Loading...
Logo TinLit
Read Story - Pulang Selalu Punya Cerita
MENU
About Us  

Seseorang pernah bilang: yang paling sulit dari pulang bukan perjalanannya, tapi menyapa mereka yang pernah kita tinggalkan. Dan ternyata, tidak semua yang kita tinggalkan, marah. Beberapa… justru menunggu. Diam-diam. Dengan senyum yang tetap mereka simpan di teras rumah. Pagi itu, Aluna memutuskan berjalan kaki ke warung Bu Narti. Bukan karena malas naik motor, tapi karena ingin melihat lagi gang-gang kecil yang dulu mengisi hari-harinya. Jalur sempit di antara pagar-pagar rumah yang dipenuhi pot gantung dan jemuran tetangga. Di sanalah dulu ia lari-larian sambil tertawa, naik sepeda mini warna pink, dan pernah jatuh tepat di depan rumah Pak Darto gara-gara digonggongi anjing kampung.

Semua terasa lebih kecil dari yang ia ingat. Seperti dunia yang dulu besar, kini mengecil karena waktu dan dewasa. Sampai di warung, Aluna berhenti sejenak. Bau tempe goreng, kopi hitam, dan mie rebus menyambutnya seperti teman lama. Warungnya masih sama. Kursi plastik merah, meja kayu yang agak goyah, dan Bu Narti yang—luar biasa sekali—masih setia memakai daster batik yang entah ada berapa versinya.

Bu Narti sedang menyapu halaman saat Aluna datang. Perempuan itu terdiam sebentar, memicingkan mata, lalu tertawa kecil.

“Ya Allah… ini Aluna, tho?! Astaga, tinggi banget sekarang. Wajahnya masih mirip, tapi sekarang udah kaya mbak-mbak sinetron!”

Aluna tertawa sambil menangkupkan tangan. “Masih inget, Bu?”

“Lho, piye to? Kamu itu dulu tiap sore main ke sini. Nyolong kerupuk mentah, terus ngumpet di belakang kulkas!”

Dua orang pembeli lain ikut menoleh. Salah satunya—Pak Darno, yang dulu kerja di kelurahan—langsung menepuk lutut sambil tergelak. “Oh iki cah wedok yang dulu nangis gara-gara dikejar ayam, to!”

Aluna hanya bisa mengangguk sambil tertawa malu. Tapi di balik tawa itu, dadanya terasa hangat. Seperti air yang akhirnya menemukan kembali bentuk gelas lamanya. Tidak ada penolakan. Tidak ada wajah kaku. Hanya tawa dan kenangan yang mengalir pelan-pelan.

Bu Narti menyeduh kopi untuk Aluna. “Duduk sini, Le. Cerita-cerita. Kamu kok lama banget gak pulang? Kabar Ibumu gimana?”

Aluna menceritakan semuanya. Tentang kuliah di luar kota, kerja serabutan, pindah-pindah kontrakan, dan akhirnya… rasa rindu yang tak tertahankan. Ia juga bercerita bahwa ibunya kini tinggal di rumah peninggalan kakek, merawat kebun kecil, dan lebih sering menulis jurnal harian di buku lusuh yang masih disimpan di lemari kayu tua.

“Kamu dulu cerewet banget, sekarang kok kalem ya,” komentar Bu Narti.

“Mungkin karena dunia sempat keras, Bu.”

Bu Narti tertawa kecil. “Memang dunia keras. Tapi pulang itu kadang bikin empuk hati.”

Obrolan mereka terhenti sejenak saat ada yang memanggil dari seberang jalan. Seorang perempuan, mengenakan kaus putih dan celana olahraga.

“LUNAAAA?!”

Aluna menoleh. Matanya melebar. “Mbak Ririn?!”

Perempuan itu langsung memeluk Aluna erat-erat. “Wah gila, ini anak ke mana aja? Kok nggak ada kabar-kabar?”

Mbak Ririn, tetangga depan rumah Aluna dulu, adalah sumber segala info di lingkungan mereka. Bukan bergosip, lebih seperti Google Maps-nya kampung. Mau cari tukang las, yang tahu Mbak Ririn. Mau tahu siapa yang barusan ribut suami-istri, ya dia juga.

“Aku pulang minggu lalu, Mbak,” jawab Aluna sambil nyengir.

“Ya Allah, dulu kamu kecil banget, suka main masak-masakan sama anakku yang sekarang malah kerja di luar kota juga. Sekarang udah jadi perempuan beneran, lho!”

“Tadinya boneka-boneka, sekarang mikirin BPJS, Mbak.”

Mereka tertawa bersama.

Hari itu berubah jadi reuni kecil. Orang-orang yang dulu Aluna kenal mulai muncul satu per satu. Pak Lurah lewat naik sepeda motor dan berhenti untuk salaman. Ibu Sulastri, yang jualan jajanan pasar, membawakan risol goreng sambil menyelipkan pesan, “Nanti mampir ya, aku punya foto kamu kecil nyemplung got!”

Di tengah semua kehangatan itu, Aluna sadar: meski ia pernah lama pergi, tempat ini… tidak benar-benar lupa padanya.

Setelah pamit dari warung, Aluna berjalan pelan menyusuri gang kecil. Banyak pintu pagar yang terbuka, bukan untuk mengusir, tapi menyambut. Ada senyum dari tetangga lama yang bahkan tak perlu berkata, tapi cukup dengan anggukan hangat untuk membuat Aluna tahu: kamu masih dianggap bagian dari sini.

Saat tiba di rumah, Aluna membuka jendela kamarnya yang menghadap ke halaman kecil. Ia melihat dua anak kecil sedang bermain di bawah pohon jambu.

“Aku jadi ingat aku sama Dimas dulu main kejar-kejaran di situ,” gumamnya.

Ibu, yang sedang menyiram tanaman, menoleh. “Iya. Kamu juga pernah marah karena Dimas nggak mau jadi ‘anak’ kamu saat main rumah-rumahan.”

Aluna tertawa. “Sekarang Dimas di mana sih, Bu?”

“Masih di kota. Katanya lagi sibuk ngurus cafe kecilnya. Nanti dia juga pasti pengin ketemu kamu.”

Ada keheningan sebentar. Lalu Ibu berkata, “Tadi Bu Narti ke sini. Dia cerita kamu mampir ke warung.”

Aluna mengangguk. “Iya. Aku… kaget. Mereka semua masih ingat aku, Bu.”

“Karena kamu meninggalkan jejak baik di sini. Anak-anak kecil mungkin lupa, tapi orang dewasa… selalu ingat anak yang sopan, yang suka bantu angkat galon, atau sekadar tersenyum saat lewat depan rumah.”

Aluna memeluk ibunya dari belakang. “Aku takut mereka marah karena aku terlalu lama pergi.” Ibu membalas pelukan itu. “Kalau yang kau tinggalkan adalah kebaikan, pulangmu akan selalu disambut. Meskipun senyumnya kadang terlambat, tapi percayalah, ia akan muncul.” Malamnya, Aluna duduk di halaman rumah. Ia menatap langit yang penuh bintang. Sesekali terdengar suara jangkrik, dan dari jauh, anak-anak kecil berteriak main petak umpet.

Ia membuka catatannya lagi. Lalu menulis:

Senyum tetangga lama mungkin bukan hal besar bagi dunia. Tapi bagiku, itu lebih dari cukup untuk menyembuhkan luka pulang yang sempat kutakutkan. Hari ini aku belajar: bahkan ketika kita berpikir dunia telah berubah dan lupa pada kita, ada beberapa wajah yang tetap menyimpan senyum, diam-diam menunggu kita kembali. Pulang bukan cuma soal rumah dan keluarga. Tapi tentang lingkungan yang dulu membesarkan kita. Tentang mereka yang pernah melihat kita jatuh dari sepeda, menangis karena kalah main petak umpet, dan tertawa karena kerupuk mentah. Tentang mereka yang menyambut kita bukan karena siapa kita sekarang, tapi karena siapa kita dulu.

Ia menutup bukunya, menghela napas pelan, dan tersenyum. Besok, ia berencana mengantar kue ke rumah Bu Narti. Hanya sebagai tanda terima kasih. Tapi lebih dari itu, sebagai tanda bahwa ia tidak akan terlalu lama pergi lagi. Sebab sekarang, ia tahu: senyum tetangga lama adalah salah satu hal terindah dari cerita pulang.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Glad to Meet You
346      271     0     
Fantasy
Rosser Glad Deman adalah seorang anak Yatim Piatu. Gadis berumur 18 tahun ini akan diambil alih oleh seorang Wanita bernama Stephanie Neil. Rosser akan memulai kehidupan barunya di London, Inggris. Rosser sebenarnya berharap untuk tidak diasuh oleh siapapun. Namun, dia juga punya harapan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Rosser merasakan hal-hal aneh saat dia tinggal bersama Stephanie...
Premium
Beauty Girl VS Smart Girl
15059      4486     30     
Inspirational
Terjadi perdebatan secara terus menerus membuat dua siswi populer di SMA Cakrawala harus bersaing untuk menunjukkan siapa yang paling terbaik di antara mereka berdua Freya yang populer karena kecantikannya dan Aqila yang populer karena prestasinya Gue tantang Lo untuk ngalahin nilai gue Okeh Siapa takut Tapi gue juga harus tantang lo untuk ikut ajang kecantikan seperti gue Okeh No problem F...
Sweet Like Bubble Gum
5526      3079     2     
Romance
Selama ini Sora tahu Rai bermain kucing-kucingan dengannya. Dengan Sora sebagai si pengejar dan Rai yang bersembunyi. Alasan Rai yang menjauh dan bersembunyi darinya adalah teka-teki yang harus segera dia pecahkan. Mendekati Rai adalah misinya agar Rai membuka mulut dan memberikan alasan mengapa bersembunyi dan menjauhinya. Rai begitu percaya diri bahwa dirinya tak akan pernah tertangkap oleh ...
Be My Girlfriend?
20255      4640     1     
Fan Fiction
DO KYUNGSOO FANFICTION Untuk kamu, Walaupun kita hidup di dunia yang berbeda, Walaupun kita tinggal di negara yang berbeda, Walaupun kau hanya seorang fans dan aku idolamu, Aku akan tetap mencintaimu. - DKS "Two people don't have to be together right now, In a month, Or in a year. If those two people are meant to be, Then they will be together, Somehow at sometime in life&q...
Aku Ibu Bipolar
101      93     1     
True Story
Indah Larasati, 30 tahun. Seorang penulis, ibu, istri, dan penyintas gangguan bipolar. Di balik namanya yang indah, tersimpan pergulatan batin yang penuh luka dan air mata. Hari-harinya dipenuhi amarah yang meledak tiba-tiba, lalu berubah menjadi tangis dan penyesalan yang mengguncang. Depresi menjadi teman akrab, sementara fase mania menjerumuskannya dalam euforia semu yang melelahkan. Namun...
Ketos pilihan
1121      806     0     
Romance
Pemilihan ketua osis adalah hal yang biasa dan wajar dilakukan setiap satu tahun sekali. Yang tidak wajar adalah ketika Aura berada diantara dua calon ketua osis yang beresiko menghancurkan hatinya karena rahasia dibaliknya. Ini kisah Aura, Alden dan Cena yang mencalonkan ketua osis. Namun, hanya satu pemenangnya. Siapa dia?
Who are You?
1578      768     9     
Science Fiction
Menjadi mahasiswa di Fakultas Kesehatan? Terdengar keren, tapi bagaimana jadinya jika tiba-tiba tanpa proses, pengetahuan, dan pengalaman, orang awam menangani kasus-kasus medis?
Mari Collab tanpa Jatuh Hati
5677      2382     2     
Romance
Saat seluruh kegiatan terbatas karena adanya virus yang menyebar bernama Covid-19, dari situlah ide-ide kreatif muncul ke permukaan. Ini sebenarnya kisah dua kubu pertemanan yang menjalin hubungan bisnis, namun terjebak dalam sebuah rasa yang dimunculkan oleh hati. Lalu, mampukah mereka tetap mempertahankan ikatan kolaborasi mereka? Ataukah justru lebih mementingkan percintaan?
HEARTBURN
434      326     2     
Romance
Mencintai seseorang dengan rentang usia tiga belas tahun, tidak menyurutkan Rania untuk tetap pada pilihannya. Di tengah keramaian, dia berdiri di paling belakang, menundukkan kepala dari wajah-wajah penuh penghakiman. Dada bergemuruh dan tangan bergetar. Rawa menggenang di pelupuk mata. Tapi, tidak, cinta tetap aman di sudut paling dalam. Dia meyakini itu. Cinta tidak mungkin salah. Ini hanya...
Anikala
6658      2622     3     
Romance
Kala lelah terus berjuang, tapi tidak pernah dihargai. Kala lelah harus jadi anak yang dituntut harapan orang tua Kala lelah tidak pernah mendapat dukungan Dan ia lelah harus bersaing dengan saudaranya sendiri Jika Bunda membanggakan Aksa dan Ayah menyayangi Ara. Lantas siapa yang membanggakan dan menyanggi Kala? Tidak ada yang tersisa. Ya tentu dirinya sendiri. Seharusnya begitu. Na...