Loading...
Logo TinLit
Read Story - ONLINE, TAPI TERASA JAUH
MENU
About Us  

ONLINE, TAPI TERASA JAUH

Karya Dari: Yoga Setiawan

Awalnya, mereka hanyalah dua orang asing yang saling melihat unggahan satu sama lain di media sosial.

 

Tidak ada yang istimewa. Tidak ada perkenalan yang direncanakan. Hanya sebuah balasan sederhana pada story yang kemudian berubah menjadi percakapan panjang.

 

“Bagus fotonya.”

 

Pesan itu sederhana.

 

Tapi dari pesan sederhana itulah semuanya bermula.

 

Awalnya mereka hanya berbicara tentang hal-hal kecil. Tentang sekolah, makanan yang mereka suka, lagu yang sedang sering didengarkan, sampai cerita-cerita random yang sebenarnya tidak terlalu penting.

 

Anehnya, percakapan mereka tidak pernah terasa membosankan.

 

Hari demi hari berlalu.

 

Pesan yang awalnya hanya sesekali berubah menjadi kebiasaan. Setiap pagi selalu ada ucapan sederhana.

 

“Morning.”

 

Kemudian siang diisi dengan cerita tentang aktivitas masing-masing. Dan ketika malam tiba, mereka kembali berbicara sampai salah satu dari mereka mulai mengantuk.

 

“Udah ngantuk?”

 

“Dikit.”

 

“Tidur sana.”

 

“Kamu juga.”

 

“Bentar lagi.”

 

Padahal mereka sama-sama tahu, “bentar lagi” itu biasanya berarti percakapan mereka masih akan berlangsung satu atau dua jam lagi.

 

Tanpa sadar, mereka mulai saling menunggu.

 

Menunggu pesan masuk.

 

Menunggu seseorang online.

 

Menunggu cerita kecil tentang bagaimana hari mereka berjalan.

 

Sampai akhirnya, kehadiran satu sama lain terasa seperti bagian dari keseharian.

 

Beberapa bulan kemudian, hubungan mereka berubah.

 

Bukan lagi sekadar dua orang yang sering berbicara.

 

Mereka memutuskan untuk bersama.

 

Sederhana saja.

 

Tidak ada perayaan besar. Tidak ada sesuatu yang mewah.

 

Hanya sebuah percakapan panjang pada malam hari dan sebuah kalimat yang membuat keduanya tersenyum di balik layar.

 

“Aku mau sama kamu.”

 

Sejak saat itu, semuanya terasa lebih indah.

 

Setidaknya untuk sementara.

 

Masalahnya hanya satu.

 

Mereka tinggal di kota yang berbeda.

 

Awalnya jarak bukan sesuatu yang mereka takutkan.

 

Mereka percaya bahwa selama masih bisa berbicara, semuanya akan baik-baik saja.

 

“Jarak doang.”

 

“Kita kan masih bisa chat.”

 

“Kalau kangen tinggal telepon.”

 

Mereka pernah mengatakan hal-hal seperti itu.

 

Dan saat itu, mereka benar-benar percaya.

 

Namun semakin lama hubungan berjalan, mereka mulai memahami bahwa jarak ternyata bukan hanya tentang kilometer.

 

Jarak adalah ketika seseorang sedang membutuhkan pelukan, tetapi yang bisa diberikan hanya pesan singkat.

 

Jarak adalah ketika ingin bertemu, tetapi harus menunggu waktu yang tepat.

 

Jarak adalah ketika rindu datang pada malam hari, sementara orang yang dirindukan berada jauh di tempat yang tidak bisa didatangi begitu saja.

 

Mereka tetap bertahan.

 

Setidaknya mereka mencoba.

 

Sampai suatu hari, semuanya mulai berubah.

 

Tidak ada kejadian besar.

 

Tidak ada pertengkaran yang tiba-tiba.

 

Hanya perubahan kecil yang perlahan terasa semakin jelas.

 

Pesan yang dulu panjang mulai menjadi pendek.

 

Yang biasanya membalas dengan cepat, sekarang membutuhkan waktu berjam-jam.

 

Dulu mereka selalu punya cerita untuk dibagikan.

 

Sekarang, percakapan sering berakhir hanya dengan satu kata.

 

“Iya.”

 

“Oke.”

 

“Hehe.”

 

“Yaudah.”

 

Awalnya ia mencoba memahami.

 

“Mungkin dia lagi sibuk.”

 

Begitu pikirnya.

 

Besoknya dia kembali mencoba berpikir positif.

 

“Mungkin lagi capek.”

 

Namun semakin sering hal itu terjadi, semakin sulit baginya untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

 

Ia masih mengirim pesan seperti biasa.

 

Masih bertanya apakah dia sudah makan.

 

Masih mengingatkan untuk istirahat.

 

Masih menunggu ucapan selamat malam.

 

Tetapi perlahan ia merasa seperti sedang berbicara sendirian.

 

Ia tidak ingin menuntut.

 

Ia hanya ingin mendapatkan kembali seseorang yang dulu selalu membuatnya merasa begitu dekat.

 

Malam itu menjadi salah satu malam yang paling ia ingat.

 

Kamar sudah gelap.

 

Hanya cahaya layar ponsel yang menerangi wajahnya.

 

Ia membuka aplikasi pesan.

 

Tidak ada pesan baru.

 

Kemudian ia melihat sesuatu.

 

Online.

 

Ia terdiam.

 

Kalau memang sedang online, kenapa pesannya belum dibalas?

 

Ia mencoba menunggu.

 

Lima menit.

 

Sepuluh menit.

 

Dua puluh menit.

 

Tetap tidak ada balasan.

 

Entah kenapa, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalanya.

 

Apakah dia sudah tidak peduli?

 

Apakah perasaannya sudah berubah?

 

Atau mungkin selama ini hanya dirinya yang masih berusaha mempertahankan semuanya?

 

Tangannya mulai mengetik.

 

“Kamu masih sayang aku?”

 

Ia menatap kalimat itu cukup lama.

 

Jempolnya berhenti di atas tombol kirim.

 

Ada begitu banyak hal yang sebenarnya ingin ia tanyakan.

 

Tetapi pada akhirnya, ia takut dengan jawabannya sendiri.

 

Pesan itu kemudian dihapus.

 

Layar kembali kosong.

 

Ia meletakkan ponselnya di samping bantal.

 

Mencoba tidur.

 

Namun malam itu, pikirannya justru semakin ramai.

 

Beberapa hari kemudian, semuanya akhirnya meledak.

 

Pertengkaran yang selama ini tertahan keluar begitu saja.

 

“Aku cuma pengen kamu kayak dulu.”

 

Pesan itu terkirim.

 

Ia menunggu.

 

Beberapa saat kemudian, balasan muncul.

 

“Aku juga bingung.”

 

“Bingung kenapa?”

 

“Aku capek.”

 

Kalimat itu membuatnya terdiam.

 

Bukan karena marah.

 

Tetapi karena untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa mungkin bukan hanya dirinya yang sedang berjuang.

 

Mereka sama-sama lelah.

 

Ia lelah menunggu.

 

Dia lelah menghadapi perasaannya sendiri.

 

Mereka masih saling menyayangi, tetapi percakapan yang dulu menjadi tempat paling nyaman kini justru sering berubah menjadi sumber pertengkaran.

 

Malam itu mereka berbicara panjang.

 

Tentang perubahan.

 

Tentang jarak.

 

Tentang rasa kecewa.

 

Tentang hal-hal yang selama ini mereka simpan sendiri.

 

Tidak ada yang benar-benar menang dalam percakapan itu.

 

Karena pada akhirnya, mereka berdua sama-sama terluka.

 

Kemudian datanglah sebuah kalimat yang paling mereka takutkan.

 

“Kayaknya kita istirahat dulu.”

 

Ia membaca pesan itu berkali-kali.

 

Seolah dengan membacanya berulang kali, kalimat tersebut akan berubah.

 

Namun tidak.

 

Tetap sama.

 

Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya membalas.

 

“Kalau itu yang bikin kamu bahagia… iya.”

 

Hanya itu.

 

Tidak ada pertanyaan.

 

Tidak ada permintaan untuk bertahan.

 

Tidak ada kalimat “jangan pergi”.

 

Padahal sebenarnya, ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan.

 

Ia ingin berkata bahwa ia masih sayang.

 

Ia ingin berkata bahwa ia masih ingin memperbaiki semuanya.

 

Ia ingin meminta satu kesempatan lagi.

 

Tetapi pada akhirnya, ia hanya memilih diam.

 

Karena terkadang, mencintai seseorang juga berarti menerima keputusan yang paling tidak ingin kita dengar.

 

Malam itu, hubungan mereka berakhir.

 

Bukan karena sudah tidak ada rasa.

 

Tetapi karena mereka sudah tidak tahu bagaimana cara membuat rasa itu tetap hidup.

 

Hari-hari setelahnya terasa aneh.

 

Ponselnya masih ada.

 

Aplikasi pesan masih sama.

 

Kamar masih sama.

 

Rutinitasnya juga masih sama.

 

Namun ada satu hal yang hilang.

 

Seseorang yang dulu selalu ada di dalam layar.

 

Ia beberapa kali membuka percakapan lama.

 

Membaca kembali pesan-pesan mereka.

 

Pesan tentang hal-hal kecil.

 

Ucapan selamat pagi.

 

Cerita tentang hari yang melelahkan.

 

Candaan yang dulu membuat mereka tertawa.

 

Bahkan pertengkaran-pertengkaran kecil yang saat itu terasa menyebalkan.

 

Kini semuanya terasa seperti kenangan.

 

Percakapan yang dulu berada di bagian paling atas perlahan tenggelam oleh pesan-pesan lain.

 

Tetapi ia tidak menghapusnya.

 

Ia membiarkannya tetap tersimpan.

 

Karena terkadang, seseorang tidak benar-benar ingin melupakan.

 

Ia hanya ingin belajar menerima bahwa sesuatu yang pernah membuatnya bahagia memang sudah menjadi bagian dari masa lalu.

 

Beberapa waktu kemudian, ia melihat profilnya.

 

Ada sesuatu yang berbeda.

 

Foto profilnya berubah.

 

Foto baru.

 

Foto yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

 

Ia hanya menatap layar beberapa detik.

 

Tidak ada rasa marah.

 

Tidak ada pertanyaan.

 

Hanya ada satu kesadaran sederhana.

 

Dia sudah mulai menjalani hidupnya lagi.

 

Tanpa dirinya.

 

Mungkin dia juga pernah menangis.

 

Mungkin dia juga pernah merindukan.

 

Mungkin sesekali dia masih membuka percakapan lama.

 

Tetapi sekarang, dia sudah belajar untuk tidak menunggu.

 

Dan saat itulah ia mengerti sesuatu.

 

Selama ini ia mengira hal paling menyakitkan dari hubungan jarak jauh adalah tidak bisa bertemu.

 

Ternyata bukan.

 

Yang paling menyakitkan adalah ketika seseorang yang dulu selalu menunggumu…

 

akhirnya belajar hidup tanpa menunggumu.

 

Ia menutup ponselnya.

 

Tidak ada pesan yang dikirim.

 

Tidak ada panggilan yang dilakukan.

 

Hanya malam yang kembali sunyi.

 

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak lagi menunggu seseorang muncul dengan status online.

 

Karena terkadang, dua orang bisa sama-sama online…

 

tetapi terasa begitu jauh.

 

Yang paling menyakitkan dari LDR bukan jaraknya. Tapi ketika orang yang dulu selalu menunggumu… akhirnya belajar hidup tanpa menunggumu..,

 

Terimakasih,

Yoga Setiawan.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Bintang Sang Penjaga Cahaya
169      152     2     
Inspirational
Orang bilang, dia si penopang kehidupan. Orang bilang, dia si bahu yang kuat. Orang bilang, dialah pilar kokoh untuk rumah kecilnya. Bukan kah itu terdengar berlebihan walau nyatanya dia memanglah simbol kekuatan?
She's (Not) Afraid
2359      1199     3     
Romance
Ada banyak alasan kecil mengapa hal-hal besar terjadi. Tidak semua dapat dijelaskan. Hidup mengajari Kyla untuk tidak mengharapkan apa pun dari siapa pun. Lalu, kehadiran Val membuat hidupnya menjadi lebih mudah. Kyla dan Val dipertemukan ketika luka terjarak oleh waktu. Namun, kehadiran Sega mengembalikan semua masalah yang tak terselesaikan ke tempat semula. Dan ketika kebohongan ikut b...
Dimensi Kupu-kupu
16142      3886     4     
Romance
Katakanlah Raras adalah remaja yang tidak punya cita-cita, memangnya hal apa yang akan dia lakukan ke depan selain mengikuti alur kehidupan? Usaha? Sudah. Tapi hanya gagal yang dia dapat. Hingga Raras bertemu Arja, laki-laki perfeksionis yang selalu mengaitkan tujuan hidup Raras dengan kematian.
Rewrite
12466      4851     1     
Romance
Siapa yang menduga, Azkadina yang tomboy bisa bertekuk lutut pada pria sederhana macam Shafwan? Berawal dari pertemuan mereka yang penuh drama di rumah Sonya. Shafwan adalah guru dari keponakannya. Cinta yang bersemi, membuat Azkadina mengubah penampilan. Dia rela menutup kepalanya dengan selembar hijab, demi mendapatkan cinta dari Shafwan. Perempuan yang bukan tipe-nya itu membuat hidup Shafwa...
Monologue
10164      6672     1     
Romance
Anka dibuat kesal, hingga nyaris menyesal. Editor genre misteri-thriller dengan pengalaman lebih dari tiga tahun itu, tiba-tiba dipaksa menyunting genre yang paling ia hindari: romance remaja. Bukan hanya genre yang menjijikkan baginya, tapi juga kabar hilangnya editor sebelumnya. Tanpa alasan. Tanpa jejak. Lalu datanglah naskah dari genre menjijikkan itu, dengan nama penulis yang bahkan...
KSATRIA DAN PERI BIRU
231      196     0     
Fantasy
Aku masih berlari. Dan masih akan terus berlari untuk meninggalkan tempat ini. Tempat ini bukan duniaku. Mereka menyebutnya Whiteland. Aku berbeda dengan para siswa. Mereka tak mengenal lelah menghadapi rintangan, selalu patuh pada perintah alam semesta. Tapi tidak denganku. Lalu bagaimana bisa aku menghadapi Rick? Seorang ksatria tangguh yang tidak terkalahkan. Seorang pria yang tiba-tiba ...
Premium
Cinta (Puisi dan Semi Novel
30695      5164     2     
Romance
Sinopsis Naskah ‘CINTA’: Jika Anda akan memetik manfaat yang besar dan lebih mengenal bongkahan mutu manikam cinta, inilah tempatnya untuk memulai dengan penuh gairah. Cinta merupakan kunci kemenangan dari semua peperangan dalam batin terluhur Anda sendiri, hingga menjangkau bait kedamaian dan menerapkan kunci yang vital ini. Buku ‘Cinta’ ini adalah karya besar yang mutlak mewarnai tero...
Sang Pencari Ketenangan 5 - Arc Contradictive
0      0     0     
Inspirational
Menjelang pemilihan ketua OSIS, suasana sekolah futuristik semakin dipenuhi persaingan, perbedaan kepentingan, dan konflik antarfaksi. Di tengah situasi tersebut, Rafa mulai menyadari bahwa apa yang terlihat di permukaan tidak selalu sesuai dengan kenyataan di baliknya. Ketika para calon OSIS menawarkan gagasan dan strategi masing-masing, muncul pula rencana penerapan Sistem Hierarki yang meng...
Adelia's Memory
694      482     1     
Short Story
mengingat sesuatu tentunya ada yang buruk dan ada yang indah, sama, keduanya sulit untuk dilupakan tentunya mudah untuk diingat, jangankan diingat, terkadang ingatan-ingatan itu datang sendiri, bermain di kepala, di sela-sela pikirian. itulah yang Adel rasakan... apa yang ada di ingatan Adel?
Lebih dari Cinta Rahwana kepada Sinta
8852      4030     2     
Romance
Pernahkan mendengarkan kisah Ramayana? Jika pernah mendengarnya, cerita ini hampir memiliki kisah yang sama dengan romansa dua sejoli ini. Namun, bukan cerita Rama dan Sinta yang akan diceritakan. Namun keagungan cinta Rahwana kepada Sinta yang akan diulas dalam cerita ini. Betapa agung dan hormatnya Rahwana, raksasa yang merajai Alengka dengan segala kemewahan dan kekuasaannya yang luas. Raksas...