3
BERKAT DAGU
Anya menganga.
“Rencana! Rencana! Please!” seru Linta panik.
Liburan berakhir. Dan yang langsung dilakukan Linta adalah memojokkan Anya. Tapi, tak sesuai harapan Linta, karena Anya hanya menganga setelah mendengar ceritanya, tak memberi solusi sama sekali. Padalah, mereka selalu menemukan solusi dalam menyelesaikan masalah, kendatipun solusi yang gila.
“Kenapa harus Nokva?” tanya Anya hati-hati, takut Nokva yang berada di depan mereka mendengarnya. “Lo, kan, tahu dia gimana sama elo!”
“Nah, gara-gara itu!” sambar Linta. “Gara-gara dia selalu cari gara-gara sama gue, namanya langsung lewat di kepala gue!”
“Lo bilang aja kalau udah putus!”
“Nggak bisa! Si mantan Vega pasti ngetawain gue abis-abisan!”
“Lo bayar orang aja biar bisa pura-pura jadi dia!” Anya melirik Nokva.
“Nggak bisa! Afo sekolah disini! Dia pasti bakal tahu!”
“Sumpah! Lo kaya anak kecil!” Anya terkikik.
Linta terdiam, menatap Anya putus asa. Linta hanya mengutuk dirinya sendiri. Dan tiba-tiba secercah cahaya keajaiban muncul di wajah Anya, membuat Linta takut.
“Gue punya ide!” serunya, tersenyum mencurigakan.
Linta mendekatkan telinganya, dan Anya membisikkan idenya. Setiap ada jeda pada suara Anya, Linta semakin berjengit ngeri.
“Gila lo mah!” teriak Linta setelah Anya selesai.
Anya menekan lengan Linta, memperingatkan agar Linta lebih pelan, karena sebagian anak telah menoleh seperti biasa.
“Itu saran gue!” kata Anya. “Coba pojokin dia!”
Linta menggigiti jemarinya.
“Dan lo harus bikin dia kasihan sama lo! Sujud-sujud kek! Nangis-nangis kek!” lanjut Anya.
“Tunggu!” Linta teringat sesuatu, sesuatu yang mungkin membuat Nokva luluh. “Gue tahu.”
Senyum mengembang pada bibir Linta
*
Bel tanda pelajaran usai telah berbunyi. Linta menatap Anya, memohon. Namun Anya malah mendorong-dorong kursinya, memaksa. Maka, dengan sedkit terpaksa, Linta mendekati Nokva yang sedang membereskan barang-barangnya. Dia mendongak dan memberi tatapan lakuin-apa-yang-lo-mau-terus-PERGI.
“Eh, pulpen gue jatuh di bawah kursi lo,” kata Linta enggan.
Nokva mengangkat alisnya.
“Gue ambil sendiri, deh!” kata Linta seraya menunduk. Dia sengaja menyundul-nyundul kaki Nokva. Membuat Nokva berkilah dan memakinya. “Duh, mana, ya?” teriak Linta disela makian Nokva.
Nokva menyambar kerah baju Linta dan menariknya berdiri. Rambut Linta sangat berantakan, hasil menyundul-nyundul barusan. Nokva menatapnya sebal lagi. Linta membalas tatapan sambil meniup poni yang terlalu panjang dari matanya.
“Gue ambilin!” bentak Nokva sambil membanting tas dari pangkuannya ke meja.
Ketika Nokva telah berada di bawah mejanya, Linta mengerling Anya. Anya menunjuk tas Nokva. Dan saat itu, Rinza telah bangkit akan keluar, namun terhalang oleh Nokva yang berada di bawah meja.
“Lo ngapain lagi, sih?” tanya Rinza geli.
Linta mendelik ke arahnya. Kursi Nokva didorongnya, membuat Nokva terjepit di bawah meja. Selagi Nokva berteriak memaki lagi, Linta menyambar tas Nokva. Membuka dan mengambil kameranya, menutup dan mengembalikan tasnya dengan terburu-buru. Tepat ketika Nokva berhasil keluar dari bawah meja, dengan benturan keras, Linta melempar kameranya kepada Anya. Buru-buru Anya menyembunyikan kameranya. Rinza menatap mereka bergantian dengan shock dan bingung.
“Ap?”
Linta membuat Rinza terdiam dengan pandangannya.
“Mau lo apa, sih?” bentak Nokva setelah berhasil berdiri.
“Gue?” Linta tertawa terpaksa.
“Freak tau nggak!” bentaknya lagi. kemudian dia menyambar tasnya dan segera pergi.
Linta, Anya, dan Rinza menatap kepergian Nokva. Kemudian Rinza menatap Linta, melongo. Linta hanya nyengir serba salah.
“Heran, deh!” kata Rinza. “Ini hari pertama masuk, lo udah bikin dia marah-marah.”
“Elo diem aja!” Anya menendang kursi Rinza dari bawah meja.
Sekarang, sambil menggeleng-gelangkan kepala, Rinza yang keluar meninggalkan mereka.
“Berhasil!” Anya mengangkat tinggi-tinggi kamera Nokva.
“Padahal gue udah bersumpah nggak mau deket-deket dia lagi!” keluh Linta.
“Udah! Ayo lanjut!”
Anya bangkit dan segera meletakkan kamera Nokva di laci meja Nokva. Lalu dia menarik Linta. Mereka segera menuruni tangga dan bersembunyi di balik pot bunga besar di depan ruang guru. Tak lama kemudian, Nokva terlihat terburu-buru menaiki tangga menuju ke kelas.
“Udah gue duga!” seru Anya penuh kemenangan. “Ya udah, gue pulang dulu ya! Good luck!”
“Eh, tunggu!” teriak Linta, namun Anya telah berlari.
Linta menghela napas, dan mulai menaiki tangga lagi. Di lantai atas, Linta melihat Nokva berjalan cepat sambil memasukkan kamera ke dalam tasnya. Linta juga segera beraksi. Ia berjalan sampai ke tangga paling atas tepat saat Nokva juga akan menikung turun ke tangga.
BRAKK!
Tak tahu apa yang terjadi, Linta hanya sadar dia telah terbaring di tangga bagian bawah. Kepalanya pusing, tangan dan kakinya serta seluruh tubuhnya sakit. Ada sesuatu yang panas, kental, dan lengket-amis menetes di dagunya. Sedetik kemudian, Linta sadar dia berdarah banyak sekali. Bukan hanya di dagu, melainkan juga di salah satu lututnya, telapak tangan dan sikunya. Bodoh.
Derap kaki menuruni tangga, dan wajah ngeri Nokva muncul di atas kepala Linta.
“Elo nggak apa-apa?” tanya Nokva, ngeri.
Ketika Linta tak sanggup menjawabnya, Nokva jongkok di sebelahnya dan membangunkannya hati-hati.
“Auw!” desah Linta.
“Elo,” Nokva sepertinya sulit untuk bicara, mungkin Linta tak pernah memperhatikan kalau dia sebenarnya gagap. “Belum mati, kan?”
Linta memukul perut Nokva, namun akibatnya tanggannya ikut sakit, karena lecet. Kemudian, tanpa diduganya, Nokva memapahnya, berjalan pelan-pelan melewati koridor hingga sampai ke gerbang. Tapi Linta mendapat kesan Nokva tak ingin melihatnya. Mungkin karena merasa bersalah, atau mungkin karena takut darah.
Seperti sudah diskenario, ternyata mobil Afo telah menunggu di depan gerbang sekolah. Afo langsung turun setelah melihat Linta yang seperti orang sekarat.
“Li, lo kenapa?” tanya Afo, tampak cemas.
Linta tak pernah melihat Afo sekhawatir itu padanya. Dia membantu Linta masuk ke mobil bagian belakang. Linta berjenggit sedikit saat mengangkat kakinya untuk masuk mobil.
“Eh, elo juga masuk!” kata Afo dan mendorong Nokva masuk.
Bahkan Nokva belum sempat bicara, Afo telah menutup pintu. Dan dia sendiri masuk mobil bagian depan, di balik kemudi. Sepertinya Nokva akan memprotes, namun Afo telah menjalankan mobil.
“Elo kenapa?” tanya Afo lagi. Dia mengambil segebung tisu dari atas dashboard mobilnya, dan menyerahkannya pada Nokva.
“Jatuh,” rahang bawah Linta terasa sangat sakit dan kaku untuk bicara.
Untuk kedua kalinya, Linta benar-benar tak menyangka, Nokva menyeka darah dari dagu Linta.
“Kok bisa?” tanya Afo lagi, berulangkali mengerling Linta melalui kaca spion tengah.
Linta tak menyahut.
“Itu…” sekarang Afo mengerling Nokva, tak suka.
“Ini Nokva, Po!” kata Linta langsung, rahangnya sakit.
Kemudian Linta tersentak. Dia memandang Nokva tak percaya. Ternyata dia benar-benar sudah berhasil. Linta berpura-pura pusing dan meletakkan kepalanya di bahu Nokva, sehingga Nokva mundur otomatis. Sayangnya dia telah mepet dengan pintu mobil, tak bisa berkilah. Ketika Nokva seperti akan membentaknya, Linta mencegahnya dengan merangkul lengannya. Mudah sekali menjatuhkan harga diri untuk berbohong.
“Gue pusing banget,” kata Linta, rahangnya sakit. Mudah sekali menahan sakit untuk berbohong.
Nokva hanya diam, dan Afo berulangkali menatap kaca spion dengan tak senang. Linta senang, melihat Afo sepertinya percaya bahwa Linta memiliki pacar.
Linta baru melepaskan Nokva saat Afo menghentikan mobilnya di depan rumah Linta. Buru-buru Afo turun dan membantu Linta turun pula. Linta menggunakan kesempatan ini untuk menggelayut kepada Nokva. Nokva memandangnya dengan bingung dan enggan, namun masih memapah Linta hingga Linta duduk di kursi teras rumahnya. Sedangkan Afo hanya mengikuti di belakang mereka.
“Gue ambil kotak obat dulu di rumah,” kata Afo, setelah Linta duduk. Dia pergi dengan langkah kaki yang enggan meninggalkan Linta.
“Sori,” kata Nokva, setelah Afo menghilang di balik gerbang.
Linta tertawa, dan langsung terhenti karena rahangnya terasa hampir jatuh.
“Lo nggak pa-pa?” tanya Nokva ngeri, ikut membungkuk saat Linta menunduk kesakitan.
“Nggak, harusnya gue yang minta maaf,” kata Linta susah payah.
“Tapi, elo yang jatuh.”
“Gue udah rencanain itu,” kata Linta, berusaha tak menggerakkan rahang bawahnya.
“Rencanain?”
Mata Nokva yang tadi keheranan sekarang membulat, dan berubah seketika kembali menjadi menakutkan.
“OH!” katanya tajam. “Elo yang nyembunyiin kamera gue? Lo pura-pura jatuh biar gue kesini?”
“Nggak, bukan gitu,” kata Linta, masih dengan susah payah. “Gue nggak ada niat buat jatuh parah gini! Gue juga ogah elo kesini!”
Nokva bangkit berdiri, “Gue nggak peduli!” bentaknya. “Elo udah bikin gue merasa bersalah! Elo juga udah bikin gue kotor!” dia menunjuk lengan kiri seragamnya yang berlumur darah. “Bikin gue telat?”
“Bantuin gue,” potong Linta.
“Bantuin elo?” bentak Nokva lagi. “Gue udah cukup bantuin elo!”
Nokva membalikkan badannya.
“Cuma akhir Juli besok, please! Datang ke acara pernikahan kakak gue.”
Nokva menoleh dan memasang wajah tak sudi. Kemudian berbalik lagi dan melangkah.
“Tunggu!” Linta mencoba mencegah. “Gue bakal lakuin apa aja!”
Ini tak berhasil, Nokva masih tak berhenti. Linta menggigit bibir bawahnya, berpikir cepat. Nokva telah mencapai gerbang.
“Gue bakal bantu elo masuk IPA!” teriak Linta sekuat tenaga, dia mulai merasa perih lagi.
Nokva berhenti. Dia terdiam dan tak bergerak selama beberapa detik. Kemudian dia berbalik, “Oke! Elo datang ke rumah gue hari Minggu besok!” katanya, lalu pergi.
Linta menatap kepergiannya dengan tak percaya. Dia tak bisa memikirkan kata-kata lain selain apa yang dikatakan Nokva baru saja. Dia telah berhasil! Kemudian lamunannya dibuyarkan oleh Afo yang tiba-tiba muncul di gerbang.
Afo celingukkan.
“Pacar lo mana?”
wew
Comment on chapter Pesta Kedua