Loading...
Logo TinLit
Read Story - Loveless
MENU
About Us  

“Coba tebak! Kura-kura apa yang bikin nyesek?” Zean bertanya sambil memandang Medina. Ekspresi lelaki berambut hitam lurus dengan belahan di bagian kiri itu terlihat sangat jenaka. Serius, dia punya karakter muka yang imut dan polos seperti Hwang In Youp. Didukung suara yang enak di dengar, rasa-rasanya Medina bisa terbang tanpa bantuan sepasang sayap.

Sambil menyisipkan helaian rambut ke belakang telinga, Medina menggeleng. “Nggak tau!” jawabnya, menyerah dengan mudah. Meskipun langganan juara kelas sejak SD, dia paling payah kalau disuruh memecahkan teka-teki. 

Memangnya siapa yang bisa berpikir jernih saat berhadapan dengan Zean? Dia punya wajah yang tidak cuma tampan dengan hidung mancung, bibir merah cerah dan senyum semanis gula-gula, tapi juga tubuh tegap yang tinggi menjulang. Dadanya yang bidang sepertinya nyaman untuk dijadikan sandaran. 

“Kura-kura jomlo padahal gebetannya bertebaran di mana-mana.” Zean mengerling, menggoda gadis berambut panjang di depannya.

Untuk sesaat Medina hanya diam, mencerna ucapan Zean. Tak lama kemudian dia tertawa. “Itu, sih, pura-pura, Kak! Bukan kura-kura!” 

“Ayo, tebak lagi! Kali ini nggak boleh nyerah, ya!” Zean mengacungkan telunjuknya seakan sedang mengancam. “Baper, baper apa yang horor?”

Medina menelengkan kepalanya, kali ini berpikir dengan lebih serius. Otaknya bekerja keras berusaha menemukan jawaban. Namun, dia tidak bisa memikirkan apa pun. Medina pikir, jawaban dari pertanyaan Zean kali ini pun plesetan seperti tadi. 

“Nyerah, deh!” Medina mengangkat kedua tangan. Mungkin saja angin yang berembus dari penyejuk udara telah membuat otaknya jadi beku. Gadis berbulu mata lentik itu memang tidak begitu tahan lama-lama berada di ruangan ber-AC.

“Baper … gian ke alam gaib.” Zean tertawa-tawa melihat mulut Medina menganga.

“Kakak culas, ih! Kasih pertanyaan semuanya di luar nalar,” keluh Medina dengan suara manja yang dibuat-buat.

“Cieee, yang baper … yang baper! Cemberut gitu aja cantik, apalagi kalau senyum? Tuh, pipinya menyala, kan, kayak habis mukbang cabe sekilo!” goda Zean menunjuk kedua pipi tembam Medina. Benderang pencahayaan kafe memperjelas rona merah yang menyebar di kedua pipi gadis itu. Yang digoda mendengus, menyembunyikan wajah yang memanas dengan menunduk.

“Apaan, sih? Nggak, tuh!” sangkal Medina. Gadis itu memainkan gantungan kunci berbentuk boneka panda yang terpasang pada tas sekolah untuk mengurangi salah tingkahnya.

“Aku punya satu teka-teki lagi. Eh, ada banyak sebenarnya.” 

“Coba, aku mau dengar. Kali ini aku pasti bisa jawab!”

“Kalau gitu, coba tebak ini! Tapi … firasatku bilang nggak bakal bisa ketebak lagi, deh, kayak yang dua sebelumnya itu.” Zean tersenyum meremehkan.

“Itu sih karena Kakak aja yang nyeleneh ngasih tebak-tebakannya.”

“Ngeles aja kamu!” Zean terkikik geli melihat bibir Medina mengerucut. “Coba tebak, ya! Telor apa yang suka dibawa para climber atau hunter?”

“Telor yang ini pasti bukan terbuat dari telor ayam ataupun telor bebek. Telornya nggak bisa dimasak apalagi dimakan, kan, Kak?”

Zean geleng-geleng. “Begitulah,” katanya seraya mengedikkan bahu lalu bersedekap. Tatapannya lurus pada Medina yang tengah memilin rambut 

“Nggak ada clue atau apa gitu?”

“Yang tadi sudah termasuk clue, loh, ya!” jawab Zean sambil cengengesan. Dia yakin kali ini pun Medina tidak bisa memecahkan teka-teki yang dia berikan.

“Culas banget! Kenapa cuma seuprit clue-nya?” Zean cuma mengangkat bahu tak acuh. Medina diam lagi. Beberapa kali Medina menggaruk-garuk pelipis, yang entah apa bisa membantu dirinya berpikir atau memang karena gatal. “Nyerah, deh! Buntu banget aku,” pungkasnya beberapa menit kemudian sembari mengangkat kedua tangan.

“Yah, nyerah lagi? Katanya juara kelas terus. Masa sama pertanyaan sepele kayak gini nggak bisa jawab?”

“Masalahnya, Kak Zean ngasih pertanyaan ngasal semua.” Medina tidak mau kalah. Dia sebal diremehkan. Walau kadang suka telmi alias telat mikir, otaknya encer, kok! “Sudah, cepetan jawab!”

“Yakin nggak mau—”

“Cepetan jawab!” Medina mulai merajuk.

“Cieee, tadi baper, sekarang esmosi,” olok Zean yang tidak mendapat tanggapan selain juluran lidah Medina. “Oke, deh, daripada kamu penasaran terus nggak bisa tidur malam ini. Jadi, jawabannya adalah … telor pong!”

Medina mengernyit. Dengan polosnya dia bertanya, “Telor pong itu apa, Kak? Hewan, kah?” 

Zean tergelak mentertawakan Medina. Butuh beberapa saat hingga tawanya reda baru lelaki itu menerangkan, “Telor pong itu gunanya buat membantu melihat sesuatu di kejauhan. Telor pong punya lensa kayak kaca mata, cuma beda bentuk doang.”

Saat akhirnya berhasil menangkap maksud Zean, dengan kesal Medina memekik, “Itu te … ro … pong! Teropong, Kak Zean yang budiman!”

Tawa Zean mengudara lagi. Dia sangat suka melihat wajah Medina saat cemberut. “Kita setop main tebak-tebakan, deh! Terbukti kamu memang nggak cukup pintar buat jawab teka-teki.”

“Hilih! Situ aja yang kocak kebangetan.”

Bye the way, aku punya cerita lucu! Kamu mau dengar, nggak?” 

Medina mengangguk antusias dan terus menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Zean. Gadis berseragam putih abu-abu itu terus dibuat terkikik. Dia baru tahu kalau Zean tidak hanya ramah dan hangat, tapi juga pandai melucu. Sejak mengenal Zean lewat media sosial tiga bulan lalu, lelaki itu seolah punya begitu banyak kejutan. Kali ini pertemuan ketiga mereka dan semua hal tentang Zean makin terasa menyenangkan.

Zean tersenyum puas. Saat lelaki itu menandaskan caramel macchiato-nya, ponsel Medina berdering. “Nggak diangkat?” tanyanya dengan kening berkerut lantaran Medina bergeming, seolah benda yang tengah ribut itu bukan miliknya.

Medina menggeleng malas. Tanpa melihat layar pun, dia sudah tahu siapa yang tengah menghubunginya. Gadis itu menggigit bibir, tidak enak hati.

Untungnya Zean cukup peka membaca situasi. “Kamu sudah selesai?” Lelaki itu menunjuk sajian di atas meja. Roti bakar yang mereka pesan masih tersisa tiga potong, sementara jus stroberi Medina pun masih tersisa setengah gelas.

Medina melirik sekilas ke atas meja, lalu diam-diam meneguk ludah. Naga yang bersemayam di perutnya tengah memuntir ulu hatinya, berdemo meminta bahan bakar. Dia menyesal karena makanan dan minuman itu harus berakhir di tempat sampah. Mau bagaimana lagi? 

Gengsi setinggi Shanghai Tower memaksa Medina membangun benteng superkokoh. Untung saja air liurnya yang dari tadi mengancam keluar bisa dibujuk. Medina berhasil mengendalikan diri dan nafsu makannya. Malu, dong! Bagaimana kalau lelaki itu ilfeel lalu mengatainya rakus, perut gentong atau sebutan buruk lainnya? 

Ragu-ragu Medina menggeleng. “Sudah kenyang,” dustanya. Untung nggak ada Mama di sini. 

Omelan sepanjang Jembatan Suramadu dalam bahasa alien bisa-bisa memaksa Medina harus duduk berlama-lama sampai sakit pinggang. Di benaknya sudah terbayang Latifa—mamanya—hilir mudik seperti setrikaan berceramah tentang tidak baiknya orang yang suka mubazir. 

Tawa Zean berderai renyah. Lesung pipinya terukir apik. Wajahnya yang rupawan semakin memesona. “Yuk, lah, kita pulang!” ajak Zean sembari bangkit, menyandang ranselnya di bahu kiri. Medina mengikuti langkah lelaki itu dengan kikuk. 

Sementara menanti Zean membayar tagihan, Medina menggunakan waktu supersingkat itu untuk menghubungi rumah. Jempolnya bergerak lincah mengetikkan sebaris kalimat di bilik obrolan dengan Santi, kakak sekaligus tangan kanan Latifa yang tadi menelepon. Medina bilang kalau sedang di perjalanan sehingga mamanya tidak perlu khawatir. Padahal dia cuma nongkrong di kafe sebentar, tapi sudah diributkan seperti pergi merantau berbulan-bulan tanpa kabar.

Di pelataran kafe, Zean bertanya, “Kapan-kapan kita ketemuan lagi, ya?” 

Medina mengangguk malu-malu. Jantungnya berdetak makin kencang karena saat ini dirinya hanya berjarak satu langkah dengan Zean. Mereka pun jalan beriringan menuju area parkir khusus roda dua.

“Kak Zean!” panggil Medina. Zean urung memasang helm, padahal dia sudah duduk nyaman di atas kuda besi kebanggaannya. 

Sambil menunduk, Medina berucap, “Kita pisah di sini aja.”

Kening Zean berkerut. “Kenapa? Sudah malam, loh, ini!” Dia mengingatkan dengan menunjukkan arlojinya.

“Mamaku orangnya ribet. Nanti malah ditanya ini itu,” kilah Medina. Terang saja dia takut. Dia tadi meminta izin belajar kelompok, bukan jalan-jalan. Tidak tanggung-tanggung, dia juga mengatakan pada mamanya kalau teman sekelompoknya semuanya perempuan. Mana berani dia pulang diantar lelaki. Meminta izin dengan mengatakan yang sebenarnya pada Latifa pun sama saja mencari mati. Latifa di mata Medina adalah perempuan kolot dari zaman batu yang terperangkap di era serbateknologi.

“Yakin nggak mau diantar?” Zean bertanya, sekadar memastikan. Mesin motornya sudah dihidupkan, siap melaju membelah jalan.

Kali ini Medina mengangguk dengan mantap. “Aku sudah order ojek daring. Kayaknya sebentar lagi driver-nya sampai.” Lagi-lagi gadis itu berdusta.

Zean tidak mendebat keputusan sepihak Medina. Lelaki itu pun memelesat pergi usai berpamitan. Gegas Medina berbalik ke arah kafe, menuju toilet khusus perempuan. Dari dalam tas, Medina mengeluarkan hijab sewarna rok seragamnya lantas membalut kepalanya, menutup rambut yang tadi tergerai bebas. Ketahuan berkeliaran tanpa hijab di ruang publik oleh Latifa? Dia belum siap dicoret dari kartu keluarga. Walaupun bosan terperangkap dalam rumah yang menurutnya tidak lebih baik dari penjara, jadi gelandangan tidak pernah masuk dalam wish list Medina.

Pukul delapan kurang sepuluh menit Medina baru menjejakkan kakinya di rumah. Kedatangannya disambut raut cemas Latifa yang sedari tadi menunggu di ruang tamu. Bola mata Medina berotasi. Mamanya terlalu berlebihan untuk setiap hal. Tidak mungkin Santi tidak memberitahu Latifa pesan singkat yang dia kirim setengah jam lalu. Kecuali kalau Santi sengaja melakukannya supaya dia dimarahi. Namun, Medina tahu kakaknya tidak seusil itu.

Kedua tangan Latifa bergerak-gerak cepat. “Dari mana aja kamu? Kenapa baru pulang jam segini? Kenapa nggak angkat waktu ditelepon Mbak Santi?” Begitu katanya lewat bahasa isyarat. Perempuan berdaster panjang dengan hijab yang juga panjang itu berkacak pinggang, menuntut penjelasan. 

Ah, pantas Papa memilih berpisah. Mama dan semua kemauannya yang nggak bisa dibantah, siapa juga yang betah?

Medina berdecak sebal, mengentakkan sebelah kaki lantas melewati Latifa begitu saja menuju kamar tidurnya. Terdengar bunyi berdebam yang sangat nyaring saat gadis itu menutup pintu. Samar-samar Medina mendengar omongan-omongan tidak jelas keluar dari mulut sang mama. Bodo amat!

Medina mengempaskan tubuh tambunnya yang letih di atas kasur berpegas hingga beberapa kali memantul. Kedua tangannya terentang, sementara tatapannya lurus ke langit-langit. Bibir tipis Medina melengkung ke bawah. 

Kenapa makin hari Mama jauh dari kata asyik? Dibanding orang tua lain, Mama itu udik. Padahal aku sudah besar, tapi Mama selalu memperlakukanku seolah aku ini bocah cilik.

Ponsel dalam saku rok abu-abu Medina menjerit. Papa calling.

“Assalamu’alaikum, Medina.” 

Dengan malas Medina menyahut salam. “Kenapa, Pa?” tanyanya dengan bibir mengerucut.

“Kok, manyun? Habis berantem lagi sama Mama?” 

Andai Luthfi ada di sana, tanpa diminta lelaki itu pasti akan membelai lembut puncak kepala Medina. Sementara itu, Medina bisa menumpahkan luapan perasaannya dalam dekap hangat sang papa. Medina memutar bola mata, kecewa karena yang ada di pikirannya saat ini hanya omong kosong yang tidak lebih dari sekadar angan belaka. 

“Nggak, kok!” Menurut Medina, bertengkar itu adu mulut atau adu otot. Sementara dirinya dan Latifa tidak begitu. “Mama aja yang resek. Sudah aku bilang kalau hari ini pulang telat karena ada tugas kelompok. Eh, Mama main suruh Mbak Santi telepon. Kan, ganggu, Pa! Nggak enak sama anak-anak yang lain.” Gadis itu duduk di tepi ranjang dengan kaki menyilang.

Luthfi tersenyum maklum. Meski terlihat lelah, aura wajahnya tetap memancar cerah. “Wajar, kan? Sudah malam, loh! Sebenarnya Mama juga nggak ada niatan ganggu kamu, kok! Mama begitu karena khawatir. Nggak biasanya kamu begini. Lagian, bukan cuma kamu aja yang ditelepon kalau pulang telat. Papa juga gitu dulu. Mbak Santi juga.”

Bibir Medina semakin maju. “Namanya juga banyak yang harus dikerjain, Pa. Mama aja, tuh, kayak nggak pernah sekolah!” Medina terus berkilah tanpa rasa bersalah. Keras kepala tidak mau kalah.

“Hush!” Luthfi pun mengingatkan Medina agar menjaga omongan. “Sudah salat, belum?” tanyanya setelah memberi wejangan yang tidak sama sekali meresap ke hati Medina.

“Coba, tuh, tanyain Medina sudah makan belum? Belajar apa aja tadi di sekolah? Uang jajannya masih banyak, nggak? Ini yang ditanya malah tentang salat.”

“Lah, salat, kan, penting!”

“Makan, keadaan aku hari ini sama uang jajan juga penting,” gerutu Medina. Lagipula, mana bisa beribadah dengan khusyuk di saat perut riuh berbunyi kukuruyuk. 

“Nggak boleh begitu, loh! Salat itu tiang agama. Ibadah yang pertama kali dihisab—”

Dengan cepat Medina menyela, “Ah, Papa kenapa nyebelin kayak Mama, sih? Sudah capek, lapar, malah diceramahi lagi.”

Luthfi terkikih. “Papa cuma mengingatkan, jangan dibiasakan menunda-nunda apalagi sampai meninggalkan salat. Kalau sudah waktunya, segera tunaikan.”

“Siap, Bos!” Medina memberi hormat semata agar Luthfi segera mengakhiri ceramah dadakannya.

Luthfi terkikih lagi. “Ya, sudah! Sekarang kamu bebersih dulu. Habis itu salat. Jangan lama-lama di kamar mandinya supaya salatnya nggak makin lama tertunda. Take care, Honey.” 

“Iyaaa,” sahut Medina. Luthfi meninggalkan ruang obrolan usai mengucap salam.

“Ribet amat, deh! Bikin makin badmood aja!” gumam Medina tepat ketika sosok sang ayah hilang dari pandangan. Untuk berjaga-jaga kalau Latifa mengecek ke kamarnya secara tiba-tiba, Medina menggelar sajadahnya menghadap kiblat, mengacak-acak mukenanya seolah habis dipakai. Dengan menyandang handuk di bahu kiri, Medina mengayun langkah menuju kamar mandi. “Hari ini salatnya libur lagi, ya? Engkau pasti tau gimana capeknya hamba hari ini.”

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (36)
  • nazladinaditya

    aduh, siapapun gigit cantika tolong 😭 aku pernah bgt punya temen kerja begitu, pengen jambak:(

    Comment on chapter Chapter 7 - Sisi baik dan kebahagiaan yang Tuhan janjikan
  • serelan

    Sumpah udh gedeg banget sama atasannya. Sikapnya kya org yg gak berpendidikan mentang² punya power. Maen tuduh, rendahin org, nginjek² org mulu tanpa nyari tau dulu kenyataannya. Klo tau ternyata si Jelek -males banget manggil Cantika- yg lagi² bikin kesalahan yakin sikapnya gak sama dgn sikap dia k Wisnu mentang² dia cewek cantik😔 lagian tu cewek gak becus knp masih d pertahanin mulu sih d situ, gak guna cuma bikin masalah bisanya. Tapi malah jadi kesayangan heranšŸ˜‘

    Comment on chapter Chapter 8 - Lebih dari hancur
  • serelan

    Nu Wisnuuu semoga jalan untuk menemukan kebahagian dalam hidupmu dimudahkan ya jalannya

    Comment on chapter Chapter 7 - Sisi baik dan kebahagiaan yang Tuhan janjikan
  • serelan

    Buat atasannya Wisnu jangan mentang² berpendidikan tinggi, berprofesi sebagai seorang dokter anda bisa merendahkan orang lain ya.. yang gak punya etika itu anda hey coba ngaca... ada kaca kan d rumah??
    Buat si Cantika yang sifatnya gak mencerminkan namanya anda d kantor polisi ya? Gara² apa kah? Jangan balik lg ya klo bisaaaa

    Comment on chapter Chapter 7 - Sisi baik dan kebahagiaan yang Tuhan janjikan
  • serelan

    Khawatirnya si ibu cuma karena mikirin masa depan si Selly mulu, takut banget klo mas Wisnu d pecat. Padahal jelas² tau mas Wisnu lg sakit tapi nyuruh buru² kerja jgn sampe d pecat. Semangat pula nyiapin bekal dan jadi tiba² perhatian cuma karena mas Wisnu bilang mau nyari kerja part time. Biar dapet tambahan duit buat si Selly ya bu yašŸ˜‘.

    Comment on chapter Chapter 7 - Sisi baik dan kebahagiaan yang Tuhan janjikan
  • nazladinaditya

    baru baca bab 3, speechless si.. cantika kata gue lo asu šŸ˜­šŸ™šŸ» maaf kasar tp kamu kayak babi, kamu tau gak? semoga panjang umur cantika, sampe kiamat

    Comment on chapter Chapter 3 - Dorongan atau peringatan?
  • serelan

    Curiga Selly yg ngambil dompet ibunya terus uangnya d pake CO Shopee, karena takut ketauan belanja sesuatu makanya pulang dulu buat ambil paketnya... Atasannya mas Wisnu cunihin ya sepertinyašŸ˜‚ ke cewe² aja baik, ke cowo² galak bener... gak adakah org yg bener² baik di sekitaran Wisnu? Ngenes banget idupnya..

    Comment on chapter Chapter 6 - K25.4
  • nazladinaditya

    siapa yang menyakitimuu wahai authoorrr 😭😭 tolong musnahkan ibu itu, singkirkan dia dari wisnu jebal

    Comment on chapter Chapter 5 - Pergi sulit, bertahan sakit
  • serelan

    Kesel banget sama ibunya. Selalu banding²in. Negative thinking terus lagi sama Wisnu. Awas aja klo ternyata anak yg d bangga²kan selama ini justru malah anak yg durhaka yg gak tau diri, rusak gara² cara didik yg gak bener.

    Comment on chapter Chapter 5 - Pergi sulit, bertahan sakit
  • serelan

    Nu, udh parah itu Nu🄺
    Nu, coba bilang aja dulu sama atasan klo si Selly mau coba bantu² biar liat gimana kakaknya diperlakukan di tempat kerjanya. Biar bisa mikir tu anak kakaknya nyari duit susah payah.

    Comment on chapter Chapter 4 - Namanya juga hidup
Similar Tags
Behind Friendship
5169      1591     9     
Romance
Lo harus siap kalau rasa sahabat ini bermetamorfosis jadi cinta. "Kalau gue cinta sama lo? Gue salah? Mencintai seseorang itu kan hak masing masing orang. Termasuk gue yang sekarang cinta sama lo," Tiga cowok most wanted dan dua cewek receh yang tergabung dalam sebuah squad bernama Squad Delight. Sudah menjadi hal biasa jika kakak kelas atau teman seangkatannya meminta nomor pon...
Our Perfect Times
4854      2633     9     
Inspirational
Keiza Mazaya, seorang cewek SMK yang ingin teman sebangkunya, Radhina atau Radhi kembali menjadi normal. Normal dalam artian; berhenti bolos, berhenti melawan guru dan berhenti kabur dari rumah! Hal itu ia lakukan karena melihat perubahan Radhi yang sangat drastis. Kelas satu masih baik-baik saja, kelas dua sudah berani menyembunyikan rokok di dalam tas-nya! Keiza tahu, penyebab kekacauan itu ...
My Private Driver Is My Ex
1804      1294     10     
Romance
Neyra Amelia Dirgantara adalah seorang gadis cantik dengan mata Belo dan rambut pendek sebahu, serta paras cantiknya bak boneka jepang. Neyra adalah siswi pintar di kelas 12 IPA 1 dengan julukan si wanita bermulut pedas. Wanita yang seperti singa betina itu dulunya adalah mantan Bagas yaitu ketua geng motor God riders, berandal-berandal yang paling sadis pada geng lawannya. Setelahnya neyra di...
About love
1442      716     3     
Romance
Suatu waktu kalian akan mengerti apa itu cinta. Cinta bukan hanya sebuah kata, bukan sebuah ungkapan, bukan sebuah perasaan, logika, dan keinginan saja. Tapi kalian akan mengerti cinta itu sebuah perjuangan, sebuah komitmen, dan sebuah kepercayaan. Dengan cinta, kalian belajar bagaimana cinta itu adalah sebuah proses pendewasaan ketika dihadapkan dalam sebuah masalah. Dan disaat itu pulalah kali...
Sweet Like Bubble Gum
5122      2984     2     
Romance
Selama ini Sora tahu Rai bermain kucing-kucingan dengannya. Dengan Sora sebagai si pengejar dan Rai yang bersembunyi. Alasan Rai yang menjauh dan bersembunyi darinya adalah teka-teki yang harus segera dia pecahkan. Mendekati Rai adalah misinya agar Rai membuka mulut dan memberikan alasan mengapa bersembunyi dan menjauhinya. Rai begitu percaya diri bahwa dirinya tak akan pernah tertangkap oleh ...
Harsa untuk Amerta
822      660     0     
Fantasy
Sepenggal kisah tak biasa berlatar waktu tahun 2056 dari pemuda bernama Harsa sang kebahagiaan dan gadis bernama Amerta sang keabadian. Kisah yang membawamu untuk menyelam lebih dalam saat dunia telah dikuasai oleh robot manusia, keserakahan manusia, dan peristiwa lain yang perlahan melenyapkan manusia dari muka bumi. Sang keabadian yang menginginkan kebahagiaan, yang memeluk kesedihan, yan...
Finding the Star
4368      2763     9     
Inspirational
"Kamu sangat berharga. Kamu istimewa. Hanya saja, mungkin kamu belum menyadarinya." --- Nilam tak pernah bisa menolak permintaan orang lain, apalagi yang butuh bantuan. Ia percaya kalau hidupnya akan tenang jika menuruti semua orang dan tak membuat orang lain marah. Namun, untuk pertama kali, ia ingin menolak ajakan Naura, sahabatnya, untuk ikut OSIS. Ia terlalu malu dan tak bisa bergaul ...
Kelana
2803      1860     0     
Romance
Hidup adalah perjalanan tanpa peta yang pasti, di mana setiap langkah membawa kita menuju tujuan yang tak terduga. Novel ini tidak hanya menjadi cerita tentang perjalanan, tetapi juga pengingat bahwa terbang menuju sesuatu yang kita yakini membutuhkan keberanian dengan meninggalkan zona nyaman, menerima ketidaksempurnaan, dan merangkul kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Selam...
The Bet
19546      3816     0     
Romance
Di cerita ini kalian akan bertemu dengan Aldrian Aram Calton, laki-laki yang biasa dipanggil Aram. Seperti cerita klise pada umumnya, Aram adalah laki-laki yang diidamkan satu sekolah. Tampan? Tidak perlu ditanya. Lalu kalau biasanya laki-laki yang tampan tidak pintar, berbeda dengan Aram, dia pintar. Kaya? Klise, Aram terlahir di keluarga yang kaya, bahkan tempatnya bersekolah saat ini adalah mi...
Love 90 Days
7669      2893     2     
Romance
Hidup Ara baikbaik saja Dia memiliki dua orangtua dua kakak dan dua sahabat yang selalu ada untuknya Hingga suatu hari seorang peramal mengatakan bila ada harga yang harus dibayar atas semua yang telah dia terima yaitu kematian Untuk membelokkan takdir Ara diharuskan untuk jatuh cinta pada orang yang kekurangan cinta Dalam pencariannya Ara malah direcoki oleh Iago yang tibatiba meminta Ara untu...