannya dengan cara berpikirnya, hanya sebuah hasil nihil.

 “Teman-teman maaf yah! Aku ingin pergi dulu. Soalnya... ada hal yang sedang aku—.”

 “Pergi saja Ian! Lagipula pasti hal yang penting kan. Maaf membuang waktumu yah.” Ujar salah satu teman Ian yang berkumpul dengannya sambil menampakkan wajahnya yang tersenyum maklum ke arah Ian.

 “Tidak kok teman-teman! Kalau begitu aku pergi dulu yah..” ujar Ian dengan ramahnya sambil meninggalkan teman-temannya.

 Setelah meninggalkan teman-temannya, Ian pun kemudian berjalan secara autopilot entah kemana, sambil memikirkan tentang hal apa yang bisa dilakukannya. Yang membuat sapaan atau orang-orang yang memanggil dirinya, dihiraukan oleh Ian, saking fokus dirinya dalam memikirkan hal ini.

 Hinga akhirnya, akibat Ian yang autopilot, membuat dirinya secara tidak sengaja menuju ke taman sekolah lagi. Dan akibat dari cahaya matahari pagi dan hembusan angin yang berasal dari arah pohon besar taman sekolah, membuat Ian tersadar dari proses autopilotnya dan menyadari kalau dirinya saat ini sudah berada di taman sekolah.

 Dan meski dirinya sudah berpikir dari kelas sampai di taman sekolah yang ia berada saat ini. Ian pun tetap saja belum menemukan hal apa yang bisa ia lakukan lagi agar hubungannya lebih dekat.

 “Haaah....,sia-sia saja aku tadi meninggalkan teman-teman tadi. Ujung-ujungnya tetap saja aku belum mendapatkan apa-apa! Mendingan aku pergi ke kelas lah, dan meminta saran lagi dari Sahar dan yang lainnya.” Ujar Ian untuk dirinya sendiri yang sudah menyerah untuk berpikir mengenai hal ini.

 Sesaat sebelum Ian meninggalkan lagi taman sekolah, akibat dari hembusan angin yang arahnya dari pohon besar, Ian pun lalu berbalik ke arah sana. Dan saat itu, dirinya pun melihat tempat mereka berbicara mengenai kesukaan mereka pertama kalinya, yang membuat di dalam pikirkan Ian langsung memikirkan kembali kejadian itu.

  “Jadi ingat waktu itu kembali. Hanya gara-gara percakapan itu, aku akhirnya lumayan bisa percaya oleh Tania sekarang. Meskipun..., belakangan ini Tania tetap saja beberapa kali jaga jarak denganku...

 ...Mulai dari hal yang ia tidak suka yang tidak lain cerita romance. Dan hal yang ia suka yakni film bergenre fiksi.” Ujar Ian dengan tubuhnya lemas sambil mengingat kejadian itu dan hal-hal yang terjadi selama beberapa hari mereka berteman.

  Setelah berpikir seperti itu, sebuah senyum syukur terpancar di wajah Ian. Ditambah wajahnya yang terlihat lega dan bersyukur Ian lalu berkata ke dirinya lagi.

 “Tapi...,aku bersyukur! Karena saat ini aku sudah mendapatkan sebagian besar kepercayaan Tania.”

 Setelah berkata seperti itu ke dirinya, Ian pun yang tidak mendapatkan apa-apa selain sebuah rasa nostalgia akan percakapan mereka pada hari itu di taman sekolah. Dan meski tadi dirinya berpikir untuk menyerah dan akan meminta saran ke temannya, Ian pun tetap saja berusaha memikirkannya sendiri. Hal apa yang bisa dilakukannya agar dirinya bisa lebih dekat lagi dengan Tania.

 Ian yang belum beberapa langkah meninggalkan taman sekolah, dirinya yang saat itu masih berpikir dan juga sambil mengingat percakapan mengenai hobi mereka. Yang akhirnya 2 hal yang dipikirkan Ian tersebut, lalu menjadi satu sehingga membuat Ian mendapatkan ide baru mengenai hal yang bisa agar hubungannya lebih dekat lagi dengan Tania.

 “begitu yah...” ujar Ian sambil tersenyum.

 Sambil berjalan dengan senyumnya yang puas Ian pun lanjut berkata ke dirinya sendiri.

 “Padahal ide ini sangat simpel, tapi daritadi aku susah-susah memikirkannya! Misalnya aku tadi masih belum menyadarinya, kemudian aku memberitahukan ini ke Sahar dan lainnya. Mereka pasti akan menatapku aneh lagi. Untunglah-untunglah....

 “....Mudah-mudahan ideku ini berhasil!” ujar Ian yang mencoba meyakinkan diri sendiri.

 Dan selama perjalannya ke kelas, pelajaran pertama pun akhirnya dimulai, meninggalkan ekspresi puas di wajah Ian karena berhasil menemukan ide lagi, mengenai cara agar hubungan dirinya dengan Tania bisa lebih baik.

 Awalnya, Ian pun sempat berpikir untuk menyampaikan idenya ini ke Tania pada hari ini. Namun, dirinya yang langsung menyadari beberapa hal yang harus dipersiapkannya untuk melakukan idenya tersebut. Yang akhirnya, membuat Ian berpikiran untuk memberitahukan idenya pada keesokan harinya saja.

Dan saat keesokan harinya, Ian yang datangnya cepat seperti biasa, kemudian berusaha menunggu datangnya Tania untuk menyampaikan idenya tersebut. Dirinya pun menghabiskan waktu menunggunya dengan bercerita dengan teman-temannya yakni Sahar,Calip dan Dirga.

 Hingga sekitaran 5 menit sebelum pelajaran pertama dimulai, akhirnya Taniapun datang dengan terlhat membawa 2 bekal makanan yang membuat Ian agak bertanya-tanya. Dan saat Ian hendak menghampiri Tania dan memberitahukan mengenai maksudnya, belpun berbunyi yang akhirnya membuat Ian mengurungkan niatnya, dan memilih untuk melakukannya saat istirahat nanti.

 Sekitar waktu istirahat dimulai, Ian pun kemudian mendatangi Tania yang saat itu sedang mengeluarkan bekal yang ia bawa dari tasnya. Dan saat Tania sudah memegang bekal yang ia bawa lalu hendak pergi, dirinya pun kemudian mennghampiri salah seorang teman kelas perempuan yang saat itu sedang beres-beres barang-barangnya seperti buku ataupun pulpennya.

 “Ketua! Bisa temani aku ke ruang guru? Karena....ibu tadi suruh aku ke sana, baru aku belum tahu tempat-tempat di sekolah ini. Boleh tidak, Ketua?” ujar Tania dengan ramahnya.

 “Ten-tentu saja Ta-Tania.....!” balas seseorang yang dibilang Ketua tersebut dengan wajahnya yang agak bingung dan sifatnya yang kikuk.

Melihat itu, Ian pun langsung mengurungkan niatnya untuk menyampaikan idenya tersebut. Meskipun, Ian saat itu mencoba mengikuti Tania dan teman kelas perempuan disampingnya dari belakang sambil tetap Ian berjalan seperti biasa. Dirinya pun juga tahu mengenai teman kelas yang ia ajak tersebut adalah Ketua di kelasnya saat ini.

 Ian yang menyesuaikan kecepatan jalannya dengan Tania dan si teman kelas tersebut, melihat percakapan yang terjadi diantara mereka berdua. Namun, tidak bisa Ian dengar percakapan mereka karena kebisingan dan suasana sekolah yang saat itu sedang istirahat.

 Terpenting dari percakapan antara mereka berdua yag dilihat oleh Ian adalah Tania yang terlihat mencoba mengakrabkan diri, berusaha ramah, dan terlihat ingin mengenal si teman kelas yang disampingnya tersebut. Sedangkan si teman kelas perempuan tersebut lebih terlihat malu-malu, kikuk, gugupan dan bingung ingin berkata apa bersama dengan Tania.

 Ian yang  melihat itu kemudian menampakkan sebuah senyum senang di wajahnya, dan entah kenapa Ian pun meski biasanya dia susah paham akan kejadian atau hal seperti ini, tapi Ian pun langsung mengerti kalau tindakan Tania itu sebenarnya supaya dirinya bisa lebih akrab lagi dengan si teman kelas perempuan tersebut.

 Tania yang akhirnya telah sampai di depan ruang guru bersama dengan teman kelas perempuan yang ia ajak, kemudian berkata ke teman kelasnya si Ketua tersebut dengan wajahnya yang terlihat senang dan puas.

 “Terima kasih yah Ketua! Telah temani aku ke ruang guru!”

 “Ti-tidak apa-apa kok Tania! Lagipula...., aku kan Ketua Kelas, ja-jadi....pada saat temanku memiliki masalah. A-aku...pasti akan membantunya....” ujar si Ketua dengan agak malu-malu dan kikuk.

 ...Ka-kalau begitu Tania.....,a-aku pergi dulu yah...., dan mudah-mudahan....ka-kamu akan ingat tempat ke ruang guru Tania.....”

 Dengan wajahnya yang tersenyum dan penuh kepercayaan diri, Taniapun berkata ke si Ketua Kelas.

 “Tentu saja Ketua!”

 Saat itu, dengan wajahnya yang terlihat malu-malu tertutup dan tampak datar, si Ketua pun lalu meninggalkan Tania dan menuju ke tempat lain dengan cepat. Saat itu, Tania yang menghadap ke arah si Ketua pergi, kemudian hendak berbalik ke depan ruang guru. Dan sepersekian Tania hendak berbalik, dirinya pun secara tidak sengaja melihat Ian yang saat itu berada di belakangnya sedang memperhatikan dirinya.

  Tania kemudian pun menghentikan dirinya untuk berbalik ke arah ruang guru dan menghadap ke arah Ian berada, sembari menatap Ian dengan curiga sembari berkata.

  “Apa yang kamu lakukan disana,Ian?!”

   Ian saat itu dengan wajahnya yang terlihat berkeringat dingin lalu menghampiri si Tania lalu berkata.

 “Y-Yah....bisa dibilang aku yang sedang pergi ke sini. Jadinya....aku kebetulan ketemu dengan kamu Tania...! Dan juga...aku pun kebetulan juga Tania,ada perlu denganmu!”

  “Begitukah.....?!” ujar Tania dengan tatapan curiga.

 “Be-begitulah Tania....”  Ujar Ian sambil mengalihkan pandangannya dari Tania.

 Saat itu, Taniapun mengetahui kalau Ian tadi berbohong dalam mengatakan alasannya. Meski begitu, Tania hanya menyikapinya dengan santai karena dirinya pun juga tahu kalau alasan Ian mendatangi dirinya karena pasti ada hal yang ingin ia katakan ke dirinya.

“Baik! Kalau gitu Ian, ada urusan apa denganku?” ujar Tania yang sikapnya lalu berubah menjadi dirinya yang biasa.

Ian lalu menghela napas leganya, kemudian dengan sigap lalu mengatakan maksudnya.

“Begini Tania, Aku—

 “Berhenti Ian! Mungkin...setelah urusanku yang lain selesai, baru kamu beritahu saja Ian!” ujar Tania yang memotong perkataan Ian tadi.

 “Ba-baiklah kalau begitu Tania.” Balas Ian dengan singkat.

 Ian pun lalu menghampiri Tania yang saat itu berbalik ke arah ruang guru. Dan saat mereka berdua mulai memasuki ruang guru, Ian pun lalu yang melihat ke arah Tania, dan secara tidak sengaja dirinya melihat ke arah bekal yang dibawa Tania tersebut, sehingga sekali lagi membuat pertanyaan dalam pikiran Ian.

 “Tania...,memangnya kamu perlua apa di ruang guru?”

 “Y-yah...sebenarnya begini Ian. Niat awalku kesini itu sebenarnya hanyalah ingin....

 Sambil mengangkat bekal yang ia bawa Tania pun lanjut berkata.

 ....Memberikan bekal ini ke guru!”

“Memangnya....guru yang mana kamu ingin beri bekal itu? Dan juga, kenapa kamu malah memberinya bekal? Padahal para guru nantinya sudah memiliki bekalnya sendiri?”

 “Begitukah....! Tapi biar saja Ian. Lagipula....,ini bentuk balas budiku ke Bu Linda saja.”

 Ian yang mendengar perasaan Tania tadi, lalu tersenyum senang. Dan saat itu, sambil menatap ke arah suatu meja di ruang guru, Ian lalu berkata ke Tania.

 “Balas budi yah Tania..., Kalau begitu....”  

  Ian pun lalu menuju ke arah meja yang dipandanginya daritadi. Yang membuat Tania pun agak bertanya-tanya akan maksud  kepergian Ian ke arah yang ditujuinya tersebut.

  “Kamu mau kemana Ian?”

   “Ikuti saja Tania.” Balas Ian dengan singkat.

  Mendengar itu, Tania pun langsung bergegas berjalan bersama dengan Ian. Dan, setelah beberapa langkah kemudian, Ian pun lalu berhenti di suatu meja guru, sembari berkata ke Tania.

  “Tania, yang ini mejanya Bu Linda.”

  Mendengar itu Tania pun menampakkan sebuah senyum yang menenangkan dan memperlihatkan betapa senang dirinya mengetahui meja dari guru yang ia suka tersebut. Karena dirinya yang masih siswa baru yang belum terlalu tahu mengenai meja dari Guru yang ia suka dan hormati.   

  Meski begitu, ekspresi Tania pun kemudian berubah lagi menjadi sedikit sedih dan terlihat memikirkan suatu hal mengenai hal ini.

 “Tapi Ian...! Padahalkan aku ingin memberikan bekal ini langsung ke Bu Linda.”

  “Bisa saja kamu melakukannya Tania. Tapi....memangnya kamu mau tunggu Bu Linda Tania?!”

  “Tentu saja Ian! Lagipula...aku merasa bekal yang kubawa ini, lebih baik aku berikan langsung ke Bu Linda. Daripada menyimpannya saja disana atau menitipkannya kepada guru lainnya.” Ujar Tania yang wajahnya yang terlihat begitu serius.

 Saat itu Ian pun menyikapi sikap Tania tersebut dengan senyuman. Kemudian Ian seolah memberi saran ke Tania.

 “Kalau begitu Tania, mendingan kamu tunggu saja di depan ruang guru! Disanakan ada tempat duduk. Selain itu....akupun juga bisa beritahu hal yang ingin aku sampaikan padamu Tania. Bagaimana?!”

 “Te-tentu saja Ian!” balas Tania dengan semangat.

  Mereka pun tentu saja langsung menuju tempat duduk yang dimaksud oleh Ian tadi. Dan saat mereka telah duduk di kursi yang dimaksud tersebut, Tania yang masih membawa bekal untuk Bu Linda, lalu menyimpannya di atas pahanya sambil memulai percakapannya ke Ian waktu itu.

“Tania! Memangnya Bu Linda saat mengajarnya pada waktu itu sebaik itu?! Sampai-sampai kamu rela memberikannya bekal seperti ini.”

 “Tentu saja Ian! Kamupun pasti juga menyadarinya kan Ian. Kalau cara mengajarnya itu sangat beda dari beberapa guru yang lain.” Ujar Tania dengan wajahnya yang terlihat sangat serius.

 “Tapi kan, Bu Linda pastinya bukan yang pertama mengajarimu seperti itu Tania?!”

 Saat itu dengan tatapan yang tajam ke arah Ian, Tania lalu berkata.

 “Kayak kamu tahu saja tentangku Ian. Padahal baru menjadi temanku beberapa hari saja.”

 Dengan wajahnya yang menunduk malu dan menyesal Ian pun lalu balik membalas.

 “Maaf kalau begitu Tania....”

  “Jadi singkatnya Ian, Bu Linda adalah orang yang pertama kali aku lihat dengan metode,cara mengajar yang seperti beliau lakukan. Kamupun juga sadarkan kalau cara Bu Linda tersebut cara yang diimpikan oleh banyak siswa. Ramah, akrab, penjelasan yang singkat dan mudah dimengerti. Itu semua yang aku lihat dari cara mengajar Bu Linda.”  Ujar Tania dengan wajahnya tersenyum yang mengingat kembali waktu dirinya di ajar oleh Bu Linda.

  “Begitu yah....” balas Ian dengan singkat.

  Tania pun hanya memberikan sebuah senyum senang. Dan sambil dirinya mengingat kembali pada hari Bu Linda mengajar di kelasnya. Kemudian setelah beberapa detik mereka berdua diam satu sama lain akibat tidak ada topik yang bisa mereka bicarakan. Tania yang tiba-tiba teringat akan perkataan Ian tadi lalu berbalik ke arah Ian sembari dengan wajahnya yang bertanya-tanya lalu berkata ke Ian.

 “Ian..! Mengenai hal yang ingin kamu sampaikan tadi!” ujar Tania sambil mengingatkan.

  Merasa terhentak akan ingatannya, Ian pun dengan wajahnya yang langsung semangat dirinya pun menghadap langsung ke arah Tania.

 “Begini Tania, aku sebenarnya ada rencana untuk mengajakmu pergi menonton film di akhir pekan nantinya. Mau tidak Tania?”

 Saat itupun dengan wajahnya yang langsung tiba-tiba kesal dan benci, Tania pun lalu menatap Ian dengan dengan penuh benci,risih dan penuh dengan kemarahan.

 “Ian! Padahal belakangan ini aku sudah mulai percaya padamu karena sikap dan keseriusanmu untuk menjadi teman baikku! Tapi sekarang! Kau sekarang Ian tidak lebih dari laki-laki tampan yang aku kenal selama ini! MENJIJIKAN!”

 Ianpun dilanda kepanikan dan rasa khawatir karena perubahan sikap Tania yang terlalu drastis.

  “Te-tenanglah dulu Tania! Kamu kan juga belum tahu film apa yang nantinya aku ajak kamu Tania! Jadi dengarlah dulu!”

 Tania pun menghela napasnya lalu terlihat mengikuti permintaan Ian. Meskipun diwajahnya masih menampakkan ekspresi yang kesal,marah dan benci, menatapnya dengan tatapan tajam namun tidaklah seperti yang sebelumnya.

 “Baiklah Ian! Aku akan mendengarkanmu!”

 Saat itu Ian dengan wajahnya yang terlihat sedikit lega, namun masih diselimuti sedikit rasa panik,lalu melanjutkan perkataaannya tadi.

 “Jadi begini Tania! Memang aku berencana untuk mengajakmu nonton pada saat akhir pekan. Mungkin kamu rasa kalau ini seperti kencan. Tapi sebenarnya bukan! Tujuanku mengajakmu pergi nonton hanya agar pertemanan kita berdua bisa lebih dekat lagi Tania! Lagipula...film yang akan kita nonton ini, aku rasa mungkin kamu suka juga Tania!”

 Saat itu, sikap Tania pun akhirnya berubah kembali. Meskipun masih tampak di wajah Tania ketidakpercayaan akan kata-kata Ian tadi.

 “Kalau begitu Ian, film apa yang kamu maksud itu?!”

 Dan hal itu membuat Ian meski masih merasa panik akan ekspresi dan tatapan Tania tersebut, namun membuat Ian yakin bahwa jawaban yang akan dia sampaikan pasti membuat Tania akan langsung membuat Ian menjadi senang.

“Kalau itu Tania...., film yang ingin aku rencananya nonton itu adalah film...Ultra Ranjers, Tania!”  *Parodi Power Rangers*

  Setelah memberitahukan rencananya ke Tania, Ian pun saat itu menatap wajah Tania dengan penuh penasaran mengenai ekspresi apakah yang akan dikeluarkan oleh Tania. Apakah seperti ekspektasinya yang dimana Tania akan menyetujuinya, atau malahan menolaknya.

 “Ian....! Kapan kamu ingin mengajakku nonton film Ultra Ranjers itu?” ujar Tania sambil tertunduk sehingga ekspresi wajahnya tidak bisa dilihat oleh Ian.

  “Y-Yah....seperti yang aku bilang Tania, kalau rencananya kita akan pergi saat akhir pekan nantinya. Sekitaran....jam 11 nantinya.” Ujar Ian yang masih agak khawatir akan tanggapan Tania.

 “Terus Ian, dimana kamu rencananya ingin menonton film Ultra Ranjers ini?” ujar Tania yang masih tertunduk.

 “Kalau itu...., mungkin tempatnya di GrandMall Tania! Alasannya karena hanya itu yang aku tahu mengenai tempatnya.” Ujar Ian yang mulai terlihat tenang.

  “Begitu yah Ian—. Balas Tania dengan singkat.

—Terakhir Ian! Untuk biayanya! Siapa yang akan bayar nantinya?” ujar Tania yang masih tertunduk.

 Mendengar pertanyaan terakhir Tania, wajah Ian pun yang sebelumnya dilanda kepanikan, kemudian setelah pertanyaan-pertanyaan dari Tania tadi, akhirnya rasa tenang dan legapun muncul di wajah Ian saat itu setelah mengetahuinya.

 “Sebenarnya Tania, awalnya aku berpikir kalau kita nanti akan bayar masing-masing. Namun, setelah membuatmu begini...aku pikir kalau aku saja yang akan membayarnya Tania! Itupun, kalau kamu memang mau pergi nonton Tania.”

 “Begitu yah....” balas Tania.

 Saat itu, Tania yang mulai mengangkat kembali wajahnya, lalu berbalik ke arah Ian yang saat itu berada di sampingnya. Ian pun saat itu melihat sebuah senyum lebar yang memperlihatkan kalau Tania saat itu sedang senang akan suatu hal.

“Syukurlah kalau begitu.” Ujar Tania.

 Ian yang mendengar perkataan Tania tersebut, terlihat bingung sekaligus bertanya-tanya akan maksud dari Tania tersebut.

 “Me-memangnya kenapa Tania....?” tanya Ian.

 “Ahhh....tidak apa-apa Ian! Aku hanya bersyukur karena ternyata maksudmu mengajakku hanya mencoba lebih dekat denganku.... ujar Tania dengan senyum lega.

 .....Dan juga, aku ingin minta maaf Ian! Karena langsung saja merendahkanmu seperti itu, padahal kamu hanya ingin mencoba lebih mengenalku. Maafkan aku Ian!”

 Dengan wajahnya yang lega dan bersyukur akan sikap Tania, Ian pun menghela napasnya seolah mengeluarkan semua perasaan risau dan paniknya tadi.

 “Legalah kurasa Tania. Yang pentingnya itu, kamu sudah tidak menatap dan menganggapku orang rendahan dan menjijikan seperti itu Tania.” Ujar Ian.

 “Kan aku sudah minta maaf Ian!” ujar Tania yang merasa tersindir.

Ian pun menanggapi sikap Tania tersebut dengan sebuah senyum senang. Lalu dengan wajah penuh harapan Ian pun lalu menatap Tania dengan sikapnya tersebut.

 “Yang penting Tania, mau tidak kamu pergi denganku akhir pekan nanti nonton bioskop?”

 Dengan senyumnya yang lebar karena terlalu senang, Tania lalu menjawab.

 “Tentu saja Ian, aku akan pergi!”

 Dengan sebuah senyum lebar sebagai penunjuk perasaan leganya waktu itu, Ian pun sambil menghadap ke arah Tania dirinya lalu berkata.

 “Syukurlah Tania!”

 Saat itu Tania pun menanggapinya dengan senyum senang juga ke arah Ian. Seolah akhir dari percakapan mereka pun berakhir dengan senyuman yang terjadi diantara mereka berdua pada waktu itu.

 “Ian! Kan aku sudah bilang berhenti tersenyum seperti itu padaku!!” ujar Tania yang terlihat risih dan kesal.

 “Ahhh...Ma-maaf Tania!” balas Ian.

Saat itu Tania yang agak risih akan senyum Ian tadi, dan Ian sendiri yang merasa menyesal karena telah membuat Tania risih, adalah akhir dari percakapan mereka pada saat itu. Sekitar beberapa menit kemudian, seseorang yang ditunggu oleh mereka berdua daritadi yakni Bu Linda telah datang dari arah berlawanan dari ruang guru.

  Menyadari kedatangannya, Tania pun sambil membawa bekal yang dibawanya bersama dengan Ian. Dirinya pun pertama-tama menyalami si Bu Linda, lalu memberikan bekal yang hendak diberikannya sambil mengungkapkan rasa bangga dan senangnya karenatelah diajar oleh Bu Linda. Dan tentu saja karena beliau merupakan guru yang disegani, Bu Linda pun membalasnya dengan rasa terima kasih yang begitu akrab yang membuat Tania yang mendengarnya ikutan senang akan hal itu.

 Lalu Ian yang hanya sebagai pendamping untuk Tania hanya bisa tersenyum senang karena melihat tingkah temannya tersebut. Kemudian, setelah Tania menyampaikan hal mengenai hal yang diinginkannya, dirinya bersama dengan Ian, akhirnya berpamitan dan meninggalkan Bu Linda yang terlihat senang akan tingkah dan sikap dari siswa yang diajarnya tersebut.

 Setelah itu, mereka pun akhirnya melakukan aktivitas sehari-hari mereka. Mulai dari istirahat, jam pelajaran selanjutnya,waktu pulang dan aktivitas sehari-hari mereka di rumah. Mereka pun akhirnya terus melakukannya hingga akhirnya sesuai janji mereka yakni lebih tepatnya pada hari ini, Ian dan Tania pergi menonton film Ultra Ranjers bersama.

 Meskipun terdengar aneh mengenai film yang direncanakan oleh Ian ini. Namun sebenarnya, ada beberapa alasan Ian memilih film Ultra Ranjers ini. Pertama, karena Ian saat ini sedang mencoba lebih dekat dengan Tania. Dan salah satu caranya yakni dengan hal yang disuka oleh Tania, tidak lain adalah film fiksi.

 Kedua, kebetulan pada saat Ian memikirkan ide ‘mengajak Tania menonton film fiksi ini’, film fiksi yang saat ini sedang ditayangkan di bioskop hanyalah 2. Yakni film Ultra Ranjers dan satunya lagi adalah film fiksi yang bergenre romance. Tentunya Ian tidak mungkin memilih film fiksi romance karena film itu tidak disuka oleh Tania. Jadi sisanya adalah film Ultra Ranjers.

 Dan alasan ketiga atau terakhir, karena Ian sebenarnya juga kebetulan suka dengan Ultra Ranjers. Yang dimana, meski Ultra Ranjers tidak memiliki novel atau buku yang menyebabkan Ian harus menontonnya. Tapi, karena Ultra Ranjers salah satu karakter fiksi yang dapat membuat Ian waktu kecil bisa mengagumi dan menghormati seorang superhero.

 Meskipun juga, masih ada satu lagi alasan Ian ingin menonton film Ultra Ranjers ini. Walau bukan termasuk alasan utama Ian, dan lebih ke arah sebuah harapan nantinya. Ian pun hanya bisa berharap kalau hal ini benar-benar bisa terwujud.

Kemudian saat perasaan risau makin tumbuh dalam diri Ian akibat menunggu Tania, dengan pakaian yang membuat setiap laki-laki melihatnya langsung melirik dirinya , saking memberikan dampak kecantikan yang hebat ke dirinya. Tania pun sambil melambaikan tangannya ke arah Ian sambil memancarkan senyum yang membuat kecantikannya pun semakn bertambah.

 “Ian...!” panggil Tania.

 Ian yang melihat ke arah Tania, langsung menghela napas lega karena akhirnya Tania datang sesuai dengan yang direncakanannya.

 “Maaf yah Ian, aku terlambat!” ujar Tania yang terlihat senang.

 “Tidak apa-apa sih Tania! Malahan, itu lebih baik daripada kamunya yang tiba-tiba ngebatalin dan akhirnya tidak jadi.” Ujar Ian dengan wajah yang terlihat lega.

 “Yang lebih penting, ayo kita cepat-cepat Ian! Lagipula...seingatku kamu belum beli tiketkan Ian?!” ujar Tania yang ingin bergegas.

 Sambil mengikuti Tania yang sudah berjalan duluan menuju GrandMall, Ian pun berusaha mengejarnya, sehingga mereka berdua bisa berjalan beriringan. Saat itu, Ian pun menyadari kalau beberapa orang berusaha melirik ke arah mereka, yang tentu membuat dirinya agak bertanya-tanya. Namun, dengan singkat pun Ian menyadari alasan kenapa orang-orang melirik dan menatap mereka, kemudian dirinya lalu memberitahukan kesimpulannya tersebut ke Tania.

  “Tania...! Sepertinya, penampilanmu itu menarik perhatian beberapa orang?!” Ujar Ian yang mengeluarkan pendapatnya sambil agak berbisik.

  “Memangnya penampilanku sebegitunya Ian?! Darimana malahan kamu tahu kalau penampilanku ini menarik perhatian orang-orang?” tanya Tania yang agak bingung akan pendapat dari Ian.

 “Apa kamu tidak sadar Ian?! Coba lihat sekitarmu! Orang-orang keliatan terkesima akan penampilanmu itu! Apa kamu tidak risih Tania diliatin seperti itu oleh orang-orang?!” bisik Ian.

 Tania pun kemudian berusaha beberapa kali melihat kesekitar dirinya, hingga akhirnya langsung menyadari maksud dari perkataan Ian tadi. Dan saat itu pula, Tania pun menyadari kalau sebenarnya alasan orang melirik mereka berdua, bukan hanya karena dirinya, tapi juga karena Ian. Sehingga Tania pun menarik sebuah kesimpulan sederhana dari apa yang dilihatnya.

 “Ian! Mungkin benar kalau alasan orang ngeperhatiin kita kemungkinannya karena penampilanku ini. Tapi...,apakah itu juga seharusnya berlaku padamu Ian! Karena kan kamu tahu sendiri kalau kamu, y-yah....bisa dibilang, tam-tampan Ian?!” ujar Tania sambil mengeluarkan pendapatnya.

  “Tentu saja aku sudah tahu Tania. Kalau aku sendiri, cukup menyikapi mereka dengan biasa-biasa saja. Tapi kalau kamu Tania?! Kamu kan yang aku tahu agak risih dan kesal kalau laki-laki ngeliatin kamu kayak begitu!?” ujar Ian yang terlihat agak risau.

Terlihat ekspresi paham dalam wajah Tania setelah mendengar perkataan Ian tadi.  Sambil berbalik ke arah depan lagi Tania pun lalu berkata.

“Ehh...begitu yah Ian!Yah, kalau aku sendiri Ian, hampir sama dengan apa yang kamu rasa sekarang. Biasa-biasa saja dan tidak terlalu peduli dengan tatapan dan lirikan orang lain. Itupun alasannya aku bersikap begini, karena akunya saat ini sedang fokus untuk nonton Ultra Ranjers nantinya.....

 .....Cobanya saja hari ini aku lagi tidak ada kerjaan dan hanya jalan-jalan saja Ian. Tentunya seperti yang kamu duga tentangku tadi Ian. Aku pun pastinya akan merasa risih dan kesal nantinya kalau ada yang menatapku dan melirikku seperti itu.”

  “Sepertinya aku sudah paham maksudmu Tania! Syukurlah rasanya!” ujar Ian yang terlihat agak lega.

 Saat itu, Tania pun lalu berjalan mendahului Ian, dan saat jarak dirinya dengan Ian sekitar beberapa meter, Tania pun lalu berkata.

 “Ian...! Ayo cepat! Kalau kita jalan santai saja, bisa-bisa kita tidak dapat tiket untuk kursi bagus nantinya!”    

Ian pun yang mengikuti perkataan dari Tania tersebut, kemudian berusaha menyusul langkah Tania, kemudian menyesuaikan kecepatan Tania dengan dirinya sambil menuju ke pintu depan GrandMall.

 Perjalanan mereka yang meski agak tergesa-gesa, namun masih saja terjadi percakapan diantara mereka. Itupun alasan percakapan mereka terjadi karena, Tania yang pada saat di bagian dalam GrandMall mulai merasa risih saat orang-orang yang mulai melirik dan menatap dirinya. Ditambah, dengan bisikan diantara orang-orang seperti....

 “Pasangan yang cocok yah!”

 “Tentu saja kan! Yang laki-lakinya tampan dan perempuannya cantik. Pastinya sebuah pasangan sempurna!”

  Mendengar itu, untuk orang yang tidak suka dirinya disangka berpacaran, apalagi dengan laki-laki tampan, pastinya akan merasa risih. Jadinya membuat Tania berpikir untuk menghilangkan perasaan risih yang dirasakan sambil bercerita dengan Ian. Mungkin mengenai film fiksi atau film yang akan mereka nonton yakni Ultra Ranjers.

 Hingga akhirnya, setelah percakapan yang dilakukan mereka sambil berjalan dengan cepat, Ian dan Tania pun akhirnya sampai di bioskop GrandMall. Saat itu, Tania pun lalu melihat ke arah loket tiket yang dimana terlihat masih lenggang dan sepi. Bahkan kios makan di sana masih terlihat beres-beres, mempersiapkan popcorn dan minuman yang akan mereka jual.

“Sepertinya kita datang terlalu cepat yah Tania.” Ujar Ian yang mengeluarkan pendapatnya.

 Sambil berbalik ke arah Ian yang berada disampingnya, Tania dengan wajahnya yang lega dan senanglalu berkata

 “Bukannya malahan bagus Ian?! Setidaknya kita bisa tiket untuk kursi yang strategis nantinya.”

Mendengar itu, Ian pun lalu tersenyum sembari berbalik ke arah Tania lalu berkata.

“Yah, mungkin perkataanmu ada benarnya juga Tania.”

 Ian dan Tania yang setelah itu lalu menuju ke loket tiket, mulai memesan tiket untuk film yang akan mereka berdua nonton. Setelah beberapa saat mereka di loket tiket, akhirnya mereka pun mendapatkan waktu nonton yang diharapkan. Sekitaran 11.45 waktu tayang pertama film Ultra Ranjers di hari itu.

 Meski begitu, melihat kursi mereka nantinya, Tania pun tampak sedikit kecewa yang dimana nomor kursinya berada di bagian depan. Dimana untuk kebanyakan orang termasuk Tania, berpendapat kalau kursi depan merupakan tempat yang buruk untuk menonton film.

 “Yah..., lagipulakan kitanya yang datang terlalu cepat. Jadinya, tentu saja kita pasti dapat kursi depan kan, Ian?!” Curhat Tania ke Ian sambil menatap tiketnya dengan wajah agak kecewa. 

 “Begitukah...padahal menurutku tempat kita ini bisa dibilang sangat strategis Tania!” ujar Ian.

 Tania yang merasa tidak terima akan pendapat dari Ian tersebut, dengan wajah yang mengkerut dirinya lalu berkata.

 “Darimananya Ian?! Kamupun juga tahu kan, kalau kursi depan itu merupakan kursi yang tidak strategis untuk menonton Ian.”

 Saat itu, Tania pun melihat sebuah ekspresi senang dan semangat di wajah Ian, seolah memperlihatkan harapan Ian telah terkabulkan saat mengetahui nomor kursi yang akan ia duduki. Membuat Tania yang melihatnya merasa agak aneh atau dirasa janggal mengenai sikap dan ekspresi Ian tersebut.

 “Menurutku tidak kok Tania!Malahan, kursi depankan langsung di depannya layar. Jadinya pasti lebih baikkan tempatnya.” Ujar Ian sambil membalas pendapat dari Tania tadi.

 “Alasanmu seperti anak-anak saja Ian! Dan juga, kenapa wajahmu keliatan senang begitu? Kayak kamu ada alasan tersembunyimu senang begitu.”  Duga Tania sambil menatap dengan penuh kecurigaan dan aneh.

Mendengar perkataan Tania tersebut, Ian pun lalu menyimpan tiketnya ke dalam saku celananya. Dan sambil tersenyum senang, Ian pun lalu membalas.

“Mengenai alasanku tersembunyiku, tidak usah terlalu dipermasalahkan Tania! Bukan hal yang tidak terlalu penting kok.”

 Tania yang mendengar perkataan Ian tersebut, meski masih ada hal yang tidak ia mengerti, dirinya pun  hanya  menghela napasnya, sembari berkata.

 “Terserah kamu saja Ian.”

 Ian pun menyikapi perkataan Tania tersebut dengan sebuah senyuman hangat. Yang tentu Tania yang melihatnya langsung merasa risih dan kesal lagi akan senyuman Ian tersebut. Dan seperti biasanya lagi, pada saat terakhir, Ian pun kemudian menyesal dan meminta maaf ke Tania karena melakukan hal yang tidak Tania suka, lagi.

 Setelah itu, karena waktu masih memperlihatkan pukul 11.30, mereka pun kemudian berusaha menunggu waktu tayang dari film Ultra Ranjers dengan duduk di salah satu tempat duduk di sana, sambil mulai bercerita satusama lain mengenai film Ultra Ranjers yang akan mereka nonton ini. Mulai dari kemungkinan jalan ceritanya,aktor pemeran karakter-karakter yang ada, dan berbagai efek CGI yang telah diperlihatkan di trailer.

 Dan terlihat percakapan mereka pun membuat sebuah hubungan terlihat lebih dekat lagi. Dan membuat mereka merasa kalau hanya ada mereka saja disana. Meskipun orang-orang yang memerhatikan, menatap dan sampai-sampai membicarakan mereka sebagai pasangan sempurna yang akan membuat Tania risih, namun hal itu tidak mengganggu perbincangan antarteman oleh Ian dan Tania pada waktu itu.

 Sekitar 7 menit setelah awal percakapan mereka berdua, loket makanan di bioskop, secara total akhirnya terbuka. Ian yang pertama kali menyadari hal itu, lalu berdiri dari tempat duduknya lalu berkata ke Tania.

 “Tania! Sepertinya loket makanan sudah terbuka.” Ujar Ian sambil menatap ke arah loket makanan bioskop.

 “Ohhh...benar juga Ian!” ujar Tania sambil berbalik juga ke arah loket makanan.

 Ian yang kemudian beranjak dari tempat dirinya duduk, lalu mengatakan suatu hal ke Tania.

 “ Kalau begitu, aku pergi dulu Tania untuk beli makanan dan minuman! Apa kamu ingin pesan sesuatu?”

 Saat Ian berbalik dan mengatakan hal tersebut, Tania yang kemudian juga beranjak dari tempatnya duduk, lalu menuju ke samping Ian, sembari menampakkan wajah tegas yang membuat Ian merasa khawatir akan ekspresi Tania tersebut.

 “Tidak Ian! Aku juga harus ikut denganmu!”

 Dengan wajah yang lemas setelah mendengar pernyataan Tania tersebut, Ian pun lalu bertanya.

 “Kenapa kamu memangnya ikut Tania.....?”

 “Tentu sajakan! Aku takutnya nanti kamu malah memesan hal yang salah lagi. Ujung-ujungnya kan susah nanti kedepannya kalau gitu.” Jawab Tania dengan serius.

 Ian yang mendengar itu, hanya bisa menghela napasnya sambil melemaskan wajah dan badannya sembari berkata.

 “terserah kamu saja Tania! Kalau gitu.”

  Mendengar itu, Tania yang sebelumnya terlihat serius, lalu berubah menjadi keliatan senang, yang dimana wajahnya tersenyum senang sembari dirinya berjalan menuju ke samping Ian untuk mengikuti orang yang mengajaknya tersebut.

Belum mereka melakukan beberapa langkah mulai dari tempat mereka duduk, Ian pun lalu kepikiran suatu hal atau lebih tepatnya memiliki pertanyaan ke Tania. Dirinya pun lalu berbalik ke arah Tania yang saat itu ada disampingnya sembari menanyakan hal yang dipikirkannya tersebut.

 “Tania! Begini....

 Tania pun merespon panggilan Ian tersebut dengan berbalik ke arah Ian dan juga memfokuskan telinganya untuk mendengarkan sebaik mungkin apa yang dikatakan oleh Ian nantinya.

  .....mengenai yang membayar makanan dan minumanmu nanti! Kamu sendirikan yang membayarnya?!” tanya Ian.

 Tania yang mendengar pertanyaan Ian tersebut, langsung merasa dirinya konyol karena dirinya yang sudah berusaha sefokus mungkin untuk mendengarkan hal yang ingin disampaikan Ian. Malahan hanya mendengar pertanyaan konyol Ian yakni tentang siapa yang akan membayarkan makanan dan minuman miliknya nanti.

 “Tentu saja tidakkan Ian.”

 Ian yang mendengar jawaban singkat Tania tersebut, lalu hanya bisa terdiam, bingung, dan merasa agak aneh. Meski terlihat dari wajahnya, kalau dirinya sudah mengetahui maksud sebenarnya dari jawaban Tania tersebut, dirinay pun lalu mempertanyakannya lagi.

“Maksudmu bilang ‘tidak’...?” tanya Ian yang keliatan agak bingung.

 Sebuah lirikan dan senyuman saat itu terlihat diwajah Tania yang tidak lain merupakan balasan atau jawaban dari pertanyaan Ian tersebut.

“Kamu pun juga tahukan Ian, apa maksudnya...”

 Mendengar itu,rasa bingungnya yang ia rasakan sebelunya, pada akhirnya digantikan oleh kekhawatiran, perasaan atau hal yang dirinya pun duga ternyata benar adanya.

 “Ehh~~~~! Tapi, bagaimana bisa Tania!? Padahalkan aku nggak pernah janji untuk ngebeliin ataupun mentratikmu.” ujar Ian yang agak panik.  

 “Bukannya kamu bilang pada hari itu! Kalau kamu yang akan membayarnya!?” ujar Tania dengan wajah senang.

Saat itu dengan kecepatan otak Ian yang mampu berpikir dan mengingat cepat, membuat dirinya pun dengan singkat dapat mengingat hal yang dimaksud Tania tersebut. Dan terhentak akan ingatannya tersebut, membuat Ian dengan cepat langsung memprotes pernyataan Tania tersebut. Namun dengan sikap seperti marah-marah dan sebagainya.

 “Tania! Kan aku bilang pada hari itu kalau aku membayar untuk tiket saja dan bukannya juga makanan.” Ujar Ian sambil mengeluarkan argumennya.

 Dengan sikap yang tidak terlalu peduli akan argumen dari Ian tersebut, Tania pun dengan sikap dan ekspresinya yang keliatan santai lalu berkata balik.

 “Bukannya itu sama saja Ian. Yang pentingkan waktu itu kamu mengatakan kalau kamu mau mentraktirku.”

 Ian saat itu sebenarnya bisa mengeluarkan berbagai pendapat, argumen dan hal yang dipikirkannya mengenai hal ini. Namun, dirinya pun sangat sadar, apabila dirinya mengeluarkan argumennya tersebut, kemungkinan pasti akan terjadi perdebatan diantara mereka berdua. Perdebatan yang sangat panjang, hanya karena masalah sepele ini.

 Dan selanjutnya, Ian berpendapat kalau perdebatan itu bukannya menghasilkan yang memuasakan antara dirinya dengan Tania, malahan bisa memperpecah hubungannya dan membuat usaha Ian untuk membuat dirinya bisa lebih mengenal Tania bisa jadi gagal. Dan tentunya hal-hal yang diduga akan terjadi.

 Saat itu, dengan wajah yang lemas mengalah Ian pun yang telah memikirkan semua kemungkinan tersebut lalu berkata ke Tania.

 “Terserah kamu saja Tania.”

 Mendengar itu, Tania pun hanya bisa tersenyum senang menanggapi perkataan Ian tersebut. Dan entah kenapa, senyum Tania tersebut daripada mengarah karena usahanya berhasil untuk membuat Ian menjadi traktir dirinya untuk membelikan makanan dan minuman. Tapi lebih terlihat sebuah senyum senang yang memperlihatkan kelegaan dirinya akan suatu hal.

 

 

 Dan saat mereka akhirnya mereka masuk di dalam antrian orang-orang untuk membeli makanan dan  minuman, terlihat saat itu beberapa anak laki-laki yang bersama dengan orang tua, kakak ataupun orang dewasa yang menemani mereka, menggunakan berbagai pernak-pernik berupa topeng, baju, tas ataupun tempat air minum yang menggambarkan Ultra Ranjers.

 Saat itu orang-orang yang ada di bioskop termasuk Ian dan Tania bisa tahu kalau anak-anak yang menggunakan pernak-pernik tersebut akan menonton film Ultra Ranjers yang akan tayang pada hari itu.

 “Berubah! Ciiiaaatt!!!!” teriak seorang anak yang ada disana sambil memperagakan gerakan perubahan Ultra Ranjers.

 Melihat ada anak yang sesenang dan sesukanya menonton Ultra Ranjers sampai mengikuti gayanya, membuat orang-orang yang melihatnya pasti akan menganggapnya manis, sampai-sampai membuat tersenyum. Begitupun yang terjadi oleh Ian dan Tania yang melihatnya.

 Namun, berbeda dengan orang lain, senyum Ian saat itu lebih diperlihatkan untuk sesuatu kedepannya mengenai anak-anak yang dilihatnya saat itu. Sedangkan Tania, saat melihat anak-anak itu, dirinya pun seolah tersetrum akan ingatannya mengenai suatu hal, yang membuat dirinya agak panikan dan sebagainya.

 Setelah akhirnya, mereka selesai membeli makanan dan minuman, yang dimana Ian membeli popcorn manis dengan ice tea sebagai minumannya, sedangkan Tania yang memesan popcorn asin dan cola sebagai minumannya, waktupun telah menunjukkan pukul 11.42. Sekitar 3 menit lagi sebelum film Ultra Ranjers yang akan mereka nonton dimulai.

  Sementara itu, Tania yang terlihat sangat gelisah dimana dirinya daritadi terus berbalik ke berbagai arah seolah sedang menunggu suatu hal, atau mungkin lebih tepatnya seseorang. Dirinya lalu berusaha mengambil Handphone yang ada di kantungnya kemudian terlihat menelpon seseorang.

 Ian  yang melihat tingkah Tania tersebut, awalnya menganggap kalau menunggu, entah itu temannya atau sebagainya. Dirinya pun merasa kalau berusaha menanyakan hal itu tidak akan terlalu membantu Tania nantinya. Sehingga Ian pun lebih memilih diam, tidak berkomentar dan hanya melihatnya saja.

  Sekitar 2 menit mereka menunggu yang dimana Tania masih terlihat gelisah sambil memain-mainkan Handphonenya, dan Ian yang selama 2 menit itu hanya melihat ke sekitar untuk  mencoba mengetahui hal apa yang bisa membuat Tania segelisah itu. Namun tetap saja Ian tidak dapat menemukannya.

 “Mohon perhatian anda, pintu teater 3 telah dibuka..., Para penonton yang telah memiliki karcis...,dipersilahkan...untuk memasuki ruangan teater.”

Mendengar penyampaian tersebut, Ian yang sedang membawa popcorn dan ice teanya, lalu beranjak dari tempat dirinya duduk sambil berbalik ke arah Tania lalu berkata.

“Tania! Filmnya sudah dimulai. Ayo kita segera pergi!”

 Sementara itu, tepat saat penyampaian mengenai pemutaran film Ultra Ranjers, Tania pun yang saat itu pandangannya ke arah pintu bioskop, melihat seseorang dengan beberapa bawaaan yang terlihat sangatlah berat. Mengetahui hal itu, dengan wajahnya yang lega dan perasaan yang semangat, Tania pun kemudian mendatangi orang tersebut dan meninggalkan Ian yang mengajaknya pergi.

 “Tania! Kamu mau pergi ke mana!?” tanya Ian yang menyadari Tania pergi meninggalkan dirinya beserta makanan dan minumannya.

 “Aku ingin pergi ke dulu sebentar Ian!” balas Tania sambil berjalan dengan cepat menuju ke pintu depan bioskop.

 “Kalau begitu cepatlah Tania! sebentar lagi filmnya mau dimulai.” Ujar Ian sambil memegang makanan dan minuman milikinya dan milik Tania.

 “Jangan menungguku Ian! Lagipula..., urusanku ini keliatannya agak lama. Jadi pergi saja duluan Ian! Aku nanti nyusul kok!” balas Tania.

 Ian pun menuruti perkataan Tania, dan sambil membawa makanan dan minuman mereka berdua, dirinya pun lalu menuju ke teater 3 tempat dimana filmnya yakni Ultra Ranjers akan tayang.

 Setelah melakukan berbagai urusan di depan seperti mengenai tiket dan sebagainya. Akhirnya, dengan posisi kursinya yang berada tepat di bagian paling depan, berada di bagian tengah tepat di depan layar teater.

 Setelah akhirnya dirinya duduk, dan  menyimpan makanan dan minuman miliknya dan milik Tania ke tempat slot makanan yang ada di kursi mereka masing-masing, dirinya pun hanya bisa duduk nyaman menikmati sejuk dari ruang teater, dan salah satunya yakni, alasan lain Ian ingin menonton film Ultra Ranjers ini.

Melihat anak-anak yang bersama orang dewasa bersama mereka, lalu duduk di kursi yang ada, dan kebetulan dekat sampai ada yang disamping dirinya. Membuat Ian pun entah kenapa lebih terlihat semangat,senang dan begitu gembira akan hal tersebut.

 Bahkan untuk anak yang berada di samping kursi Tania, dimana terlihat anak itu begitu bersemangat, dan senang. Seolah rasa semangat dan senang anak tersebut hampir sama dengan Ian. Atau bahkan rasa semangat Ian yang lebih besar dibanding anak tersebut.

 “Ternyata memang, anak-anak akan menonton film Ultra Ranjers ini! Benar-benar bikin semangat saja!” ujar Ian sambil tersenyum semangat sambil melihat ke sekitar.

 Bisa dibilang saat ini atau hal yang dirasakan saat ini, adalah salah satu alasan lain Ian ingin menonton film Ultra Ranjers ini. Yakni dirinya ingin melihat tingkah, teriak-teriak dan kepolosan para anak-anak yang menonton film Ultra Ranjers. Meskipun kebanyakan orang merasa kesal, atau risih mengenai hal tersebut. Tapi Ian malahan menganggapnya merupakan inti dari menonton film-film superhero, apalagi sebuah film dari kenangan masa kecil.

 Saat cahaya teater perlahan-lahan mulai redup dan akhirnya hilang karena filmnya mau dimulai, Ian pun sambil menikmati beberapa iklan dan trailer dari film yang nantinya akan tayang. Juga menikmati suara kegirangan dari beberapa anak-anak, mesk sudah tidak seheboh atau seriuk tadi. Yang bahkan membuat Ian hampir saja melupakan Tania akibat terlalu menikmati suasana yang ada.

 “Dimana Tania yah...!?” pikir Ian sambil melihat ke arah pintu masuk teater.

 Hingga akhirnya, sampai semua iklan, trailer dan bahkan pemberitahuan yang biasa diberitahukan di sebuah bioskop telah selesai, Ian pun tidak melihat keberadaan Tania. Dirinya pun saat itu mulai berniat untuk menyusul Tania dan mencaritahui alasan dirinya bisa lama.

 Namun, Ian yang tiba-tiba teringat akan perkataan Tania—

“Aku nanti nyusul kok!”

 —Membuat Ian akhirnya mengurungkan niatnya tersebut. Karena bisa dibilang kalau mengikuti perkataan Tania tersebut, Ian merasa kalau itu sama dengan mempercayai kata-kata Tania. Jadinya, sambil menikmati film Ultra Ranjers yang tayang tersebut, Ian pun menghilangkan rasa khawatirnya ke Tania.

 Kemudian, sekitar 2-3 menit film Ultra Ranjers itu dimulai, yang dimana Ian sudah mulai melupakan kekhawatirannya ke Tania dan berfokus terhadap filmnya. Seorang perempuan saat itu terlihat dari arah pintu masuk ruang teater, yang membuat Ian langsung berpikiran kalau perempuan itu adalah Tania.   

 “Tania....!!” panggil Ian dengan suara yang agak kecil sambil melambaikan tangan.

 Seseorang yang dikira Ian Tania pun mulai menghampiri Ian. Saat itu, Ian pun melihat dengan baju merah menggambarkan para Ultra Ranjers, mengenakan topi Ultra Ranjers, ransel ukuran dewasa dengan gambar Ultra Ranjers, dengan pernak-pernik yang tertempel di tas itu bergambar Ultra Ranjers seperti bros,stiker dan sebagainya. Lalu ditempat minum di tas itu pun, berisi sebuah tempat air minum yang bergambar Ultra Ranjers. Dan terakhir, topeng Ultra Ranjers yang dipakai cuman hanya berada di bagian samping atas kepalanya.

“Jadi disini yah Ian, tempat duduknya.” Ujar orang tersebut yang ternyata memang Tania.

“T-ta-Taa-Tania.......!” ujar Ian yang kaget melihat penampillan Tania tersebut.

 Tania yang telah duduk dengan sebuah pernak-perniknya, mendengar panggilan Ian, sehingga perhatiannya pun lalu mengarah ke orang yang mengajaknya tersebut.

 “Ada apa Ian?” tanya Tania dengan suara yang agak kecil.

 “Ke-kenapa pa-pakaianmu seperti itu?! A-apaan pakaian, d-dan pernak-pernikmu itu?!” tanya Ian yang agak kaget,tercengang akan penampilan Tania tersebut.

 Tania dengan wajahnya yang  tersenyum lebar dan terlihat sangat bangga, dirinya lalu mengatakan.

 “Yang aku pakai ini adalah perlengkapanku untuk menonton Ian. Bisa dibilang, kalau baju, topeng dan semua yang aku bawa ini harus aku bawa kalau ingin menonton film fiksi Ian.”

  Mendengar jawaban dari Tania tersebut, ada perasaan tidak percaya pada perkataan Tania tersebut. Karena, menurut yang Ian tahu, Tania itu meski sikapnya beberapa kali dingin,keras dan kadang juga lembut, dewasa, bisa dibilang juga dirinya pun sikapnya sangat dewasa. Dan melihatnya pada waktu itu, sangatlah bertolak belakang dari sikap Tania yang ia tahu tersebut, yang malahan Ian lihat waktu itu, penampilannya sangatlah kekanak-kanakan.  Namun, Ian pun berpikir kalau penampilan Tania saja yang keliatan anak-anak. Sedangkan untuk sikapnya, Ian berpikir kalau Tania masih bersikap dan bersifat dari Tania yang ia tahu.

 “Jadi ini yah Tania, alasanmu tadi pergi tadi.” duga Ian yang kagetnya sudah agak redah.

 “Begitulah.” Balas Tania yang kemudian berbalik lagi ke arah layar.

 Ian yang pada akhirnya rasa kagetnya hilang, lalu juga berbalik ke arah layar untuk menonton film Ultra Ranjers yang tayang. Meskipun begitu, masih ada beberapa pertanyaan yang masih terpikirkan oleh dirinya.

 “Terus Tania, bagaimana kamu bisa membawanya kesini? Padahalkan kamu tadinya tidak bawa apa-apa.” Tanya Ian sambil tetap menonton.

 Sambil menikmati film yang tayang tersebut, Tania yang masih mendengar pertanyaan Ian tersebut lalu menjawab.

 “Sebenarnya...,aku meminta kepada salah seorang di rumahku untuk membawakan barang-barangku ini. Jadinya, selain tasku kecil yang aku bawa, perlengkapan nontonku ini semua dibawah oleh orang rumahku.”

 Mendengar itu, Ian pun lalu berbalik ke arah Tania. Dan wajah yang agak kaget karena pernyataan Tania tadi, Ian lalu bertanya.

 “Kalau memang begitu Tania,  kenapa bukan kamu yang bawa saja barang-barangmu itu?”

 “Tentu saja karena berat!” ujar Tania dengan santainya.

Mendengar itu, wajah Ian pun langsung seketika agak kesal dengan pernyataan Tania tersebut. Yang bisa dibilang rasa kesal yang ia rasakan tersebut, hampir sama atau malah lebih saat dirinya dulu berdebat di taman pada saat Ian mencoba menanyakan hobi ke Tania.

“Jadi Tania, saat ini ‘orang rumahmu’ itu yang saat ini berada diluar, menunggumu. Dan setelah film Ultra Ranjes ini nantinya selesai, orang rumahmu itu akan membawakan barang-barang beratmu ini lagi. Begitu Tania!?” duga Ian yang terlihat agak kesal.

Tania lalu berbalik ke arah Ian sambil menatapnya dengan tajam sembari berkata.

“Mana mungkin Ian! Aku tidak ingin menyusahkan orang rumahku dengan melakukan hal yang kamu katakan.”

Rasa kesal Ian pun akhirnya menghilang mendengar pernyataan Tania tersebut. Dan sambil berbalik lagi ke arah layar, dan dengan senyum memperlihatkan kesenangan dirasakannya, Ian lalu berkata.

 “Jadi Tania, saat pulang berarti kamu rela mengangkat barang-barangmu yang kamu bilang berat, karena kamu tidak ingin nyusahin orang rumahmu itu yah.”

 Saat itu, dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran, keringat dingin dan gugup, Tania lalu berkata.

 “Se-sebenarnya Ian, a-aku bilang ke orang rumahku itu, kalau teman yang mengajakku akan membantu mengangkatnya nanti.”

  Mendengar pernyataan Tania tersebut, Ian yang sebelumnya tersenyum senang akan dugaannya mengenai kebaikan Tania, tiba-tiba berubah menjadi wajah datar, dan tatapan kosong yang mengarah langsung ke arah Tania, karena sebuah dugaan baru dari pernyataan Tania tadi.

 “Ehhhh~~! Jadi intinya Tania, daripada kamu mengikutkan ‘orang rumahmu’ itu untuk nonton film bersama kita, agar dianya yang akan mengangkat barang-barangmu nanti pulangnya. Kamu lebih memilih untuk menyuruh orang yang telah mentraktirimu semuanya untuk mengangkat barang-barang berat yang kamu bawa itu, hanya karena kamu tidak ingin ngebayarin tiket orang rumahmu itu.” Duga Ian.

 Tania pun kemudian dengan wajahnya yang keringat dingin, sambil agak bersalah lalu berbalik ke arah layar, sembari berkata.

 “Mungkin...,kurang lebih seperti itu Ian.”

 Ian pun lalu menghirup napasnya sedalam mungkin hingga batas dirinya untuk menampung napasnya.

 “ENAK SAJA KAMU TANIA!! AKU SUDAH NGEBAYARIN TIKETMU, LALU MAKAN DAN MINUMMU. DAN SEKARANG, KAMU MINTA UNTUK NGEBAWAIN, BARANG-BARANG BERATMU ITU!!??” protes Ian yang seolah kata-katanya itu merupakan emosi dirinya yang sebelumnya sudah tersimpan dibalik wajah datar dan tatapan kosongnya.

Saat itu, Ian yang seolah pikirannya terbuka setelah mengeluarkan semua kekesalan yang ia rasakan melalu kata-kata yang ia ucapkan tadi. Ian pun dengan cepatnya lalu menyadari kalau perkataannya bisa mengundang Tania untuk jadi kesal dan kemungkinan malahan membenci dirinya.

 Ian pun kemudian dengan wajah yang terlihat khawatir, lalu berbalik ke arah Tania.

 “Tani—.” 

 “Ian...aku mohon!! Tolong bantu aku angkat semua barang-barangku nantinya!! Aku tidak bisa membawa semuanya kalau sendirian!!” ujar Tania dengan memohon.

 Ian yang melihat ekspresi Tania yang diluar dugaan dirinya, lalu sedikit kaget dan tercengang akan sikap dan tindakan Tania tersebut. Yang membuat Ian pun mengurungkan niatnya untuk meminta maaf ke Tania pada saat itu.

“Sssssshhhhhhhh........!!!!!!”

Mendengar suara teguran diam tersebut dari orang-orang disekitarnya, Ian dan Tania pun langsung terdiam kaku sambil menatap ke arah layar kembali. Saat itu, sambil melihat ke arah layar, dirinya pun menghela napasnya sembari berkata.

“Baik-baik Tania! Aku akan mengangkat barang-barangmu.”

 Dengan wajah yang senang dan lega, Tania yang sambil menonton film Ultra Ranjers lalu tersenyum sembari berkata.

 “Makasih Ian!”

 Setelah itu, mereka pun akhirnya menikmati kembali film Ultra Ranjers yang saat ini mereka lihat. Pada saat awal mereka menonton, semuanya masih terlihat baik-baik saja, dan tidak ada sedikitpun masalah yang terjadi semenjak keributan kecil mereka tadi.

 Namun—

 “Berubah!!”

 —Mendengar kata itu,  sontak teriakan dari kepolosan anak-anak yang menontonnya pun terdengar hampir di seluruh ruangan teater waktu itu. Meski orang-orang dewasa yang saat iu merasa terusik akan teriakan dari anak-anak itu dan berusaha menegur dan memarahi wali dari anak-anak yang melakukannya. Anak-anak itu tetap saja membuat keributan, yang pada akhirnya membuat orang-orang dewasa disana hanya bisa pasrah mendengar teriakan dari anak-anak tersebut.

 Dan untuk Ian, tidak seperti orang dewasa yang merasa kesal akan keributan anak-anak itu. Dirinya malahan terlihat menikmati dan terlihat makin bersemangat untuk menonton film Ultra Ranjers. Dirinya pun sudah hampir merasa kalau harapannya untuk menonton film Utlra Ranjers pada hari itu.

  Namun sekali lagi, Ian pun hanya bisa merasakan hampir sesuai dengan harapannya saat menonton film Ultra Ranjers pada waktu itu.

  “Yeeyy!!! Ultra Ranjers merah!!” teriak Tana pada saat itu.

 Ian yang berbalik ke arah Tania, melihat tingkah teman yang diajaknya tersebut, langsung merasa agak aneh. Sikap yang terlihat kekanak-kanakan, hal itulah yang Ian pikirkan melihat tingkah Tania tersebut.

 Pada saat itu, anak yang dimana dirinya juga sedang bersemangat-semangat layaknya Tania, lalu memanggil si Tania yang berada di samping kursinya.

 “Kakak! Kakak!”

 Tania yang sedang semangat-semangatnya akan perubahan tersebut, mendengar anak yang disamping memanggil dirinya, Tania pun berbalik ke arah anak itu.

 “Tahu enggak, kalau Ultra Ranjers merah itu. Itu aku loh!” ujar anak itu sambil menunjuk ke arah layar dan lebih tepatnya ke arah Ultra Ranjers merah sambil menampakkan wajah bangga.

   Tania lalu menanggapinya dengan sebuah senyuman yang penuh kebanggaan dan bahkan lebih dari anak itu sembari berkata.

 “Maaf saja dek! Tapi, akulah yang Ultra Ranjers itu!”

 “Ehhh...! Aku yang Ultra Ranjers merah!” balas anak itu dengan sikap yang sangat keras kepala.

 “Aku yang Ultra Ranjers dek!!” balas Tania yang lebih keras kepala lagi.

 Saat itu dengan kesal, si anak pun entah karena pintar ataukah karena tidak sengaja memerhatikan sehingga menimbulkan sebuah ide. Membuat dirinya dengan mencoba memperlihatkan sikap yang lebih bangga dan hebat, sembari menunjukkan baju merahnya lalu berkata.

 “Lihat! Warna bajuku merah. Artinya, aku yang Ultra Ranjers merah, bukan kakak!”

 Dengan wajah yang penuh percaya diri terlihat pada anak itu. Dirinya sangat yakin kalau kakak yang saat itu berada di hadapannya, pada akhirnya akan mengalah, yang membuat dirinya dianggap sebagai Ultra Ranjers merah.

 Bisa saja itu terjadi pada anak-anak yang seumuran dengannya karena menelan pendapat anak tersebut mentah-mentah. Atau orang dewasa yang menganggap bahwa hal sia-sia jika melanjutkan perdebatan ke anak tersebut. Namun, untuk keadaan Tania saat ini, dengan pemikiran atau otak dewasa, dan tingkah yang kekanak-kanakan, malahan hal itu merupakan kesalahan dari anak tersebut.

 Dengan wajah yang lebih percaya diri, bangga dan terlihat lebih angkuh dibandingkan anak tersebut,Tania lalu berkata.

 “Kalau memang begitu, ”

 Sambil menunjuk semua barang-barang berwarna merah bergambar Ultra Ranjers yang ia bawa, berupa baju, topeng, topi dan tas yang ia gunakan, Tania melanjutkan.

 “Aku yang Ultra Ranjers! baju, topeng, topi dan tas kakak saja warna merah. Jadinya, kakak yang lebih cocok Ultra Ranjers merah!” 

  Merasa akhirnya kalah argumen dan kakak yang ada di depannya masih keras kepala mengenai keputusannya untuk jadi Ultra Ranjers. Si anak pun lalu berbalik ke ibunya yang menemani dirinya, lalu dengan wajah yang terlihat ingin dikasihani si anak berkata sambil menunjuk ke arah Ultra Ranjers merah.

“Mama! Aku kan, yang Ultra Ranjers merah?!”

Tentu saja si Ibupun dengan rasa sayang ke anaknya lalu berkata.

“Iya kok nak! Yang Ultra Ranjers merah itu. Itu kamu kok!”

 Si anak pun dengan kebanggaan dan rasa senang akibat ibunya yang mengakui dirinya sebagai Ultra Ranjers merah. Kemudian sambil menunjuk si Tania, anak itupun lalu mengadu ke ibunya.

 “Mama-mama! Kakak tadi itu, dia bilang kalau dia itu yang Ultra Ranjers merah!”

 Tania yang mendengar si anak mengadu ke ibunya, lalu ikut dalam percakapan antara anak dan ibu tersebut, dan sambil bangganya berkata kepada anak dari ibu itu.

 “Maaf saja bu! Tapi, aku memang Ultra Ranjers merah!”

 “Tuh kan!” ujar anak itu ke ibunya.

 Saat itu ibu anak itu lalu tersenyum sembari berkata.

 “Nak! Janganlah terlalu dibawa serius. Lagipulakan yang kamu ajak bicara anak-anak, jadi mengalah saja.”

 “Maaf Bu! Tapi, seperti yang saya bilang kalau aku memang Ultra Ranjers merahnya! Buktinya yang aku bawa semua warna merah.” Ujar Tania yang terlihat keras kepala.

 Ian yang sebelumnya terlalu fokus dengan film Ultra Ranjers dan suara ribut dari anak-anak yang polosnya berteriak, sampai-sampai tidak mendengar perdebatan anak danTania. Namun, karena secara tidak sengaja dirinya melihat ke arah Tania karena ingin melihat ekspresi dari temannya tersebut.

 “Ta-Tania...”

Melihat Tania yang saat itu berdebat dengan ibu dari anak itu, hanya mendengar percakapan mereka saja Ian dengan cepatnya membuat Ian saat itu dengan sigap ikut dalam percakapan mereka.

 “Ibu maafkan teman saya yah! Telah bikin masalah dengan anak ibu.” ujar Ian.

  “Tidak apa-apa kok nak! Mungkin memang temanmu saking suka dengan Ultra Ranjers.” Ujar si Ibu dengan ramah.

  “Terima kasih sekali lagi bu.”

 “Dan untuk adek, maaf yah teman kakak.” Ujar Ian sambil senyum yang biasa ia lakukan terhadap orang lain.

 “Dia bilang kalau dia itu Ultra Ranjers merah. Padahal aku yang Ultra Ranjers merah!” ujar si anak untuk mempertegas.

 “Iya-iya, kamu yang Ultra Ranjers merah.” Ujar Ian sambil tersenyum.

 Si anak pun lalu tersenyum senang dan bangga karena teman kakak yang berdebat dengan dirinya, menganggap kalau dirinya adalah Ultra Ranjers. Setelah itu, Tania yang tidak terima akan tindakan Ian yang menganggap si anak itu Ultra Ranjers lalu berkata.

 “Kenapa kamu anggap anak itu yang Ultra Ranjers merah?! Padahalkan aku yang jadi Ultra Ranjers merah.” Ujar Tania sambil menonton agak sebal dengan sikap Ian tersebut.

 Mendengar kritikan Tania tersebut, dengan wajah santai, Ian pun lalu membalas dengan sindiran.

 “Kalau memang kamu Ultra Ranjers merah, Tania. Saat pulang nanti, kamu bawa saja sendiri barang-barangmu itu! Bukanya Ultra Ranjers merah itu kuat!?”

 Tania saat itu sontak terhentak, terdiam, dan hampir tidak bisa berkata apa-apa dalam menangapi pernyataan Ian tersebut.

  “Terserahlah Ian!” ujar Tania sambil menatap ke arah layar.

Ian pun hanya bisa tersenyum melihat Tania dengan wajah kesal sambil menonton kembali Ultra Ranjers yang ia suka tersebut.

 “Ian! Sudah kubilang sering kali, jangan tersenyum begitu padaku!” ujar Tania yang masih kesal.

 “Baik!” balas Ian dengan singkat.

Setelah beberapa saat semenjak itu, tidak ada lagi peristiwa atau hal terjadi yang terjadi. Hanya kesenangan,keseruan, histeria dari anak-anak dan Tania yang menonton, dan perasaan deg-degan yang dirasakan oleh sesama fanatik cerita fantasi, yakni Ian dan Tania.

Dan juga, selama Ian melihat sikap dan perilaku Tania menonton tersebut, dirinya merasa tidak percaya kalau dia adalah orang yang sama dengan selama ini dia kenal di sekolah.Sikapnya kekanakan, fanatisme yang terlalu tinggi dan beberapa sikapnya yang bertolak belakang dari sikap Tania yang ia kenal. Hal itu dirasakan Ian melihat Tania versi yang ia lihat waktu itu.

Tapi saat melihat Tania yang saat itu berekspresi sangat senang sekali saat menonton itu. Tania seperti terlihat hidup, terlihat ekspresi senang sesungguhnya dari Tania saat itu. dibandingkan ekspresi senang Tania yang biasanya, dirinya saat itu seperti benar-benar hidup. Benar-benar memperlihatkan keseruan dari menonton film Ultra Ranjers.

 Hingga akhirnya, film Ultra Ranjers pun akhirnya selesai dengan perasaan senang dan puas dirasakan oleh mereka berdua. Dan kredit yang masih berlanjut di layar teater, mereka pun bersama orang-orang yang menonton pada waktu itu, meninggalkan ruangan teater.

 Saat akhirnya mereka telah berada di luar kembali, Tania pun lalu berkata.

 “Ian! Aku ingin pergi dulu ganti baju dan mengemas barang-barang yang aku bawa ini.”

 “Baiklah kalau begitu.” Balas Ian dengan singkat.

 Tania pun dengan kecepatan yang ia bisa, berjalan dengan cepat diantara orang-orang yang ada disana. Lalu Ian yang akhirnya hanya bisa menunggu Tania, berjalan-jalan mengitari bioskop sambil melihat poster-poster film yang ada.

 Sekitar 5 poster yang Ian lihat dari dirinya keliling bioskop dimana sekitar 5 menit Ian menunggu. Sekelompok perempuan sambil menatap Ian, dengan wajah merona, malu-malu dan terlihat membicarakan Ian. Ian yang melihat kembali mereka, membuat kelompok perempuan histeris kecil. Sampai akhirnya, mereka pun perlahan mulai mendekati Ian, sambil memegang Hp mereka di depan dan dengan wajah yang malu-malu.  

 “Ma-maaf! Tapi...,bisa nggak kita foto denganmu....?”

 Dengan senyumnya yang membuat perempuan-perempuan itu makin memerah wajahnya, Ian lalu berkata.

 “Tidak apa-apa kok.”

 Mendengar jawaban Ian tersebut, perempuan-perempuan itu pun mulai berada disamping Ian sambil mulai untuk berpose.

 “Satu...,dua....,tiga...!” aba-aba salah satu perempuan yang memfoto.

Setelah melakukan 2 foto, salah satu perempuan pun menggantikan temannya yang sebelumnya memfoto, lalu perempuan yang sebelumnya memfoto, akhirnya ikutan berfoto dengan Ian.

“Satu...,dua....,tiga...!”

 Dan sekitar 2 foto akhirnya dilakukan, sekelompok perempuan itupun lalu mengelilingi Ian, sembari mulai menanyakan beberapa hal ke Ian.

“Bisa nggak tahu nama kamu siapa...?”

“Kamu dari sekolah mana...?”

 “Tinggal dimana.....?”

 “Apa kamu udah punya pacar....?”

 Ian yang mendengar semua pertanyaan dari perempuan-perempuan itu hanya bisa tersenyum setengah.

  “Itu...—

 “Ian!” panggil seorang perempuan.

 Ian lalu berbalik ke arah perempuan yang memanggilnya. Dan tentu saja perempuan itu tidak lain adalah Tania yang saat itu keliatan membawa suatu kantung yang sangat berat, dan keliatan kesusahan saat mengangkatnya.

 “Ahh...! Aku datang Tania!” ujar Ian.

 Ian pun lalu berbalik ke arah para perempuan, sambil dengan wajah senyum menyesal, Ian lalu berkata.

“Aku pergi dulu! Maaf yah, sudah mengganggu!”

 Merasa tidak enak karena laki-laki ganteng yang dihadapannya meminta maaf ke mereka. Salah seorang mereka lalu berkata.

 “Tidak apa-apa kok! Lagipula...,kami yang seharusnya meminta maaf karena mengganggu waktumu!”

 “Terima kasih yah! Kalau begitu, aku pergi dulu!” ujar Ian sambil meninggalkan perempuan-perempuan disana.

 “Makasih yah! Karena sudah foto sama-sama.” Ujar salah seorang diantara perempuan disana.

 “Sama-sama.” Balas Ian sambil berlari.

Setelah Ian sudah terlihat jauh dari perempuan-perempuan itu, mereka  pun sambil meninggalkan tempat mereka saat ini sembari berkata.

 “Ternyata dia sudah punya pacar yah..”

 “Sangat disayangkan. Tapi emang keliatannya begitu.”

 “Kalau tidak salah, nama laki-laki itu, Ian kan?!”

“Benar! Beruntungnya perempuan yang berpacaran dengannya.”

 “Benar!”

 Sementara itu, Ian yang akhirnya sampai di tempat Tania kemudian melihat ke arah kantung besar disamping Tania.

 “Jadi di dalam iniTania, barang-barang yang kamu pakai tadi?”duga Ian.

 Sambil mengikuti pandangan ke arah kantung disampingnya, Tania pun lalu berkataa balik.

 “Oh...,Iya Ian!”

 Saat itu, Ian pun lalu mengambil kantung tersebut. Dan sesuai yang dikatakan oleh Tania tadi, kalau kantung yang berisi barang-barang yang dibawa Tania pun, bisa dibilang lumayan berat. Namun, karena keatletisan dari Ian, dirinya pun bisa mengangkat kantung tersebut dengan tidak terlalu susah.

Meskipun, membuat Ian langsung agak bertanya-tanya tentang alasan kantung tersebut berat. Karena isinya merupakan barang-barang yang dipakai Tania tadi, yang keliatannya tidaklah membuatnya berat begini.

 “Ian! Ayo kita lebih baik pulang sekarang.” Ujar Tania yang berjalan duluan meninggalkan Ian.

 “Baiklah.” Balas Ian.

 Saat perjalanan mereka meninggalkan bioskop dan berjalan keluar dari GrandMall, mereka pun kemudian melakukan percakapan, yang dimulai dari pertanyaan yang Ian pikirkan daritadi.

 “Ehhh...Tania! Boleh tidak aku ingin menanyakanm suatu hal?”

 “Boleh saja Ian! Sebenarnya juga, aku ingin menanyakanmu suatu hal juga, mengenai hal tadi.” Balas Tania yang teringat akan suatu hal mengenai pertanyaan juga seperti Ian.

 Sambil mengangkat tangannya seorang mempersilahkan Tania, dan tangan yang satunya mengangkat kantung berisi barang Tania, Ian lalu berkata.

 “Kalau emang gitu Tania, kamu saja dulu bertanya.”

 “Baiklah kalau begitu...

Sambil menatap tajam ke Ian, Tania lalu melanjutkan.

....Apa yang kamu bikin tadi dengan perempuan-perempuan itu,Ian?! Apa jangan-jangan, kamu sedang godaiin perempuan itu,Ian!?” duga Tania.

 Saat melihat tatapan dan mendengar pertanyaan Tania tersebut, dengan sigap, dan refleks sambil diselimuti rasa khawatir namun mampu berpikir dan bersikap dengan tenang, Ian pun lalu menjawab.

 “Oh itu...! Tentu saja bukan Tania! Sebenarnya mereka itu hanya memintaku untuk berfoto dengan mereka. Dan juga, tidak mungkinkan, kalau aku berusaha godaiin perempuan,Tania.”

 Sambil tertunduk berpikir, Tania lalu berkata.

 “Benar sih...”

 Tania dengan wajah tersenyum pun lalu berbalik ke arah Ian dan berkata lagi.

 “Benar juga Ian. Tidak mungkin kan, kamu berusaha ngegodaiin perempuan.”

 Mendengar pernyataan Tania, Ian pun dengan wajah tersenyum lalu menjawab.

 “Memang benarkan.”

 “Sudah kubilang jangan tersenyum begitu ke aku Ian!” ujar Tania dengan tatapan tajam.

 “Baik!”balas Ian dengan singkat.

 Tania pun lalu menghela napasnya berbalik kembali ke arah depan sambil berkata ke Ian.

 “Jadi Ian! Apa yang ingin kamu tanyakan?”

Mendengar pernyataan Tania tersebut, Ian pun yang seolah terhentak, lalu menunjukkan kantung barang milik Tania tersebut, sambil berkata.

“Tentang ini Tania! Kamu kan bilang, kalau isi kantung ini barang-barangmu?!” tanya Ian yang mengeluarkan pendapatnya.

 Tania pun menanggapinya dengan sebuah anggukan persetujuan. Mengetahui tanggapan yang berarti benar dari Tania, Ian lalu melanjutkan.

“Kalau gitu Tania, kenapa kantungmu berat? Padahalkan, kalau dilihat tadi, barang-barangmu bukanlah barang-barang berat. Walaupun, barang-barangmu itu digabungin Tania, tidak akan berat.”

Sambil dirinya berjalan, Tania pun lalu berbalik ke arah Ian sembari berkata.

 “Kalau kamu ingin tahu Ian, lihat saja apa yang ada dalam kantongnya.”

 Saat itu, Ian dengan wajah ragu, lalu mencoba meyakinkan Tania untuk melakukannya.

 “Apa kamu yakin Tania, aku boleh lihat apa dalam kantungmu ini?!” Ujar Ian.

 “Lihat saja Ian!” ujarTania untuk meyakinkan.

 Ian yang pikirannya dipenuhi rasa penasaran, mulai membuka kantung milik Tania. Saat awal Ian melihat isi dari kantung tersebut, dirinya hanya melihat barang-barang yang Tania pakai tadi. Yakni baju,tas,topeng dan berbagai hal mengenai Ultra Ranjers.

 Namun, saat Ian melihat lebih dalam lagi isi dari kantung tersebut. Dirinya pun melihat beberapa barang dan pakaian lain, selain Ultra Ranjers saja. Seperti helm prajurit putih, Lightsaber, helm Commander from Dark Side dan berbagai pernak-pernik atau barang-barang yang berhubungan dengan War In Space. *Parodi Star Wars*

Yang bahkan menurut Ian sendiri, barang-barang tersebut penyebab penuh dan beratnya kantung yang dibawanya saat itu. Terpancar wajah yang sudah paham akan alasan yang dicarinya tersebut, Tania yang melihat wajah Ian tersebut lalu berkata.

 “Kamu sudah paham kan Ian!?”

 Sambil mengangguk, Ian lalu menjawab.

 “Aku mengerti sekarang Tania! Tapi...kenapa malah ada barang-barang War In Space disini? Apa jangan-jangan, ini juga barang-barang untuk nonton filmmu juga Tania?” tanya Ian yang masih keliatan bingung.

 Tania pun dengan wajah tersenyum senang lalu berkata.

“Iya! Dan alasannya ada disana,hanya karena untuk ngegabungin saja. Karena dua-duanya genre ceritanya sama, tentang Sci-fi. Jadinya aku menyimpannya dalam satu kantung yang sama. Akupun juga sebenarnya masih ada beberapa kantung kayak beginian dirumah. yang satu kantungnya ada satu sampai dua barang-barangku yang kubawa kalau ingin nonton film fiksi”

Ian yang mendengar penjelasan Tania pun, setengah paham dan setengah lumayan kaget. Alasana diri Ian kaget pada waktu itu, bisa dibilang karena tidak bisa membayangkan mengenai hal apa saja yang dipakai oleh Tania nantinya, apabila dirinya hendak mengajak Tania untuk menonton film fiksi.

 Namun, perasaan Ian yang paham itu, membuat Ian mengakhiri percakapan mereka mengenai kantung tersebut, dan berganti ke pertanyaan lain yang dipikirkan oleh Ian.

“Sepertinya aku paham Tania!”

 “Baguslah kalau gitu.” Balas Tania keliatan senang.

 “Kalau gitu Tania, boleh nggak aku ingin bertanya lagi?”

 “Kali ini kamu ingin nanya apa, Ian?” ujar Tania dengan wajah agak bertanya-tanya.

 “Ini mengenai sikapmu tadi Tania saat di bioskop! Pakaianmu tadi, teriak-teriak kayak anak kecil. Dan terakhir, kamu berdebat dengan anak kecil hanya karena Ultra Ranjers merah. Semua sikapmu itu Tania, kayak anak kecil saja!...

 ....Bukannya aku bermaksud untuk mengataimu atau bagaimana Tania. Tapi aku kaget Tania saat sikap dan perilakumu seperti itu. Padahalkan Tania, yang aku tahu kalau kamu sikapnya sangatlah bertolak belakang dari sikap yang dibioskop itu.”

 Mendengar pernyataan Ian tersebut, dengan wajah polos sambil menatap Ian, Tania pun lalu menjawab.

 “Mmmhhh..,begitu yah! Jadi intinya Ian, kamu sangat kaget saat melihat sikapku yang ada dibioskop yah...”

 “Seperti itu Tania.” Balas Ian yang agak bertanya-tanya.

 Dengan wajah tersenyum, menghadap ke depan sambil agak mendahului Ian satu langkah, Tania pun lalu berkata.

“Kalau jawaban dari pertanyaanmu itu Ian. Sebenarnya...,itu merupakan bentuk fanatikku pada film fiksi yang aku nonton.”

 Mendengar alasan Tania tersebut, Ian hanya bisa tertegun dan agak tidak percaya mendengar jawaban Tania tersebut.

 “Be-begitu yah...” balas Ian yang setengah puas akan jawaban Tania.

 Melihat ekspresi Ian tersebut, Tania pun tersenyum senang dan puas akan ekspresi yang diperlihatkan temannya tersebut. Yang membuat, Ian agak bertanya-tanya sekaligus bingung atas sikap Tania itu.

 “Aku tidak sangka Ian! Kamu benar-benar percaya kalau itu jawabanku!” ujar Tania yang agak senyum senang.

 “Tentu sajakan Tania! Pasalnya kan tadi kamu bertingkah fanatik sekali!.... ujar Ian yang menegaskan.

 Menyadari suatu hal dari pernyataan Tania tadi, Ian pun dengan sigapnya lalu melanjutkan.

 “....Tunggu Tania! Apakah itu berarti jawabanmu tadi itu bukan jawabannya?!”

 Dengan wajah senyum, Tania lalu menjawab.

“Sebenarnya itu memang jawabannya! Tapi..., selain jawaban tadi masih ada jawaban yang lain.”

 Dengan wajah agak penasaran, Ian pun lalu memperhatikan dengan seksama ke arah Tania sembari berkata.

 “Jadi...jawaban lainmu itu apa, Tania?”

 Tania dengan wajah yang tersenyum seperti layaknya saat dia menjawab pertanyaan Ian pertama kali lalu berkata.

 “Jawabanku Ian,karena.... bisa dibilang, dengan bertingkah seperti itu, menggunakan pakaian dari film fiksi yang aku nonton dan membela habis-habisan karakter kesukaanku. Membuatku entah kenapa terasa lebih hidup. Terasa kalau aku bisa mengeluarkan semua kepedihan yang kurasa, dengan melakukan hal itu.....

“....Dan karena ini pula, aku bisa menentukan dan merubah nasibku hingga saat ini. Mungkin orang lain akan merasa aneh dan sebagainya. Tapi bagiku Ian, dengan melakukan hal itu, perasaan dan suasana hatiku entah terasa menjadi lebih baik” Ujar Tania sambil terlihat memikirkan suatu hal.

 Mendengar itu,reaksi yang diperlihatkan Ian pun malahan terlihat santai dan telah memahami penjelasan dari Tania tadi.

 “Begitu yah...! Ternyata kurang lebih dari apa yang kupikirkan, Tania!” ujar Ian yang terlihat paham.

 Dengan wajah yang agak kaget saat mendengar pernyataan Ian tadi, Tania lalu menjawab.

 “Tak kusangka kalau kamu perkirakan Ian.”

Ian yang mendengarnya, lalu mencoba merendahkan diri dengan berkata.

 “Tidak terlalu begitu kok Tania! Lagipula, yang aku perkirakan saja, hanya...mengetahui kalau kamu dengan melakukan hal itu, entah kenapa memang keliatan membuatmu terlihat kalau saat menonton itu. Saat itulah dirimu yang sebenarnya Tania! Selain itu, tidak ada lagi.”

 “Begitu yah... balas Tania.

 “....Jadi Ian! Apa kamu sudah paham dan telah mendapatkan jawaban yang pas Ian?!” tanya Tania.

 Dengan wjaah yang telah memahami dan sesuai dengan yang dikatakan Tania, Ian lalu menjawab.

 “Sudah paham kok! Meskipun Tania, masih ada hal yang ingin kutanyakan lagi padamu Tania.”

 Saat mendengar itu, mereka pun telah berada di pintu keluar dari GrandMall. Saat akhirnya mereka keluar, Tania pun lalu mengeluarkan tanggapannya mengenai perkataan Ian tadi.

 “Haaahhh~~~!Kamu Ian! Banyak sekali yang ingin kamu tanyakan padaku! Padahal aku saja hanya menanyakanmu satu pertanyaan saja.”

“Tenang saja Tania! Lagipula..., pertanyaan yang aku ajukan ini, pertanyaan terakhirku juga.” Ujar Ian yang mencoba sedikit membujuk Tania.

Sambil menghela napasnya, Tania pun akhirnya pun berkata.

“Baiklah! Tapi ini yang terakhirkan!?”

“Iya! Ini yang terakhir,Tania!” ujar Ian sambil meyakinkan.

Sambil menatap ke arah Ian, Tania pun lalu berkata.

 “Jadi...,apa yang ingin kamu tanyakan Ian?”

 Saat itu, Ian yang tadinya masih terlihat agak santai sedikit. Secara tiba-tiba, wajahnya langsung berubah menjadi agak serius, dan dengan sigap langsung berkata.

 “Tania! Pada saat waktu kita berdebat dulu, dan saat aku memarahimu waktu di bioskop tadi. Kenapa kamu tidak berusaha mengancamku, seperti berkata ‘janganlah coba melawanku! Kalau tidak,aku akan membencimu’ atau kau akan tidak kupercaya lagi’ dan sebagainya?”

 Saat itu, Tania dengan singkat langsung memahami maksud perkataan Ian tersebut, lalu memberitahukan kesimpulannya tersebut ke Ian.

 “Jadi maksudmu Ian. Kenapa saat kamu melakukan hal yang jahat padaku seperti marah dan sebagainya. Aku tidak berusaha mengancammu dengan kepercayaanku dan pertemanan kita?!”

 Ian pun lalu mengangguk sembari berkata.

“Seperti itu Tania!”

 Tania pun pada akhirnya menghela napasnya sekali lagi sebagai tanggapannya atas pertanyaan Ian tersebut.

“Tentu saja Ian, karena aku bukanlah orang yang memanfaatkan sebuah pertemanan dan kepercayaan hanya untuk kepentinganku sendiri. Lagipula, kalau aku melakukan itu, bukannya aku sama saja seorang pengkhianat teman. Dan akupun percaya, kalau cepat atau lambat, kamu pasti akan tidak suka dengan tingkahku tersebut. Benarkan?!”

 “Benar sih!” ujar Ian yang terlihat paham.

 Mendengar itu, dengan cepatnya Tania lalu berkata ke Ian.

 “Kalau begitu Ian,pasti kamu sudah mengertikan?! Kalau sudah, ayo kita cepat!”

 Saat itu Ian yang masih memiliki pertanyaan, kemudian mulai ditinggali dengan cepat oleh Tania.

 “Ta-Tania tunggu dulu! Masih ada yang merasa menjanggal!” seru Ian yang menghampiri Tania.

 Sambil mereka berjalan dengan cepat, Tania pun lalu berkata.

 “Apa lagi yang terasa janggal tersebut?!”

 Dengan sigapnya Ian pun langsung mengeluarkan hal yang dipikirkannya, dan tidak terlihat memikirkan perkataan yang dikeluarkannya tersebut dengan baik-baik.

 “Tapi misalnya, suatu saat nantinya aku melakukan hal yang paling tidak kamu suka Tania. Apa kamu tetap saja bilang tidak mengancamku?”

 Dengan tertawa kecil, Tania pun lalu menjawab.

“Kalau itu terjadi Ian. Aku malahan akan langsung memutuskan pertemanan kita, menjadi orang yang paling kubenci dan menganggapmu sebagai orang yang paling tidak bisa kupercaya. Mengerti Ian?!”

 Mendengar itu, Ian pun merasa kalau itulah babak akhir dari pertanyaan-pertanyaannya ke Tania, yang membuat dirinya pun tidak memiliki pilihan lain, selain untuk mengatakan satu jawaban.

 “Mengerti Tania!”

 “Baguslah kalau begitu.” Balas Tania.

 Saat itu, merekapun akhirnya sampai di halte bus GrandMall disana. Kemudian menaiki salah sebuah bus, dan saat duduk di salah satu tempat duduk di sana, dimana mereka duduk di tempat yang sama.

 Ian yang tempat duduknya berada di samping jendela, sedangkan Tania di tempat satunya. Dan kantung yang berisi barang-barang Tania, di simpan tepat dibawah tempat duduk Tania waktu itu.

 Selama beberapa menit semenjak mereka duduk disana, Ian dan Tania pun hanya berdiam, tidak bicara satu sama lain, seolah-olah mereka tidak saling kenal satu sama lain. Hingga akhirnya, dirasa kalau yang mereka lakukan bukanlah sikap seorang teman, mereka pun akhirnya menyerah dari kediaman dan kejenuhan mereka, lalu hendak memulai percakapan.

 “Tania!”

 “Ian!”

 Panggil mereka secara bersama-sama.

 Seolah terhentak karena mereka memanggil satu sama lain. Ian dan Tania pun tahu kalau lawan bicara mereka saat ini, ingin membicarakan suatu hal ke mereka masing-masing. Sehingga, mereka pun dengan sigap mulai mempersilahkan satu sama lain untuk berbicara duluan.

“Ian..,kalau ada hal yang ingin kamu sampaikan katakanlah dulu!” ujar Tania yang mempersilahkan.

 “Tidak-tidak Tania! Kamu saja dulu! Lagipulakan, aku rasa tadi kamu yang duluan memanggil namaku.” Ujar Ian yang mempersilahkan dengan lebih ramah.

 Tania pun yang tahu kalau mereka tambah terus melakukan hal ini, bisa-bisa mereka bukannya bisa memulai percakapan antar teman, malahan sebuah perselisihan baru. Yang akhirnya, Tania pun mengalah dan lalu memberitahukan hal yang ingin disampaikannya.

 “Begini Ian! Yang kita lakukan semenjak kita menaiki bus, hanyalah diam bisu , seolah-olah kita ini bukan teman. Kamupun pasti merasakannya kan, kalau kita ini berteman namun diam-diam saja, ada perasaan tidak enak.”

 Ian pun menanggapinya dengan sebuah anggukan  setuju akan pendapat Tania.

 “Setuju Tania!”

“Jadi Ian, kalau tadi ada kata-kataku tadi yang seolah menyudutkanmu dan sebagainya, aku minta maaf!” ujar Tania yang terlihat sangat menyesal.

 Mendengar permintaan maaf dari Tania tersebut, Ian saat itu yang sudah merasa agak bersalah, tambah makin bersalah lagi. Sehingga dengan sigap lalu meminta maaf balik ke Tania waktu itu.

 “Justru Tania, akulah yang meminta maaf karena tadinya aku malah membuang waktu kita hanya karena menanyakan dan mengatakan sesuatu yang langsung dari kepalaku! Sekali lagi ,aku minta maaf Tania!”

 Saat proses minta maaf mereka yang dipenuhi rasa penyesalan, Ian dan Tania pun terus merasakan perasaan menyesal terhadap satu sama lain, sehingga menghabiskan waktu sekitar sepuluh detik yang mendalam diantara mereka berdua untuk menerima permaafan dan penyesalan satu sama lain.

 Setelah akhirnya sepuluh detik tersebut, dengan wajah mereka yang saling bertatap satu sama lan. Mereka pun kemudian tersenyum senang, sembari mulai memperlihatkan keakraban yang terjadi diantara mereka, seolah perasaan maaf dan menyesal mereka telah tersampaikan satu sama lain.

 “Ian! Begini, aku ingin menanyakan pendapatmu tentang alur cerita Ultra Ranjers tadi.”

 Mendengar percakapan awal yang dilakukan oleh Tania tersebut, Ian pun langsung saja mengikuti percakapan dari Tania tersebut sembari mengeluarkan pendapatnya mengenai Ultra Ranjers tadi.

 “Menurutku Tania, bisa dibilang kalau ceritanya sangatlah bagus. Dan juga, saat adegan dimana si Ultra Ranjers merah mulai mengorbankan dirinya untuk teman-temannya, aku kira dia sudah benar-benar meninggal. Ternyata, dia masih hidup dan datang ke pertempuran itu dengan sangat keren.” Ujar Ian yang mulai keliatan senang.

 Mendengar dan melihat Ian yang mulai keliatan semangat, Tania pun membalasnya dengan lebih semangat lagi daripada temannya tersebut.

 “Benar-benar Ian! Selain itu.....”

 Kemudian Ian dan Tania akhirnya terus membincangkan mengenai Ultra Ranjers. mulai dari para karakternya, alur ceritanya, pertarungan yang terjadi dan hal-hal yang menurut mereka pantas untuk mereka diskusikan berdua. Hal itu mereka lakukan hingga tanpa sadar,sampai bus yang membawa mereka telah sampai ke halte bus yang jaraknya agak dekat dengan rumah Tania.

“Tania! Sepertinya kita sudah sampai di halte dekat rumahmu Tania.” Ujar Ian yang pertama kali menyadarinya.

Tania yang kemudian melihat ke arah jendela untuk meyakinkan pendapat Ian, menyadari kalau yang dikatakan oleh temannya tersebut benar.

 “Benar juga Ian.” Tanggap Tania.

Saat itu, Tania pun kemudian berdiri dari kursinya, kemudian mengeluarkan kantung barang yang ada dibawah kursinya, sembari berkata ke Ian dengan wajah yang senang.

 “Kalau gitu Ian, aku pergi dulu! Terima kasih yah, karena sudah mengajakku nonton film Ultra Ranjers.”

“Tidak apa-apa Tania! Tapi...

 Sambil memandang ke arah kantung barang Tania, Ian pun melanjutkan.

 “....apa kamu tidak apa-apa Tania?! Kamu...,mengangkat kantung barangmu sendiri?! Padahal tadinya kan kamu bilang kalau merasa berat mengangkat kantung barangmu itu.”

Tania yang kemudian mulai menyeret kantung barangnya menuju ke pintu bus, lalu menanggapi pertanyaan Ian tadi.

 “Tidak apa-apa Ian! Aku bisa menyeretnya sendiri. Lagipula....aku bisa menelpon nanti orang rumahku untuk datang ke halte bus, dan membantuku nantinya mengangkat kantung barangku ini.”

 Dengan wajah tersenyum, Ian lalu berkata.

 “Begitu yah...”

 “Sudah kubilang, jangan tersenyum begitu ke arahku Ian!” ujar Tania sambil menatap tajam Ian.

 “Ba-baik Tania!” jawab Ian yang agak takut.

 Saat itu, Tania pun lalu tersenyum ke arah Ian selama beberapa detik. Setelah itu, berbalik lagi ke arah depan menuju ke pintu bus, sambil menyeret kantungnya keluar. Saat akhirnya keluar bersamaan dengan kantung barangnya, Tania pun kemudian melambaikan tangan dengan akrab ke arah Ian yang berada dalam bus yang mulai pergi meninggalkan halte bus tersebut.

 Ian pun membalasnya dengan lambaian tangan balik, seperti yang dilakukan antar teman. Saat jarak antara bus dan halte bisa dibilang lumayan jauh, Tania pun mulai mengambil Handphone dari tasnya untuk menelpon “orang rumah” yang dibilang Tania daritadi.

“Halo kakak!Aku sudah pulang. Kakak gini..., bisa nggak, kakak datang ke halte bus dekat rumah?!”

 Tania pun saat itu terdiam, mendengar jawaban dari orang rumah yang tidak lain adalah kakaknya. Dan selesai mendengar balasan kakaknya, Tania dengan wajah senyum berkata.

 “Terima kasih kak! Aku tunggu yah.”

 Setelah menutup telponnya, Tania pun menghela napas lega saat itu. Sambil memandang langit biru dan mengingat kejadian pada hari itu, sebagai penghabis waktu diriinya menunggu orang rumahnya yang tidak lain kakaknya datang ke halte bus itu.

Sementara itu, Ian yang pada waktu itu berada dalam bus, menuju ke halte bus dekat sekolahnya, sedang merasakan kelegaan karena rencana dirinya untuk mengenal Tania lebih baik lagi, dan mendapatkan kepercayaan lebih darinya, bisa dibilang berhasil. Meskipun beberapa hal yang terjadi tidak terduga, namun tetap saja berakhir dengan kurang lebih yang diharapkan.

 Seseorang perempuan yang bisa dibilang berpeluang untuk membenci Ian, karena benci dan tidak suka dengan laki-laki tampan, tapi ternyata mereka bisa menjadi teman. Memiliki sifat tenang,baik meskipun sering salah paham akan suatu hal, dan kadang keras kepala.

 Kemudian, apabila diajak bercerita mengenai hal yang disukanya mengenai film atau cerita fiksi, dirinya langsung menjadi semangat untuk menceritakannya. Dan bisa menjadi seorang yang lebih fanatik saat dirinya menonton hal yang disukanya tersebut yakni film fiksi. Dan selain membenci laki-laki tampan, dirinya pun juga membenci film atau berbau film romance atu percintaan yang biasanya sangat disukai oleh para perempuan.

 Itu semualah yang bisa dibilang hal yang diketahui oleh Ian mengenai Tania pada saat itu.Ianpun berpikiran kalau masih ada hal dari Tania yang belum diketahui oleh dirinya, dan tentu saja hal yang tidak diketahui oleh Ian itu, bukanlah hal yang penting untuk mengetahui lebih mengenai Tania.

Dan tentu saja, Ian berharap makin lama dirinya bisa mengenal dan lebih banyak mengetahui tentang diri dan sikap Tania, baik yang belum diketahuinya saat itu ataupun sudah. Maka hari dimana dirinya berharap dapat menjadi orang normal dan bisa menyukai seorang perempuan, benar-benar bisa terjadi.

 Suatu saat dimana dirinya tidak perlu membuat perempuan-perempuan yang berusaha menembak dan menyatakan cinta ke dirinya bisa ia berikan jawaban lebih baik lagi, daripada penolakan yang didasarkan karena tidak memiliki rasa tertarik atau suka. Tapi lebih ke arah benar-benar perasaan itu sendiri.

 Itu semua yang dipikirkan Ian pada saat dirinya berada di dalam bus yang berjalan menuju ke halte sekolahnya dimana tempat itulah pemberhentian bagi Ian. Sambil memandang ke arah langit biru yang sama dengan Tania, namun dibalik jendela bus yang ia tutup dengan sengaja. Sebuah akhir dari lembaran cerita Adrian pada hari itu, dan sebuah tanda menuju ke tahap atau langkah selanjutnya dari ceritanya ini.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Berawal dari Hujan (the story of Arumi)
1035      563     1     
Inspirational
Kisah seorang gadis bernama Arumi Paradista, menurutnya hujan itu musibah bukan anugerah. Why? Karena berawal dari hujan dia kehilangan orang yang dia sayang. Namun siapa sangka, jika berawal dari hujan dia akan menemukan pendamping hidup serta kebahagiaan dalam proses memperbaiki diri. Semua ini adalah skenario Allah yang sudah tertulis. Semua sudah diatur, kita hanya perlu mengikuti alur. ...
Miss Gossip
3575      1524     5     
Romance
Demi what?! Mikana si "Miss Gossip" mau tobat. Sayang, di tengah perjuangannya jadi cewek bener, dia enggak sengaja dengar kalau Nicho--vokalis band sekolah yang tercipta dari salju kutub utara sekaligus cowok paling cakep, tajir, famous, dan songong se-Jekardah Raya--lagi naksir cewek. Ini hot news bangeddd. Mikana bisa manfaatin gosip ini buat naikin pamor eskul Mading yang 'dig...
10 Reasons Why
2083      867     0     
Romance
Bagi Keira, Andre adalah sahabat sekaligus pahlawannya. Di titik terendahnya, hanya Andrelah yang setia menemani di sampingnya. Wajar jika benih-benih cinta itu mulai muncul. Sayang, ada orang lain yang sudah mengisi hati Andre. Cowok itu pun tak pernah menganggap Keira lebih dari sekadar sahabat. Hingga suatu hari datanglah Gavin, cowok usil bin aneh yang penuh dengan kejutan. Gavin selalu pu...
The pythonissam
355      273     5     
Fantasy
Annie yang harus menerima fakta bahwa dirinya adalah seorang penyihir dan juga harus dengan terpaksa meninggalkan kehidupanannya sebagai seorang manusia.
Be My Girlfriend?
15080      2373     1     
Fan Fiction
DO KYUNGSOO FANFICTION Untuk kamu, Walaupun kita hidup di dunia yang berbeda, Walaupun kita tinggal di negara yang berbeda, Walaupun kau hanya seorang fans dan aku idolamu, Aku akan tetap mencintaimu. - DKS "Two people don't have to be together right now, In a month, Or in a year. If those two people are meant to be, Then they will be together, Somehow at sometime in life&q...
Si Mungil I Love You
568      334     2     
Humor
Decha gadis mungil yang terlahir sebagai anak tunggal. Ia selalu bermain dengan kakak beradik, tetangganya-Kak Chaka dan Choki-yang memiliki dua perbedaan, pertama, usia Kak Chaka terpaut tujuh tahun dengan Decha, sementara Choki sebayanya; kedua, dari cara memperlakukan Decha, Kak Chaka sangat baik, sementara Choki, entah kenapa lelaki itu selalu menyebalkan. "Impianku sangat sederhana, ...
I'il Find You, LOVE
5728      1590     16     
Romance
Seharusnya tidak ada cinta dalam sebuah persahabatan. Dia hanya akan menjadi orang ketiga dan mengubah segalanya menjadi tidak sama.
CINTA DALAM DOA
2249      899     2     
Romance
Dan biarlah setiap doa doaku memenuhi dunia langit. Sebab ku percaya jika satu per satu dari doa itu akan turun menjadi nyata sesungguhnya
To The Girl I Love Next
371      259     0     
Romance
Cinta pertamamu mungkin luar biasa dan tidak akan terlupakan, tetapi orang selanjutnya yang membuatmu jatuh cinta jauh lebih hebat dan perlu kamu beri tepuk tangan. Karena ia bisa membuatmu percaya lagi pada yang namanya cinta, dan menghapus semua luka yang kamu pikir tidak akan pulih selamanya.
Love Never Ends
10744      2132     20     
Romance
Lupakan dan lepaskan