Part 14 : Scorsing
Walau kemungkinannya kecil, tetapi itu artinya masih ada peluang, kan?
Anjani berkali-kali mengatur nafas. Mencoba menghilangkan kegelisahnya saat ini. Ini pertama kali dia dipanggil ke ruang Konseling. Dan dia tidak mungkin meloloskan diri. Sudah tertangkap basah.
Pak Djoko melihat dengan mata kepala sendiri.
Anjani merokok.
Lebih tepatnya memegang rokok.
“Silahkan duduk.” Ucap Pak Djoko ketika melihat Anjani berdiri dihadapannya dengan raut ketakutan.
Khas anak-anak perempuan yang masuk ruang Konseling, takut. Takut dimarah, dihukum apalagi sampe dilaporkan orang tua.
“Jadi bisa kita diskusikan masalah ini sekarang?” Pak Djoko memulai percakapan, ketika muridnya sudah duduk rapih di kursi “tersangka”.
Itulah nama yang disematkan murid-murid pecinta ruang Konseling, untuk kursi yang ada dihadapan Pak Djoko. Kursi "tersangka".
Ketika ditanya alasannya, mereka bilang, coba dulu masuk ruang konseling dan duduk di kursi itu. Ntar juga tau alasannya.
“Maaf Pak, tapi mengapa saya dipanggil kesini?”
Baiklah, mari kita coba peruntungan. Siapa tau mengeles sedikit membuatnya bebas dari sini, setelah tertangkap basah. Walaupun kemungkinannya kecil, tetapi itu artinya masih ada peluang, kan?
“Memangnya aturan sekolah apa saja yang sudah kamu langgar belakangan waktu ini?”
Anjani diam. Khawatir jika membuka mulut, dia justru akan membuat posisinya semakin berbahaya.
“Bapak memberikan kamu waktu tiga menit untuk mengingat dan mengakui kesalahanmu.” Lanjut Pak Djoko. “Harusnya waktu tiga menit cukup untukmu. Kejadiannya baru saja berlalu, dan kamu belum terlihat tua untuk menjadi pikun.”
Anjani memaksa otaknya berkerja berkali-kali lipat. Mencari jawaban teraman untuk dirinya, Keyra dan Pak Djoko. Tidak melukai, membahayakan atau bahkan menyinggung salah satu dari ketiganya.
“Apakah menurut kamu merokok di sekolah dengan masih menggunakan seragam bukan suatu pelanggaran?”
Tiga menit berlalu. Berakhir dengan Anjani yang tidak menemukan jawaban terbaik. Beginilah nasib anak dengan otak pas-pasan.
Bahkan mencari ide licik untuk membela diri saja tidak bisa. Payah. SANGAT PAYAH!
“Perlihatkan apa yang kamu sembunyikan di tangan dan kantong seragammu.”
OK. Ini tandanya waktu kematiannya semakin dekat.
Siap-siap melambaikan bendera putih ke kamera.
Anjani mengeluarkan semua barang di kantongnya. Ponsel, duit, permen. Bahkan barang bukti, rokok, pun dia keluarkan.
“Apa bukti ini masih kurang?” Pak Djoko bertanya sarkastis. “Bahkan ketika saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Kamu mau bilang saya sudah tua, dan mata saya mulai rabun. Begitu Anjani?”
Nah kan, Pak Djoko mudah tersinggung.
Padahal Anjani tidak mengatakan hal itu. Beliau yang mengatakan, Beliau sendiri juga yang tersinggung. Ini artinya posisi Anjani akan semakin terancam.
Ish, manusia ribet sekali!
Jika tau itu menyakitinya, kenapa masih dilakukan?
Sayang sekali, kali ini Anjani tidak bisa mengutuk manusia. Karena dirinya masih masuk kategori homo sapiens, alias manusia.
“Bagaiamana Anjani?” Pak Djoko membuka suara.
“Itu bukan milik saya.”
“Lalu milik siapa?”
Anjani diam, tidak bisa menjawab. Tidak mungkinkan dia mengatakan rokok itu milik Keyra.
Jika sekarang dia mengoceh, membuka kebenaran, sia-sia saja usahanya untuk meyakinan Keyra.
Bukan apa-apa. Jika sekarang dia membuka mulut, sama saja dia melaporkan Keyra. Hal itu akan membuat teman-teman Keyra marah. Jika mereka marah dan membalaskan semuanya pada teman-teman Anjani, itu akan membuat mereka semua semakin berjarak.
Anjani tidak ingin itu terjadi. Kasian Tristan jika kelasnya semakin pecah. Heran deh, padahal lagi sakit hati pada Tristan, tapi Anjani masih saja memikirkan Tristan. Sifatnya yang tidak tegaan, membuatnya kesulitan sendiri.
Tak kunjung mendapat jawaban dari Anjani, Pak Djoko kembali mengulang pertanyaannya. “Saya ulangi sekali lagi pertanyaannya. Jadi ini milik siapa Anjani?”
Ah sebentar. Kembali membahas kursi “tersangka” sepertinya, sekarang Anjani paham mengapa dinamai sebagai kursi “tersangaka”.
Berhadapan dengan Pak Djoko layaknya berada dalam sebuah pengadilan. Dimana Pak Djoko akan bertindak sebagai hakim sekaligus jaksa penuntut umum. Dan “korban-nya” akan menjadi “tersangka”.
Dimana, setiap pertanyaan Pak Djoko selalu terasa “menyudutkan korban”. Hingga, tidak ada yang bisa diucapkan “korban-nya” untuk membela diri.
“ANJANI. Jawab Saya.”
“Saya tidak tahu Pak.” Jawab Anjani akhirnya.
“Tidak tau? Setelah berpikir begitu lama, bagaimana kamu hanya bisa mengatakan tidak tahu?” Marah Pak Djok pada Anjani. “Itu rokok ada di tanganmu, tapi kamu nggak tau punya siapa? Kamu ngambil tanpa izin gitu?” Serbu Pak Djoko semakin menyudutkan Anjani.
“Bapak tidak menyangka, sahabat murid terbaik Pembangunan, bisa merokok di sekolah.” Ujar pak Djoko di akhir rangkaian kemarahannya.
Disaat seperti ini, kenapa Pak Djoko harus menyangkut-pautkan Keiza. Dia dan Keiza tidak sama. Tidak bisa dibandingkan satu sama lain!
“Saya salah pak. Maafkan Saya.”
“Seperti yang kamu tahu, merokok di sekolah adalah pelanggaran yang cukup serius.” Pak Djoko meghirup udara sebelum melanjutkan kalimatnya. “Maka, dengan berat hati Bapak akan memberi scorsing selama seminggu.”
“Mulai senin besok hingga hari sabtu silahkan belajar di rumah. Kamu bisa kembali masuk hari Senin berikutnya. Untuk ulangan dan tugas yang tertinggal, silahkan komunikasikan dengan guru mata pelajaran secara pribadi.”
Pak Djoko mengeluarkan dua lembar surat. “Dan pastiin surat ini sampai ke orang tuamu.”
“Sekarang kamu boleh keluar.”
Anjani mengirup nafas lega, akhirnya dia keluar juga dari persidangan ini. Tapi kelegaannya hilang ketika mengingat surat yang ada di genggamannya.
Harus bagaimana ini?
lanacobalt














Kenapa aku sangat bodoh?! (pakai tanda tanya di depannya, Bung).
Comment on chapter Prolog