Awal mula bertatapan dengan lelaki bernama Radit, hanya penampilannya yang membekas jelas di ingatan Aya.
Entah itu caranya berpakaian yang acak-acakan, rokok yang senantiasa menemani, hingga perilakunya yang serampangan dan mengerikan.
Kalau bisa mengulang waktu, Aya pasti rela untuk kembali ke masa lalu demi mengubah takdirnya. Agar Aya tidak perlu mengenal Radit.
Tapi siapa sangka hubungannya dengan Radit ke depannya akan semakin menarik.
“Lo minta 500 ribu?” Aya mengernyitkan dahinya, merasa salah dengar. “Itu bukan uang jajan anak SMA.”
Radit menyeringai mendengar balasan Aya, dia berkacak pinggang selagi menatap tajam lawan bicaranya.
“Pasti si Lidia nyuruh lo buat maksa gue kerja di kafe, kan?” dengus Radit, dia memutar bola matanya dengan jengkel.
Betapa tidak sukanya Aya terhadap perilaku Radit yang mencibir kakaknya sendiri. Tapi apa boleh daya gadis itu tidak memiliki keberanian untuk menegur Radit.
“Jadi lo janji mau kerja asal gue kasih 500 ribu?” Aya menggigit bibir memikirkan kemungkinan itu, karena dia sendiri juga krisis uang.
“Janji deh.”
Gadis itu terdiam sejenak. Dalam hati dia berpikir apakah pantas dia melepas uang sebanyak itu hanya demi setengah gaji Lidia di bulan ini? Dipikir-pikir lagi Aya bahkan tidak tahu nominal gaji wanita itu biasanya.
“Kenapa, takut gue boong?”
Ketika Aya hendak mendongak untuk mengatakan tidak, wajah Radit langsung menyambutnya, membuat gadis itu menahan napas sejenak.
Melihat Aya yang gemetar ketakutan membuat Radit menahan tawa.
“Tenang, gue gak bakal nyakitin lo kok.” Radit pun menarik tubuhnya kembali, tertawa kecil melihat teror di wajah Aya. “Atau siapa pun.”
Merasa dipermainkan, Aya hendak pergi dari gang itu dengan perasaan takut bercampur ngeri.
Dia tidak bisa berduaan dengan Radit lebih lama lagi, anak nakal sepertinya pasti akan membawa dampak buruk padanya.
“Gue cuma butuh 500 ribu!” Langkah Aya terhenti ketika suara nelangsa Radit terdengar, tampak sedih. “Buat bantuin teman gue nih.”
“Temen lo emang kenapa?” tanya Aya, gadis itu mulai merasa simpati pada nada bicara Radit. Mungkin lelaki itu tidak seburuk penampilannya.
Aya mencoba memberinya kesempatan kedua.
Radit menghela napas selagi menyusuri rambutnya menggunakan tangan kanannya, tampak frustasi.
“Dia kerampokan semalem,” jelasnya dengan tampang putus asa. “Gue cuma mau bantu, lagi pula kita sama-sama untung kan, Ya?”
Mendengarnya membuat Aya berpikir dua kali untuk meminjamkan uangnya padanya. Toh Aya bisa membantu teman Radit sekaligus memintanya kerja di kafe.
“Oke, pas banget gue lagi megang uang.” Gadis itu dengan berat hati merogoh kantung celananya, mengeluarkan dompet bututnya demi menunjukkan lima kertas merah.
“Niatnya buat nabung, tapi mau gimana lagi.”
Dengan cepat Radit langsung merampas uang itu bagai pertama kali melihatnya.
Lelaki itu menghitung cepat uangnya, matanya berbinar ketika tahu uang itu pas 500 ribu rupiah.
“Makasih yo! Dah.” Tanpa aba-aba Radit sontak berlari melintasi Aya menuju luar gang, membawa kabur uangnya.
“Radit! Lo kan udah janji bakal kerja!.” Aya berteriak parau, tidak percaya sudah dikhianati.
“Gue cuma mau ngasih uangnya ke teman gue kok, dah!”
Dengan hati perih melihat Radit pergi membawa sisa-sisa uangnya, Aya hanya bisa diam meratapi nasibnya.
***
“Bagaimana kerjaannya?”
Aya menoleh dengan malas, kembali menyeruput kuah sup hangatnya dalam diam.
Menyadari kebisuan Aya, Farel menaruh perhatian penuh pada gadis itu. Makan malam sudah terhidang sejak sepuluh menit yang lalu namun Aya tetap terdiam seribu bahasa.
“Normal kok, gaada masalah.” Akhirnya Aya berkata, memecah hening.
Melihat gelagat Aya yang gelisah membuat Farel yakin telah terjadi sesuatu di kafe itu. Dia tidak ingin beban Aya bertambah sejak gadis itu melihat kondisi kritis Ayahnya sendiri.
“Kalo gitu, kabar tangan lo gimana?”
Aya menggeleng pelan sebagai tanggapan. “Gak sakit lagi, cuma ngilu.”
Farel mengangguk mendengarnya, lega karena kesembuhan tangan Aya terjadi dengan baik dan cepat.
“Kalo lo sama Lily gimana?” Aya melirik ke arah Farel, lelaki itu tersentak sesaat ketika mendengar pertanyaannya. “Baik?”
Melihat Farel yang berpikir sejenak membuat Aya khawatir telah terjadi sesuatu pada mereka.
Tapi Farel sungguh hebat dalam urusannya mengganti topik dan misterius.
“Gue denger Radit itu biang kerok,” ujarnya tuba-tiba, sedikit mengejutkan. “Gue sudah nyelidikin sekolah sama keluarganya, kacau semua.”
Aya mengerutkan dahinya. “Lo nyari tahu dia?”
“Sedikit.” Farel kembali menyeruput kuah supnya yang mendingin. “Lo penasaran?”
Tapi Aya tidak ingin berhubungan dengan Radit, jadi dengan tegas gadis itu menggeleng.
Farel menghormati keputusan Aya, dia pun mengangguk mengerti.
“Gue cuma mau bilang jangan deket-deket sama dia,” saran Farel selagi menatap tajam Aya, bagai memperingati Aya. “Percaya deh, dia kacau banget.”
Walaupun ingin berkata bahwa dia sudah tahu tentang hal itu, Aya memutuskan untuk diam.
Malam itu berlangsung dengan cepat. Sehabis makan malam mereka berselisih arah menuju kamar masing-masing.
Sungguh sejujurnya Aya ingin membicarakan perkara uangnya pada Farel. Tentang Radit yang dengan bodohnya dia percayakan dengan sisa-sisa tabungannya.
Tapi melihat reaksi Farel sebelumnya ketika tanpa sengaja membicarakan lelaki itu membuat Aya khawatir akan emosinya. Mungkin saja Farel akan mengamuk padanya selagi menjelaskan betapa bodohnya Aya itu.
Bahwa Radit tidak lain dari pembuat onar yang kacau.
Ada yang berkata jika kita tidak sebaiknya menilai buku dari penampilannya. Namun berhati-hati terhadap seseorang yang membuat kita tidak nyaman bukanlah suatu hal yang salah.
“Padahal besok minggu tapi gue harus kerja,” ucap Aya dengan senyum dipaksakan, yakin bahwa keadaan tidak akan menjadi lebih buruk lagi.
Tapi prediksi Aya salah total.
Hari minggu bermula dengan pagi yang cerah ditemani oleh semilir angin lembut ketika sarapan lezat Aya dan Farel dihidangkan.
Masakan Bi Maryam sungguh nikmat hari itu, Aya pertama kali dapat makan dengan lahap.
“Nanti selesai jam berapa, Ya?” tanya Farel di sela kunyahannya, penasaran.
Aya berpikir sejenak. “Mungkin jam 2-an, shift gue gak lama kok.”
Dengan itu berakhir sudah percakapan pagi mereka yang terlewat singkat. Setelahnya Aya segera diantar Farel menuju kafe dan diturunkan dengan pesan untuk berhati-hati.
Aya kadang berpikir bahwa kehadiran Farel layaknya menggantikan posisi Ibunya yang bawel.
“Aya! Jangan bilang hari ini Radit gak bakal dateng juga,” ujar Lidia tiba-tiba ketika Aya membuka daun pintu, membuat gadis itu terkejut. “Cih, dasar!”
Walaupun sudah dijelaskan berkali-kali bahwa usaha Aya mengajak Radit bekerja gagal dengan menyedihkan, entah kenapa Lidia tetap berharap lelaki itu akan datang.
“Dia udah minjem duit, dibawa kabur pula!” Lidia menepuk kepalanya, tidak mengerti lagi dengan kelakuan Radit. “Gila ya tuh anak.”
Hingga tamu pertama datang pun Lidia tetap mengeluhkan tabiat buruk Radit.
“Udah gitu tadi malem dia gak pulang!” protesnya selagi menghela napas panjang. “Bener-bener seharian gue gak ngeliat dia.”
“Temen-temennya gimana?”
Maka hari itu menjadi sangat melelahkan untuk mental dan fisik Aya. Sudah cukup lelah bagi gadis itu untuk bekerja menyajikan makanan hanya dengan satu tangan, Lidia menambahnya dengan celotehannya sepanjang hari.
Meskipun berniat menghentikannya, Pak Rio selaku orang yang sudah lama mengenal wanita itu meminta Aya untuk meladeninya dengan sabar.
“Udah mau jam dua aja ya!” seru Lidia ketika asyik mengelap sisa-sisa makanan di salah satu meja. “Cepet gara-gara cerita-cerita kali ya.”
“Mungkin.”
Wanita itu dengan sigap menyelesaikan pekerjaannya dan beralih mengantarkan dua nampan makanan menuju pelanggan mereka.
Terkadang Aya takjub menyaksikan etos kerjanya, sungguh berkebalikan dengan Radit.
“Aya! Ada tamu nih.” Suara Pak Rio membuat kepala Aya tertoleh. “Cowok.”
Dengan cepat Aya menyajikan pesanan pelanggannya setelah mengira-ngira siapa yang mengunjunginya.
“Farel?”
Lelaki itu tersenyum ketika melihat Aya. “Gue mau jemput nih, sekalian ngajak nonton abis ini mumpung libur.”
“Makasih.” Aya mengangguk dengan senang. “Tapi kenapa gak sama Lily aja?”
“Itu-“
BRAK!
Tiba-tiba tanpa siapa pun sadari terdapat empat orang pria berbadan besar mendobrak masuk kafe melalui pintu. Didorongnya kuat hingga pegangannya copot, membuat Lidia teriak kesal.
Namun yang membuat mata Aya membelalak bukanlah fakta bahwa terdapat empat orang yang memaksa masuk dengan dramatis.
Radit yang berada di salah satu tangan pria itu sungguh mengejutkan. Dalam keadaan babak belur lebih tepatnya, tampak pipi dan matanya biru akibat tonjokkan.
“Siapa wali anak sialan ini!” Teriak pria berbadan paling besar, dia menunjuk Radit yang berada di salah satu pengawasan temannya dengan marah.
Tidak ada satu pun yang berkata saking terkejutnya. Bahkan para pelanggan terpana memandang situasi pelik itu.
“A-ada apa ya?” ucap Lidia takut-takut.
“SI SIALAN INI BERHUTANG 10 JUTA!”
To be continue~
Makasih banyak ya yang udh baca sampai sini.
Maaf banget kalo update nya lama banget
Jangan lupa ninggalin jejak ya!
Awal bca lgsg tertarik
Comment on chapter Hidup yang Membosankan:D