Loading...
Logo TinLit
Read Story - The Call(er)
MENU
About Us  

Langit di atas dimensi manusia tampak retak. Seperti kaca yang digores perlahan-lahan. Lama kelamaan, retakan itu semakin menyebar dan bertambah. Benang-benang cinta yang dulu hanya berpendar lembut, kini bergetar tak stabil, seolah dunia mulai kehilangan keseimbangan.

Freya berdiri di balkon observasi Callindra, memegang selembar perintah resmi dari Raja Vergana Armushu. Angin malam menyapu rambutnya yang panjang, namun tubuhnya tetap kaku. Di tangannya, titah itu terasa lebih berat dari senjata apa pun.

Jika Raka menghalangi ..., hapus saja dia.

Matanya menutup perlahan, lalu terbuka kembali. Namun dalam pikirannya, bukan perintah itu yang menggaung. Melainkan suara dari masa lalu, yang seakan-akan terus terngiang-ngiang di telinganya. Kilasan adegan itu pun kembali membayang di pelupuk matanya.

"Kau percaya cinta bisa menyelamatkan dunia?" tanya Freya kecil sambil duduk di lantai pelatihan, tempat untuk menguji kekuatan.

Raka, yang lebih muda dan jauh lebih cerewet kala itu, mengangkat bahu. "Aku percaya cinta bisa menghancurkan dunia kalau salah pakai. Tapi, ya, ..., aku juga percaya cinta bisa jadi alasan kita bertahan."

Freya menghela napas. Seandainya saja ia bisa, ingin sekali Freya menampar wajah polos masa lalunya sendiri.

Hari itu, misi turun ke dunia manusia terasa berbeda. Ia ditemani dua pengawal dari unit penyeimbang, lengkap dengan alat pemutus benang. Targetnya: Delina dan Saka, dua siswa SMA Lazuardi Mandiri yang katanya memiliki pola benang "tidak biasa."

Begitu tiba di taman belakang sekolah, Freya melihat mereka duduk berdampingan di bangku kayu, tertawa sambil menggambar bersama.

"Hai, Delina, hallo Saka," sapa Freya seraya tersenyum seramah mungkin. Namun, suaranya terdengar cukup lantang untuk membuat sekumpulan burung yang bertengger di dahan pohon melompat kaget.

Pasangan itu menoleh. Saka refleks berdiri di depan Delina, memasang wajah seperti superhero yang sedang melindungi kekasihnya dari marabahaya.

"Kami tahu siapa kamu. Match Breaker, kan?"

Freya mengangkat satu alis. "Wow, ternyata aku populer juga rupanya."

Delina menggenggam tangan Saka. "Kami tak akan membiarkanmu memutuskan kami."

"Sebenarnya aku lebih suka memutus orang-orang yang ghosting sih, tapi... kerjaan ya kerjaan."

Seketika, benang biru keemasan di antara Delina dan Saka menyala tajam. Bentuknya spiral, bercahaya stabil.

"Ini ..., bukan sembarang ikatan. Ini mendekati soul convergence," bisik Freya seperti berbicara pada dirinya sendiri

Freya membuka alat pemutusnya. Namun, sebelum ia bergerak lebih jauh, sebuah suara lantang menginterupsi aksinya.

"Freya! Hentikan!"

Dari balik pintu, muncullah Raka. Napasnya tampak terengah-engah. Jaket cowok itu separuh terbuka, dan rambutnya sedikit berantakan.

"Kau datang terlalu cepat," gumam Freya, mencibir.

"Kau datang terlalu keras kepala," balas Raka sambil menyiapkan alur benang dari telapak tangannya. "Kalau kau nekat, aku akan melawanmu."

Freya menatapnya lama. "Jangan paksa aku, Raka."

"Kau tahu aku tidak suka dipaksa juga, kan?"

Pertarungan di antara keduanya pun dimulai. Tanah di sekitar mereka berguncang. Energi dari Freya meledak ke segala arah seperti pecahan kaca, tajam dan presisi. Sementara Raka menari di udara, mengendalikan benang dengan gerakan yang lebih mengalir. Seolah bukan menyerang, tapi mengajak berdialog.

"Kenapa kau bela mereka?!" teriak Freya sambil melompat mundur. "Kau tahu hubungan mereka bisa mengganggu aliran Fluvia!"

"Dan kau tahu sistem kita sudah lama rusak!" balas Raka. "Sejak kapan cinta harus diukur dengan grafik dan algoritma?!"

Satu benturan besar terjadi. Benang Freya menabrak perisai Raka, dan keduanya terpental. Freya tersungkur, lututnya berdarah.

Raka mendekat, tapi Freya menodongkan alat pemutus.

"Kau mencoba bergerak selangkah saja lagi, aku akan—"

"Apa? Memutusku juga?"

Freya terdiam. Dan saat itulah benang antara mereka memendar samar. Warna biru keperakan.

Ia menunduk. "Kenapa... kenapa benangnya seperti ini...?"

Raka tersenyum miris. "Mungkin karena kau mulai jujur dengan perasaanmu."

Saat itu pula, dari kejauhan, Delina dan Saka berlari ke arah mereka. Mata keduanya tampak berkaca-kaca.

"Kami tidak akan pergi! Kalau kalian ingin memutus kami, harus lewati kami dulu!"

Freya memandang mereka. Bukan dengan amarah, tapi dengan perasaan yang campur aduk. Batin yang tidak lagi bisa membedakan hitam dan putih.

Seketika suara khas Raja Vergana menggaung di pikirannya.

"Jika kau mencintainya, maka kau akan menjadi ancaman."

Tangan Freya terkulai. Alat pemutus jatuh ke tanah.

****

Malam itu, di markas Callindra, Freya duduk di cermin kamarnya. Rambut acak-acakan, baju sedikit terbakar di ujung lengan. ia tak berani pulang ke kosan karena tak ingin melibatkan Ratu Olivia untuk mencegah pertarungan antara ibu dan anak, alias Raja Vergana. Gadis itu membuka kotak rahasia di bawah lantainya. Di dalamnya, tersimpan sketsa lama, gambar dirinya dan Raka saat masih kecil. Di bagian bawah tertera sebuah tulisan yang membuat kepala Freya semakin berdenyut. 

Kalau dunia ini tak bisa menerima cinta, maka mari ciptakan dunia baru.

Sang match breaker yang dulu terkenal paling kuat dan kini tampak lemah itu pun tersenyum kecil. Ironis. Kilasan-kilasan masa lalu kembali berkelebatan dalam benak Freya, hingga ia tak menyadari akan kehadiran sesosok bayangan yang tiba-tiba saja muncul di balik cermin. Liora.

"Aku perhatikan, kau sudah beberapa kali gagal menjalankan misi, ya? Tumben, kau yang sekarang bukan seperti Freya yang kukenal dulu. Kau yang sekarang, rapuh," ujarnya sambil mengunyah permen, membuyarkan lamunan Freya.

Freya mengangguk pelan. "Liora ..., kalau kau di posisiku, kau akan memilih siapa? Cinta, atau kewajiban?"

Liora mengangkat bahu. "Aku? Aku pilih permen. Tapi, jujur, sih, aku lebih memilih yang bisa bikin aku tidur nyenyak malam ini. Turuti saja semua perintah Raja Vergana, maka kau akan aman."

Freya menatap pantulan dirinya. Ucapan Liora sedikit membuka pikirannya, hingga ia kini bisa memutuskan, langkah selanjutnya yang akan ia pilih.

Saat Freya bersiap tidur, ia membuka pesan masuk di alat komunikasinya.

[Pengirim: Unknown]
Freya. Kau harus tahu yang sebenarnya tentang Project Match Breaker. Raka bukan satu-satunya yang diincar. Kau juga.

Freya membeku. Hatinya pun kembali meragu, bersamaan dengan sebuah pesan dari Raja Vergana yang masuk ke ponselnya.

Target berikutnya: Arvin dan Kana.

"Lho, bukannya mereka bersaudara? Untuk apa aku memutus ikatan keluarga?" Dahi Freya berkerut, tak habis pikir dengan perintah Raja Vergana kali ini.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (3)
  • baskarasoebrata

    Menarik sekali

    Comment on chapter World Building dan Penokohan
  • warna senja

    Sepertinya Freya sedang mengalami quarter life crisise

    Comment on chapter Prolog
  • azrilgg

    Wah, seru, nih

    Comment on chapter Prolog
Similar Tags
Help Me Help You
6155      3210     56     
Inspirational
Dua rival akademik di sebuah sekolah menengah atas bergengsi, Aditya dan Vania, berebut beasiswa kampus ternama yang sama. Pasalnya, sekolah hanya dapat memberikan surat rekomendasi kepada satu siswa unggul saja. Kepala Sekolah pun memberikan proyek mustahil bagi Aditya dan Vania: barangsiapa dapat memastikan Bari lulus ujian nasional, dialah yang akan direkomendasikan. Siapa sangka proyek mus...
Promise
677      397     7     
Romance
Bercerita tentang Keyrania Regina. Cewek kelas duabelas yang baru saja putus dengan pacarnya. Namun semuanya tak sesuai harapannya. Ia diputus disaat kencan dan tanpa alasan yang jelas. Dan setelah itu, saat libur sekolah telah selesai, ia otomatis akan bertemu mantannya karena mereka satu sekolah. Dan parahnya mantannya itu malah tetap perhatian disaat Key berusaha move on. Pernah ada n...
Anderpati Tresna
2926      1243     3     
Fantasy
Aku dan kamu apakah benar sudah ditakdirkan sedari dulu?
Batagor (Menu tawa hari ini)
478      327     6     
Short Story
Dodong mengajarkan pada kita semua untuk berterus terang dengan cara yang lucu.
Nemeea Finch dan Misteri Hutan Annora
1299      1011     0     
Fantasy
Nemeea Finch seorang huma penyembuh, hidup sederhana mengelola toko ramuan penyembuh bersama adik kandungnya Pafeta Finch di dalam lingkungan negeri Stredelon pasca invasi negeri Obedient. Peraturan pajak yang mencekik, membuat huma penyembuh harus menyerahkan anggota keluarga sebagai jaminan! Nemeea Finch bersedia menjadi jaminan desanya. Akan tetapi, Pafeta dengan keinginannya sendiri mencari I...
Azzash
382      317     1     
Fantasy
Bagaimana jika sudah bertahun-tahun lamanya kau dipertemukan kembali dengan cinta sejatimu, pasangan jiwamu, belahan hati murnimu dengan hal yang tidak terduga? Kau sangat bahagia. Namun, dia... cintamu, pasangan jiwamu, belahan hatimu yang sudah kau tunggu bertahun-tahun lamanya lupa dengan segala ingatan, kenangan, dan apa yang telah kalian lewati bersama. Dan... Sialnya, dia juga s...
KOKI SALAH ALAMAT
6      3     0     
Humor
Riko adalah pemuda lugu yang selama tiga tahun terakhir hanya mengakrabkan diri dengan kabel LAN dan aroma mi instan di sebuah warnet pinggiran Jakarta. Ketika warnet tempatnya bekerja tutup, Riko bertekad mencari pekerjaan yang "normal". Berbekal ijazah SMA yang sudah agak lecek, ia melamar ke sebuah restoran mewah di Jakarta Pusat bernama The Grand Taste, berharap bisa menjadi Office Boy atau t...
Hujan dan Annira
4      3     1     
Romance
Seorang perempuan yang dihadapkan oleh ayah yang seorang pemabuk dan penjudi, tak jarang Annira juga harus melihat ibunya mendapatkan perlakuan kasar dari ayahnya, sehingga kehidupan Annira begitu pelik, belum lagi ibunya meninggal setelah melahirkan adiknya, itu membuat beban di pundak Annira semakin berat, bagaimana Annira akan menghadapi kehidupannya yang begitu pelik? temani Annira untuk menj...
Under The Darkness
121      112     2     
Fantasy
Zivera Camellia Sapphire, mendapat sebuah pesan dari nenek moyangnya melalui sebuah mimpi. Mimpi tersebut menjelaskan sebuah kawasan gelap penuh api dan bercak darah, dan suara menjerit yang menggema di mana-mana. Mimpi tersebut selalu menggenangi pikirannya. Kadangkala, saat ia berada di tempat kuno maupun hutan, pasti selalu terlintas sebuah rekaman tentang dirinya dan seorang pria yang bah...
Kisah yang Kita Tahu
6411      2120     2     
Romance
Dia selalu duduk di tempat yang sama, dengan posisi yang sama, begitu diam seperti patung, sampai-sampai awalnya kupikir dia cuma dekorasi kolam di pojok taman itu. Tapi hari itu angin kencang, rambutnya yang panjang berkibar-kibar ditiup angin, dan poninya yang selalu merumbai ke depan wajahnya, tersibak saat itu, sehingga aku bisa melihatnya dari samping. Sebuah senyuman. * Selama lima...