Loading...
Logo TinLit
Read Story - Menyulam Kenangan Dirumah Lama
MENU
About Us  

Ada satu sisi dinding di ruang tengah yang tidak pernah dicat ulang. Dinding itu tidak mulus. Ada bekas coretan krayon, goresan spidol, dan yang paling khas sidik jari berwarna-warni, membentuk semacam mural liar yang hanya dimengerti oleh tangan-tangan kecil yang dulu membuatnya.

Itulah dinding kenangan kami.

Dinding tempat aku dan Dira berekspresi bebas. Tempat di mana kami merasa menjadi seniman hebat, walaupun karya kami lebih mirip peta buta daripada lukisan. Dinding itu juga saksi saat Ibu menyerah untuk marah dan hanya berkata, “Nanti kalian bersihkan sendiri ya,” padahal ia tahu kami akan lupa dalam waktu dua menit.

Hari itu, aku berdiri di depan dinding itu lagi. Menyentuh bekas sidik jari yang warnanya sudah pudar. Tapi jejaknya masih terasa nyata, seperti tangan masa kecil yang menyapa dari balik waktu.

"Masih ada ya," kataku pelan.

Aku menatap bentuk jari kecil berwarna ungu, menempel di atas gambar matahari yang dibuat dari jari telunjukku sendiri. Dira menempelkan warna oranye di sekitarnya, katanya biar mataharinya tampak “ramai”. Tapi sebenarnya, kami cuma kehabisan warna kuning.

Di pojok bawah, ada tulisan “Keluarga Bahagia” yang kutulis dengan huruf miring-miring tak rata, lengkap dengan gambar rumah berasap dan dua anak yang kepalanya lebih besar dari tubuhnya.

Lucu, ya. Dulu kita percaya semua bisa digambarkan dengan dua warna dan bentuk sederhana. Siang itu, Ibu ikut duduk di kursi di dekat dinding. Ia membawa kain lap dan botol semprot berisi air.

“Mau kamu bersihin?” tanyanya.

Aku menggeleng cepat. “Enggak, Bu. Jangan. Ini... ini peninggalan sejarah kita.”

Ibu tertawa. “Ibu juga enggak tega sebenarnya. Tapi kadang suka malu kalau ada tamu. Dikiranya rumah kita belum selesai renovasi.”

Aku tersenyum. Lalu duduk di lantai, menatap dinding itu dari sudut pandang yang sama seperti waktu kecil dulu dari bawah, dengan kepala miring dan mata penuh imajinasi.

Aku masih bisa mengingat hari-hari kami membuat “lukisan jari” itu. Hari Minggu, hujan turun deras. Ayah sedang di luar kota. Kami dilarang main hujan, jadi kami bermain warna. Ibu menggelar koran di lantai, menumpahkan cat air ke piring plastik bekas tutup toples, dan kami mulai mencelupkan jari kami satu per satu.

Awalnya di kertas. Lalu merembet ke tembok. Awalnya ragu-ragu, lalu makin berani. Sampai akhirnya... ya, dinding itu seperti galeri mini kami. Kami menyebutnya Tembok Bahagia.

Aku mendekatkan wajah ke salah satu bagian dinding. Ada sidik jari Dira dengan warna biru, membentuk bentuk seperti hati yang tidak simetris. Di atasnya, ada bekas tumpahan cat yang dulu membuat kami panik dan mencoba menutupinya dengan gambar kupu-kupu yang justru membuatnya makin aneh.

“Lihat ini, Bu,” kataku. “Ini waktu Dira jatuhin cat, terus kita pura-pura itu ‘proyek seni’ biar gak dimarahi.”

Ibu tertawa. “Iya. Ibu tahu itu bohong. Tapi pura-pura percaya biar kalian bangga.”

Kami bertiga tertawa, seperti dulu, seperti sore hari itu, seperti saat semua hal masih bisa dibereskan dengan teh manis dan pisang goreng.

Dira datang kemudian. Ia menatap dinding itu, diam. Matanya tampak lembap. Ia menyentuh sidik jari yang katanya milik anaknya kini—karena ukurannya hampir sama.

“Kalau rumah ini dijual, aku gak mau bagian dinding ini hilang,” katanya.

Aku mengangguk. “Mungkin nanti kita bisa bikin bingkai besar, khusus untuk bagian ini.”

“Enggak usah,” jawab Dira. “Biar tetap di sini aja. Rumah ini... ya, tempat semua ini dimulai.”

Kami duduk bertiga, memandang dinding yang sekarang tak hanya jadi tempat kami menggambar, tapi juga jadi tempat kami mengingat. Karena ternyata, yang paling sering kita lupakan bukan hal besar, tapi hal kecil yang dulu kita anggap biasa. Bekas tangan kecil itu... seperti pelukan dari masa lalu. Menyentuhnya seperti memeluk versi kita yang belum tahu dunia bisa menyakitkan, belum tahu bahwa rumah suatu hari bisa kehilangan suara tawa anak-anak.

Kami mengobrol lama di sana. Membahas bentuk-bentuk aneh yang kami gambar, membicarakan soal krayon yang patah, tentang bau cat yang menempel di kuku selama tiga hari. Dan kami tertawa, tertawa seperti dulu.

Malam harinya, aku kembali ke dinding itu sendiri. Lampu redup, bayangan lukisan jari itu terlihat samar, seolah mereka bergerak pelan mengikuti suara malam.

Aku menyentuh salah satu sidik jariku yang lama. Lalu, dengan pelan, kubisikkan:

“Terima kasih sudah tetap di sini,

meski waktu berlalu,

meski kita tumbuh,

meski tak ada lagi tangan kecil

yang melukis dengan riang.”

Aku menulis di catatan kecilku malam itu:

“Tembok itu tidak hanya menahan atap.

Ia menahan tawa,

juga kenangan yang tak bisa kita simpan di lemari.”

Dan sebelum tidur, aku berjanji:

Suatu hari nanti, anak-anakku akan kutunjukkan tembok ini. Biar mereka tahu, rumah lama ini pernah menjadi galeri kebahagiaan dua anak kecil yang percaya bahwa cinta bisa berbentuk sidik jari warna-warni.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • juliartidewi

    Mengingatkanku pada kebaikan2 ortu setelah selama ini hanya mengingat kejelekan2 mereka aja.

    Comment on chapter Bab 15: Boneka Tanpa Mata
Similar Tags
Anikala
6374      2576     3     
Romance
Kala lelah terus berjuang, tapi tidak pernah dihargai. Kala lelah harus jadi anak yang dituntut harapan orang tua Kala lelah tidak pernah mendapat dukungan Dan ia lelah harus bersaing dengan saudaranya sendiri Jika Bunda membanggakan Aksa dan Ayah menyayangi Ara. Lantas siapa yang membanggakan dan menyanggi Kala? Tidak ada yang tersisa. Ya tentu dirinya sendiri. Seharusnya begitu. Na...
Surat untuk Tahun 2001
8057      3879     2     
Romance
Seorang anak perempuan pertama bernama Salli, bermaksud ingin mengubah masa depan yang terjadi pada keluarganya. Untuk itu ia berupaya mengirimkan surat-surat menembus waktu menuju masa lalu melalui sebuah kotak pos merah. Sesuai rumor yang ia dengar surat-surat itu akan menuju tahun yang diinginkan pengirim surat. Isi surat berisi tentang perjalanan hidup dan harapannya. Salli tak meng...
Neighbours.
3771      1430     3     
Romance
Leslie dan Noah merupakan dua orang yang sangat berbeda. Dua orang yang saling membenci satu sama lain, tetapi mereka harus tinggal berdekatan. Namun nyatanya, takdir memutuskan hal yang lain dan lebih indah.
My world is full wounds
569      420     1     
Short Story
Cerita yang mengisahkan seorang gadis cantik yang harus ikhlas menerima kenyataan bahwa kakinya didiagnosa lumpuh total yang membuatnya harus duduk di kursi roda selamanya. Ia juga ditinggalkan oleh Ayahnya untuk selamanya. Hidup serba berkecukupan namun tidak membuatnya bahagia sama sekali karena justru satu satunya orang yang ia miliki sibuk dengan dunia bisnisnya. Seorang gadis cantik yang hid...
Finding My Way
3826      2637     3     
Inspirational
Medina benci Mama! Padahal Mama tunawicara, tapi sikapnya yang otoriter seolah mampu menghancurkan dunia. Mama juga membuat Papa pergi, menjadikan rumah tidak lagi pantas disebut tempat berpulang melainkan neraka. Belum lagi aturan-aturan konyol yang Mama terapkan, entah apa ada yang lebih buruk darinya. Benarkah demikian?
Get Your Dream !
326      258     1     
Short Story
It's my dream !! so, i should get it !!
Kakak
1582      879     1     
Inspirational
Fatih seorang anak yang lahir dikeluarga biasa, yang dibesarkan oleh Mama dan Tante Danum. Namun, suatu ketika ia harus ditinggal oleh Mama dan Tante Danum karena suatu hal yang Fatih sendiri tidak tahu apa, ia tidak menerima penjelasan yang layak. Untungnya selama ditinggal Fatih ditemani seorang lelaki bernama Nala, yang merupakan Guru BK disekolahnya. Awalnya Fatih tidak suka dengan keberadaan...
MALAM TANPA PAGI
593      446     0     
Short Story
Pernahkah kalian membayangkan bertemu malam tanpa pagi yang menyapa? Apakah itu hal yang buruk atau mungkin hal yang baik? Seperti halnya anak kucing dan manusia yang menjalani hidup dengan langkah yang berat. Mereka tak tahu bagaimana kehidupannya esok. Namun, mereka akan menemukan tempat yang pantas bagi mereka. Itu pasti!
Because Love Un Expected
35      32     0     
Romance
Terkadang perpisahan datang bukan sebagai bentuk ujian dari Tuhan. Tetapi, perpisahan bisa jadi datang sebagai bentuk hadiah agar kamu lebih menghargai dirimu sendiri.
NADA DAN NYAWA
17172      3905     2     
Inspirational
Inspirasi dari 4 pemuda. Mereka berjuang mengejar sebuah impian. Mereka adalah Nathan, Rahman, Vanno dan Rafael. Mereka yang berbeda karakter, umur dan asal. Impian mempertemukan mereka dalam ikatan sebuah persahabatan. Mereka berusaha menundukkan dunia, karena mereka tak ingin tunduk terhadap dunia. Rintangan demi rintangan mereka akan hadapi. Menurut mereka menyerah hanya untuk orang-orang yan...