Loading...
Logo TinLit
Read Story - Sosok Ayah
MENU
About Us  

13 Mei 2012

Namaku Luisa. Satu-satunya perempuan di keluargaku. Karena Ibu lebih memilih pria lain, beliau pergi meninggalkan kami. Aku, Ayah, dan tiga kakak laki-laki  Ngomong-ngomong, aku mau bercerita sedikit dengan kalian.

Semenjak Ibu pergi, Ayah menjadi semakin lemah. Bukan karena penyakit, tapi mental dan jiwanya benar-benar terpukul. Wanita yang selalu ia cintai dan kasihi, tiba-tiba memutuskan untuk pergi bersama pria lain. Aku dan kakak-kakakku tak kalah tersakiti. 

Semakin kuingat lagi, semakin besar lubang kecewa yang terbuka karena Ibu. Beliau dulunya adalah wanita yang ramah, baik, dan selalu memberikanku perhatian. Kini ia berubah, seakan-akan kami tidak pernah terikat oleh benang takdir. 

"Ayah, dua hari lagi adek berangkat kuliah ke luar kota," ujarku sembari menatap sosok Ayah yang sedang mengesap kopi kesukaannya. 

Beliau diam, seperti tidak terima dengan ucapanku barusan. Aku tahu Ayah pasti merasa berat. Kakak kedua dan ketigaku sedang menempuh sekolah di luar kota. Sedangkan kakak pertama sudah menikah dan tinggal di rumah bersama Ayah. 

"Dek, udah dibeli semua keperluan buat tinggal di sana?"

"Udah kayaknya. Kalo kurang, kan, nanti bisa minta Kakak aja yang beliin. Hehehe." Aku menatap Kak Jaya--kakak pertama--sembari mengumbar senyum lucu. Ia hanya mencebik dan berjalan melaluiku.

Aku melihat Ayah sedang menyirami tanaman di halaman depan. Wajahnya yang cukup berkeriput dan sudah sedikit kendur, masih terlihat indah. Terpaan sinar matahari membuatku tersenyum karena sosok Ayah menjadi lebih cerah. Dirinya berikali-kali tersenyum melihat tanaman yang disiramnya. Mungkin Ayah teringat akan Ibu. 

Dulu Ayah pernah bercerita, bahwa Ibu sangat menyukai tanaman hias. Sampai-sampai, setiap hari penting, Ayah selalu membelikan Ibu bunga yang berbeda dari sebelumnya. Kata Ayah, bukan karena pribadi Ibu yang menyukai bunga, tapi pribadi Ibu yang selalu bahagia menerima hadiah dari Ayah lah yang membuatnya jatuh cinta. 

Aku berjalan menghampiri Ayah. Pria itu kemudian berjalan melaluiku. Wajahnya kembali muram. 

Malamnya, aku mendapat telepon dari Ibu. Suara beliau sedikit serak. Atau, malahan sangat serak. Mungkin karena habis menangis semalaman.

"Gimana kuliahnya, dek?"

"Belum, Bu. In shaa Allah lusa baru pergi."

"Yang kuat ya, dek," ucap Ibu kemudian. Habis itu, suara tangisnya menjadi pecah. Selama kurang lebih lima belas menit, aku mendengar curahan hati Ibu. Beliau berbicara banyak soal Ayah. Batapa dia merindukan Ayah. Betapa dia ingin kembali memelukku. Dan betapa besar rasanya untuk membelai kembali kepala ketiga putranya. 

Aku sedih. Tapi air mata ini tidak ingin keluar sedikit pun.

Kak Jaya kemudian duduk di sampingku. Mulai mengusap-usap pelan puncak kepalaku. Berusaha menenangkan adik terkecilnya.

Sembari mendengar isakan Ibu, kulihat Ayah berdiri di pojok ruangan. Menunduk. Seperti beliau mengerti dan tahu apa yang sedang aku dan Ibu bicarakan. 

Ibu kangen Ayah. Begitupula Ayah. Setiap malam beliau selalu menyebut nama Ibu dan mendoakannya. Kalau aku tidak bisa tidur, Ayah menceritakan kisahnya dengan Ibu dulu. Setidaknya, aku bisa tidur karena Ibu dan masih akan selalu mengingatnya, walaupun hanya sebuah potongan kenangan yang kecil.

"Ibu, sudah dulu, ya. Luisa mau istirahat." 

"Iya, sayang. Salam untuk kalian semua. Doakan kita selalu, ya."

Aku mengangguk, walaupun Ibu tidak bisa melihatnya. Setelah itu mengucapkan salam, Ibu pun membalasnya. 

Usai telepon itu, aku kembali menatap pada pojokan. Sosok Ayah sudah tidak ada lagi di sana. Entah ke mana beliau pergi. 

Esok paginya, jantungku berdebar sangat kencang. Bukan karena apa, hanya saja, memikirkan besok aku harus meninggalkan rumah penuh kenangan ini dan tidak bisa melihat sosok Ayah lagi, membuatku gelisah. Bagaimana nantinya Ayah tanpa aku yang menjaga. Istri Kak Jaya saja untung-untung bisa pulang ke rumah sore hari. Wanita karir itu sangat sibuk, sampai-sampai Kak Jaya harus aku yang perhatiin kadang-kadang. 

Kak Luhan dan Kak Vio hari ini pulang, karena mereka mau jemput aku. Rencananya aku bakalan sekolah di daerah yang sama dengan mereka berdua. 

Suara keduanya mulai terdengar saling menebar tawa bersama Kak Jaya. Tapi aku tidak mendengar suara Ayah. Aku rasa Ayah sedang pergi membeli camilan untuk kami.

Aku tahu kebiasaan Ayah saat kami sedang berkumpul, beliau akan membelikan kami berbungkus-bungkus camilan yang kami sukai. Kemudian berbondong-bondong berlari pulang ke rumah agar kami tidak menunggu terlalu lama. Beliau selalu pergi diam-diam, tak ingin kami melarang dan menyuruhnya diam di rumah. 

"Adek tinggal tempat kita berdua aja. Masih ada sisa kamar satu. Sayang kalo nggak dipake."

Aku mengangguk, setuju dengan ajakan Kak Luhan.

"Buruan inget-inget apalagi yang kurang. Biar bisa Kakak beliin," tawar Kak Vio sambil mengiunyah sereal yang Kak Jaya buat.

Aku mengingat-ingat kembali. "Ah itu!"

Ketiga kakakku menatap kaget. Sedikit terkejut karena ucapanku yang tiba-tiba. 

"Jangan ngejutin lah dek. Jantungan nanti Kakak," omel Kak Luhan dengan wajah yang masih menyisakan keterkejutan.

"Maaf deh. Hehehe. Itu, kak. Kain yang sering Ayah pake udah dicuci belum?"

Ketiga Kakakku diam. "Udah," jawab Kak Jaya akhirnya.

Aku menghela napas lega. Kemudian berlari kecil menuju tempat di mana mereka biasa menyimpankan pakaian Ayah. Sebuah lemari tua. Saat kubuka, hanya ada beberapa potongan baju biasa. Tidak terlalu mewah. Motifnya pun tidak aneh-aneh. Itulah pakaian yang biasa Ayah kenakan. Sangat sederhana dan biasa. Beliau tidak pernah meminta lebih.

Di sudut atas lemari itu, ada dua baju yang sangat bagus dan bersih. Sedikit bau karena sepertinya tidak pernah dipakai lagi. Kuingat, kalau dua baju itu adalah benda istimewa yang Ayah miliki.

Sepasang baju kembar Ayah bilang, dulu mereka menabung untuk membeli baju itu. Tapi sampai sekarang, mereka belum pernah sama sekali memakainya. Mengingat Ibu adalah orang yang pemalu. Pernah sekali, dua kali dipakai, itupun saat di rumah. 

Aku kemudian mengambil kain yang biasa Ayah jadikan selimut. Kemudian membawanya menuju meja makan. Kulihat kedua Kakakku menatap sedih. 

"Kenapa?" tanyaku heran.

Terdengar suara hembusan angin menggesek ranting-ranting di samping rumah kami. Membuatku berjalan cepat menutup pintu. Takutnya udara di dalam semakin menjadi dingin. 

Saat berdiri di ambang pintu, aku melihat Ayah berlari sambil memarmerkan bungkusan yang berisi banyak makanan ringan. Senyumnya mengembang dengan lebar. Lalu aku melihat diriku mengejar Ayah, diiringi Kak Jaya, Kak Luhan, dan Kak Vio. Ada Ibu juga. Kami berlari lalu memasuki pekarangan dan duduk berselonjor. Dan Ayah mulai membagikan makanannya. 

"Ayah," rengekku lirih. Tapi Ayah tidak bisa mendengarku lagi. Ia tidak menatap padaku. Ia hanya berfokus pada lima orang yang ada di hadapannya. 

Kak Jaya menghampiriku dan memelukku dengan erat. 

"Dek Luisa. Kamu harus kuat. Kita bisa ngobatin penyakit kamu."

Di saat kata-kata itu terucap. Air mataku meleleh. Tangisku pecah. Berkali-kali aku panggil Ayah. Beliau tidak acuh. Aku memanggil namanya sampai suaraku parau. Aku rindu Ayah. 

Dan di hari terakhirku di rumah itu, merupakan saat-saat terakhir sosok Ayah muncul seakan-akan nyata.

---

16 Juli 2017

Aku kembali membaca tulisan pribadiku beberapa tahun silam. Rasanya sedih.

Mengingat saat itu mentalku sangat buruk.

Aku mendapati penyakit seperti yang Ayah derita. Delusi.

Baru kuingat lagi, bahwa dulu Ibu tidak menghianati kami. Beliau disuruh orangtuanya pindah karena penyakit Ayah semakin parah. Dan Ayah juga ingin begitu. Tak ingin merepotkan Ibu. 

Ayah meninggal seminggu sebelum tulisan itu kubuat. Membuat diriku yang baru saja ingin masuk universitas terguncang dan didiagnosis penyakit yang sama seperti Ayah.

Itulah kenapa sosok Ayah kerap kali terlihat secara nyata. 

Untungnya, Kakak-kakaku dan Ibu masih memberi semangat. Dan pada akhir 2016 kemarin, penyakit mentalku secara total sembuh. Aku melihat Ayah, tapi tidak seperti dulu. Dirinya hanya sebuah kenangan indah dalam pikiranku sekarang. Senyum hangatnya tetap terukir indah di diriku. 

Aku rindu Ayah. Selamanya dan akan selalu. 

Terima kasih, walau engkau sakit, tidak pernah sekalipun ingin melukai kami.

Luisa cinta Ayah. Begitu pula Kakak-kakak. Dan Ibu. 

Ayah, tetaplah bahagia.

 

How do you feel about this chapter?

1 0 0 3 1 3
Submit A Comment
Comments (2)
Similar Tags
Right Now I Love You
542      423     0     
Short Story
mulai sekarang belajarlah menyukaiku, aku akan membuatmu bahagia percayalah kepadaku.
Time Travel : Majapahit Empire
63012      8243     10     
Fantasy
Sarah adalah siswa SMA di surabaya. Dia sangat membenci pelajaran sejarah. Setiap ada pelajaran sejarah, dia selalu pergi ke kantin. Suatu hari saat sekolahnya mengadakan studi wisata di Trowulan, sarah kembali ke zaman kerajaan Majapahit 700 tahun yang lalu. Sarah bertemu dengan dyah nertaja, adik dari raja muda Hayam wuruk
5 Years 5 Hours 5 Minutes and 5 Seconds
754      585     0     
Short Story
Seseorang butuh waktu sekian tahun, sekian jam, sekian menit dan sekian detik untuk menyadari kehadiran cinta yang sesungguhnya
The Friends of Romeo and Juliet
23865      4708     3     
Romance
Freya dan Dilar bukan Romeo dan Juliet. Tapi hidup mereka serasa seperti kedua sejoli tragis dari masa lalu itu. Mereka tetanggaan, satu SMP, dan sekarang setelah masuk SMA, mereka akhirnya pacaran. Keluarga mereka akur, akur banget malah. Yang musuhan itu justru....sahabat mereka! Yuki tidak suka sikap semena-mena Hamka si Ketua OSIS. dan Hamka tidak suka Yuki yang dianggapnya sombong dan tid...
Good Art of Playing Feeling
482      370     1     
Short Story
Perkenalan York, seorang ahli farmasi Universitas Johns Hopskins, dengan Darren, seorang calon pewaris perusahaan internasional berbasis di Hongkong, membuka sebuah kisah cinta baru. Tanpa sepengetahuan Darren, York mempunyai sebuah ikrar setia yang diucapkan di depan mendiang ayahnya ketika masih hidup, yang akan menyeret Darren ke dalam nasib buruk. Bagaimana seharusnya mereka menjalin cinta...
ALIF
1919      984     1     
Romance
Yang paling pertama menegakkan diri diatas ketidakadilan
Si Mungil I Love You
661      410     2     
Humor
Decha gadis mungil yang terlahir sebagai anak tunggal. Ia selalu bermain dengan kakak beradik, tetangganya-Kak Chaka dan Choki-yang memiliki dua perbedaan, pertama, usia Kak Chaka terpaut tujuh tahun dengan Decha, sementara Choki sebayanya; kedua, dari cara memperlakukan Decha, Kak Chaka sangat baik, sementara Choki, entah kenapa lelaki itu selalu menyebalkan. "Impianku sangat sederhana, ...
KNITTED
1703      814     1     
Romance
Dara memimpikan Kintan, teman sekelasnya yang sedang koma di rumah sakit, saat Dara berpikir bahwa itu hanya bunga tidur, pada pagi hari Dara melihat Kintan dikelasnya, meminta pertolongannya.
Persinggahan Hati
2417      1065     1     
Romance
Pesan dibalik artikel Azkia, membuatnya bertanya - tanya. Pasalnya, pesan tersebut dibuat oleh pelaku yang telah merusak mading sekolahnya, sekaligus orang yang akan mengkhitbahnya kelak setelah ia lulus sekolah. Siapakah orang tersebut ? Dan mengakhiri CInta Diamnya pada Rifqi ?
Peri Hujan dan Sepucuk Mawar Merah
1172      747     9     
Short Story
Sobara adalah anak SMA yang sangat tampan. Suatu hari dia menerima sepucuk surat dari seseorang. Surat itu mengubah hidupnya terhadap keyakinan masa kanak-kanaknya yang dianggap baginya sungguh tidak masuk akal. Ikuti cerita pendek Peri Hujan dan Sepucuk Mawar Merah yang akan membuatmu yakin bahwa masa kanak-kanak adalah hal yang terindah.