Loading...
Logo TinLit
Read Story - Pulang Selalu Punya Cerita
MENU
About Us  

“Ayo cepet, nanti kehabisan sayur asem!”
Suara Ibu menggema dari dalam rumah. Masih pukul tujuh pagi, dan aku baru saja selesai menyikat gigi. Damar, dengan kaus lusuh dan rambut awut-awutan, sudah duduk di depan rumah sambil membawa kantong belanja anyaman plastik warna-warni.

“Kita ke Pasar Minggu, nih?” tanyaku sambil merapikan rambut.

“Kalau bukan Pasar Minggu, mana ada yang jual tempe yang rasanya kayak dulu?” jawab Ibu, sambil menggulung lengan bajunya. Wajahnya berseri-seri seperti mau pergi piknik, bukan ke pasar tradisional. Damar mengangguk setuju. “Selain itu, hanya di Pasar Minggu kamu bisa dapat bonus: kenangan masa kecil, gratis.”

Aku tertawa. Ya, memang. Pasar Minggu bukan cuma tempat belanja bagi kami—tapi semacam mesin waktu. Tempat semua hal terasa akrab, bau-bau khas yang mengaduk perut dan hati sekaligus, serta wajah-wajah ramah yang selalu seperti belum berubah dari sepuluh tahun lalu. Kami berangkat naik becak motor. Suara mesin yang berisik itu tak bisa mengalahkan suara hati yang mendadak ceria. Jalanan pagi masih sepi, embun masih menempel di dedaunan, dan langit sedikit mendung, tapi tidak menakutkan.

Begitu sampai di gerbang pasar, semuanya terasa langsung menyambut: aroma daun pisang basah, keringat penjual ayam, suara ibu-ibu menawar, dan denting sendok dari warung bubur.

“Bu Rini!” seru seseorang.

Ibu berhenti sejenak, lalu berbalik. Seorang perempuan setengah baya dengan celemek batik tergesa menghampiri. “Lama nggak kelihatan! Kirain udah pindah kota!”

Ibu tersenyum lebar. “Anak-anak lagi pulang. Sekalian nostalgia ke pasar,” katanya sambil melirikku dan Damar.

“Oh, ini to anak-anakmu? Udah gede, ya Allah!”
Kami hanya senyum-senyum canggung. Tapi hangat. Hangat seperti pelukan yang dikirim lewat mata.

Perjalanan kami menyusuri pasar dimulai dari kios sayur. Ibu selalu punya langganan. Seorang bapak tua dengan wajah keriput tapi senyum lebar, yang tahu cara memilih bayam terbaik tanpa harus ditanya. “Yang ini baru metik subuh tadi,” katanya sambil menyerahkan seikat bayam. “Nggak dikasih plastik ya, Bu Rini, biar nggak lembek.” Di tempat lain, kami beli tempe bungkus daun, tahu goreng hangat, sambal terasi yang bikin mata berkaca-kaca hanya dari aromanya. Dan tentu saja, kue-kue pasar yang berjajar manis seperti sedang saling memikat.

“Masih ada klepon, Bu?” tanya Ibu.

Penjual kue, Mbok Ijah, langsung tersenyum. “Khusus buat Bu Rini, saya sisihin tadi pagi!”

Aku menggeleng takjub. Ibu seperti selebriti di pasar ini. Semua kenal dia. Dan lebih dari itu—semua merindukannya.

Kami berhenti sejenak di pojok pasar, di dekat kios kelontong tua yang dulu sering jadi tempatku ngumpet dari Ibu karena nggak mau pulang.

“Dulu kamu suka ngambek di situ,” kata Ibu tiba-tiba sambil menunjuk kios itu.

Aku tertawa. “Gara-gara nggak dibeliin mainan?”

Ibu mengangguk. “Dan kamu duduk di situ dua jam, sampai akhirnya ketiduran.”

Damar ikut menimpali, “Waktu itu aku pulang sendiri dan bilang ke Ibu, ‘Kakak sudah saya tinggal di bawah rak deterjen.’”

Kami tertawa bersama. Bahkan pemilik kios yang mendengar kami ikut terkekeh. Pasar ini mungkin tak sebersih mal, tak seharum swalayan, atau sepraktis belanja daring, tapi di sinilah semua hal terasa nyata. Di sinilah kita mengingat bagaimana suara tawar-menawar bisa menjadi lagu, bagaimana harga bawang bisa jadi bahan diskusi nasional, dan bagaimana satu pasar bisa menyimpan beribu cerita keluarga. Setelah belanja selesai, kami duduk di warung kecil di ujung pasar. Ibu memesan teh hangat. Damar membeli es cendol. Aku sendiri cukup dengan air putih, karena perut sudah kenyang hanya dari mencium aroma makanan sejak masuk tadi. Seorang anak kecil lewat membawa balon. Aku menatapnya lama.

“Dulu aku juga sering minta balon kayak gitu ya, Bu?” tanyaku.

Ibu mengangguk. “Tiap minggu.”

“Dan Ibu selalu bilang, ‘Kalau kamu jaga balonnya sampai pulang, minggu depan dibeliin lagi.” Ibu tertawa. “Tapi hampir selalu kamu hilangin atau pecahin sebelum sampai rumah.”

Aku menatap meja, terdiam.

“Tapi Ibu tetap beliin minggu depannya...” aku berkata pelan.

Ibu hanya tersenyum. “Karena Ibu tahu, beberapa pelajaran hidup itu butuh diulang-ulang.”

Aku mengangguk. Rasanya kalimat itu bisa disimpan dalam hati untuk seumur hidup.

Saat matahari mulai tinggi, kami berjalan keluar pasar. Trotoar sempit, becek di beberapa tempat, tapi entah kenapa kami semua tak merasa lelah. “Kamu ingat dulu pernah jatuh di sini?” tanya Ibu sambil menunjuk pinggiran jalan.

Aku mengangguk. “Ingat. Aku nangis karena lutut berdarah, bukan karena sakit, tapi karena malu.” “Dan Ayahmu langsung bawa kamu ke tukang es mambo buat nenenin hatimu,” tambah Damar sambil tertawa.

Kami kembali tertawa.

Ya, pasar ini bukan hanya tempat belanja. Ini adalah album keluarga yang tidak tersusun dari foto-foto, melainkan dari bau, suara, dan kejadian-kejadian kecil yang ternyata tak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Sesampainya di rumah, Ibu segera menata hasil belanjaan di dapur. Damar menyalakan radio tua dan lagu lawas pun mengalun lembut dari sudut ruang tamu.

Aku duduk di serambi, membawa sepotong klepon dan secangkir teh. “Pasar Minggu masih seperti dulu,” kataku lirih, pada diriku sendiri. Tiba-tiba Ibu datang membawa bungkusan kecil.

“Ini,” katanya, menyerahkan sebungkus kecil kertas minyak berisi empat butir balon tiup warna-warni.

“Aku lihat di lapak dekat pintu keluar tadi. Ingat ini?”

Aku tersenyum lebar. Air mataku menetes sebelum sempat berkata apa-apa.
“Terima kasih, Bu.” “Kamu nggak harus tiup semua. Tapi... simpan satu buat kenangan,” kata Ibu sambil duduk di sebelahku. Kami diam beberapa saat. Tapi dalam diam itu, hati kami saling bicara, jauh lebih keras dari kata-kata. Hari itu, aku tidak hanya kembali ke Pasar Minggu—aku kembali pada diriku yang dulu. Anak kecil yang mudah menangis karena balonnya pecah. Anak yang selalu dibelikan lagi meski sudah berkali-kali gagal menjaga.

Dan hari itu, aku sadar: pulang tidak selalu soal jarak. Tapi tentang momen-momen kecil seperti ini, yang membawa kita kembali ke siapa diri kita sebenarnya.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
A D I E U
2507      1108     4     
Romance
Kehilangan. Aku selalu saja terjebak masa lalu yang memuakkan. Perpisahan. Aku selalu saja menjadi korban dari permainan cinta. Hingga akhirnya selamat tinggal menjadi kata tersisa. Aku memutuskan untuk mematikan rasa.
Petualangan Angin
464      390     2     
Fantasy
Cerita tentang seorang anak kecil yang bernama Angin. Dia menemukan sebuah jam tangan yang sakti. Dia dengan kekuatan yang berasal dari jam itu, akan menjadi sesuatu kekuatan yang luar biasa, untuk melawan musuhnya.
Renata Keyla
7329      1877     3     
Romance
[ON GOING] "Lo gak percaya sama gue?" "Kenapa gue harus percaya sama lo kalo lo cuma bisa omong kosong kaya gini! Gue benci sama lo, Vin!" "Lo benci gue?" "Iya, kenapa? Marah?!" "Lo bakalan nyesel udah ngomong kaya gitu ke gue, Natt." "Haruskah gue nyesel? Setelah lihat kelakuan asli lo yang kaya gini? Yang bisanya cuma ng...
Back To Mantan
685      464     0     
Romance
"kenapa lagi.."tanya seorang wanita berambut pendek ikal yang dari tadi sedang sibuk dengan gadgetnya. "kasih saran.."ujar wanita disebelahnya lalu kemudian duduk disamping wanita tadi. lalu wanita sebelahnya mengoleh kesebelah wanita yang duduk tadi dan mematikan gadgetnya. "mantan loe itu hanya masa lalu loe. jangan diingat ingat lagi.loe harus lupain. ngerti?&...
Blue Rose
353      296     1     
Romance
Selly Anandita mengambil resiko terlalu besar dengan mencintai Rey Atmaja. Faktanya jalinan kasih tidak bisa bertahan di atas pondasi kebohongan. "Mungkin selamanya kamu akan menganggapku buruk. Menjadi orang yang tak pantas kamu kenang. Tapi rasaku tak pernah berbohong." -Selly Anandita "Kamu seperti mawar biru, terlalu banyak menyimpan misteri. Nyatanya mendapatkan membuat ...
Istri Tengil Gus Abiyan
876      631     4     
Romance
Sebelum baca cerita author, yuk follow ig author : @Safira_elzira, tiktok: @Elzira29. Semua visual akan di poating di ig maupun tiktok. •••●●••• Bagaimana jadinya jika seorang gadis kota yang tiba-tiba mondok di kota Kediri jawa timur. Kehiudpan nya sangat bertolak belakang dengan keseharian nya di Jakarta. Baru 3 minggu tinggal di pesantren namun tiba-tiba putra pemilik kiayi m...
The Eternal Love
23852      4478     18     
Romance
Hazel Star, perempuan pilihan yang pergi ke masa depan lewat perantara novel fiksi "The Eternal Love". Dia terkejut setelah tiba-tiba bangun disebuat tempat asing dan juga mendapatkan suprise anniversary dari tokoh novel yang dibacanya didunia nyata, Zaidan Abriana. Hazel juga terkejut setelah tahu bahwa saat itu dia tengah berada ditahun 2022. Tak hanya itu, disana juga Hazel memili...
Bersyukurlah
535      395     1     
Short Story
"Bersyukurlah, karena Tuhan pasti akan mengirimkan orang-orang yang tulus mengasihimu."
Kyna X Faye
5190      1858     2     
Romance
Keiko Kyna adalah seorang gadis muda pemilik toko bunga. Masa lalu yang kelam telah membuat gadis itu menjauhi dunia keramaian dan segala pergaulan. Namun siapa sangka, gadis pendiam itu ternyata adalah seorang penulis novel terkenal dengan nama pena Faye. Faye sama sekali tak pernah mau dipublikasikan apa pun tentang dirinya, termasuk foto dan data pribadinya Namun ketika Kenzie Alcander, seo...
Yang Tertinggal dari Rika
10026      4115     11     
Mystery
YANG TERTINGGAL DARI RIKA Dulu, Rika tahu caranya bersuara. Ia tahu bagaimana menyampaikan isi hatinya. Tapi semuanya perlahan pudar sejak kehilangan sosok paling penting dalam hidupnya. Dalam waktu singkat, rumah yang dulu terasa hangat berubah jadi tempat yang membuatnya mengecil, diam, dan terlalu banyak mengalah. Kini, di usianya yang seharusnya menjadi masa pencarian jati diri, Rika ju...