Kenangan Awal
Ketika masih kecil, aku sering melihat orang-orang berdatangan ke rumah. Mereka berjejer rapi duduk menghadap Bapak. Tepatnya pada waktu sore, hampir setiap hari rumahku didatangi oleh tamu asing. Setiap kemari,wajah serius selalu dihadirkan sebagai buah tangan. Waktu itu ada salah seorang mengangkat tangan, dia menanyakan suatu hal yang tidak aku mengerti. Sin cos tan, bicaranya seperti merapalkan mantera. Apa Bapak baik-baik saja? Apa mereka orang-orang seperti di film hantu kemarin? Gara-gara menonton, semalam aku menjadi takut untuk tidur sendirian dan terpaksa menyelinap ditengah-tengah pelukan bapak dan ibu kulakukan. Mereka berdua membuatku nyaman, rasa takut mulai pudar dengan sendiri. Hanyut terlelap menikmati malam.
Namun meskipun khawatir, aku tidak mau gegabah dalam bertindak. kuamati terlebih dahulu dari belakang pintu. Kulihat salah seorang sibuk dengan buku catatan. lembar demi lembar kertas dibolak-balik seperti sedang mencari sesuatu. Sesekali juga dia bertingkah aneh, seperti menepuk jidat. Apa bapak punya kesalahan? apa bapakku salah dalam berucap?.
Sedangkan tepat disamping kanan lelaki itu, duduk seorang perempuan berkacamata. Dia tidak kalah misterius dibandingkan si lelaki. Setiap kali bapak berbicara didepan, dengan sigap seluruh kalimat dicatat ke dalam sebuah buku. Apakah dia jelmaan dari malaikat Atib sipencatat amal buruk?.
Ibu pernah mendongengkanku sebelum tidur. Cerita Nabi-nabi paling gemar beliau ceritakan. Keberadaan surga dan neraka digunakan untuk menakuti. Apabila berperilaku nakal maka aku akan masuk neraka dan selamanya mendapatkan hukuman di akhirat. Didalam imajinasiku, gambaran eksistensi neraka begitu menakutkan. Sempat aku termotivasi untuk selalu berbuat baik.
Pernah suatu ketika saat kami sekeluarga sedang bersantap malam terlihat se-ekor kucing liar sedang mencoba mendekat ke arah meja. Aku tak tega melihatnya begitu kelaparan. Mata sayu dan diiringi raungan membuatku iba, akhirnya kuputuskan untuk memberikan sepotong dada ayam, lauk makan jatah milikku kutaruh tepat dibawah kursi. Kucing liar itupun dengan sigap datang menyergap. dengan rakus digigitnya daging sampai habis. Dia terlihat menikmati pemberian, tapi lain hal dengan ibu. Kejadian itu membuatnya marah. Seharian penuh aku dinasehati. Dikatakannya aku sebagai anak nakal, rasa cemas datang menyapa. Aku merasa takut jikalau bertemu si fulan di Neraka kelak, aku menolak. Maka setelah itu, setiap hari aku beribadah lebih giat. Doa selalu kupanjatkan rutin seusai sholat. Dua hari rutinitas itu kulakukan. Aku kapok memberi makan kucing liar lagi.
“maaf pak, saya kurang jelas” perempuan berkacamata mendadak mengajukan pertanyaan. Dadaku merasa bergetar, daun pintu terpaksa kucengkram lebih erat “Apa penjelasan dari bapak tidak bisa meyakinkannya?” Perasaanku berkecamuk, ingin aku datang menolong. Tapi badan tak berani melangkah maju. Tanganku sedikit menggigil, mulut terasa berat untuk berucap, kakiku lemas.
“Kapan mereka pulang?.”
Bapak terpaksa kembali menjelaskan, Aku merasa seperti berasal dari dunia lain. Percakapan mereka sedari tadi belum bisa kucerna. Papan tulis berwarna hitam penuh dengan coret-coretan kapur digunakan sebagai alat bantu, bapakku menggambar lingkaran, garis-garis dan banyak sekali angka-angka.Tapi anehnya tidak terdapat gambar kelinci, burung, kereta api, bunga maupun gajah didalamnya. Sebenarnya mereka sedang melakukan apa?.
“ada apa Kun?” Serentak semua mata membidik k earahku. Bapak mengagetkan “coba kamu kesini sebentar” Beliau memanggil, tapi keraguan menghalangi keberanian untuk datang menghadap. Di balik pintu aku sudah merasa terlalu nyaman. Tatapan mereka seperti hendak menerkam. Aku bingung, mereka menatap penuh dengan senyum. Aman atau bahaya tidak bisa kubedakan. Beliau segera datang menghampiri.
Sekarang aku tepat berada di depan kerumunan. Dengan digendong, kupeluk erat leher dari bapak. Tatapan mereka tidak berani kubalas.
“ibumu kemana?” dengan menepuk-nepuk bahu, bapak mencoba menenangkan.
“ibu sedang di dapur” jawabku singkat.
“kamu sudah mandi belum?.”
“sudah”
Aku diperkenalkan kepada mereka, namun rasa takut lebih menguasai diri. Ingin memberontak lekas pergi tapi itu artinya harus meninggalkan bapak sendiri. Pikiranku penuh dengan tanda tanya, mati lampu dalam bahasa menerpa. Dipersimpangan jalan aku tak tahu harus bertindak dan berkata sebagaimana.
Meronta-ronta terpaksa kulakukan, semoga mereka tahu bahwa seorang anak sedang ingin berduaan dengan orang tuanya. Sejenak masuk keduniaku, menemani bermain walaupun terbatas waktu.
Akan tetapi pada akhirnya perjuangan membuahkan hasil, pelukan dari bapak terlepas. Tanah berhasil kupijak. Secepat mungkin aku ingin pergi meninggalkan dunia orang dewasa. Kembali bermain sebelum ibu memanggilku masuk kedalam rumah. hari semakin laurt Dan teruntuk bapak, maaf aku tidak bisa menolong. Aku takut.
Senin pukul dua belas siang,
“sampai mana skripsimu?”
Di dalam ruangan terlihat dua orang pria sedang duduk berhadapan. Sebuah meja penuh dengan tumpukan buku menjadi pembatas diantara mereka. Salah seorang menundukkan kepala. keadaan nampak begitu serius, dinginnya AC ruangan bahkan tak mampu untuk mendinginkan suasana. Diatas meja terdapat segelah teh dengan sedotan berwarna merah terlihat begitu menggoda untuk dinikmati. sambil tertunduk, lelaki itu melirik minuman tersebut.
Dibayangkan rasa dahaganya pasti akan lekas hilang ketika habis diminum. Air berseluncur riang didalam kerongkongan, lidah menari lincah mengecap segar di tiap tegukan.Tapi sayang, dia tak kuasa untuk meraih. Hanya bisa memandang tanpa bisa memiliki, kasih tak sampai bukan berarti musibah. Masih ada kesempatan, itu fikirnya.
Namun dilain pihak, seorang pria paruh baya berkemeja warna putih terlihat sedang menikmati sepuntung rokok . Dengan duduk bersandar kursi, dia mengamati lawan bicara.
“kau sudah semester berapa?” tidak ada angin ataupun hujan, pertanyaan menikam mendadak terlontar. Dia semakin tertunduk pasrah dibuat. Sekedar untuk menatap muka tidak berani dilakukan. Teh diatas meja dijadikannya sebagai pelarian dari rasa khawatir.
“kau tidak malu dengan adik tingkatmu? Mereka baru semester tujuh tapi sudah berhasil menyelesaikan skripsi.”
Dosen itu kembali menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian diarahkan asapnya keatas langit ruangan. Memang sudah menjadi rahasia umum bahwasanya bapak Luthfi, Dekan jurusan bimbingan konseling islam itu merupakan seorang perokok aktif. Semenitpun dia tidak bisa lepas dari tembakau, sudah menjadi candu. Bahkan terkadang saat mengajar di kelas, tak jarang pula dia menjelaskan kepada para mahasiswa tentang teori psikoanalisa dari sigmund freud sambil menghisap sebatang rokok. Namun hal itu tentunya dengan persetujuan terlebih dahulu saat awal melakukan kontrak belajar dengan para mahasiswa.
“kapan kamu lulus?” Pertanyaan itu sering dianggap tabu oleh sebagian mahasiswa tingkat akhir. Dimana lulus menjadi tujuan utama bagi seluruh kebanyakan orang. Namun tidak untuk kunto, mahasiswa tingkat akhir itu terlihat seperti tidak begitu menghiraukan pertanyaan dari sang dosen. Dengan kepala masih tertunduk, fokus lirikan matanya tetap tertuju pada segelas teh di atas meja.
“hei apa kau tidak mendengarkan!.”
“eh iya pak, maaf” Mudah diduga, merasa tak begitu dihiraukan, raut muka dari sang dosen menjadi berubah. Urat syaraf dikening mulai nampak keluar.
“baik, Begini saja!” sejenak berfikir dan mencari solusi, sang dosen kembali berkata “Terkait prestasimu di bidang non akademik, kuberi kau waktu tambahan tiga bulan untuk sesegera menyelesaikan hasil penelitian. Tapi semisal dalam batas tenggang tersebut kau masih belum menyelesaikannya, maaf, terpaksa wisudamu terancam gagal dilaksanakan.”
“saya D.O pak?”
“sebenarnya aku tak tega melihatmu, kau telah berulang kali mengharumkan nama Institusi. Kau sudah semester tua, fokuslah pada masa studimu. Jangan hanya berteater terus.”
Kunto hanya bisa menghela nafas. di dalam hati sebenarnya dia ingin berkata “ apa salah jika hidup dengan berteater?” Apa salah seorang mahasiswa jurusan bimbingan konseling islam ketika nanti lulus ingin menjadi seorang penggiat seni teater?.
Tapi mengingat kembali atas jasa dari sang dosen, dia tak sanggup hati untuk mengatakannya. Pernah suatu ketika saat dia hendak melakukan pementasan di dalam kampus, dia mendapat sebuah kendala terkait perijinan tempat.
“ maaf dik, untuk sementara peminjaman tempat atas kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa Teater di lapangan futsal tidak di setujui. Hal ini dikarenakan bukan tempat sepantasnya untuk melakukan sebuah pementasan” kata seorang pegawai rektorat di bagian umum.
“tapi bu! lantas kita harus pentas dimana lagi? Tempat yang kondusif hanya lapangan futsal” jawab kunto dengan nada kesal.
“begini dik, pementasaan kan pasti mengundang banyak orang. Nanti jika ada kerusakan bagaimana coba?.”
“kerusakan bagaimana? Penonton cuma datang dan duduk! Mereka tidak berlarian.” Segala cara dilakukan untuk meyakinkan agar mendapat persetujuan. Hal ini biasa terjadi lantaran dikampusnya tidak ada tempat yang mewadahi para penggiat seni untuk melakukan sebuah pertunjukan kesenian, terutama seni ber-teater. Di kampus agama islam negri tempatnya belajar, kesenian adalah sebuah hal minoritas. Dari pada membangun fasilitias pendukung kegiatan non akademik, pihak kampus lebih tertarik untuk memperbanyak ruang kelas. Dimana setiap tahun, mahasiswa bertambah ribuan banyaknya.
Perdebatan tidak membuahkan hasil, dan saat itulah pak luthfi datang sebagai juru penyelamat. Dia mendatangi kepala subag umum untuk menjelaskan terkait pelaksanaan acara. Bahwasanya tidak memungkinkan untuk mengadakan kegiatan pementasan diluar ruangan, lantaran saat itu sedang musim hujan. Entah karena tidak enak hati ataupun merasa tidak mau ambil pusing, akhirnya sang kepala menyetujui.
Tidak hanya itu saja, pernah suatu ketika saat anak-anak pergi ke kantin, mereka bertemu dengan pak lutfi. Dan menjadi sebuah berkah tersendiri, semua orang ditraktir. Beliau mungkin lebih dulu merasakan bagaiamana hidup menjadi mahasiswa kos di akhir bulan. Dengan uang pas-pasan dikantong, pengeluaran harus ditekan sekecil mungkin. Jika tidak demikian, maka hutang adalah cara mereka untuk menyambung hidup selama berada di perantauan. bisa dikatakan gali lubang tutup lubang. Oleh karena itu sampai sekarang anggota unit kegiatan mahasiswa teater menjadi segan dan hormat terhadap beliau.
“iya pak, saya usahakan secepatnya. Doakan saja semoga cepat selesai.”
“jangan cuma janji! Cepat selesaikan!.” Kunto sebenarnya termasuk salah satu mahasiswa pandai di kampus. sering dengan pikiran-pikiran kritis dia mendebat para dosen apabila dirasa tidak sesuai dengan pemahamannya. Di dalam kos berukuran tiga kali empat dia tinggal, dikamar tersebut penuh dengan tumpukan buku, bahkan tak jarang pula dia menyusun beberapa buku untuk dijadikan bantal sebagai penyangga kepala. Beberapa terlihat berceceran diatas tempat tidur, dan sebagian lainnya tersusun rapi membentuk replika mirip tembok. Sering temannya menjuluki kunto sebagai gila baca. Pada usianya, kebanyakan remaja senang menghabiskan waktu untuk nongkrong maupun bermain. Namun berbeda dengan kunto, dia bisa seharian tidak keluar kamar.
Tapi apabila koleksi buku milik Kunto diamati dengan lebih teliti, kebanyakan judulnya tidak terkait dengan dunia konseling. Bagai bumi dan langit, dalam tumpukan-tumpukan buku itu bisa dihitung dengan jari berapa jumlah buku pelajaran terkait teori dari progam studinya. Sangat sedikit. Dunia kesusastraan lebih ia nikmati, baik itu puisi,cerpen,novel maupun essai tak jenuh dibaca setiap hari.
“tok tok tok” terdengar bunyi ketukan pintu dari luar ruangan.
“masuk!.”
Pintu ruangan terbuka, seketika juga fokus pandangan kunto menjadi teralihkan. teh manis diatas meja pak luthfi ternyata kalah menyegarkan. Seorang wanita muda dengan setelan baju berwarna hitam berjalan memasuki ruangan. Tiap langkah tak luput dari pengawasan, tertegun ia dibuat.
“mari mas” senyum manis diberikan, dan hal itu mengakibatkannya menjadi salah tingkah.
“eh, iya mbak cantik, eh” Mengetahui gelagat lucu dari sang mahasiswa, raut ekpresi dari bapak lutfi mulai berubah. Semula penuh dengan emosi, namun selepas itu, ekpresinya berubah menjadi senyuman.
“heh! Kenapa kau salah tingkah begitu?.”
“tidak pak, ini loh, jilbab merah punya mbak ini bagus” jawab kunto sekenanya.
“jilbab merah?” dia menelan ludah, menoleh ke sebelah kiri tidak berani dilakukannya. sang perempuan dilihatnya dari ujung kaki sampai kepala. Dan ternyata dia baru tersadar, wanita itu mengenakan jilbab berwarna abu-abu.
“whahahaha” pak Luthfi tertawa lepas dibuat.
Namun lain bagi kunto, wajahnya berubah merah padam. Rasa malu menimpa diri, mungkin apabila dia terlahir di negara jepang, pasti dia ingin segera melakukan harakiri. Dan jika diberi kesempatan, mungkin hari ini tidak akan ingin dijumpai. tetapi tidak cukup disitu saja, sang wanita ternyata ikut tertawa. kunto merasa semakin terjatuh.
“kau ini, lihat perempuan cantik sebentar saja matamu sudah jelalatan” sang dosen meledek dengan puas.
Tidak tinggal diam, Kunto mencoba memberanikan diri untuk mengalihkan suasana, mengusir rasa malu dan menghadirkan kepercayaan diri.“sekretaris baru ya mbak?.”
“iya mas.”
“Eh, tunggu sebentar” dia mencoba mengamati dengan lebih teliti. “sepertinya aku pernah lihat” Kenangan masa lalu coba dihadirkan, tulisan riwayat hidup kembali dibaca. Perempuan itu seperti sosok orang dikenal.
“dia itu alumni kampus ini” sang dosen membantu menemukan lembaran-lembaran nostalgia. Kunto mulai teringat dengan jati diri sang perempuan. “kamu masuk kuliah tahun berapa tik?.”
“Tahun dua ribu sebelas pak.”
Betapa lebih mengagetkan lagi, ternyata sang perempuan adalah adik tingkatnya dulu “itu lihat! juniormu saja sudah berhasil lulus dan punya sebuah pekerjaan. kamu tidak ingin?”
“hehe iya pak.” Kembali kepala kunto menjadi tertunduk, bertubi-tubi dia diserang oleh rasa malu. Pembelaan diri juga tidak akan sanggup untuk menutupi. Karena tak terasa waktu berjalan semakin cepat, empat belas semester sudah berlalu. Semua pegawai, baik itu security, office boy, para dosen maupun ibu kantin mengenal dirinya.
“oh iya ada apa tik?.”
“begini pak” tika berbisik kepada pak luthfi, rasa penasaran menggelitik didalam pikiran Kunto. Mereka seperti membicarakan hal penting dan sangat rahasia.
“sebentar kau tunggu dulu disini!” perintah pak luthfi. Bergegas mereka pergi meninggalkan ruangan. Kini di ruangan dia tinggal sendirian, dilihatnya hanphone menunjukkan pukul setengah satu siang. Itu berarti setengah jam lagi beliau akan pergi untuk mengajar dikelas. Sepuluh menit berlalu dan belum ada tanda kedatangan sang dosen. Membuka dan menututup kunci hanphone ia lakukan untuk mengusir kejenuhan.
“Tiit tiit tiit tiit” handphone berbunyi. Hal ini menandakan bahwasanya ada pesan masuk.
“mas nanti malem jadi latihan tidak?” tertera dengan nama pengirim khok.
Khok juga salah satu adik tingkatnya di unit kegiatan mahasiswa teater. Mereka sedang mengadakan sebuah proyek pementasan bersama. Dan menjadikan si kunto sebagai sang sutradara sekaligus penulis naskah. Sedangkan si khok menjadi salah satu tokoh dalam cerita. Tokoh protagonis seorang ayah, dia berhasil mendapatkan peran tersebut bukan karena bakat aktingnya, melainkan bentuk postur tubuh dan bentuk wajah mirip seperti bapak-bapak. Padahal usianya terpaut jauh lebih muda dibandingkan kunto.
“latihan jam delapan malam seperti biasa”
“dimana?”
“kalau halaman fakultas tarbiyah dan keguruan kosong kita latihan disana.”
“siap bos.”
Percakapan melalui pesan singkat pun berakhir dengan singkat, mereka saling berkirim pesan seperlunya guna memastikan jadwal latihan rutin. Deadline pementasan tinggal menunggu hari, dan hal ini membuat mereka harus meningkatkan lagi jadwal intensitas latihan. Siang digunakan untuk membaca naskah, sementara berlatih peran dilaksanakan pada saat malam. Dua puluh jam mereka menghabiskan waktu di kampus, jauh lebih banyak dibandingkan mahasiswa lain. Datang paling pagi dan pulang paling malam.
Namun belum sempat memasukkan hanphone ke kantung celana, tiba-tiba Kunto teringat sesuatu. Dengan segera icon sms dibuka untuk mengirim kabar “maaf kelupaan,berhubung ada acara keluarga, latihan ditunda besuk malam.” Dengan tujuan dikirim ke khok dipencetnya tombol ok.
Pesan gagal tersampaikan. Kabar belum sempat terkirim, muncul pemberitahuan terlebih dahulu dari layanan operator “pesan tidak terkirim. Pulsa anda tidak mencukupi, silahkan isi ulang kembali pulsa anda.”
“sial” gerutu kunto dengan nada kesal. dia kembali menerima kesialan beruntun, pada awalnya mereka cukup berkomunikasi lewat hanpdhone, akan tetapi dikarenakan pulsa prabayar habis maka waktunya harus rela terbuang untuk bertemu secara langsung. Atau bisa juga dengan cara lain, uang saku disisihkan untuk membeli pulsa perdana di konter terdekat, itupun juga harus memakan waktu dalam perjalanan. Ketergantungan terhadap tekhnologi sudah tidak bisa dihindari. Ini sudah menjadi sebuah kebutuhan pokok.
“Kreekk” bunyi suara pintu terbuka. Pak lutfi memasuki ruangan, secara reflek kunto sesegera memasukkan hanphone kekantung celana.
“sendirian pak?” selidik kunto.
“iya, kenapa? Kamu mencari si tika?” jawab pak lutfi dengan nada kesal. Entah kenapa seusai keluar dari ruangan raut muka beliau kembali berubah menjadi masam. Dan hal ini membuat kunto menjadi takut untuk bertanya lebih.
“sampai dimana kita tadi?.”
“sampai batas tenggang pak.”
“ok, kamu harus lekas menyelesaikan penelitianmu! Ingat kuberi kau waktu tambahan tiga bulan! Tiga bulan!, Jangan sampai mengecewakan!” kembali beliau menegaskan dengan nada kesal.
Kunto mencoba merenung, mungkin sesaat tadi keluar kabar buruk didapat. Oleh sebab itu dia tidak mau berlama-lama tinggal diruangan. Bisa jadi pusat amarah tertuju padanya. “iya pak, terimakasih banyak sebelumnya.”
“yasudah sana.” Dengan hormat, kunto kemudian berpamitan. Diajaknya bapak lutfi berjabat tangan, lantas setelah itu pergi meninggalkan ruangan dilakukan.
“sudah selesai mas?” baru keluar satu langkah keluar dari pintu ruangan, pertanyaan mendadak terlontar. Sedari tadi ternyata Tika menunggu diluar.
“eh mbak tika. sudah mbak.”
“maaf mbak numpang tanya, tadi sehabis pergi mendadak raut wajah dari pak lutfi berubah, apa sedang ada masalah?” selidik Kunto.
“biasa mas, masalah mahasiswa” jawaban tidak bisa memuaskan rasa penasaran. Rasa curiga bertambah seiring perkataan, gerak-gerik dari sang sekretaris seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
“benar tidak ada apa-apa?” jawab kunto memastikan.
“benar mas”
“iya mbak aku percaya. eh iya, aku boleh tanya satu hal lagi?” dahi Tika sedikit terangkat keatas. Rasa cemas semakin bertambah, dia takut akan ditanya lebih. sebagai seorang sekretaris kerahasiaan dari atasan harus tetap terjaga.
Lain hal dengan Kunto, nalurinya mendadak muncul saat kesempatan hadir tanpa disangka. Sebenarnya walaupun terkesan berpenampilan acak-acakan namun dia memiliki wajah rupawan. Menjadi pujaan dari adik tingkat sering dialami. Agar bisa berkenalan dengan dirinya berbagai cara sering dilakukan oleh para mahasiswi baru. Salah satunya dengan mendaftar sebagai anggota.
“apa lagi mas?” walaupun cemas, rasa penasaran tidak bisa ditampikkan. Kail telah dilempar, dan pada akhirnya ikan tergoda untuk memakan.
“mbak tika tidak mau meminta nomor hanphoneku begitu?.”
Mudah diduga, perempuan sering kali mengatakan benci terhadap bujuk rayu seorang lelaki. Namun realita mengatakan lain, merah tomat tergambar dipipi. Paras cantik malu mengatakan suka “ih mas.”
Secarik kertas disobek dari buku, kombinasi angka-angka dituliskan dengan hati bergetar. Perasaan Kunto berbunga-bunga, setelah seharian teguran didapat, akhirnya keberuntungan datang menjemput. Benih-benih asmara mulai muncul dari sebuah pertemuan tak terduga.
“KUNTO!!! ” Teriakan dari dalam ruangan seketika membuyarkan suasana.
“terimakasih mbak, nanti aku hubungi” Dengan ekpresi penuh senyum dia pergi meninggalkan sebuah tanda tanya, nomor handphone telah didapat.
“ada apa mas?” pertanyaa belum sempat terjawab, mereka berdua telah ditinggalkan pergi.
pak luthfi bertambak kesal. saat meninggalkan ruangan dia belum sempat menikmati minumannya. Segelas teh masih terpampang utuh. Tapi setelah sejenak Kunto pergi barulah dia tersadar, minuman diatas meja sudah habis tidak tersisa.
Andrafedya














Teenlit namun lbh matang. Metropop namun tidak ngepop amat. Kadarnya pas, bakal lanjut membaca cerita cantik ini. Trims Author untuk cerita ini
Comment on chapter 1. Makhluk MalangKalau suda beres saya akan kasih review.