Loading...
Logo TinLit
Read Story - When the Winter Comes
MENU
About Us  

Hyun-Shik dan Jung-Im tiba di Desa Guryong, desa kumuh yang berada di kawasan Gangnam. Suasana mencekam seakan mendominasi tempat itu. Mereka hanya mendapati beberapa orang berpakaian kumal sedang merokok dan tertawa dengan soju di tangan, anak-anak pemulung, dan rumah-rumah yang tak layak huni.

Di ujung jalan yang mereka lintasi itu terdapat sebuah gedung tua empat tingkat yang tak terawat. Jendela-jendela besar mendominasi tampilan depan, beberapa kacanya pecah, dan lainnya tampak kotor. Hyun-Shik tidak menghentikan mobilnya di area gedung. Dia berhenti dengan jarak 50 meter dari gedung. Ada dua orang yang berjaga di sana.

“Sebenarnya aku tidak mengira orang itu akan memilih tempat seperti ini.” Hyun-Shik mengambil kotak senjata di jok belakang, lalu mengeluarkan handgun, kain hitam, dan pisau.

“Kenapa?”

“CCTV itu.” Hyun-Shik menunjuk dua CCTV dengan lampu merah yang berkedip beberapa kali.  “Harusnya mereka tidak bekerja lagi mengingat pabrik ini sudah tutup lima tahun yang lalu. Jika orang yang cermat pasti akan curiga.”

“Ah, benar juga. Tapi apa yang akan kau lakukan? Menerobos masuk dengan mobil?”

Hyun-Shik menggeleng. “Tidak. Aku tidak suka mengulang cara yang sama. Aku akan melakukan misi one person. Masuklah ketika aku memberikan isyarat, ok?”

“Jadi aku mengawasi di sini?”

Hyun-Shik mengangguk. “Jangan bertindak apa-apa, jangan memanggil pasukan atau apa pun karena semua sudah aku rencanakan. Aku akan sedikit sekarat, tapi jangan khawatir. Ketika menit ke lima belas kau boleh masuk.”

“Ya.”

“Kalau mendengar suara tembakan atau teriak, pastikan keadaan sektiar tetap tenang.”

“Baiklah. Aku akan tetap di sini mengawasi sekitar, menenangkan orang-orang jika ada suara tembakan, lalu ketika kau memberikan sinyal aku harus masuk?” Jung-Im membuat ringkasan dari kata-kata Hyun-Shik.

“Benar sekali!” seru Hyun-Shik seraya mengacungkan jempol.

“Baiklah.”

Setelah berunding, Hyun-Shik memakai penutup wajah dan topi. Penampilan lelaki  itu tampak seperti pembunuh bayaran yang dingin. Hyun-Shik keluar dari mobil dan berjalan menuju gudang itu dengan memanfaatkan titik buta CCTV. Ketika dua penjaga itu lengah, ia memukul tengkuk keduanya bersamaan. Keduanya ambruk, lalu Hyun-Shik kembali bergerak.  Ia menutup CCTV itu dengan kain hitam, lalu memasuki gedung.

Para penjaga di dalam yang menyadari kehadirannya mulai bergerak. Ada sekitar empat lelaki bertubuh besar dengan pakaian hitam mulai menyerang dengan pisau. Dengan lincah, Hyun-Shik mulai bergerak menghindari serangan itu. Ia berguling, bersembunyi, berlari, dan sesekali menembak. Sebisa mungkin ia mengincar bagian yang tidak berbahaya seperti tangan atau kaki karena ia sudah berjanji pada Seo-Jung agar tidak membunuh.

Sayup-sayup ia bisa mendengar suara Eun-Hye yang memekik. Sontak Hyun-Shik langsung bergegas menuju ruangan itu. Aroma menyengat tercium ketika pintu ruangan itu terbuka. Ruangan kecil dengan penerangan remang-remang. Matanya menjelajah, lalu menemukan Eun-Hye sedang terduduk di kursi dengan rangkaian bom di tubuhnya. Tubuh perempuan itu gemetar dan di hadapannya tampak seorang lelaki tinggi dan kurus menempelkan ujung pistol di dahinya.

“Lee Kyung-Ju!”

Lelaki itu menoleh, lalu menyeringai. “Kita bertemu lagi, Kim Hyun-Shik. Ternyata kau berhasil menemukan informasi tentangku, ya.”

Hyun-Shik menyeringai. “Tentu saja karena kau adalah pengkhianat.”

Kyung-Ju terkekeh. “Pengkhianat? Sepertinya kau belum tahu kebenarannya. Tapi itu tidak penting karena bomnya akan meledak sebentar lagi.”

Hyun-Shik tidak menanggapi. Ia hanya diam dan mengamati seluruh sudut gudang itu. Mempelajari tiap sisi yang bisa menguntungkannya. Setelah berhasil merekam tiap sudut, ia berlari cepat ke arah Kyung-Ju dengan pisau di tangannya.  Pisau mereka beradu kemudian Hyun-Shik mundur beberapa langkah dan menggempur lelaki itu dengan pukulan serta gerakan pisau yang cepat. Hyun-Shik berhasil menemukan sisi kosong Kyung-Ju. Pisau tajam yang ujungnya menyayat perutnya membuat lelaki itu mundur beberapa langkah sambil memegangi perutnya.

“Apa kita saling mengenal?” Kyung-Ju menyadari nafsu membunuh Hyun-Shik yang kuat.

Hyun-Shik mengangkat bahunya yang lebar. “Entahlah. Aku tidak merasa demikian.”

Kyung-Ju hanya tertawa, lalu kembali bergerak dan mengadu pisaunya dengan Hyun-Shik. Aduan pisau mereka menimbulkan suara yang memekikkan telinga. Dengan lincah, Hyun-Shik mengayunkan kaki kanan dengan kuat ke kaki Kyung-Ju dan membuat lelaki itu terjatuh. Ia menduduki tubuh Lee Kyung-Ju yang terbaring, lalu mengarahkan pisau ke leher lelaki itu. Tapi Kyung-Ju malah tertawa.

“Kau terlalu bernafsu membunuhku tanpa menyadari nyawa perempuan itu.” Kyung-Ju melirik Eun-Hye sambil menyeringai.

“KYAA!!”

Hyun-Shik sontak menoleh. Matanya membulat ketika Eun-Hye disandera oleh satu bawahan Kyung-Ju. Eun-Hye tampak gemetar ketika pisau itu bermain di sekitar lehernya. Hyun-Shik berdiri, lalu mengangkat kedua tangan dan menjatuhkan pisaunya ke lantai. Ia berusaha menatap mata perempuan itu dan memberi isyarat.

Hyun-Shik menggerakkan beberapa jemarinya, sedangkan Eun-Hye mengigit bibir bawahnya sebagai tanda mengerti. Tepat ketika jemari Hyun-Shik menekuk ke bawah, perempuan itu menduduk, sedangkan Hyun-Shik menarik handgun dari balik jaket dan menembak lelaki di belakang Eun-Hye. Tak hanya itu, Hyun-Shik memanfaatkan delay waktu kesadaran musuh dan berlari menuju Eun-Hye, menarik perempuan itu menjauh dari bawahan Kyung-Ju.

 “Kau baik-baik saja?” Hyun-Shik segera memotong kabel rangkaian bom, lalu melemparkan bom itu ke sembarang arah. Setidaknya bom itu bukan bom yang biasa digunakan pasukan khusus perang sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk menjinakkannya.

Perempuan itu mengangguk. “Ya, aku baik-baik saja.”  

“Tetap di belakangku.”

Perempuan itu menurut, ia mundur beberapa langkah dengan pandangan yang tak lepas dari Hyun-Shik. Kenangan masa lalu mulai berkelebat dalam bayangnya ketika keduanya kembali bertarung. Hyun-Shik mengambil kembali pisaunya dan kembali bergerak menyerang Kyung-Ju yang mulai melemah. Begitu juga dengan Hyun-Shik yang mulai lelah akibat digempur dengan tenaga Kyung-Ju yang lebih kuat darinya. Tangan kanannya memegang tangan Kyung-Ju yang memegang pisau, lalu mengarahkan pisaunya pada lelaki itu. Kyung-Ju menahan tangan kanan Hyun-Shik yang memegang pisau, tapi tenaga Hyun-Shik yang semakin kuat membuatnya kewalahan. Pisau Hyun-Shik berhasil menusuk pundak Kyung-Ju cukup dalam, tapi di saat yang bersamaan pisau Kyung-Ju juga berhasil menyayat perut kanan Hyun-Shik.

Keduanya mundur beberapa langkah dengan darah yang mengalir deras akibat serangan masing-masing. Napas mereka terengah-engah dan di sisi lain Eun-Hye hampir menangis melihat kondisi Hyun-Shik seperti itu. Bayangan akan penyerangan sembilan tahun yang lalu kembali menghantui. Ia seperti melihat sosok Ji-Hyun yang terluka karena melindunginya.

Hyun-Shik merasa tubuhnya aneh. Pandangannya mulai mengabur dan ia tidak bisa menggerakkan kedua tangan secara leluasa. “Pisau beracun?”

Lelaki itu terbahak, lalu menjatuhkan pisaunya. “Kau sadar juga akhirnya.”

Tubuh Hyun-Shik oleng, lalu terjatuh, sedangkan Kyung-Ju mendekatinya dengan pistol yang siap menembak. “Ah, sayang sekali. Padahal tadi itu permainan yang seru. Sudah lama sekali aku tidak bertarung sesengit itu. Meski akhirnya kau akan mati, setidaknya kau sudah membuatku senang.”

Pistol menyalak dari arah belakang, tapi tembakannya meleset. Kyung-Ju menoleh dan mendapati Eun-Hye sedang mengarahkan pistol padanya. Tubuh perempuan itu gemetar dengan keringat yang membasahi tubuh.

 “Me-menjauh!” Eun-Hye memekik ketika Kyung-Ju melangkah mendekatinya.

Kyung-Ju terbahak, lalu menyeringai. “Sadarkah kalau kau itu lemah?”

“Aku sadar kalau aku tidak sekuat Hyun-Shik, tapi aku akan menarik pelatuk ini untuk melindunginya!”

“Kenapa kau melindunginya? Ah, kau pasti berpikir lelaki  ini bisa membawamu pada Han Ji-Hyun?”

Mata Eun-Hye membulat. Jantungnya berdetak tak karuan dan napasnya memburu. Mendadak Eun-Hye kehilangan kendali. Kepalanya dipenuhi dengan berbagai pernyataan yang mendorong Eun-Hye menurunkan pistolnya, tapi di sisi lain, nalurinya menolak. Menciptakan pertentangan batin yang kian memengaruhi konsentrasinya.

Kyung-Ju tersenyum puas. “Han Ji-Hyun sudah mati dan aku yang membunuhnya.”  

“Bohong! Itu tidak mungkin terjadi!” Eun-Hye memekik tak terima. Tubuh Eun-Hye  merosot ke lantai dan pistol jatuh di pangkuannya. Ia menangis dengan kedua tangan yang menutup wajah. Harapannya serasa runtuh, bersamaan dengan sesak yang menghantamnya berkali-kali. Tanpa ia sadari, Kyung-Ju telah berdiri di hadapannya.

 “Jika tidak percaya, tanyakan saja pada lelaki  yang sekarat itu.” Kyung-Ju mencengkeram wajah Eun-Hye, memaksa perempuan itu menatap Hyun-Shik yang sekarat.

Diam-diam, tangan Eun-Hye mengambil pistol di pangkuannya, lalu melepaskan tembakkan ke kaki Kyung-Ju. Kaki lelaki itu memanas diiringi darah yang mengucur deras. Eun-Hye berusaha memanfaatkan kesempatan. Ia berdiri, berniat menghampiri Hyun-Shik, tapi Kyung-Ju menarik rambutnya dengan kuat. Eun-Hye yang terkejut spontan melempar pistol itu dan menahan tangan Kyung-Ju. Eun-Hye merintih seraya memukuli tangan Kyung-Ju ketika diseret dengan kasar.

 “Dasar perempuan sialan! Kau memang seharusnya mati!” Tepat ketika Kyung-Ju hendak melayangkan pistol ke kepala Eun-Hye, perempuan itu meraih pisau Hyun-Shik di dekatnya, lalu memotong rambutnya. Dengan sekuat tenaga ia bangkit dan berlari ke samping Hyun-Shik untuk meraih pistol.

“Me-menjauh! Akan kutembak jika kau mendekat!” Ia mengarahkan pistol itu dengan tangan yang gemetar.

“Aku benar-benar tidak menyangka anak kecil yang dulu hanya bisa menangis kini menggunakkan senjata. Apa ada yang mengajarimu?”  Seakan tidak perduli pekikan Eun-Hye, lelaki itu melangkah maju. Tangan Eun-Hye yang memegang pistol gemetar dan perlahan ia mundur ke belakang.

Tepat ketika lelaki itu hendak menarik pelatuk, Jung-Im muncul bersama tujuh pasukan NSS yang menyamar dan mengarahkan pistol pada Kyung-Ju. Kyung-Ju mengerang kesal, lalu kembali pada Eun-Hye.

 “Ahhh …. Sayang sekali waktu sudah habis. Padahal aku masih ingin bersenang-senang dengan kalian. Baiklah, sampai jumpa lagi, Kim Eun-Hye.” Kyung-Ju melemparkan bom asap dan menghilang.

Tujuh pasukan NSS hendak mencari keberadaan Lee Kyung-Ju, tapi ditahan oleh Jung-Im. “Tidak ada gunanya mengejar lelaki itu sekarang. Kita harus menyelamatkan sandera terlebih dahulu.”

Jung-Im berjalan mendekati mereka bersama dengan dua lelaki yang juga anggota NSS. “Kau baik-baik saja?” tanya Jung-Im ketika melihat rambut Eun-Hye yang hanya sebahu. Perempuan itu tampak kacau dengan mata yang sembab.

Eun-Hye mengangguk. “Aku baik-baik saja, tapi bagaimana dengan dia?” Eun-Hye melirik Hyun-Shik yang terkapar. Napasnya tersenggal-senggal  dengan keringat yang bercucuran. Tampak lelaki  itu meringis beberapa kali, membuat perempuan itu khawatir.  

“Kau tidak perlu khawatir. Aku akan menanganinya,” ujar Jung-Im dengan senyuman lembut. Lelaki  itu memerintahkan bawahannya untuk membawa Hyun-Shik dan Eun-Hye ke dalam mobil, sedangkan ia sendiri menajamkan matanya, meneliti tiap sudut dan membayangkan kejadian yang sebenarnya. Kemudian ia tersenyum, mengeluarkan ponselnya, lalu memotret tempat itu termasuk  potongan rambut Eun-Hye yang berserakkan.

“Jujur saja aku terkejut perempuan itu menembakkan pistol pada lawannya,” gumamnya sambil berjalan menuju mobilnya.

[Bahasa Korea] Soju = Minuman keras

How do you feel about this chapter?

0 0 1 0 0 0
Submit A Comment
Comments (61)
  • sitimai21

    Wih gile. Mantep jiwa latar korea berbumbu misteri romance

    Comment on chapter Prolog
  • turinahrohibbah

    Duh gila. Keren banget ini mahhh

    Comment on chapter Prolog
  • maratus1234

    Wah, baru nemu nih cerita korea tapi ada unsur misterinya. KEREN

    Comment on chapter Prolog
  • Ahraahn221

    Huaa, gila. Keren banget. Berasa nonton drama korea ini maahhh

    Comment on chapter Prolog
  • Arrachung21

    Duh, inikah namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Hehe, aku suka banget ama ini ceritaaaaaaaa

    Comment on chapter Prolog
  • ReonA

    @kimmie912 Iya kak, makasih

    Comment on chapter Prolog
  • ReonA

    @Kangchi77 Iya, makasih kak

    Comment on chapter Prolog
  • ReonA

    @nananggg Makasih kak :)

    Comment on chapter Prolog
  • ReonA

    @AriffRahman Makasih kak :D

    Comment on chapter Prolog
  • AriffRahman

    Kereeeennnnnn keren banget ceritanya. Berasa nonton KMis. Korean mystery.

    Comment on chapter Prolog
Similar Tags
JUST A DREAM
1237      668     3     
Fantasy
Luna hanyalah seorang gadis periang biasa, ia sangat menyukai berbagai kisah romantis yang seringkali tersaji dalam berbagai dongeng seperti Cinderella, Putri Salju, Mermaid, Putri Tidur, Beauty and the Beast, dan berbagai cerita romantis lainnya. Namun alur dongeng tentunya tidaklah sama kenyataan, hal itu ia sadari tatkala mendapat kesempatan untuk berkunjung ke dunia dongeng seperti impiannya....
simbiosis Mutualisme seri 2
9498      2584     2     
Humor
Hari-hari Deni kembali ceria setelah mengetahui bahwa Dokter Meyda belum menikah, tetapi berita pernikahan yang sempat membuat Deni patah hati itu adalah pernikahan adik Dokter Meyda. Hingga Deni berkenalan dengan Kak Fifi, teman Dokter Meyda yang membuat kegiatan Bagi-bagi ilmu gratis di setiap libur panjang bersama ketiga temannya yang masih kuliah. Akhirnya Deni menawarkan diri membantu dalam ...
NADA DAN NYAWA
17257      3962     2     
Inspirational
Inspirasi dari 4 pemuda. Mereka berjuang mengejar sebuah impian. Mereka adalah Nathan, Rahman, Vanno dan Rafael. Mereka yang berbeda karakter, umur dan asal. Impian mempertemukan mereka dalam ikatan sebuah persahabatan. Mereka berusaha menundukkan dunia, karena mereka tak ingin tunduk terhadap dunia. Rintangan demi rintangan mereka akan hadapi. Menurut mereka menyerah hanya untuk orang-orang yan...
NI-NA-NO
1595      772     1     
Romance
Semua orang pasti punya cinta pertama yang susah dilupakan. Pun Gunawan Wibisono alias Nano, yang merasakan kerumitan hati pada Nina yang susah dia lupakan di akhir masa sekolah dasar. Akankah cinta pertama itu ikut tumbuh dewasa? Bisakah Nano menghentikan perasaan yang rumit itu?
Sekotor itukah Aku
464      363     4     
Romance
Dia Zahra Affianisha, Mereka memanggil nya dengan panggilan Zahra. Tak seperti namanya yang memiliki arti yang indah dan sebuah pengharapan, Zahra justru menjadi sebaliknya. Ia adalah gadis yang cantik, dengan tubuh sempurna dan kulit tubuh yang lembut menjadi perpaduan yang selalu membuat iri orang. Bahkan dengan keadaan fisik yang sempurna dan di tambah terlahir dari keluarga yang kaya sert...
Pertualangan Titin dan Opa
4179      1735     5     
Science Fiction
Titin, seorang gadis muda jenius yang dilarang omanya untuk mendekati hal-hal berbau sains. Larangan sang oma justru membuat rasa penasarannya memuncak. Suatu malam Titin menemukan hal tak terduga....
Pilihan Terbaik
5329      1749     9     
Romance
Kisah percintaan insan manusia yang terlihat saling mengasihi dan mencintai, saling membutuhkan satu sama lain, dan tak terpisahkan. Tapi tak ada yang pernah menyangka, bahwa di balik itu semua, ada hal yang yang tak terlihat dan tersembunyi selama ini.
My Universe 1
4830      1790     3     
Romance
Ini adalah kisah tentang dua sejoli Bintang dan Senja versiku.... Bintang, gadis polos yang hadir dalam kehidupan Senja, lelaki yang trauma akan sebuah hubungan dan menutup hatinya. Senja juga bermasalah dengan Embun, adik tiri yang begitu mencintainya.. Happy Reading :)
Melawan Tuhan
3251      1350     2     
Inspirational
Tenang tidak senang Senang tidak tenang Tenang senang Jadi tegang Tegang, jadi perang Namaku Raja, tapi nasibku tak seperti Raja dalam nyata. Hanya bisa bermimpi dalam keramaian kota. Hingga diriku mengerti arti cinta. Cinta yang mengajarkanku untuk tetap bisa bertahan dalam kerasnya hidup. Tanpa sedikit pun menolak cahaya yang mulai redup. Cinta datang tanpa apa apa Bukan datang...
Untouchable Boy
785      565     1     
Romance
Kikan Kenandria, penyuka bunga Lily dan Es krim rasa strawberry. Lebih sering dikenal dengan cewek cengeng di sekolahnya. Menurutnya menangis adalah cara Kikan mengungkapkan rasa sedih dan rasa bahagianya, selain itu hal-hal sepele juga bisa menjadi alasan mengapa Kikan menangis. Hal yang paling tidak disukai dari Kikan adalah saat seseorang yang disayanginya harus repot karena sifat cengengnya, ...