Loading...
Logo TinLit
Read Story - To the Bone S2
MENU
About Us  

Kata yang Tak Pernah Terucap

 

Langit sore Los Angeles tampak sendu. Di dalam apartemen yang hangat, Nafa duduk di ujung sofa dengan tangan meremas-remas jemarinya sendiri. Zac baru saja menyelesaikan pekerjaannya, dan kini mereka duduk berhadapan dalam keheningan yang berbeda dari biasanya.

 

 

> “Zac,” suara Nafa nyaris bergetar. “Aku ingin bicara… serius.”

 

 

Zac memandangnya dengan sorot mata yang waspada.

 

 

 

> “Aku dengarkan.”

 

 

Nafa menarik napas dalam, lalu menatap Zac dengan mata berkaca.

 

 

> “Aku... ingin bertemu Christian. Satu kali saja. Aku tidak sedang bimbang, Zac. Aku tidak akan memilih dia. Aku hanya… butuh menyelesaikan sesuatu yang tertinggal di masa lalu.”

 

 

 

 

Zac diam. Matanya berkedip lambat.

 

 

 

> “Apa kau masih mencintainya?”

 

 

 

 

> “Bagian dari diriku akan selalu… mencintainya,” jawab Nafa jujur. “Tapi seluruh hatiku memilihmu. Aku menikah denganmu bukan karena pelarian. Tapi karena kau rumahku. Dan Reagan… dia alasan hidupku.”

 

 

 

 

 

 

 

Zac memejamkan mata sejenak.

 

 

 

> “Lalu kenapa kau harus menemuinya?”

 

 

 

 

 

> “Karena aku tidak ingin hidup dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terjawab. Aku ingin mengucapkan... selamat tinggal. Dengan benar. Dengan utuh. Supaya aku bisa menutup lembaran itu dan tidak membawanya diam-diam di hatiku.”

 

 

 

 

 

 

 

Zac menatap Nafa. Hatinya perih, tapi ia juga tahu: cinta tidak selalu tentang kepemilikan mutlak, tapi tentang kejujuran.

 

 

 

> “Apa kau yakin itu tak akan membuka luka baru?”

 

 

 

 

Nafa mengangguk pelan.

 

 

 

> “Justru karena aku yakin. Luka itu sudah ada, Zac. Aku hanya ingin menjahitnya. Bukan mengorek.”

 

 

Zac berdiri, lalu menghampiri Nafa. Ia duduk di sampingnya, menggenggam tangan istrinya dengan tenang.

 

> “Pergilah. Katakan semua yang perlu dikatakan. Tapi saat kau pulang… aku ingin tahu kau benar-benar kembali. Sepenuhnya.”

 

 

 

Air mata mengalir di pipi Nafa.

 

 

 

> “Aku akan kembali. Bukan hanya ragaku, tapi seluruh aku. Karena meskipun aku pernah mencintai Christian dengan seluruh hidupku… aku memilih kamu untuk masa depan yang ingin kujalani.”

 

 

 

 

Zac menunduk, mencium kening istrinya.

 

 

 

> “Hati-hati, Nafa.”

 

 

> “And Zac…” suara Nafa bergetar. “Andai waktu bisa diputar, mungkin ceritanya akan lain. Tapi sekarang… aku hanya ingin menutup bab itu dengan cara yang benar.”

 

 

Selamat Tinggal, Tanpa Dendam

 

Senja menumpahkan cahaya emas ke permukaan pantai. Ombak bergulung pelan, seperti tahu bahwa ini adalah akhir dari sebuah kisah yang pernah begitu membara.

 

Christian duduk di atas batu besar menghadap laut, mengenakan hoodie abu-abu dan celana jeans lusuh. Tatapannya kosong, namun dalam. Mendengar langkah kaki mendekat dari belakang, ia tidak menoleh. Tapi entah bagaimana, ia tahu itu Nafa.

 

> “Hai,” suara lembut itu menyapa.

 

Christian berdiri perlahan dan menoleh. Nafasnya tercekat ketika melihat Nafa berdiri hanya beberapa meter darinya, mengenakan gaun putih sederhana dan syal cokelat yang dulu pernah ia hadiahkan.

 

> “Kau datang,” gumamnya.

 

 

> “Aku harus,” jawab Nafa lirih. “Ada hal yang belum selesai.”

 

 

 

Keduanya berdiri dalam diam cukup lama, hanya ditemani suara laut.

 

> “Aku mencarimu selama lima tahun,” ucap Christian akhirnya. “Setiap hari… aku berharap bisa lihatmu lagi. Mendengar suaramu. Sekadar memastikan kamu baik-baik saja.”

 

 

 

Nafa tersenyum sendu.

 

> “Aku baik. Aku… bahagia, Chris.”

 

 

 

Christian menunduk.

 

> “Dengan dia?”

 

 

 

> “Dengan hidupku sekarang,” jawab Nafa pelan. “Dengan anakku. Dengan Zac. Tapi… kamu adalah bagian dari hidupku yang tidak bisa aku hapus. Aku tidak ingin menghapusmu.”

 

 

 

> “Lalu kenapa terasa seperti aku dilupakan?”

 

 

 

> “Karena dunia memaksaku melupakan,” mata Nafa mulai berkaca. “Aku koma. Aku dibawa ke Amerika. Semua orang mengira kamu… meninggal.”

 

 

 

Christian menarik napas panjang.

 

> “Aku tahu. Aku seharusnya mencarimu lebih cepat. Tapi waktu itu aku… hancur.”

 

 

 

Nafa melangkah mendekat.

 

> “Kita tidak salah, Chris. Kita hanya… salah waktu. Salah takdir. Tapi cintamu, bukan sesuatu yang ingin aku lupakan. Aku hanya ingin menyimpannya. Di tempat yang tidak mengganggu langkahku ke depan.”

 

 

 

Christian menatap mata Nafa, yang dulu selalu membuatnya merasa pulang.

 

> “Kau bahagia?”

 

 

> “Ya,” Nafa mengangguk. “Dan aku ingin kau juga bahagia. Tanpa aku.”

 

 

 

Air mata jatuh di pipi Christian, cepat ia seka dengan punggung tangan.

 

> “Aku pikir… aku akan marah. Tapi nyatanya, aku hanya ingin kau baik-baik saja.”

 

 

 

> “Aku minta maaf karena tidak bisa memilihmu,” ucap Nafa nyaris berbisik. “Tapi aku berterima kasih karena pernah mencintaiku begitu dalam.”

 

 

 

Christian tersenyum, tipis tapi tulus.

 

> “Dan aku akan selalu mencintaimu… cukup dari jauh.”

 

 

 

Keduanya saling memandang untuk terakhir kali, dalam diam yang mengandung berjuta kata.

Langit senja membias jingga ke permukaan laut. Ombak berkejaran pelan, seolah tak ingin mengganggu dua jiwa yang saling diam di bawah langit yang nyaris menangis.

 

Christian menatap wajah Nafa dalam hening. Di matanya, ada ribuan kata yang tak sempat tertulis, dan ratusan tanya yang tak lagi butuh jawaban.

 

> “Nafa…” suaranya serak. “Bolehkah aku… memelukmu? Untuk yang terakhir kalinya.”

 

 

 

Nafa menatap matanya. Ada keraguan, ada luka, tapi juga ada pengertian yang dalam.

 

Ia mengangguk pelan.

 

Christian melangkah maju, ragu sejenak, lalu memeluk Nafa dalam diam. Pelukan itu bukan milik sepasang kekasih yang akan bersama, tapi dua jiwa yang pernah saling menggenggam begitu erat, dan kini harus merelakan.

 

Nafa memejamkan mata di dadanya. Detak jantung Christian masih sama — tenang dan hangat. Aroma kulitnya masih membangkitkan rindu yang pernah membakar dunia mereka.

 

> “Terima kasih pernah mencintaiku sebegitu tulusnya,” bisik Nafa.

 

 

 

> “Dan terima kasih karena pernah jadi segalanya,” jawab Christian lirih.

 

 

 

Beberapa detik yang terasa seperti seumur hidup… sebelum akhirnya pelukan itu dilepaskan.

 

Nafa menatapnya sekali lagi, lalu mundur perlahan.

 

> “Selamat tinggal, Chris.”

 

 

 

Christian mengangguk.

 

> “Sampai kita bertemu lagi. Di tempat yang tak lagi melukai.”

 

 

 

Nafa berbalik dan berjalan menjauh.

 

Christian menatap punggungnya yang menjauh, dan saat itu… air matanya jatuh. Tapi kali ini, bukan karena kehilangan. Tapi karena ia tahu, cinta yang sesungguhnya… adalah melepaskan, bukan menggenggam.

 

Dan pelukan terakhir itu… akan ia simpan sebagai pengingat bahwa pernah, ia dicintai dengan sungguh-sungguh.

 

Janji yang Ditepati

 

Dari balik pepohonan, Zac berdiri diam.

 

Angin laut menerpa wajahnya, membawa serta suara samar dari dua orang yang tak lagi menjadi sepasang kekasih… tapi masih saling memiliki ruang di dalam hati.

 

Zac melihat bagaimana Christian memeluk Nafa, pelan dan penuh perasaan. Ia melihat bagaimana istrinya memejamkan mata di dada pria itu — bukan dengan pengkhianatan, tapi dengan rasa pamit yang menyakitkan.

 

Dan meski hatinya terasa ditarik ke ribuan arah, Zac tidak melangkah maju.

 

Ia menepati janjinya sendiri.

 

> "Aku tidak akan pernah memaksa kamu untuk melupakan masa lalu. Aku hanya ingin jadi bagian dari masa depanmu."

 

 

 

Kalimat itu pernah ia ucapkan, suatu malam, saat Nafa masih mencoba berdamai dengan luka-luka lamanya. Dan kini, saat menyaksikan perpisahan itu, Zac tahu… ini bukan tentang siapa yang lebih dulu datang. Tapi siapa yang bersedia tinggal bahkan saat hati yang dicintainya retak oleh kenangan.

 

Saat Nafa berbalik dan berjalan menjauh dari Christian, Zac menoleh pergi, lebih dulu meninggalkan tempat itu.

 

Bukan karena kalah.

 

Tapi karena ia tahu, cinta bukan soal memenangkan hati yang dulu pernah hilang, melainkan soal keberanian untuk bertahan — bahkan ketika harus berbagi ruang dengan masa lalu.

 

Dan ketika Nafa kembali ke rumah nanti… ia akan menyambutnya. Bukan dengan pertanyaan. Tapi dengan pelukan.

 

Sebab Zac telah memilih: mencintai Nafa, sepenuhnya — dengan masa lalunya, dan dengan semua luka yang dibawanya.

 

 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
An Angel of Death
453      316     1     
Short Story
Apa kau pernah merasa terjebak dalam mimpi? Aku pernah. Dan jika kau membaca ini, itu artinya kau ikut terjebak bersamaku.
Rain, Maple, dan Senja
1105      695     3     
Short Story
Takdir mempertemukan Dean dengan Rain di bawah pohon maple dan indahnya langit senja. Takdir pula yang memisahkan mereka. Atau mungkin tidak?
Right Now I Love You
537      418     0     
Short Story
mulai sekarang belajarlah menyukaiku, aku akan membuatmu bahagia percayalah kepadaku.
Bittersweet My Betty La Fea
7373      2873     1     
Romance
Erin merupakan anak kelas Bahasa di suatu SMA negeri. Ia sering dirundung teman laki-lakinya karena penampilannya yang cupu mirip tokoh kutu buku, Betty La Fea. Terinspirasi dari buku perlawanan pada penjajah, membuat Erin mulai berani untuk melawan. Padahal, tanpa disadari Erin sendiri juga sering kali merundung orang-orang di sekitarnya karena tak bisa menahan emosi. Di satu sisi, Erin j...
A D I E U
2502      1105     4     
Romance
Kehilangan. Aku selalu saja terjebak masa lalu yang memuakkan. Perpisahan. Aku selalu saja menjadi korban dari permainan cinta. Hingga akhirnya selamat tinggal menjadi kata tersisa. Aku memutuskan untuk mematikan rasa.
Matahari untuk Kita
5857      2071     10     
Inspirational
Sebagai seorang anak pertama di keluarga sederhana, hidup dalam lingkungan masyarakat dengan standar kuno, bagi Hadi Ardian bekerja lebih utama daripada sekolah. Selama 17 tahun dia hidup, mimpinya hanya untuk orangtua dan adik-adiknya. Hadi selalu menjalani hidupnya yang keras itu tanpa keluhan, memendamnya seorang diri. Kisah ini juga menceritakan tentang sahabatnya yang bernama Jelita. Gadis c...
Deep End
229      203     0     
Inspirational
"Kamu bukan teka-teki yang harus dipecahkan, tapi cerita yang terus ditulis."
Konfigurasi Hati
1625      938     4     
Inspirational
Islamia hidup dalam dunia deret angka—rapi, logis, dan selalu peringkat satu. Namun kehadiran Zaryn, siswa pindahan santai yang justru menyalip semua prestasinya membuat dunia Islamia jungkir balik. Di antara tekanan, cemburu, dan ketertarikan yang tak bisa dijelaskan, Islamia belajar bahwa hidup tak bisa diselesaikan hanya dengan logika—karena hati pun punya rumusnya sendiri.
Call Kinna
9326      3327     1     
Romance
Bagi Sakalla Hanggra Tanubradja (Kalla), sahabatnya yang bernama Kinnanthi Anggun Prameswari (Kinna) tidak lebih dari cewek jadi-jadian, si tomboy yang galak nan sangar. Punya badan macem triplek yang nggak ada seksinya sama sekali walau umur sudah 26. Hobi ngiler. Bakat memasak nol besar. Jauh sekali dari kriteria istri idaman. Ibarat langit dan bumi: Kalla si cowok handsome, rich, most wante...
Unexpectedly Survived
763      643     0     
Inspirational
Namaku Echa, kependekan dari Namira Eccanthya. Kurang lebih 14 tahun lalu, aku divonis mengidap mental illness, tapi masih samar, karena dulu usiaku masih terlalu kecil untuk menerima itu semua, baru saja dinyatakan lulus SD dan sedang semangat-semangatnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Karenanya, psikiater pun ngga menyarankan ortu untuk ngasih tau semuanya ke aku secara gamblang. ...