Loading...
Logo TinLit
Read Story - surat untuk diri sendiri sepuluh tahun lalu
MENU
About Us  

         Surat untuk Diri Sendiri Sepuluh Tahun Lalu

 

Rara menemukan buku itu secara tidak sengaja.

Sore itu hujan turun cukup deras. Ia sedang membereskan lemari lama di kamar ketika sebuah kotak kardus jatuh dari rak paling atas.

Bruk!

Beberapa benda berhamburan ke lantai.

Foto-foto lama.

Kartu ucapan.

Beberapa tiket yang sudah tidak jelas tanggalnya.

Dan sebuah buku bersampul cokelat yang sudut-sudutnya sudah mulai terlipat.

Rara mengambilnya.

Ia tidak langsung membukanya.

Ia hanya menatap sampul itu beberapa saat.

Ada sesuatu yang terasa familiar.

Kemudian ia tersenyum.

"Ya ampun..."

Itu buku harian miliknya.

Buku yang terakhir kali ia tulis lebih dari sepuluh tahun lalu.

 

Rara duduk di lantai.

Hujan masih terdengar dari luar jendela.

Ia membuka halaman pertama.

Tulisan tangannya sendiri menyambutnya.

Tulisan seorang perempuan berusia dua puluh lima tahun.

Tulisan yang jauh lebih rapi daripada tulisannya sekarang.

Mungkin karena waktu itu hidup masih terasa sederhana.

Atau mungkin karena saat itu ia masih percaya bahwa semua yang direncanakan akan terjadi tepat seperti yang diinginkan.

Ia mulai membaca.

 

---

 

25 tahun.

Hari ini aku memutuskan sesuatu.

Sepuluh tahun lagi, aku harus sudah punya rumah sendiri.

Aku harus punya pekerjaan yang bagus.

Aku harus bisa membantu Ibu.

Aku ingin punya tabungan.

Aku ingin jalan-jalan ke beberapa tempat yang selama ini cuma bisa kulihat dari foto.

 

Dan yang paling penting...

Aku ingin menjadi seseorang yang bisa kubanggakan.

Rara berhenti membaca.

Ia tertawa kecil.

"Ambisius sekali..."

Lalu ia membalik halaman.

Beberapa halaman berikutnya berisi cerita-cerita kecil.

Tentang pekerjaannya.

Tentang teman-temannya.

Tentang uang yang tidak pernah cukup.

Tentang impian membeli sesuatu yang akhirnya tidak jadi dibeli.

Tentang hari-hari ketika ia merasa sangat bahagia.

Dan tentang beberapa hari ketika ia menangis sendirian tanpa tahu harus bercerita kepada siapa.

Rara terus membaca.

Sampai akhirnya ia menemukan sebuah halaman yang membuat tangannya berhenti.

Di bagian atas tertulis:

Untuk Rara, umur 35 tahun.

Rara terdiam.

Ia bahkan lupa pernah menulisnya.

 

Perlahan ia mulai membaca.

 

---

 

Hai, Ra.

Kalau kamu membaca surat ini, berarti sepuluh tahun sudah berlalu.

Aku tidak tahu kamu sedang berada di mana ketika membaca ini.

Mungkin kamu sudah punya rumah.

Mungkin pekerjaanmu sudah bagus.

Mungkin kamu sudah punya banyak uang.

Mungkin kamu sudah bepergian ke tempat-tempat yang selama ini kita impikan.

Mungkin semuanya sudah sesuai rencana.

Tapi kalau ternyata tidak...

Tolong jangan merasa gagal.

Karena aku tahu kamu.

Aku tahu kamu akan berusaha sekuat tenaga.

Aku tahu kamu akan jatuh beberapa kali.

Aku tahu ada banyak hal yang mungkin tidak bisa kamu kendalikan.

Jadi kalau hidupmu tidak seperti yang kita bayangkan hari ini, jangan marah pada dirimu sendiri.

 

Kamu tidak gagal hanya karena rencana kita berubah.

Dan kalau ternyata kamu masih sering merasa takut...

Tidak apa-apa.

Kita memang tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi.

Tapi aku percaya kamu akan tetap berjalan.

Satu hal lagi.

Tolong jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.

Kamu sudah berusaha.

Terima kasih sudah bertahan sampai usia 35.

Aku bangga padamu.

Rara, 25 tahun.

 

---

 

Rara menutup buku itu.

Matanya mulai terasa panas.

Ia tertawa kecil sambil mengusap wajah.

"Dasar..."

Ia tidak menangis karena sedih.

Setidaknya bukan hanya karena sedih.

 

Ia menangis karena perempuan berusia dua puluh lima tahun itu ternyata mengenalnya lebih baik daripada yang ia kira.

Sepuluh tahun berlalu.

Dan hampir tidak ada yang berjalan sesuai rencana.

Rumah?

Ia masih tinggal di rumah yang sama.

Pekerjaan?

Ia pernah kehilangan pekerjaan yang sangat ia cintai.

Tabungan?

Ada, tetapi tidak sebanyak yang dulu ia bayangkan.

Perjalanan?

Sebagian besar masih menjadi daftar tempat yang belum sempat ia kunjungi.

Dan tentang menjadi seseorang yang bisa dibanggakan...

Entah kenapa bagian itu yang paling membuatnya sedih.

Selama bertahun-tahun Rara merasa dirinya tertinggal.

Melihat teman-temannya membeli rumah.

Melihat orang lain mendapatkan promosi.

Melihat seseorang menikah.

Melihat orang lain membuka usaha.

Sementara dirinya seperti berjalan di tempat.

 

Ia sering bertanya pada dirinya sendiri:

"Apa yang sebenarnya sudah aku capai?"

Pertanyaan itu selalu sulit dijawab.

Tetapi sore itu, setelah membaca surat dari dirinya sendiri sepuluh tahun lalu, Rara mencoba menjawabnya lagi.

Ia mengambil selembar kertas.

Menulis satu per satu.

Ia pernah membantu keluarganya.

Ia pernah bekerja meskipun berkali-kali merasa ingin menyerah.

Ia pernah bangun pagi ketika tubuhnya lelah.

Ia pernah tersenyum ketika sebenarnya ingin menangis.

Ia pernah memaafkan orang lain.

Ia pernah memaafkan dirinya sendiri.

Dan yang paling penting...

Ia masih ada di sini.

Masih hidup.

Masih mencoba.

Rara menatap daftar kecil itu.

Ternyata selama ini ia terlalu sibuk menghitung apa yang belum dimilikinya sampai lupa menghitung apa yang sudah berhasil dilewatinya.

 

---

 

Malam itu, Rara kembali membuka buku harian tersebut.

Ia mengambil pena.

Lalu menulis di bawah surat lama itu.

Untuk Rara, umur 25 tahun.

Hai.

Ternyata hidup kita tidak berjalan seperti yang kamu bayangkan.

Rumah belum ada.

Tabungan belum sebanyak yang kamu inginkan.

Banyak impian yang masih menjadi impian.

Kita juga ternyata tidak sehebat yang dulu kamu pikir.

Tapi kamu benar.

Aku tetap berjalan.

Aku memang jatuh beberapa kali.

Aku juga pernah ingin menyerah.

Tapi aku selalu bangun lagi.

Dan ternyata...

Itu sudah cukup.

Terima kasih sudah meninggalkan surat ini.

 

Aku hampir lupa bahwa dulu pernah ada seorang perempuan berusia 25 tahun yang percaya kepadaku.

Mulai sekarang, aku akan belajar percaya kepadanya juga.

Rara berhenti menulis.

Kemudian ia menambahkan satu kalimat terakhir.

Aku tidak akan meminta maaf karena hidup kita tidak sesuai rencana.

Ia tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa tidak sedang mengejar siapa pun.

Tidak mengejar usia.

Tidak mengejar pencapaian orang lain.

Tidak mengejar kehidupan yang seharusnya ia miliki.

Ia hanya sedang menjalani hidupnya sendiri.

Pelan-pelan.

Satu hari demi satu hari.

 

---

 

Sebelum tidur, Rara memasukkan kembali buku itu ke dalam kotak.

Namun kali ini ia tidak meletakkannya jauh di sudut lemari.

Ia menyimpannya di laci meja.

 

Di tempat yang mudah ditemukan.

Karena mungkin suatu hari nanti, ketika usianya empat puluh lima tahun, ia akan menemukan surat itu lagi.

Dan mungkin saat itu hidupnya masih belum sempurna.

Mungkin masih ada banyak hal yang belum tercapai.

Tetapi Rara berharap satu hal.

Semoga perempuan berusia empat puluh lima tahun nanti juga bisa tersenyum ketika membaca tulisan dirinya hari ini.

Semoga ia tidak terlalu sibuk menyesali apa yang belum dimiliki.

Semoga ia masih bisa berkata:

"Aku sudah berusaha."

Dan kalau suatu hari Rara kembali bertanya apakah hidupnya berhasil...

Ia tahu sekarang jawabannya.

Berhasil bukan berarti memiliki semua yang pernah direncanakan.

Kadang berhasil hanya berarti...

kita tetap menjadi diri sendiri meskipun hidup berkali-kali meminta kita menyerah.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
A Place To Remember
1134      724     5     
Short Story
Cerpen ini bercerita tentang kisah yang harus berakhir sebelum waktunya, tentang kehilangan, tentang perbedaan dunia, juga tentang perasaan yang sia-sia. Semoga kamu menyukai sepotong kisah ini.
Night Wanderers
20465      5285     45     
Mystery
Julie Stone merasa bahwa insomnia yang dideritanya tidak akan pernah bisa sembuh, dan mungkin ia akan segera menyusul kepergian kakaknya, Owen. Terkenal akan sikapnya yang masa bodoh dan memberontak, tidak ada satupun yang mau berteman dengannya, kecuali Billy, satu roh cowok yang hangat dan bersahabat, dan kakaknya yang masih berduka akan kepergiannya, Ben. Ketika Billy meminta bantuan Julie...
BigHope Company
272      252     1     
Short Story
Seharusnya, aku tahu bahwa aku dan dia tidak bisa bersama. Semesta membuatku terlalu jatuh dalam pesonanya yang bersinar layaknya cahaya di tengah-tengah kegelapan. Lantas, apakah perasaanku ini hanyalah sebuah kesalahan belaka? Apapun itu ... aku bahagia pernah menaruh rasa untukmu. Idolaku sekaligus Bosku.
Ramadan di zaman nabi
4602      2620     1     
Science Fiction
Dahulu kala ziyad adalah umat nabi Muhamad di zaman sekarang ini. Namun, dia mati dan ya begitulah.
The Truth They Lied About
1160      534     1     
Mystery
The Truth They Lied About is a profound, emotionally charged novel that uncovers the battles of a young woman named Lila, who is a daughter, hard worker, friend, and yet sufferer. When she died in her sleep from a long-ignored health and a deeper, unseen despair, her parents are left reeling with grief and the shocking discovery as a family. To her conservative, domineering father, Lila wa...
Untitled
507      290     0     
Romance
This story has deleted.
12 Kenangan Shilla
763      556     4     
Short Story
Cerita tentang Shilla di hari terakhir di masa sekolahnya. Mau tau tentang 12 kenangan Shilla pada masa sekolah? Simak cerita ini!
LUKA
3922      1566     4     
Romance
Aku menangis bersama rembulan digelapnya bumi yang menawan. Aku mengadu kepada Tuhan perihal garis hidup yang tak pernah sejalan dengan keinginan. Meratapi kekasihku yang merentangkan tangan kepada takdir yang siap merenggut kehidupan. Aku kehilangannya. Aku kehilangan kehidupanku. Berseteru dengan waktu karena kakiku kian tak berdaya dalam menopangnya. Takdir memang senang mempermain...
Alpha Romeo
150      129     0     
Romance
Dean kehilangan calon pengantinnya beberapa bulan sebelum pernikahan. Dean mengetahui bahwa Selina terlibat dalam kasus kematian Alana. Alana dan Selina mengalami kecelakaan di hari yang sama. Selina selamat dari kecelakaan tersebut, namun dia tidak mengingat apapun. Dean merasa terpukul dan berniat membalas dendam pada Selina yang merupakan tunangan dari sahabatnya, Nicholas. Tidak peduli deng...
Antara Rasa
2      2     1     
Mystery
P.S: Edisi buku cetak bisa Pre-Order via One Peach Bookstore (Shopee & Tokopedia). Tersedia juga di Google Play Books. Kunjungi blog penulis untuk informasi selengkapnya https://keeferd.wordpress.com/ Menjelang hari pertunangan, Athifa meratap sedih telah kehilangan kekasihnya yang tewas tertabrak mobil. Namun jiwa Rafli tetap hidup dan terperangkap di alam gaib. Sebelum Grim Reaper akan memba...