Loading...
Logo TinLit
Read Story - Is it Your Diary?
MENU
About Us  

Suasana ramai kelas entah mengapa membuat Khandra tenang. Ia suka melihat para siswanya mulai bersuara yang artinya mereka mulai berdiskusi. Meskipun masih ada beberapa yang terlihat malas dan tidak mau belajar.

“Pak! Izin bertanya, pak!” salah satu siswinya menunjuk tangan.

Khandra tersenyum lalu membalas, “Silakan.”

“Pada soal pertama itu, kenapa kita memakai 1-cos^2 x? Kenapa gak 1-sin^2 x aja, pak?”

Wajah Khandra yang awalnya terlihat keras mulai melunak dan mencoba menata kata di kepalanya, agar yang ia jelaskan bisa tersampaikan. Namun, sebelum ia membalas, siswanya yang lain menunjuk tangan. “Boleh saya jawab, pak?” Khandra mengangguk sebagai jawaban.

Di saat siswa itu menjawab, satu hal membuat Khandra melihat bayangan aneh itu lagi. Ia baru menyadari, kelas ini merupakan kelas yang sama saat ia sekelas dengan Divya. Letak tempat duduk siswa itu persis tempatnya dulu. Begitupun dengan siswi itu, tempat duduk Divya. Meski lumayan berjarak jauh, ia dapat melihat bayangan dirinya di masa lalu pun Divya saat itu. Membuatnya terpaku sejenak. Dulu, ia suka sekali menyadari kehadiran Divya didekatnya.

•••

Seakan berlari, waktu berlalu begitu cepat. Rasa kagum yang sering tak diakui itu justru semakin berkembang. Aku semakin senang dengan keberadaannya di kelas. Pagi hari rasanya menyenangkan melihatnya duduk dikursinya dengan beberapa teman di sekitarnya. Tempat duduk yang lumayan jauh membuatku lebih mudah menatapnya diam-diam. Entah apa yang mereka bicarakan, jika itu mengundang tawanya, tanpa sadar membuatku semakin jatuh dan akan selalu jatuh.

Rasa yang ditolak itu justru semakin kacau, hanya karena keberadaannya yang berada dalam radarku. Kali ini aku menyerah. Benar, aku sedang jatuh cinta padanya. Ia tidak berbuat apa-apa padaku, ia hanya ada. Anehnya, aku justru merasakan suka. Dasar perempuan gila.

Beberapa indraku justru mengingatnya secara lekat. Mataku selalu memperhatikannya. Telingaku suka mendengarnya bersuara. Kehidupannya seakan menjadi film favoritku, hal yang selalu membuat penasaran.

Pembelajaran telah selesai, aku belum bisa pulang dikarenakan kami olahraga di jam 4 sore nanti. Sehingga bagi yang rumahnya jauh sepertiku, harus menunggu di kelas beberapa jam dan membawa baju ganti olahraga. Begitu pula dengannya, Khandra. Ia juga menunggu dan tidak pulang karena alasan yang sama denganku. Selama menunggu, aku hanya diam dikursi sembari memainkan ponsel. Teman sebangku ku Aya juga tidak pulang karena kami memang sekampung. Ada kira-kira 5 orang dari kelasku yang tidak pulang. 

Sejujurnya aku tidak terlalu suka bermain ponsel diluar ruangan kamar, jadi aku lebih terbiasa melihat sekitar. Ya, lagi dan lagi, aku menatapnya dari jauh. Baik suara yang keluar darinya pun juga dari ponselnya dapat ku dengar dan amati. Ternyata ia si penonton anime jepang. Anime yang bisa ku tahu dari suaranya itu adalah Naruto, dan juga One Piece. 

Jujur, aku ingin sekali bisa mendekatinya, bertanya apapun yang bisa membuat interaksi diantara kami berjalan dengan lekat. Namun, diriku tak mampu. Ada ego dan insecurity yang menelanku dalam-dalam. Selain aku yang memang gengsian, ada rasa takut diabaikan datang karena ia berada di kasta yang lebih dariku. Ia dicintai semua orang, sedangkan aku tidak dikenal oleh siapapun. Aku hanya rajin belajar, tetapi ia pintar. Terlalu jomplang. 

Padahal aku bisa membuat interaksi darinya yang suka dengan Naruto, karena aku juga penggemar anime tersebut. Yah, aku memang si penyerah itu. Nyaliku bisa dikatakan minus. Si pengecut yang justru jatuh cinta pada Sang idola sekolah. Mana bisa bersatu, iya ‘kan? Membuatnya sadar saja tidak bisa.

Bagaimana bisa? Jika berpapasan dengannya di lorong, yang kulakukan justru memalingkan wajah, enggan untuk menyapa. Bukan sombong, tapi takut. Takut jatuh terlalu dalam, karena sapaan itu pasti bermula dari senyuman. Maka aku, yang bahkan melihatnya tersenyum dari jauh membuat jantung tak karuan. Lantas, bagaimana bisa aku saling menatapnya dengan senyumnya? No no, ah ah. Aku tidak mau jatuh lebih gila lagi dari ini. Cukup.

Waktu berjalan cukup cepat, hingga menandakan jam setengah 4. Sebelum ashar, Aku bersama Aya mengganti baju dulu di toilet dekat kelas. Yang lainnya juga.

Setelah menggantinya, kami berdua menanti Adzan ashar sebelum olahraga dimulai. Sampailah yang ditunggu akhirnya datang, aku berjalan menuju mushala dengan tergesa seperti biasa, meninggalkan Aya yang berjalan santai.

“Tunggu dulu, ih. Ngapain lari coba?” cetus Aya yang sebal denganku.

Senyum terukir di wajahku. “Lo aja yang lelet,” ujarku sembari mengeluarkan lidah sebagai ledekan untuknya.

Aya hanya bisa menggeleng melihat kelakuanku.

Setelah wudhu, aku mengambil mukena yang berada di sebuah lemari. Ada seseorang yang membuatku salfok. Khandra yang telah selesai berwudhu. Kenapa bisa terlihat sangat—ah, aku tidak mau menjelaskannya. Terlalu keterlaluan untuk diriku yang memang gila ini. Aku memalingkan wajah karenanya. Tidak mau mengganggu fokus shalat, karena hal bodoh seperti itu. 

Setelah shalat berjamaah, mulai lah untuk menjadi gila lagi. Dalam keadaan melipat mukena, aku melihatnya yang sedang memperbaiki rambutnya yang basah. Gila. Gagah banget? Oke, aku tidak mau melihat ini dengan berlama-lama. Senyumku mulai tak karuan. Gila. Aku sudah terlalu gila. Aku tidak mau melihatnya lagi. Bodoh. Aku tidak mau dan tidak akan.

Akhirnya kami dikumpulkan di lapangan sekolah. Selain X-IAC ada X-ISA yang bergabung dengan kami. Di sekolah ini, olahraga digabung dengan 2 kelas. Pada kelas sebelah itu, aku menyapa teman yang sekelas saat SMP dulu. Layaknya bocah, aku mencoba lebih banyak interaksi dengan temanku itu. Ya, dia lelaki. Aku juga tidak paham dengan diriku. Aku terbiasa begitu untuk membuat orang yang kusuka cemburu. Padahal yang disuka belum tentu suka balik. Bodoh.

Pada pembelajaran olahraga itu, aku menghilangkan rasa peduliku padanya. Lagi-lagi si pengecut ini, sok mengubah rasa, padahal aslinya takut jatuh sedalam-dalamnya. Ia terlalu tidak mungkin, untukku yang suka tidak jelas dalam rasa. Lagu itu terdengar,

Meskipun tak mungkin lagi, tuk menjadi pasanganku. Namun kuyakini cinta, kau kekasih hati~

Meskipun rasa ini ada dan ia juga tak memiliki siapa. Tapi aku benar-benar tidak suka jika rasa ini terlalu dalam. Aku tidak mau rasa yang sederhana ini berubah menjadi obsesi yang tak berkesudahan.

Aku mencoba melihatnya kembali. Rasa itu akhirnya menipis, aku melihatnya berinteraksi sedekat itu dengan Celin. Aku benar-benar tertawa. Rasa yang besar itu ternyata semudah itu juga patahnya. Memang, disaat jatuh cinta. Akan hanya ada dua rasa. Jatuh, dan, Cinta. Semudah itu untuk merasa cinta, semudah itu juga untuk merasa jatuh.

Aku tersenyum kecut. Harusnya aku tidak menaruh rasa secepat itu. Harusnya rasa itu tidak ada untuknya. Harusnya perasaan itu tidak datang. Harusnya semesta tidak mempertemukannya denganku. Harusnya... Aku cukup sadar diri untuk memutuskan menaruh hati pada siapa.

•••

Setelah bunyi bel pulang berbunyi, suara berisik dari sebelah kirinya membuatnya menoleh. Khandra menatap gadis yang sedang sangat ceria bercerita pada temannya. Gadis itu sangat bersemangat hingga tidak menyadari bahwa beberapa dari kami memperhatikannya karena itu. Entah mengapa, perasaannya justru nyaman melihat wajah yang berseri-seri itu. Ia ikut senang melihatnya seceria itu— meski bukan ia alasannya.

Seseorang dari kelas lain mengapa Khandra. "Woi, Mabar di kelas gue yok!" 

Khandra membalasnya dengan tak kalah ramah. "Nanti deh, lagi males," tolaknya.

Seorang teman dan beberapa orang dibelakangnya mengeluh. "Ah, gak asik lo!" serunya tak terima.

"Maaf banget, nanti malam aja deh. Serius!" mohonnya. Akhirnya gerombolan itu keluar kelas. Khandra kembali melayangkan tatapan ke kursi yang sama. Kursi Divya.

Hilang. Mendadak Khandra kehilangan arah dan kebingungan mencari keberadaan gadis itu. Agak tidak biasanya Divya tidak ada di kelas. Padahal, ia ingin melihatnya lebih lama. Lebih sering karena ada beberapa hal yang rumit dari kehidupannya yang justru sedikit teredam karena keberadaannya.

Akhirnya ia melihatnya di balik jendela kelas, ia berada diluar sedang tertawa. Seketika hatinya senang. Namun ironisnya, Divya sedang berbicara dan tertawa disamping lelaki lain dari kelasnya. Matanya yang berbinar mendadak hilang cahaya. Senyumnya perlahan musnah. Ia mendengus, apa sih yang ia pikirkan. Kenapa rasanya tidak menyenangkan? Kenapa mendadak, hatinya kesal tak karuan.

Padahal, Khandra memang sengaja tidak ikut temannya kemana-mana karena ia tahu. Divya tidak sering keluar kelas. Ia penjaga kelas yang setia. Jadi, untuk harinya yang suram, ia harap keberadaannya bisa sedikit mengembalikan semangat hidup. Cukup dengan keberadaan saja. Tapi apa daya. Ternyata perasaannya lebih rumit dari yang ia kira.

•••

Ketukan pintu dari luar membuat sang pemilik rumah membukanya. Sebuah wajah yang lama tidak ditemukan justru kembali. "Kak Divya?" Seorang remaja yang kaget melihat sang tamu yang ternyata justru pemilik rumah yang sudah lama pergi dan baru saja kembali.

"Hai." Dengan senyuman terpatri di wajahnya.

 

To be continued 






 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Melankolis
3310      1314     3     
Romance
"Aku lelah, aku menyerah. Biarkan semua berjalan seperti seharusnya, tanpa hembusan angin pengharapan." Faradillah. "Jalan ini masih terasa berat, terasa panjang. Tenangkan nafsu. Masalah akan berlalu, jalan perjuangan ini tak henti hentinya melelahkan, Percayalah, kan selalu ada kesejukan di saat gemuruh air hujan Jangan menyerah. Tekadmu kan mengubah kekhawatiranmu." ...
Time and Tears
864      650     1     
Romance
Rintik, siswi SMA yang terkenal ceria dan berani itu putus dengan pacarnya. Hal berat namun sudah menjadi pilihan terbaik baginya. Ada banyak perpisahan dalam hidup Rintik. Bahkan temannya, Cea harus putus sekolah. Kisah masa remaja di SMA penuh dengan hal-hal yang tidak terduga. Tak disangka pula, pertemuan dengan seorang laki-laki humoris juga menambah bumbu kehidupan masa remajanya. Akankah Ri...
Halo Benalu
5134      2057     1     
Romance
Tiba-tiba Rhesya terlibat perjodohan aneh dengan seorang kakak kelas bernama Gentala Mahda. Laki-laki itu semacam parasit yang menempel di antara mereka. Namun, Rhesya telah memiliki pujaan hatinya sebelum mengenal Genta, yaitu Ethan Aditama.
Langit-Langit Patah
67      58     1     
Romance
Linka tidak pernah bisa melupakan hujan yang mengguyur dirinya lima tahun lalu. Hujan itu merenggut Ren, laki-laki ramah yang rupanya memendam depresinya seorang diri. "Kalau saja dunia ini kiamat, lalu semua orang mati, dan hanya kamu yang tersisa, apa yang akan kamu lakukan?" "Bunuh diri!" Ren tersenyum ketika gerimis menebar aroma patrikor sore. Laki-laki itu mengacak rambut Linka, ...
Baskara untuk Anasera
3      2     1     
Romance
Dalam setiap hubungan, restu adalah hal yang paling penting, memang banyak orang yang memilih melawan sebuah restu, namun apa gunanya kebahagiaan tanpa restu, terlebih restu dari keluarga, tanpa restu hubungan akan berjalan penuh dengan gelombang, karena hakikatnya dalam setiap hubungan adalah sebuah penjemputan dari setiap masalah, dan restu akan bisa meringankan ujian demi ujian yang menerpa da...
Monologue
2788      2019     1     
Romance
Anka dibuat kesal, hingga nyaris menyesal. Editor genre misteri-thriller dengan pengalaman lebih dari tiga tahun itu, tiba-tiba dipaksa menyunting genre yang paling ia hindari: romance remaja. Bukan hanya genre yang menjijikkan baginya, tapi juga kabar hilangnya editor sebelumnya. Tanpa alasan. Tanpa jejak. Lalu datanglah naskah dari genre menjijikkan itu, dengan nama penulis yang bahkan...
TANPA KATA
183      168     0     
True Story
"Tidak mudah bukan berarti tidak bisa bukan?" ucapnya saat itu, yang hingga kini masih terngiang di telingaku. Sulit sekali rasanya melupakan senyum terakhir yang kulihat di ujung peron stasiun kala itu ditahun 2018. Perpisahan yang sudah kita sepakati bersama tanpa tapi. Perpisahan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Yang memaksaku kembali menjadi "aku" sebelum mengenalmu.
Naskah Novelku
7      4     1     
Inspirational
Ini cerita kita, penulis kecil yang nulis tanpa suara. Naskah dikirim, tanpa balasan. Postingan sepi, tanpa perhatian. Kadang bertanya, “Apakah aku cukup baik?” Aku juga pernah di sana. Hingga suatu malam, bermimpi berada di perpustakaan raksasa, dan menemukan buku berjudul: “Naskah Novelku.” Saat bangun, aku sadar: Menulis bukan soal dibaca banyak orang, Tapi soal terus berka...
Acceptable
422      292     1     
True Story
“Bahkan dengan diriku sendiri pun, aku mampu untuk bertumbuh dan berkembang dengan baik. Aku harus dapat bertahan dengan diriku dan di atas kakiku”.
Melihat Tanpamu
462      388     1     
Fantasy
Ashley Gizella lahir tanpa penglihatan dan tumbuh dalam dunia yang tak pernah memberinya cahaya, bahkan dalam bentuk cinta. Setelah ibunya meninggal saat ia masih kecil, hidupnya perlahan runtuh. Ayahnya dulu sosok yang hangat tapi kini berubah menjadi pria keras yang memperlakukannya seperti beban, bahkan budak. Di sekolah, ia duduk sendiri. Anak-anak lain takut padanya. Katanya, kebutaannya...