Loading...
Logo TinLit
Read Story - Loveless
MENU
About Us  

Ersa baru saja memarkir mobilnya di pelataran minimarket. Tapi ia tidak punya niat untuk keluar. Ia sudah berniat dari rumah. Bahwa malam ini ia tidak akan melakukan bimbel yang terakhir. Supaya tidak ketahuan Damara ... ya caranya jangan pulang dulu.

Bukan tanpa alasan. Sakit perutnya belum reda. Ia sudah kepayahan menjalani bimbel-bimbel sebelumnya. Merasa tidak akan sanggup jika harus melanjutkan jadwal tidak manusiawi selanjutnya.

Lebih baik ia tidur saja. Lumayan nyaman dengan menurunkan posisi sandaran joknya. Ia menyalakan musik instrumental pengantar tidur. Jujur Ersa bukan tipe orang yang mudah tertidur. Kepalanya selalu berisik. Pikirannya selalu penuh.

"Kapan ya gue bisa kayak anak muda lain? Main ... punya temen ... seneng-seneng ... menikmati masa muda yang nggak dateng dua kali. Bukan malah belajar terus, sampai jadi kaum asam lambung akut ... sampai otak berasa mau meledak! Kira-kira Papa pernah merasa bersalah apa nggak, ya ... memperlakukan gue kayak gini?"

Ersa bermonolog dengan dirinya sendiri. Bertanya sendiri, dan dijawab sendiri juga.

"Duh ... kangen banget sama Mama. Mama kira-kira lagi apa, ya? Masih syuting kah jam segini? Mama pasti cape banget. Tapi Mama pasti bahagia. Karena mejalani hidup sesuai dengan apa yang Mama suka."

Ersa tersenyum mengingat wajah cantik Wina. Wanita yang selalu Ersa rindukan kehangatannya.

Tangan Ersa sudah gatal ingin mendial nomor Wina. Tapi ia urungkan. Takut mengganggu ibunya.

Ersa pun meletakkan ponselnya kembali. Pemuda itu mulai memejamkan matanya. Agak lama, sebelum ia akhirnya benar-benar bisa tertidur.

***

Jenar menuju ke ruang istirahat karyawan. Ia harus membangunkan Binar, karena waktu istirahat Binar sudah habis. Seperti biasa, Jena sebenarnya tidak tega. Tapi Binar sudah berpesan padanya untuk jangan lupa membangunkan tepat waktu.

Ya bagaimana Jena mau tega. Binar selalu datang dengan raut wajah lelah, kulitnya pucat, makin hari makin kurus, dan aroma khasnya tak pernah ketinggalan. Bau koyo.

"Bin ... Binar ... bangun dulu. Udah jam 11 lebih." Jena menggoyangkan lengan Binar perlahan.

Dan pemuda itu langsung bangun. Binar butuh waktu penyesuaian diri sebentar, sebelum bangkit dalam posisi duduk.

"Makasih, Jen. Gantian lo istirahat, gih. Gue mau cuci muka dulu." Binar beranjak ke kamar mandi.

"Gue istirahat di depan aja, ngaso sambil ngemil, nemenin lo kerja. Gue tadi siang tidur lama banget. Jadi sekarang gue bener-bener seger," jawab Jena.

Binar terlihat lebih segar setelah keluar dari kamar mandi. Jena membersamai langkahnya kembali ke belakang meja kasir.

"Bin ... coba lihat ke depan! Itu bukannya mobil teman lo yang kemarin, ya?" Jena menunjuk mobil hitam yang terparkir di halaman full paving di depan.

Binar mengikuti arah yang ditunjuk oleh Jena. "Iya, bener kayaknya. Ya berarti dia bimbel lagi di sebelah, Jen."

Jena menggeleng. "Nggak. Soalnya dari pertama dateng tadi, teman lo nggak turun dari mobil sama sekali, Bin."

"Masa?"

"Beneran. Cuma parkir."

"Aneh banget si Ersa." Binar tak habis pikir dengan kelakuan Ersa.

"Coba lihat deh, Bin. Jangan-jangan kenapa-kenapa lagi." Jena parno sendiri. Akibat terlalu banyak nonton cerita kriminal dan kumpulan kasus misterius. Sekarang pikirannya sudah ke mana-mana. "Jangan-jangan teman lo mati di mobil!"

"Huss ... mulutnya, Jen! Astaghfirullah! Kebanyakan nonton video investasi kamu!"

Jena hanya cengengesan. Tapi Binar jadi ingat di sekolah tadi. Ia dan Ersa secara kebetulan sama-sama berada di UKS. Kata suster ... Ersa juga asam lambung.

Sepertinya tidak ada salahnya melihat Ersa sebentar. Hanya untuk memastikan. Jangan-jangan hal ngaco yang dibicarakan oleh Jena ternyata benar. Kan bisa berabe, kalau halaman minimarket ini jadi TKP yang akan dikelilingi garis belang kuning hitam khas kepolisian.

"Coba gue lihat dulu, deh." Binar beranjak lagi dari balik meja kasir.

Langkahnya cepat keluar dari pintu minimarket. Agak ragu mendekat pada mobil Ersa. Apa lagi kalau ingat betapa menyebalkan manusia satu itu.

Binar coba mendekat ke arah jendela. Ternyata benar Ersa ada di dalam. Sedang tidur.

Eh ... gara-gara ucapan Jena tadi, Binar juga jadi ikut parno. Itu Ersa betulan tidur atau ....

Binar pun akhirnya mengetuk kaca jendela. Sengaja agak keras, niatnya supaya Ersa cepat bangun.

Tapi ternyata keputusan Binar mengetuk kaca jendela dengan keras itu ... salah.

Karena Ersa terbangun dengan terkejut. Seperti orang yang segaja dikagetkan.

Ersa seketika duduk tegak, tidak bersandar nyaman seperti sebelumnya. Ersa terlihat kebingungan. Jujur Binar merasa bersalah. Tahu lah ia rasanya dibangunkan dengan mendadak dikombo dengan suara yang keras.

Ersa mengernyit karena perutnya masih perih. Kepalanya juga berdenyut-denyut. Ia menoleh menyadari ada seseorang di balik pintu mobilnya.

Pikiran Ersa mulai mencerna. Dan akhirnya ia tahu, tersangka yang sudah membangunkannya ada orang itu.

Iya, manusia paling menyebalkan di dunia baginya ... si Binar-Binar itu!

Dengan emosi yang kembali memuncak, Ersa langsung membuka pintu mobilnya. Matanya nyalang menunjukkan betapa ia sangat marah pada Binar.

"Bisa nggak sehari aja jangan mancing emosi? Apa maksud lo gedor-gedor begitu? Mau bikin gue serangan jantung? Seneng gue mati?"

Binar sudah tahu akan seperti ini. "Nggak ada maksud jelek sama sekali. Cuma mastiin lo baik-baik aja. Soalnya aneh nggak turun dari mobil."

"Apa nggak bisa ngintip dari jendela? Nggak bisa lihat gue tidur?"

"Ya lihat ... tapi kan bisa jadi nggak sedang tidur."

"Lo ngarepnya apa kalau nggak tidur? Udah jelas-jelas mata gue merem!"

"Uhm ... sebenarnya lo tadi memang kelihatan seperti sedang simulasi mati."

Binar sengaja bicara seperti itu. Kadang ia heran, kenapa emosi Ersa selalu meledak-ledak. Padahal niatnya baik. Apa susahnya dihargai sedikit?

Ya mungkin Binar memang salah karena menggedor terlalu keras. Tapi sepertinya terlalu berlebihan jika Ersa seemosi ini padanya.

Kadang Binar bingung, apa salahnya? Sehingga Ersa selalu sentimen padanya?

Ersa dengan cepat turun dari mobilnya. Membanting pintu ketika kembali menutupnya.

"Maksud lo apa ngomong begitu? Simulasi mati? Lo aja yang mati sana!" Ersa mendorong Binar agak keras.

Karena Binar tidak siap, ia terdorong sampai jatuh terduduk.

Jena yang memperhatikan dari dalam minimarket, segera berlari keluar. Sepertinya interaksi antara Binar dan Ersa sudah menjurus ke arah tawuran.

"Weis ... kenapa malah dorong-dorong, woi!" Jena melotot pada Ersa.

Ia pikir Ersa itu kalem di balik sikap dan tampang cool yang terpampang nyata. Tapi ternyata ada sifat bar-bar di balik itu semua.

"Lemah banget didorong gitu doang jatuh!" ledek Ersa.

"Ya Binar lagi nggak siap. Lagian Binar emang lagi kurang sehat!" Jena yang menjawab.

Ersa menyeringai. "Belain aja terus! Udah sana, sekalian ditimang-timang di dalem!"

Jena sudah bersiap menjawab ucapan Ersa lagi. Tapi dicegah oleh Binar.

"Uda. Buang-buang tenaga. Mending kita balik kerja. Ini orang emang nggak bisa dikasih hati. Yang dia tahu cuma marah-marah."

Binar baru saja berdiri sembari menepuk-nepuk pelan bokongnya yang agak sakit gara-gara jatuh tadi. Jena untungnya menurut pada Binar. Mereka berjalan beriringan untuk kembali ke dalam minimarket.

Namun kemudian atensi mereka kembali teralihkan. Suara seperti benda jatuh yang cukup keras, dari arah belakang. Kompak sekali mereka menoleh, kompak juga pasang wajah syok.

Melihat manusia bernama Ersa yang tadi baru saja marah-marah. Baru saja mengatai Binar lemah ... malah tahu-tahu terkapar pasrah, di sebelah ban mobilnya sendiri.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (36)
  • serelan

    Sell... itu masmu loh.. org² nginjak harga dirinya.. kamu yg keluarga pun sama aja.. memperparah rasa sakitnya.. bukannya saling mendukung dan menguatkan malah kya gitu..

    Comment on chapter Chapter 14 - Memindahkan sakitnya
  • serelan

    Si Cantika mulutnya harus d sekolahin. Bener² gak ada akhlak tu org. Hidupnya aja belum tentu bener sok²an ngurusin hidup org lain.. Pikirin baik² ya Sell apa yg dibilangin mas mu. Jangan ngeyel terus akhirnya nyesel..

    Comment on chapter Chapter 13 - Teman bicara
  • serelan

    Ngenes banget sih Nuuu...
    Lagi sakit aja berobatnya sendiri gak ada anggota keluarga yang bisa d andalkan... La, baik² ya ama Nunu. Di tempat kerja cuma kamu yg bisa dia andalkan, yg bisa jagain dia dari semua makhluk laknat yg ada d sana..

    Comment on chapter Chapter 12 - Serius
  • serelan

    Wisnu berusaha keras buat jaga adiknya, gak mau sesuatu yang buruk terjadi. Tapi semua yang dilakukan Wisnu selalu disalah artikan mulu sama ibu & adiknya. Pikirannya negative mulu sama Wisnu. Padahal yg keluarganya kan Wisnu ya? Tapi lebih percaya org yang baru dikenal yg belum tau sifatnya seperti apa²nya..

    Comment on chapter Chapter 11 - Kebaikan atau sogokan? Kebaikan atau kesepakatan?
  • serelan

    Kesel banget sama ibunya..
    Anakmu lagi sakit loh itu.. malah dikatain pemalas.. gak ada peka²nya sama sekali kah sama kondisi anak sendiri? Apa jangan² Nu Wisnu anak pungut😭 parah banget soalnya sikapnya ke Wisnu. Tidak mencerminkan sikap seorang ibu terhadap anaknya..

    Comment on chapter Chapter 10 - Takut
  • alin

    Singkirin aja itu ibu dan icel, makin lama makin nyebelin. Kesel sama ibunya dan Selly disini. Kasian Wisnu. Yang kuat ya, Kak Nu🥺 hug Wisnu🥺🫂

    Comment on chapter Chapter 10 - Takut
  • nazladinaditya

    lo udah sesakit itu aja masih kepikiran nyokap dan adek lo yaa, nu. anak baik :((

    Comment on chapter Chapter 9 - Gelap dan hening lebih lama
  • serelan

    Wisnu nya udh kya gitu awas aja tu kluarganya klo masih gak ada yg peduli juga, keterlaluan banget sih..

    Comment on chapter Chapter 9 - Gelap dan hening lebih lama
  • serelan

    Nu, kamu tuh hebat banget asli. Saat berada dalam kondisi terburuk pun masih sempat aja mikirin tanggung jawab, mikirin ibu & adik mu. Tapi, orang² yg kamu pikirin, yang berusaha kamu jaga bahkan gak pernah mikirin kamu sama sekali. Minimal nanya gitu kondisi kamu aja nggak. Yang mereka peduliin cuma uang aja. Apalagi si Selly noh sampe bohongin ibu, nyuri uang ibu, mana di pake buat sesuatu yg gak baik pula. Mana katanya ntar klo udh ada uang lagi bakal di pake beliin yg lebih bagus lebih mahal. Mau nyari uang dimana dia? Nyuri lagi?

    Comment on chapter Chapter 9 - Gelap dan hening lebih lama
  • nazladinaditya

    wisnuuu:( u deserve a better world, really. lo sabar banget aslian. hug wisnuu🤍🥺

    Comment on chapter Chapter 8 - Lebih dari hancur
Similar Tags
I Found Myself
146      126     0     
Romance
Kate Diana Elizabeth memiliki seorang kekasih bernama George Hanry Phoenix. Kate harus terus mengerti apapun kondisi Hanry, harus memahami setiap kekurangan milik Hanry, dengan segala sikap Egois Hanry. Bahkan, Kate merasa Hanry tidak benar-benar mencintai Kate. Apa Kate akan terus mempertahankan Hanry?
Nadine
6346      1869     4     
Romance
Saat suara tak mampu lagi didengar. Saat kata yang terucap tak lagi bermakna. Dan saat semuanya sudah tak lagi sama. Akankah kisah kita tetap berjalan seperti yang selalu diharapkan? Tentang Fauzan yang pernah kehilangan. Tentang Nadin yang pernah terluka. Tentang Abi yang berusaha menggapai. dan Tentang Kara yang berada di antara mereka. Masih adakah namaku di dalam hatimu? atau Mas...
Bulan Dan Bintang
5773      1661     3     
Romance
Cinta itu butuh sebuah ungkapan, dan cinta terkadang tidak bisa menjadi arti. Cinta tidak bisa di deskripsikan namun cinta adalah sebuah rasa yang terletak di dalam dua hati seseorang. Terkadang di balik cinta ada kebencian, benci yang tidak bisa di pahami. yang mungkin perlahan-lahan akan menjadi sebuah kata dan rasa, dan itulah yang dirasakan oleh dua hati seseorang. Bulan Dan Bintang. M...
Dream
683      512     5     
Short Story
1 mimpi dialami oleh 2 orang yang berbeda? Kalau mereka dipertemukan bagaimana ya?
Kainga
4960      2519     13     
Romance
Sama-sama menyukai anime dan berada di kelas yang sama yaitu jurusan Animasi di sekolah menengah seni rupa, membuat Ren dan enam remaja lainnya bersahabat dan saling mendukung satu sama lain. Sebelumnya mereka hanya saling berbagi kegiatan menyenangkan saja dan tidak terlalu ikut mencampuri urusan pribadi masing-masing. Semua berubah ketika akhir kelas XI mereka dipertemukan di satu tempat ma...
Fairytale Love
655      477     4     
Short Story
Peri? Kata orang cuma ada didongeng. Tapi bagi Daffa peri ada di dunia nyata. Selain itu, peri ini juga mempunyai hati yang sangat baik.
Ratu Blunder
533      428     2     
Humor
Lala bercita-cita menjadi influencer kecantikan terkenal. Namun, segalanya selalu berjalan tidak mulus. Videonya dipenuhi insiden konyol yang di luar dugaan malah mendulang ketenaran-membuatnya dijuluki "Ratu Blunder." Kini ia harus memilih: terus gagal mengejar mimpinya... atau menerima kenyataan bahwa dirinya adalah meme berjalan?
Paint of Pain
7018      4345     38     
Inspirational
Vincia ingin fokus menyelesaikan lukisan untuk tugas akhir. Namun, seorang lelaki misterius muncul dan membuat dunianya terjungkir. Ikuti perjalanan Vincia menemukan dirinya sendiri dalam rahasia yang terpendam dalam takdir.
Enigma
28677      4696     3     
Romance
enigma noun a person or thing that is mysterious, puzzling, or difficult to understand. Athena egois, kasar dan tidak pernah berpikir sebelum berbicara. Baginya Elang itu soulmate-nya saat di kelas karena Athena menganggap semua siswi di kelasnya aneh. Tapi Elang menganggap Athena lebih dari sekedar teman bahkan saat Elang tahu teman baiknya suka pada Athena saat pertama kali melihat Athena ...
Simbiosis Mutualisme
333      226     2     
Romance
Jika boleh diibaratkan, Billie bukanlah kobaran api yang tengah menyala-nyala, melainkan sebuah ruang hampa yang tersembunyi di sekitar perapian. Billie adalah si pemberi racun tanpa penawar, perusak makna dan pembangkang rasa.