“Ini tidak mungkin- Black!” Clare berteriak histeris memanggil suaminya sambil memegangi perutnya tidak percaya.
“Ada apa sayang?” ia muncul dihadapan istrinya dalam sekejap mata bersama putrinya yang bergelantungan di punggungnya serta putra kecilnya digendongannya yang tengah mengoceh tak jelas.
“Mama..” putri kecilnya yang merasakan rasa sedih ibunya segera melompat dari punggung ayahnya menuju ibunya. Mengambil tangannya, berharap itu akan mengurangi rasa sedihnya.
“Dia menghilang, putra kita hilang.” Ia melihat suaminya dengan penuh kecemasan.
“Apa yang kau bicarakan, Cadric, putra kita ada bersamaku.” Ia menggendong putra kecilnya di depan dada menghadap ibunya.
“Bukan, bayi kita.” Air matanya mulai mengaburkan pandangannya.
Diminggu awal Clare sadar akan kehamilannya, ia menggunakan sihirnya untuk memastikan bahwa ia benar-benar hamil. Dan bagian yang paling mengejutkan adalah ia tidak hanya akan melahirkan satu bayi, melainkan dua, kembar. Ia sangat bahagia dengan kenyataan yang diketahuinya. Namun, kemampuannya untuk melihat kehidupan di dalam dirinya menguras cukup banyak energi setelah ia melakukannya hampir setiap hari. Black, suaminya akhirnya memintanya untuk berhenti melakukan itu dan memintanya untuk bersabar hingga hari kelahiran mereka. Clark pun menghentikan kesenangannya sejak itu.
Dan ketika hari kelahiran tinggal menghitung jam, ia sungguh lepas kendali untuk bersabar dan menggunakan kembali sihirnya hanya untuk melihat bahwa hanya ada satu bayi di dalam dirinya, putrinya. Putranya tidak ada di sana. Panik menyelimuti dirinya.
“Bagaimana mungkin sayang?” rasa panik itu mulai menular pada suaminya.
“Aku tidak tau. Seharunya aku tidak berhenti untuk tetap mengawasi mereka. Ini karena aku terlalu lemar Black.” Ia terisak.
Black menurunkan putranya dan berhampur memeluk istrinya untuk menenangkannya.
“hushh.. sayang, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini bukan salahmu. Tenanglah-“
“Mama...” putri mereka yang sudah cukup besar untuk mengerti ucapan ibunya ikut terisak dengan kekhawatiran ibunya yang mengalir terbagi padanya melalui sentuhannya di tangan ibunya.
“Oh Clark... maafkan ibu..” Ia meraih putrinya ke sampingnya dan memeluknya. Ia menyadari bahwa putrinya bisa meresakan kesedihannya saat itu.
Sementara kedua anaknya menemani istrinya, ia keluar dari ruangan dan mencari guardiannya, Coner dan guardian istrinya, Kate.
“Seseorang sepertinya telah mengambil putraku diam-diam.” Tukas Black pada suami istri Kate dan Coner.
“Cedric?” mereka berdua kompak bertanya serempak.
“Bukan, putraku yang akan segera lahir. Sepertinya itu tejadi semenjak ia berhenti untuk menghentikan kebiasaannya mengawasi janin dalam perutnya dengan sihirnya.”
“Dengan sihir medis? Bagaimana mungkin? Sihir itu sudah jarang sekali ada yang bisa menggunakannya.” Ucap Kate.
“Itu sihir yang mudah untuk witch senior.” Tambah Coner. Ia melihat Black seolah mencari jawaban atas apa yang ia katakan. Black menjawabnya hanya dengan anggukan tegas.
“Tapi tidak hanya itu, bukankah seorang witch harus melakukan kontak langsung pada targetnya lalu-“ ucapannya terhenti ketika Kate mulai menyadari kemana arah pembicaraan mereka.Kate melihat Black dan suaminya yang sepertinya sudah lebih dulu menyadari kemana arah pembicaraan itu. “....Teressa.” ucapnya lirih.
Iya, Teressa. Satu-satunya witch senior yang pernah kontak langsung dengan Clare ketika ia dalam masa sulit setelah energinya terkuras dengan kebiasaannya menggunakan sihir untuk melihat janin dalam perutnya. Ia juga orang yang membantu meyakinkan Clare untuk berhenti melakukan kebiasaannya dan menunggu hingga bayinya lahir untuk bisa melihatnya secara langsung.
Teressa adalah salah satu witch senior pengajar di akademi. Dia adalah witch yang hebat dengan sihir-sihir kuno yang dikuasainya. Namun, kehebatannya itu tertutupi dengan kelakuannya yang terkenal kurang baik dengan rumor-rumor buruk tentangnya yang beredar bebas. Rumor itu mengatakan bahwa ia adalah salah satu wanita simpanan dari pemimpin werewolf yang terkenal dengan perangainya yang buruk.
Pemimpin witch tidak pernah menganggap rumor-rumor itu serius dan tidak mengambil tindakan tegas apapun untuk menertibkan perilaku Teressa. Tapi itu berakhir sebagai tindakan yang salah. Hal itu kemudian berlanjut hingga di luar kendali.
Teressa ditemukan sudah tak bernyawa di dalam kantornya di akademi, sementara mayat guardian pendampingnya ditemukan di hutan jauh di sebelah barat dan berdekatan dengan markas guadian sekaligus kediaman pemimpin guardian. Teressa diketahui meninggal karena racun yang dibuktikan dengan ditemukannya kandungan racun yang cukup besar di dalam teh dan kue yang tersaji di meja di dekat mayatnya ditemukan. Berbeda dengan Teressa, guardiannya yang di temukan ditengah hutan meninggal dengan mengenaskan dengan tubuh yang tercabik oleh binatang buas, seperti werewolf.
Lagi-lagi hal ini tidak dianggap serius oleh pemimpin witch maupun guardian yang menyadari sikap Teressa yang memang kurang baik dan kemungkinan memiliki banyak musuh yang bersembunyi dibalik jubah mereka. Kasus itu diitutup begitu saja tanpa penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui siapa pelaku yang menjadi dalang dibalik pembunuhan itu.
“Apa mungkin para werewolf itu ada hubungannya dengan ini?” sebelum Kate mendapatkan jawabannya...
“PAPA!” Teriakan Clark terdengar.
Black, Coner, dan Kate bergegas ke sebuah kamar yang berada di ujung ruangan itu, dimana Clare tengah mengalami kontraksi. Kate segera mengambil alih untuk membantunya sementara Black bersama kedua anaknya dan Coner menunggu di luar ruangan.
Hari sudah mulai gelap, bulan purnama mulai terlihat, tapi belum juga terdengar suara tangisan bayi. Black benar-benar cemas dan ia sangat ingin untuk menerobos pintu yang memisahkan ia dan istrinya jika bukan tertahan oleh putranya Cedric yang tertidur di gendongannya.
Black hanya bisa menunggu sambil menatap ke luar jendela dimana dari jauh terlihat bulan terang berada di puncak tertingginya. Ia mulai merasakan kekuatannya yang mulai tertidur. Dan pada saat itulah ia mendengar suara tangisan putrinya. Senyum bahagia terukir di wajahnya.
Black menidurkan Cedric di samping Clark yang saat itu tengah tertidur di kasur lantai. Ia segera beranjak menuju istrinya.
“Aku akan memeriksa keadaan di luar.” Coner membiarkan Black menemui istrinya seorang diri. Sejujurnya, ia merasakan sesuatu yang janggal di luar sana. Ia bisa melihat sesuatu yang mencekam akan datang dari arah hutan. Coner sadar bahwa Black tidak akan menyadarinya dengan kekuatannya yang tertidur disaat bulan purnama seperti saat itu.
Coner ditemani dua guardian lainnya memeriksa area sekitar rumah.
***
“Coner...” suara Clark terdengar dari belakang Coner.
“Clark, kau sudah bangun? Masuklah ke dalam, aku akan berjaga di sini.” Ia menghampiri Clark yang tak hentinya menatap ke arah hutan. Begitu ia mensejajarkan diri di depan Clark dengan berlutut dihadapannya, Ia bisa melihat dengan jelas ekspresi Clark yang dipenuhi oleh ketakutan. “Clark?” ia menangkup pipi Clark, membuatnya memalingkan pandangannya dari arah hutan dan melihatnya. “Apa yang kau lihat?”
“Mereka banyak sekali. Mereka menuju ke rumah kita. Mereka ingin membunuh.” tukasnya penuh ketakutan.
“Mereka? Mereka siapa?”
“Werewolf”
"Sial!" Mendengar werewolf keluar dari mulut Clark membuat Coner mengumpat kesal. Ia segera menyuruh para penjaga waspada dan memperketat pintu penjagaan. Ia menggendong Clark masuk ke dalam rumah bersama dua guardian yang mengikutinya, salah seorang guardian membawa Cedric yang masih tertidur digendongannya.
Tanpa mengetuk, ia menerobos masuk keruangan dimana Black dan Clare sedang mengagumi putri mereka yang baru lahir. Kate mengenal suaminya dengan baik, bisa melihat akan adanya hal buruk hanya dengan melihat ekspresi wajahnya.
“Ada apa Coner?” Tanya Kate. Ia mengambil Clark dari gendongan suaminya.
“Werewolf, di luar ada banyak werewolf.” Clark menjawabnya untuk Coner.
“Apa maksudnya Coner?” Clare meletakkan putrinya yang baru saja selesai ia susui.
“Kita dalam masalah besar. Seperti yang dikatakan Clark, para werewolf dengan jumlah besar sedang menuju kemari dengan niat membunuh.” Kabar itu membuat Black, Clare dan istrinya Kate terkejut.
“Apa mungkin mereka mengincar putri kita, Blaire?” ucap Clare pada Black yang membuat rasa cemasnya kembali memuncak.
“Dengan kekuatan Black yang tertidur, kau yang baru saja melahirkan, dan hanya ada 6 orang guardian di sini, aku yakin kita tidak memiliki kesempatan untuk memukul mundur mereka.”
“Apa rencana terbaikmu Coner?” tanya Black yang tengah duduk memeluk istrinya dan mencoba menengkannya.
“Rencana terbaikku adalah mengirim 2 orang guardian kita untuk membantu melarikan Clark dan Cedric, dan membawa mereka kerumah ayah Clare, pemimpin witch. Aku harap mereka bisa mengirim bantuan secepat mungkin sementara kita menahan mereka di sini. Dan Blaire, jika benar mereka mengincarnya, kita tidak bisa mengambil resiko mengirimnya ke kediaman pemimpin witch bersama Clark dan Cedric. Kita bisa menggunakan gelang dengan mantra pelindung pemberian pemimpin witch untuk Blaire.”
Seorang guardian yang sedari tadi berdiri di belakang Coner segera mengambil kotak kecil yang disimpan di salah satu laci di kamar itu dan memberikannya pada Clare. Tanpa menunggu, Clare segera memakaikan sebuah gelang yang ada di sana dan membuat mantra itu berfungsi.
Setidaknya gelang itu bisa membantu untuk menyamarkan keberadaan Blaire dan mereka hanya perlu berharap Blaire tidak akan menangis dan membuyarkan rencana mereka.
“Setelah itu kita hanya perlu bertahan disini sambil menunggu bantuan. Kalau ini berubah menjadi pertarungan yang tidak seimbang, aku berharap ini tidak akan menjadi pertarungan pertama dan terakhir kita.” Ucap Coner pada Black yang disambut seringaian oleh keduanya.
Mereka segera bersiap untuk mengirim Clark dan Cedric pergi ke kediaman pemimpin witch untuk berlindung dan sekaligus meminta bantuan bersama dua orang guardian.
“Clark..” Clare memeluk putrinya untuk terakhirnya. “Jaga adikmu untuk ibu, okey?” Clark hanya mengangguk dan tak henti-hentinya mengusap airmatanya dengan punggung tangannya yang kecil. “Kau bisa menggunakan kekuatanmu jika kau membutuhkannya, ibu tidak akan melarangmu menggunakannya kali ini. Bulan purnama tidak akan menjadi penghalang untukmu bisa menggunakan kekuatanmu, kau putri ibu yang terhebat.” Ia mengecup kening putrinya lebih lama dari biasanya sebelum akhirnya dua orang guardian membawanya pergi.
wah aku suka penulis menulis sesuatu yang berbeda. mantap
Comment on chapter Chapter 1 - My Memories 1