Read More >>"> Persapa : Antara Cinta dan Janji (Episode 5 - Perpisahan) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Persapa : Antara Cinta dan Janji
MENU
About Us  

Kain hitam yang laki-laki misterius itu kenakan melambai tertiup angin yang berhembus semakin kencang semenjak kemunculan Aris. Hawa dingin menusuk sekujur tubuhnya meski seluruh tubuhnya telah terbalut oleh kain hitam dan hanya meperlihatkan kedua matanya yang melebar.

“Kamu masih hidup ?”.

“Tentu saja aku masih hidup, lalu ada urusan apa dengan Icha, Birendra”. Kata Aris dengan perut dan dada yang masih terbalut perban.

“Kau sudah mengenaliku ya ?”. Sambil membuka kain yang menutupi wajahnya.

“Aku tadi juga bertemu Raka dan Rajendra sebelumnya”.

“Jadi Raka dan Rajendra sudah kau kalahkan, dasar mereka benar-benar tidak dapat diandalkan”. Raka dan Rajendra adalah orang yang bersama Birendra saat akan menculik Icha namun mereka pergi meninggalkan Birendra untuk mengamankan jalur pelarian.

“Birendra, seorang jenius yang bekerja untuk keluarga Mahawira dan terobsesi dengan makhluk mitologi pataka, aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah kau lakukan kepadaku 4 tahun lalu”. Tatapan tajam penuh kebencian terpancar dari kedua mata Aris.

“Yang aku lakukan hanya memperlihatkan pertunjukan”. Birendra tersenyum sambil mengingat sedikit kejadian yang terjadi 4 tahun lalu.

“Yang kau tunjukan bukanlah pertunjukan melainkan kematian”. Aris berteriak dengan kedua tangan yang telah terbakar oleh api biru yang dia keluarkan.

Aris melancarkan pukulan kewajah Birendra tapi dengan mudah dia menghindari pukulan Aris, sekali lagi Aris menyerang Birendra tapi kali ini dia menendang Birendra dengan kaki yang terbakar api, Birendra yang menangkis tendangan itu dan terdorong kebelakang.

“Boleh juga tendanganmu”. Kata Birendra dengan mengibaskan tangan kirinya.

“Itu belum seberapa ?”. Aris berlari dan melancarkan sebuah pukulan api kearah Birendra. Birendra tersenyum tipis saat menghindari pukulan Aris, Aris yang nampak terkejut melihat reflek cepat dari Birendra langsung melompat menjaga jarak dengan Birendra.

Aris tidak tahu apa yang terjadi pada Birendra, dia tidak tahu kalau Birendra dapat bergerak dengan secepat itu. Keringat dingin membasahi wajah Aris, dia yang sebelumnya telah mengalahkan 2 orang teman Birendra sekarang Aris hanya memiliki sedikit mana kekuatan Api, nafas yang terdengar sangat berat membuat Birendra mengetahui jika Aris telah kelelahan.

“Apa hanya sampai disini”. Birendra mencoba memancing amarah Aris yang telah berlutut karena kehabisan Mana.

“Aku akan mengakhiri ini”. Dengan sekejab mata Birendra berada didepan Aris dan memberikan sebuah pukulan api diwajah Aris. Seketika tubuh Aris terhempas cukup jauh, tubuhnya terbentur beberapa pohon dan membuat pohon-pohon itu tumbang akibat kuatnya pukulan yang dilancarkan Birendra.

“Sepertinya ketertarikanku kepadamu sudah sepenuhnya hilang, aku akan membawa teman yang telah lindungi selama ini”. Birendra berjalan kearah Icha yang masih pingsan dibawah pohon.

Aris berdiri dengan menahan rasa sakit setelah terkena pukulan telak dari Birendra, untuk orang biasa yang terkena pukulan seperti itu dia akan pingsan. Tapi, Aris masih menahan semua rasa sakit sambil mencoba untuk tetap tersadar setelah mendengar apa yang dikatakan Birendra.

“Apa katamu ?”

“Apa kau masih belum menyadarinya ? Dia adalah gadis yang kau gantikan posisinya 5 tahun lalu”.

Aris melebarkan kedua matanya karena teringat kejadian 5 tahun lalu saat dia sedang bermain dengan seorang gadis yang bernama Gentala Icha disebuah padang rumput dekat desa dimana dia tinggal. Langit yang terlihat indah tanpa terlihat sedikitpun awan yang menutupi warna birunya, hembusan angin yang terasa sejuk membuat rambut sebahu Icha melambai saat dia mengejar Aris yang berlari dengan kencang didepannya.

“Aris tunggu aku”. Teriak Icha kepada Aris yang berlari dengan cepat.

“Ayo cepatlah aku ingin menunjukanmu sesuatu”. Aris berlari meninggalkan Icha yang berhenti karena telah kehabisan tenaga untuk berlari, Aris menghentikan langkahnya saat sebuah pohon besar yang memiliki daun yang sangat rimbun atau yang sering warga desa sebut dengan Wit Guede berada tepat didepannya. “Icha cepatlah”. Aris berbalik dan berteriak kearah Icha sambil melambaikan tangan kanannya.

Tak lama kemudian Icha sampai dibawah pohon dan langsung merebahkan tubuhnya diatas hamparan rumput hijau dengan nafas yang masih terengah-engah akibat memaksakan diri agar dapat segera menyusul.

“Kau itu lama sekali”. Kata Aris sambil duduk bersila disamping Icha yang tak sanggup lagi untuk berdiri.

“Maaf aku kelelahan”.

“Ya ampun ternyata kau selemah itu”. Aris bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Wit Guede dan mengambil sesuatu.

“Maaf aku tidak bisa sekuat Aris karena kata warga desa, Aris adalah anak yang berbakat dan akan menjadi seorang persapa terkuat dikerajaan”. Icha duduk sambil melihat Aris yang berjalan kearahnya dengan kedua tangan berada di punggungnya seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Sinar matahari yang melewati sela-sela daun dari wit guede mengenai tubuh Aris dan Icha.

“Karena itu aku akan melindungimu apapun yang terjadi, aku berjanji”. Sebuah rangkaian bunga mawar yang berbentuk seperti mahkota Aris tunjukan kepada Icha dan bermaksud untuk memberikannya. “Pa-pakailah ini, a-aku yakin ini akan lebih indah jika berada dikepalamu. Ja-jadi, biarkan aku yang memakaikan ini”. Wajah Aris memerah. Seketika Icha berdiri dan mengangguk mengiyakan permintaan Aris.

Burung-burung yang bertengger dicabang pohon wit guede berkicau sebelum terbang melawan hembusan angin yang sekali lagi berhembus dengan cukup kencang. Kebahagiaan yang Icha rasakan saat itu adalah kebahagian yang belum pernah Icha rasakan sebelumnya, dia sangat bersyukur bertemu dengan Aris dan hati kecilnya berbisik kepadanya kalau dia ingin selalu bersama dengan Aris.

Aris memakaikan rangkaian bunga yang telah dia buat dengan penuh rasa sayang ke kepala Icha. Mata Icha berbinar-binar, menujukan kebahagiaan yang tidak akan dia lupakan dan berharap semua ini akan seperti ini selamanya.

“Ayo pulang, mega merah hampir terlihat”. Kata Aris sambil melihat kearah langit. Icha tersenyum manis sambil menganggukan kepala. Diperjalanan pulang tidak henti-hentinya Icha tersenyum dan tertawa mendengar setiap perkataan yang diucapkan Aris. Meski Icha berasal dari keluarga yang berbeda dengan Aris, dia tinggal bersama Aris setelah mendapat persetujuan dari orang tuanya.

Tapi, senyuman dari keduanya hilang seketika saat mereka sampai didepan rumah. Mereka melihat beberapa persapa berkuda yang di seragamnya terdapat sebuah lambang salah satu bangsawan kerajaan, mereka sedang berbincang dengan kedua orang tua Aris didepan pintu. Sesaat setelah Aris dan Icha mendekat, perhatian para persapa bangsawan itu tertuju kearah mereka. Melihat hal itu Aris menarik tangan Icha dan berjalan menuju pintu belakang rumah.

“Sepertinya kami harus membawanya”. Kata salah satu persapa bangsawan itu kepada ayah Aris.

“Tidak kalian tidak boleh membawa Icha, meski dia bukan berasal dari keluarga Ajie dia sudah aku anggap sebagai anakku sendiri”. Ayah Aris berteriak kearah persapa bangsawan.

“Sesuai undang-undang seorang anak yang memiliki bakat dan berasal dari keluarga kelas bawah, maka keluarga bangsawan dapat mengadopsinya”. Persapa tersebut menunjukan selembar kertas yang berisikan undang-undang kerajaan tentang hak bangsawan.

“Aku tidak pernah menyutujui undang-undang itu, undang-undang itu hanyalah alat yang di buat oleh para bangsawan untuk memperkuat statusnya dan kami keluarga kelas bawah tidak akan mengikuti undang-undang tersebut”. Sekali lagi Ayah Aris meninggikan suaranya kearah para persapa bangsawan itu.

“Dasar rakyat jelata”. Sebuah pukulan keras mendarat diwajah Ayah Aris.

“Ayah”. Aris berteriak dari dalam rumah dan berlari kearah ayahnya yang terjatuh akibat pukulan persapa bangsawan.

“Pergilah kalian para Bangsawan kejam”. Aris berteriak kearah persapa dengan kedua tangan direntangkan kesamping untuk melindungi Ayahnya dari para persapa bangsawan itu.

“Jangan pernah meremehkan Keluarga kami”. Tatapan tajam Aris membuat salah satu persapa bangsawan tersenyum dan akhirnya tertawa dengan rasa puas serta kebahagiaan.

“Tatapan yang bagus bocah, sekarang aku lebih tertarik padamu daripada wanita itu. Lebih baik aku membawamu saja”.

“Hentikan Birendra. Kita adalah teman lama, setidaknya jangan hancurkan keluargaku”. Ayah Aris yang sebelumnya selalu meninggikan suaranya tapi saat ini dia benar-benar tidak berdaya lagi dan memohon kepada Persapa bangsawan yang dia panggil Birendra.

“Kita bukanlah teman lagi, tepat setelah keluarga Ajie melakukan kesalahan”.

“Tapi…”.

Untuk sejenak Aris termenung memikirkan apa yang akan terjadi jika dia dan ayahnya terus memaksa menolak tawaran dari persapa bangsawan. Aris berfikir kalau akan lebih baik kalau dia ikut persapa bangsawan meski dia tidak tahu apa yang terjadi jika dia ikut bersama para persapa bangsawan.

Tapi, jika dia menolak orang yang dia sayangi akan mengalami hal yang sama seperti yang telah ayahnya alami bahkan ada kemungkinan mereka akan mengalami hal yang lebih buruk. Sambil menelan ludah Aris menguatkan hati untuk mengambil keputusan.

“Tidak apa-apa ayah, aku akan baik-baik saja. Jadi jagalah Icha sampai aku kembali”. Aris tersenyum kearah Ayahnya, tapi ayahnya tahu kalau senyuman itu penuh dengan paksaan.

“Aku akan ikut kalian tapi beri aku waktu sebentar”. Aris berjalan masuk kedalam rumah dan melihat Icha berada dipelukan Ibu Aris. Rasa takut terlihat jelas diwajah Ibu dan Icha, Icha melepaskan diri dari pelukan Ibu Aris an berlari kearah Aris.

“Aris ada apa ?”. Tanya Icha yang masih tidak tahu apa yang sedang terjadi.

“Aku akan latihan bersama para bangsawan itu, tak lama aku akan kembali”. Aris menyembunyikan kesediannya dibalik senyum yang nampak diwajahnya agar Icha tidak merasa sedih saat kepergiannya.

“Aris berbohong, Aris tidak akan bisa kembali kesini lagi karena Aris akan tinggal bersama para bangsawan itu selamanya”. Mata Aris terbuka lebar terkejut mendengar itu dari Icha. “Icha mendengar apa yang bangsawan itu katakan, Icha tahu jika Aris ikut mereka Icha tidak akan bisa bertemu Aris lagi”. Air mata mengalir dengan deras dari kedua mata Icha, suara tangisan yang didengar Aris membuatnya tak ingin berpisah dengan Icha. Tapi, Aris harus melakukannnya agar Icha tidak merasakan pelatihan yang berat dan membuat Icha menderita.

“Jangan menangis, aku akan kembali kesini dan bermain lagi bersamamu”. Kata Aris sambil menghapus air mata yang membasahi kedua pipi Icha.

“Janji ?”.

“Ya aku janji”.

Melihat kesungguhan dari putra yang paling disayanginya, Ibu Aris tak sanggup menahan kesedihan dengan cepat dia memeluk Aris dan air mata mulai menetes kebahu kecil Aris.

“Aris maafkan ibu”.

“Tidak bu, Ibu tidak salah aku hanya melakukan seperti yang telah ibu katakan, kalau aku harus melindungi orang yang aku sayangi”. Sebuah senyuman dari Aris yang sama sekali tidak memancarkan rasa bahagia, membuat ibunya yang melihat itu semakin bersedih.

Aris, Icha dan Ibu Aris keluar dari dalam rumah dan menemui persapa bangsawan yang sudah menunggu didepan, Ayah Aris yang saat ini menanggung rasa bersalah saat putra tercintanya harus berpisah dengan orang tuanya, kini hanya bisa berdiri disamping pintu dengan air mata yang terus keluar dari kedua matanya.

“Baiklah sebagai bentuk adopsi kalian harus tanda tangan disini”. Birendra mengeluarkan kertas baru yang berisi perjanjian yang berisi kalau Aris akan diadopsi oleh keluarga bangsawan yaitu Mahawira.

Ibu Aris menerima kertas itu, dengan berat hati menggigit ibu jarinya dan menempelkan darah yang keluar dari luka itu sebagai bentuk tanda tangan. Dia menyodorkan kertas itu kearah Ayah Aris tapi ayah Aris tak bergeming dan hanya tertunduk.

“Ada apa ? kau tinggal me…”. Sebelum Birendra menyelesaikan kalimatnya hembusan angin yang sangat kuat membuat tubuhnya terangat dan terdorong kebelakang, begitu pula dengan 2 orang yang bersamanya juga mengalami hal yang sama namun sialnya tubuh mereka berdua tertusuk ranting pohon dan membuat mereka berdua mati seketika.

“Sialan kau Tyo”. Birendra berteriak dengan penuh amarah karena dia tahu kalau yang telah mendorong tubuhnya dan membunuh kedua rekannya adalah Ayah Aris yaitu Tyo dengan menggunakan kekuatannya yang berelemen angin.

“Aku akan melindungi keluargaku”. Tyo berteriak dengan memasang kuda-kuda dan kedua tangan yang telah diselimuti oleh angin yang terlihat samar-samar.

“Berani juga kau”.

Tanpa ada satupun yang menyadari, Birendra telah berada didepan Tyo dan sebuah pukulan api mendarat telak diperut Tyo dan dilanjutkan dengan tendangan api tepat di wajahnya sehingga membuat Tyo terpental cukup jauh hingga tubuhnya terbentur pagar rumah. Tyo merasakan sakit yang teramat sangat hingga tidak mampu untuk berdiri dengan kedua kakinya.

“Apa hanya ini kemampuan dari seorang persapa yang katanya tak terkalahkan ?”. Birendra berjalan mendekati Tyo yang tak lagi memiliki kekuatan untuk melawan birendra.

“Kau dulunya adalah seorang persapa yang sangat disegani, bahkan keluarga bangsawanpun menganggapmu sebagai seorang bangsawan karena kamampuanmu itu. Tapi lihatlah sekarang”. Senyum terlihat diwajah Birendra.

“Kau tidak lebih sebagai sebagai seorang pemberontak, untuk itu matilah disini”. Birendra mengarahkan telapak tangannya kearah Tyo.

“Hentikan…”. Aris berteriak dan berlari kearah ayahnya berharap agar Birendra tidak membunuh Tyo, tapi usaha Aris sia-sia. Birendra menggunakan pusakannya dan membakar tubuh Tyo, hingga membuat Tyo berteriak kesakitan. Jeritan dari Tyo berhenti saat pedang yang sebelumnya disarungkan dipinggang Birendra menusuk dada Tyo dan membuatnya mati seketika.

Aris yang melihat ayahnya mati dengan cara yang mengenaskan tidak dapat tinggal diam, dengan mengambil batu yang ada disampingnya Aris berlari kearah Birendra mencoba membalas perbuatan yang telah dilakukannya terhadap ayahnya.

“Mati kau”. Hantaman batu yang Aris lancarkan memang mengenai Birendra tapi serangan itu tidak memberikan luka yang berarti.

Mengetahui dia telah diserang dari belakang Birendra berbalik dan melihat Aris yang meneteskan air mata dengan deras setelah melihat ayahnya mati tepat didepannya. Begitu juga dengan Ibunya dan Icha yang melihat kejadian mengerikan itu dari kejauhan.

“Aku masih membutuhkanmu jadi…”. Tiba-tiba batu yang dibawa Aris untuk memukul Birendra terbakar dan membuat Aris terkejut sampai membuang batu itu, tak lama setelah terbakar batu itu berubah menjadi abu, diikuti dengan pukulan tepat diperut Aris dan membuatnya pingsan.

“Jangan mati dulu”.

Aris yang tak sadarkan diri langsung diangkat Birendra dan menaikannya diatas kuda untuk dibawa. Sejak saat itu Aris dan Icha tidak bertemu lagi hingga beberapa tahun sampai kembali bertemu saat hari pertama dikelas 3 di akademi meski Icha lupa tentang Aris.

“Saat pertama bertemu setelah beberapa tahun berpisah, aku mengira dia adalah orang asing yang memiliki nama dan wajah yang sama dengan Icha yang aku kenal sewaktu kecil. Dan aku datang kesini hanya ingin menyelamatkannya karena dia adalah teman satu kelasku. Tapi, setelah aku mengetahui kalau dia adalah Icha yang sama dengan yang aku kenal waktu kecil. Maka aku sebagai seorang persapa akan menjaga janjiku padanya”. Cahaya bulan malam ini yang bersinar dengan indah, kini terhalang oleh awan hitam dan hembusan angin terasa sangat dingin tapi Aris dan Birendra tidak memperdulikan hal itu.

“Menarik ayo serang aku sekuat tenaga”. Birendra tidak menunjukan rasa takut malah sebaliknya dia begitu semangat saat Aris meluapkan amarahnya.

“Dengan senang hati”. Mata biru Aris berubah menjadi kuning keemasan dan mengeluarkan aura yang mengerikan dan api yang berasal dari tangan kirinya merambat keseluruh tubuh sampai-sampai membuat semangat Birendra menjadi hilang.

“Perasaan macam apa ini ?”. Birendra tanpa menadarinya melangkahkan kakinya bebeberapa kebelakang setelah melihat Api biru Aris dan merasakan aura mengerikan yang terpancar dari tubuhnya.

Dengan cepat Aris berlari kearah Birendra yang telah diselimuti oleh rasa takut, sebuah pukulan api menghantam tubuh dan wajah Birendra secara bertubi-tubi dan sebuah tendangan yang mengarah ke perut Birendra membuatnya terdorong kebelakang. Sebuah bola api yang Aris buat dengan tangan kirinya dia lemparkan dan mengenai tubuh Birendra hingga membakarnya.

“Itu untuk ayahku yang telah kau bakar”.

Tubuh  Birendra terbakar hebat tapi api yang membakar tubuhnya tidak membuat Birendra merasakan sakit, dia malah tersenyum dan secara perlahan api yang membakarnya mulai padam hingga akhirnya hanya menyisakan asap yang naik keatas yang tak lama juga ikut menghilang.

“Apa hanya ini kemampuan api yang kau miliki, sungguh mengecewakan”. Aris terkejut bola api yang seharusnya membakar tubuh Birendra sampai menjadi abu kini padam dan tidak memberikan luka bakar ditubuhnya.

“Tidak mungkin…”.

“Sekarang adalah giliranku”.

Api keluar dari kedua tangan Birendra dan menjalar keseluruh tubuhnya hingga terbakar oleh api yang dia buat. Api yang dikeluarkan Birendra terasa sangat panas hingga membuat tubuh Aris yang memiliki elemen api bermandikan keringat tak kuasa menahan hawa panas, dan pepohonan yang berada disekitar Birendra mengering karena api yang Birendra keluarkan terlalu panas.

“Api macam apa itu ?”. Api yang menutupi seluruh tubuh Birendra sekarang merambat ketelapak tangan kanannya yang telah dia arahkan kearis.

“Ini adalah api neraka”. Api yang telah sepenuhnya berkumpul ketelapak tangan Birendra, meluncur dengan cepat kearah Aris. Saat Aris akan menghindar tiba-tiba tubuhnya menjadi sangat susah digerakan dan akhirnya bola api tersebut mengenainya sampai membuatnya terpental dan mengalami luka yang cukup parah.

Daun-daun pohon yang telah kering berjatuhan. Birendra yang merasa telah menyingkirkan masalah dalam tugasnya, kini dia berjalan mendekati Aris yang tergeletak sambil menahan rasa sakit yang telah lama tidak dia rasakan.

“Aku sedikit kecewa dengan kemampuanmu saat ini, tapi cepat atau lambat kau pasti akan menggunakannya”.

Dengan pandangan yang mulai memudar Aris mencoba meneriakan nama Icha berharap Icha kembali sadar dan melarikan diri tapi suara Aris tidak terdengar, bukan. Tapi, suara Aris tidak keluar. Meski begitu Aris berusaha meneriakan nama Icha berulang kali tapi usahanya sia-sia saat kesadarannya mulai menghilang dan Icha kembali dibawa oleh Birendra dan pergi meninggalkannya.

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (2)
  • defreeya

    judulnya cantik

    Comment on chapter Episode 1 - Bertemu
  • dede_pratiwi

    cant wait next episode!! :)

    Comment on chapter Episode 1 - Bertemu
Similar Tags
Daniel : A Ruineed Soul
535      306     11     
Romance
Ini kisah tentang Alsha Maura si gadis tomboy dan Daniel Azkara Vernanda si Raja ceroboh yang manja. Tapi ini bukan kisah biasa. Ini kisah Daniel dengan rasa frustrasinya terhadap hidup, tentang rasa bersalahnya pada sang sahabat juga 'dia' yang pernah hadir di hidupnya, tentang perasaannya yang terpendam, tentang ketakutannya untuk mencintai. Hingga Alsha si gadis tomboy yang selalu dibuat...
My Reason
634      414     0     
Romance
pertemuan singkat, tapi memiliki efek yang panjang. Hanya secuil moment yang nggak akan pernah bisa dilupakan oleh sesosok pria tampan bernama Zean Nugraha atau kerap disapa eyan. "Maaf kak ara kira ini sepatu rega abisnya mirip."
Luka Adia
707      430     0     
Romance
Cewek mungil manis yang polos, belum mengetahui apa itu cinta. Apa itu luka. Yang ia rasakan hanyalah rasa sakit yang begitu menyayat hati dan raganya. Bermula dari kenal dengan laki-laki yang terlihat lugu dan manis, ternyata lebih bangsat didalam. Luka yang ia dapat bertahun-tahun hingga ia mencoba menghapusnya. Namun tak bisa. Ia terlalu bodoh dalam percintaan. Hingga akhirnya, ia terperosok ...
Junet in Book
3012      1121     7     
Humor
Makhluk yang biasa akrab dipanggil Junet ini punya banyak kisah absurd yang sering terjadi. Hanyalah sesosok manusia yang punya impian dan cita-cita dengan kisah hidup yang suka sedikit menyeleweng tetapi pas sasaran. -Notifikasi grup kelas- Gue kaget karena melihat banyak anak kelas yang ngelus pundak gue, sambil berkata, "Sabar ya Jun." Gue cek grup, mata gue langsung auto terbel...
Error of Love
1152      557     2     
Romance
Kita akan baik-baik saja ketika digoda laki-laki, asalkan mau melawan. Namun, kehancuran akan kita hadapi jika menyerah pada segalanya demi cinta. Karena segala sesuatu jika terlalu dibawa perasaan akan binasa. Sama seperti Sassy, semua impiannya harus hancur karena cinta.
Grey
212      176     1     
Romance
Silahkan kalian berpikir ulang sebelum menjatuhkan hati. Apakah kalian sudah siap jika hati itu tidak ada yang menangkap lalu benar-benar terjatuh dan patah? Jika tidak, jadilah pengecut yang selamanya tidak akan pernah merasakan indahnya jatuh cinta dan sakitnya patah hati.
Phased
5530      1672     8     
Romance
Belva adalah gadis lugu yang mudah jatuh cinta, bukan, bukan karena ia gadis yang bodoh dan baperan. Dia adalah gadis yang menyimpan banyak luka, rahasia, dan tangisan. Dia jatuh cinta bukan juga karena perasaan, tetapi karena ia rindu terhadap sosok Arga, abangnya yang sudah meninggal, hingga berusaha mencari-cari sosok Arga pada laki-laki lain. Obsesi dan trauma telah menutup hatinya, dan mengu...
Time Travel : Majapahit Empire
46749      4560     9     
Fantasy
Sarah adalah siswa SMA di surabaya. Dia sangat membenci pelajaran sejarah. Setiap ada pelajaran sejarah, dia selalu pergi ke kantin. Suatu hari saat sekolahnya mengadakan studi wisata di Trowulan, sarah kembali ke zaman kerajaan Majapahit 700 tahun yang lalu. Sarah bertemu dengan dyah nertaja, adik dari raja muda Hayam wuruk
Bulan Dan Bintang
4900      1256     3     
Romance
Cinta itu butuh sebuah ungkapan, dan cinta terkadang tidak bisa menjadi arti. Cinta tidak bisa di deskripsikan namun cinta adalah sebuah rasa yang terletak di dalam dua hati seseorang. Terkadang di balik cinta ada kebencian, benci yang tidak bisa di pahami. yang mungkin perlahan-lahan akan menjadi sebuah kata dan rasa, dan itulah yang dirasakan oleh dua hati seseorang. Bulan Dan Bintang. M...
Venus & Mars
5021      1381     2     
Romance
Siapa yang tidak ingin menjumpai keagunan kuil Parthenon dan meneliti satu persatu koleksi di museum arkeolog nasional, Athena? Siapa yang tidak ingin menikmati sunset indah di Little Venice atau melihat ceremony pergantian Guard Evzones di Syntagma Square? Ada banyak cerita dibalik jejak kaki di jalanan kota Athena, ada banyak kisah yang harus di temukan dari balik puing-puing reruntuhan ...